169 research outputs found
Hubungan Stres terhadap Kualitas Tidur dan Menstruasi pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Background. Stress can impact an individual's quality of life, either positively or negatively. Quality of sleep and menstruation can be influenced by various factors, including stress levels. Objective. This research aims to analyze the relationship between stress and the quality of sleep and menstruation among female students of the Faculty of Medicine at the Universitas Sumatera Utara. Method. The study was conducted from September to November 2023, utilizing a qualitative research de-sign with the Kruskal-Wallis test. Consecutive sampling technique and Slovin's for-mula were employed to obtain a sample of 90 individuals. The research instrument consisted of a questionnaire based on the variables of stress levels, sleep quality, and menstruation. Results. Univariate analysis results indicated that 17 individuals (18.9%) experienced mild stress, 68 individuals (75.6%) had moderate stress, and 5 individuals (5.6%) faced severe stress. Regarding sleep patterns, 15.6% had good sleep, 14.4% had moderately good sleep, and 70% had poor sleep. In terms of men-struation, 77 individuals (85.6%) experienced light bleeding, 7 individuals (7.8%) had moderate bleeding, and 6 individuals (6.7%) had heavy bleeding. Conclusion. This research suggests a correlation between stress and sleep quality among female students of the Faculty of Medicine, while the relationship between stress and men-struation indicates no significant association in this population at the Universitas Sumatera Utara.79 HalamanSkripsi Sarjan
Tingkat Simtom Ansietas pada Pasien Dispepsia Fungsional
Dispepsia fungsional (DF) adalah suatu sindroma klinis yang didefinisikan sebagai gejala kronik atau rekuren dari abdomen atas tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi oleh alat diagnostik konvensional. Telah ditemukan bahwa ansietas lebih lazim ditemukan pada pasien dengan dispepsia fungsional dibandingkan dengan subjek kontrol yang sehat.
Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui proporsi tingkat keparahan simtom ansietas serta distribusi berdasarkan karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan) pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke poliklinik Divisi Gastroentero-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU dr. Pirngadi kota Medan dengan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan studi cross sectional. Penelitian dilakukan di Poliklinik Divisi Gastroentero-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medandan .Waktu penelitian : 30 Maret 2013 – 30 Mei 2013. Sampel penelitian adalah pasien dispepsia fungsional yang berobat ke poliklinik Divisi Gastroentero-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU dr. Pirngadi kota Medan memenuhi kriteria inklusi. Cara pengambilan sampel adalah dengan nonprobability sampling jenis consecutive sampling. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia mengikuti penelitian selanjutnya akan dilakukan wawancara semistruktur dengan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale.
Hasil: Penelitian ini mendapatkan hasil proporsi pasien dispepsia fungsional yang terbanyak mengalami ansietas berat yaitu sebesar 37 sampel (43.53%). Dari penelitian didapatkan usia terbanyak yang mengalami ansietas adalah diatas 45 tahun (43.24), jenis kelamin pria (54.05%), menikah (59.46%), bekerja (56.76%).
Kesimpulan : Proporsi tingkat simtom ansietas terbanyak pada pasien dispepsia fungsional adalah ansietas berat (43,53%). Tingkat simtom ansietas terbanyak pada usia diatas 45 tahun, jenis kelamin pria, menikah dan bekerja.74 HalamanTesis Magiste
Adiksi Smartphone Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2018 Selama Pandemi Covid-19
Latar Belakang. Adiksi teknologi digital meliputi adiksi internet, adiksi media sosial, adiksi
smartphone, adiksi game online, dan adiksi judi online. Seseorang yang menghabiskan banyak
waktunya dengan menggunakan teknologi digital dan aktivitas yang berhubungan dengan internet
akan menyebabkan ketergantungan terhadap teknologi untuk berinteraksi sosial, hiburan, dan
sumber informasi. Hal ini akan menyebabkan peningkatan gangguan mental, ketidakstabilan
emosi, dan gangguan tidur. Sejak pandemi mulai terjadinya COVID-19 telah banyak strategi
pencegahan dan kontrol yang telah diterapkan oleh pemerintah Indonesia untuk menekan
penyebaran virus ini. Salah satu cara yang diyakini terbaik dalam menekan penyebaran virus ini
adalah berdiam diri di rumah. Hal ini memengaruhi aktivitas sehari-hari orang-orang di seluruh
dunia yang mengarahkan mereka untuk lebih sering menggunakan teknologi digital, seperti
internet, media sosial, dan smartphone. Tujuan. Penelitian ini memiliki tujuan umum untuk
mengetahui hubungan antara jenis kelamin, usia, dan temopat tinggal dengan adiksi smartphone
di kalangan mahasiswa Program Studi Pendidikan dan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara angkatan 2018 selama pandemi COVID-19. Metode. Jenis penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain
cross-sectional. Sampel penelitian diperoleh menggunakan metode besar sampel berdasarkan
proporsi dengan populasi sampel penelitian adalah semua mahasiswa Program Studi Pendidikan
dan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2018. Data
diperoleh secara daring dengan alat bantu berupa kuesioner. Hasil. Dari 80 responden terdapat
59 orang yang mengalami adiksi smartphone dan tidak berhubungan bermakna antara jenis
kelamin, usia, tempat tinggal dengan adiksi smartphone. Kesimpulan. Jenis kelamin, usia, dan
tempat tinggal tidak berhubungan bermakna dengan adiksi smartphone.Background. Digital technology addiction includes internet addiction, social media addiction,
smartphone addiction, online gaming addiction, and online gambling addiction. Someone who
spends a lot of time using digital technology and internet-related activities will cause dependence
on technology for social interaction, entertainment, and information resources. This will lead to
increased mental disorders, emotional instability, and sleep disturbances. Since the COVID-19
pandemic began, many prevention and control strategies have been implemented by the
Indonesian government to suppress the spread of this virus. One of the best ways to suppress the
spread of this virus is to stay at home. This affects the daily activities of people around the world
which leads them to use digital technology more often, such as the internet, social media, and
smartphones. Objectives. This study aims to evaluate association between gender, age, and
residence with smartphone addiction among students of the 2018 Faculty of Medicine, North
Sumatra University during COVID-19 pandemic. Methods. The type of research used in this study
is a analytic observational study with a cross-sectional design. The research sample was obtained
using the large-sample method based on proportions with the research sample population being
all students of the Medical Education Study Program, Faculty of Medicine, University of North
Sumatra, 2018. The data was obtained online using a questionnaire. Results. Among 80
respondents there are 59 people experiencing smartphone addiction dan there is no significant
association between gender, age, and residence with smartphone addiction. Conclusion. Gender,
age, and residance are not significantly associated with smartphone addiction.68 HalamanSkripsi Sarjan
Hubungan Karakteristik Sosiodemografik Dengan Kualitas Hidup Pasien Skizofrenia Paranoid
Latar Belakang: Skizofrenia adalah masalah kesehatan umum diseluruh dunia yang memerlukan banyak biaya personal dan ekonomi. Skizofrenia menyerang kurang dari 1 % populasi dunia. Jika gangguan skizofrenia dimasukkan dalam estimasi prevalensi, maka jumlah orang-orang terserang bertambah sekitar 5%.Skizofrenia digambarkan sebagai gangguan psikotik paling parah, dan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari dan kualitas hidupnya. Kualitas hidup pasien skizofrenia lebih rendah dibandingkan orang yang sehat dan gangguan kejiwaan lainnya.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan karakteristik sosiodemografik (usia, jenis kelamin, suku, tingkat pendidikan, pekerjaan, status perkawianan, tempat tinggal ) serta lama sakit dengan kualitas hidup pasien skizofrenia paranoid.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan crossectional. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik non probability sampling jenis consecutive sampling . Sampel penelitian adalah pasien skizofrenia paranoid yang memenuhi kriteria inklusi. Tempat penelitian poliklinik psikiatri BLUD RSJ Provinsi Sumatera Utara. Subjek penelitian berjumlah 100 orang. Alat ukur yang digunakan untuk menentukan kualitas hidup adalah dengan menggunakan Sort Form-36 (SF-36) yang terdiri dari 36 butir pertanyaan.
Hasil: Hasil penelitian ini didapat rata-rata kualitas hidup pasien skizofrenia paranoid yang diukur dengan kuesioner SF-36 yaitu 60,3 + 12,8, yang terdiri dari phisycal component yaitu 67 + 18,1 dan mental component yaitu 48,4 + 29,8. Kualitas hidup masing-masing skala komponen kesehatan menunjukkan perbedaan bermakna pada jenis kelamin yaitu pada skala komponen Mental Health (MH) nilai p = 0,038, suku yaitu pada skala komponen Vitality (VT) nilai p = 0,037 dan lama sakit yaitu pada skala komponen Social Functioning (SF) nilai p = 0,020
Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas hidup pasien skizofrenia paranoid masing-masing skala komponen kesehatan berdasarkan karakteristik sosiodemografik yaitu usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, status perkawinan dan situasi tempat tinggal tidak menunjukkan perbedaan bermakna sedangkan pada jenis kelamin, suku dan lama sakit menunjukkan perbedaan bermakna pada skala komponen Mental Health, Vitality dan Social Functioning.121 HalamanTesis Magiste
Hubungan Kesepian dengan Masalah Psikologis dan Gejala Gangguan Somatis pada Remaja
Background. Loneliness is a psychological problem that often arises in adolescents. One of the
causes is the unfulfilled emotional and social needs. The intensity of loneliness can vary, there can
be immediately through a feeling of loneliness, but there are also those who constantly feel lonely.
It can affect adolescents mentally, so it is often associated with psychological problems and
somatic health. Objective. The aim of this study is to know the relationship of loneliness with
psychological problems and symptoms of somatic disorders in adolescents. Method. This study is
an analytical study with cross sectional design, using primary data from questionnaires. The
sample was selected by using the stratified random sampling method from all questionnaire data.
Result. In the Spearman correlation analysis the p value was 0.001 (p <0,005) which showed that
there was a relationship between loneliness and psychological problems and symptoms of somatic
disorders in adolescents. Bivariate analysis between loneliness and depression obtained
correlation coefficient (r)=0,548, loneliness and anxiety (r)=0,515, loneliness and stress
(r)=0,472 and loneliness and symptoms of somatic disorders (r)= 0,528. Conclusion. There was
significant relationship between loneliness and psychological problems and symptoms of somatic
disorders in adolescents with weak correlation value.Latar Belakang. Kesepian menjadi salah satu masalah psikologis yang sering muncul pada
remaja. Salah satu penyebab timbulnya kesepian pada remaja adalah tidak terpenuhinya
kebutuhan emosi dan sosial. Intensitas kesepian bisa berbeda-beda, ada yang dapat segera
melalui perasaan kesepian, namun ada juga yang terus-menerus merasakan kesepian. Hal ini
dapat mempengaruhi remaja secara mental, sehingga sering dikaitkan dengan masalah psikologis
dan kesehatan somatis. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kesepian
dengan masalah psikologis dan gejala gangguan somatis pada remaja. Metode. Penelitian ini
merupakan studi penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional, menggunakan data
primer yang berasal dari kuisioner. Sampel penelitian dipilih dengan metode stratified random
sampling dari seluruh data kuisioner yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil. Pada analisis
korelasi Spearman didapatkan nilai p sebesar 0.001(p <0,05) yang menunjukkan terdapat
hubungan antara kesepian dengan masalah psikologis dan gejala gangguan somatis pada remaja.
Analisis bivariat kesepian dengan depresi didapatkan nilai koefisien korelasi (r)=0,548, kesepian
dengan kecemasan (r)= 0,515, kesepian dengan stres (r)=0,472 dan kesepian dengan gejala
gangguan somatis (r)=0,528. Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna antara kesepian
dengan masalah psikologis dan gejala gangguan somatis pada remaja dengan nilai korelasi
lemah.93 HalamanSkripsi Sarjan
Gambaran Visum Et Repertum Psychiatricum Kekerasan dalam Rumah Tangga (Kdrt) pada Perempuan Tahun 2007-2011 di Rsud Dr. Pirngadi Medan
ABSTRAK
Latar belakang: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan kekerasan berbasis gender yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.Kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat manusia serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus.
Metode: Penelitian deskriptif retrospektif dengan melihat rekam medik, teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik non probability sampling jenis consecutive sampling, jumlah sampel 97 orang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga sesuai visum et repertum psychiatricum tahun 2007-2011 di RSUD Dr. Pirngadi Medan.
Hasil: Dari 97 orang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sesuai dengan visum et repertum psychiatricum tahun 2007-2011 di RSUD Dr. Pirngadi Medan, didapatkan usia paling banyak adalah pada usia 20 - 30 tahun, yaitu sebanyak 32 orang (32,9%), berdasarkan tingkat pendidikan subjek penelitian terbanyak adalah SMA, yaitu sebanyak 44 orang (45,4%), berdasarkan status pekerjaan subjek penelitian terbanyak adalah tidak bekerja, yaitu sebanyak 55 orang (56,7%), berdasarkan status perkawinan subjek penelitian terbanyak adalah kawin, yaitu sebanyak 89 orang (91,8%).
Kesimpulan: Dari hasil penelitian didapatkan bahwa yang lebih banyak mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah usia 20-30 tahun, pendidikan SMA, tidak bekerja, kawin, dan bentuk kekerasan yang paling banyak adalah bentuk kekerasan psikis, yang paling sedikit adalah kekerasan seksual sebanyak 5 orang (5,2%).
Kata kunci:
Kekerasan dalam rumah tangga, visum et repertum, perempuan.57 HalamanTesis Magiste
Perbandingan Pemberian Susu Hangat dan Teh Chamomile Hangat Terhadap Kualitas Tidur Lansia
Latar Belakang. Seiring meningkatnya jumlah penduduk di dunia, jumlah lansia juga mengalami peningkatan. Menurut WHO, lansia adalah individu yang berusia lebih dari 60 tahun. Proses penuaan pada seseorang akan menyebabkan perubahan secara anatomi dan fisiologi. Selain kedua perubahan tersebut, proses penuaan juga menyebabkan perubahan psikologis salah satunya adalah gangguan tidur yang dapat menyebabkan penurunan kualitas tidur pada lansia. Kualitas tidur yang buruk merupakan salah satu masalah kesehatan yang dialami lansia secara global. Menurut data Dinas Kesehatan tahun 2008, prevalensi lansia yang mengalami gangguan kualitas tidur sekitar 4,9% atau 9,3 juta jiwa. Mengenai hal tersebut, gangguan kualitas tidur dapat ditangani dengan terapi kebiasaan, terapi kognitif, sleep hygiene, dan terapi farmakologi. Dari penelitian-penelitian sebelumnya didapatkan bahwa pemberian susu hangat dan teh chamomile hangat dapat mengatasi gangguan tidur. Tujuan. Untuk mengetahui perbandingan antara pemberian susu hangat dan teh chamomile hangat terhadap kualitas tidur lansia. Metode. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan pre and posttest design. Populasi dalam peneliatian ini adalah semua lansia di Panti Jompo Karya Kasih yang mengalami gangguan kualitas tidur. Sampel penelitian ini diambil dengan metode purposive sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi minimal 18 orang untuk setiap kelompok. Subyek penelitian diberi perlakuan selama 2 bulan dan setiap hari sebelum tidur. Data dalam penelitian diperoleh melalui penilaian menggunakan kuesioner. Data yang terkumpul akan diuji dengan spss dan uji t-independent. Hasil. Pada penelitian ini diperoleh perbandingan yang tidak signifikan mengenai pemberian susu hangat dan teh chamomile hangat dengan nilai p=0.285 (p>0.05). Kesimpulan. Pemberian susu dan teh chamomile selama 2 bulan meningkatkan kualitas tidur lansia dengan perbandingan yang tidak signifikan.Background. As the population in the world increases, the number of elderly people also increases. According to WHO, the elderly are individuals over the age of 60 years. The aging process in a person will cause changes in anatomy and physiology. In addition to these two changes, the aging process also cause psychological changes, one of which is a sleep disorder that can cause a decrease in sleep quality in the elderly. Poor sleep quality is one of the health problems experienced by the elderly globally. According to the data from the Indonesian Health Office in 2008, the prevalence of elderly who experience impaired sleep quality is around 4.9% or 9.3 million people. Regarding this, disruption of sleep quality can be treated with habit therapy, cognitive therapy, sleep hygieni, and pharmacological therapy. From previous studies it was found that administration of warm milk and warm chamomile tea can overcome sleep disorder. Objective. To find out the comparison between the effects of the administration of warm milk and warm chamomile tea to the quality of sleep in the elderly. Methods. This study is an experimental study with pretest and posttest design. The population of this study is all elderly individual at the Karya Kasih retirement home who experience impaired sleep quality. The sample of this study was determined using purposive sampling method that corresponds to the inclusion criteria. The minimum amount of samples are at least 18 people for each group. Subject of the study were treated every day before going to bed for 2 months. Data in the study were obtained through assessment using a questionnaire. The collected data will be tested using SPSS software and independent t-test. Result. In this study an insignificant comparison was obtained regarding the administration of warm milk and warm chamomile tea with a p value= 0.285 (p>0.05). Conclusions. The administration of milk and chamomile tea for 2 months improves the quality of sleep for the elderly with insignificant comparisons.Skripsi Sarjan
Hubungan Antara Usia, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Tingkat Pendidikan, dan Status Perkawinan dengan Simtom Insomnia pada Pasien Ganggguan Depresif Mayor Tanpa Ciri Psikotik
Simtom insomnia merupakan sebuah keluhan yang umum dan sering dihadapi oleh praktisi kesehatan.1 Simtom insomnia merupakan ketidakmampuan untuk tidur pada waktu tidur atau terjaga setelah pertengahan tidur atau kecenderungan mengalami efisiensi tidur yang buruk.2 Simtom insomnia sering ditemukan bersamaan dengan gangguan mood dan khususnya dengan depresi. Simtom insomnia lebih sering ditemukan bersamaan dengan gangguan depresif.2-4 Simtom insomnia merupakan gangguan tidur yang sering dilaporkan oleh lebih dari 90% dari pasien depresi.3 Sekitar tiga perempat dari pasien depresi memiliki simtom insomnia.5 Paling sedikit 80% pasien dengan gangguan depresif mayor memiliki masalah simtom insomnia.4
Individu-individu dengan depresi biasanya hadir dengan simtom insomnia awal (initial insomnia), simtom insomnia pertengahan (middle insomnia), atau simtom insomnia akhir (late insomnia) dimana terjaga pada tahap awal, tahap pertengahan, dan tahap akhir dari waktu tidur malam dan rasa mengantuk di siang hari sebagai akibat dari kurang tidur atau kualitas tidur yang kurang. Di antara pasien rawat jalan dengan gangguan depresif mayor dan simtom insomnia, sekitar sepertiganya mengalami simtom insomnia awal, sepertiganya mengalami simtom insomnia pertengahan, dan sepertiganya mengalami simtom insomnia akhir walaupun beberapa pasien mengalami kombinasi dari ketiganya.2 Dari ketiga tipe simtom insomnia, simtom insomnia pertengahan adalah yang paling sering ditemukan. Tipe ini adalah yang paling umum dilaporkan sendiri (tidak dalam kombinasi dengan tipe lain) yaitu sekitar 13,5% serta yang paling umum secara keseluruhan menjadi bagian dari 82,3% dari kehadiran simtom insomnia (termasuk sendirian dan dalam kombinasi dengan satu atau kedua tipe lainnya).85 HalamanTesis Magiste
Hubungan Tingkat Ketergantungan Nikotin Rokok pada Pasien Skizofrenik Laki-Laki dan Orangtuanya
Merokok tembakau merupakan penyebab kematian terbesar yang dapat
dicegah, prevalensi yang cukup tinggi dari merokok tembakau ditemukan pada p€nderita
gangguan psikiatrik, pada pasien skizofrenik sendiri merokok memiliki prevalensi 70-90% dan
prevalensi tingkat ketergantungan nikotinnya (28.5%) lebih tinggi dibandingkan populasi
umum. Keburukan dari merokok pada pasien skizofrenik antara lain, mempengaruhi terapi
antipsikotik, peningkatan risiko penyakit fisik seperti penyakit pembuluh jantung koroner,
kanker paru-paru dan memburuknya kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini untuk
menilai hubungan tingkat ketergantungan pasien skizofrenik laki-laki dan orangtuanya.68 HalamanTesis Magiste
Pengaruh Intervensi Musik pada Kualitas Tidur Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara
Background. Chronic kidney failure in the final stage is a health condition that requires treatment in the form of dialysis or kidney transplantation. One of the types of dialysis is hemodialysis. In patients undergoing hemodialysis, there tends to be a decrease in sleep quality. Many pharmacological treatments that can be used to overcome sleep disorders, but it can not be separated from side effects. Music Intervention is a type of relaxation therapy that has been proven to improve the quality of one's sleep. Purpose. Knowing the sleep quality score of patients with chronic kidney failure with hemodialysis who received music intervention. Method. This research uses experimental research. For data in this study using primary data in the form of questionnaires and data collection methods in the form of consecutive sampling. Using independent t-test analysis for intervention and control groups and paired t-test for before and after music intervention. Results. Sleep quality scores in the control group before and after treatment were 8.33 and 8.56. Sleep quality scores in the intervention group before and after treatment were 9.28 and 6.17 with a p value of 0.001. Conclusion. there is an increase in sleep quality scores in patients with chronic kidney failure with hemodialysis who are given music intervention.LatarBelakang. Gagal Ginjal Kronis stadium akhir merupakan kondisi kesehatan yang membutuhkan penanganan berupa dialisis atau transplantasi ginjal.Salah satu dari jenis dialisis adalah hemodialisis. Pada pasien yang menjalani hemodialisis cenderung terdapat penurunan kualitas tidur. Banyak pengobatan farmakologis yang dapat dipakai untuk mengatasi gangguan tidur, tetapi hal tersebut tidak terlepas dari efek samping. Interverensi Musik adalah salah satu jenis terapi relaksasi yang telah terbukti dapat meningkatkan kualitas tidur seseorang. Tujuan. Mengetahui skor kualitas tidur pasien gagal ginjal kronis dengan hemodialisis yang mendapat intervensi musik. Metode. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental. Untuk data pada penelitian ini menggunakan data primer berupa kuesioner dan metode pengumpulan data berupa consecutive sampling. Menggunakan analisa independent t-test untuk kelompok intervensi dan kontrol dan paired t-test untuk sebelum dan setelah intervensi musik. Hasil. Skor kualitas tidur pada kelompok kontrol sebelum dan setelah diberikan perlakuan yaitu 8,33 dan 8,56. Skor kualitas tidur pada kelompok intervensi sebelum dan setelah diberikan perlakuan yaitu 9,28 dan 6,17 dengan p value 0,001. Kesimpulan yaitu terdapat peningkatan skor kualitas tidur pada pasien gagal ginjal kronis dengan hemodialisis yang diberi intervensi musik.64 HalamanSkripsi Sarjan
- …
