27 research outputs found
ETIKA PROFESI PADA MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN (MrK)
ETIKA PROFESI PADA MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN (MrK
ETIKA PROFESI PADA MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN (MrK)
ETIKA PROFESI PADA MANAJEMEN INFORMASIÂ KESEHATAN (MrK
Effects of desoxycorticosterone acetate (DOCA) on salt appetite
Thesis (M.S.)--Michigan State University. Department of Physiology, 1989Includes bibliographical references (pages 53-58
KEEFEKTIFAN MISOPROSTOL PERORAL SEBAGAI PEMATANGAN SERVIKS PADA KETUBAN PECAH DINI KEHAMILAN ATERM DENGAN SKOR BISHOP ≤ 4 DI PADANG
Ketuban Pecah Dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum terjadinya kontraksi (his). KPD   ini terjadi 5-10% dari seluruh persalinan. 70% kasus KPD terjadi pada persalinan aterm. Sehingga KPD yang terjadi pada kehamilan aterm agar dilakukan induksi persalinan untuk menurunkan kejadian resiko komplikasi ibu dan janin. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efektifitas pematangan serviks pada pemberian misoprostol 25 ug peroral dengan yang tidak diberikan pada ketuban pecah dini aterm dengan skor bishop kecil atau sama dengan (≤) 4. Penelitian dilakukan di bagian Obstetri dan Ginekologi RS Dr. M. Djamil Padang dan RS Reksodiwiryo Padang dari bulan November 2013 sampai Agustus 2014 menggunakan metode Simple Random Sampling. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan penilaian keadaan serviks dan dilakukan pemeriksaan laboratorium dan non stress test kemudian data direkapitulasi dan dilakukan uji statistik. Terdapat perbedaan yang signifikan kenaikan skor bishop pada pemberian misoprostol 25 ug peroral dengan yang tidak diberikan pada ketuban pecah dini aterm dengan skor bishop kecil atau sama dengan (≤) 4. Hal ini dibuktikan dengan nilai p value diperoleh sebesar 0,000 < 0,05. Dan tidak didapatkan efek samping pada penelitian ini
Kata Kunci: Keefektifan misoprostol, pematangan serviks, ketuban pecah din
Perbandingan Kadar Heat Shock Protein 90 dan Tumor Necrosis Factor-α Antara Kehamilan Preterm Dengan Ketuban Pecah Dini dan Tanpa Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah dini (KPD) berkaitan dengan peningkatan kadar Heat Shock Protein 90 (HSP 90) dan Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α) yang muncul akibat stres oksidatif. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kadar HSP 90 dan TNF-α antara kehamilan preterm dengan KPD dan tanpa KPD. Penelitian ini menggunakan rancangan comparative study yang dilaksanakan di RSUD dr. Rasidin, RS Tk.III Reksodiwiryo, RS Bhayangkara, Puskesmas Lubuk Buaya dan Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari bulan Oktober 2017 sampai Juli 2018. Jumlah sampel sebanyak 24 ibu hamil preterm dengan KPD dan 24 ibu hamil preterm tanpa KPD dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Pemeriksaan HSP 90 dan TNF-α menggunakan metode ELISA. Uji normalitas data dengan uji Shapiro-Wilk. Analisis data komparatif menggunakan uji Mann-Whitney. Median kadar HSP 90 yaitu 11,21 ng/mL pada kehamilan preterm dengan KPD dan 9,15 ng/mL pada kehamilan preterm tanpa KPD dengan nilai p < 0,05. Median kadar TNF-α yaitu 0,21 ng/mL pada kehamilan preterm dengan KPD dan 0,17 ng/mL pada kehamilan preterm tanpa KPD dengan nilai p < 0,05. Kadar HSP 90 dan TNF-α pada kehamilan preterm dengan KPD lebih tinggi secara bermakna dibandingkan pada kehamilan preterm tanpa KPD
Pengaruh Pemberian Valsartan Dan Kurkumin Terhadap Pembentukan Fibrosis Di Tubulus Proksimal Ginjal Akibat Obstruksi Ureter Unilateral pada Tikus Wistar.
AbstrakPendahuluan: Obstruksi ureter adalah kondisi terhalangnya aliran urin dari ginjal ke buli-buli, adanya obstruksi pada ureter memperlambat laju filtrasi glomerulus dan dapat menyebabkan kerusakan parenkim ginjal. Fibrosis pada ginjal yang obstruksi timbul melalui dua mediator yaitu tumor nekrotik factor (TNF-α) dan angiotensin II. Penghambatan kedua mediator ini akan menurunkan tingkat fibrosis di tubulus proksimal ginjal akibat obstruksi. Zat yang bisa menghambat TNF-α salah satunya adalah kurkumin sedangkan Angitensin II dapat dihambat dengan valsatran. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, tikus wistar dibagi dalam dua kelompok dengan jumlah tiap kelompok adalah 15 ekor. Proksimal ureter kanan diikat dan kelompok perlakuan 1 sebagai kontrol diberi valsatran, kelompok perlakuan2 diberi valsartan dan kurkumin. Pemberian oral, dimana obat dilakukan pengenceran. Hari ke lima belas dilakukan pengambilan ginjal tikus wistar, diperiksa histologi. Pembentukan fibrosis di tubulus proksimal dianalisa dengan uji statistik chisquare dengan koreksi Yates dan t test, sedang terbentuknya degenerasi hidrofik dan terbentuknya atrofi pada tubulus proksimal dianalisa dengan uji statistik t test. Hasil: Adanya perbedaan bermakna perubahan pembentukan fibrosis di tubulus proksimal ginjal antara kelompok perlakuan dan kontrol ( Chi Squqre didapat nilai p ≤ 0,001 dan dengan t test didapat nilai p ≤ 0,000). Terbentuknya degenerasi hidrofilik di tubulus proksimal ginjal terdapat perbedaan bermakna terbentuknya degenerasi hidrofilik kelompok perlakuan dan kelompok kontrol ( t test didapatkan nilai p ≤ 0,000). Terbentuknya atrofi di tubulus proksimal terdapatt perbedaan bermakna terbentuknya atrofi di tubulus proksimal ginjal kelompok perlakuan dan kelompok kontrol ( t test didapat nilai p ≤ 0,000). Kesimpulan: Ada perbedaan pengaruh pemberian valsartan dan valsartan + kurkumin terhadap pembentukan fibrosis di tubulus proksimal ginjal. Perbedaan bermakna terbentuKata kunci: Obstruksi ureter, Valsartan, Kurkumin, Fibrosis, Degenerasi hidrofilik, AtrofiAbstractIntroduction: ureter obstruction is a condition where is an obstacle for urine flow from renal to blast (vesica urinaria). The obstruction in ureter will decrease glomerulus filtration flow and it destroys renal parenchym. Fibroses in obstructed renal present through two mediators, there are necrotizing tumor factors-α (TNF-α) and angiotension-II. Obstruction of this two mediators will decrease fibroses grading in proximal tubules of renal caused by obtruction. One of TNF-α inhibitors is curcumene and angiotension-II will be obstructed by valsartan. Methods: this experiment is kind of experimental type using animal experiment (Wistar Mice). Wistar Mice are divided into two groups, each group consist of 15 mice, so the total are 30 mice. This animals tighted with at proximal ureter The first group is control one, given valsartan. The second group is given valsartan and curcumene. Oral route and dilution before given. Medicine is given use 1 cc spuit. Giving action in 14 days. The fifteenth day, we take renal of Wistar and do histology examination. Significant difference between fibroses forming in proximal tubulus analyzed by Chi Square Statistic Test with correction of Yates and T-Test, beside that, hydofic degeneration and atrophy in proximal tubulus analyzed by T-Test Statistic Test. Result: there is significant difference in forming of fibroses in proximal tubules of renal between action group and controlled group (Chi Square with p ≤ 0.0001 and T-Test with p ≤ 0.000). In hydrophilic degeneration forming in proximal tubules gotten significant difference between two groups ( T-Test with p ≤ 0.000). In atrophy forming in proximal tubules, there is important difference between two groups (T-Test with p ≤ 0.000).Concultion. There is an effect in giving valsartan and curcumene to fibroses forming in proximal tubules of renal. There is significant difference in hydrophilic degeneration in proximal tubules of renal. And also there is important difference in atrophy forming in proximal tubules between two groups.Keywords:ureter obstruction, valsartan, curcumene, fibroses, hydrophilic degeneration, atrophy.</p
Perbedaan Rerata Kadar Progesterone-Induced Blocking Factor (PIBF) Serum Penderita Abortus Iminens dengan Kehamilan Normal
Progesterone-Induced Blocking Factor (PIBF) merupakan suatu mediator yang diproduksi oleh limfosit wanita hamil yang telah mengalami sensitisasi oleh progesterone, yang menyebabkan terjadinya toleransi terhadap antigen paternal sehingga dapat menekan produksi sitokin-sitokin Th-1 yang bersifat sitotoksis terhadap kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan antara rerata kadar PIBF serum penderita abortus iminens dan kehamilan normal usia kehamilan 12-20 minggu. Studi ini dilakukan dengan metode analitik observasional dengan desain cross- sectional comparative. Subjek penelitian adalah wanita hamil yang datang ke poliklinik dan IGD kebidanan rumah sakit Dr.M.Djamil Padang, RSUD Bukittinggi, RSUD Painan, RSUD Batusangkar, RSUD Pariaman dan RSUD Solok pada periode Mei 2016 sampai September 2016. Pemeriksaan kadar PIBF dilakukan di Laboratorium biomedik FK UNAND. Total sampel adalah 30 orang, yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 15 orang pada kelompok abortus iminens dan 15 orang pada kelompok kehamilan normal. Analisis statistik untuk menilai kemaknaan menggunakan unpaired t-test. Didapatkan rerata kadar PIBF serum penderita abortus iminens (623.3±80.6 ng/ml) lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan kehamilan normal (993.1±68.5 ng/ml) (p=0.000). Simpulan penelitian ini adalah kadar PIBF serum penderita abortus iminens lebih rendah dibandingkan kehamilan normal
Hubungan Antara Penggunaan Kontrasepsi Hormonal Suntik DMPA dengan Peningkatan Berat Badan di Puskesmas Lapai Kota Padang
AbstrakKontrasepsi hormonal suntik Depo-Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) merupakan salah satu metode kontrasepsi yang banyak digunakan. Kontrasepsi ini memiliki efektivitas yang baik, tetapi memiliki beberapa efek samping. Efek samping tersebut adalah gangguan haid berupa amenorea, bercak perdarahan dan perdarahan di luar siklus haid. Selain itu terdapat adanya peningkatan berat badan pada penggunaan kontrasepsi DMPA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal suntik DMPA dengan peningkatan berat badan. Penelitian dilakukan di Puskesmas Lapai Kota Padang, pada bulan Mei sampai Desember 2013. Jenis penelitian adalah analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Sampel adalah akseptor yang telah menggunakan kontrasepsi DMPA minimal delapan kali, dengan jumlah 40 akseptor. Analisis data dilakukan secara bivariat dengan menggunakan uji T. Hasil penelitian menunjukkan 23 akseptor (57.50%) mengalami peningkatan berat badan. Sebagian besar rata-rata peningkatan berat badan dalam satu tahun adalah >0 – 1 kg (47.8% akseptor). Rata-rata berat badan sebelum dan setelah penggunaan kontrasepsi DMPA adalah 54.4 kg dan 58.1 kg. Terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan kontrasepsi hormonal suntik DMPA dengan peningkatan berat badan (p=0.000 < 0.05).Kata kunci: berat badan, DMPA, kontrasepsiAbstractInjectable hormonal contraceptive Depo-Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) is a widely used method of contraception. Contraception has good effecacy, but it has some side effects. Those side effects were menstrual disorders such as amenorrhea, patchy hemorrhage, and bleeding outside the menstrual cycle. In addition, there is increased body weight in DMPA contraceptive usage. The purpose of this study was to determine the relationship between the use of injectable hormonal contraceptive DMPA with weight gain. The study was conducted in Lapai Health Center of Padang, during May to December, 2013. This research used an observational analytic, cross sectional design. The sample was the acceptors who had used DMPA contraception at least eight times, comprising 40 acceptors. Bivariate data were analyzed using T test. The results showed 23 acceptors (57.50%) experienced increase in body weight. Most of the average weight gain in one year is >0 – 1 kg (47.8% acceptor). Average body weight before and after usage of DMPA contraception is 54.4 kg and 58.1 kg. There is a relationship between the use of injectable hormonal contraceptive DMPA with weight gain (p=0.000 > 0.05).Keywords: weight loss, DMPA, contraception</p
Efek Pemberian Suntikan Subkutan Vitamin C Terhadap Luka Insisi Dermal
Abstrak Vitamin C berfungsi sebagai kofaktor enzyme prolil dan lysil hydroxilase. Enzym tersebut berfungsi dalam proses hidroksilasi yang membentuk ikatan hidroksiprolin dan hidroksilisin pada fibroblast dalam membentuk kolagen. Selain itu Vitaimin C juga berfungsi meregulasi dan menstabilkan trankripsi gen mRNA prokolagen pada proses pembentukan kolagen di dermis. Berdasarkan hal tersebut diatas, peneliti tertarik untuk membuktikan apakah pemberian vitamin C subkutan disekitar luka insisi dermal berefek pada pembentukan kolagen yang lebih padat dalam proses penyembuhan luka. Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan tikus Wistar sebanyak 32 ekor, yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 16 ekor sebagai kontrol dan 16 ekor lagi sebagai perlakuan. Pada kedua kelompok dilakukan insisi di punggung sepanjang 2 cm. Kelompok perlakuan diberi suntikan vitamin C subkutan disekitar luka insisi dermal sebanyak 9 mg (0,09ml), sedangkan kelompokkontrol tidak diberikan.Pada hari kelima dilakukan pengambilan jaringan luka pada kedua sampel untuk pemeriksaan kepadatan kolagen secara mikroskopik. Hasil:Kepadatan kolagen pada hari kelimamenunjukkan perbedaan yang bermakna dari efek penyuntikan vitamin C subkutan terhadap kepadatan kolagen (χ2 = 5,833; P<0,05). Kesimpulan: Penyuntikan vitamin C subkutan disekitar luka insisi dermal efektif dalam meeningkatan kepadatan kolagen. Kata kunci: suntikan vitamin C subkutan, kepadatan kolagen.
Abstract Vitamin C functions as enzyme co-factor for prolyl and hidroxylase lysil. The enzyme functions in hydroxylase process that builds hydroxyproline and hydroxylysine bondsin fibroblast in the synthesis of collagen. Besides that, vitamin C also functions in regulating and stabilizing procollagen mRNA gen transcription in dermal collagen synthesis. Based on the facts above, researchers are interested to prove whether subcutaneous injection of vitamin C around dermal insisional wound would result in more compact collagen synthesis in wound healing. Method:This experimental study used32 Wistar rats, divided into two group that is 16 rats as control and 16rats as experimental group. All groups underwent 2 cm long incision at the back. Experimental group were given 9mg (0.09ml) subcutaneous injection of vitamin c around the wound, while the control group were not. On the fifth day, wound tissue are taken on both sample to check the collagen density microscopically. Result:Collagen density on the fifth day showed significant difference between the two groups(χ2 = 5,833; P<0,05). Discussion:Subcutaneous vitamin C injection around the dermal incision wound is effective in increasing collagen density. Keywords: subcutaneous vitamin C injection,collagen densit
ANTROPOMETRI SENDI PERGELANGAN KAKI ETNIS MINANGKABAU
AbstrakPenelitian ini bertujuan mengukur antropometri sendi pergelangan kaki etnis Minangkabau. Penelitian cross sectional dilakukan pada 50 orang mahasiswa kedokteran etnis Minangkabau berusia 21-25 tahun di lingkungan RS. dr. M Djamil Padang. Dilakukan pemeriksaan ROM, rontgen ankle proyeksi anteroposterior, lateral dan mortise. Hasil penelitian didapatkan ROM plantarfleksi 48,920±5,820, ROM dorsofleksi 31,300±4,070, inversi 10,320±2,280, eversi 5,940±1,200, talocrural angel anteroposterior 76,530± 2,530 dan mortise 77,380±2,270, tibiofibular overlap anteroposterior 7,51±2,64 mm dan mortise 4,71±2,45 mm, tibiofibular clear space anteroposterior 3,6±1,18 mm dan mortise 3,85±1,09 mm, talar tilt anteroposterior 0,140±0,100 dan mortise 0,190±0,150, medial malleolar length anteroposterior 13,88±1,99 mm dan mortise 14,03±1,69 mm, lateral malleolar length anteroposterior 25,71±2,83 mm dan mortise 26,70±3,40 mm, johnson angle anteroposterior 87,770±1,710 dan mortise 87,570±1,840, medial clear space 2,97±0,75 mm, anteroposterior inclination angle 7,470±2,700, anterior distal tibial angle 82,530± 2,700, dan anteroposterior gap 3,50±1,43 mm.Terdapat perbedaan ukuran antropometri sendi pergelangan kaki mahasiswa kedokteran beretnis Minangkabau di lingkungan RS. Dr. M. Djamil Padang dengan kepustakaan, namun masih dalam rentang normal.AbstractThis study aimed to measure anthropometric of ankle joint of Minangkabau ethnic group. Cross sectional study has been done in 50 Minangkabau ethnic medical students, aged 21-25 years in RSUP. Dr. M Djamil Padang. ROM, anteroposterior, lateral, and mortise X-ray projections of ankle were examined. ROM plantarflexion was 48.920±5.820, ROM dorsiflexion was 4.070±31.300, inversion was 10.320±2.280, eversion was 5.940±1.200, talocrural angel anteroposterior was 76.530±2.530 and mortise was 77.380±2.270, tibiofibular overlapp anteroposterior was 7.51±2,64 mm and mortise was 4.71±2,45 mm, tibiofibular clear space anteroposterior was 3.6±1.18 mm and mortise was 3.85±1.09 mm, talar tilt anteroposterior was 0.140 ± 0.100 and mortise was 0.190 ± 0.150, medial malleolar length anteroposterior was 13.88 ± 1,99mm and mortise was 14.03 ± 1,69mm, lateral length malleolar anteroposterior was 25.71±2,83 mm and mortise was 26.70 ± 3,40 mm, johnson angle anteroposterior was 87.770 ± 1.710 and mortise was 87.570±1.840, medial clear Space was 2,97±0,75 mm, anteroposterior Inclination Angle was 7.470±2.700, anterior distal tibial Angle was 82.530 ± 2.700 and anteroposterior gap was 3.50 ± 1,43 mm. There was a difference in antropometric size of the ankle joint between Minangkabau ethnic medical student in RSUP. Dr. M. Djamil Padang and literature, but still within the normal range.<br /
