1,721,001 research outputs found
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Siklus Menstruasi pada Remaja Putri di MAN 1 Medan Tahun 2022
Background Menstruation is bleeding from the uterus that occurs periodically and
cyclically, this is due to the release (desquamation) of the endometrium due to
ovarian hormones (estrogen and progesterone) decreased, especially
progesterone, at the end of the ovarian cycle, usually starting about 14 days after
ovulation. Menstrual disorders can be influenced one of them by nutritional status.
BMI (body mass index) is one measure to predict the percentage of fat in the human
body. BMI is also closely related to nutritional status . Objectives The purpose of
this study was to determine the relationship between body mass index and
menstrual cycle in adolescent girls in MAN1 Medan in 2022. Methods This study
used total sampling technique. Body mass index (BMI) Data is measured through
body anthropometry by measuring body weight in kilograms and height in
centimeters. BMI data is processed according to the formula for measuring body
mass index according to age and differentiated into categories of thin, normal and
fat. Result Data acquisition between Body Mass Index and menstrual cycle in
adolescent girls in MAN 1 Medan is p = 0.293. Conclutions There is no
relationship between Body Mass Index and menstrual cycle in adolescent girls in
MAN 1 Medan with p value = 0.293 and there is a very weak correlation with r
value = 0.059.93 HalamanSkripsi Sarjan
Gambaran Tingkat Pengetahuan Siswa Kelas XII SMAN 1 Bangkinang Kota-Riau Mengenai Hiv/Aids Tahun 2021
Latar Belakang. HIV (Human Immunodeficiency Virus) dapat ditularkan melalui hubungan sexual, transfuse darah, berbagi jarum suntik dan dari ibu ke anak selama proses persalinan dan menyusui dan akhirnya dapat menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). HIV/AIDS telah menjadi masalah besar di dunia termasuk di Indonesia. Pengetahuan tentang HIV/AIDS dapat mengurangi kasus dan dapat mencegah diri dari hal yang beresiko kegiatan yang menularkan HIV/AIDS. Tujuan. Mengetahui GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN SISWA KELAS XII SMAN 1 BANGKINANG KOTA-RIAU MENGENAI HIV/AIDS TAHUN 2021. Metode. Penelitian ini menggunakan design cross-sectional yang bersifat deskriptif. Populasi penelitian ini siswa kelas XII SMAN 1 Bangkinang Kota tahun ajaran 2021/2022 dengan cara pengambilan sampel total sampling.kemudian dilakukan perhitungan persentasi berdasarkan kelompok. Hasil. Dari hasil penelitian, diperoleh tingkat pengetahuan siswa-siswi kelas XII SMAN 1 Bangkinang Kota pada kategori baik 163 orang (46%), cukup s 157 orang (44.4%), kurang 34 orang (9.6%). Kesimpulan. Siswa-siswi kelas XII SMAN 1 Bangkinang Kota memiliki pengetahuan yang baik mengenai HIV/AIDS.Background. HIV (Human Immunodeficiency Virus) can be transmitted through sexual intercourse, blood transfusion, sharing needles and from mother to child during childbirth and breastfeeding and can eventually cause AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). HIV/AIDS has become a big problem in the world, including in Indonesia. Knowledge of HIV/AIDS can reduce cases and can prevent oneself from risky activities that transmit HIV/AIDS. Objectives. Knowing the DESCRIPTION OF THE KNOWLEDGE LEVEL OF XII CLASS STUDENTS OF SMAN 1 BANGKINANG KOTA-RIAU ABOUT HIV/AIDS IN 2021. Method. This study used a descriptive cross-sectional design. The population of this research is the class XII students of SMAN 1 Bangkinang Kota for the academic year 2021/2022 by taking total sampling. then do the calculation of the percentage based on the group. Results. From the results of the study, it was found that the level of knowledge of class XII students of SMAN 1 Bangkinang Kota in the good category was 163 people (46%), enough was 157 people (44.4%), less than 34 people (9.6%). Conclusion. Class XII students of SMAN 1 Bangkinang Kota have good knowledge about HIV/AIDS.81 HalamanSkripsi Sarjan
Pengaruh Monosodium Glutamate terhadap Peningkatan Berat Badan pada Hewan Uji Coba Tikus
Background: Obesity, as defined by the WHO is an abnormal fat consolidation or excessive fat deposit. Those excessive fat deposits, has been known to be the risk factors for several diseases such as Type 2 Diabetes or Coronary Heart Disease. One of the factors for the spread of the obesity epidemic is the evolution of food technology. Now more than ever, food has been able to improve on its tastes or its appearance due to additives. One such additives, is known to improve the taste of the food which is Monosodium Glutamate or MSG. Purpose: To understand the effects of Monosodium Glutamate on weight gain and food intake of the test animals. Methods: This is a simple experimental design with posttest only method. Results: There is no discernible links between Monosodium Glutamate on weight gain, food intake or subcutaneous fat deposits. Conclusion: From this experiment, there is no found discernible link between MSG on weight or food intake of the test animals.Latar belakang Obesitas yang berdasarkan definisi WHO merupakan penumpukan lemak yang tidak normal ataupun berlebihan. Timbunan lemak yang berlebihan tersebut menjadi faktor resiko penyakit seperti DM tipe 2 maupun PJK.. Salah satu yang menjadi faktor pencetus wabah obesitas adalah peningkatan teknologi makanan terutama zat aditif yang dapat membuat makanan semakin menarik dan meningkatkan rasa makanan seperti Monosodium Glutamate. Tujuan: Mengetahui efek MSG terhadap peningkatan berat badan dan efeknya terhadap intake pakan tikus.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen sederhana dengan metode posttest only. Hasil: Tidak ditemukan pengaruh yang signifikan pada konsumsi MSG terhadap berat badan, intake pakan maupun penimbunan lemak subkutis. Kesimpulan : Setelah pelaksanaan penelitian, tidak ditemukan hubungan maupun pengaruh yang kuat Monosodium glutamate terhadap kenaikan berat badan maupun intake pakan hewan coba.61 HalamanSkripsi Sarjan
Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Preeklampsia di Puskesmas Padang Bulan Kota Medan
Background: Hypertensive disorders of pregnancy, including preeclampsia affects up to 10% of pregnancies in the world. This disorder is one of the biggest causes of maternal and perinatal morbidity and mortality worldwide. Maternal Mortality Rate (MMR) is one indicator to see the degree of women's health. Limited access to health services is one of the causes of maternal mortality due to preeclampsia in developing countries. Preeclampsia should be detected and appropriately administered before the onset of seizures (eclampsia) and other life-threatening complications. Objective: To determine the level of knowledge of pregnant women about preeclampsia. Method: This research is a descriptive study method with cross sectional design. The subjects of this study were pregnant women who examined their pregnancy in Puskesmas Padang Bulan and sampling was done by consecutive sampling technique. The instruments of this research is a questionnaire containing 12 questions. Result: The result of this study from 100 respondent showed 53 respondents (53,0%) had a good knowledge level about preeklampsia. 39 respondents (39,0%) had average level of knowledge about preeclampsia and 8 respondents (8.0%) had low level of knowledge about preeclampsia. Summary: The Pregnant women of Puskesmas Padang Bulan had a good level of knowledge about preeclampsia.Latar Belakang: Hipertensi dalam kehamilan, termasuk preeklampsia mempengaruhi hingga 10% kehamilan di dunia. Kelainan ini merupakan salah satu penyebab terbesar morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal di seluruh dunia. Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Keterbatasan akses pelayanan kesehatan merupakan salah satu hal yang menyebabkan kematian ibu akibat preeklampsia di negara berkembang. Preeklampsia harus dideteksi dan tepat dikelola sebelum timbulnya kejang (eklampsia) dan komplikasi yang mengancam jiwa lainnya.Tujuan:Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang preeklampsia. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan desain cross sectional. Subjek penelitian ini adalah ibu hamil yang memeriksakan kandungannya di Puskesmas Padang Bulan dan pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalh kuesioner yang berisi 12 pertanyaan. .Hasil: Dari hasil penelitian dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden diperoleh sebanyak 53 responden (53,0%) memiliki tingkat pengetahuan baik tentang preeklampsia. 39 responden (39,0%) memiliki tingkat pengetahuan cukup tentang preeklampsia dan 8 responden (8,0%) memiliki tingkat pengetahuan kurang tentang preeklampsia. Kesimpulan: Ibu hamil di Puskesmas Padang Bulan memiliki tingkat pengetahuan baik tentang preeklampsia.Skripsi Sarjan
The Relationship Between The Level of Knowledge of Vaginal Discharge (Flour Albus) with The Behavior of Preventing Vaginal Discharge in Adolescent Girls at MAN 2 Pekanbaru
Introduction. Vaginal discharge (Fluor Albus) is a fluid that comes out of the female external genitalia and is not blood, which is divided into physiological (normal) and pathological (abnormal) vaginal discharge. Objective. To determine the relationship between the level of knowledge of vaginal discharge with vaginal discharge prevention behavior in adolescent girls at MAN 2 Pekanbaru. Methods. This study used a cross sectional design, with a total sampling technique of 170 adolescent girls in class X at MAN 2 Pekanbaru. Data were obtained from primary data using questionnaires distributed directly to respondents. Results. Adolescent girls at MAN 2 Pekanbaru have more good knowledge about vaginal discharge. Adolescents with good knowledge about vaginal discharge had more good preventive behavior about vaginal discharge (92.4%), while adolescents with adequate knowledge about vaginal discharge had more adequate preventive behavior about vaginal discharge (4.1%). Based on statistical analysis using the Fisher Exact Test, the sig value is 0.000 (sig <0.05), so there is a significant relationship between the level of knowledge and the preventive behavior of vaginal discharge in adolescent girls. Conclusion. This study found a relationship between the level of knowledge of vaginal discharge and the behavior of preventing vaginal discharge in adolescent girls at MAN 2 Pekanbaru.116 PagesSkripsi Sarjan
Gambaran Tingkat Pengetahuan Mahasiswa/I Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun 2017 terhadap Penularan HIV/AIDS dari Ibu ke Anak
Background. HIV / AIDS is a disease that has been a global problem for a long time. In 2018, there were 37.9 million people in the world who were infected by HIV and 1.7 million were children. Indonesia is the 5th country most at risk of being infected by HIV / AIDS in Asia. Without awareness of prevention and treatment, HIV will develop into AIDS in the next few years. Lack of awareness and knowledge about MTCT, which causes more than 90% of new HIV infections among children, maternal knowledge about prevention of mother-to-child transmission of HIV is essential for using available prevention options. A good level of knowledge can prevent HIV/AIDS from occuring and HIV transmission to children. Objective. To determine the level of knowledge of students from the Faculty of Medicine, University of Sumatera Utara class of 2017 on mother-to-child HIV transmission. Methods. The study was conducted using an online survey method with a cross sectional design. The samples in this study were all students of the Faculty of Medicine, University of North Sumatra who met the inclusion and exclusion criteria based on the total sampling method. This study uses unvariate analysis to see a descriptive picture and the data used are primary data sourced from online questionnaires. Result. From the research results, it was obtained that the level of knowledge of students of the Faculty of Medicine, University of Sumatera Utara class of 2017 was in the good category of 128 people (63.7%), moderate 67 people (33.3%), and less 6 people (3%). Conclusion. Students of the Faculty of Medicine, University of North Sumatra class of 2017 have a good knowledge of mother-to-child transmission of HIV.Latar Belakang. HIV/AIDS adalah salah satu penyakit yang telah menjadi masalah global sejak lama. Pada tahun 2018, terdapat 37,9 juta orang di dunia yang terinfeksi oleh HIV dan 1,7 juta adalah anak-anak. Indonesia merupakan Negara ke-5 paling berisiko untuk terinfeksi oleh HIV/AIDS di Asia.Tanpa adanya kesadaran akan pencegahan dan pengobatan,HIV akan berkembang menjadi AIDS dalam beberapa tahun kemudian. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang MTCT, yang menyebabkan lebih dari 90% infeksi HIV baru di antara anak-anak Pengetahuan ibu tentang pencegahan penularan HIV dari ibu-ke-bayi sangat penting untuk menggunakan opsi pencegahan yang tersedia.Tingkat pengetahuan yang baik dapat mencegah terjadinya HIV/AIDS dan penularan HIV kepada anak. Tujuan. Mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2017 terhadap penularan HIV dari ibu ke anak. Metode Penelitian. Penelitian yang dilakukan adalah menggunakan metode survey online dengan desain cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa-mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi berdasarkan metode total sampling. Penelitian ini menggunakan analisis univariat untuk melihat gambaran deskriptif dan data yang digunakan adalah data primer yang bersumber dari kuisioner online. Hasil. Dari hasil penelitian, diperoleh tingkat pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2017 pada kategori baik 128 orang (63,7%), cukup 67 orang (33,3 %), dan kurang 6 orang (3%). Kesimpulan. Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2017 memiliki pengetahuan yang baik mengenai penularan HIV dari ibu ke anak.94 HalamanSkripsi Sarjan
Akurasi USG Menggunakan Teknik “Sliding Sign” dalam Menentukan Derajat Endometriosis
To analyze the accuracy of ultrasound using sliding sign technique in determining the degree
of endometriosis
Method:
This research was an observational analytic study analyzed by diagnostic tests to obtain
sensitivity, specificity, positive and negative predictive values, positive likelihood ratios,
negative likelihood ratios and accurate values of the use of ultrasound modalities with sliding
sign techniques performed at H. Adam Malik General Hospital Medan and Network Hospital
of the Faculty of Medicine, University of North Sumatra, Medan with a sample of 50 people
from August 2019 to October 2019 taken by consecutive sampling.
Result:
In studies involving as many as 55 research samples. Based on the graph, the sensitivity of
the sliding sign was 80.7%, specificity 89.6%. Positive predictive value of 87.5% and
negative predictive value of 83.8%. AUC value on sliding sign examination with the severity
of endometriosis obtained AUC of 0.852 with a P value <0.001.
Conclusion:
Sliding sign has a qualified value to be used as a modality for diagnosing grade III-IV
endomteriosis given the high sensitivity and specificity values as well as positive predictive
values and high negative predictive values.Tujuan:
Untuk menentukan akurasi USG menggunakan teknik sliding sign dalam menentukan derajat
endometriosis.
Metode:
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional yang dianalisis dengan uji
diagnostik sehingga didapatkan nilai sensitifitas, spesifisitas, nilai prediksi positif dan negatif,
rasio kemungkinan positif, rasio kemungkinan negatif dan nilai akurasi penggunaan
modalitas USG dengan teknik sliding sign yang di lakukan di RSUP H. Adam Malik Medan
dan RS Jejaring Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan dengan jumlah
sampel 50 orang dari bulan Agustus 2019 sampai bulan Oktober 2019 yang diambil secara
consecutive sampling.
Hasil:
Pada penelitian yang melibatkan sebanyak 55 sampel penelitian. Berdasarkan grafik,
didapatkan nilai sensitivitas dari sliding sign sebesar 80,7% , spesifisitas 89,6%. Nilai
prediksi positif sebesar 87,5% dan nilai prediksi negatif sebesar 83,8%. Nilai AUC pada
pemeriksaan sliding sign dengan derajat endometriosis didapatkan AUC sebesar 0.852
dengan nilai P < 0.001.
Kesimpulan:
Sliding sign memiliki nilai yang mumpuni untuk dijadikan modalitas untuk mendiagnosa
endomteriosis derajat III-IV mengingat nilai sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi serta nilai
prediksi positif dan nilai prediksi negatif yang tinggi.99 HalamanTesis Magiste
Prediksi Kejadian Anak Sebar Kelanjar Getah Bening Pelvik pada Kanker Leher Rahim
Tujuan : Mencari hubungan besar lesi kanker serviks yang dapat diketahui praoperatif
dan jenis histologi dengan kemungkinan penyebaran kelenjar getah bening dan tepi
sayatan vagina bebas tumor.
Rancangan Penelitian : Penelitian dilakukan secara analitik deskriftif dengan
mengevaluasi data catatan medik penderita kanker serviks yang menjalani operasi
histerektomi radikal di RS H. Adam Malik Medan mulai dari 1 Juni 2007 hingga 31 Mei
2012.
Hasil Penelitian: Dalam kurun waktu lima tahun mulai 1 Juni 2007 hingga 31 Mei 2012,
di RS H. Adam Malik Medan telah dilakukan sebanyak 56 tindakan histerektomi radikal
atas indikasi pre operatif suatu kanker serviks. Namun dari hasil pemeriksaan
histopatologi jaringan pasca operatif, hanya 49 terbukti sebagai kasus kanker serviks.
Penderita kanker serviks yang menjalani histerektomi radikal sebanyak 59,2% berusia
35-50 tahun dan 71,% dalam stadium I, masing masing 34,7% stadium 1B1 dan 36,7%
stadium 1B2. Median usia 46 tahun dan kasus berusia 20 - 34 tahun sebesar 12,3%.
Usia termuda 27 tahun dengan stadium IIA2 tanpa anak sebar kelenjar getah bening
pelvik dan tepi sayatan vagina bebas tumor. Usia tertua 73 tahun dengan stadium 1B1
tetapi dengan penyebaran ke kelenjar getah bening pelvik.
Pengelompokan ukuran lesi tumor menjadi::. 4 cm atau lebih, tidak dijumpai hubungan
yang bermakna antara ukuran lesi tumor dengan penyebaran kelenjar getah bening
pelvik dengan p > 0,05 (p = 0,796). Juga tidak dijumpai hubungan bermakna antara
besarnya ukuran tumor dan kemungkinan tepi sayatan vagina tidak bebas tumor dengan
p > 0,05 ( p = 0,275).
Tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara jenis histologi dengan kejadian
metastase kelenjar getah bening pelvik dengan p > 0,05 (p = 0,094 ). Dan juga tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara stadium dan metastase kelenjar getah bening
pelvik dengan p > 0,05 (p = 0,480).
Kesimpulan : Tidak dijumpai hubungan bermakna secara statistik antara ukuran tumor
dan jenis histologi dengan kemungkinan penyebaran kelenjar getah bening pelvik41 HalamanTesis Magiste
Ekspresi P53 pada Endometrioma Dibandingkan Karsinoma Ovarium Tipe 1
Introduction : Endometrioma is one type of endometriosis that located on
the ovarium. Although endometriosis considered as a benign lesion, but it
shown that endometriosis can be as a precursor lesion for occurrence of
several subtypes of ovarian cancer, especially ovarian cancer type 1. This
is due to biomolecular characteristics of the endometriosis in common with
cancer, one of which is the ability in defense (resistance) against
apoptosis which can be seen from the overexpression of Bcl-2 (antiapoptotic),
low expression of pro-apoptotic (Bax) and inactivation of p53
(pro-apoptotic). This is the reason for researchers to see whether there are
difference in p53 expression in endometrioma tissue compared with
ovarian carcinoma type 1.
Objective:To determine whether there are difference in p53 protein
expression between endometriomas and ovarian carcinoma type 1.
Methods : This study is a descriptive observational study with cross
sectional approach. The subjects were paraffin blocks from ovarian
carcinoma type 1 and endometriomas patients from Adam Malik Hospital.
The number of each group are 25 samples and the sample was examined
by immunohistochemistry for p53 expression. The data was collected and
tabulated and then analyzed with the Mann-Whitney test.
Result Endometrioma is most common in women with aged <40 years
with 15 samples (60%), and nuliparous women with 19 samples (72%).
While ovarian carcinoma type 1 is most common in women at aged > 40
years for 18 samples (72%) and multiparous women 11 samples (44%).
The difference was significant for expresion of p53 ( mean+SD) between
endometrioma (0.36 + 0.86) with ovarian carcinoma type 1 (3.08 + 3.16)
with p value = 0.0001.
Conclusion This study shows that there was a significant difference of
ekspresion of p53 between endometrioma and ovarian carcinoma type 1.Latar belakang: Endometrioma adalah endometriosis yang berkembang
pada ovarium. Walaupun endometriosis adalah lesi yang jinak, namun
data menunjukkan bahwa endometriosis dapat menjadi lesi prekusor
untuk terjadinya beberapa subtipe dari kanker ovarium, terutama kanker
ovarium tipe 1. Hal ini disebabkan karena endometriosis memiliki
kesamaan karakteristik biomolekular dengan kanker yang salah satunya
adalah kemampuannya dalam bertahan (resistensi) terhadap proses
apoptosis yang dapat dilihat dari overekspresi dari Bcl-2 ( anti-apoptosis),
ekspresi yang rendah dari pro-apoptosis ( Bax ) dan inaktivasi dari p53
(pro-apoptosis). Hal ini yang menjadi alasan bagi peneliti untuk melihat
apakah terdapat perbedaan ekspresi p53 pada jaringan endometrioma
dibandingkan dengan karsinoma ovarium tipe 1.
Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada perbedaan ekspresi protein p53
antara endometriosis (endometrioma) dan karsinoma ovarium tipe 1.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional dengan
pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah blok parafin
penderita endometrioma dan karsinoma ovarium tipe1 dengan jumlah
sampel masing-masing sebanyak 25 sampel dan dilakukan pemeriksaan
ekspresi secara imunohistokimia terhadap p53. Data yang terkumpul
ditabulasi dan kemudian dianalisa dengan test Mann-Whitney.
Hasil: Endometrioma paling sering terjadi pada wanita usia < 40 tahun
sebesar 15 sampel ( 60%) dan wanita nulipara 19 sampel (76%).
Sedangkan karsinoma ovarium paling sering terjadi pada wanita usia > 40
tahun sebesar 18 sampel ( 72%) dan wanita multipara 11 sampel ( 44%).
Ada perbedaan bermakna skor ekspresi p53 (mean + SD) antara
endometrioma ( 0,36 + 0,86) dengan karsinoma ovarium tipe 1 ( 3,08 +
3,16) dengan nilai p = 0,0001.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan
bermakna ekspresi p53 pada endometrioma bila dibandingkan dengan
karsinoma ovarium tipe 1.91 HalamanTesis Magiste
Prediksi Kejadian Anak Sebar Kelanjar Getah Bening Pelvik pada Kanker Leher Rahim
Tujuan : Mencari hubungan besar lesi kanker serviks yang dapat diketahui praoperatif
dan jenis histologi dengan kemungkinan penyebaran kelenjar getah bening dan tepi
sayatan vagina bebas tumor.
Rancangan Penelitian : Penelitian dilakukan secara analitik deskriftif dengan
mengevaluasi data catatan medik penderita kanker serviks yang menjalani operasi
histerektomi radikal di RS H. Adam Malik Medan mulai dari 1 Juni 2007 hingga 31 Mei
2012.
Hasil Penelitian: Dalam kurun waktu lima tahun mulai 1 Juni 2007 hingga 31 Mei 2012,
di RS H. Adam Malik Medan telah dilakukan sebanyak 56 tindakan histerektomi radikal
atas indikasi pre operatif suatu kanker serviks. Namun dari hasil pemeriksaan
histopatologi jaringan pasca operatif, hanya 49 terbukti sebagai kasus kanker serviks.
Penderita kanker serviks yang menjalani histerektomi radikal sebanyak 59,2% berusia
35-50 tahun dan 71,% dalam stadium I, masing masing 34,7% stadium 1B1 dan 36,7%
stadium 1B2. Median usia 46 tahun dan kasus berusia 20 - 34 tahun sebesar 12,3%.
Usia termuda 27 tahun dengan stadium IIA2 tanpa anak sebar kelenjar getah bening
pelvik dan tepi sayatan vagina bebas tumor. Usia tertua 73 tahun dengan stadium 1B1
tetapi dengan penyebaran ke kelenjar getah bening pelvik.
Pengelompokan ukuran lesi tumor menjadi::. 4 cm atau lebih, tidak dijumpai hubungan
yang bermakna antara ukuran lesi tumor dengan penyebaran kelenjar getah bening
pelvik dengan p > 0,05 (p = 0,796). Juga tidak dijumpai hubungan bermakna antara
besarnya ukuran tumor dan kemungkinan tepi sayatan vagina tidak bebas tumor dengan
p > 0,05 ( p = 0,275).
Tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara jenis histologi dengan kejadian
metastase kelenjar getah bening pelvik dengan p > 0,05 (p = 0,094 ). Dan juga tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara stadium dan metastase kelenjar getah bening
pelvik dengan p > 0,05 (p = 0,480).
Kesimpulan : Tidak dijumpai hubungan bermakna secara statistik antara ukuran tumor
dan jenis histologi dengan kemungkinan penyebaran kelenjar getah bening pelvik41 HalamanTesis Magiste
- …
