61 research outputs found

    Dakwah dan media massa: Perspektif Sosiologi dan budaya populer

    Full text link
    Praktik dakwah yang terdapat di media massa, terkhusus televisi sebagai salah satu agen kultural, dalam bentuk program-program acara atau siaran bermuatan syiar Islam. Apa yang ditampilkan dalam acara-acara tersebut menunjukkan bahwa praktik dakwah ketika berada di tangan media mengalami proses transformasi yang luar biasa dari nilai-nilai prinsipil dakwah yang seharusnya. Persoalan ini umumnya disebabkan oleh adanya tuntutan bisnis dari program acara televisi sebagai salah satu produk media. Praktik dakwah pada akhirnya tidak terlepas dari upaya modifikasi dan komersialisasi media yang berhubungan juga dengan pihak-pihak lain yang berkepentingan dari acara tersebut. Dalam konteks inilah, peneliti kemudian mencoba memahami dan menganalisis bagaimana relasi antara praktik dakwah, terutama dalam bentuk penyiaran Islam di media televisi, dengan kehadiran budaya populer di masyarakat

    Dakwah digital berbasis moderasi beragama

    Full text link
    Kajian ini mengabarkan tentang bentuk relasi sosial virtual dalam lanskap keagamaan. Pola dakwah konvensional yang dilakukan melalui ruang-ruang digital dalam bentuk sorogan. Tradisi sorogan yang disampaikan dengan setting produksi media sosial dapat menjadi alternatif bagi generasi muda untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan ajaran Islam yang menawarkan nilai, narasi dan perilaku moderasi beragama, terkhusus bagi generasi mileunial. Konten buku ini sebagian besar hasil dari menganalisis model dakwah digital berbasis moderasi beragama melalui tradisi sorogan kitab kuning secara live streaming dalam kanal youtube Al-Bahjah TV Buya Yahya, Ngaji Gus Baha Official, dan Ngaji Ihya Ulumidin Ulil Abshar Abdalla. Pengamatan terhadap Komunikasi visual pada platform media sosial youtube ketiga ulama yang telah menampilkan konstruksi bahasa agama yang informatif, inovatif, dan rekreatif. Bahkan keunikan dengan melakukan inovasi tradisi sorogan yang disajikan sebagai sebuah metode dakwah melalui ruang digital di media sosial yang dikemas secara imagologis. Relasi sosial virtual ini terbangun pada tiga tingkatan utama, yakni pada level individual, antar individual, dan antar kelompok

    Konstruksi identitas keagamaan gerakan islam transnasional: Studi fenomenologi terhadap gerakan Jama’ah Tabligh

    Full text link
    Jama’ah Tabligh adalah gerakan keagamaan Islam transnasional yang didirikan oleh Maulana Muhammad Ilyas pada tahun 1920-an di India Utara. Secara historis, Jama’ah Tabligh selalu dikaitkan dengan tradisi keagamaan Darul Ulum Deoband dan dinamika politik identitas di Asia Selatan abad kedua puluh dimana semua ulama telah berfokus pada penguatan komunitas Muslim melalui proselitisme (gerakan dakwah). Perkembangan Jama’ah Tabligh dianggap sangat signifikan karena melampaui pelbagai negara di Asia Barat Daya, Asia Tenggara, Australia, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara, termasuk ke Indonesia pada tahun 1970 melalui jalur Singapura dan Selangor Malaysia yang lebih dulu berkembang di tahun 1952. Fenomena perkembangan Jama’ah tabligh ini yang telah menarik untuk diteliti lebih dalam, khususnya tentang konstruksi identitas keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dan menganalisis dimensi penting yang telah memberikan kontribusi besar dalam pembentukan konstruksi identitas keagamaan gerakan transnasional Jama’ah Tabligh. Penelitian ini mengunakan teori sosiologi struktur fungsional, diantaranya: teori konstruksi sosial, identitas, gerakan sosial, ideologi, interaksi ritual, otoritas karisma, kepemimpinnan trasformasional dan teori sikap keagamaan. Adapun jenis dan paradigma penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan konstruktivisme. Sedangkan metode penelitiannya adalah fenomenologi dengan dibantu teknik observer partisipan dan teknik etnografi virtual dalam menguatkan pencarian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi identitas keagamaan gerakan transnasional Jama’ah Tabligh terbentuk dari proses tiga momen dialektika sosial, yakni internalisasi, objektivikasi dan eksternalisasi yang berkaitan dengan dimensi historis, ideologis, ritual dan kepemimpinan. Dalam dimensi historis ditemukan konstruksi identitas keagamaan transnasional Jama’ah tabligh terbentuk karena adanya political opportunity spaces (ruang kesempatan politik), resource mobilization (mobilisasi sumber daya), dan social framing (pembingkaian sosial). Konstuksi identitas keagamaan Jama’ah Tabligh dalam dimensi ideologis ditampilkan dalam enam prisnip dasar keagamaan (literasi utama) yang telah dikembangkan oleh para tokoh utamanya dan selalu diinternalisasi oleh para pemimpin dan pengikutnya. Konstuksi identitas keagamaan Jama’ah Tabligh dalam dimensi ritual ditampilkan dalam bentuk dakwah khuruj fi sabilillah. Dan Konstuksi identitas keagamaan Jama’ah Tabligh dalam dimensi kepemimpinan berpijak pada otoritas karisma dan transformasional. Adapun tipologi sikap keagamaannya termasuk kategori inklusifisme hegemonik. Hasil penelitian ini menemukan dua hal yang bisa dikembangkan menjadi teori baru, yakni teori hagiografi gerakan dakwah atau keagamaan, teori Rantai interaksi ritual dakwah dan teori latihan otoritas kepemimpinan dakwah

    Implementasi Tasawuf dalam Bimbingan Konseling Islam

    Full text link
    Munculnya era modern telah menampilkan berbagai permasalahan kehidupan, mulai dari masalah budaya, sosial, politik, agama bahkan kejiawaan. Dalam konteks kejiwaaan berpengaruh terhadap mental manusia yang hidup pada zaman modern. Kebanyakan manusia yang tidak siap dengan terbukanya gerbang kehidupan modern telah berdampak pada distorsi mental yang diperlihatkan dalam perilaku yang menyimpang. Dalam konteks inilah, manusia memerlukan bimbingan dan konseling berbasis Islam melalui pendekatan-pendekatannya. Salah satu pendekatan dalam Islam adalah konsep tasawuf modern. Dalam rentang perkembangnnya mampu member kontribusi perbaikan mental pad akehidupan manusia. Gagasan inilah yang telah ditawarkan oleh Buya Hamka dalam menyikapi dunia modern. Permasalahan pokok penelitian ini adalah bagaimana konsep tasawuf Buya Hamka ketika dihubungkan dengan implementasi Bimbingan dan Konseling Islam?. Dan untuk jawabannya, peneliti telah berusaha mempertajam analisis dengan pendekatan analisis sejarah (historical analysis), analisis wacana (discourse analysis), dan hemeneutic dalam kepentingannya untuk mencermati teks yang dibaca pada karya-karya tasawuf Buya Hamka dalam konteks kekinian hubungannya dengan implermentasi Bimbingan dan Konseling Islam. Hasil atau temuan penelitian ini menjelaskan bahwa konsep tasawuf Buya Hamka memiliki relevansi yang kuat dengan implementasi bimbingan dan konseling Islam. Implemnetasi yang terdeteksi, terdapat pada pengertian, Materi, tujuan, metode, fungsi dan peran bimbingan dan konseling Islam berdasarkan perspektif tasawuf Buya Hamka. Bimbingan dan konseling Islam dalam perspektif konsep tasawuf Buya Hamka diindikasi dapat menjadi salah satu pendekatan solusi atas persoalan-persoalan kehidupan di era moder

    Pengembangan Kurikulum Bimbingan dan Konseling Islam dalam Konteks Merdeka Belajar

    No full text
    slide ini menerangkan secara global tentang arah pengembangan kurikulum Bimbingan dan Konseling Islam dalam Konteks Merdeka Belajar dengan melihat arus isu kompetensi yang terdapat di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Slide diuji pada webinar nasional yang dilaksanakan oleh UIN Sunan Ampel Surabaya pada bulan Desember 2020

    Mata Kuliah Perilaku Keberagamaan (S2)

    Full text link
    Mata kuliah perilaku keberagamaan mendeskripsikan tentang Orientasi dan Makna Agama dalam Kehidupan, Sikap terhadap Orang yang Berbeda Paham dan Agama, Ekspresi Perilaku Keberagamaan dalam perspektif perkembangan psikologis manusia beragama. Dalam perkuliahan ini dibahas materi-materi mengenai Pengertian dan Ruang Lingkup Perilaku Keberagamaan; Fondasi Teoritik Perilaku Keberagamaan (Psycho-naturalistic, Psyico-empirical, psycho-biological); Fungsi Agama dalam penbentukan perilaku keberagamaan; Perilaku keberagamaan masa anak-anak (Childhood); Perilaku keberagamaan masa Remaja (Adolescence); Perilaku keberagamaan masa dewasa (Adulthood); Perilaku keberagamaan Masa Usia lanjut (elderly), Usia tua (old), Usia sangat tua (very old); Pengalaman dan Spiritual Keagamaan; Mistik dalam Perilaku Keberagamaan; Konversi, Transformasi Spiritual, dan Dekonversi dalam perilaku kebergamaan; Kematian dalam Keberagamaan; Relasi Perilaku Individu dengan Kelompok Keagamaan; Moralitas dan Prasangka dalam Perilaku Keberagamaan; Kesehatan, Psikopatologi dan Coping dalam Perilaku Keberagamaan, dan; Isu-Isu Perilaku keberagamaan Kontemporer

    The Identity Construction of Da'wah Leadership on Jama'ah Tabligh Movement

    Full text link
    The process of leadership emergence drives the presence of religious, social groups. The purpose of this study is to find (1) the concept of leadership of the Tablighi Jamaah from various perspectives; Sufism, jurisprudence, laity, and religious authority; (2) Construction of the identity of the spiritual direction of the Jamaah Tabligh. The research paradigm uses virtual ethnographic methods with social identity construction theory. The results showed that (1) the concept of leadership in the Tablighi Jamaah emphasized more on religious authority and charismatic leadership (2) The construction of the religious identity of the leadership dimension of the Tablighi Jama'at was a combination of charismatic and transformational influence. This research can impact the leadership model of social and religious institutions in Indonesia as a model that is quite effective in creating observance of worshipers

    Interpretasi Yusuf Qardhawi Tentang Kemiskinan di kalangan Masyarakat Islam dan Upaya Penanggulangannya

    Full text link
    Dalam khazanah pemikiran Islam, Yusuf Qardhawi merupakan sosok cendikiawan Islam yang produktif dalam membangun karya-karyanya. la telah mengklaim dirinya sebagai pemikir moderat dalam menginterpretasikan ajaran ajaran Islam. Salah satunya adalah dalam menginterpretasikan tentang kemiskinan yang terjadi di kalangan masyarakat Islam dan kiat-kiat menanggulanginya Dalam hal ini, Yusuf Qardhawi mengkritik tajam faham kapitalisme dan sosialis-materialistik yang berkembang di dunia Islam. Menurutnya, dua faham itu betul-betul telah gagal dalam membawa kalangan masyarakt Islam pada pembangunan yang adil dan sejahtera. Bahkan faham-faham tersebut secara sosial telah melahirkan tirani kemewahan, tirani materialistik, kerakusan terhadap dunia, kesombongan dan berbangga diri, yang menghancurkan tatanan kemanusiaan masyarakat Islam Tirani tirani ini, semakin lama semakin menjadi gurita jahat yang kaki-kakinya senantiasa menghisap kesejahteraan masyarakat Islam secara luas dan ujungnya mengarahkan pada jurang kemiskinan yang akut. Yusuf Qardhawi menegaskan jika kaum muslimin menghendaki keluar dan masalah kemiskinan yang dideritanya saat ini maka harus kembali pada sistem Islam. Diyakini oleh Yusuf Qardhawi bahwa sistem Islam sangat tegas menolak konsep kapitalisme yang telah menganggap hak kepemilikan kekayaan dapat tertumpu pada seseorang yang kaya, tanpa ada hak orang lain sedikitpun. Begitupun, Islam menolak konsep sosialis-materialistik yang telah beranggapan bahwa sistem kepemilikan individu tidak ada atau sangat dibatasi. Dalam penafsiran Yusuf Qardhawi , sistem Islam telah memandang bahwa harta kekayaan harus menjadi sarana untuk meningkatkan martabat kemanusiaan di hadapan Tuhan dan pemiliknya Sistem Islam sangat melarang untuk melakukan penindasan terhadap sesamanya. Oleh karena itu, sistem Islam menganjurkan kewajiban bagi manusia yang memiliki kekayaan terikat dengan intruksi pemiliknya (Allah), melaksanakan keputusan-Nya dan tunduk terhadap arahan-arahan-Nya dalam memelihara dan mengembangkannya, dalam menginfakkan dan mendistribusikannya. Sistem Islam dalam interpretasi Qardhawi dapat berfungsi sebagai kaidah normatif bagi adanya jaminan sosial rang yang miskin. Melalui bangunan akidah, ibadah dan akhlak, setiap muslim akan sadar bahwa dirinya harus saling tolong menolong (ta 'awun), saling mendukung (tanaasur) dan saling berkasih sayang. (taraahum) dalam setiap permasalahan yang terjadi di antara mereka. Akan tetapi, jika salah satu bangunan sistem Islam tidak dilaksanakan secara komprehensif dan integral maka akan terjadi disfungsi sosial, yang pada praksisnya tidak akan menjadi solusi bagi permasalahan ummat, termasuk dalam persoalan kemiskinan. Penelitian ini termasuk kepada jenis penelitian kasuistik teoritik (theoritical case). Oleh karena itu, sifat masalah dalam penelitian ini dapat dikategorikan kepada "ex post facto", yaitu sifat penelitian yang menganalisis masalah sesudah terjadinya sesuatu "sebab". Jenis penelitian model seperti ini merupakan bagian dari penelitian ilmu-ilmu sosial yang berangkat dari suatu keadaan yang sudah terjadi dengan cara menggunakan kepustakaan dan sejumlah catatan yang ada (library reseach) Pengambilan jenis penelitian "ex post facto" digunakan sebagai jenis penelitian yang lebih diarahkan pada pengolahan data (sumber). Data yang dimaksud adalah literatur, buku-buku atau lainnya hasil pemikiran Qardhawi yang telah menjadi sumber informasi dan kajian untuk melakukan pembahasan penelitian ini berlangsung Informasi yang dimaksud adalah masalah-masalah yang berkenaan dengan akar masalah kemiskinan, dampak dari sebab akar masalah, dan upaya penanggulangannya dalam interpretasi Qardhawi. Kemudian untuk kepentingan analisa penelitiannya adalah mengunakan pendekatan analisa struktur fungsional. Metode penelitiannya mengunakan pendekatan sejarah (historical approach) sebagai metode meneliti biografi Qardhawi dan analisis isi (content analysis). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Qardhawi patut untuk dimasukkan pada kategori pemikir sosiologi Islan mengunakan pendekatan metodologi struktur fungsional. Hal ini sangat berasalan karena dalam setiap melakukan interpretasi tentang masyarakat Islam, beliau selalu mengemukakan bahwa ia adalah sebuah sistem, yang saling berhubungan, saling ketergantungan, selalu berkembang, memiliki keseimbangan orientasi secara holistik, dan mewakili sistem-sistem kebutuhan atau fungsi-fungsi pokok yang harus ada dan berjalan dalam sebuah komunitas manusia. Dalam hal ini, struktur serta sistem sosial merupakan representasi dari fungsi atau beberapa sistem kebutuhan pokok manusia berkelompok. Dalam kitabnya "Malamih Al-Mujtama' Al-Muslim Alladzi Nasvudhuhu. Qardhawi telah menginterpretasikan bahwa masyarakat dan individu adalah satu sama lain saling mempengaruhi dan memiliki ketergantungan secara dominan Masyarakat itu tidak lain kelompok individu-individu yang mana mereka terikat dengan ikatan tertentu. Kebaikan individu adalah suatu keharusan bagi kebaikan suatu masyarakat. Oleh karena itu, individu adalah bagaikan batu bata dalam suatu bangunan, jika tidak ada kebaikan pada bangunan maka batu batanya rapuh. Tidak berfungsinya satu unsur dalam sistem masvarakat Islam atau bahkan digantinya sistem Islam oleh sistem yang lain, menurut penafsiran Qardhawi akan melahirkan al-khalal (kelemahan umat dari tujuan Islam). Inilah penyebab utama terjadinya kemiskinan di kalangan masyarakat Islam. Semakin merebaknya al khalal tersebut, mengakibatkan ummat Islam mengalami krisis kesadaran dan kehilangan identitasnya. Dalam hal ini bias-bias faham materialisme, kapitalisme, dan fatalisme telah ikut andil dalam tercerabut kekuatan masyarakat Islam dari akidah. penghambaan, akhlak dan kekuatan politik yang dapat menyelamatkan dan menyejahterakannya. Hegemoni faham faham tersebut akhirnya menjatuhkan ummat Islam jauh dari harga dirinya dalam rupa kemiskinan yang akut. Dalam interpretasi Qardhawi, untuk keluar dari kemiskinan, umat Islam harus kembali merealisasikan sistem Islam sebagai prasyarat utamanya, memaksimalkan peran pemerintah dalam menetapkan kaidah normatif ekonomi Islam, dan menguatkan kembali kesadaran masyarakat Islam untuk berpartisipasi penuh dalam membantu saudaranya yang mengalami masalah kemiskinan

    Konsep terapi bagi krisis kemanusiaan menurut Muhammad Iqbal: Studi atas pendekatan Eksistensial-Humanistik

    Full text link
    Gagasan Muhammad Iqbal mengenai konsep pribadi merupakan kreatifitas filosofis seorang intelektual muslim yang sangat mengagungkan eksistensi manusia. Selain mengandung muatan sastra, sebagaimana narasi kaum eksistensialis mempergunakan karya sastra sebagai alat mengungkapkan ide idenya, juga mengetengahkan kelana spritual, filosofis dan terapi bagi manusia ditengah gegap gempitanya pertarungan berbagai konsep dan kekuatan moral. Maka amatlah wajar, keperkasaan dan keagungan manusia sempurna (Insan Kamil) senantiasa dikumandangkan oleh Iqbal dalam karya-karyanya, dengan tujuan memberi landasan kepada manusia agar tidak tersesat dalam percaturan menjalankan siklus kehidupannya. Dan untuk itu manusia menurut Iqbal hendaknya perlu mematangkan konsep intelek-nya hingga mengetahui dan sadar akan wujud kesemestaan dirinya. Dalam konteks sekarang (baca: Modern), dunia manusia tengah terjadi perbenturan pelbagai nilai hasil permenungan filosofis serta kajian sains dan teknologi yang efeknya telah mengimbas kepelbagai segi kehidupan. Modernitas yang pernah menjadi trend wacana pembaharuan kehidupan manusia, ternyata telah menampilkan dua wajah yang antagonistik. Sisi lain modernitas telah menunjukkan kemajuan yang spektakuler di bidang Iptek dan kemakmuran fisik. Tetapi pada saat yang sama juga ia telah menampilkan masalah kemanusiaan yang buram berupa gejala kesengsaraan rohaniyah, sehingga banyak melahirkan berbagai bentuk deviasi dalam prilaku manusia, baik itu bentuknya berupa gejala sosiopatik, anomie, alienasi dan sejenisnya. Dalam situasi seperti ini, manusia modern betul-betul telah lupa siapa diri sesungguhnya, sehingga hampir-hampir masalah ini menjadi gejala umum dalam dunia modern. Manusia betul-betul telah kehilangan pijakannya yang sejati, yang mengakibatkan dirinya terlempar dari lingkaran eksistensinya. Pandangan Iqbal mengenai kondisi diatas lahir karena manusia terlalu memegang konsep hidup determinant (fatalism), sehingga dirinya tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan yang begitu cepat, keras, tidak bersahabat dan materialistik. Begitupun dikarenakan manusia tidak bisa menafsirkan konsep kebebasan dirinya, sehingga akhirnya ia mengalami frustasi eksistensial atau mengalami kehampaan eksistensial. Yang wujudnya berupa depresi, delusi, alienasi, isolasi, depersonalisasi, keterasingan dan kesepian Lahimnya karya-karya Iqbal mengenai konsep pribadi adalah merupakan jawaban dari pihak yang mulai mempertanyakan kembali validitas konsep manusia yang selama ini dipahami, Humanisme dan Eksistensialisme. Gagasan ini juga lahir dari kerinduan yang dalam untuk mencari jawaban atas derita kemanusiaan modern yang mulai dijangkiti penyakit krisis kemanusiaan. Dalam persoalan ini Iqbal mengambarkan, "bahwa kondisi saat ini telah banyak orang yang teralienasi ala Neitzche, tergeneralisasi ala Fyioder Dostoyevski, tetapi orang yang senantiasa membawa lentera ditangannya sangat susah dican dizaman sekarang modern ini. Penyakit ini bukan saja telah melupakan manusia pada jati dinnya tetapi juga membuat manusta mesti mempertanyakan kembali wund kesemestaan dinnva ditengah peraturan hidup dan kehidupannya". Bagi Muhammad Iqbal dalam menghadapi masalah diatas adalah manusia mesti berbicara mengenai kemungkinan tak terbatas untuk berkembang secara horizon spritual. Diskursus ini dimungkinkan dapat mengembalikan manusia pada arti kemanusiaannya sebagai pusat eksistensi dan dari lingkungan kosmisnya sebagai makhluk Tuhan. Manusia harus menjadi manusia, bukan menjadi apapun. Maka manusia harus merenungkan kembali makna kehadiran dan kehidupannya sendiri, ia harus mempertanyakan lagi: Apa, siapa dan bagaimana manusia dalam pertemuannya dengan berbagai konstelasi kultural dan konsep. Sebab menurutnya manusia bukan seonggok materi, mesin ataupun hanya memiliki pengetahuan kuantitatif belaka, tetapi manusia juga diberi kebebasan untuk mengembangkan pengalaman manusiawinya yang berlimpah, yakni kemampuan untuk merintis jalan sebagai salah satu alat yang luar biasa yang disusun untuk mendeskripsikan subjektifitasnya. Dengan demikian manusia diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya, memilih takdirnya atau menyelamatkan dirinya dari akibat keterpurukan dalam kehidupannya. Dan tema-tema kebebasan beraktifitas, berkreatif serta mengembangkan diri inilah yang menjadi inspirasi bagi karya-karya Muhammad Iqbal dalam memberikan solusi terapi bagi keluarnya manusia dari kancah krisis kemanusiannya. Dengan kebebasan ini juga manusia dapat secara mudah melewati halangan-halangan ruang dan waktu yang destruktif menuju manusia agung (Insan) kamil). Oleh karena itu bagi Muhammad Iqbal, kebebasan harus dipandang dalam arti aktivitas kreatif yang bebas dan modus eksistensi manusia untuk menjadikan dirinya dapat bermakna dalam menjalankan kehidupannya. Akan tetapi perlu disadari oleh manusia bahwa aktifitas kreatif bebas tersebut merupakan implementasi dari gagasan Ilahiyah. Melalui sudut pandang inilah Muhammad Iqbal membentuk opini terapi bagi krisis kemanusiaan dalam karya-karyanya, yang ditegaskannya sebagai sebuah pencarian makna didalam absurditas, yakni suatu upaya untuk mencari pijakan yang aman bagi manusia dalam menghadapi situasi dan nilai kehidupan yang berubah. Persfektif tersebut merupakan kontemplasi eksistensialis-humanistik Muhammad Iqbal, yakni memberikan pijakan kepada pengalaman manusia yang terkena dilema krisis kemanusiaan dan untuk mengobatinya harus didasarkan pada paradigma dunia pribadinya. Aspek terapeutiknya lebih digerakkan kearah pemahaman diri yang intensif tentang dinamika-dinamika yang bertanggung jawab atas terjadinya krisis krisis kehidupan manusia. Dan dengan memberi penekanan pada kesadaran diri, kebebasan dan tanggung jawab serta penciptaan makna bagi diri manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluk yang memiliki potensi kreatif yang bebas

    Gerakan Modernisme menuju Liberalisme: Dinamika Politik Identitas di Indonesia

    Full text link
    “Gerakan Islam Liberal sebenarnya adalah lanjutan dari pada gerakan modernisme Islam yang muncul pada awal abad ke-19 di dunia Islam sebagai suatu konsekuensi interaksi dunia Islam dengan tamaddun barat. Modernisme Islam tersebut dipengaruhi oleh cara berfikir barat yang berasaskan kepada rasionalisme, humanisme, sekularisme dan liberalisme. Dalam perkembangan selanjutnya, gerakan liberalisme ini telah menjadi politik identitas di Indonesia. Gerakannya melalui berbagai media bahkan melakukan penekanan terhadap partai dan pemerintahan untuk menawarkan berbagai gagasan-gagasan kehidupan yang sekuleris dan pluralis agar dijadikan sebagai kebijakan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara”
    corecore