43 research outputs found
PERMODELAN KOEFISIEN GELOMBANG TRANSMISI PADA PEMECAH GELOMBANG KANTONG PASIR TIPE TENGGELAM
There are some conditions and problems in coastal engineering that can’t be solved by mathematical analysis. One of the ways to overcome these problems by using empirical equation. The physical modelling is a method to understand the hydrodinamis characteristic. The relationship between transmission waves and test variable can be modelled empirically. Since the equations are empirically, hence to realize the model is required a tool. In accordance with the relationship characteristic of the transmission waves and sandbag breakwater, in this study regression analysis were used as a tool.In the rubble mound breakwater, Dn50 are parameters which are often defined as the independent variable. On the sandbag breakwater, Dn50 relatively constant value. The shape and arrangement of sandbags, width crest, slope and freeboard are a parameter that can be used as the test variable. A Statistical analysis showed that the ln(1/K_t - 1) ln nonlinear model is a suitable model to describe the characteristic of wave transmission at the submerged breakwater types of sand bag
PERMODELAN KOEFISIEN GELOMBANG TRANSMISI PADA PEMECAH GELOMBANG KANTONG PASIR TIPE TENGGELAM
Terdapat beberapa kondisi dan permasalahan pada teknik pantai yang tidak dapat diselesaikan dengan analisa matematika. Salah satu cara mengatasi permasalahan tersebut dengan penggunaan perumusan empiris. Model fisik merupakan metoda untuk memahami karakter hidrodinamis. Hubungan antara gelombang transmisi dan variabel pengujian dapat dimodelkan secara empiris. Untuk mewujudkan model tersebut diperlukan suatu alat (tool). Sesuai dengan karakter hubungan gelombang transmisi terhadap struktur pemecah gelombang kantong pasir, pada penelitian ini digunakan analisa regresi sebagai tool. Pada pemecah gelombang kantong pasir, nilai Dn50 relatif konstan, sehingga variabel tersebut tidak dapat dijadikan variabel pengujian. maka bentuk dan susunan kantong, lebar puncak, kemiringan susunan dan freeboard merupakan parameter yang dapat dijadikan sebagai variabel pengujian. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ç - 1÷ model tak linear lnæ 1 öè Kt ømerupakan model yang cocok untuk menggambarkan karaktergelombang transmisi pada pemecah gelombang kantong pasir tipe tenggelam
Bearing capacity analysis of helical pile foundation on peat
Peat is a kind of soil with a very low bearing capacity and high compressibility. Generally, a building construction on peat is done by using a wooden pile foundation. However, the length of the wooden piles is sometimes limited and causes the friction strength between the soil and wooden piles to became suboptimal. In order to enhance the bearing capacity of the foundation, the cross-sectional area of the foundation needs to be enlarged. One of the solutions for this problem is through helical piles. There are two methods to determine the helical pile`s bearing capacity, i.e. individual bearing and cylindrical shear methods. In this paper, bearing capacity prediction was discussed. A foundation load test was thoroughly done by a constant rate of penetration. This test consisted of compression and tension tests. The result was analyzed by individual bearing and cylindrical shear methods and next compared to each other. The result of the analysis has shown that the individual bearing method was more suitable in predicting helical piles’ bearing capacity since it produced the lowest error rate, with a magnitude of 21,31%
Analisa Kapasitas Daya Dukung Cerocok Tunggal dan Kelompok Skala Lapangan
Provinsi Riau didominasi oleh tanah lunak yang berupa tanah sedimen alluvial dataran rendah, terutama daerah rawa pasang surut di kabupaten yang dekat dengan sungai. Umumnya permasalahan yang timbul pada konstruksi di atas tanah lunak adalah besarnya penurunan dan kapasitas dukung yang rendah yang diakibatkan dari beban berat tanah itu sendiri. Penelitian dilakukan dengan pengujian di lapangan lokasinya di jalan sungai beringin kel. Sungai beringin Kab. Indragiri Hilir dengan variasi fondasi cerucuk bakau tunggal dan kelompok variasi spasi dengan panjang cerucuk yang di gunakan ± 7 meter dengan metode loading test pemberian beban untuk cerucuk tunggal 50 kg (25%) hingga mencapai 200%, untuk cerucuk Kelompok variasi spasi di beri beban ±139 kg (25%) hingga beban mencapai 200%.
Berdasarkan metode analis dan metode loading test yang digunakan. Dari hasil penelitian
diperoleh cerucuk bakau group spasi 3 d memiliki kapasitas Q ultimit yang besar dengan penurunan tanah yang kecil. Pengaruh variasi spasi dan konfigurasi cerucuk bakau terhadap kekuatan pengujian pembebanan cerucuk bakau juga memberikan nilai Q ultimit yang berbeda. Variasi spasi dari hasil pengujian q ultimit pada cerucuk bakau di tanah lunak yang memiliki jarak (spasi 3 d) menghasilkan q ultimit lebih besar dibandingkan pemasangan cerucuk yang rapat (0 d), sedangkan variasi konfigurasi cerucuk bakau tunggal metode analis (metode Mayerhof) menghasilkan q ultimit 774,78 kg dan metode interpretasi (metode chin) sebesar 472 kg
Bearing capacity analysis of helical pile foundation on peat
Peat is a kind of soil with a very low bearing capacity and high compressibility. Generally, a building construction on peat is done by using a wooden pile foundation. However, the length of the wooden piles is sometimes limited and causes the friction strength between the soil and wooden piles to became suboptimal. In order to enhance the bearing capacity of the foundation, the cross-sectional area of the foundation needs to be enlarged. One of the solutions for this problem is through helical piles. There are two methods to determine the helical pile`s bearing capacity, i.e. individual bearing and cylindrical shear methods. In this paper, bearing capacity prediction was discussed. A foundation load test was thoroughly done by a constant rate of penetration. This test consisted of compression and tension tests. The result was analyzed by individual bearing and cylindrical shear methods and next compared to each other. The result of the analysis has shown that the individual bearing method was more suitable in predicting helical piles’ bearing capacity since it produced the lowest error rate, with a magnitude of 21,31%
Pengaruh Bentuk Partikel dan Waktu Pembebanan Terhadap Kuat Geser Tanah Pasir
Time is a scale which is the duration of an event and the shape of the sand grains, is one of the factors that influence the technical properties of sand on its shear strength. The purpose of this study was to determine how to analyze the time required and the shape of the sand grains in analyzing the behavior of the shear angle (Ï•) due to the influence of grading and grain shape. The results showed, analysis of the form of sand grains using imageJ, obtained the level of the grains of the two sands, namely semi angular and semi-round. The ratio of the shear angles between the variations of the gradations, namely the gradient which is dominated by the coarse grain fraction of 60%, and the gradation which has a long grain distribution, has a high shear angle (Ï•). The ratio of the shear angle between the sand grains, namely sand with a semi-angled shape has a higher shear angle (Ï•) than sand with a semi-spherical shape
Identification and prioritization of coastal vulnerability areas based on coastal vulnerability indexes (CVI) and analytical hierarchy process (AHP)
PENGARUH BENTUK DAN CAMPURAN BUTIRAN PASIR TERHADAP PERILAKU KUAT GESERNYA
Campuran dan bentuk butiran pasir, merupakan sebagian faktor yang mempengaruhi sifat teknis pasir yaitu kuat geser, dan hal ini perlu diperhatikan supaya pengaruhnya dapat dimaksimalkan untuk konstruksi yang berhubungan dengan pasir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara menganalisis bentuk butiran pasir dan menganalisa perilaku sudut geser (Ï•) akibat pengaruh campuran dan bentuk butiran. Pengujian dilakukan dengan membuat variasi bentuk campuran pasir , dalam 5 variasi dengan kerapatan relatif sebesar 70% dan 20%, yang tertahan pada saringan No. 20. Bentuk butiran pasir terdiri dari 2 bentuk, yaitu kelompok butiran bersudut (angular) dan bulat (rounded), yang dibedakan berdasarkan nilai roundness (R), sphericity (S) dan regularity (Ï), yang diproses menggunakan imageJ. Hasil penelitian menunjukkan, analisa bentuk butiran pasir menggunakan imageJ, diperoleh tingkatan bentuk butiran dari kedua pasir, yaitu semi bersudut (sub-angular) dan semi bulat (sub-rounded). Perbandingan sudut geser bentuk pasir sub-angular lebih besar dari pada sub-rounded, hal ini disebabkan pasir berbentuk sudut saling mengikat satu sama yang lain yang disebut dengan interlocking sehingga sudut gesernya lebih besar. Hasil perbandingan sudut geser (Ï•) di antara variasi campuran bentuk butiran pasir yang dikombinasikan dengan kerapatan relative (Dr) yang sama 20%, terlihat ada perbedaan perilaku sudut geser (Ï•) di antara ketiga variasi bentuk campuran pasir, yaitu variasi sub-angular 75% ditambah sub-rounded 25%, lebih tinggi dari sampel sub-angular 50% ditambah sub-rounded 50% dan sub-angular 25% ditambah sub-rounded 75% yaitu sebesar 44,59â°. Hal ini disebabkan karena variasi sub-angular 75% ditambah sub-rounded 25% pada bidang gesernya didominasi oleh fraksi butiran sub-angular. Hasil perbandingan sudut geser (Ï•) di antara variasi campuran bentuk butiran pasir yang dikombinasikan dengan kerapatan relative (Dr) yang sama yaitu 70%, terlihat ada perbedaan perilaku sudut geser (Ï•) di antara ketiga variasi bentuk campuran pasir, yaitu variasi sub-angular 25% ditambah sub-rounded 75%, lebih tinggi dari sampel sub-angular 50% ditambah sub-rounded 50% dan sub-angular 75% ditambah sub-rounded 25% yaitu sebesar 40,95â°. Hal ini disebabkan karena variasi sub-angular 25% ditambah sub-rounded 75% pada bidang gesernya didominasi oleh bentuk butiran sub-Angular
Stabilisasi Tanah Menggunakan Abu Kayu Terhadap Tanah Lunak Bengkalis
Tanah lunak berkaitan dengan tanah-tanah yang jika tidak dikenali dan diselidiki secara berhati-hati dapat menyebabkan masalah ketidakstabilan dan penurunan jangka panjang yang tidak dapat ditolerir, mempunyai kuat geser yang rendah dan kompresibilitas yang tinggi. Peningkatan jumlah sampah yang tidak diikuti oleh perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan sampah mengakibatkan permasalahan sampah menjadi lebih serius. Salah satu cara menangani permasalahan tanah lunak adalah dengan cara stabilisasi. Adapun kajian yang akan dilakukan adalah bagaimana pengaruh abu sampah dalam hal ini berupa abu kayu terhadap stabilisasi tanah lunak di pulau Bengkalis dengan kadar campuran abu kayu yang berbeda-beda dan diharapkan dapat meningkatkan kekuatan tanah serta mengurangi dampak permasalahan sampah yang ada. Selain itu juga digunakan bahan lain sebagai pembanding yaitu kapur (CaO) dan kombinasi antara abu kayu dan kapur (CaO). Dari hasil pengujian, kuat tekan bebas (UCS) semakin meningkat seiring bertambahnya waktu pemeraman, namun regangannya berbanding terbalik nilainya semakin kecil, hal ini dikarenakan pada kondisi awal pemeraman, tanah masih dalam kondisi seperti semula dan bersifat lunak, semakin lama tanah akan mengalami pengeringan sedikit demi sedikit dan menjadikan tanah tersebut menjadi lebih getas. Proses perendaman tanah menyebabkan terjadinya penurunan nilai UCS yang besar, makin lama perendaman dilakukan semakin kecil nilai UCSnya. Nilai kuat tekan bebas tanah dipengaruhi oleh proses pencampuran, kadar air, persentase campuran dan lamanya pemeraman (curing).
 
COMPRESSIVE CAPACITY OF HELICAL PILE FOUNDATION ON PEAT WITH VARIATION OF HELICAL PLATE DIAMETER
The use of helical foundations to support structures on peat soil is still a new method. Research is needed to develop this foundation. There are 6 types of helical foundation tested on peat soil. To study the effect of helical plate diameter, plate diameters were varied with sizes 25 cm (M), 35 cm (L), and 45 cm (G). Plate positions (1, 2, 3 plates) are designed at 300 mm spacing. The axial compression bearing capacity test is carried out based on the constant rate of penetration procedure. At the beginning of loading, the load increases significantly. At a certain descent, the load begins to decrease slowly. The load-settlement curve shows that the larger the plate diameter, the greater the load it can withstand. The largest bearing capacity is produced by the GGG 30 foundation (3 plates dia.45 cm), which is 10.83 kN. LLL 30 helical foundation (3 plates dia.30 cm) provides a bearing capacity of 7.14 kN. These results clearly explain that the increase in plate diameter is directly proportional to the increase in the axial compression bearing capacity
