114 research outputs found
Peran Kalsium dalam Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
Peran Kalsium dalam Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana L.). Dibimbing oleh Roedhy Poerwanto, Darda Efendi dan Ade Wachjar. Cemaran getah kuning menjadi salah satu masalah utama dalam produksi buah manggis. Cemaran getah kuning pada buah manggis akan mempengaruhi tampilan dan rasa buah manggis. Cemaran getah kuning terjadi saat getah ini keluar dari salurannya yang pecah dan mengotori aril (daging buah) atau kulit buah manggis. Pecahnya saluran getah terjadi karena sel-sel epitel penyusun saluran getah kuning mendapat tekanan. Dinding sel yang lemah dan mudah pecah diduga akibat dinding sel-sel epital saluran getah kuning kekurangan kalsium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari: (1) sumber dan dosis kalsium, (2) boron, (3) waktu aplikasi kalsium berdasarkan stadia pertumbuhan dan perkembangan buah, (4) aplikasi LRB, terhadap penurunan cemaran getah kuning pada buah manggis, (5) mendapatkan teknik optimasi serapan dan tranlokasi kalsium ke jaringan buah terbaik terhadap penurunan cemaran getah kuning pada buah manggis, serta (6) mendapatkan Model hubungan jaringan xylem pada pedisel dan tingkat pertumbuhan akar muda tanaman manggis. Penelitian dilakukan di kebun manggis Kelompok Tani Manggis Karya Mekar, di Kampung Cengal, Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Lokasi penelitian terletak pada ketinggian 390-398 m di atas permukaan laut (dpl). Penelitian berlangsung selama 36 bulan sejak persiapan hingga pangambilan data, yaitu dimulai pada bulan Maret 2011 hingga April 2014. Pengukuran fisik buah dilaksanakan di Laboratorium Pasca Panen IPB. Foto morfologi jaringan batang, tangkai buah dan kulit buah di Laboratorium Mikroteknik, IPB. Analisis kalsium kulit buah dilakukan di Laboratorium Tanah, Balai Penelitian Tanah, Bogor. Penelitian ini terdiri atas tiga percobaan yang terpisah, yaitu (1) Aplikasi Kalsium dan Boron untuk Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana), (2) Aplikasi Kalsium Berdasarkan Stadia Pertumbuhan Buah untuk Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana), dan (3) Aplikasi Kalsium dan Teknologi lubang resapan biopori untuk Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana). Masing-masing percobaan dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan tiga ulangan. Aplikasi kalsium dan boron terbukti mampu menurunkan persentase buah tercemar dan skor cemaran getah kuning pada aril dan kulit buah, baik pada tahun pertama maupun pada tahun kedua percobaan. Boron memiliki fungsi yang sama didalam meningkatkan kekuatan dinding sel seperti halnya kalsium. Oleh karena itu dalam kombinasi aplikasi kalsium + boron, unsur boron akan mendukung fungsi dari kalsium dalam peningkatan kekuatan dinding sel-sel epitel sel saluran getah kuning. Peningkatan kekuatan dinding sel-sel epitel akan mengurangi resiko pecahnya saluran getah kuning dan menurunkan persentase buah tercemar dan skor cemaran getah kuning di buah manggis. iii Pada tahun kedua percobaan, kombinasi kalsium dan boron pada saat antesis + 1 minggu setelah antesis (MSA) menurunkan persentase buah tercemar getah kuning pada aril menjadi 42.33 %, sedangkan kombinasi kalsium dan boron pada saat antesis + 4 MSA masih menunjukkan persentase di atas 45 %. Perlakuan pemberian kalsium pada saat antesis menurunkan persentase buah tercemar pada kulit hingga 50% dibandingkan tanpa aplikasi kalsium (kontrol) yang menghasilkan 100% buah tercemar getah kuning pada kulit. Sedangkan aplikasi kalsium pada saat 1 MSA menurunkan persentase buah tercemar getah kuning pada aril menjadi sebesar 30%, adapun kontrol sebesar 56.7%. Penurunan persentase cemaran berkaitan dengan peningkatan kandungan kalsium total di pericarp buah. Peningkatan kandungan kalsium di pericarp tertinggi didapatkan pada perlakuan aplikasi kalsium pada saat antesis yaitu sebesar 0.75 % bobot kering. Stadia I menjadi waktu kritis kebutuhan kalsium dalam pertumbuhan dan perkembangan buah manggis. Dalam penelitian ini dikembangkan sebuah model terkait dengan serapan kalsium oleh akar dan transloksi kalsium ke buah melalui xylem. Akar-akar muda sebagai jalur serapan kalsium akan mulai terbentuk pada saat antesis sampai dengan 4 MSA. Tingkat pertumbuhan akar muda yang hanya optimal dalam jangka waktu singkat menyebabkan aplikasi kalsium harus dilakukan pada saat yang tepat. Aplikasi kalsium pada saat yang tidak tepat menyebabkan kalsium tidak dapat diserap dan ditranlokasikan ke jaringan buah. Pada tahun pertama, aplikasi teknologi lubang resapan biopori (LRB) tidak menunjukkan penurunan cemaran getah kuning baik pada persentase buah tercemar pada aril dan kulit, maupun skor getah kuning pada aril dan kulit buah, kecuali persentase juring tercemar. Pengaruh LRB baru terlihat pada tahun kedua percobaan. Aplikasi LRB pada tanaman manggis terbukti mampu menurunkan persentase buah tercemar pada aril/pohon, kulit buah/pohon dan juring/buah manggis masing-masing menjadi 38%, 50% dan 27%, dibandingkan pada kontrol yang masih sebesar 47%, 64% dan 28%. Aplikasi LRB selama 3 tahun peningkatan panjang akar yang lebih besar dibandingkan tanaman manggis tanpa aplikasi LRB. Aplikasi LRB meningkatkan panjang akar nampak mencapai 33.44 m/m2 tanah dan panjang akar total mencapai 117.33 m/m3, sedangkan tanpa aplikasi LRB menghasilkan panjang akar tampak hanya sebesar 7.56 m/m2 dan panjang akar total sebesar 61.47 m/m3 Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh dari setiap percobaan terhadap seluruh peubah kualitas buah manggis yang diamati diantaranya Bobot Buah Buah Segar, Bobot Kulit Buah Segar, Bobot Biji Segar Total, Bobot Tangkai dan Cupat Segar, Bobot Aril, Kekerasan kulit buah, Diameter transversal, Diameter Longitudinal, Tebal Kulit Buah, Edible portion, Padatan Terlarut Total, dan Asam Tertitrasi Total
Budidaya, Panen, dan Pascapanen Asparagus umbellatus, Monstera, dan Philodendron di Perusahaan Kwekerij Figaro, Naaldjwik, Belanda.
Kegiatan magang dilaksanakan di perusahaan Kwekerij Figaro mulai 26
Februari sampai dengan 25 Mei 2018. Kegiatan magang bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam
aspek budidaya daun potong Aspragus umbellatus, Monstera, dan Philodendron
secara umum dan secara khusus untuk mempelajari proses penanganan panen dan
pascapanen yang terdapat di Perusahaan Kwekerij Figaro. Metode yang
digunakan adalah metode langsung dan tidak langsung. Metode langsung
dilaksanakan dengan melakukan pengamatan secara langsung di lapang serta
mengikuti semua kegiatan teknis budidaya tanaman hias daun mulai dari
penanaman sampai dengan pascapanen. Metode tidak langsung dilaksanakan
dengan mempelajari data sekunder berupa arsip perusahaan, laporan dari
perusahaan dan studi pustaka. Budidaya serta penanganan panen dan pascapanen
tanaman hias daun di perusahaan Kwekerij Figaro sudah dilakukan dengan baik.
Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil produksi yang optimum, mencapai lebih
dari 99% produksi terjual dengan kehilangan hasil kurang dari 0.1%.
Proliferasi Kalus dan Induksi Embriogenesis Somatik Tanaman Sagu (Metroxylon saguRottb.) Menggunakan Tiga Metode Kultur: Sistem Perendaman Sesaat, Suspensi dan Media Padat
<p><strong>Proliferasi Kalus dan Induksi Embriogenesis Somatik Tanaman Sagu (<em>Metroxylon sagu</em>Rottb.) Menggunakan Tiga </strong><strong>Metode</strong><strong> Kultur: Sistem Perendaman Sesaat, </strong><strong>S</strong><strong>uspensi</strong></p><p><strong> dan Media Padat</strong><strong>. Imron Riyadi, Djoko Santoso, Bambang S. Purwoko dan Darda Efendi.</strong><strong> </strong>Metode kultur in vitro yang tepat akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi pada proses penggandaan kalus maupun induksi embriogenesis somatik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh metode kultur dan konsentrasi 2,4-D dalam proses penggandaan kalus maupun induksi embryogenesis somatic. Bahan tanam atau eksplan awal yang digunakan adalah kalus remah hasil induksi dari kultur meristem pucuk tunas anakan sagu. Kalus tersebut dikulturkan pada media Murashige dan Skoog modifikasi dengan penambahan 2,4-D 5,0 – 15,0 mg/L dikombinasikan dengan kinetin 0,1 mg/L yang menggunakan tiga metode kultur yaitu kultur suspensi, sistem perendaman sesaat (SPS) dan media padat, sehingga terdapat 12 kombinasi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot segar kalus tertinggi sebesar 12,0 g/bejana yang dicapai pada perlakuan S D15K0,1 (kultur suspensi dengan konsentrasi ZPT berupa 2,4-D 15,0 mg/L dikombinasikan dengan kinetin 0,1 g/L). Perolehan jumlah embrio somatic tertinggi dicapai pada perlakuan S D5K0,1 (kultur suspensi dengan konsentrasi ZPT berupa 2,4-D 5,0 mg/L dikombinasikan dengan kinetin 0,1 g/L) sebesar 384,7 buah/bejana. Daya hidup kultur sagu terbaik dan tertinggi diperoleh pada metode kultur suspensi pada semua perlakuan konsentrasi 2,4-D yang mencapai 100%. Selama proses induksi embrio somatic, terjadi perubahan warna kalus dari sebagian besar kekuningan menjadi krem dan putih-kekuningan.</p></jats:p
Konservasi In Vitro Plasma Nutfah Pisang (Musa Spp.) Secara Pertumbuhan Minimal Dan Kriopreservasi
Penyimpanan plasma nutfah pisang di lapang mempunyai risiko hilangnya genotipe tertentu karena cekaman biotik dan abiotik. Penyimpanan in vitro dengan kriopreservasi adalah salah satu cara alternatif untuk melestarikan plasma nutfah pisang. Dengan demikian, metode regenerasi perlu dioptimalkan sebelum menerapkan metode kriopreservasi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian Bogor (BB Biogen). Penelitian ini mencakup empat percobaan utama yaitu, (1) organogenesis aksis bunga pisang bergenom AA, BB, AAA, AAB dan ABB, (2) kultur embrio zigotik pisang Breviformis, Tomentosa dan Zebrina, (3) enkapsulasi embrio zigotik dengan penggunaan manitol, (4) penyimpanan secara kriopreservasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mendapatkan formulasi terbaik untuk organogenesis aksis bunga pisang (AA, BB, AAB dan ABB), (2) mengetahui pengaruh durasi simpan terhadap perkecambahan pisang liar (AA) Breviformis, Tomentosa dan Zebrina, (3) untuk mengetahui efektivitas manitol untuk pertumbuhan minimal, (4) untuk mengetahui pengaruh durasi prakultur terhadap daya hidup dan regenerasi scalp dari pisang Kosta yang dikriopreservasi secara pembekuan sederhana, (5) untuk mengetahui pengaruh durasi loading dan dehidrasi terhadap daya hidup dan regenerasi scalp dari pisang Kosta yang dikriopreservasi dengan metode vitrifikasi. Organogenesis dilakukan dengan menggunakan kepingan aksis bunga pisang yang ditanam pada media perlakuan. Kultur embrio dilakukan dengan terlebih dahulu menyimpan buah pisang Breviformis, Tomentosa dan Zebrina selama 1, 3 dan 4 bulan. Pertumbuhan minimal dilakukan dengan teknik enkapsulasi dengan penambahan manitol. Kriopreservasi dilakukan dengan teknik pembekuan sederhana dan teknik vitrifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara BA dan TDZ terhadap organogenesis aksis bunga pisang (AA, BB, AAA, AAB dan ABB). Pisang dengan genom AAA menunjukkan respon yang paling baik dalam pembentukan nodul dan tunas. Perlakuan yang terbaik untuk organogenesis pisang adalah media yang mengandung BA 3 mg L-1. Pada kultur embrio zigotik, pisang Tomentosa memiliki daya kecambah yang lebih tinggi dibandingkan dengan Breviformis dan Zebrina yaitu sebesar 70%. Perlakuan prakultur pada media yang mengandung sukrosa 0.4 M selama dua minggu merupakan perlakuan terbaik pada kriopreservasi secara pembekuan sederhana. Tidak ada interaksi yang nyata antara durasi loading dengan larutan LS dan dehidrasi dengan larutan PVS2 dalam pembentukan nodul baru dari scalp pisang Kosta. Perlakuan LS selama 40 menit dan PVS2 selama 1 jam merupakan perlakuan terbaik untuk kriopreservasi scalp pisang Kosta dengan teknik vitrifikasi
Karakterisasi Morfologi dan Uji Daya Hasil 15 Genotipe Caisin (Brassica rapa L.Cv. Grup Caisin).
Karakterisasi adalah langkah awal dalam pemuliaan tanaman yang
dilakukan untuk mengetahui karakter morfologi tanaman dan seleksi genotipe
adaptif di dataran rendah. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi caisin di
Indonesia, diperlukan ekstensifikasi dari dataran tinggi ke dataran rendah.
Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) digunakan dengan genotipe
sebagai faktor tunggal. 15 genotipe caisim digunakan dari koleksi PKHT BRP
004, BRP 002, BRP 009, BRP 022, BRP 007, BRP 020, BRP 010, BRP 012, BRP
021, dan yang diberi induksi mutasi BRP 004 R, BRP 002 R, BRP 009 R, BRP
003 R, dan BRP 019 R. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam yang
kemudian dilanjutkan dengan Uji Tukey. Genotipe BRP 010 memiliki bobot
panen dan bobot tanpa akar paling berat, namun genotipe BRP 009 R memiliki
indeks panen tertinggi di mana nilai tersebut menunjukkan persentase bagian yang
dikonsumsi tertinggi. Genotipe BRP 002 R, BRP 009 R, dan BRP 019 R, adalah
genotipe hasil iradiasi yang memiliki warna beragam. Hasil rekapitulasi sidik
ragam menunjukkan dari 11 karakter kuantitatif dalam 15 genotipe caisin yang
diuji terdapat 3 karakter yang tidak menunjukkan perbedaan nyata secara statistik
yaitu jumlah daun, Nisbah Lebar Panjang (NLP) daun, dan lebar tangkai.
Genotipe BRP 022 memiliki daun paling sempit dan paling pendek, tangkai daun
paling pendek, dan diameter daun tersempit. Genotipe BRP 002 yang memiliki
tinggi tanaman tertinggi dan Genotipe BRP 003 R memiliki tinggi tanaman
terendah. Genotipe BRP 010, BRP 004 R, BRP 002 R, BRP 019 R dan BRP 009
R yang diuji berpotensi untuk dijadikan calon varietas baru yang adaptif pada
dataran rendah
Management of Defoliating and Pruning for Flowering Induction of Apple Manalagi (Malus sylvestris Mill.) in PT. Kusuma Agrowisata.
Kegiatan magang dilaksanakan di PT. Kusuma Agrowisata, Batu, Jawa
Timur selama tiga bulan mulai dari Januari hingga April 2020. Tujuan umum
kegiatan magang agar mahasiswa dapat mempelajari dan mendapatkan
pengalaman dalam bekerja secara nyata mengenai aspek teknis dan manajerial
budidaya tanaman apel, khususnya mengenai pengelolaan perompesan daun dan
pemangkasan untuk induksi pembungaan pada tanaman apel. Metode yang
digunakan pada kegiatan magang dengan mengumpulkan data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dengan mengikuti seluruh kegiatan teknis,
pengamatan di lapangan, dan wawancara. Data sekunder diperoleh melalui arsip
kebun, laporan manajemen, dan studi pustaka. Pengamatan yang dilakukan
berupa pengamatan aspek teknis, aspek manajerial, dan aspek khusus.
Pengamatan aspek teknis dengan melakukan kegiatan sebagai karyawan harian
lepas (KHL) dengan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman
apel. Aspek manajerial sebagai pendamping pengawas kebun apel dengan
mengawasi kinerja KHL, membuat jurnal, dan membuat rencana kegiatan.
Pengamatan aspek khusus mengenai perbedaan interval waktu perompesan daun
ke pemangkasan yang dilakukan pada 2 blok apel Manalagi (Malus sylvestris
Mill.) yaitu blok B3 (3 hari) dan blok A3 (6 hari). Teknik perompesan daun
dilakukan secara manual menggunakan tangan dan pemangkasan dilakukan secara
mekanis menggunakan gunting pangkas serta gergaji. Perbedaan interval waktu
perompesan daun dan pemangkasan antara blok B3 dengan A3 tidak berpengaruh
nyata terhadap jumlah tunas vegetatif dan generatif, persentase pecah tunas,
jumlah kuncup bunga yang muncul, jumlah bunga yang mekar, serta jumlah
bunga yang gugur. Perbedaan interval waktu memengaruhi kecepatan waktu
pecah tunas, waktu muncul kuncup bunga, dan waktu bunga mekar antara kedua
blok. Blok B3 lebih cepat mengalami fase perkembangan bunga dibandingkan
dengan blok A3 karena tanaman apel blok B3 lebih dulu dilakukan pemangkasan.Internship activities were carried out in PT. Kusuma Agrowisata, Batu,
East Java for three months from January to April 2020. The general purpose of
internship activities was to assist and develop technical and managerial work
experience for the student in growing apples, especially in the management of
defoliating and pruning for flowering induction. The method used in internship
activities by collecting primary and secondary data. The primary data are
collected by all technical activities, field observations, and interviews. The
secondary data are collected from company archives, management reports, and
literature studies. The aspects of observation are including technical aspects,
managerial aspects, and specific aspects. The technical aspect observation
activities were carried out as labor to do apple cultivation activities. The
managerial aspects were carried out as a companion of the supervisor to
supervise labor, writing a working journal, and planning activities. The specific
aspect observations were about the different effect of time intervals of defoliating
to pruning, were made on two blocks of apples var. Manalagi (Malus sylvestris
Mill.); block B3 (3 days) and block A3 (6 days). The defoliating using the manual
technique by hand and pruning using mechanical technique with shears and saws.
The different time intervals between block B3 and A3 had no significant effect on
the total of vegetative and generative buds, the percentage of bud burst, the total
of flower buds, the total of blooming flowers, and the total of flowers drop. The
different time intervals effect, the bud bursting time, the flower buds appearing
time, and the flower blooming time. The flowering phase in block B3 has been
faster than block A3 cause block B3’s plants are pruned first
Aplikasi Precooling dan Suhu Simpan setelah Degreening untuk Peningkatan Warna Jingga pada Buah Jeruk siam (Citrus nobilis)
Jeruk siam merupakan jeruk yang memiliki kulit berwarna hijau saat dipanen.
Teknologi degreening diperlukan dalam memperbaiki warna kulit dari hijau
menjadi jingga. Degreening pada buah tropika dataran rendah seringkali
menghasilkan kulit jeruk yang berwarna kuning bukan jingga. Warna jingga
terbentuk dari campuran pigmen kulit β-cryptoxanthin (kuning) dan ß-citraurin
(kemerahan). Pada jeruk tropika dataran rendah pigmen ß-citraurin sering kali tidak
terbentuk karena buah tidak mendapatkan suhu rendah selama pertumbuhannya.
Precooling diharapkan dapat menggantikan suhu rendah yang tidak didapatkan oleh
buah jeruk siam selama pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan mempelajari
pengaruh aplikasi precooling sebelum proses degreening dan suhu penyimpanan
terhadap perubahan sifat fisik kulit buah jeruk siam. Penelitian ini menggunakan
jeruk siam garut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September
2016 di Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika dan Laboratorium
Pascapanen Agronomi dan Hortikultura IPB. Penelitian ini menggunakan
Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) Faktorial dua faktor. Faktor
pertama adalah perlakuan suhu precooling (tanpa precooling, precooling 8 oC dan
15 oC), faktor kedua adalah suhu simpan (20 oC dan suhu ruang ber-AC ±29 oC).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu precooling 15 oC nyata dapat
meningkatkan warna jingga pada buah jeruk siam dan penyimpanan pada suhu
ruang mempunyai nilai CCI yang lebih tinggi bila dibandingkan penyimpanan pada
suhu 20 o
Induksi Akar dan Tunas Stek Batang Tanaman Pohpohan (Pilea trinervia Wight.) dalam Media Air dengan Perlakuan IBA dan Aerasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh aerasi dan Indole -3-butiryc acid (IBA) pada induksi tunas dan akar stek Pohpohan (Pilea trinervia Wight.) dalam media air. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Kebun Percobaan Pasir Kuda, Pusat Kajian Holtikultura Tropika (PKHT) IPB pada bulan Juni-Oktober 2016. Penelitian menggunakan rancangan split-plot dua faktor dengan empat ulangan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah aerasi terdiri dari dua taraf yaitu aerasi dan tanpa aerasi. Faktor kedua sebagai anak petak adalah IBA dengan empat taraf konsentrasi yaitu 0,0 , 0,5 , 1,0 , dan 2,0 mgL-1. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan aerasi tidak memberikan pengaruh lebih baik untuk pertumbuhan stek pohpohan dibandingkan tanpa aerasi dan IBA memberikan pengaruh lebih baik pada parameter jumlah akar namun menghambat pemanjangan akar, pembentukan tunas, pemanjangan tunas, dan pembentukan daun. IBA tidak berpengaruh pada persentase stek hidup dan stek berakar pada penelitian ini. Interaksi keduanya menunjukan hasil yang lebih baik pada kombinasi perlakuan tanpa aerasi dengan konsentrasi IBA yang lebih rendah yakni 0,0 , 0,5 , dan 1,0 mgL-1 kecuali untuk parameter jumlah akar yang menghasilkan akar terbanyak pada kombinasi tanpa aerasi dengan IBA 0,5 , 1,0, dan 2,0 mgL-1
Identifikasi Karakter Kuantitatif dan Kualitatif 12 Genotipe Terung (Solanum melongena L.) Koleksi Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT)
Karakterisasi pada penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi karakterkarakter
kuantitatif dan kualitatif dua belas genotipe terung koleksi PKHT serta
memperoleh genotipe-genotipe potensial yang dapat dikembangkan menjadi
varietas baru. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak
(RKLT) satu faktor dengan empat ulangan. Bahan tanam yang digunakan adalah
dua belas genotipe terung yaitu GJ (G1), 2016-002 (G2), 2016-004 (G3), 2016-005
(G4), 2016-008 (G5), 2016-011 (G6), 2016-015 (G7), 2016-039 (G8), 2016-056
(G9), 2016-076 (G10), 2016-080 (G11), 2016-084 (G12), serta dua varietas
pembanding yaitu varietas Jafana (G13) dan varietas Pipit (G14). Hasil pengujian
karakter kualitatif dan kuantitatif pada hipokotil, daun, batang, bunga, dan buah
menunjukkan keragaman. Genotipe yang mendekati karakter varietas Pipit adalah
2016-002. Genotipe tersebut memiliki karakter buah bundar hijau, tidak memiliki
warna antosianin pada hipokotil, batang, kelopak, dan bawah kelopak. Genotipe ini
memiliki bobot per buah (92.8 g) lebih tinggi dari varietas Pipit (37.5 g). Genotipe
2016-080 memiliki bobot per buah tidak berbeda nyata dengan varietas
pembanding Jafana namun memiliki karakter kualitatif mendekati varietas Jafana
yaitu bentuk buah club dan warna masak hortikultur ungu. Genotipe 2016-005
memiliki kepekatan antosianin pada kulit buah yang lebih tinggi dibandingkan
dengan varietas Jafana. Sehingga genotipe 2016-002, 2016-080, dan 2016-005
potensial untuk dikembangkan menjadi varietas
Studi Degreening Menggunakan Etefon dan Metode Penyimpanan pada Jeruk Keprok (Citrus reticulata Blanco) Garut.
Buah jeruk tidak berwarna jingga dan tidak seragam merupakan masalah yang terjadi pada buah jeruk lokal di Indonesia. Umur simpan yang rendah membuat kualitas buah cepat menurun ketika berada di penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan warna jingga dan mempertahankan kualitas pada buah jeruk keprok Garut melalui metode degreening dan penyimpanan yang efektif. Penelitian ini terdiri dari dua percobaan. Percobaan pertama bertuajuan untuk mendapatkan metode terbaik dalam aplikasi degreening dengan menggunakan etefon untuk menghasilkan warna jingga pada jeruk keprok Garut. Hasil dari percobaan pertama digunakan sebagai metode aplikasi degreening pada percobaan kedua. Percobaan kedua bertujuan untuk mendapatkan waktu inkubasi setelah degreening sebelum penyimpanan dan metode penyimpanan yang tepat untuk meningkatkan warna jingga dan mempertahankan kualitas jeruk keprok Garut. Percobaan pertama dilakukan pada bulan Juli- Agustus 2016 dan percobaan kedua dilakukan pada bulan Maret – April 2018. Rancangan yang digunakan pada percobaan pertama adalah rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari lima taraf, yaitu buah yang tidak diberi aplikasi degreening atau kontrol, kombinasi waktu perendaman 30 detik dan suhu larutan etefon 13 ± 1 ºC , kombinasi waktu perendaman 30 detik dan suhu larutan etefon ambient (27 ± 1 ºC), kombinasi waktu perendaman 60 detik dan suhu larutan etefon 13 ± 1 ºC, dan kombinasi waktu perendaman 60 detik dan suhu larutan etefon ambient (27 ± 1 ºC ). Percobaan kedua menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor, yaitu waktu inkubasi setelah degreening sebelum penyimpanan dan metode penyimpanan. Faktor waktu inkubasi setelah degreening sebelum penyimpanan terdiri dari tiga taraf, yaitu tanpa waktu inkubasi, waktu inkubasi selama dua hari, dan waktu inkubasi selama empat hari. Faktor metode penyimpanan terdiri dari empat taraf, yaitu tidak dililin dan disimpan pada suhu ruang (29 ± 1 ºC), tidak dililin dan disimpan pada suhu 18 ± 1 ºC, dililin dan disimpan pada suhu ruang (29 ± 1 ºC), serta dililin dan disimpan pada suhu 13 ± 1 ºC.
Percobaan pertama menunjukan perlakuan kombinasi waktu perendaman dan suhu larutan etefon dapat meningkatkan warna jingga pada kulit jeruk keprok Garut dibandingkan dengan kontrol. Warna jingga pada kulit jeruk keprok Garut dapat dilihat dengan meningkatnya nilai citrus color index (CCI) dan menurunnya nilai ºhue. Nilai CCI tertinggi dan ºhue dihasilkan oleh perlakuan kombinasi waktu perendaman selama 30 detik dan suhu larutan 27 ± 1 ºC, dengan nilai CCI 9.01 dan ºhue 66.46. Rendahnya kandungan total klorofil dan terbentuknya karotenoid pada buah yang diberi aplikasi degreening merubah warna kulit buah jeruk keprok Garut dari hijau ke jingga. Aplikasi degreening tidak mempengaruhi susut bobot buah, padatan terlarut total (PTT), asam tertitrasi total (ATT) dan vitamin C.
Percobaan kedua menunjukan waktu inkubasi setelah degreening sebelum penyimpanan dan metode penyimpanan mempengaruhi nilai CCI dan ºhue yang merupakan penilaian parameter warna jingga pada jeruk keprok Garut. Waktu inkubasi selama empat hari dapat meningkatkan warna jingga pada kulit jeruk
5
keprok Garut yang dapat dilihat dengan nilai CCI tertinggi dan nilai ºhue terendah, yaitu berturut-turut 9.2 dan 65.6 pada hari ke-27 setelah penyimpanan. Metode penyimpanan tidak dililin dan disimpan pada suhu 18 ± 1 ºC dapat meningkatkan warna jingga pada kulit jeruk Garut dengan nilai CCI 10.5 dan nilai ºhue 63.0 pada hari ke-27 setelah penyimpanan. Waktu inkubasi setelah degreening tidak berpengaruh pada persentase susut bobot buah namun berpengaruh pada kadar air kulit jeruk keprok Garut. Buah tanpa waktu inkubasi setelah degreening memiliki kadar air tertinggi dibandingkan dengan buah yang diberi waktu inkubasi setelah degreening. Buah yang diberi perlakuan pelilinan dan penyimpanan pada suhu 18 ± 1 ºC memiliki persentase susut bobot yang lebih rendah dan kadar air kulit yang lebih tinggi dibandingkan dengan buah yang tidak diberi pelilinan dan disimpan pada suhu ruang. Buah yang diberi waktu inkubasi setelah degreening selama empat hari memiliki kandungan PTT tertinggi dibandingkan dengan buah yang diberi waktu inkubasi setelah degreening lainnya pada hari ke-24. Buah yang tidak diberi pelilinan baik disimpan pada suhu ruang atau suhu 18 ± 1 ºC memiliki PTT yang lebih tinggi dibandingkan buah yang diberi pelilinan pada hari ke-24. Waktu inkubasi setelah degreening dan metode penyimpanan tidak berpengaruh pada ATT tapi buah yang diberi waktu inkubasi (dua hari dan empat hari) memiliki kandungan vitamin C yang lebih tinggi dibandingkan buah yang tidak diberi waktu inkubasi setelah degreening pada hari ke-12. Waktu inkubasi selama empat hari setelah degreening sebelum penyimpanan memiliki persentase buah busuk yang paling kecil. Buah yang disimpan pada suhu 18 ± 1 ºC dapat menurunkan persentase busuk buah
- …
