1,720,999 research outputs found
EMERINTAHAN KESHOGUNAN DI JEPANG TAHUN 1192-1867
Pemerintahan Keshogunan di Jepang Tahun 1192-1867; Edy Supriyadi,
100210302061; 2014; xvi +126 halaman; Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jember.
Latar belakang masalah yaitu pada saat pemerintahan oleh kaisar memburuk
dan kaisar tidak mampu menguasai pemerintahan sehingga para daimyo semakin kuat
dan saling berebut kekusaan. Akhirnya Kaisar mengangkat seorang Shogun sebagai
kepala pemerintahan Jepang.
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) latar belakang dan
awal munculnya pemerintahan Shogun di Jepang; (2) sistem pemerintahan Shogun di
Jepang; (3) kebijakan-kebijakan pemerintahan Shogun di Jepang; (4) berakhirnya
pemerintahan Shogun di Jepang. Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis adalah (1)
Untuk mengkaji lebih mendalam tentang latar belakang dan awal munculnya
pemerintahan Shogun; (2) Untuk menganalisis lebih mendalam tentang sistem
pemerintahan Shogun; (3) Untuk mengkaji lebih mendalam tentang kebijakankebijakan
pemerintahan Shogun; (4) Untuk menganalisis lebih mendalam tentang
berakhirnya pemerintahan Shogun.
Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1) Bagi mahasiswa
calon guru sejarah, dapat menambah wawasan tentang sejarah Asia Timur khususnya
mengenai pemerintahan keshogunan di Jepang; (2) Bagi almamater, dapat memberi
informasi dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan sebagai wujud nyata dalam
rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Dharma Penelitian. Metode
yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yang terdiri dari
pemilihan topik, heuristik, kritik (verifikasi), interpretasi, dan historiografi.
Hasil dan pembahasan yaitu berdirinya pemerintahan oleh shogun
dikarenakan kondisi negara yang memburuk dan kemerosotan ekonomi masyarakat
dikarenakan beban pajak yang tinggi, disamping juga terjadinya perebutan kekuasaan
vii
oleh para daimyo menyebabkan jatuhnya pemerintahan oleh kaisar dan digantikan
pemerintahan oleh shogun. Pemerintahan Shogun yang berlangsung selama 676 tahun
runtuh karena disebabkan dua faktor yaitu faktor luar negeri dan faktor dalam negeri.
Faktor luar negeri yaitu masuknya bangsa Barat ke Jepang yang semula bangsa
Jepang menerapkan politik sakoku, sehingga memperlihatkan bahwa pemerintahan
keshogunan tidak bisa melindungi bangsa Jepang dari bangsa asing. Faktor dalam
negeri yaitu timbulnya ketidakpuasan masyarakat Jepang terhadap pemerintahan
keshogunan karena masuknya bangsa asing, sehingga memunculkan 2 golongan yang
saling bertentangan. Setelah kaisar dirasa tidak mampu menangani kondisi negara,
akhirnya pemerintahan keshogunan mengembalikan pemerintahan kepada Kaisar.
Kesimpulan yang dapat diambil dari Jepang pada masa pemerintahan
keshogunan adalah: (1) kemunduran pemerintahan kaisar karena kondisi negara yang
memburuk dan kaisar tidak mampu menguasai pemerintahan, sehingga daimyo yang
paling kuat Minamoto Yoritomo bisa menguasai negara, maka pemerintahanpun
diserahkan pada Shogun; (2) sistem pemerintahan keshogunan adalah kendali
pemerintahan dipegang oleh Shogun sedangkan Kaisar hanya sebagai lambang atau
simbol negara saja; (3) kebijakan-kebijakan pemerintahan keshogunan membagi
status sosial dalam masyarakat, membagikan tanah kepada para daimyo, mengawasi
hubungan dengan Kaisar, dan mengawasi para daimyo; (4) berakhirnya pemerintahan
keshogunan karena masuknya bangsa Barat yang memaksa untuk membuka Jepang
terhadap bangsa asing, sehingga menimbulkan pro dan kontra bagi rakyat Jepang
sehingga memunculkan 2 golongan yang saling bertentangan. Setelah dirasa
pemimpin Shogun tidak dapat mengendalikan Jepang maka pemerintahanpun
diserahkan kepada kaisar.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang peneliti kemukakan yaitu:
(1) bagi mahasiswa calon guru sejarah, hendaknya selalu menambah wawasan
tentang materi kesejarahan dalam pendidikan sehingga dapat menunjang
profesionalismenya sebagai guru sejarah yang profesional; (2) bagi almamater
viii
hendaknya dapat lebih baik lagi dalam memberikan informasi dalam rangka
pengembangan ilmu pengetahuan
PERCOBAAN EKONOMI UNTUK MENGKAJI PENGARUH INFORMASI SERTA JUMLAH PENJUAL DAN PEMBELI DALAM TRANSAKSI PASAR
Pasar persaingan sempurna (PPS) merupakan struktur pasar yang paling ideal karena dianggap sistem
pasar ini akan menjamin terwujudnya kegiatan memproduksi harang-barang dan jasa-jasa yang sangat tinggi
efisiensinya dibandingkan dengan struktur pasar yang lain seperti monopoli. Karena sifatnya menguntungkan
bagi penjual dan pembeli, seringkali para ekonom mengharapkan terciptanya pasar persaingan sempurna. Pola
transaksi dalam kehidupan sehari dan, ada berbagai transaksi pasar yang biasa ditemui. diantaranya adalah
sistem desentralisasi (DT), Double Auction (DA). Makalah ini menyajikan penggunaan metode percobaan untuk
mengkaji karakteristik kedua sistem transaksi tersebut dalam “pasar persaingan sempurna (5 penjual dan 5
pembeli” dan pasar monopoli (dengan 1 penjual dan 5 pembeli). Respon yang diamati yaitu Contract Price
(CP), efisiensi pasar, koefisien keragaman CP terhadap harga keseimbangan, surplus pembeli dan surplus
penjual. Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa rata-rata Contract Price (CP) selama 5 periode percobaan
terdapat bahwa nilai CP pada Pasar Persaingan Sempurna lebih kecil dibandingkan dengan Pasar monopoli.
Tingkat Efisiensi antar tipe transaksi terlihat bahwa tipe transaksi Double Auction lebih efisien dibandingkan
dengan tipe transaksi Desentralisasi
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
