1,721,008 research outputs found

    Pengaruh Burnout dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. X

    Full text link
    Demi mencapai tujuannya, organisasi bergantung pada individu-individu berkinerja tinggi. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu mengetahui bagaimana peran burnout dan motivasi dalam penurunan ataupun peningkatan kinerja karyawan. Menurut Social Exchange Theory, ketika pekerja mengalami burnout, hal ini dikarenakan karyawan tersebut merasakan bahwa terjadi pertukaran timbal balik yang tidak setara dengan perusahaan, hal ini tentu menghasilkan penurunan motivasi karyawan dalam melakukan usaha terbaik. Dalam penelitian kuantitatif ini, 48 partisipan dipilih dari karyawan PT X melalui random sampling. Dimana tiga alat ukur yang berbeda digunakan dalam penelitian ini yaitu: 18 item Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ), 22 item Maslach Burnout Inventory (MBI), dan 19 item Multidimensional Work Motivation Scale (MWMS). Dampak dari burnout dan motivasi terhadap kinerja dapat diketahui dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Dan dari analisis tersebut ditemukan hasil berupa; kinerja karyawan dipengaruhi secara negatif dan signifikan oleh burnout, dan kinerja dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh motivasi, serta kinerja dipengaruhi signifikan oleh burnout dan motivasi secara bersama-sama Kata kunci: kinerja karyawan, burnout, motivasi kerj

    Pengaruh Hedonic Shopping Motivations terhadap Impulsive Buying pada Konsumen Produk Fashion

    Full text link
    Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh hedonic shopping motivations terhadap impulsive buying pada konsumen produk fashion. Penelitian ini dilakukan kepada 160 responden dengan rentang usia 19 – 25 tahun dan pernah melakukan pembelian produk fashion tidak terencana minimal satu bulan sekali di Shopee. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan Impulsive Buying Tendency (IBT) dan skala Hedonic Shopping Motivations. Kemudian, data dianalisis menggunakan program software IBM SPSS 25.0 for Windows melalui uji regresi linear sederhana. Hasil analisis data menunjukkan adventure shopping memiliki nilai R 2sebesar 0,273, value shopping sebesar 0,110, idea shopping sebesar 0,251, social shopping sebesar 0,142, dan relaxation shopping sebesar 0,237. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi adventure shopping memiliki pengaruh terhadap impulsive buying sebesar 27,3%, value shopping sebesar 11%, idea shopping sebesar 25,1%, social shopping sebesar 14,2%, dan relaxation shopping sebesar 23,7%

    Analisa Jabatan: Metode dan Langkah-langkah Pelaksanaan pada BUMN Klaster Industri Manufaktur

    Full text link
    Analisis jabatan merupakan dasar bagi hampir semua aktivitas dalam sumber daya manusia. Anaiisis jabatan memiliki fungsi sebagai rekrutmen, evaluasi kinerja, dan pelaksanaan program pelatihan. Analisis jabatan memiliki hasil berupa job description yang tentunya sebagai komunikasi secara tertulis terkait pekerjaan tersebut. Dampaknya apabila tidak adanya uraian tugas tersebut tentunya berpengaruh pada efektivitas organisasi, yaitu salah satunya tumpang tindih penugasan setiap bagiannya. Pelaksanaan analisis jabatan yang menyeluruh akan memperoleh kompetensi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas tersebut. Organisasi yang dapat menerapkan analisis jabatan yang tepat sesuai kebutuhannya akan memudahkan mereka untuk menempatkan sumber daya manusianya atau memenuhi target rightsizing dan mapping personil berdasarkan kualifikasi dan jumlah. Kegiatan ini dilaksanakan oleh salah satu organisasi BUMN klaster industri manufaktur (PT X) dengan melibatkan seluruh jajaran pejabat pada masing-masing fungsi jabatan. Metode yang digunakan mengacu pada hybrid method dimana akan menghasilkan informasi berupa apa yang dilakukan oleh pekerja dan karakteristik individu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Teknik wawancara dan survei dapat membantu organisasi untuk melakukan analisis sesuai dengan metode yang ditentukan. Penggunaan metode dan teknik ini akan digunakan sebagai landasan kegiatan pengelolaan job description yang berpengaruh pada efektivitas kerja

    Pengaruh Grit dan Kepuasan Kerja terhadap Intensi Job Hopping pada Karyawan Generasi Milenial

    Full text link
    Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh grit dan kepuasan kerja terhadap intensi job hopping pada karyawan generasi milenial. Penelitian ini dilakukan kepada 82 karyawan generasi milenial yang bekerja full-time dengan durasi kerja kurang dari dua tahun pada suatu perusahaan yang terdiri dari 47 laki-laki dan 35 perempuan. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan job hopping intention scale (JHI) 4 item, skala grit terdiri dari 12 item, dan skala kepuasan kerja terdiri dari 6 item. Setelahnya, data dianalisis menggunakan program software IBM SPSS 23.0 for MacBook melalui uji regresi linear sederhana dan linear berganda. Hasil regresi ini menunjukan bahwa grit memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap intensi job hopping (0,004 < 0,05). Selanjutnya kepuasan kerja memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap intensi job hopping (0,001 < 0,05). Grit dan kepuasan kerja secara simultan berpengaruh terhadap intensi job hopping pada karyawan generasi milenial

    Pengaruh Career Adaptability dan Psychological Capital terhadap Self-Perceived Employability pada Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh career adaptability dan psychological capital terhadap self-perceived employability pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Penelitian ini dilakukan kepada 180 mahasiswa semester 8, 10, 12, dan 14 yang terdiri dari 41 laki-laki dan 139 perempuan. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan self-perceived employability for university student scale yang terdiri dari 16 item, skala career adaptability terdiri dari 24 item, dan skala psychological capital terdiri dari 12 item. Setelahnya, data dianalisis menggunakan program software IBM SPSS 23.0 for Windows melalui uji regresi linear sederhana dan linear berganda. Hasil regresi ini menunjukan bahwa career adaptability memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap self-perceived employability (0,000<0,05). Selanjutnya psychological capital memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap self-perceived employability (0,000<0,05). Career adaptability dan psychological capital secara simultan berpengaruh terhadap self-perceived employability pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

    Analisis Pengembangan Organisasi Berdasarkan Persepsi Manajemen atas Struktur dan Proses Organisasi

    Full text link
    Pada awal tahun 2019, PT X (Persero) mengalami pergantian direktur utama beserta jajaran dewan direksi. Hal ini membawa perubahan pada unit bisnis organisasi, oleh karena itu, dilakukanlah restrukturisasi organisasi dalam rangka mendukung dan menyesuaikan pada unit bisnis dan perubahan yang ada dalam organisasi. Setelah melakukan perubahan organisasi, PT X (Persero) mengadakan penilaian organisasi yang bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian struktur serta prosesnya dengan organisasi. Pada PT X (Persero), evaluasi dilakukan melalui kuesioner dengan sasaran responden seluruh jajaran manajemen. Alat ukur yang digunakan merupakan modifikasi dari kuesioner evaluasi kelembagaan instansi pemerintah milik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang mengacu pada Permen PAN &amp; RB No. 20 tahun 2018 mengenai pedoman evaluasi kelembagaan instansi pemerintah. Peraturan tersebut mengatur pedoman melakukan evaluasi kelembagaan berdasarkan dua dimensi, yaitu dimensi struktur organisasi dan dimensi proses, yang masing-masing dimensi terdiri dari beberapa aspek. Hasil ini dapat menjadi dasar analisis pengembangan organisasi yang dijadikan pertimbangan bagi perusahaan untuk melakukan tindak lanjut, baik dengan melanjutkan perubahan yang telah dilakukan atau mengganti metode perubahan yang lebih sesuai

    Pengaruh Psychological Capital dan Perceived Organizational Support terhadap Intensi Job Hopping Pekerja Generasi Milenial

    Full text link
    Job hopping seringkali dilakukan oleh pekerja milenial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi job hopping, dengan hipotesis (1) psychological capital; (2) perceived organizational support; (3) keduanya secara simultan mempengaruhi intensi job hopping. Partisipan penelitian ini adalah 81 pekerja milenial dari sektor publik dan privat di Indonesia. Pengumpulan data menggunakan online survey yang mencakup skala PCQ-12, SPOS-8 dan JHI. Analisis data menggunakan regresi linear sederhana dan berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological capital tidak memiliki pengaruh signifikan dan tidak dapat memprediksi intensi job hopping (R2=0,00126 p >0,05), sedangkan perceived organizational support memiliki pengaruh negatif yang signifikan (p <0,05) dan dapat memprediksi intensi job hopping sebesar 19,7% (R2=0,197). Bila diuji secara simultan, kedua variabel dapat memprediksikan intensi job hopping sebesar 21,3% dan signifikan secara statistik. Namun, perceived organizational support memiliki pengaruh yang terbesar dengan nilai koefisien -0,248 dan p <0,05

    What Makes Generation Y Employees Embbeded in Organisation? The Role of Self-Leadership, Job Crafting and Psychological Capital

    Full text link
    Organisations are currently faced with phenomenon of generation Y employees who easly leave the organisastion. In fact, generation Y employees still dominate the total number of employees in the organisation. Some previoes research focused on what factors cause someone to leave an organisastion, but there is still little research that focused on what factors can make someone stay in organisation. This study aims to determine the effect of self-leadership and job crafting on job embeddedness with psychological capital as a mediating variable on Y generation employees. A total of 190 generation Y employees participated in this study. This study uses the revised self-leadership questionnaire developed by Neck and Houghton (2002) with a reliability of 0,923, job crafting scale developed by Tims, Bakker dan Derks (2011) with a reliability of 0,755, psychological capital questionnaire short version developed by Luthans, et al. (2007) with a reliability of 0,876 and job embeddedness scale developed by Mitchel, et al. (2001) with a reliability of 0,867. Hypothesis testing in this research is Partial Least Square method. The result of this research show that job crafting has an influence on job embeddedness in generation Y employees, while self-leadership and psychological capital have no effect on job embeddedness in generation Y employees. The result of this research can be used as suggestion for organisations to use job crafting as a tool to make generation Y employees embbeded with organisation.Organisasi saat ini sedang dihadapkan pada fenomena karyawan generasi Y yang mudah meninggalkan organisasi. Padahal hingga saat ini karyawan generasi Y masih mendominasi dari total keseluruhan karyawan di suatu organisasi. Beberapa penelitian terdahulu lebih berfokus pada faktor apa yang menyebabkan seseorang meninggalkan organisasi, namun masih sedikit penelitian yang berfokus pada faktor apa yang dapat mempengaruhi seseorang untuk tetap berada di organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-leadership dan job crafting terhadap job embeddedness dengan psychological capital sebagai variabel mediator pada karyawan generasi Y. Sebanyak 190 karyawan generasi Y berpartisipasi dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan revised self-leadership questionnaire yang dikembangkan oleh Neck dan Houghton (2002) dengan reliabilitas sebesar 0,923, job crafting scale yang dikembangkan oleh Tims, Bakker dan Derks (2011) dengan reliabilitas sebesar 0,755, skala psychological capital questionnaire short version yang dikembangkan oleh Luthans, dkk. (2007) dengan reliabilitas sebesar 0,876 dan job embeddedness scale yang dikembangkan oleh Mitchel, dkk. (2001) dengan reliabilitas sebesar 0,867. Pengujian hipotesi dalam penelitian ini metode Partial Least Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa job crafting memiliki pengaruh terhadap job embeddedness pada karyawan generasi Y, sedangkan self-leadership dan psychological capital tidak berpengaruh terhadap job embeddedness karyawan generasi Y. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai saran bagi prganisasi untuk menggunakan job crafting sebagai salah satu cara agar karyawan generasi Y embbeded dengan organisasi

    Pengaruh Komunikasi Interpersonal dan Kecerdasan Emosional terhadap Stres pada Karyawan

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komunikasi interpersonal dan kecerdasan emosional terhadap kecenderungan stres pada karyawan. Penelitian ini dilakukan kepada 86 karyawan tetap di suatu perusahaan dan memiliki durasi kerja tidak kurang dari dua tahun yang terdiri dari 52 laki-laki dan 34 perempuan. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan Perceived Stress Scale 10 item, The Assessing Emotional Scale (AES) 33 item, dan Komunikasi Interpersonal 23 item. Setelahnya data dianalisis menggunakan program software IBM SPSS statistic 22 for windows melalui uji regresi linear sederhana dan berganda. Hasil menunjukan bahwa komunikasi interpersonal berpengaruh negatif dan signifikan terhadap stres pada karyawan (Sig. 0,03< 0,05). Selanjutnya kecerdasan emosional memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap stres karyawan (Sig. 0,034< 0,05). Komunikasi interpersonal dan kecerdasan emosional secara simultan berpengaruh terhadap stres pada karyawan

    Pengaruh Job Insecurity dan Work Life Balance terhadap Stres Kerja pada Karyawan Outsourcing

    Full text link
    Stres kerja merupakan suatu permasalahan umum yang terjadi pada karyawan termasuk karyawan outsourcing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh job insecurity dan work life balance terhadap stres kerja pada karyawan outsourcing. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kuantitatif terhadap 83 karyawan outsourcing di Indonesia. Instrumen penelitian menggunakan Job Insecurity Scale terdiri dari 4 aitem, Work Life Balance terdiri dari 17 aitem, dan Stres Kerja terdiri dari 9 aitem. Analisis data menggunakan teknik uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi job insecurity terhadap stres kerja sebesar 0,877, WIPL terhadap stres kerja 0,010, PLIW terhadap stres kerja 0,793, PLEW terhadap stres kerja 0,046, WEPL terhadap stres kerja sebesar 0,759. Sedangkan secara simultan nilai signifikansi job insecurity, WIPL, PLIW, PLEW, WEPL adalah 0,001 yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara job insecurity WIPL, PLIW, PLEW, WEPL terhadap stres kerja pada karyawan outsourcing
    corecore