12 research outputs found
KEEFEKTIFAN TEKNIK PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA BERLATAR BELAKANG PRASEJAHTERA I DAN II DI SMPN 1 BANDUNG TULUNGAGUNG
ABSTRAK Susgaleni, Firstalenda. 2015. Keefektifan Teknik Problem Solving Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Berlatar Belakang Prasejahtera I dan II SMPN 1 Bandung Tulungagung. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. IM Hambali, M.Pd, (II) Drs. H. Widada, M.Si. Kata Kunci: Problem Solving, Motivasi Belajar, Prasejahtera I Dan II Di Indonesia memiliki klasifikasi tahapan keluarga yaitu keluarga prasejahtera I dan II, keluarga sejahtera I, II dan III, dan keluarga sejahtera III plus. Keluarga prasejahtera I dan II adalah keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal seperti pengajaran, agama, sandang pangan, papan dan kesehatan. Faktor kurangnya motivasi belajar siswa di SMPN 1 Bandung Tulungagung adalah siswa berasal dari keluarga prasejahtera I dan II, siswa-siswa tersebut lebih memilih untuk bekerja membantu orang tua. Untuk fasilitas pendidikan siswa-siswa berlatar belakang prasejahtera I dan II masih belum terpenuhi kecuali dari sekolah. Mengetahui kefeektifan teknik problem solving untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan desain pre-test and post-test. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII dan VIII SMPN 1 Bandung sebanyak 23 siswa yang sesuai dengan kriteria skor hasil pre-test motivasi belajar. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah stastistik parametrik menggunakan uji beda Wilcowon. Analisis ini untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah pemberian treatment atau pelatihan problem solving pada subjek kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik problem solving efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di SMPN 1 Bandung Tulungagung. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya peningkatkan motivasi belajar siswa setelah diberikan treatment atau pelatihan problem solving hal ini dapat ditunjukkan hasil uji Wilcoxon sebesar (Z=-4.199α) dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,00, diperoleh nilai probability error (p=0,00 < 0,05). Signifikansi 0,0
PERILAKU TANTRUM ANAK USIA DINI KELOMPOK B1 DI TKIT AL-ASROR RINGINPITU TULUNGAGUNG
Skripsi dengan judul “Perilaku Tantrum Anak Usia Dini Kelompok B1 di
TKIT Al-Asror Ringinpitu Tulungagung” yang ditulis oleh Halimatus Sakdiyah,
mempunyai Nim 126206212036, dengan Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia
Dini, berada di Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan, yang dibimbing oleh Firstalenda
Susgaleni, S.Pd, M, . Pd.
Kata Kunci: Perilaku Tantrum, Anak Usia Dini, Kelompok B.
Perilaku tantrum merupakan sebuah luapan emosi yang terjadi pada masa
pereode awal anak usia dini yang disebabkan karena tidak dapat mengungkapkan
apa yang diinginkan atau keinginan anak belum terpenuhi sehingga anak memilih
untuk marah, menangis, menjerit-jerit, berguling-guling, menghentak-hentakkan
kedua kakinya ke lantai ataupun ke tanah, sehingga orang yang berada disekitarnya
dapat memenuhi keinginanya. Perilaku tantrum terjadi pada usia 18 bulan sampai 3
tahun, bahkan kadang-kadang masih ditemui pada usia 5 atau 6 tahun.
Fokus penelitian didalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana ciri-ciri
perilaku tantrum pada anak kelompok B1 di TKIT Al-Asror Ringinpitu
Tulungagung?. (2) Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku tantrum
pada anak usia dini kelompok B1 di TKIT Al-Asror Ringinpitu Tulungagung? (3)
Bagaimana strategi pendidik menangani anak yang berperilaku tantrum di
kelompok B1 TKIT Al-Asror Ringinpitu Tulungagung?.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
deskriptif. Hasil data penelitian menggunakan metode ini diperoleh berbentuk kata�kata tertulis atau lisan dari subyek yang diamati dengan menggambarkan keadaan
yang sebenarnya terjadi di lapangan, dengan mengumpulkan data melalui
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data terdiri dari
pengumpulan data menggunakan ketekunan pengamatan dan tringulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ciri-ciri perilaku tantrum anak usia
dini meliputi menangis, mudah marah dengan berteriak dengan keras, dan memukul
atau menendang temannya, menghentak-hentakkan kaki di lantai serta mengamuk
dengan membanting atau melempar barang yang berada disampingnya. (2) Faktor
yang menyebabkan terjadinya perilaku tantrum anak usia dini yaitu keinginan anak
yang belum terpenuhi, anak merasa tersakiti seperti diejek, dihina, dipukul atau
ditendang oleh temannya, anak mengalami broken home, lingkungan sekitar yang
kurang baik, dan anak mengalami keterlambatan berbicara saat masih kecil. (3)
Strategi pendidik dalam menangani perilaku tantrum anak usia dini yaitu dengan
bersikap sabar, menegur anak dengan baik dan tegas, menenangkan anak, mencari
informasi yang membuat anak berperilaku tantrum, memberi solusi kepada anak
agar terbebas dari masalahnya, kemudian anak dinasehati
PENGEMBANGAN MEDIA MAGIC BOX UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL LAMBANG BILANGAN 1-10 PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TK Al HIDAYAH KEBONAGUNG
Laila Kumala Karina. 126206212038. 2025. Skripsi dengan judul “PengembanganMedia Magic Box Untuk Meningkatkan Kemampuan Mengenal Lambang Bilangan 1-10 Pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK AL Hidayah Kebonagung”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Pembimbing Skripsi: Firstalenda Susgaleni, M.Pd
Kata Kunci: Pengembangan Media, Magic Box, Lambang Bilangan, Anak Usia 4-5 Tahun, ADDIE
Penelitian ini dilandasi oleh pentingnya peran media sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran guna meningkatkan minat belajar anak serta mendukung perkembangan anak dalam mengenal angka usia 4-5 tahun. Untuk mengoptimalkan mengenal angka pada anak usia 4-5 tahun, dibutuhkan media yang tepat dan menarik. Namun, berdasarkan hasil observasi di lapangan, media yang secara khusus dirancang untuk menunjang perkembangan anak mengenal angka masih sangat terbatas. Oleh karena itu, peneliti merancang dan mengembangkan media magic box sebagai salah satu solusi untuk membantu meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan anak usia 4-5 tahun.
Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pengembangan media Magic Box untuk meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan 1-10 usia 4-5 tahun di TK Al Hidayah Kebonagung?. (2) Bagaimana kelayakan media Magic Box untuk meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan 1-10 usia 4-5 tahun di TK AL Hidayah Kebonagung?. (3) Bagaimana keefektivan media magic box dalam meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan 1-10 usia 4-5 tahun di TK Al Hidayah Kebonagung Wonodadi Blitar?
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah R&D (Research and Development) dengan merujuk pada model pengembangan ADDIE dengan enggunakan lima tahap. Lima tahap diantaranya adalah: (1) analisis, (2) desain, (3) pengembangan, (4) implementasi, (5) evaluasi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan observasi, wawancara, angket.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media yang dikembangkan memperoleh penilaian “sangat layak” berdasarkan evaluasi dari ahli media, ahli materi dan ahli kognitif. Efektivitas media juga dibuktikan melalui uji coba kelompok kecil sebelum dan sesudah menggunakan media, yang memperlihatkan adanya peningkatan signifikan antara tahap pertama dan tahap kedua. Pada uji coba sebelum menggunakan media tahap pertama, rata-rata nilai yang diperoleh adalah 65% dengan kategori “BSH”, sedangkan pada tahap kedua meningkat menjadi 84% dengan kategori “BSB”. Selain itu, hasil analisis menggunakan uji Paired T-Test melalui aplikasi SPSS 16.0 for windows menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000, yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini menandakan bahwa penggunaan media magic box efektif dalam meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan anak
PENGEMBANGAN MEDIA SMART JUMPING FROG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL LAMBANG BILANGAN PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TK Al KHODIJAH SERUT
Skripsi dengan judul “Pengembangan Media Smart Jumping Frog untuk Meningkatkan Kemampuan Mengenal Lambang Bilangan pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK Al Khodijah Serut” ini ditulis oleh Chelvia Ratih Rahmawati, NIM. 126206212034, pembimbing Firstalenda Susgaleni, M. Pd.
Kata kunci: Media Smart Jumping Frog, Kemampuan Mengenal Lambang Bilangan, Anak Usia 4-5 Tahun.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan pembelajaran yang terjadi di kelompok A5 TK Al Khodijah Serut. Sebagian besar anak belum mengenal lambang bilangan dengan baik dimana anak kesulitan membedakan antara bilangan 6 dan 9, anak belum mampu melengkapi urutan bilangan 1–10, dan anak belum mampu memasangkan lambang bilangan dengan jumlah benda secara tepat. Hal ini dikarenakan kurangnya variasi media pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam mengenalkan lambang bilangan. Maka dari itu, peneliti mengembangkan media smart jumping frog sebagai alternatif media pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan pada anak usia 4–5 tahun.
Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) mengetahui pengembangan media smart jumping frog untuk meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan di TK Al Khodijah Serut (2) mengetahui kelayakan media smart jumping frog untuk meningkatkan kemampuan lambang bilangan pada anak usia 4-5 tahun di TK Al Khodijah Serut, (3) mengetahui keefektifan media smart jumping frog untuk meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan pada anak usia 4-5 tahun di TK Al Khodijah Serut, (4) mengetahui kepraktisan media smart jumping frog untuk meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan pada anak usia 4-5 tahun di TK Al Khodijah Serut.
Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan penelitian research and development dengan model ADDIE yang terdiri dari lima tahap yaitu analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Tahap pertama yaitu menganalisis kebutuhan dan menganalisis karakter anak kemudian mendesain produk. Produk yang telah dibuat selanjutnya akan divalidasi oleh dosen ahli materi, ahli media, dan ahli kognitif. Untuk mengetahui kepraktisan produk dilakukan validasi oleh pendidik menggunakan angket. Tahap uji coba yang dilakukan adalah uji coba kelompok kecil. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, tes, angket dan dokumentasi. Teknik analisis data dimulai dari analisis kebutuhan, validasi instrumen dan produk yang dilakukan oleh dosen ahli, validitas dianalisis menggunakan uji normalitas dan reliabilitas. Kepraktisan produk menggunakan angket dengan skala likert. Keefektifan produk dianalisis menggunakan uji independent sampel test.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) media smart jumping frog dikembangkan menjadi media pembelajaran yang sesuai kebutuhan lembaga dalam meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan anak, 2) kelayakan media smart jumping frog pada ahli materi mendapatkan hasil 75% dengan kategori valid, ahli media mendapatkan hasil 86,6% dengan kategori sangat valid, dan ahli kognitif mendapatkan hasil 100% dengan kategori sangat valid, 3) keefektifan media smart jumping frog yang diujikan pada kelompok kecil pretest dan posttest menggunakan uji independent sampel test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti penggunaan media smart jumping frog efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan anak. 4) kepraktisan media smart jumping frog mendapatkan hasil 97,5% dengan kategori sangat praktis. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa media smart jumping frog dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan anak usia 4-5 tahun
MANAJEMEN KESISWAAN DALAM PENGEMBANGAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK DI MAN 3 JOMBANG
Skripsi dengan judul “Manajemen Kesiswaan dalam Pengembangan Kecerdasan Emosional Peserta Didik di MAN 3 Jombang” ini ditulis oleh Sifa Aulia Khoirun Nisa, Prodi Manajemen Pendidikan Islam, NIM 126207213143 tahun 2025 dibimbing oleh Ibu Firstalenda Susgaleni, S.Pd., M.Pd
Kata kunci: Manajemen Kesiswaan, Pengembangan, Kecerdasan Emosional.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sebuah fenomena pendidikan yang perlu dimaknai sebagai upaya manusia untuk mewujudkan diri dengan mengoptimalkan semua potensi yang dimilikinya, tidak hanya mengembangkan pengetahuan peserta didik saja, tetapi juga sikap kepribadian, serta aspek sosial emosional disamping keterampilan-keterampilan lain. Maka dari itu Madrasah Aliyah merupakan masa peralihan anak dari masa kanak-kanak menuju masa remaja yang keadaan emosionalnya masih labil. Kemudian dengan adanya kegiatan-kegiatan penunjang seperti yang ada di MAN 3 Jombang yaitu pembelajaran baik di dalam kelas atau di luar kelas di antaranya ekstrakurikuler, club olimpiade serta beberapa kegiatan lainnya. Hal ini yang menunjang para peserta didik memiliki kecerdasan emosional yang membuat peserta didik mampu mengelola dan mengenali emosi serta mampu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih mendalam terkait peran manajemen kesiswaan dalam pengembangan kecerdasan emosional peserta didik di MAN 3 Jombang.
Fokus penelitian ini adalah (1) Perencanaan penerimaan siswa baru dalam pengembangan kecerdasan emosional peserta didik di MAN 3 Jombang, (2) Pengelompokan siswa dalam pengembangan kecerdasan emosional peserta didik di MAN 3 Jombang , (3) Pelaksanaan pembinaan siswa dalam pengembangan kecerdasan emosional peserta didik di MAN 3 Jombang. Penelitian ini jika dilihat dari sumber datanya, penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Sedangkan jenis datanya, pendekatan yang digunakan termasuk penelitian kualitatif yang menghasilkan penjelasan deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga teknik, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis secara induktive dengan tiga tahap, yakni: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini meliputi: (1) perencanaan penerimaan siswa baru dalam pengembangan kecerdasan emosional di MAN 3 Jombang menghasilkan sebuah perencanaan untuk mengembangkan kecerdasan emosional siswa yaitu dengan adanya kebijakan mengenai penerimaan semua calon siswa yang mendaftar. (2) pengelompokan siswa dalam pengembangan kecerdasan emosional menghasilkan beberapa bagian yang mana bagian tersebut meliputi pengelompokan kelas berdasarkan hasil tes yang meliputi kemampuan belajar anak seperti tes diagnostik serta tes IQ, kemudian ada pengelompokan ekstrakurikuler berdasarkan bakat dan minat yang ada pada masing-masing peserta didik yang disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. (3) pelaksanaan pembinaan ada tiga kategori yaitu pembinaan kedisiplinan yang membuat anak memiliki kondisi emosional seperti tanggung jawab, pembinaan akademik dan pembinaan non akademik yang masing-masing pembinaan tersebut mampu mengembangkan emosional peserta didik seperti kegiatan didalam atau di luar kelas seperti memotivasi dirinya sendiri serta bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan tersebut. Bukan hanya tanggung jawab tetapi juga rasa percaya diri, jujur, memiliki empati serta membina hubungan baik antar guru maupun sesama peserta didik
Turnitin PEER COUNSELING TO INCREASE SELF-EFFICACY OF STUDENTS WHO EXPERIENCE BROKEN HOMES
A broken home has a tremendous impact on children, particularly on their psychology and daily life. The effects that arise include disappointment, difficulty in trusting others, disbelief in marriage, trauma, and low self-efficacy. Low self-efficacy is manifested by a lack of motivation to study, disbelief in one's abilities, inability to distinguish between right and wrong, and difficulty making decisions. The subjects of this research were 3 students from UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, all of whom shared the same background of being from broken homes. They felt almost the same, including feelings of neglect, disappointment, lack of motivation, and inability to discern what is good and right for themselves. The subjects participated in peer counseling services provided by the campus and felt better because their opinions were listened to without judgment. Therefore, peer counseling is very helpful in improving self-efficacy in students.
Keywords: Broken Home, Self Efficacy, Peer Counseling, Student
Korespondensi PEER COUNSELING TO INCREASE SELF-EFFICACY OF STUDENTS WHO EXPERIENCE BROKEN HOMES
A broken home has a tremendous impact on children, particularly on their psychology and daily life. The effects that arise include disappointment, difficulty in trusting others, disbelief in marriage, trauma, and low self-efficacy. Low self-efficacy is manifested by a lack of motivation to study, disbelief in one's abilities, inability to distinguish between right and wrong, and difficulty making decisions. The subjects of this research were 3 students from UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, all of whom shared the same background of being from broken homes. They felt almost the same, including feelings of neglect, disappointment, lack of motivation, and inability to discern what is good and right for themselves. The subjects participated in peer counseling services provided by the campus and felt better because their opinions were listened to without judgment. Therefore, peer counseling is very helpful in improving self-efficacy in students.
Keywords: Broken Home, Self Efficacy, Peer Counseling, Student
PERAN NILAI-NILAI RELIGIUS DALAM MEMBANGUN KETAHANAN KELUARGA PEKERJA MIGRAN INDONESIA (PMI) DI TULUNGAGUNG PADA ERA DIGITAL
Fenomena Pekerja Migran Indonesia (PMI) merupakan isu penting di banyak wilayah, termasuk Tulungagung. Perpisahan jangka panjang dengan anggota keluarga yang bekerja di luar negeri menimbulkan berbagai tantangan, seperti kesulitan komunikasi, peran pengasuhan yang berubah, serta tekanan ekonomi dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran nilai-nilai religius dalam membangun ketahanan keluarga PMI di Tulungagung pada era digital, serta bagaimana teknologi digital mendukung komunikasi dan praktik keagamaan keluarga PMI. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, di mana delapan keluarga PMI yang memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri diwawancarai secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai religius seperti kesabaran, tawakal, dan ibadah bersama menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan keluarga. Selain itu, teknologi digital, seperti aplikasi pesan instan dan video call, memainkan peran penting dalam menjaga hubungan emosional dan spiritual antara anggota keluarga yang terpisah. Meskipun teknologi modern membawa beberapa tantangan, seperti keterasingan dan individualisme, integrasi nilai-nilai religius dengan teknologi telah membantu keluarga PMI menjaga stabilitas emosional dan spiritual. Studi ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai religius tetap relevan dan mampu diadaptasi di era modern melalui penggunaan teknologi digital untuk menjaga ketahanan keluarga PMI
PENGARUH TEKNIK PROBLEM SOLVING TERHADAP SELF EFFICACY SISWA KELAS 12 DALAM KEPUTUSAN MELANJUTKAN JENJANG PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI
Skripsi dengan judul “Pengaruh Teknik Problem Solving terhadap Self Efficacy Siswa Kelas 12 dalam Keputusan Melanjutkan Jenjang Pendidikan Perguruan Tinggi” ini ditulis oleh Dwi Yoga Pradana dengan NIM.126306203117. Program Studi Bimbingan Konseling Islam. Fakultas Ushuluddin , Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Penulisan skripsi ini dibimbing oleh Ibu Firstalenda Susgaleni, M.Pd dengan NIDK. 8935401024.
Self efficacy merupakan kepercayaan seseorang atas kemampuan dirinya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh problem solving terhadap self efficacy siswa kelas 12 jurusan TKJ di SMK SORE Tulungagung dalam keputusan melanjutkan jenjang pendidikan perguruan tinggi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimen dengan desain penelitian pre-eksperimental design. Adapun teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan subjek sebanyak 10 siswa sebagai kelompok eksperimen. Populasi pada penelitian ini adalah kelas 12 jurusan TKJ yang memiliki skor self efficacy sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Untuk mengumpulkan data, peneltian ini menggunakan instrumen berupa ¬Pre-test dan Post-test. Berdasarkan hasil Uji-T ditemukan bahwa nilai t-hitung sebesar 3.749 lebih besar dari t-tabel 2.306. Sedangkan nilai signifikan menunjukkan 0.000 lebih kecil dari 0.05. Hal ini membuktikan bahwa Ha diterima dan H0 ditolak. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara problem solving (X) terhadap self efficacy siswa kelas 12 jurusan TKJ di SMK SORE Tulungagung dalam keputusan melanjutkan jenjang pendidikan perguruan tinggi
PENGARUH INTENSITAS BERMAIN DAN TIPE GAME ONLINE TERHADAP KESEHATAN MENTAL SISWA KELAS VIII DI SMPN 3 TULUNGAGUNG (Studi Survei)
Skripsi yang berjudul “Pengaruh Intensitas Bermain dan Tipe Game Online Terhadap Kesehatan Mental Siswa Kelas VIII di SMPN 3 Tulungagung: Studi Survei” ditulis oleh Arum Dwi Wijayanti dengan NIM. 126306211008. Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah,
Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Pembimbing Firstalenda Susgaleni, M.Pd.
Kata kunci: Intensitas Bermain, Tipe Game Online, dan Kesehatan Mental
Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis pengaruh
yang signifikan antara intensitas bermain game online terhadap kesehatan mental siswa kelas VIII SMPN 3 Tulungagung, serta mengkaji jenis game yang dapat memengaruhi kesehatan mental siswa.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survei. Adapun teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan simple random sampling dengan subjek sebanyak 75 siswa terdiri dari 2 kelas. Populasi pada penelitian ini merupakan siswa kelas VIII-8 dan VIII-11. Data dikumpulkan melalui angket tertutup dan dianalisis menggunakan program SPSS versi 26. Hasil uji
regresi linier berganda menunjukkan bahwa secara simultan, intensitas bermain dan tipe game online berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental dengan nilai F sebesar 3,498 dan Sig. 0,036 (p < 0,05). Secara parsial, variabel intensitas bermain memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan mental dengan nilai t sebesar 2,246 dan Sig. 0,028. Begitu pula dengan tipe game online, yang menunjukkan
nilai t sebesar 2,560 dan Sig. 0,013. Persamaan regresi linier berganda yang diperoleh adalah Y = 19,949 + 0,072X1 + 0,078X2 yang menunjukkan bahwa baik intensitas bermain maupun tipe game online berkontribusi positif terhadap kesehatan mental, meskipun dalam batas tertentu.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa intensitas bermain dan tipe game online berpengaruh secara signifikan terhadap kesehatan mental siswa kelas VIII di SMPN 3 Tulungagung. Oleh karena itu, penting bagi orang tua, guru, dan konselor untuk mengawasi dan membimbing aktivitas bermain game agar tidak berdampak negatif pada kondisi psikologis siswa
