8 research outputs found

    KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN LARVA IKAN DI ESTUARIA SEGARA ANAKAN CILACAP, JAWA TENGAH

    No full text
    Komposisi dan kelimpahan larva ikan telah diamati selama bulan November 2001 sampai dengan April 2002 di Estuaria Segara Anakan Cilacap, Jawa Tengah. Pengambilan larva ikan dilakukan setiap bulan dengan menggunakan larva net pada sepuluh stasiun penelitian. Larva ikan yang diperoleh terbagi dalam 23 familia dan 38 genus. Familia Gobiidae merupakan penyumbang terbanyak dari seluruh total tangkapan (67.33%), diikuti dengan Engraulididae (19.39%), Apogonidae (8.27%) dan lainnya sebesar 4.96%. Kelimpahan larva ikan seluruh takson tertinggi terjadi pada bulan November 2001 dengan kelimpahan mencapai 2490 ind/100 m3 dan terendah pada bulan Januari dengan kelimpahan 295 ind/100 m3. Larva yang paling melimpah adalah Glossogobius diikuti Engraulis sp, Stolephorus sp, Apogon sp, Megalops cyprinoides, Acanthogobius sp dan Chirocentrus sp. Kelimpahan larva ikan cenderung rendah pada stasiun-stasiun yang memiliki salinitas dan kekeruhan yang tinggi. Faktor lingkungan yang berkorelasi dengan kelimpahan larva ikan total adalah kekeruhan. Beberapa larva ikan menunjukkan preferensi yang bervariasi terhadap kondisi lingkungan.Kata kunci: komposisi, kelimpahan, larva ikan, Segara Anakan

    The researh for study relationship between phytoplankton abundance and environment parameters and determining contribuion each environment parameters on phytoplankton abundance discrimination had been conducted in 2005 in bagan rambo fishing ground at coastal water Barru Regency, Makassar Strait.  Environment parameters and phytoplankton abundance data collection were conducted on May (6 stations), June, July, September, October and November (9 stations).  Spatio-temporal distribution of environment parameters probably ralate to fresh water loading to stations inshore.  Phytoplankton abundance found in this research ranged from 431 to 5438 cels/liter.  Phytoplankton population dominated by diatom i.e: Bacteriatrum, Biddulphia, Chaetoceros, Coscinodiscus, Ditylum, Eucampia, Melosira, Navicula, Nitzschia, Rhizosolenia, Skeletonema, Thalassionema, Thalassiosira, dan Thalassiothrix.  Regression analysis result show significantly positive linear correlation between phytoplankton abundance with temperature and phosphate concentration, but low correlation coefficient R = 0,4366 (R2 = 0,1906).  Discriminant analysis result show that high average of phytoplankton abundance occured when high temperature and nitrat concentration, and moderate salinity, pH and phosphate concentration.  Phosphate concentration have higher contribution on discriminating phytoplankton abundance.  The contribution of nitrate and silicat concentration and pH are low.   Key words: phytoplankton, phytoplankton abundance, diatom, discriminant analysis, environment parameters

    No full text
    The researh for study relationship between phytoplankton abundance and environment parameters and determining contribuion each environment parameters on phytoplankton abundance discrimination had been conducted in 2005 in bagan rambo fishing ground at coastal water Barru Regency, Makassar Strait.  Environment parameters and phytoplankton abundance data collection were conducted on May (6 stations), June, July, September, October and November (9 stations).  Spatio-temporal distribution of environment parameters probably ralate to fresh water loading to stations inshore.  Phytoplankton abundance found in this research ranged from 431 to 5438 cels/liter.  Phytoplankton population dominated by diatom i.e: Bacteriatrum, Biddulphia, Chaetoceros, Coscinodiscus, Ditylum, Eucampia, Melosira, Navicula, Nitzschia, Rhizosolenia, Skeletonema, Thalassionema, Thalassiosira, dan Thalassiothrix.  Regression analysis result show significantly positive linear correlation between phytoplankton abundance with temperature and phosphate concentration, but low correlation coefficient R = 0,4366 (R2 = 0,1906).  Discriminant analysis result show that high average of phytoplankton abundance occured when high temperature and nitrat concentration, and moderate salinity, pH and phosphate concentration.  Phosphate concentration have higher contribution on discriminating phytoplankton abundance.  The contribution of nitrate and silicat concentration and pH are low.   Key words: phytoplankton, phytoplankton abundance, diatom, discriminant analysis, environment parameter

    Kebiasaan Makanan I Kan Lemuru {Sardinella Lemuru) Di Perairan Muncar, Banyuwangi [Food Habits of Threadfm Bream, Sardinella Lemuru in Muncar, Banyuwangi]

    No full text
    Jumlah ikan yang tertangkap sebanyak 300 ekor yang terdiri atas tiga kelompok, yaitu protolan, lemuru dan lemuru kering Ikan lemuru termasuk kelompok pemakan fitoplankton terutama Bacillariphyceae. Jenis makanan utama berubah dengan Perubahan kelompok ukuran

    Komposisi dan Kelimpahan Larva Ikan di Estuaria Segara Anakan Cilacap, Jawa Tengah

    No full text
    Komposisi dan kelimpahan larva ikan telah diamati selama bulan November 2001 sampai dengan April 2002 di Estuaria Segara Anakan Cilacap, Jawa Tengah. Pengambilan larva ikan dilakukan setiap bulan dengan menggunakan larva net pada sepuluh stasiun penelitian. Larva ikan yang diperoleh terbagi dalam 23 familia dan 38 genus. Familia Gobiidae merupakan penyumbang terbanyak dari seluruh total tangkapan (67.33%), diikuti dengan Engraulididae (19.39%), Apogonidae (8.27%) dan lainnya sebesar 4.96%. Kelimpahan larva ikan seluruh takson tertinggi terjadi pada bulan November 2001 dengan kelimpahan mencapai 2490 ind/100 m3 dan terendah pada bulan Januari dengan kelimpahan 295 ind/100 m3. Larva yang paling melimpah adalah Glossogobius diikuti Engraulis sp, Stolephorus sp, Apogon sp, Megalops cyprinoides, Acanthogobius sp dan Chirocentrus sp. Kelimpahan larva ikan cenderung rendah pada stasiun-stasiun yang memiliki salinitas dan kekeruhan yang tinggi. Faktor lingkungan yang berkorelasi dengan kelimpahan larva ikan total adalah kekeruhan. Beberapa larva ikan menunjukkan preferensi yang bervariasi terhadap kondisi lingkungan

    Komunitas lamun di Pulau Barranglompo Makassar: kondisi dan karakteristik habitat

    No full text
    Indikasi adanya penurunan kondisi lamun ditemukan di beberapa tempat termasuk di Pulau Barranglompo Makassar. Kondisi lamun yang rusak berimplikasi terhadap peranan lamun sebagai habitat, tempat memijah dan tempatmencari makan berbagai organisme serta peran lamun sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Sebagai dasar untuk melakukan pengelolaan dan konservasi lamun yang tepat diperlukan data kondisi dan karakteristik habitat lamun. Penelitian dilakukan di Pulau Barranglompo Makassar dari bulan Desember 2010 sampai November 2011. Kondisi lamun yang diamati meliputi distribusi, kerapatan, frekuensi kehadiran dan karakteristik habitat. Penelitian menunjukkan bahwa distribusi lamun yang luasditemukan pada sisi selatan, barat dan utara pulau Barranglompo. Jenis lamun yang mempunyai sebaran luas adalah Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata

    Distribusi Sumberdaya Ikan Demersal di Perairan Laut Cina Selatan

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan antara distribusi sumberdaya ikan demersal dengan kedalaman perairan dan faktor-faktor lingkungan perairan Laut Cina Selatan. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 10 September - 5 Oktober 2001 dengan kedalaman 13-72 meter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa distribusi sumberdaya ikan demersal tergantung dari salinitas, kedalaman dan suhu perairan. Pengaruh faktor salinitas lebih besar dari faktor kedalaman dan suhu perairan. Distribusi Alepes kalla, Selaroides leptolepis, Scutor ruconeus, Leiognathus leusiscus, Pomadasys maculatus, Pomadasys argyreus, Pampus argenteus, Upeneus tragula dan Nemipterus mesoprion pada perairan dangkal dengan salinitas yang rendah serta suhu yang tinggi. Sebaliknya Nemipterus marginatus, Nemipterus peronii, Nemipterus tambuloides, Priacanthus macracanthus dan Upeneus bensasi pada perairan yang lebih dalam, salinitas yang tinggi dan pada suhu yang rendah. Distribusi Atropus atropus, Gazza minuta, Leiognatus equulus dan Scomberomorus commerson pada perairan dengan kecerahan yang tinggi. Scolopsis taeniopterus, Saurida undosquamis dan Priacanthus tayenus memiliki toleransi yang luas terhadap faktor lingkungan

    Screening of Bacterial Symbionts of Seagrass Enhalus SP. Against Biofilm-forming Bacteria

    No full text
    Seagrasses have been known to produce secondary metabolites that have important ecological roles, including preventing from pathogen infections and fouling organisms. A research aimed at screening the potential of bacterial symbionts of seagrass Enhalus sp. was performed. Bacterial symbionts including endophytes and epiphytes were isolated from the seagrass, and marine biofilm-forming bacteria were isolated from the fiber and wooden panels from the surrounding colonies. A total of 17 epiphyte and 6 endophyte isolates were obtained, however more biological activity was found among endophytes (100%) compared to epiphytes (47%) against biofilm-forming bacteria. In addition, bacterial endophytes inhibited more biofilm-forming bacteria than epiphytes. Interestingly more isolates were obtained from rough surfaces both from fiber and wooden panels than smoothe surfaces. Bacterial symbionts of seagrass Enhalus sp., in particular its endophytes show potential source as natural marine antifoulants
    corecore