6 research outputs found

    PENETAPAN KADAR SENYAWA ALKALOID DAN STEROID TOTAL DARI EKSTRAK ETANOL FRAKSI BATANG TEBU TELUR (Saccharum edule Hasskarl)

    No full text
    Tebu Telur (Saccharum edule Hasskarl) merupakan tanaman yang termasuk ke dalam jenis bunga, namun berbentuk seperti tebu dengan batang beruas-ruas dan berwarna hijau kemerahan. Tanaman Tebu Telur mengandung berbagai macam  metabolit sekunder diantaranya yaitu alkaloid dan steroid. Tebu Telur dapat bermanfaat bagi kesehatan yaitu dapat mencegah penyakit seperti kolesterol dan diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar alkaloid dan steroid total pada ektrak etanol dan fraksi batang Tebu Telur. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil uji kualitatif ekstrak etanol dan fraksi batang tebu telur  menunjukkan tanaman tersebut mengandung alkaloid dan steroid. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan kadar alkaloid total yaitu sebesar 32,19 mg/g pada ekstrak etanol, 20,54 mg/g pada fraksi air, 38,61 mg/g pada fraksi etil asetat dan 32,94 mg/g pada fraksi n-heksan.  Sedangkan kadar steroid total yaitu sebesar 15,893 mg/g pada ekstrak etanol, 10,655 mg/g pada fraksi air, 15,893 mg/g pada fraksi etil asetat dan 26,250 mg/g pada fraksi n-heksan.  Hasil aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol batang Tebu Telur sebesar 185,782 ppm

    ANALISIS KANDUNGAN FLAVONOID DAN FENOLIK TOTAL DARI ESKTRAK DAN FRAKSI TANAMAN BATANG TEBU TELUR (Saccharum Edule Hasskarl)

    No full text
    TanamanTebu Telur (Saccharum edule Hasskarl) merupakan sayuran yang termasuk dalam famili Poaceae dengan genus Saccharum dan spesies Saccharum edule Hasskarl. Tebu Telur ini diduga mengandung metabolit sekunder yaitu fenol, flavonoid, tanin, saponin, alkaloid dan steroid. Flavonoid memiliki berbagai efek bioaktif termasuk anti virus, anti-inflamasi kardioprotektif, antidiabetes, anti kanker, anti penuaan, antioksidan. Sedangkan fenolik memiliki kemampuan untuk membentuk radikal fenoksi yang stabil pada reaksi oksidasi yang menyebabkan senyawa fenolik sangat berpotensial sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar flavonoid total dan fenolik total pada ekstrak etanol dan fraksi Batang Tebu Telur. Metode penelitian yang digunakan yaitu analisis uji kualitatif dan kuantitatif  menggunakan spektrofotometri UV-Vis serta ditunjang dengan analisis kromatografi cair-Spektrometri Massa. Hasil uji kuantitif ekstrak etanol dan fraksi Batang Tebu Telur terbukti mengandung senyawa flavonoid dan fenolik. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh kadar flavonoid total sebesar 4,15 mgQE/g pada ekstrak etanol, 5,82 mgQE/g pada fraksi air, 29,35 mgQE/g pada fraksi etil asetat dan 11,46 mgQE/g pada fraksi n-heksana. Sedangkan  kadar fenolik total yang diperoleh sebesar 10,96 mgGAE/g pada ekstrak etanol, 19,06 mgGAE/g pada fraksi air, 58,73 mgGAE/g pada fraksi etil asetat dan 34,93 pada fraksi n-heksan

    Pemantapan Proses Sistesis Ligan Dibutilditiokarbamat (DBDTK) sebagai Pengekstrak Logam Tanah Jarang berdasarkan Desain Eksperimen

    No full text
    &lt;p&gt;Gadolinium (Gd) merupakan salah satu logam tanah jarang, dimana logam tanah jarang dapat diekstrak dari mineral salah satunya mineral monasit. Logam Gd biasanya digunakan sebagai bahan dasar &lt;em&gt;contrast agent&lt;/em&gt; dalam dunia kesehatan. Ligan dibutilditiokarbamat mampu membentuk senyawa kompleks dengan cara mengikat logam sehingga membentuk khelat yang dapat digunakan untuk ekstraksi. Tujuan dari penelitian ini adalah memantapkan sintesis ligan dibutilditiokarbamat berdasarkan desain eksperimen dan karakterisasi kompleks antara Gd(III) dengan ligan dibutilditiokarbamat hasil sintesis. Penelitian ini diawali dengan pembuatan desain eksperimen untuk sintesis ligan dan ekstraksi Gd(III) dengan ligan, kemudian proses sintesis dan ekstraksi dilakukan sesuai dengan desain eksperimen, hasil sintesis dan ekstraksi dikarakterisasi menggunakan metode spektroskopi serta diuji kelarutannya dalam pelarut organik. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa sintesis ligan dibutilditiokarbamat optimal pada suhu 4 °C, perbandingan dibutilamin dan karbondisulfida yaitu 1:3 dengan perbandingan mol ammonia terhadap dibutilamin yaitu 1:4, sedangkan kondisi optimal untuk ekstraksi Gd(III) dengan ligan yaitu pada pH 6, dengan perbandingan mol Gd(III) dan ligan yaitu 1:4 dan lama ekstraksi 60 menit. Oleh karena itu ligan dibutilditiokarbamat hasil sintesis berpotensi digunakan sebagai ekstraktan untuk ekstraksi Gd(III). Hasil prediksi ligan berdasarkan desain eksperimen yaitu sebesar 56,12 % sedangkan prediksi ekstraksi Gd(III) dengan ligan hasil sintesis diperoleh sebesar 78,41 %. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa sintesis ligan dibutilditiokarbamat  berdasarkan desain eksperimen dapat dikembangkan untuk sintesis skala besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gadolinium (Gd) is one of the rare-earth elements, whereas rare-earth elements can be extracted from monazite. Gd is usually used as raw material for synthesizing contrast agent&lt;em&gt; &lt;/em&gt;in medicine field. Dibuthyldithiocarbamate ligand can form a complex compound with metal. This ligand will bind a metal and then forming chelate which is used for extraction. The purpose of this research is to ensure procedure of dibuthyldithiocarbamate ligand synthesis based on the design of experiment and to study the characterization of reaction result between Gd(III) and dibuthyldithiocarbamate ligand which this ligand is synthesis result. This research begins with making design of experiment for ligand synthesis and Gd(III) extraction with ligand, then perform the process of synthesis and extraction according to the design of experiment, the result of synthesis and extraction were characterized by spectroscopy method and solubility tested in organic solvent. The data was collected indicate that the optimal condition of dibuthyldithiocarbamate ligan synthesis at 4 °C (temperature), the ratio of di-n-butylamine and carbon disulphide is 1:3 with the mole ratio of ammonia to the di-n-butylamine 1:4, while the optimal conditions for gadolinium extraction with ligand at pH 6, the mol ratio of gadolinium and ligand is 1:4 and 60 minutes extraction time. Hence, dibuthyldithiocarbamate ligand can be used as extractan for extracting Gd(III). The prediction of ligand based on the experimental design is 56.12 % while the prediction of Gd(III) extraction with ligand of the synthesis result is obtained equal to 78.41 %. The conclusion of this research is that the synthesis of dibuthyldithiocarbamate ligand based on the experimental design can be developed for large-scale synthesis.&lt;/p&gt;</jats:p

    Pemantapan Proses Sintesis Ligan Dibutilditiokarbamat (DBDTK) Sebagai Pengekstrak Logam Tanah Jarang Berdasarkan Desain Eksperimen

    No full text
    &lt;p&gt;Gadolinium (Gd) merupakan salah satu logam tanah jarang, dimana logam tanah jarang dapat diekstrak dari mineral salah satunya mineral monasit. Logam Gd biasanya digunakan sebagai bahan dasar &lt;em&gt;contrast agent&lt;/em&gt; dalam dunia kesehatan. Ligan dibutilditiokarbamat mampu membentuk senyawa kompleks dengan cara mengikat logam sehingga membentuk khelat yang dapat digunakan untuk ekstraksi. Tujuan dari penelitian ini adalah memantapkan sintesis ligan dibutilditiokarbamat berdasarkan desain eksperimen dan karakterisasi kompleks antara Gd(III) dengan ligan dibutilditiokarbamat hasil sintesis. Penelitian ini diawali dengan pembuatan desain eksperimen untuk sintesis ligan dan ekstraksi Gd(III) dengan ligan, kemudian proses sintesis dan ekstraksi dilakukan sesuai dengan desain eksperimen, hasil sintesis dan ekstraksi dikarakterisasi menggunakan metode spektroskopi serta diuji kelarutannya dalam pelarut organik. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa sintesis ligan dibutilditiokarbamat optimal pada suhu 4 °C, perbandingan dibutilamin dan karbondisulfida yaitu 1 : 3 dengan perbandingan mol ammonia terhadap dibutilamin yaitu 1 : 4, sedangkan kondisi optimal untuk ekstraksi Gd(III) dengan ligan yaitu pada pH 6, dengan perbandingan mol Gd(III) dan ligan yaitu 1 : 4 dan lama ekstraksi 60 menit. Oleh karena itu ligan dibutilditiokarbamat hasil sintesis berpotensi digunakan sebagai ekstraktan untuk ekstraksi Gd(III). Hasil prediksi ligan berdasarkan desain eksperimen yaitu sebesar 56,12% sedangkan prediksi ekstraksi Gd(III) dengan ligan hasil sintesis diperoleh sebesar 78,41%. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa sintesis ligan dibutilditiokarbamat  berdasarkan desain eksperimen dapat dikembangkan untuk sintesis skala besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gadolinium (Gd) is one of the rare-earth elements, whereas rare-earth elements can be extracted from monazite. Gd is usually used as raw material for synthesizing contrast agent&lt;em&gt; &lt;/em&gt;in medicine field. Dibuthyldithiocarbamate ligand can form a complex compound with metal. This ligand will bind a metal and then forming chelate which is used for extraction. The purpose of this research is to ensure procedure of dibuthyldithiocarbamate ligand synthesis based on the design of experiment and to study the characterization of reaction result between Gd(III) and dibuthyldithiocarbamate ligand which this ligand is synthesis result. This research begins with making design of experiment for ligand synthesis and Gd(III) extraction with ligand, then perform the process of synthesis and extraction according to the design of experiment, the result of synthesis and extraction were characterized by spectroscopy method and solubility tested in organic solvent. The data was collected indicate that the optimal condition of dibuthyldithiocarbamate ligan synthesis at 4 °C (temperature), the ratio of di-n-butylamine and carbon disulphide is 1:3 with the mole ratio of ammonia to the di-n-butylamine 1:4, while the optimal conditions for gadolinium extraction with ligand at pH 6, the mol ratio of gadolinium and ligand is 1:4 and 60 minutes extraction time. Hence, dibuthyldithiocarbamate ligand can be used as extractan for extracting Gd(III). The prediction of ligand based on the experimental design is 56.12% while the prediction of Gd(III) extraction with ligand of the synthesis result is obtained equal to 78.41%. The conclusion of this research is that the synthesis of dibuthyldithiocarbamate ligand based on the experimental design can be developed for large-scale synthesis.&lt;/p&gt;</jats:p

    Penggunaan Desain Plackett Burman untuk Seleksi Parameter Pemisahan Logam Tanah Jarang Kelompok Sedang dari Logam Tanah Jarang Kelompok Lainnya dengan Metode Pengendapan

    No full text
    Indonesia merupakan salah satu negara penghasil timah terbesar di dunia dengan hasil sampingnya berupa mineral ikutan, salah satunya adalah monasit yang mengandung lebih dari 50% logam tanah jarang (LTJ). LTJ memiliki kegunaan penting dalam berbagai teknologi dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Banyaknya mineral monasit yang ditemukan di Indonesia, akibatnya Indonesia berpeluang dalam memproduksi dan memanfaatkan LTJ untuk penunjang kemajuan negara. Oleh karena itu diperlukan metode pemisahan yang tepat dan efisien untuk mendapatkan LTJ individu maupun campuran dalam bentuk murni, salah satunya yaitu metode pengendapan. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh parameter pemisahan pada metode pengendapan yang berpengaruh terhadap respon yang berupa efisiensi pemisahan LTJ kelompok sedang dari kelompok LTJ lainnya berdasarkan desain eksperimen dari sampel LTJ hidroksida hasil olah monasit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengendapan selektif LTJ kelompok berat, sedang, dan ringan berdasarkan desain eksperimen model Plackett Burman untuk menseleksi parameter-parameter yang memiliki relevansi terhadap respon LTJ kelompok sedang. Parameter yang digunakan yaitu konsentrasi pereaksi, suhu, kecepatan pengadukan dan pH. Parameter yang terseleksi kemudian dapat digunakan untuk pemisahan secara selektif kelompok LTJ dengan metode pengendapan skala besar. Parameter yang memiliki relevansi dengan respon berupa efisiensi pemisahan LTJ kelompok sedang dari kelompok LTJ lainnya yaitu konsentrasi asam oksalat (1,0N), suhu pengendapan dengan asam oksalat (25°C), pH pengendapan LTJ berat (4,00), pH pengendapan LTJ sedang (7,30) dan suhu pengendapan LTJ sedang (90°C). Efisiensi pemisahan sampel LTJ kelompok sedang dari sampel LTJ hidroksida  yaitu 72,88%

    AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN FOTOPROTEKSI DARI EKSTRAK SERTA FRAKSI DAUN JARUM TUJUH BILAH (Pereskia bleo (Kunth)D.C)

    No full text
    Pereskia bleo (Kunth) D.C, commonly known as “jarum tujuh bilah,” is a plant widely found in Indonesia with elliptic to oblong-shaped leaves. This plant is traditionally recognized for its therapeutic properties, including treatments for rheumatism, inflammation, gastric disorders, ulcers, diabetes, hypertension, and as a body revitalizer. The leaves of this plant are known to contain various secondary metabolites, such as alkaloids, tannins, saponins, flavonoids, steroids, and phenolic compounds. These constituents exhibit antioxidant activity and the ability to absorb ultraviolet radiation, indicating potential as a natural sunscreen agent. This study aims to evaluate the antioxidant and photoprotective activities of the extract and fractions of P. bleo leaves through in vitro assays using UV-Vis spectrophotometry. Extraction was conducted via maceration using 70% ethanol as the solvent, followed by liquid–liquid fractionation with solvents of varying polarities: distilled water, n-hexane, and ethyl acetate. The results demonstrated that the ethanolic extract exhibited strong antioxidant activity with an IC₅₀ value of 41.5 ppm and an antioxidant activity index (AAI) of 0.963. The highest photoprotective activity was observed in the ethyl acetate fraction, with an SPF value of 73.229 (categorized as ultra protection) and an erythema transmission percentage of 0.034797 (indicative of effective sunblock activity)Pereskia bleo (Kunth) D.C, dikenal sebagai jarum tujuh bilah, merupakan tanaman yang umum ditemukan di Indonesia dan memiliki daun berbentuk elips hingga lonjong. Tanaman ini diketahui memiliki berbagai khasiat terapeutik, termasuk untuk rematik, peradangan, gangguan lambung, maag, diabetes, hipertensi, serta sebagai revitalisasi tubuh. Daun tanaman ini diketahui mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, antara lain alkaloid, tanin, saponin, flavonoid, steroid, dan senyawa fenolik. Kandungan tersebut memiliki aktivitas antioksidan serta kemampuan menyerap radiasi ultraviolet, sehingga menunjukkan potensi untuk dimanfaatkan sebagai agen tabir surya alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan dan fotoproteksi dari ekstrak serta fraksi daun jarum tujuh bilah secara in vitro menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, kemudian dilanjutkan dengan fraksinasi cair-cair menggunakan pelarut bertingkat polaritas yaitu aquades, n-heksan, dan etil asetat. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak etanol dari daun jarum tujuh bilah menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat, ditandai dengan nilai IC₅₀ sebesar 41,5 ppm dan indeks aktivitas antioksidan (IAA) sebesar 0,963. Aktivitas fotoproteksi tertinggi diperoleh pada fraksi etil asetat dengan nilai SPF sebesar 73,229 (kategori proteksi ultra) dan persentase transmisi eritema sebesar 0,034797 (efektivitas sunblock).Pereskia bleo (Kunth) D.C, commonly known as “jarum tujuh bilah,” is a plant widely found in Indonesia with elliptic to oblong-shaped leaves. This plant is traditionally recognized for its therapeutic properties, including treatments for rheumatism, inflammation, gastric disorders, ulcers, diabetes, hypertension, and as a body revitalizer. The leaves of this plant are known to contain various secondary metabolites, such as alkaloids, tannins, saponins, flavonoids, steroids, and phenolic compounds. These constituents exhibit antioxidant activity and the ability to absorb ultraviolet radiation, indicating potential as a natural sunscreen agent. This study aims to evaluate the antioxidant and photoprotective activities of the extract and fractions of P. bleo leaves through in vitro assays using UV-Vis spectrophotometry. Extraction was conducted via maceration using 70% ethanol as the solvent, followed by liquid–liquid fractionation with solvents of varying polarities: distilled water, n-hexane, and ethyl acetate. The results demonstrated that the ethanolic extract exhibited strong antioxidant activity with an IC₅₀ value of 41.5 ppm and an antioxidant activity index (AAI) of 0.963. The highest photoprotective activity was observed in the ethyl acetate fraction, with an SPF value of 73.229 (categorized as ultra protection) and an erythema transmission percentage of 0.034797 (indicative of effective sunblock activity
    corecore