186 research outputs found

    ANALISIS DAN PEMBUATAN TEKNIK RIGGING ANIMASI 3D TENDANGAN DWI CHAGI (BACK KICK) PADA MODEL PELATIHAN TAEKWONDO

    No full text
    Analisis dan Pembuatan Teknik Rigging Animasi 3D Tendangan Dwi Chagi pada Model Pelatihan Taekwondo, penelitian ini bertujuan membuat video animasi 3D untuk memperagakan gerakan tendangan Dwi Chagi pada model pelatihan Taekwond sebagai media pembelajaran dan edukasi di masa pandemi di UKM Taekwondo Universitas Amikom Purwokerto. Pembuatan animasi 3D ini berfokus pada teknik rigging untuk penerapannya tentang tendangan Dwi Chagi berupa video animasi 3D. Rigid body yang ideal memiliki aturan yang jelas dan terdefinisi pada sebuah objek bergerak di bawah aksi kekuatan dan momen, serta bagaimana batasan ideal seperti bergulir dengan sempurna, bergeser, dalam sistem pergerakan sebuah objek. Metode yang digunakan adalah Kualitatif, penelitian ini dimulai dengan tahapan yang runtut seperti pra-production, production dan pasca-production. Hasil penelitian ini membuat animasi 3D sebagai media pembelajaran dan informasi tentang bagaimana teknik tahapan melakukan tendangan dwi chagi pada beladiri taekwondo menggunakan teknik rigging berformat MP4 yang sudah di uji dengan metode Blackbox

    Optimasi Hidroksipropil Metilselulosa dan Menthol pada Sediaan Gel Dispersi Padat Ibuprofen – Polietilenglikol dengan Metode Desain Faktorial

    No full text
    Ibuprofen merupakan golongan obat Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drug (NSAID) yang digunakan untuk pengobatan rematik akut, kronis, dan inflamasi (Peterson, 2003).Ibuprofen merupakan inhibitor non selectivecyclooxygenase yang mampu menghambat enzim cyclooxygenase-1 (COX-1) dan cyclooxygenase-2 (COX-2) sehingga terjadi penghambatan pelepasan mediator nyeri prostaglandin. Ibuprofen memiliki efek samping berupa gangguan pada gastrointestinal. Salah satu cara untuk meminimalisir efek samping ibuprofen adalah dengan membuat ibuprofen dalam sediaan topikal. Sediaan topikal yang dapat digunakan untuk penghantaran obat adalah gel. Gel merupakan sediaan semipadat berupasuspensi partikel anorganik kecil atau molekul organik besar yang terpenetrasi dalam cairan (Escobar et al., 2006). Ibuprofen memiliki sifat praktis tidak larut dalam air dan diklasifikasikan dalam obat golongan Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas II sehingga kelarutan bahan aktif menjadi masalah utama dalam memformulasi sediaan gel ibuprofen (Sweetman et al., 2009). Kelarutan ibuprofen yang rendah menyebabkan bioavailabilitas obat di dalam tubuh menjadi rendah (Chowdari dan Srinivas, 2000), sehingga perlu dilakukan suatu upaya peningkatan kelarutan ibuprofen untuk meningkatkan bioavailabilitas obat dalam tubuh dengan cara di buat dalam bentuk dispersi padat. Transfer obat melalui kulit pada sediaan transdermal dapat ditingkatkan menggunakan penetration enhancer. Mekanisme atau cara kerja penetration enhancer salah satunya yaitu dengan memodifikasi atau melemahkan susunan lipid interseluller stratum corneum sehingga transfer obat melalui kulit dapat ditingkatkan (Swarbrick,1993).Menthol di pilih sebagai enhancer di karenakan menthol merupakan sebuah monoterpene monosiklik bebas yang tidak toksik dan telah disetujui sebagai Penetration enhancersecara transdermal dari beberapa obat (Kabayashi et al). Faktor yang mempengaruhi efektifitas sediaan gel yaitu penetrasi dan viskositas. Penetrasi ibuprofen dan viskositas gel dipengaruhi oleh pemilihan penetration enhancer dan gelling agent yang tepat. Penetration enhancer yang digunakan harus mampu menembus struktur stratum korneum sehingga bahan aktif obat mampu mencapai lokasi targetnya. Pemberian gelling agent dimaksudkan agar sediaan gel memenuhi rentang viskositas yang diharapkan. Pada penelitian ini digunakan kombinasi Menthol dan HPMC terhadap laju penetrasi dan viskositas sediaan gel ibuprofen. Evaluasi yang dilakukan meliputi pengujian organoleptis, viskositas, pH, daya sebar dan laju penetrasi. Hasil pengujian laju penetrasi menunjukkan bahwa fluks Fb>Fab>F1>Fa dengan nilai fluks berturut-turut sebesar 2,0304 μg/cm2.menit; 1,3916 μg/cm2.menit; 0.8499 μg/cm2.menit dan 0.9062μg/cm2.menit. Hasil pengujian viskositas menunjukkan bahwa nilai viskositas Fab>Fa>F1>Fb dengan nilai viskositas berturut-turut 310 dPa.s; 261,67 dPa.s; 183,3 dPa.s dan 158,33 dPa.s. Hasil pengujian laju penetrasi dan nilai viskositas kemudian dianalisis menggunakan design expert versi 09 trial. Hasil yang ditunjukkan dari analisis menggunakan software design expert versi 09 trial yaitu terdapat 10solusi dengan formula terpilih Fb sebagai formula optimum karena memiliki laju penetrasi yang paling tinggi dan nilai viskositas yang sesuai dengan persyaratan

    Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru

    Get PDF
    ABSTRAK Ferdi Dwi Agustian, No.BP.1310841015, Implementasi Program Keluarga Harapan di Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas, Padang, 2018. Dibimbing oleh : Roza Liesmana, S.IP, M.Si dan Ilham Aldelano Azre, S.IP, M.A Skripsi ini terdiri dari 175 halaman dengan referensi 8 buku teori, 4 buku metode, 5 skripsi, 1 jurnal, 5 dokumen kebijakan, dan 3 website internet. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi Program Keluarga Harapan di Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Program Keluarga Harapan ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi peserta PKH, peningkatan taraf pendidikan peserta PKH, peningkatan taraf kesehatan ibu hamil/menyusui dan anak dibawah usia 6 tahun peserta PKH dan meningkatkan kondisi ekonomi peserta PKH. Adapun fenomena yang terlihat sehingga peneliti perlu melihat implementasi program ini salah satunya yaitu adanya penyaluran dana program ini masih ada yang belum tepat sasaran sebagaimana tujuannya untuk masyarakat tidak mampu. Ini dibuktikan saat tim dari Kemensos saat verifikasi data dilapangan ada penerima PKH memiliki Smartphone canggih dan sepeda motor,petugas yang ada kaget karena ada yang punya Handphone canggih dan mahal. Ada juga yang menghitung uangnya seperti orang kaya.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Untuk mendeskripsikan implementasi Program Keluarga Harapan dilakukan teknik triangulasi. Teori yang peneliti gunakan diturunkan dari Ripley yang terdiri dari 2 variabel yaitu compliance (kepatuhan) dan What’s Happening? (apa yang terjadi). Hasil penelitian menunjukan dari keseluruhan variabel yang dikemukakan Ripley maka program keluarga harapan sudah dilaksanakan dengan baik sehingga tujuan kebijakan sudah tercapai, tetapi belum secara maksimal karna ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam jalannya program. Implementor sudah menjalankan ketentuan-ketentuan dalam pelaksanaan PKH, kepatuhan ini terjadi karena pengetahuan dan pemahaman implementor tersebut mengenai program sudah baik, dan dilihat dari variabel apa yang terjadi adanya keterbatasan jumlah pendamping tetapi tidak sampai mengganggu jalannya implementasi dan juga dari pengaruh eksternal diluar kendali implementor yaitu bantuan-bantuan yang didapatkan dari sinergitas program Bantuan Pangan Non Tunai (BPTN) yang memiliki kualitas kurang baik yang berakibat tidak bisa digunakan oleh penerima manfaat. Untuk impelentasi Program Keluarga Harapan perlu di ditingkatkan lagi pengawasan baik terhadap penerima manfaat sebagai target group agar tepat sasaran program keluarga harapan ini, serta diperjelas tentang sanksi terhadap penerima manfaat yang melanggar aturan ataupun tidak mengindahkan saran/nasehat implementor. Kata Kunci : implementasi, Program Keluarga Harapa

    Pengaruh Ekstrak Tongkol Jagung (Zea mays L.) Terhadap Efektivitas Krim Tabir Surya Kombinasi Benzophenone-3 dan Octyl Methoxycinnamate

    No full text
    Sinar Ultraviolet (UV) dibagi menjadi tiga daerah yaitu UVA (320-400 nm) yang dapat menyebabkan pencoklatan kulit, UVB (290-320 nm) yang dapat menyebabkan eritema dan penuaan dini, dan UVC (200-290 nm) yang dapat menyebabkan kanker kulit. Pencegahan efek merugikan dari sinar UV dapat dilakukan dengan penggunaan tabir surya. Tabir surya mermberikan perlindungan terhadap kulit secara kimia yang mampu menyerap sedikitnya 85% sinar matahari. Mekanisme kerja tabir surya terbagi menjadi 2 yaitu physical blocker seperti TiO dan ZnO dan chemical absorber seperti benzophenone-3 dan octyl methoxycinnamate. Benzophenone-3 dan octyl methoxycinnamate sebagai anti UVA dan anti UVB merupakan kombinasi yang digunakan secara luas, namun mengalami degradasi karena adanya paparan sinar UV. Upaya untuk meningkatkan efektivitas kombinasi benzophenone-3 dan octyl methoxycinnamate adalah dengan penambahan ekstrak tongkol jagung (Zea mays L.) sebagai photostabilizing agent. Sediaan yang dibuat berupa krim menggunakan basis vanishing cream. Evaluasi sifat fisika-kimia yang dilakukan untuk sediaan krim adalah pengujian organoleptis, tipe krim, homogenitas krim, pH, viskositas dan daya sebar, sedangkan pengujian efektivitas in vitro krim tabir surya terdiri atas pengujian nilai SPF (Sun Protecting Factor), persen transmisi eritema dan persen transmisi pigmentasi. Analisis data statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah statistik menggunakan program SPSS 16.0. Hasil pengujian pH menunjukkan pH F1>F2>F3>F4. Nilai pH semua formula secara berturut-turut adalah 6,26; 5,85; 5,30; dan 4,78. Hasil tersebut menunjukkan semakin besar penambahan ekstrak tongkol jagung dapat menurunkan pH sediaan. Hasil analisis statistik nilai pH menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada semua formula. Hasil pengujian viskositas menunjukkan bahwa viskositas F1<F2<F3<F4. Nilai viskositas semua formula secara berturut-turut adalah 93,33; 103,33; 113,33; 123,33. Hasil tersebut menunjukkan semakin besar penambahan ekstrak tongkol jagung dapat meningkatkan viskositas sediaan. Hasil analisis statistik nilai viskositas menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan pada formula satu dengan formula dua serta formula tiga dengan formula empat. Hasil pengujian daya sebar menunjukkan bahwa daya sebar F1>F2>F3>F4. Nilai daya sebar semua formula secara berturut-turut adalah 7,24; 6,91; 5,91; 5,47. Hasil tersebut menunjukkan semakin besar penambahan ekstrak tongkol jagung dapat menurunkan nilai daya sebar sediaan krim. Hasil analisis statistik nilai daya sebar menunjukkan perbedaan signifikan pada semua formula. Hasil pengujian SPF menunjukkan bahwa SPF F1<F2<F3<F4. Nilai SPF semua formula secara berturut-turut adalah 17,93236; 18,5252; 19,06387; 20,2893. Hasil tersebut menunjukkan semakin besar penambahan ekstrak tongkol jagung dapat meningkatkan nilai SPF sediaan krim. Hasil analisis statistik nilai SPF menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan pada formula satu dengan formula dua serta formula dua dengan formula tiga. Hasil pengujian %TE menunjukkan bahwa %TE F1<F2<F3<F4. Nilai %TE semua formula secara berturut-turut adalah 0,0001067; 0,000133; 0,000290; 0,000403.Hasil analisis statistik nilai %TE menunjukkan formula satu dengan formula dua tidak beda signifikan. Keempat formula masuk dalam kategori sunblock, tidak ada perubahan kategori dengan penambahan ekstrak tongkol jagung. Hasil pengujian %TP menunjukkan bahwa %TE F1<F2<F3<F4. Nilai %TP semua formula secara berturut-turut 11,97686; 12,03374; 12,50640; 13,98194. Hasil analisis statistik nilai %TP menunjukkan formula satu dengan formula dua serta formula dua dengan formula tiga tidak beda signifikan. Keempat formula masuk dalam kategori sunblock. Semakin kecil nilai %TP maka efektivitasnya akan semakin baik

    Optimasi Hidroksi Propil Metil Selulosa dan Gliserin pada Sediaan Gel Dispersi Padat Ibuprofen – Polietilen Glikol

    No full text
    Ibuprofen merupakan obat anti inflamasi non steroid (AINS) yang mekanisme penghambatannya secara non selektif terhadap COX-1 (siklooksigenase-1) dan COX-2 (siklooksigenase-2) (Bushra dan Aslam, 2010). Ibuprofen digunakan dalam jangka panjang untuk terapi rematik dan kondisi muskuloskeletal lainnya (Rainford, 2009). Penggunaan ibuprofen dalam waktu yang panjang dapat memicu pendarahan pada lambung serta meningkatkan risiko ulserasi di usus (Bushra dan Aslam, 2010). Efek samping yang ditimbulkan pada sediaan ibuprofen secara peroral dapat dihindari dengan membuat sediaan dengan sistem penghantaran transdermal. Salah satu bentuk sediaan transdermal adalah gel. Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh sediaan gel diantaranya seperti penyebaran yang baik pada kulit, adanya penguapan lambat dari kulit sehingga menimbulkan efek dingin, mudah dalam pencucian dengan air, serta pelepasan obat yang baik (Voight, 1995). Ibuprofen merupakan obat golongan Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas II. Permasalahan utama pada BCS kelas II pada saat formulasi sediaan gel yaitu sulit untuk larut dalam air (Sweetman et al., 2009). Metode yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan ibuprofen dalam penelitian ini yaitu dengan membuat dispersi padat ibuprofen-PEG 6000 dengan perbandingan 1 : 1,5 menggunakan metode peleburan (Erizal dan Salman, 2007). Pemilihan gelling agent dan penetration enhancer pada sediaan gel sangat berpengaruh terhadap organoleptis sediaan dan kemampuan bahan aktif untuk dapat terpenetrasi ke dalam kulit. Gelling agent yang digunakan adalah HPMC sedangkan Gliserin dipilih sebagai penetration enhancer (Rasool et al., 2010). Penelitian ini dilakukan untuk menentukan formula optimum kombinasi gliserin viii dan HPMC yang dapat memberikan laju penetrasi yang maksimum secara in vitro dan rentang viskositas antara 100-300 dPa.s. Evaluasi sediaan yang dilakukan meliputi uji organoleptis, pH, daya sebar, viskositas dan laju penetrasi. Viskositas dan laju penetrasi dipiih sebagai respon pada analisis menggunakan software Design Expert versi 10.0.3 trial. Hasil pengujian viskositas menunjukkan bahwa FA>FAB>F1>FB dengan nilai viskositas berturut-turut 303,33 dPa.s, 255,00 dPa.s, 206,67 dPa.s, dan 181,67 dPa.s. Hasil pengujian laju penetrasi menunjukkan bahwa fluks FB>F1>FAB>FB dengan nilai fluks berturut turut 1,403 μg/cm2.menit, 1,001 μg/cm2.menit, 0,892 μg/cm2.menit, dan 0,756 μg/cm2.menit. Hasil analisis menggunakan software Design Expert versi 10.0.3 trial diperoleh 5 solusi dengan formula terpilih FB sebagai formula optimum karena fluks laju penetrasi yang dihasilkan paling besar dan viskositasnya memenuhi rentang yang diinginkan

    Optimasi Tween 80 Dan Peg 400 Dalam Nanoemulsi Natrium Diklofena

    No full text
    Osteoartritis (OA) merupakan gangguan sendi kronis degeneratif yang mengakibatkan disintegrasi tulang rawan sendi disertai pertumbuhan tulang rawan baru yang menimbulkan rasa nyeri dan hilangnya kemampuan gerak (Berenbaum, 2013). Prevalensi penyakit sendi di Indonesia, berdasarkan diagnosis dokter sebesar 7,3 % untuk penduduk dengan usia ≥ 15 tahun (Banlitbankes RI, 2018). Rekomendasi Perhimpunan Rheumatologi Indonesia (2014) menyatakan natrium diklofenak dari golongan NSAID (Non-Steroidal Anti Inflammatory Drug) merupakan terapi terbanyak yang digunakan untuk mengatasi inflamasi, nyeri, gangguan muskokeletal dan osteoartritis (Tamarat dkk., 2018). Natrium diklofenak memiliki efek samping menimbulkan gangguan gastrointestinal hingga pendarahan (Alwi, 2014). Penggunaan secara per oral mampu mengakibatkan first pass metabolism di hati. Penggunaan secara intramuskular juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada tempat injeksi (Probst dkk., 2017). Alternatif rute pemberian natrium diklofenak untuk meminimalkan efek samping yaitu melalui rute transdermal melalui sediaan nanoemulsi. Keuntungan dari rute ini adalah menghindari metabolisme hepatik, meningkatkan bioavailabilitas, mengurangi resiko kerusakan jaringan, serta dapat dikendalikan jumlah pelepasan obat yang diinginkan (Kogan, 2006). Istilah nanoemulsi mengacu pada miniemulsi yang merupakan dispersi minyak dalam air atau sebaliknya yang distabilkan oleh molekul surfaktan (Nikam dkk., 2018). Sistem ini memiliki stabilitas yang sangat tinggi karena tegangan antarmuka rendah dan ukuran droplet yang sangat kecil. Sistem nanoemulsi terdiri dari beberapa komponen yaitu fase minyak, fase air, surfaktan dan kosurfaktan. Fase minyak merupakan komponen utama dalam membentuk nanoemulsi. Sisak, dkk (2018) menyebutkan faktor pemilihan minyak bergantung pada kemampuan minyak dalam melarutkan bahan aktif. Kandidat minyak alam yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak zaitun, adas, dan VCO (virgin coconut oil). Surfaktan menjadi kunci dalam pembuatan nanoemulsi karena memiliki bagian polar (hidrofilik) dan nonpolar (lipofilik). Surfaktan mampu diabsorpsi pada antarmuka air dan minyak sehingga menghasilkan suatu kestabilan dan ukuran droplet yang kecil. Penentuan surfaktan dapat dilakukan berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan. Tween 80 merupakan surfaktan yang kompatibel terhadap minyak adas dan natrium diklofenak dalam membentuk nanoemulsi yang stabil dan berukuran nanometer (Pandey, 2011; Sugumar dkk., 2014; Fatmawati, 2018; Pebriani, 2018). Kosurfaktan merupakan komponen pendukung kinerja dari surfaktan. Kandidat kosurfaktan yang digunakan adalah etanol, propilen glikol, dan polietilen glikol (PEG) 400. Beberapa penelitian sering mengkombinasikan tween 80 dan PEG 400 dalam membentuk nanoemulsi karena PEG 400 merupakan kosurfaktan nonionik yang stabil, tidak iritatif, mudah dicampur dengan komponen lain dan efektif dalam rentang pH yang lebar (Baskara, 2017). Pada penelitian ini dilakukan optimasi tween 80 dan PEG 400 terhadap respon entrapment efficiency, transmitan dan pH. Penelitian ini menggunakan metode desain faktorial yang bertujuan untuk mendapatkan formula optimum dan selanjutnya di uji verifikasi dan dikarakterisasi meliputi bobot jenis, viskositas, uji tipe emulsi, ukuran droplet, distribusi ukuran droplet dan potensial zeta. Hasil dari penelitian yang dilakukan yaitu tween 80, PEG 400, dan interaksinya mampu menurunkan entrapment efficiency nanoemulsi natrium diklofenak. Jumlah tween 80 dan interaksi antara tween 80 dan PEG 400 dapat meningkatkan transmitan secara signifikan. Jumlah tween 80 dan interaksi keduanya dapat meningkatkan nilai pH sedangkan jumlah PEG 400 memiliki efek menurunkan nilai pH. Formula optimum nanoemulsi natrium diklofenak memiliki bobot jenis 10,589 g/mL ± 0,0384; viskositas 4,620 mPa.s ± 0,214, memiliki ukuran droplet 6.6 nm, memiliki sistem monodisperse dengan nilai indeks polidispersitas sebesar 0,372 dan bertipe oil in water

    Optimasi Carboxymethylcellulose Sodium dan Propilen Glikol dalam Sediaan Gel Ekstrak Daun Sembukan (Paederia Foetida L.) sebagai Antioksidan

    No full text
    Antioksidan merupakan zat yang berperan penting dalam peredaman radikal bebas, ketidakseimbangan antara jumlah radikal bebas dan jumlah antioksidan didalam tubuh dapat menyebabkan timbulnya stress oksidatif yang dapat berperan penting dalam patofisiologi proses penuaan dan berbagai macam penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes mellitus, berbagai penyakit komplikasi lainnya, aterosklerosis dan stroke (Werdhasari,2014) yang secara umum, kulit sangat rentan terhadap kerusakan oksidatif, baik yang ditimbulkan dari dalam tubuh maupun luar tubuh. Saat ini, masyarakat cenderung memanfaatkan zat antioksidan sebagai agen proteksi dini salah satunya terhadap penuaan. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai zat antioksidan adalah sembukan (Paederia foetida L.) dari famili Rubiaceae. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam daun sembukan, diantaranya asperuoside, deacetyasperuoside, scandoside, flavonoid, paedorosidic acid, gamasitosterol, arbutin, oleanolic, dan minyak atsiri. Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder pada tumbuhan yang berfungsi untuk melindungi terjadinya kerusakan sel akibat radikal bebas (Tjandrawinata, 2011), maka peneliti tertarik untuk memanfaatkan ekstrak daun sembukan sebagai sediaan kosmetik dalam bentuk gel. Pemilihan sediaan tersebut dikarenakan gel memiliki kelebihan dalam segi penampilan fisik yaitu berupa sediaan semisolid transparan atau tembus cahaya, selain itu gel memiliki sifat yang mudah dioleskan, mudah dicuci dan tidak meninggalkan lapisan berminyak pada kulit serta memiliki efek menenangkan karna dingin (Carter, 1975). Pada penelitian ini faktor yang dioptimasi yaitu polimer Carboxymethylcellulose Sodium (CMC Na) dan propilen glikol terhadap respon viskositas, daya lekat, daya sebar dan pH. Penelitian ini menggunakan metode desain faktorial yang bertujuan untuk mendapatkan formula optimum dan selanjutya di uji verifikasi dan karakterisasi meliputi persen penghambatan. Hasil dari penelitian yang dilakukan yaitu konsentrasi CMC Na memiliki efek meningkatkan nilai viskositas, daya lekat, pH, dan menurunkan nilai daya sebar. Sedangkan konsentrasi propilen glikol memiliki efek meningkatkan nilai viskositas dan menurunkan nilai daya lekat, daya sebar serta pH. Interaksi antara kedua faktor tersebut memiliki efek meningkatkan nilai viskositas, pH, dan menurunkan nilai daya lekat serta daya sebar. Formula optimum dengan jumlah CMC Na sebesar 3% dan jumlah propilen glikol sebesar 5% dengan prediksi nilai viskositas sebesar 75 dPa.s; daya lekat sebesar 363 detik; daya sebar sebesar 6,167 cm; dan pH sebesar 5,71. Formula optimum gel ekstrak daun sembukan memiliki hasil tidak berbeda signifikan antara prediksi dari design expert dengan hasil percobaan dan memiliki persen penghambatan antioksidan sebesar 42,890%

    Optimasi Propilen Glikol Dan Etanol Sebagai Peningkat Penetrasi Ibuprofen Dalam Sediaan Gel Dengan Metode Simplex Lattice Design

    No full text
    Ibuprofen adalah obat turunan asam propionat dengan aktivitas anti inflamasi, analgesik, dan antipiretik. Secara umum AINS memiliki mekanisme aksi dengan menghambat sintesis asam arakidonat menjadi prostaglandin melalui enzim ciklooksigenase (COX) (Morse et al., 2006). Apabila diminum secara oral, NSAID memiliki beberapa efek samping yang yaitu gangguan saluran gastrointestinal diantaranya ulserasi dan hemoragi, toksisitas renal, inhibisi pembentukan platelet sehingga dapat menimbulkan kelainan koagulasi (Moreno et al., 2009), tetapi ibuprofen memiliki efek samping lebih kecil dibandingkan dengan obat antiinflamasi non steroid lainnya (BNF, 2009). Maka dari itu, pengembangan bentuk sediaan topikal perlu dilakukan untuk menghindari efek samping yang mungkin terjadi dengan penggunaan obat peroral. Salah satu sediaan topikal yang paling banyak digunakan adalah gel. Gel didefinisikan sebagai sistem semi padat dimana pergerakan media pendispersi dibatasi oleh sebuah ikatan kuat dari partikel atau makromolekul terlarut pada fase terdispersi (Rathod dan Mehta, 2015). Secara umum sediaan semi padat memiliki keuntungan yaitu first-pass metabolism dapat dihindari dan dosis pemberiannya tidak terlalu sering (Hamman et al., 2011). Ibuprofen merupakan obat yang tergolong dalam BCS II (Biopharaceutics Classification Class II) dimana obat tersebut kelarutannya rendah tetapi memiliki permeabilitas membran yang baik (Alvarez et al., 2011). Dispersi padat dapat digunakan sebagai teknik untuk meningkatkan kelarutan bahan yang memiliki kelarutan rendah seperti ibuprofen. Beberapa polimer seperti polivinilpirolidon (PVP), HPMC, etilselulosa, dan propiletilen glikol (PEG) adalah polimer yang paling sering digunakan untuk sistem ini (Dabbagh dan Taghipour, 2007). Menurut penelitian milik Dabbagh dan Taghipour pada tahun 2007, perbandingan ix ibuprofen : PEG 6000 yang menunjukkan hasil karakter fisika kimia dan kelarutan terbaik adalah 1:1,5. Selain faktor kelarutan yang mempengaruhi laju penetrasi sebuah obat, kemampuan obat untuk menembus kulit (stratum corneum) juga sangat mempengaruhi. Stratum corneum adalah lapisan kulit paling luar yang berfungsi sebagai barrier utama terhadap semua zat yang kontak langsung dengan kulit. Propilen glikol dan etanol tergolong dalam alkohol yang dapat berfungsi sebagai pembawa, pelarut, dan bahkan peningkat penetrasi bahan obat ke dalam kulit (stratum corneum) pada sediaan transdermal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi propilen glikol dan etanol terhadap laju penetrasi ibuprofen dalam sediaan gel dispersi padat ibuprofen : PEG 6000 dengan basis gel karbopol secara in vitro dan mengoptimasi komposisi propilen glikol dan etanol agar didapatkan formula optimum dengan nilai fluks maksimum menggunakan metode simplex lattice design. Berdasarkan hasil orientasi dan studi pustaka yang telah dilakukan, maka dibuat formula berdasarkan metode simplex lattice design yaitu F1: propilen glikol 30% dan etanol 0%; F2: propilen glikol 15% dan etanol 15%; dan F3: propilen glikol 0% dan etanol 30%. Pengujian terhadap gel meliputi evaluasi sediaan yaitu pegujian organoleptis, pengujian pH, pengujian daya sebar, pengujian viskositas, pengujian kadar bahan aktif dalam sediaan, pengujian laju penetrasi, dan penentuan formula optimum dengan design expert trial versi 10. Berdasarkan evaluasi sediaan yang telah dilakukan seluruh formula telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dan setelah dilakukan analisis data dengan SPSS 17.0 dinyatakan bahwa adanya perbedaan pada tiap formula. Hasil pengujian laju penetrasi dengan menggunakan alat uji disolusi tipe dayung yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penetrasi gel F2 > F1 > F3 dengan nilai fluks masing masing 1,945 μg/cm2.menit; 1,508 μg/cm2.menit; dan 1,165 μg/cm2.menit. Komposisi optimum campuran propilen glikol dan etanol yang dapat meningkatkan laju penetrasi ibuprofen paling baik menurut metode simplex lattice design dari software design expert trial versi 10.0.0 adalah 18,000% propilen glikol dan 12,000% etanol dengan fluks 2,043 μg/cm2 dan desirability 1

    Glutathione utilization in lactobacillus fermentum CECT 5716

    Get PDF
    Glutathione, a tripeptide antioxidant, has recently been shown to be either utilized or synthesized by gram-positive bacteria, such as Lactic Acid Bacteria. Glutathione plays an important role in countering environmental stress, such as oxidative stress. In this study, cellular activity regarding glutathione in Lactobacillus fermentum CECT 5716 is characterized. We demonstrate that L. fermentum CECT 5716 has a better survival rate in the presence of glutathione under both oxidative and metal stress. As L. fermentum CECT 5716 does not possess the ability to synthesize glutathione, it shows the ability to uptake both reduced and oxidized glutathione from the environment, regenerate reduced glutathione from oxidized glutathione, and perform secretion of glutathione to the environment.Submission published under a 24 month embargo labeled 'U of I Access', the embargo will last until 2020-08-01The student, Agustian Surya, accepted the attached license on 2018-07-13 at 15:01.The student, Agustian Surya, submitted this Thesis for approval on 2018-07-13 at 15:06.This Thesis was approved for publication on 2018-07-17 at 14:39.DSpace SAF Submission Ingestion Package generated from Vireo submission #12872 on 2018-09-27 at 11:19:20Made available in DSpace on 2018-09-27T16:34:21Z (GMT). No. of bitstreams: 2 SURYA-THESIS-2018.pdf: 536163 bytes, checksum: f67889f0f690440818899ddad5c34016 (MD5) LICENSE.txt: 4211 bytes, checksum: e6f4f495211f8d058bb891f963bbef9e (MD5) Previous issue date: 2018-07-17Embargo set by: Seth Robbins for item 107817 Lift date: 2020-09-27T16:34:29Z Reason: Author requested U of Illinois access only (OA after 2yrs) in Vireo ETD systemU of I Only Restriction Lifted for Item 107817 on 2020-09-28T09:15:13Z

    Optimasi Propilen Glikol dan Karbopol terhadap Laju Penetrasi Gel Dispersi Padat Ibuprofen-Polietilen Glikol

    No full text
    Ibuprofen merupakan golongan Non-steroid anti-inflamatory drug (NSAID) yang digunakan sebagai pengobatan nyeri dan inflamasi yang disebabkan beberapa kondisi yaitu rheumatoid arthritis dan osteoarthritis. Mekanisme kerja ibuprofen dengan menghambat enzim cyclooxygenase-1 (COX-1) dan cyclooxygenase-2 (COX-2) sehingga menganggu sintesis prostaglandin. Pada penggunaan oral, ibuprofen menimbulkan efek samping pada gangguan gastrointestinal, dispepsia, diare, infeksi saluran cerna atas, mual dan kembung (Rainsford et al., 2003). Untuk mengurangi efek samping yang ditimbulkan maka ibuprofen dibuat sediaan melalui rute transdermal. Rute transdermal memiliki keuntungan menghindari kontak secara langsung dengan mukosa lambung dan menghindari first pass metabolism di hati. Salah satu sediaan yang diberikan melalui rute transdermal adalah gel. Gel adalah sediaan semipadat berupa suspensi dari partikel anorganik kecil atau molekul organik besar yang terpenetrasi di dalam suatu cairan (Escobar et.al., 2006). Salah satu masalah dalam formulasi sediaan gel adalah kelarutan bahan aktif. Ibuprofen termasuk dalam Biopharmaceutics Classification System (BCS) kelas II dengan ciri sifat yang praktis tidak larut dalam air. Diperlukan suatu metode untuk meningkatkan kelarutan ibuprofen sehingga dapat memperbaiki sifat pelepasan dan penetrasi yaitu dengan cara dispersi padat ibuprofen dan polielilenglikol (PEG) 6000 dengan perbandingan 1:1,5 menggunakan metode peleburan. Faktor lain yang mempengaruhi efektifitas sediaan gel yaitu penetrasi dan viskositas. Penetrasi ibuprofen dan viskositas gel dipengaruhi oleh pemilihan penetration enhancer dan gelling agent yang tepat. Penetration enhancer yang ix digunakan harus mampu menembus struktur stratum korneum sehingga bahan aktif obat mampu mencapai lokasi targetnya. Pemberian gelling agent dimaksudkan agar sediaan gel memenuhi rentang viskositas yang diharapkan. Pada penelitian ini digunakan kombinasi propilen glikol dan karbopol terhadap laju penetrasi dan viskositas sediaan gel ibuprofen. Evaluasi yang dilakukan meliputi pengujian organoleptis, viskositas, pH, daya sebar dan laju penetrasi. Hasil pengujian laju penetrasi menunjukkan bahwa fluks Fa>Fab>F1>Fb dengan nilai fluks berturut-turut sebesar 1,5383 μg/cm2.menit; 1,2613 μg/cm2.menit; 0,5988 μg/cm2.menit dan 0,5404 μg/cm2.menit. Hasil pengujian viskositas menunjukkan bahwa nilai viskositas Fb>Fab>F1>Fa dengan nilai viskositas berturut-turut 163,33 dPa.s; 151,67 dPa.s; 141,67 dPa.s dan 133,33 dPa.s. Hasil pengujian laju penetrasi dan nilai viskositas kemudian dianalisis menggunakan design expert versi 10.0.3. Hasil yang ditunjukkan dari analisis menggunakan software design expert versi 10.0.3 yaitu terdapat 9 solusi dengan formula terpilih Fa sebagai formula optimum karena memiliki laju penetrasi yang paling tinggi dan nilai viskositas yang sesuai dengan persyaratan
    corecore