1,720,989 research outputs found

    Efektivitas Penggunaan Small-Bore Kateter (Pigtail Kateter) Dibandingkan dengan Large-Bore Kateter untuk Drainase Efusi Pleura

    No full text
    Latar Belakang: Pemasangan large bore kateter merupakan metode yang invasif dan berpotensi meningkatkan angka morbiditas dan komplikasi. Sebaliknya, pemasangan small bore (pigtail) kateter merupakan metode yang aman lebih sedikit invasif untuk kasus efusi pleura. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan secara langsung pigtail dan large bore kateter dalam hal komplikasi yang ditimbulkan mengingat masih sangat sedikitnya penelitian serupa. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang membandingkan komplikasi yang terjadi antara pasien efusi pleura yang menggunakan small bore (pigtail) kateter ukuran 12 F dengan yang menggunakan large bore kateter ukuran 28 F. Penelitian ini dilakukan di instalasi rawat inap RSUP H Adam Malik Medan mulai Februari-Juli 2016. Hasil: Total 32 pasien dalam penelitian ini, 16 pasien menggunakan pigtail kateter dan 16 lainnya menggunakan large bore kateter. Komplikasi pada grup pigtail kateter meliputi tercabutnya selang dada 27,2% dan nyeri VAS ± 2,25. Pada grup large bore kateter meliputi pneumotoraks 36,3%, infeksi pada tempat pemasangan 18,1%, kingking 9%, blockage 9% dan nyeri VAS ± 5. Rata-rata durasi drainase adalah ± 12,31 hari (pigtail) dan 12 hari (large bore). Kesimpulan: Pigtail kateter lebih efektif dibandingkan dengan large bore kateter dalam hal lebih sedikitnya rasa nyeri dan komplikasi yang ditimbulkan.89 HalamanTesis Magiste

    Peran Lactate Dehydrogenase (LDH) dan Analisa Gas Darah (AGDH) dalam Menegakkan Diagnosis Pneumocystis Carinii Pneumonia (PCP) pada Pasien HIV/AIDS yang Mendapatkan Pengobatan

    No full text
    Background: PCP is an infection occurs in 70%-80% of patients with AIDS. Several studies have shown representative results in diagnosing PCP through the examination of lactate dehydrogenenase (LDH) and blood gas analysis. PCR technique is still the gold standard in diagnosing PCP by taking fluid samples from broncho-alveolar lavage (BAL), however PCR many have obstacles in terms of availability of inspection as well as enormous costs. Therefore, this study aim to see the role of LDH and blood gas analysis in establishing the diagnosis of PCP in HIV/AIDS patients receiving treatment. Method: This research is an analytic study using an observational diagnostic test design start from November 2020 until January 2021 at the Department of Internal Medicine Medical Faculty of USU / H.Adam Malik Hospital. Blood samples were taken and examined at the Clinical Pathology Laboratory. Analysis data undergone by descriptive to determine the frequency distribution of research subjects based on their characteristics. Results: There is as much as 158 person of HIV-AIDS sufferers with 106 of them suffering from PCP. More HIV-AIDS patients had high LDH levels >500 U/L, namely 98 people (62.0%), while patients with LDH 500 U/L were 60 people (38.0%). The AGDA of HIV-AIDS patients had more blood gas analysis PaO2 <70 or AA DO2>35, which was 113 people (71.5%). LDH has a sensitivity of 83.0%, a specificity of 80.7%, PPV 89.7%, and NPV 70.0%. Blood gas analysis examination has a sensitivity of 69.8%, a specificity of 25.0%, PPV 65.4%, and NPV 28.8%. Conclusion: The level of LDH has superior sensitivity and specificity compared to blood gas analysis as a diagnostic modality for PCP in HIV-AIDS patients at H Adam Malik Hospital, Medan.Latar Belakang: PCP merupakan infeksi yang terjadi pada 70%-80% pasien dengan AIDS. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang representatif dalam mendiagnosis PCP melalui pemeriksaan laktat dehidrogenase (LDH) dan analisa gas darah (AGDA). Teknik PCR sampai saat ini masih menjadi standar baku emas dalam penegakkan PCP dengan mengambil sampel cairan dari broncho-alveolar lavage (BAL), namun PCR banyak memiliki hambatan dari segi ketersediaan pemeriksaan maupun biaya yang sangat besar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat peran LDH dan AGDA dalam menegakkan diagnosis PCP pada pasien HIV/AIDS yang mendapatkan pengobatan. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik menggunakan desain observasional uji diagnostik, dilaksanakan mulai bulan November 2020-Januari 2021 di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan. Pengambilan dan pemeriksaan sampel darah dilaksanakan di Laboratorium Patologi Klinik. Dilakukan analisis data secara deskriptif untuk mengetahui distribusi frekuensi subyek penelitian berdasarkan karakteristiknya. Hasil: Terdapat sebanyak 158 orang penderita HIV-AIDS dengan 106 orang diantaranya menderita PCP. Pasien HIV-AIDS lebih banyak memiliki kadar LDH yang tinggi >500 U/L yaitu 98 orang (62,0%), sedangkan pasien yang memiliki LDH ≤ 500 U/L yaitu sebanyak 60 orang (38,0%). AGDA pasien HIV-AIDS lebih banyak memiliki nilai AGDA PaO235 yaitu sebanyak 113 orang (71,5%). LDH memiliki sensitivitas 83,0%, spesifisitas 80,7%, nilai PPV 89,7%, dan nilai NPV 70,0%. Pemeriksaan AGDA memiliki sensitivitas 69,8%, spesifisitas 25,0%, nilai PPV 65,4%, dan nilai NPV 28,8%. Kesimpulan: Kadar LDH memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih unggul dibandingkan dengan pemeriksaan AGDA sebagai modalitas diagnostik PCP pada pasien HIV-AIDS di RSUP H Adam Malik Medan103 HalamanTesis Magiste

    Uji Diagnostik Kadar Protein Cairan Pleura dalam Mendiagnosis Efusi Pleura yang Disebabkan oleh Tuberkulosis Paru

    No full text
    Latar Belakang: Efusi pleura tuberkulosis adalah penumpukan cairan dalam rongga pleura yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis Diagnosis dan pengobatan yang dini merupakan strategi yang sangat penting dalam control penyakit TB. Proses akumulasi cairan pada TB bersifat ringan dan kronis,sama dengan malignansi dan infeksi non TB. kesamaan ini yang membuat penyebab dari efusi pleura karena TB,malignansi dan infeksi non TB sulit di deteksi. Gold standard dari efusi pleura TB adalah menemukan mycobacterium tuberculosis di cairan pleura atau jaringan pleura, namun dalam praktik klinis hal ini memiliki kendala dikarenakan rendahnya tingkat identifikasi dari basil tersebut dan pertumbuhan dari kultur mikrobakterium yang lambat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kadar protein cairan pleura dalam menegakkan diagnosis efusi pleura yang disebabkan oleh tuberkulosis. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan suatu penelitian jenis analitik dengan design uji diagnostik yang dilakukan pada 120 penderita efusi pleura,yang terdiri dari efusi pleura yang disebabkan tuberkulosis,malignansi dan infeksi non TB yang ditegakkan berdasarkan pemeriksaan penunjang yang diperoleh dari rekam medis,lalu dinilai protein cairan pleura dari masing-masing efusi pleura berdasarkan penyakit yang mendasarinya. Analisis statistik dilakukan dengan Uji Mann Whitney dan kurva ROC (Receiver Operating Characteristic) untuk mencari cut off point dari kadar protein cairan pleura. Hasil: Terdapat peningkatan signifikan nilai protein cairan pleura yang disebabkan oleh tuberkulosis dibandingkan dengan yang disebabkan oleh malignansi dan infeksi non TB (p 0,003).). Dengan cut off point di atas 3,95 didapati nilai sensitivitas 67,6 %, Spesifisitas 65,4 %, Nilai prediksi positif 71,8 %. Nilai prediksi negative 60,7 % dan akurasi 66,7 %. Kesimpulan: Kadar protein cairan pleura secara signifikan lebih tinggi pada kasus tuberkulosis dibandingkan kasus lainnya. Kadar protein cairan pleura dapat membantu untuk mendiagnostik efusi pleura TB tetapi tidak dapat menghasilkan angka sensitivitas dan spesifisitas yang baik.Background: The pleural effusion of tuberculosis is the accumulation of fluid in the pleural space caused by mycobacterium tuberculosis Early diagnosis and treatment is a very important strategy in the control of TB disease. The process of fluid accumulation in TB is mild and chronic, similar to malignancy and non-TB infection. this makes the cause of pleural effusion due to TB, malignancy and non- TB inafections difficult to detect.Gold standard of TB pleural effusion is finding mycobacterium tuberculosis in pleural fluid or pleural tissue, but in clinical practice this has constraints due to the low level of identification of the bacillus and the growth of slow microbacterial cultures. This study aims to assess the pleural fluid protein level in establishing the diagnosis of pleural effusion caused by tuberculosis. Research Method: This research is an analytical study with diagnostic test design performed on 120 patients with pleural effusion, consisting of pleural effusion caused by tuberculosis, malignancy and non-TB infection based on investigation obtained from medical record, then assessed by protein pleural fluid from each of the pleural effusions based on the underlying disease. Statistical analysis was performed by Mann Whitney Test and ROC curve (Receiver Operating Characteristic) to find cut off point from pleural fluid protein level. Results: There was a significant increase in the value of pleural fluid protein caused by tuberculosis compared with that caused by malignancy and non-TB infections (p 0.003).). With a cut-off point above 3.95 the sensitivity score was 67.6%, specificity 65.4%, positive predictive value of 71.8%. The negative predictive value is 60.7% and the accuracy is 66.7%. Conclusions: Pleural fluid protein level significantly higher on tuberculosis case than other case. Pleural fluid protein level could be useful to diagnose pleural effusion due to tuberculosis but pleural fluid protein level did not have a good sensitivity anf specificity.Tesis Magiste

    Karakteristik Penderita Efusi Pleura di RSUP H. Adam Malik Medan

    No full text
    Background:Pleural effusion devloped when more fluid enters the pleural space than is removed. Potentila mechanisms of fluid increased interstitial fluid in the lungs secondary to increased pulmonary capilary pressure, increase permeability, decrease intrapleural pressure, decrease plasma oncotic pressure.The diagnosis of pleural effusion is to find out the underline disease still , so it is important to know how the characteristics of pleural effusion patients so that pleural effusion patients can be diagnosed quickly to avoid complications. The purpose of this study was to determine the characteristics of pleural effusion patients who were treated in the Lung H Adam Malik General Hospital Medan period July-October 2017. This study was a retrospective descriptive study. The instrument used was medical record data from the pulmonary ward H Adam Malik Medan Hospital since July-October 2017. Method:This study is an analytical type of study with a diagnostic test design conducted on 120 patients with pleural effusion, which consists of pleural effusion caused by tuberculosis, malignancy and non-TB infections that are established based on supporting examinations obtained from medical records Results: TB is the most common cause of pleural effusion in patients treated at H Adam Malik General Hospital Medan with characteristics more common in men than women (73.3%), with the most common age being young adults (> 40 years) and occupation or level middle-low socio economy.Latar Belakang: Efusi pleura terjadi akibat akumulasi cairan yang berlebih di rongga pleura. Penyebab efusi pleura diakibatkan oleh peningkatan permeabilitas kapier, peningkatan tekanan hidrostatik, penurunan tekanan itrapleural, penurunan tekanan onkotik plasma. Diagnosis efusi pleura yang paling penting adalah menentukan penyakit penyebab. perlu diketahui bagaimana karakteristik dari penderita efusi pleura agar penderita efusi pleura dapat didiagnosis dengan cepat untuk menghindari terjadinya komplikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik penderita efusi pleura yang dirawat di Bangsal Paru RSUP H Adam Malik medan periode Juli-Oktober 2017. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Instrumen yang digunakan adalah data rekam medik dari bangsal paru RSUP H Adam Malik Medan sejak Juli-Oktober 2017. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan suatu penelitian jenis analitik dengan design uji diagnostik yang dilakukan pada 120 penderita efusi pleura,yang terdiri dari efusi pleura yang disebabkan tuberkulosis,malignansi dan infeksi non TB yang ditegakkan berdasarkan pemeriksaan penunjang yang diperoleh dari rekam medis, Hasil: TB merupakan penyebab tersering efusi pleura pada pasien yang di rawat di RSUP H Adam Malik medan dengan karakteristik lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan (73,3%), dengan usia tersering adalah dewasa muda (>40 tahun) dan pekerjaan atau tingkat sosio ekonomi menengah ke bawah.56 HalamanTesis Magiste

    Faktor Resiko Kurang Energi Protein Pada Balita di Kota Medan

    No full text
    Protein-Energy Malnutrition (PEM) among Indonesian children is one of the health problems caused by nutritional deficiency. Many risk factors of PEM in children are: infection, gender, age, weight, non exclusive breast feeding, incomplete immunization, birth sequence, low income, working mother, parents with low education level, family size etc. The purpose of this study is to identify the relationship of risk factors with PEM in children. The study design is case control, and 230 subjects were recruited from children ward of Pimgadi Hospital Medan. Medical records from 1999 to 2003 were used to obtain secondary data. Descriptive analysis, bivariate analysis with chi-square test and logistic regressions test. were done to determine significant statistical association. Results show significant relationship with 95% confidence interval for variable: infection, age 12-23 months, birth sequence 3th - 4th , non exclusive breast feeding, mother with low education level, and family size (rO,OOO). Age <12 months (p = 0.26), age 24-35 months (p = 0.005), age 36-47 months (rO.010). Birth weight :s; 2500 grams with (p = 0.039). Incomplete immunization (p =0.006). Birth sequence 5th_6th (p = 0.001). The result of logistic regression test shows dominant risk factors which caused PEM in children in Medan are : infection, low income, family size (p = 0.000), and non exclusive breast feeding (p=0.012) Intervention of PEM in children can be done by reducing infection, rate, applying exclusive breast feeding practice among children under 2 years old, implementation of family planning, health education etc. An inter program and cross sectoral involving health, agriculture, labour, education and social sectors are needed. Revitalization of Posyandu by boosting activities such as: regular body weight of babies, immunization, mothers and children health care program, family planning program, additional food supply (PMT), health service can support the progam.Penyakit kurang energi protein (KEP) pada balita di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan akibat gizi kurang, Banyak faktor resiko terjadinya KEP pada balita diantaranya: penyakit infeksi, jenis kelamin, umur, berat badan lahir rendah, tidak diberi ASI eksklusif, imunisasi tidak lengkap, nomor urut anak, pekerjaan ayah dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah, ibu pekerja, tingkat pendidikan orang tua yang rendah, jumlah anggota keluarga yang besar dan lain- lain .Penelitian ini bertujuan untuk mempengarahui hubungan faktor resiko dengan KEP pada balita. Desain penelitian kasus kontrol dengan 230 responden (l :1), dari bagian anak RS. Pirngadi Medan, Data sekunder dari rekam medik balita penderita KEP yang berdomisili di Kota Medan selama periode tahun 1999-2003 di analisa. Analisis deskriptif, analisis bivariat dengan uji Chi- Square dan analisis multivariat dengan uji regressi logistik, dilakukan untuk melihat asosiasi KEP dengan multifaktor. Hasil menunjukkan ada hubungan yang bermakna pada tingkat kepercayaan 95 % pada variabel : Penyakit infeksi, umur 12-23 bulan, nomor urut anak ke 3-4, pekerjaan ayah tingkat sosial ekonomi rendah, tingkat pendidikan ibu yang rendah, jumlah anak > 2 (p = 0,000), umur 2 (p=0,000) dan tidak diberikan ASI eksklusif(p=0,0l2). Upaya penanggulangan masalah KEP pada balita dapat dilakukan dengan mengurangi/ mengatasi faktor resiko. Melalui perawatan kesehatan, pencegahan infeksi potensial KEP, pemberian ASI eksklusif, perbaikan sosial ekonomi keluarga, keluarga berencana, imunisasi dan lain-lain. Kerjasama lintas program dan lintas sektor seperti: kesehatan, pertanian, ketenaga kerjaan, pendidikan, kesejahteraan sosial dan kependudukan juga dibutuhkan. Revitalisasi posyandu dengan menggalakkan kegiatan program : penimbangan balita secara rutin, imunisasi, upaya kesehatan ibu dan anak, pelayanan keluarga berencana, upaya perbaikan gizi, pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan, penyuluhan kesehatan akan sangat mendukung.178 HalamanTesis Magiste

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Wanita Usia Subur (WUS) Melakukan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)/ Pap Smear di Puskesmas Lubuk Pakam

    No full text
    Kanker serviks merupakan kanker terbanyak nomor empat yang diderita perempuan di dunia dan jenis kanker tertinggi kedua di Indonesia. Salah satu cara pencegahan kanker serviks adalah dengan deteksi dini dengan metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) ataupun Pap smear. Puskesmas Lubuk Pakam sebagai salah satu puskesmas di Sumatera Utara memiliki angka cakupan layanan deteksi dini yang sangat rendah. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keputusan Wanita Usia Subur (WUS) melakukan pemeriksaan IVA atau Pap smear di Puskesmas Lubuk Pakam. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional. Dengan teknik simple random sampling 100 WUS diikutsertakan dalam penelitian. Penelitian dilakukan di Puskesmas Lubuk Pakam pada bulan Oktober 2016. Hasil penelitian menunjukkan WUS yang pernah melakukan IVA/ Pap smear sebesar 29,0%. Faktor yang memiliki hubungan bermakna terhadap perilaku IVA/ Pap smear adalah usia, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, jaminan kesehatan, dan dukungan suami. Faktor jaminan kesehatan merupakan faktor paling dominan dalam perilaku IVA/ Pap smear (OR= 20,434). Disarankan agar WUS meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini kanker serviks dan peningkatan promosi penggunaan BPJS oleh pemerintah dan lembaga kesehatan.Cervical cancer is the fourth highest cancer suffered by women in the world and the second highest type of cancer in Indonesia. One of the ways to prevent cervical cancer is through early detection by Visual Inspection with Acetic acid (VIA) or Pap smear test. Lubuk Pakam Community Health Centre as one of the community health centres in North Sumatera has a very low early detection service coverage. The objective of this study was to determine the factors associated with the decision of women in reproductive age (WRA) to perform VIA or Pap smears test in Lubuk Pakam Community Health Centre. This study was an analytic study with cross sectional design. Simple random sampling was used and a total of 100 WRA were included. The study was conducted in Lubuk Pakam Community Health Centre in October 2016. The result of this study showed that only 29,0% of WRA performed VIA/ Pap smear test. The result showed that the variables of age, knowledge, education, occupation, economic status, health insurance, and husband’s support had significant influence to the behavior of VIA/ Pap smear test. Health insurance was the most dominant factor with OR = 20,434. It is recommended that WRA raise awareness of the importance of early detection of cervical cancer and for government and health agencies to increase promotion of the use of health insurance.102 HalamanSkripsi Sarjan

    Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Keputusan Tidak Menjadi Peserta Keluarga Berencana pada Pasangan Usia Subur di Perumnas Mandala Kelurahan Kenangan Lama Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang

    No full text
    Although quite successful family planning program in Indonesia stated, but the execution until today still experiencing perceived barriers include many couples of childbearing age who still have not joined the family planning. The purpose of this study was to identify factors that related to decision to be an acceptor of family planning among fertile aged couples at Perumnas Mandala Kelurahan Kenangan Lama Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. This study was carried out on October 2016. From all of fertile age couples who followed family planning were 33 fertile aged couples (41,3%), while 47 (58,8%) fertile aged couples didn’t followed family planning. The study design was analytic observasional with 80 samples fertile aged couples. The result of this study was there were significant correlations between decision not to be an acceptor of family planning with knowledge (p=0,000), culture (p=0,041), and health services (p=0,033) dan there were no relationship between decision not to be an acceptor of family planning with family income (p=0,058) and religion (p=0,118).Meskipun program KB dinyatakan cukup berhasil di Indonesia, namun dalam pelaksanaan hingga saat ini juga masih mengalami hambatan-hambatan yang dirasakan antara lain adalah masih banyak pasangan usia subur yang masih belum menjadi peserta KB. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan keputusan tidak menjadi peserta keluarga berencana pada Pasangan Usia Subur di Perumnas Mandala Kelurahan Kenangan Lama Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2016. Dari keseluruhan PUS yang ikut program KB sebanyak 33 (41,3%), sedangkan 47 (58,8%) PUS tidak mengikuti program KB. Penelitian ini bersifat analitik observasional menggunakan desain cross sectional dengan besar sampel pasangan usia subur sebanyak 80 orang. Hasil penelitian ini adalah ada hubungan yang bermakna antara keputusan tidak menjadi peserta KB dengan pengetahuan (p=0,000), budaya (p=0,041), dan pelayanan kesehatan (p=0,033) dan tidak ada hubungan keputusan tidak menjadi akseptor KB dengan penghasilan keluarga (p=0.058) dan agama (p=0,118). Disarankan kepada pihak kesehatan dan petugas KB agar memotivasi PUS untuk mengikuti program KB dengan cara adanya penyuluhan yang lebih giat supaya responden lebih termotivasi menjadi akseptor KB.70 HalamanSkripsi Sarjan

    Karakteristik Penderita Efusi Pleura di RSUP H. Adam Malik Medan

    No full text
    Background:Pleural effusion devloped when more fluid enters the pleural space than is removed. Potentila mechanisms of fluid increased interstitial fluid in the lungs secondary to increased pulmonary capilary pressure, increase permeability, decrease intrapleural pressure, decrease plasma oncotic pressure.The diagnosis of pleural effusion is to find out the underline disease still , so it is important to know how the characteristics of pleural effusion patients so that pleural effusion patients can be diagnosed quickly to avoid complications. The purpose of this study was to determine the characteristics of pleural effusion patients who were treated in the Lung H Adam Malik General Hospital Medan period July-October 2017. This study was a retrospective descriptive study. The instrument used was medical record data from the pulmonary ward H Adam Malik Medan Hospital since July-October 2017. Method:This study is an analytical type of study with a diagnostic test design conducted on 120 patients with pleural effusion, which consists of pleural effusion caused by tuberculosis, malignancy and non-TB infections that are established based on supporting examinations obtained from medical records Results: TB is the most common cause of pleural effusion in patients treated at H Adam Malik General Hospital Medan with characteristics more common in men than women (73.3%), with the most common age being young adults (> 40 years) and occupation or level middle-low socio economy.Latar Belakang: Efusi pleura terjadi akibat akumulasi cairan yang berlebih di rongga pleura. Penyebab efusi pleura diakibatkan oleh peningkatan permeabilitas kapier, peningkatan tekanan hidrostatik, penurunan tekanan itrapleural, penurunan tekanan onkotik plasma. Diagnosis efusi pleura yang paling penting adalah menentukan penyakit penyebab. perlu diketahui bagaimana karakteristik dari penderita efusi pleura agar penderita efusi pleura dapat didiagnosis dengan cepat untuk menghindari terjadinya komplikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik penderita efusi pleura yang dirawat di Bangsal Paru RSUP H Adam Malik medan periode Juli-Oktober 2017. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Instrumen yang digunakan adalah data rekam medik dari bangsal paru RSUP H Adam Malik Medan sejak Juli-Oktober 2017. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan suatu penelitian jenis analitik dengan design uji diagnostik yang dilakukan pada 120 penderita efusi pleura,yang terdiri dari efusi pleura yang disebabkan tuberkulosis,malignansi dan infeksi non TB yang ditegakkan berdasarkan pemeriksaan penunjang yang diperoleh dari rekam medis, Hasil: TB merupakan penyebab tersering efusi pleura pada pasien yang di rawat di RSUP H Adam Malik medan dengan karakteristik lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan (73,3%), dengan usia tersering adalah dewasa muda (>40 tahun) dan pekerjaan atau tingkat sosio ekonomi menengah ke bawah.56 HalamanTesis Magiste

    Hubungan Gangguan Pernapasan dengan Faal Paru pada Pekerja Penyapu Jalan di Kota Medan

    No full text
    Latar Belakang : Paparan debu di lingkungan kerja dapat menimbulkan berbagai macam penyakit paru kerja yang mengakibatkan gangguan fungsi paru dan kecacatan Tingginya kadar debu di suatu lingkungan akan menyebabkan terjadinya pencemaran udara yang akan berdampak negatif terhadap kesehatan manusia. Pada dasarnya ada berbagai macam bahaya di tempat kerja yang bisa mengancam kesehatan pekerja maupun orang-orang yang berada di sekitar lingkungan yang tercemar. Salah satu bidang pekerjaan yang perlu mendapat perhatian adalah pekerja penyapu jalan. Hal inilah yang sering menyebabkan terjadinya gangguan pernapasan ataupun dapat mengganggu nilai Faal Paru. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan gejala pernapasan dengan faal paru pada pekerja penyapu jalan di Kota Medan. Metode penelitian : analitik observasional dengan disain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 49 orang dengan teknik pengambilan sampel adalah total sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji kruskal wallis dan uji regresi. Hasil penelitian : dengan uji regresi menunjukkan adanya hubungan antara gangguan pernapasan dengan, yaitu : usia (p=0,02), VEP1 (p=0,01), KVP (p=0,04), FEF25-75 (p=0,01). Sebaliknya, tidak didapatai hubungan antara gangguan pernapasan dengan masa kerja (p=0,45) dan VEP1/KVP (p=0,057). Berdasarkan hasil pengukuruan kadar debu yang melewati NAB dengan menggunakan uji kruskal wallis terdapat hubungan yang bermakna antara kadar debu ambient dengan VEP1/KVP (p=<0.001) dan KVP (p=0.01). Disarankan kepada para penyapu jalan agar menggunakan masker saat bekerja dan secara rutin memeriksakan kesehatan. Kepada pemerintah agar meningkatkan pengawasan terhadap kadar debu ambient serta meningkatkan fasilitas dalam penyediaan masker, sarung tangan dan sepatu boot pada penyapu jalan.Background : Exposure to dust in the work environment can cause a variety of occupational lung diseases that cause lung function and disability. High levels of dust in an environment will cause air pollution which will have a negative impact on human health. Basically there are various kinds of hazards in the workplace that can threaten the health of workers and those around the polluted environment. One area of work that needs attention is street sweeper workers. This is what often causes respiratory problems or can interfere with the Pulmonary Faith. Study Objective : To find out the relationship between respiratory symptoms and pulmonary function in street sweeper workers in Medan City. Methods : this study has been used cross-sectional observational analytic sectional. The number of samples as many as 49 people with the sampling technique is total sampling. Data were analyzed using the kruskal wallis test and regression test Result : with a regression test showed a relationship between respiratory disorders with : age (p = 0.02), FEV1 (p = 0.01), FVC (p = 0.04), FEF25-75 (p = 0.01). Otherwise, there was no correlation between respiratory distress and lenght of work (p = 0.45) and FEV1/FVC (p = 0.057). Based on the results of measuring dust levels through the TLV use the Kruskal wallis test, there was a significant relationship between ambient dust levels with FEV1/FVC (p = <0.001) and FVC (p = 0.01). It is recommended that road sweepers use masks while working and regularly check their health. To the government to improve supervision of ambient dust levels and improve facilities in the supply of masks, gloves and boots on street sweepers.Tesis Magiste

    Gambaran Paru pada Pekerja Penyapu Jalan di Kota Medan

    No full text
    Latar Belakang : Paparan debu di lingkungan kerja dapat menimbulkan berbagai macam penyakit paru kerja yang mengakibatkan gangguan fungsi paru dan kecacatan Tingginya kadar debu di suatu lingkungan akan menyebabkan terjadinya pencemaran udara yang akan berdampak negatif terhadap kesehatan manusia. Pada dasarnya ada berbagai macam bahaya di tempat kerja yang bisa mengancam kesehatan pekerja maupun orang-orang yang berada di sekitar lingkungan yang tercemar. Salah satu bidang pekerjaan yang perlu mendapat perhatian adalah pekerja penyapu jalan. Hal inilah yang sering menyebabkan terjadinya gangguan pernapasan ataupun dapat mengganggu nilai Faal Paru. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan gejala pernapasan dengan faal paru pada pekerja penyapu jalan di Kota Medan. Metode penelitian : analitik observasional dengan disain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 49 orang dengan teknik pengambilan sampel adalah total sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji kruskal wallis dan uji regresi. Hasil penelitian : dengan uji regresi menunjukkan adanya hubungan antara gangguan pernapasan dengan, yaitu : usia (p=0,02), VEP1 (p=0,01), KVP (p=0,04), FEF25-75 (p=0,01). Sebaliknya, tidak didapatai hubungan antara gangguan pernapasan dengan masa kerja (p=0,45) dan VEP1/KVP (p=0,057). Berdasarkan hasil pengukuruan kadar debu yang melewati NAB dengan menggunakan uji kruskal wallis terdapat hubungan yang bermakna antara kadar debu ambient dengan VEP1/KVP (p=<0.001) dan KVP (p=0.01). Disarankan kepada para penyapu jalan agar menggunakan masker saat bekerja dan secara rutin memeriksakan kesehatan. Kepada pemerintah agar meningkatkan pengawasan terhadap kadar debu ambient serta meningkatkan fasilitas dalam penyediaan masker, sarung tangan dan sepatu boot pada penyapu jalan.Background : Exposure to dust in the work environment can cause a variety of occupational lung diseases that cause lung function and disability. High levels of dust in an environment will cause air pollution which will have a negative impact on human health. Basically there are various kinds of hazards in the workplace that can threaten the health of workers and those around the polluted environment. One area of work that needs attention is street sweeper workers. This is what often causes respiratory problems or can interfere with the Pulmonary Faith. Study Objective : To find out the relationship between respiratory symptoms and pulmonary function in street sweeper workers in Medan City. Methods : this study has been used cross-sectional observational analytic sectional. The number of samples as many as 49 people with the sampling technique is total sampling. Data were analyzed using the kruskal wallis test and regression test Result : with a regression test showed a relationship between respiratory disorders with : age (p = 0.02), FEV1 (p = 0.01), FVC (p = 0.04), FEF25-75 (p = 0.01). Otherwise, there was no correlation between respiratory distress and lenght of work (p = 0.45) and FEV1/FVC (p = 0.057). Based on the results of measuring dust levels through the TLV use the Kruskal wallis test, there was a significant relationship between ambient dust levels with FEV1/FVC (p = <0.001) and FVC (p = 0.01). It is recommended that road sweepers use masks while working and regularly check their health. To the government to improve supervision of ambient dust levels and improve facilities in the supply of masks, gloves and boots on street sweepers.Tesis Magiste
    corecore