246 research outputs found

    Pendayagunaan Kamera Digital Dan Ponsel Pintar Untuk Pengukuran Warna Pepaya Dan Pisang Selama Pematangan

    No full text
    Karakteristik fisik merupakan salah satu faktor penentu mutu produk pangan. Warna adalah salah satu karakteristik yang sering digunakan dalam pemilihan mutu produk pangan. Pada dasarnya warna produk dapat dianalisis dengan mengukur pantulan sinar dari permukaan produk. Saat ini, hasil pemotretan kamera digital dapat digunakan untuk menganalisis warna produk dengan beberapa persyaratan tertentu. Pepaya dan pisang merupakan salah satu jenis buah klimakterik yang proses pematangannya berlanjut setelah buah dipetik. Karakteristik warna kulit pepaya dan pisang yang berubah secara gradien selama proses pematangan digunakan dalam penelitian ini sebagai sampel untuk pengembangan metode analisis warna bahan atau produk pangan. Penelitian bertujuan untuk memverifikasi pemanfaatan kamera digital dan ponsel pintar (smartphone) dalam mengukur perubahan warna buah pepaya dan pisang serta menentukan penggunaan filter warna yang tepat untuk meningkatkan efektivitasnya. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap yaitu tahap pendahuluan, pengumpulan data, dan pengolahan data. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan lima faktor, yaitu jenis buah, alat pengukur warna, warna filter, metode pematangan, dan waktu pematangan. Hasil penelitian menunjukkan warna buah pepaya dan pisang dipengaruhi oleh waktu pematangan, jenis buah, metode pematangan, dan warna filter. Hasil pengukuran warna dengan kamera digital dan PONSEL PINTAR tidak dapat menggantikan hasil pengukuran chromameter secara langsung dan perlu dikonversi dengan persamaan regresi berganda. Hasil regresi terbaik didapat dari nilai Lab PONSEL PINTAR tanpa penggunaan filter warna dengan persamaan L' = 31.051 + 0.203L + 0.055a + 0.172b (R2 = 0.560), a' = -5.121 + 0.115L + 0.329a - 0.085b (R2 = 0.807), dan b' = 14.425 + 0.18L + 0.136a + 0.248b (R2 = 0.719)

    Perubahan Mutu Produk Nugget Jamur Tiram dengan Pengemasan Vakum dan Non Vakum Selama Penyimpanan Beku

    No full text
    Nugget jamur tiram merupakan hasil pengembangan produk nugget daging ayam. Nugget dari daging ayam memiliki rasa yang enak tetapi mengandung kadar lemak yang tinggi dan kandungan serat yang rendah. Maka dibutuhkan pengembangan produk nugget yang memiliki kadar lemak rendah, kadar protein tinggi serta serat pangan yang tinggi seperti yang dikandung oleh jamur tiram. Mutu produk nugget jamur tiram sangat dipengaruhi oleh ketengikan akibat terjadinya oksidasi lemak. Penurunan mutu produk pangan erat kaitannya dengan masa kadaluwarsa. Masa kadaluwarsa ditentukan berdasarkan umur simpan produk. Umur simpan produk pangan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu karakteristik produk, lingkungan selama distribusi dan penyimpanan serta kemasan yang digunakan. Metode pengemasan dibagi menjadi dua jenis, yaitu pengemasan vakum dan pengemasan non vakum. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penggunaan kemasan vakum dan non vakum dalam pengaruhnya terhadap umur simpan produk nugget jamur tiram. Metode pendugaan umur simpan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode konvensional. Tahapan pendugaan umur simpan adalah persiapan sampel nugget jamur tiram, analisis komponen kimia, uji organoleptik, analisis ketengikan dan uji Angka Lempeng Total (ALT). Nugget jamur tiram mengandung kadar air 46.26 – 47.05%, abu 1.04 – 1.09%, lemak 13.00 – 13.39%, protein 6.19 – 6.67%, karbohidrat 32.28 – 33.03% dan serat kasar 1.49 – 2.03%. Produk nugget jamur tiram yang dikemas vakum memiliki mutu yang lebih baik dari segi organoleptik, bilangan TBA dan mikrobiologi. Nugget jamur tiram dengan kemasan vakum dan non vakum memiliki umur simpan selama 50 hari. Hal itu didasarkan pada keamanan dan keselamatan pangan, walaupun mutu sensori dan ketengikannya masih dapat diterima

    Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Tepung dalam Pembentukan Gel Cincau Hitam (Mesona palustris).

    No full text
    Tanaman cincau hitam (Mesona palustris) atau janggelan, abu Qi, dan pati merupakan bahan pembuatan gel cincau hitam. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penggunaan jenis dan konsentrasi tepung dalam pembentukkan gel cincau hitam terhadap sifat fisik gel yang dihasilkan berupa kekuatan pecah gel, rigiditas gel, titik pecah gel, sineresis, dan penurunan tinggi gel.. Tepung yang digunakan adalah tepung ubi ungu, tepung talas, tepung kentang, sagu, dan tapioka (kontrol) sebagai sumber pati. Konsentrasi tepung yang digunakan sebesar 2,5 %, 3 %, dan 3,5 % dari volume hasil ekstraksi bubuk tanaman janggelan. Hasil analisis menunjukkan gel cincau hitam dengan tepung-tepungan yang digunakan memiliki perbedaan nyata pada sifat fisik gel yang terbentuk. Nilai kekuatan pecah gel dan rigiditas gel terendah pada konsentrasi tepung 2,5 % adalah gel cincau hitam dengan tepung talas. Nilai titik pecah tertinggi terdapat pada gel cincau hitam dengan tepung kentang. Nilai sineresis tertinggi terdapat pada gel cincau hitam dengan tepung talas pada konsentrasi 2,5 %. Nilai penurunan tinggi gel cincau hitam tertinggi berada pada gel cincau hitam dengan tepung talas pada konsentrasi 3 %. Kata kunci : Cincau hitam, pati, tepung-tepunga

    Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kelekatan Seasoning pada Produk Makanan Ringan di PT Garudafood Putra Putri Jaya

    No full text
    Perkembangan produk makanan ringan di Amerika Serikat, berawal dari industri pretzel (1861), pembuatan potato chips (1890), dan sampai sekarang telahh menghasilkan berbagai macam produk. Menurut data penjualan dari Snack Food & Wholesale Bakery untuk daerah Amerika Serikat pada tahun 1999 mencapai 19.37 triliun US $ (SF&WB, 2000). Perkembangan ini diikuti dengan perkembangan teknologi, baik dalam proses, jenis seasoning, kemasan, kandungan nutrisi, efeknya bagi kesehatan dan lain-lain. Aplikasi seasoning berkembang tidak hanya jenisnya saja namun sampai optimasi kelekatan seasoning. Produk makanan ringan yang baik adalah produk yang memiliki kelekatan seasoning yang optimal. Kelekatan seasoning yang buruk dapat menghasilkan rontokan yang akan berpengaruh pada hal lain, diantaranya efisiensi biaya dan waktu, mutu produk, dan pembersihan alat. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kelekatan seasoning pada produk makanan ringan di PT Garudafood. Produk makanan ringan yang teliti adalah tortilla fabrikasi yang terbuat dari bahan dasar jagung yang dicampur dengan bahan-bahan lainnya. Beberapa faktor yang diperkirakan mempengaruhi kelekatan seasoning pada produk makanan ringan, diantaranya: base produk, jenis seasoning, suhu aplikasi, teknik aplikasi, dosis aplikasi, holding time, dan mechanical stress. Dari beberapa faktor yang telah disebutkan, maka dipilih tiga faktor utama yang diteliti yaitu teknik aplikasi, suhu aplikasi, serta dosis aplikasi. Penelitian awal dimulai dengan menentukan kombinasi suhu dengan dosis aplikasi yang menghasilkan kelekatan terbaik, masing-masing terdapat tiga variasi, untuk suhu: 500C, 700C, 900C dan untuk dosis aplikasi 5%, 6%, 7%. Tahap selanjutnya yaitu aplikasi oil spray untuk meningkatkan kelekatan seasoning pada base produk makanan ringan dengan tiga variasi dosis 0.3 %, 0.4 %, dan 0.5 %. Percobaan dilakukan dengan menggunakan simulasi seperti yang terdapat di pabrik, yaitu simulasi tumbler kemudian dilanjutkan dengan simulasi siever dan yang terakhir simulasi weighing. Data yang dihasilkan untuk produk tortilla dengan seasoning keju, semakin tinggi suhu aplikasi maka semakin rendah rontokan yang dihasilkan namun perbandingan rontokan seasoning dan rontokan base semakin besar. Dari ketiga tahap simulasi diperoleh hasil tahap weighying menghasilkan rontokan terbesar diikuti tahap tumbler dan yang terkecil yaitu tahap siever. Jika melihat perbandingan antara rontokan base dan rontokan seasoning maka persentase rontokan seasoning lebih besar daripada rontokan base pada ketiga tahap simulasi

    Kajian Hasil Monitoring Kualitas Garam Konsumsi Beriodium di Peredaran

    No full text
    Indonesia saat ini sedang fokus melakukan pembangunan kesehatan melalui empat program prioritas yang salah satunya adalah penurunan prevalensi anak pendek (stunting). Stunting mengindikasikan adanya permasalahan gizi kurang yang menyebabkan pertumbuhan anak menyimpang dari normal. Salah satu zat gizi mikro yang masih mengalami defisiensi sehingga menjadi permasalahan nasional adalah iodium. Teknologi fortifikasi merupakan strategi yang digunakan untuk mengatasi masalah gizi nasional tersebut. Dalam hal ini, pemerintah telah mewajibkan iodisasi garam yang pengawasannya di peredaran dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tujuan penelitian ini adalah membuat profil kualitas produk garam konsumsi beriodium di peredaran, menganalisis hasil pemantauan kualitas garam beriodium di peredaran berdasarkan kadar iodium sebagai KIO3 pada wilayah pemantauan, jenis registrasi produk, dan merek garam dari hasil pengambilan sampel pada lima tahun berbeda, serta menganalisis hubungan antara hasil pemantauan kualitas garam beriodium di peredaran dengan prevalensi stunting di Indonesia. Pemantauan garam dilakukan dengan metode Lot Quality Assurance Sampling dan multistage sampling. Pada semua sampel yang diambil dilakukan tiga pengujian yaitu uji kadar air, kadar NaCl, dan kadar iodium sebagai KIO3. Hasil pemantauan kemudian dibandingkan berdasarkan kadar iodium sebagai KIO3 dengan klasifikasi pada berbagai wilayah pemantauan, jenis registrasi, dan merek garam pada beberapa tahun untuk mengetahui tren/kecenderungan hasil pemantauan yang telah dilakukan BPOM. Setelah itu, data hasil pemantauan garam beriodium di peredaran dibandingkan dengan prevalensi stunting. Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah sampel garam terbanyak yang diambil di peredaran berada di wilayah kota besar di Indonesia, tidak tergantung pada daerah sentra atau non sentra produksi garam. Garam dengan kadar KIO3 ≥ 30 ppm mayoritas merupakan garam dengan jenis registrasi MD dengan merek Dolpin, Refina, dan Kapal. Secara keseluruhan, kualitas garam berdasarkan kadar KIO3-nya di peredaran sudah meningkat sampai tahun 2015, namun mengalami penurunan pada tahun 2013 dan 2016. Namun jumlah garam konsumsi beriodium di peredaran yang memenuhi syarat SNI masih belum mencapai target BPOM, dengan jumlah 50-75% dari target 80%. Hasil analisis menunjukkan bahwa hasil pemantauan garam beriodium di peredaran tidak berpengaruh secara langsung terhadap prevalensi stunting

    Study on dry fractionation behaviour and crystallization kinetics of coconut oil

    No full text
    Dry fractionation of oils consists of two stages, namely crystallization to produce solid crystals in a liquid matrices and filtration to separate the crystals formed from a liquid matrix. Changes that occur at the molecular level during the crystallisation process such as nucleation, crystall growth and changes in the phase behavior (folymorphism, solid-solutions). The overall changes at the molecular level is highly influenced by the treatment at the physical level in the form of heat removal. Methods of cooling (crystallization temperature, cooling rate and duration of the crystallization is applied) will largely determine the success of coconut oil fractionation process. This research aims to study the typical fractionation method for coconut oil at pilot plant scale (120 kg) and identify the conditions and essential requirements that must be managed and maintained in a dry fractionation stages of coconut oil; establish the crucial cooling systems in the dry fractionation of coconut oil as a guide in designing practical coconut oil fractionation; establish an effective cooling procedure to produce coconut oil fractions with a high content of MCT; determine the effect of cooling rate and crystallization temperature on the composition and profile of TAG, the kinetics of crystallization and melting properties of coconut oil fractionation products ; determine the relationship (model equations) between the parameters of fractionation with cooling procedure during the crystallization process, to predict the TAG composition, physical and thermal-mechanical properties of fractions produced. Coconut oil is dominant with lauric (C12:O), miristic (C14:0) and caprilic (C8:0)acid which composed the main trilaurin (LaLaLa), caprodilaurin (CaLaLa) and dilauromiristin (LaLaM) TAG. The content of lauric, miristic and caprilic acid in coconut oil are 51.73; 15.57 and 10.61%, respectively; while LaLaLa, CaLaLa and LaLaM TAG are 20.43; 16.23 and 15.38%, respectively. Coconut oil contains medium chain trigliserides (MCT) of 53.71%, trisaturated (St3) of 82.54%, disaturated (St2U) of 14:24%, monosaturated (StU2) of 3:22% and the proportion of high/low-melting TAG (S/L) by 49.25%. Coconut oil has a high SFC at low temperatures and a sharp decline to a temperature of 25 °C and then constant up to a temperature of about 30 ºC. Coconut oil’s SFC with about 32% was measured in temperature interval 21-22 °C, indicating that coconut oil has a good spreadibility at ambient temperature for countries that have 4 seasons. Coconut oil has SMP ranged between 24.5-26.2 °C, the water content of 0.021% and a free fatty acid content of 0.018%. Our study showed that there were three distinct cooling regimes critical to crystallization process, i.e. initial cooling, critical cooling and crystallization regime. Initial cooling was cooling from certain temperature that the oil has been rejuvenated and there was no more crystalized TAG (in this study rejuvenation was done at 70 oC for 10 minutes) to the onzet of oil crystallization temperature. For coconut oil the onzet of crystallization temperature was found at 29 oC. Critical cooling was cooling from the onzet of crystallization temperature (29 °C) to crystallization temperature. We predicted that during the critical cooling regime the crystal nucleation process was intensively occured (propagation). Crystallization regime was cooling to keep the oil temperature constant at predetermined crystallization temperature. It is estimated that crystallization regime was the stage of crystal nuclei merging to form larger crystals (crystal growth). In the first regime, melted coconut oil might be cooled quickly to save time but in the second regime should be done with a cooling rate of less than 0.176 °C/min to produce physically stable crystal. Oil with high MCT content could be obtained from olein fraction of coconut oil. At the crystallization temperature 21.30-21.73 °C for the critical cooling rate between 0.013 to 0.176 °C/min, the higher MCT content of olein fraction were produced by the lower critical cooling rate and the longer crystallization process. Critical cooling rate has positive correlation with the S/L ratio, the content of St3 and SFC profile of olein fraction but has negative correlation with the content of St2U and StU2 TAG. Interval crystallization temperature between 21.30 to 21.73 °C produced the S/L ratio, the content of St3 TAG and SFC profiles of olein fractions lower and the content of St2U and StU2 TAG higher than the temperature interval below or above it. Coconut oil fractionation more effective in hihger crystallization temperature or lower critical cooling rate. In these cooling treatments, St3 TAG which has high melting point would be concentrated at stearin fraction, while St2U and StU2 TAG and MCT would be at olein fraction. Therefore, it will increase melting properties of stearin fraction and decrease olein fraction. Avrami and Gompertz models are able to quantitatively describe coconut oil crystallization kinetics. Lower critical cooling rate decreases Avrami index, crystallization half time and induction time but increases crystallization rate constant and maximum increase rate in crystallization. Crystallization temperature has positive correlation with the crystallization rate contstant and Avrami index but has negative correlation with induction time and maximum increase rate in crystallization. Critical cooling rates and crystallization temperatures only effected on the thermodynamics and crystallization kinetics of coconut oil but not on its polymorphic occurrence. This study had successfully obtained a typical dry fractionation for coconut oil at pilot plant scale (120 kg) and had resulted in an effective cooling procedure to produce oil fractions with physico-chemical properties as expected. Conditions and essential requirements that must be managed and maintained in a dry fractionation stages of coconut oil had been identified and were known, so the fractionation process for specific purposes have been able to be designed practically

    Karakterisasi Tepung Jagung Lokal dan Mie Basah Jagung yang Dihasilkan.

    No full text
    Jagung merupakan salah satu komoditi lokal Indonesia yang sangat berpotensi untuk dikembangkan terutama dalam upaya diversifikasi pangan. Salah satunya dengan diolah menjadi mie jagung. Varietas jagung yang digunakan merupakan varietas jagung unggulan nasional yang diharapkan mempunyai potensi untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan mie basah jagung. Penelitian ini berguna untuk meningkatkan nilai tambah jagung unggul nasional dan untuk menyediakan database varietas jagung lokal yang cocok untuk dijadikan mie jagung. Penelitian ini terdiri atas beberapa tahap, yaitu penepungan, karakterisasi tepung jagung, pembuatan mie basah jagung, analisa mie secara fisik, penambahan guar gum dan pembandingan hasil analisa mie dengan dan tanpa guar gum, serta penentuan varietas jagung lokal yang paling cocok untuk dibuat mie basah jagung. Penepungan jagung menggunakan metode penggilingan kering. Mie basah jagung dibuat dengan menggunakan ekstruder model MS9, Multifunctional noodle modality machine. Mie dibuat dengan menggunakan tekanan secara manual. Pengukuran besarnya tekanan yang diberikan sulit dilakukan, sehingga yang diukur adalah waktu (laju) pengisian (filing rate). Karakterisasi tepung jagung berdasarkan sifat fisiko-kimia memiliki pH 5.83 - 6.67, warna kuning kemerahan dengan tingkat kecerahan (L) 87.07 - 88.81, kadar air 9.95 - 15.04% bk, kadar abu 0.55 - 0.83% bk, kadar lemak 1.62 - 1.85 % bk, kadar protein 8.96 - 9.20% bk, kadar karbohidrat 88.11 - 88.87% bk, kadar pati 71.69 - 75.70% bk, kadar amilosa 23.06 - 27.68% bk, dan kadar amilopektin 44.10 - 52.64% bk. Tepung jagung memiliki suhu awal gelatinisasi 72.0 - 73.5°C, viskositas maksimum 222.50 - 462.50 BU, viskositas akhir 280 - 580 BU, breakdown viscosity 5.0 - 92.5 BU, dan setback viscosity 45.00 - 102.50 BU; water absorption capacity 1.34 - 1.69 (g/g) bk, kelarutan 5.00 - 7.92% dan swelling volume 7.53 - 9.30 (ml/g) bk. Filling rate diukur berdasarkan waktu sejak mie keluar pertama kali dari die sampai habis. Persen elongasi mie dan KPAP mie basah jagung tanpa tekanan adalah sebesar 108.46% dan 7.15%. Sedangkan dengan pemberian tekanan secara manual, persen elongasi dan KPAP sebesar 126.29% dan 5.56%. Hasil analisa ini juga didukung oleh hasil analisa mikrostruktur menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope). Hasil SEM menyatakan mie basah jagung dengan pemberian tekanan memiliki matriks pati yang lebih seragam sehingga kekuatan ikatan antar granula lebih tinggi dibandingkan mie basah jagung tanpa tekanan. Ikatan antar granula yang kuat dapat meningkatkan nilai persen elongasi dan menurunkan KPAP. Selanjutnya pada penelitian utama, pembuatan mie basah jagung dilakukan dengan pemberian tekanan secara manua

    Karakterisasi Jelly Drink dari Jelly Powder Menggunakan Alat Texture Analyser dengan Metode Compression-Extrusion Test

    No full text
    Characterization needs to be done to determine the consistency of product quality. Appropriate methods are needed to characterize jelly drink. This is due to jelly drink is a gel product that is different from other types of gel products in terms of consumption. Jelly drink products consumed by aspirated (flow) and immediately swallowed like drinks. This research used compression extrusion test method because this method uses the principle of emphasis to an existing product extruded under the probe (flow), which is suitable for semisolid material like gel. Raw materials used in this study were jelly powder, carrageenan 0,4% + 0,05% konjac, carrageenan 0,4% + konjac 0,1%, carrageenan 0,4 % + LBG 0,05%, and karaginan 0,4% + 0,1% LBG. The results of characterization by using texture analyser and compression extrusion test method showed that the jelly powder 0,33 % (as control) has gel fracture and firmness values lower than carrageenan 0,4%+konjac 0,05%, carrageenan 0,4%+ konjac 0,1%, and carrageenan 0,4%+LBG 0,1%, and the brittleness and gel strength max, higher than carrageenan 0,4% + konjac 0,05% , and carrageenan 0,4% + LBG 0,1%. Based on sensory test and statistical test were using univariate models and continued test were using Duncan with 95% confidence level, showed that all samples have the brittleness were not significantly different with jelly powder o,33%, except carrageenan 0,4% (without the addition of LBG or konjac), and the firmness of samples carrageenan 0,4% + 0,05% LBG, carrageenan 0,4% + 0,05% konjac, and carrageenan 0,4% + 0,1% LBG was not significantly different with jelly powder 0,33%. Graphically, the addition of konjac with the same concentration with the addition of LBG up to 0,1%, rise in influence gel fracture, gel max strength, and firmness value was higher in carrageenan 0,4%

    Studies on Hydrocolloids and CaCl2 Effect on Gelatinization Profile of Raw Material and Its Application on Breadfruit Bihon-Type Noodle.

    No full text
    Tepung sukun memiliki puncak viskositas sedang dan selama periode holding time viskositasnya cenderung meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa pati sukun lebih mampu menjaga integritas strukturnya pada kondisi perlakuan panas dan pengadukan, sehingga cocok untuk diaplikasikan pada produk pangan yang membutuhkan pemanasan. Berdasarkan karakteristik tersebut, maka produk berbasis tepung sukun yang potensial untuk dikembangkan adalah bihun. Pati sukun memenuhi syarat untuk menjadi bahan baku bihun yang berkualitas berdasarkan sifat amilografinya. Untuk memperbaiki karakteristik bihun sukun yang dihasilkan maka dilakukan penggunaan tepung campuran dan bahan tambahan pangan (BTP).The objectives of this research were: (1) to study the effect of rice flour addition on gelatinization characteristics of raw material, (2) to study the effect of hydrocolloids and salt addition on pasting profile of raw material and (3) to investigate the effects of flours, hydrocolloids and salt interactions on the quality of bihon-type noodle making. The pasting properties of breadfruit flour alone and its composite with 15 and 30% rice flour were investigated. The viscosity of the flour mixtures increased with increasing proportion of rice flour, except for peak viscosity. The addition of 15% rice flour resulting in better characteristics of mix flour compared to the addition of 30% rice flour, showed by higher setback and lower breakdown viscosity. The pasting properties of mix flours consists of breadfruit flour alone or composite of 85% breadfruit flour and 15% rice flour, hydrocolloids, including guar gum and konjac flour, in the presence or absence of CaCl2 were investigated using Rapid Visco Analyzer. The addition of 1% CaCl2 lowered the viscosity of mixed flours, while addition of 2% CaCl2 increased the viscosity of mixed flours. The addition of CaCl2 improved the heat stability of breadfruit flour in the presence of both guar gum and konjac flour, showed by the decreased value of breakdown viscosity. Bihon-type noodle made from composite mix flours as described above were prepared. Bihon-type noodle quality of composite mix flour in the presence or absence of CaCl2 was examined by cooking loss, rehydration weight, color, texture analysis and sensory tests. It was found that the substitution of breadfruit flour with 15% rice flour in the presence of guar gum improved the characteristics of bihon-type noodle quality, i.e. lower rehydration weight and higher hardness. In the presence of konjac flour, addition of rice flour resulting in higher cooking loss and lower elasticity

    Perancangan Sistem Informasi Akuntansi Penjualan Tunai Pada UMKM Dedi Tani

    Get PDF
    This final report is entitled "Design of Cash Sales Accounting Information System at UMKM Dedi Tani". UMKM Dedi Tani is a type of business that operates in the field of fertilizer and pesticide trading. This report aims to design and implement a computerized cash sales accounting information system based on Microsoft Access at UMKM Dedi Tani, in order to make it easier for UMKM to find out the amount of revenue based on the type of product and the amount of cash received from these cash sales. The author collects primary data obtained from interviews with employees regarding the sales accounting system that has been implemented at this time. The Dedi Tani UMKM cash accounting information system has several weaknesses such as manual recording which is no longer effective as many buyers, difficulty in making sales recaps, difficulty knowing exactly which types of goods have increased sales and provide high profits and which goods have decreased and provide low profits. Finally, the author concludes that the design of the Dedi Tani UMKM cash sales accounting information system application goes through the stages of analyzing the old system with designing a new computerized system, designing applications, and testing application results that have outputs in the form of a new system.Keywords: Accounting Information System, and Microsoft Acces
    corecore