4 research outputs found
Pabrik Isopropylamine dari Hidrogenasi Dimetil Keton Dengan Katalis Nikel dan Wolfram
Pra Rencana Pabrik Isopropylamine ini direncanakan untuk dapat berproduksi pada tahun 2024 dengan kapasitas sebesar 21.000 ton/tahun dalam bentuk liquid. Isopropylamine merupakan produk dengan komoditas yang diminati oleh industri pertanian di Indonesia. Perkembangan industri isopropylamine sejalan dengan kemajuan dalam bidang pertanian khususnya dalam bidang pemberantasan hama (herbisida, insectisida, bakterisida). Penggunaan utama isopropylamin adalah dalam bidang pertanian yaitu sebagai bahan baku pada industri pembuatan herbisida dan insectisida. Disamping digunakan dalam bidang pertanian isopropylamin juga digunakan dalam Industri tekstil digunakan sebagai adiktif pada bahan pencelup atau pewarna dan juga sebagai bahan adiktif pada proses pembuatan tekstil yang memiliki sifat khusus.
Metode produksi Isopropilamine dicirikan dalam reaktor fixed bed. Molibdenum (Mo) dan/atau wolfram (W) ditambahkan ke dalam katalis berbasis Ni, didalam reaktor memuat katalis berbasis nikel berbentuk bulat di dekat ujung masuk, dekat ujung keluar berbentuk batang pengisi katalis berbasis nikel. Reaksi terjadi pada reaktor fixed bed dengan suhu 125°C, tekanan 15 atm. Kemudian dimurnikan dengan proses destilasi yang berfungsi untuk memisahkan produk bawah dan produk atas. Produk atas akan mendapatkan produk utama yaitu monoisopropylamine dengan konversi sebesar 99,3%.
Pabrik ini didirikan di Kawasan Industri JIIPE, Gresik dan beroperasi selama 330 hari/tahun dengan data-data sebagai berikut :Kapasitas Produksi : 21.000/Ton- Bahan Baku : Dimetil Keton, Ammonia, dan Hidrogen- Sistem Operasi : Kontinu- Waktu Operasi : 330 Hari/Tahun; 24 Jam/Hari- Luas Tanah : 26288,6 m2- Jumlah Karyawan : 107 Orang- Bentuk Perusahaan : Perseroan Terbatas (PT)- Struktur Organisasi : Line and Staff. Masa Konstruksi : 2 tahun- Umur Pabrik : 10 Tahun- Modal Tetap : Rp. 447.014.268.342,- Modal Kerja : Rp. 4.407.949.342.261,- Modal Total : Rp. 4.854.963.610.603,- Biaya bahan baku/Tahun : Rp. 4.522.318.494.759,- Biaya Utilitas/Tahun : Rp. 2.299.872.602,- Listrik : Rp. 969.408.000,- Air : Rp. 45.097.264,05- Steam : 2695,74 lb/jam- Bahan Bakar : 252,163 L/hari- Biaya Produksi Total (TPC): Rp. 26.402.280.981.658,- Hasil Penjualan/Tahun : Rp. 29.070.371.647.048,- Bunga Bank : 8%- Rate On Investment (ROI) : 38,1%- Pay Back Period (PBP) : 2 Tahun 5 Bulan- Internal Rate of Return (IRR) : 32,8%-. Break Event Point (BEP) : 38,1
Analisis Hazard and Operability Study pada Finish Mill
Factory PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Tuban Factory in Sumber Arum Village, Kerek District, Tuban Regency. Establishment of PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Tuban Factory with a production capacity of 14 million tons of cement per year using a dry process. The Tuban factory is divided into 5 main processes, namely the supply of raw materials, grinding raw materials, burning, final milling, and bagging or packaging. The supporting units include the operation control maintenance unit, process control unit, quality assurance unit, process analysis unit, utility unit, occupational safety unit, third material unit, and emission control unit. On the manufacture of cement in PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. used correction materials, namely cooper slag and silica sand as mineraloxide enhancer materials that are not contained in the main raw materials. While the additional materials used are trass and gypsum as determinants of cement properties. At the Tuban Plant, innovations are carried out to produce their own energy
which will be used by the factory so as to reduce costs
PEMANFAATAN KITOSAN DARI CANGKANG RAJUNGAN SEBAGAI BIOKOAGULAN PADA AIR LIMBAH INDUSTRI TAHU
Cangkang rajungan memiliki kandungan kitin yang banyak yaitu 22,66%. Kitin akan diproses menjadi biokoagulan yang akan mengurangi kandungan COD(Chemical Oxygen Demand) pada limbah produksi tahu. Limbah produksi tahu masih mengandung konsentrasi COD (Chemical Oxygen Demand) sebesar 1017,35 mg/L yang dapat mencemari lingkungan pabrik. Penambahan biokoagulan dengan proses koagulasi dan flokulasi diharapkan mampu menurunkan kadar COD (Chemical Oxygen Demand). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan dosis terbaik pada sampel limbah dalam pembuatan biokoagulan. Proses penelitian dilakukan secara bertahap dimulai dengan pengeringan dan penghalusan cangkang rajungan yang kemudian dilanjutkan dengan proses demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi. Pada tahap selanjutnya biokoagulan ditambahkan pada limbah dengan skala laboratorium menggunakan metode koagulasi dan flokulasi. Proses koagulasi dan flokulasi perlu ditambahkan biokoagulan untuk menghilangkan bahan pencemar yang tersuspensi dengan bentuk koloid dalam air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan biokoagulan 0,4g:250ml mempunyai effisiensi terbaik yaitu sebesar 99,5% yang dapat menurunkan kadar COD sebesar 1017,35 mg/l. Biokoagulan dapat menurunkan kadar COD (Chemical Oxygen Demand) sesuai baku mutu yang telah ditetapkan menjadi 4,893 mg/L sehingga tidak mencemari lingkungan
PEMANFAATAN KITOSAN DARI CANGKANG RAJUNGAN SEBAGAI BIOKOAGULAN PADA AIR LIMBAH INDUSTRI TAHU
Cangkang rajungan mengandung senyawa kitin dan kitosan yang dapat digunakan sebagai biokoagulan, yaitu biopolimer yang dapat digunakan secara komersial untuk membran yang berfungsi sebagai bahan koagulan dan flokulan. Kandungan kitin pada cangkang rajungan mencapai 22,66%. Zat kitin pada cangkang rajungan diproses menjadi biokoagulan untuk menyerap kandungan senyawa organik di dalam limbah produksi tahu, sehingga nilai chemical oxygen demand (COD) di dalam limbah tahu akan berkurang. Konsentrasi COD pada limbah produksi tahu mencapai 1017,35 mg/L, sehingga akan mengakibatkan pencemaran perairan. Penambahan biokoagulan dengan metode koagulasi-flokulasi dapat mengurangi kadar COD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah dosis optimum dalam pembuatan biokoagulan. Metode penelitian menggunakan tiga tahapan yaitu demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel limbah dari hasil produksi tahu dan ditambahkan biokoagulan menggunakan metode koagulasi dan flokulasi. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh penambahan biokoagulan 0,4 g:250 ml memiliki efisiensi yang terbaik yaitu 99,5%, sehingga dapat menurunkan kadar COD sebesar 1017,35 mg/L menjadi 4,893 mg/L. Hal ini telah sesuai dengan standar baku mutu yang telah ditetapkan, sehingga pencemaran lingkungan perairan berkurang. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v17i2.378
