687 research outputs found

    Strategi pasangan Muhamad Farhan dan Muhamad Syahlevi Erwin Apandi dalam memenangkan pemilihan kepala daerah Kota Bandung

    No full text
    Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Bandung 2024 menghadirkan dinamika politik yang kompleks dengan keterlibatan berbagai kekuatan partai dan tokoh publik. Pasangan Muhamad Farhan dan Muhamad Syahlevi Erwin Apandi muncul sebagai pemenang. Dengan peran 4 partai politik yang ada dikota bandung sebagai pengusung untuk pasangan Farhan dan Erwin pada konstetasi politik tahun 2024, dimana ke empat partai politik tersebut ada partai Gelora, partai Nasdem, partai Buruh, dan terakhir ada PKB. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pendayagunaan sumber kekuatan politik yang digunakan oleh Farhan dan Erwin dalam memenangkan Walikota Kota Bandung 2024. Penelitian ini menggunakan teori strategi pendayagunaan kekuatan politik dari Charles F Andrain (1992), teori ini digunakan peneliti untuk memahami dan sekaligus menggambrakan fenomena kemenangan pasangan Parhan-Erwin pada Pilkada Kota Bandung 2024. Dimana dalam teori ini, Charles berpendapat bahwa kekuatan politik dapat diperoleh dan dipertahankan melalui setidaknya lima jenis sumber daya kekuasaan, yaitu: 1.sumber daya politik, 2.sumber daya ekonomi, 3.sumber daya normative, 4.sumber daya personal, dan 5.sumber daya keahlian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan menggunakan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunde. Dimana data primer diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap informan yang terlah ditetapkan melalui metode penentuan informan purposive sampling. Dan data sekunder di peroleh melalui karya ilmiah, berita, laporan, dan hasil dokumentasi. Pasangan Muhamad Farhan dan Muhamad Syahlevi Erwin Apandi memenangkan Pilkada Wali Kota Bandung 2024 melalui strategi pendayagunaan sumber daya politik yang terstruktur dan adaptif. Mereka membangun koalisi partai, menggerakkan relawan komunitas, serta menerapkan komunikasi politik digital yang inovatif. Program-program inklusif yang menyasar kelompok marjinal turut memperkuat legitimasi sosial. Selain itu proses dalam menjalankan strategi pendayagunaan sumber daya politik dilakukan dengan terstruktur dan rapi sehingga pendayagunaan menjadi efisien dan tepat sesuai dengan tujuan

    MITOS IKARUS DALAM KUMPULAN PUISI SABDA RUANG KARYA AHMAD YULDEN ERWIN

    No full text
    Ahmad Yulden Erwin merupakan penyair yang menulis puisi dengan berbagai gaya dan tema. Pada puisi-puisi Ahmad Yulden Erwin ditemukan berbagai “teks” dan tokoh-tokoh yang dipinjam dari berbagai khazanah, seperti peristiwa sejarah, peristiwa yang terdapat dalam kitab suci, dan mitologi. Dari banyaknya “teks” dan tokoh-tokoh yang hadir, bisa dikatakan yang berasal dari mitologi Yunani menempati posisi dominan. Mitos Ikarus adalah mitos yang sering diangkat dalam puisi Ahmad Yulden Erwin. Peneliti berpendapat bahwa puisi-puisi Ahmad Yulden Erwin yang mengangkat mitos Ikarus tidak hanya penceritaan ulang mitologi belaka, namun ada perlawanan terhadap makna dan pemahaman secara umum yang terkandung dalam mitologi Yunani. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan struktur puisi Ahmad Yulden Erwin; 2) mendeskripsikan transformasi mitos Ikarus dalam puisi Ahmad Yulden Erwin. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Objek penelitian ini adalah tiga puisi karya Ahmad Yulden Erwin. Teori yang digunakan adalah semiotika dan intertekstual. Hasil penelitian yang didapatkan adalah 1) puisi karya Ahmad Yulden Erwin didominasi dengan kalimat majemuk; 2) unsur bunyi kakofoni yang mengesankan keharuan; 3) penggunaan konotasi, majas metafora, dan imaji visual yang dominan di dalam puisi; 4) kehadiran persona pertama sebagai penutur di dalam puisi; dan 5) transformasi mitos Ikarus. Ahmad Yulden Erwin is a poet with various styles and themes. In Ahmad Yulden Erwin’s poems, various “texts” and figures were borrowed from various treasures. Of the many “texts” and figures present ini Yulden’s poems, Greek mythology occupies a dominant position. The myth of Icarus is a point who is often appointed in Ahmad Yulden Erwin’s poems. In my opinion, Ahmad Yulden Erwin’s poems that present the myth of Ikarus are not only repetition, but there resistance to the general meaning and understanding contained in Greek mythology. Therefore, this research aims to 1) describe the structure of Ahmad Yulden Erwin’s poems; 2) describe transformation the myth of Icarus in Ahmad Yulden Erwin’s poems. The method used is descripive analytic. The theory used is semiotics and intertextual. The research results obtained are 1) Ahmad Yulden Erwin’s poems is dominated by compound sentences; 2) the sound of cacophony presented sadness; 3) connotations, metaphors, and visual image are dominated in Ahmad Yulden Erwin’s poems; 4) the presence of fisrt person as a speaker in poems; and 5) transformation of Icarus myth

    DEUTSCHE AFRIKA KORPS: Peranan Field Marshal Erwin Rommel dalam Perang Dunia II di Afrika Utara 1941-1943

    No full text
    Latar belakang penelitian ini dikarenakan ketertarikan penulis akan suasana Perang Dunia II di Afrika Utara yang mempunyai ciri khas tersendiri dibanding pertempuran lainnya yang terjadi selama Perang Dunia II berlangsung. Masalah utama yang dibahas dalam skripsi ini adalah ‘bagaimana peranan Field Marshal Erwin Rommel dalam Perang Dunia II di Afrika Utara?’. Masalah utama ini kemudian dijabarkan kedalam beberapa pernyataan penelitian, yakni (1) bagaimana latar belakang keterlibatan Jerman dalam pertempuran di Afrika Utara 1941-1943?, (2) apa yang melatarbelakangi Jerman menunjuk Field Marshal Erwin Rommel untuk memimpin Deutsche Afrika Korps?, (3) bagaimana proses pertempuran yang dipimpin Field Marshal Erwin Rommel di Afrika Utara 1941-943?, (4) Bagaimana akhir dari pertempuran Jerman pada Perang Dunia II di Afrika Utara 1941-1943? Metode yang digunakan adalah metode historis meliputi pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Untuk memperdalam analisis, peneliti menggunakan pendekatan interdisipliner melalui kajian ilmu sosiologi, militer dan politik dengan menggunakan konsep-konsep seperti peran, status, perang, serta menggunakan teori konflik Lewis A. Coser dan teori geopolitik Karl Haushoffer. Deutsche Afrika Korps dibentuk akibat keterlibatan Jerman dalam pertempuran di Afrika Utara. Keterlibatan Jerman di Afrika Utara disebabkan karena Afrika Utara memiliki arti penting bagi Jerman karena memiliki Terusan Suez dan benteng Gibraltar. Selain itu hubungan Italia-Jerman yang merupakan blok Poros akibat perjanjian Pakta Baja dan Pakta Tripartit membuat Jerman harus terlibat dalam pertempuran. Deutsche Afrika Korps ini dipimpin oleh Field Marshal Erwin Rommel yang dipercayai oleh Hitler karena kepimpinannya dan kepopulerannya dikalangan pasukan Jerman. Rommel memiliki peranan yang sangat penting ketika Jerman membantu Italia di Afrika Utara. Taktik dan strategi Rommel yang jenius membuat Sekutu kewalahan. Strategi yang digunakan diantaranya membuat tank dari kayu untuk mengelabui musuh dan juga memposisikan Flak 88mm dalam bentuk U untuk menjebak tank musuh dalam jebakannya. Proses pertempuran di Afrika Utara ini diawali ketika Rommel mendarat di Tripoli dengan langsung melakukan ofensif mendesak Sekutu menuju perbatasan Libya-Mesir. Selain itu juga Rommel mendapatkan perlawanan dari Sekutu yang melakukan beberapa operasi yang bertujuan untuk memukul mundur Jerman dari Afrika Utara. Operasi tersebut diantaranya operasi Brevity, operasi Battleaxe dan operasi Crusader. Perlawanan Rommel berakhir ketika kekalahan Jerman di El Alamein yang disebabkan faktor kurangnya logistik dan ketidakseimbangan kuantitas pasukan yang dimiliki antara Poros dan Sekutu di El Alamein. Kekalahan Jerman di El Alamein merupakan salah satu turning point bagi Sekutu dalam Perang Dunia II ini dan mengubah arah berlangsungnya perang kedepannya. The reason of research because author interested with World War II situation in Northern Africa that have characterized be compared another war in World War II. The main problem to discuss in this research is “ How Field Marshal Erwin Rommel role in the World War II in Northern Africa?”. The main problem divided into four research questions, (1) what the purpose Germany includes in battle of Northern Africa 1941-1943?, (2) what the reason Germany choose Field Marshal Erwin Rommel to led Deutsche Afrika Korps?, (3) what is the process that led Field Marshal Erwin Rommel in Northern Africa 1941-1943?, (4) how to end the Germany battle in the World War II in Northern Afrika 1941-1943?. The research uses historic methodology involved Heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. To deepen the analysis, researcher uses interdisciplinary approach through the study sociology, military, and politics with concept and theory like role, status, war, conflict theory from Lewis A. Coser, and geopolitical theory from Karl Haushoffer. Deutsche Afrika Korps formed as result of Germany includes in Battle of Northern Africa. Germany involvement in Northern Africa due to Northern Africa has significance for Germany because have Suez Canal and Fort Gibraltar. In addtion, the relation between Germany and Italy who where Axis due to Agreement Steel Pact and Tripartit Pact makes Germany must includes in the battle. Deutsche Afrika Korps is led by Field Marshal Erwin Rommel and believed Hitler because leadership and popularity among the Germany Troops. Rommel has a very important role when Germany helped Italy in Northern Africa. Tactics and strategy genius Rommel make allied overwhelmed. The strategy used them made of wood tanks to trick enemy and Flak 88m in form U to trap enemy tanks. The process battle in Northern Africa begins when Rommel landed in Tripoli and makes offensive to push Allied towards Libya-Egypt border. It also Rommel get resistance from Allied who perform several operations aimed at repelling Germany of Northern Africa. Such operations include Brevity Operation, Battleaxe Operation, and Crusader Operation. Rommel resistance ended when Germany defeat in El Alamein due to lack of logistical factors and troops possessed imbalance quantity between Axis and Allied. The defeat of Germany in El Alamein is one of turning point for Allied in World War and changing the direction of war in the future

    Artikel ADM Muhamad Rido

    No full text
    Students are a very important element in educational and teaching activities in schools. Educational institutions are established for the benefit of students. Therefore it needs to get enough attention from the implementation of education in order to achieve the objectives of national education as a whole.Therefore, as a prospective educator later, in order to be able to administer for students so that the learning process runs well it is necessary to understand about the administration of students / students. Therefore, the author tries to make a paper that discusses the administration of students
    corecore