83 research outputs found

    PENEKANAN DESAIN RIVERFRONT PARK PADA PERANCANGAN PENATAAN BANTARAN KALI BANJIR KANAL BARAT KOTA SEMARANG

    No full text
    Kota-kota di wilayah Pantura (pantai Utara Pulau Jawa) merupakan kota-kota tepian air (waterfront cities) yang sarat dengan potensi dan masalah penyelesaian pengaliran air dari wilayah di daerah pegunungan ke arah laut. Semarang sebagai salah satu kota tepian air memiliki beberapa sungai / kali besar baik alami maupun buatan / rekayasa yang potensi dan masalah menarik untuk dikaji penataannya dalam lingkup perancangan kota / kawasan. Salah satu dari dua kanal / kali yang pada awalnya dirancang untuk mengatasi masalah banjir di kota Semarang adalah Banjir Kanal Barat. Kali Banjir Kanal Barat merupakan kelanjutan dari ruas kali Garang yang mengalir dari gunung Ungaran ke Utara pada pertemuan 2 cabang utama, yaitu sungai Kripik dan sungai Kreo, masing-masing kurang lebih 12 km dan 10 km dihitung dari hulu ke mulut sungai. Satuan Wilayah Sungai (SWS) kali Banjir Kanal Barat Semarang meliputi wilayah seluas ± 11.946,26 Ha. Pada pembahasan kajian penataan kawasan tepian Kali Banjir Kanal Barat ini menggunakan konsep pengembangan taman. Konsep pengembangan taman ini adalah menyediakan pelebaran jalan masuk publik riverfront yang berkualitas tinggi sebagai bagian dari pengembangan fungsi baru yang utama di jantung barat kota Semarang. Konsep Riverfront Park digunakan sebagai penekanan desain pada kawasan ini yang merupakan fasilitas umum. Taman ini merupakan bagian dari perkembangan fungsi gabungan yang luas di tepi cabang utama sungai Banjir Kanal Barat. Riverfront Park merupakan hasil kolaborasi desain ruang luar dari bantaran sungai Banjir Kanal Barat dengan unit-unit bangunan penunjang di antaranya restoran dan kefetaria outdoor yang merupakan pemandangan indah bagi pejalan kaki yang melewati taman ini. Kata kunci : bantaran, kanal, riverfront Latar Belakang Kota Semarang seperti halnya kota-kota di wilayah Pantura (pantai Utara Pulau Jawa) merupakan kota-kota tepian air (waterfront cities) yang sarat dengan potensi dan masalah penyelesaian pengaliran air dari wilayah di daerah pegunungan ke arah laut. Semarang sebagai salah satu kota tepian air memiliki beberapa sungai / kali besar baik alami maupun buatan / rekayasa yang potensi dan masalah menarik untuk dikaji penataannya dalam lingkup perancangan kota / kawasan. Salah satu dari dua kanal / kali yang pada awalnya dirancang untuk mengatasi masalah banjir di kota Semarang adalah Banjir Kanal Barat. Kali Banjir Kanal Barat merupakan kelanjutan dari ruas kali Garang yang mengalir dari gunung Ungaran ke Utara pada pertemuan 2 cabang utama, yaitu sungai Kripik dan sungai Kreo, masing-masing kurang lebih 12 km dan 10 km dihitung dari hulu ke mulut sungai. Keseluruhan area tangkapan kira-kira 204 km², yang termasuk area tangkapan 70 km² untuk sungai Kreo (panjang sungai berkisar 12 km) dan 34 km² untuk sungai Kripik (panjang sungai berkisar 8 km). Satuan Wilayah Sungai (SWS) kali Banjir Kanal Barat Semarang seluas ± 11.946,26 Ha. Konsep pengembangan taman ini adalah menyediakan pelebaran jalan masuk publik riverfront yang berkualitas tinggi sebagai bagian dari pengembangan fungsi baru yang utama di jantung kota Chicago. Riverfront Park merupakan fasilitas umum seluas 10 acre, taman ini merupakan bagian dari perkembangan fungsi gabungan yang luas di tepi cabang utama sungai Chicago. Riverfront Park merupakan hasil kolaborasi desain ruang luar dari Quaker Tower dan Nikko Hotel. Dengan restoran dan kefetaria outdoor yang merupakan pemandangan indah bagi pejalan kaki yang melewati taman ini Tinjauan Bantaran Kali Banjir Kanal Barat dan Lingkungan Sekitar A. Tinjauan Kali Banjir Kanal Barat terhadap kota Semarang 1. FISIK Kali Banjir Kanal Barat merupakan kelanjutan dari ruas kali Garang yang mengalir dari gunung Ungaran ke Utara pada pertemuan 2 cabang utama, yaitu sungai Kripik dan sungai Kreo, masing-masing kuran lebih 12 km dan 10 km dihitung dari hulu ke mulut sungai. Keseluruhan area tangkapan kira-kira 204 km², yang termasuk area tangkapan 70 km² untuk sungai Kreo (panjang sungai berkisar 12 km) dan 34 km² untuk sungai Kripik (panjang sungai berkisar 8 km). Satuan Wilayah Sungai (SWS) kali Banjir Kanal Barat Semarang seluas ± 11.946,26 Ha. Bendungan Simongan, berlokasi kira-kira 5,3 km dihitung dari hulu ke mulut sungai, adalah struktur sungai Mayor dari Kali Banjir Kanal Barat / kali Garang dan aliran di bawah kanal inilah yang disebut sebagai kali Banjir Kanal Barat yang langsung menuju ke Laut Jawa. Saat ini Banjir Kanal Barat berfungsi sebagai saluran pembuangan air (drainase) utama kota bagi kota Semarang yang akan meneruskan pembuangan air ke Laut Utara (Laut Jawa). Kali Banjir Kanal Barat memiliki lebar yang cukup besar, kurang lebih 50 m, dengan aliran air yang cukup tenang karena dasar sungainya yang landai. 2. NON FISIK Pemanfaatan ruang yang tidak teratur di sekitar bantaran kali Banjir Kanal Barat mengakibatkan turunnya kualitas lingkungan di sekitar bantaran sungai. Kondisi ini dapat dijumpai dari kebiasaan masyarakat setempat yang menjadikan sebagian bantaran sebagai tempat pembuangan sampah akhir, pemanfaatan bantaran sungai yang mengabaikan fungsi kanal sebagai penahan banjir. Oleh karena itu perlu adanya pengaturan yang baik dari seluruh kegiatan yang menggunakan bantaran kali Banjir Kanal Barat sebagai medianya. B. Bantaran Kali Banjir Kanal Barat Semarang 1. DEFINISI BANTARAN SUNGAI Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 36 tahun 1991 tentang sungai, pada pasal 1 menyebutkan tentang definisi-definisi sebagai berikut : a) Sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan. b) Bantaran sungai adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai dihitung dari tepi sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam. 2. KONDISI FISIK BANTARAN KALI BANJIR KANAL BARAT SEMARANG Bantaran kali Banjir Kanal Barat terjadi sebagai akibat dari endapan sedimentasi yang merupakan lanjutan erosi yang dibawa aliran Kali Garang. Pengerasan sedimentasi ini juga terlihat pada tepi-tepi sungai, mengakibatkan penyempitan pada badan sungai. Pada daerah bantaran sungai, terdapat 2 area bantaran, yaitu bantaran sungai sebelah Barat dan Timur. • Bantaran Sungai Bagian Barat Bantaran sungai bagian Barat merupakan bagian lahan yang sering dimanfaatkan warga setempat sebagai sarana olahraga, tetapi semakin ke arah Utara pemanfaatan bantaran sebagai sarana olahraga semakin kurang hal ini disebabkan karena lebar bantaran yang mkin menyempit. Dari segi pemanfaatan, bantaran bagian Barat dekat dengan konsentrasi penduduk. Perbedaan ketinggian dengan tanggul berkisar antara 3.00 – 1.00 m, semakin ke Utara perbedaan ketinggian terhadap tanggul semakin kecil. Lebar bantaran sungai bagian Barat yang efektif dipergunakan selebar sekitar 10.00 – 70.00 m. • Bantaran Sungai Bagian Timur Bantaran bagian Timur mempunyai lebar antara 20.00 – 85.00 m, semakin ke Utara semakin lebar. Pada bantaran Timur ini sebagian dimanfaatkan warga untuk berdagang kaki lima (sekitar jembatan Karangayu) dan sebagian dimanfaatkan warga sebagai sarana olah raga (sekitar jalan Kokrosono s.d. Tanah Mas). Perbedaan ketinggian tanggul berkisar antara 3.00 – 1.00 m. Kelebihan bantaran bagian Barat dibandingkan dengan sebelah Timur adalah pada beberapa tempat terdapat lebih banyak lahan kosong dengan lebar efektif yang potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan rekreasi. Selain itu area pencapaian ke arah kawasan rekreasi yang akan direncanakan tersebut juga lebih optimal untuk diolah. Analisa Potensi Bantarann Kali Banjir Kanal Barat Semarang Sebagai Kawasan Rekreasi Kota A. Kawasan Rekreasi sebagai Kebutuhan bagi Kota Semarang Kota Semarang yang berada di bagian Utara propinsi Jawa Tengah mempunyai karakter tersendiri dalam kegiatan, maupun dalam perkembangan fisik kota. Kota Semarang dilintasi jalan arteri primer yang menghubungkan kota Jakarta dan Surabaya, serta kearah Selatan dihubungkan dengan kota Surakarta dan Yogyakarta. Dengan disukung struktur jalan tersebut, serta daerah belakang propinsi Jawa Tengah maka perkembangan kota-kota besar di propinsi lain akan mendorong pertumbuhan kota Semarang. Dari segi kedudukan lokasional, kota Semarang mempunyai kesempatan memanfaatkan keuntungan-keuntungan lokasi untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Kondisi tersebut sangat memungkinkan kota Semarang akan berkembang pesat di bidang ekonomi menuju kota industri. Untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan psiko-logi masyarakat kota Semarang, perlu diperhatikan pula kebutuhan masyarakat Semarang terhadap ruang-ruang publik yang bersifat rekreatif. Berdasarkan data yang diperoleh dari Statistik Arus wisatawan Jawa Tengah 1997 yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah, menyebutkan bahwa jumlah pengunjung pada214 obyek wisata di Jawa Tengah pada tahun 1997 mencapai jumlah 14.266.188 orang, sehingga diperkirakan rata-rata tiap obyeknya dikunjungi 66.664 orang. Penyelenggaraan kegiatan paket wisata ke Jawa Tengah tahun 1997 mencapai 158 buah yang terdiri dari agen perjalanan dan lembaga swadaya masyarakat. Sedangkan 10 besar daerah yang paling banyak disinggahi paket wisata berturut-turut menurut ranking kunjungan adalah : • Kabupaten Magelang : 2. 459.013 orang ( 7 obyek wisata ) • Kabupaten Klaten : 1.400.208 orang ( 12 obyek wisata ) • Kabupaten Demak : 1.301.301 orang ( 2 obyek wisata ) • Kodia Semarang : 905.952 orang (19 objek wisata) • Kodia Surakarta : 708.705 orang (9 objek wisata) • Kabupaten Sragen : 698.978 orang (4 objek wisata) • Kabupaten Kebumen : 573.313 orang (7 objek wisata) • Kodia Magelang : 549.513 orang (5 objek wisata) • Kabupaten Jepara : 543.793 orang (12 objek wisata) • Kabupaten Kudus : 542.951 orang (10 objek wisata) Dari angka tersebut dapat diketahui bahwa Kotamadia Semarang termasuk dalam empat besar daerah yang paling banyak disinggahi paket wisata Di wilayah Kodia Dati II Kota Semarang pada akhir tahun 1996 terdapat 19 objek dan daya tarik wisata alam, enam buah objek dan daya tarik wisata/budaya sejarah dan sepuluh buah objek dan daya tarik wisata buatan. Secara terinci dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel Penyebaran Objek dan Daya Tarik Wisata Di Kodia Dati II Semarang No.. Objek dan Daya Tarik Wisata Lokasi Jenis Keterangan 1 2 3 4 5 1 Taman Lele Semarang barat Buatan Bersifat alam 2 Taman Budaya Raden Saleh Semarang Selatan -Barat Budaya Sejarah 3 Marga Raya Tinjomoyo Semarang Selatan - Barat Buatan Bersifat alam 4 Museum Jamu Ny. Meneer Semarang Utara Budaya/Sejarah 5 Museum Jawa Tengah Semarang Barat Budaya/Sejarah 6 Museum Mandala Bhakti Semarang Utara-Tengah Budaya/Sejarah 7 Museum Jamu Jago (MURI) Semarang Selatan-Barat Budaya/Sejarah 8 Wisata Alam Gua Kreo Semarang Barat Alam 9 Taman Maerakaca Semarang Utara-Tengah Buatan 10 Taman Rekreasi Majapahit Semarang Timur-Selatan Alam 11 OASIS Swimming Pool Semarang Selatan-Tengah Buatan 12 Pondok Sehat Club Semarang Barat Buatan 13 Pantai Marina Semarang Utara-Tengah Buatan 14 Kolam Renang Stadion Semarang Tengah Buatan Telah dibuatkan di Semarang Timur-selatan (Gelanggang Remaja Majapahit) 15 KR. Tirta Indah Semarang Barat Buatan 16 ISC Semarang Tengah Buatan 17 KR. Villa Bukit Mas Semarang Selatan-Barat Buatan Bersifat Alam 18 Gelanggang Remaja Majapahit Semarang Timur-Selatan Buatan Sumber : Data Statistik Arus Pariwisata Jawa Tengah Dari data di atas dapat terlihat bahwa objek dan daya tarik wisata buatan menempati jumlah terbanyak tetapi ternyata objek buatan tersebut cenderung meniru alam atau menghadirkan nuansa alam sebagai daya tarik utamanya. Keberhasilan suatu penyelenggaraan kegiatan wisata antara lain ditunjukkan oleh semakin banyaknya jumlah pengunjung/wisatawan dari waktu ke waktu. Hal ini terjadi juga di wilayah Kodia Semarang. Pada tahun 1995 jumlsh pengunjung ke seluruh objek dari daya tarik wisata adalah 457.504 orang, Pada tahun 1996 jumlah pengunjung mencapai 496.088 orang, pada tahun 1997 terjadi penurunan menjadi 296.562 orang Bila ditelaah lebih lanjut, hal ini disebabkan antara lain dengan ditutupnya objek rekreasi Pantai Tanjung Mas yang pada tahun-tehun sebelumnya telah memberikan kontribusi yang besar sebagai objek wisata yang potensial. Selain itu ditinjaumdari minat kunjungan, temoat rekreasi bersifat alam, baik pada objek alami maupun buatan, merupakan prioritas utama. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pengunjung sebenarnya lebih tertarik untuk mengunjungi objek-objek rekreasi yang bernuansa alam. Tuntutan ini seiring dengan fakta makin surutnya kuantitas dan kualitas objek-objek wisata di Semarang yang bernuansa alam (misalnya tidak berfungsinya Pantai Tanjung Mas dan perubahan fungsi Tman Tabanas di Gombel). Dengan jumlah penduduk kota Semarang yang terus meningkat, diproyeksikan pada tahun 2005 sebesar 1.450.133 jiwa (sumver : RDTRK Kodia Semarang 1995-2005), sebagai konsekuensinya adalah masih dibutuhkan peningkatan kuantitas dan kualitas kawasan rekreasi dengan nuansa alami. Rencana kebutuhan ruang untuk fasilitas olahraga dan rekreasi yang disediakan oleh Pmerintah Daerah Tingkat II Semarang pada tahun 2005 adalah ± 6.491 Ha. Sifat kegiatan pariwisata Regional di kawasan Semarang, diarahkan untuk maksud-maksud pendekatan di samping kebutuhan-kebutuhan relaksasi, antara lain akan dikembangkan kegiatan pariwisata yang berorientasi kepada kegiatan samudera dan pegunungan dan mempunyai kriteria-kriteria yang bersifat aktif maupun pasif. B. Potensi Bantaran Kali Banjir Kanal Barat dan Lingkungan Sekitar Sesuai dengan tujuan pembahasan adalah mengadakan penyusunan data dan penganalisaan segala permasalahan dan potensi yang terkait dengan penataan kali Banjir Kanal Barat dan lingkungan sekitar sebagai kawasan rekreasi kota, maka pada kajian ini diutamakan pada analisa potensi kepariwisataan. Kali Banjir Kanal Barat dengan panjang ± 5.3 km dan lebar bentangan 160 m merupakan ruang kota dengan view yang bisa dioptimalkan sebagai ruang rekreasi bagi kota Semarang. Pemandangan terhadap ruang yang lapang dengan aliran air yang stabil di tengah kota merupakan suasana lain yang berbeda dari pemandangan yang ada di kota Semarang. Berdasarkan Studi Master Plan dan Studi Kelayakan Banjir Kanal Barat yang dilakukan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) pada tahun 1993 menyebutkan bahwa debit air kali Banjir Kanal Barat untuk periode 100 tahunan adalah sebesar 980 m³/detik. Hal ini merupakan potensi alami yang menjamin kestabilan arus sungai tiap tahun. Debit sungai yang besar ini dapat dimanfaatkan oleh warga untuk melakukan kegiatan rekreasi air, seperti dayung, becak air. Letak kali Banjir Kanal Barat berada di jalur utama transportasi kota Semarang yang memungkinkan lokasi kali Banjir Kanal Barat mudah dicapai dari berbagai jurusan. Sarana transportasi yang menuju keli Bajir Kanal Barat relatif memadai dan memiliki waktu pelayanan yang panjang. Selain itu dengan loasi yang strategis ini, pemandangan di sekitar kali Banjir Kanal Barat dapat dinikmati oleh warga kota yang melalui jalan-jalan di sekitar kali. Sesuai dengan Rencana Induk dari JICA (1993), kali Banjir Kanal Barat direncanakan sebagai saluran drainase kota, bukan semata-mata sebagai banjir kanal (floodways). Bantaran sungai yang terbentuk dari proses pengendapan lumpur (sedimentasi) akibat banjir merupakan lahan yang dapat dioptimalkan untuk diolah sebagai kawasan rekreasi kota. Bantaran tersebut dapat dikembangkan sebagai taman kota, open space atau ruang olahraga bagi warga, sementara lingkungan di sekitar bbantaran dapat dikembangkan menjadi sarana pendukung bagi pengembangan bantaran sebagai kawasan rekreasi. C. Permasalahan Bantaran Kali Banjir Kanal Barat dan Lingkungan Sekitar Beberapa permasalahan yang saat ini yang ada di kali Banjir Kanal Barat Semarang kaitannya dengan rencana penataan bantaran kali sebagai kawasan rekreasi kota di antaranya : 1. PERMASALAHAN FISIK Permasalahan utama bagi pemanfaatan bantaran kali Banjir Kanal Barat adalah penanganan teknis terhadap bahaya banjir. Pemanfaatan lahan yang melanggar batas pengelolaan sungai dan sedimentasi merupakan penyebab bahaya banjir yang melanda kali Garang dan Banjir Kanal Barat Semarang pada tahun 1990. Besarnya sedimentasi yang terjadi, bila tidak ditangani sevara khusus dan menyeluruh akan menyebabkan saluran semakin menyempit dengan arah aliran yang semakin tidak teratur. Banyaknya limbah, terutama limbah industri hulu yang dibuang melalui kali Garang dan kali Banjir Kanal Barat membuat kualitas air sungai lambat laun menurun. Hal ini mempengaruhi potensi air sungai untuk dioptimalkan sebagai potensi rekreasi, karena kebersihan merupakan faktor utama menarik tidaknya suatu fasilitas rekreasi. Peremasalahan fisik lain yang berkenaan dengan tata aturan pemanfaatan sungai adalah ketentuan tentang jarak bangunan dari sungai, ketentuan pemanfaatan bantaran dan ketentuan tentang struktur bangunan. Hal ini tebtu harus diperhatikan secara seksama karena akan menyangkut penyesuaian aturan dan perlu terobosan khusus dalam pelaksanaannya. 2. PERMASALAHAN SOSIAL EKONOMI Permaslahan sosial ekonomi yang ada di sekitar bantaran kali Banjir Kanal Barat adalah tumbuhnya sektor ekonomi non formal di tepi bantaran. Pertumbuhan ini merupakan gejala alami dan bersifat non permanen. Bila tidak dikendalikan lebih lanjut, kondisi ini akan mempengaruhi kualitas ruang dan pemandangan bagi warga setempat. Permasalahan lain adlah kentalnya nuansa pemukiman padat dengan fungsi campuran di sepanjang bantaran kali Banjir Kanal Barat Semarang. Dengan adanya rencana penataan sebagai kawasan rekreasi kota, kondisi ini perlu dipertimbangkan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang dapat diterima masyarakat setempat. 3. PERMASALAHAN KEBIJAKSANAAN PENGELOLAAN Pengelolaan operasional kali Banjir Kanal Barat saat ini dilakukan oleh Dinas PU Pengairan Propinsi Dati I Jawa Tengah. Untuk pemanfaatan lebih lanjut sebagai kawasan rekreasi kota diperlukan adanya penyesuaian kewenangnan pengelolaan, terutama pada fasilitas rekreasi. Diperlukan adanya pembagian kewenangan yang jelas sehingga tidak terjadi tumpang tindih tanggung jawab. 3. SISTEM JARINGAN UTILITAS Secara umum, sistem jaringan utilitas di tiga zona telah merata dalam hal penyediaan fasilitasnya, secara lengkap dapat diuraikan seperti di bawah ini : • Jaringan Listrik Ketiga zona dilalui oleh Jaringan Tegangan Ekstra Tinggi dan Jaringan Menengah. • Jaringan Air Bersih Ketiga zona dilalui oleh jaringan sekunder • Jaringan Telekomunikasi Ketiga zona dilalui oleh jaringan tersier. • Jaringan Sampah Kecuali di kelurahan Tawang Mas dan Bendungan, ketiga zona dilalui oleh rute angkutan container sampah dan masing-masing zona telah ditetapkan sebagai lokasi transfer depo kntainer sampah. Analisa : Untuk pengembangan lebih lanjut sebagai kawasan rekreasi, zona 2 memiliki potensi yang besar dlihat dari segi kelengkapan jaringan utilitas kota yang melayani zona ini. 4. LEBAR BANTARAN • Zona 1 Bantaran di sebelah Timur dan Barat dapat dimanfaatkan untuk diolah lebih lanjut dengan lebar masing-masing ± 25 m. Untuk rencana pengeembangan, lebar bantaran di zona 1 ini masih termasuk dalam kategori kecil. • Zona 2 Bantaran di sebelah Timur memiliki lebar yang lebih besar dibandingkan sebelah Barat. Bantaran di sebelah Timur memiliki lebar ± 85 m dan sebelah Barat memiliki lebar ± 10 m. Bantaran di zona 2 sebelah Timur lebih berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan rekreasi dan termasuk dalam kategori besar. Lebar bantaran di sebelah Timur (± 85 m) lebih lebar dibandingkan sebelah Barat (± 10 m). Bantaran sebelah Timur memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan rekreasi (sumber : dokumentasi) • Zona 3 Bantaran di sebelah Timur memiliki lebar yang lebih besar dibandingkan sebelah Barat. Bantaran sebelah Barat memiliki lebar ± 70 m dan sebelah Barat memiliki lebar ± 10 m. Bantaran di zona 3 sebelah Timur dapat dimanfaatkan sebagai kawasan rekreasi kota dan termasuk dalam kategori sedang. Gambar 4.6 Lebar Bantaran di Zona 3 Lebar bantaran di sebelah Timur (± 70 m) lebih lebar dibandingkan sebelah Barat (± 10 m) (sumber : dokumentasi) Analisa : Berdasarkan analisa terhadap lebar pemanfaatan bantaran sungai, bantaran di zona 2 lebih berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan rekreasi kota karena memiliki lebar bantaran yang cukup besar, yaitu ± 85 m. 5. KEGIATAN KAWASAN • Zona 1 Kegiatan yang menonjol di kawasan ini adalah PKL (informal) di ruas jalan Basudewo dan beberapa lokasi di jalan Bojong Salaman s.d. jalan Simongan. Intensitas kegiatan yang berlangsung termasuk dalam kategori sedang. • Zona 2 Kegiatan yang menonjol di kawasan ini adalah PKL Kokrosono, baik yang sudah ditata dalam kios maupun yang tumbuh di pinggir jalan Kokrosono, PKL Kokrosono memiliki karakter yang khas, seperti PKL yang telah eksis di Semarang, yaitu PKL Barito. Intensitas kegiatan yang berlangsung termasuk dalam kategori tinggi. Kegiatan PKL Kokrosono merupakan potensi bagi embrio kegiatan yang akan dikembangkan di kawasan rekreasi yang akan direncanakan, seperti pasar rakyat, festival market place. • Zona 3 Kegiatan yang menonjol di zona 3 adalah kegiatan permukiman, perkantoran pemerintah dan industri. Analisa : Berdasarkan pada pertimbangan bahwa kegiatan yang telah ada merupakan embrio yang akan dikembangkan pada kawasan rekreasi ini, maka kegiatan yang ada di zona 2 (PKL Kokrosono) merupakan potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai kegiatan pendukung kawasan rekreasi Banjir

    COMMUNITY PREFERENCES FOR OPEN SPACE IN TANJUNGSARI “KOPRI†HOUSING, PEKALONGAN DISTRICT

    No full text
    Abstract: The purpose of this study is to examine the pattern of use of open space in Tanjungsari housing; tanjungsari kopri housing is one of the housing in Pekalongan regency in which there are three open spaces. In its development in residential areas it grows more densely. Because each resident has their own preference for the model of house construction, resulting in narrower open space, it is a concern for the author to be able to identify patterns of use of open space in tanjugsari housing.This research uses descriptive-qualitative methods with behavioral setting theory approaches. For data collection, the user conducts location surveys, interviews, documenting locations. The results of this study found that the pattern of utilization of citizens in open spaces is based on the needs and goals according to the preferences of each resident. So that the results of this study are realized in the form of sketches or diagrams in an area that is often used for activities by residents. The authors obtained data that residential communities are more dominant in outdoor activities complete with several facilities such as: seating, sports facilities, relaxing places by looking at the view of the Park and other public facilities, rather than being in open spaces with no facilities.Keywords: preference, open space, housingAbstrak: Abstract: The purpose of this study is to examine the pattern of use of open space in Tanjungsari housing; tanjungsari kopri housing is one of the housing in Pekalongan regency in which there are three open spaces. In its development in residential areas it grows more densely. Because each resident has their own preference for the model of house construction, resulting in narrower open space, it is a concern for the author to be able to identify patterns of use of open space in tanjugsari housing.This research uses descriptive-qualitative methods with behavioral setting theory approaches. For data collection, the user conducts location surveys, interviews, documenting locations. The results of this study found that the pattern of utilization of citizens in open spaces is based on the needs and goals according to the preferences of each resident. So that the results of this study are realized in the form of sketches or diagrams in an area that is often used for activities by residents. The authors obtained data that residential communities are more dominant in outdoor activities complete with several facilities such as: seating, sports facilities, relaxing places by looking at the view of the Park and other public facilities, rather than being in open spaces with no facilities.Keywords: preference, open space, housin

    REDESAIN KANTOR PENGELOLA DAN BANGUNAN ASSEMBLY PADA PT INKA DENGAN PENDEKATAN POST MODERN JAMES STIRLING

    No full text
    Industri di bidang transportasi adalah salah satu sasaran pembangunan Indonesia untuk jangka waktu yang dipandang dapat menunjang komponen-komponen ekonomi. Salah satu media transportasi yang memiliki potensi adalah pengembangan industri kereta api. Pemerintah Indonesia pada tahun 1981 mulai mengembangkan program rehabilitasi dan pembangunan jaringan Kereta Api Nasional berskala besar termasuk mendirikan BUMN, yaitu PT. (Persero) INKA di Madiun. INKA dengan total aset 32 miliar US Dollar menjadi salah satu andalan bagi perekonomian Indonesia. Indonesia ini mulai menangani proyek berskala besar pada tahun 1982 dan 1986, produk yang dihasilkan adalah 1908 unit KA pengangkut, 335 unit Kereta penumpang, 35 unit Kereta Listrik serta 153 pembuatan roda KA. Selain itu INKA berhasil mengekspor produk-produknya ke negara Asia antara lain Malaysia, (isoplant container roda), Thailand, Jepang, serta untuk kebutuhan dalam negeri melayani pesanan dari PERUMKA, PUSRI, Aneka Tambang, PERTAMINA. Melihat prestasi yang dilakukan oleh INKA maka tidak diragukan lagi bahwa INKA adalah aset yang besar bagi kemajuan trnsportasi dan mempunyai SDM yang memiliki kualitas tinggi, profesional, serta mampu menguasai teknologi tinggi. Dalam proses perkembangannya, industri kereta api di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat dan memiliki masa depan cerah untuk bersaing di pasaran domestik maupun regional serta mampu berkompetisi untuk menghadapi iklim globalisasi dewasa ini. Sehingga dengan tercapainya kemajuan tersebut diperlukan faktor penunjang yang memadai, salah satunya di bidang fisik yaitu mengenai bangunan dan peralatan massa bangunan yang memenuhi syarat untuk bangunan industri berskala besar selain itu juga mengenai keprofesionalan dalam penanganan produksi untuk kepusan konsumen. Kata kunci : industri, transportasi, produksi Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi sangat pesat di kawasan Asia Tenggara, dan bertekad untuk menjadi salah satu negara industri terkemuka di dunia. Hal ini dapat dibuktikan yaitu pada tahun 1970 pembangunan di bidang infrastruktur menjadi prioritas utama dalam rangka mendukung dan mempertahankan perkembangan ekonomi tingkat tinggi. Industri di bidang transportasi adalah salah satu sasaran pembangunan Indonesia untuk jangka waktu yang dipandang dapat menunjang komponen-komponen ekonomi dan mampu mendudkung keberadaan sektor pertanian. Salah satu media transportasi yang memiliki potensi adalah pengembangan industri kereta api. Pemerintah Indonesia pada tahun 1981 mulai mengembangkan program rehabilitasi dan pembangunan jaringan Kereta Api Nasional berskala besar termasuk mendirikan BUMN, yaitu PT. (Persero) INKA di Madiun. INKA dengan total aset 32 miliar US Dollar menjadi salah satu andalan bagi perekonomian Indonesia. Indonesia ini mulai menangani proyek berskala besar pada tahun 1982 dan 1986, produk yang dihasilkan adalah 1908 unit KA pengangkut, 335 unit Kereta penumpang, 35 unit Kereta Listrik serta 153 pembuatan roda KA. Selain itu INKA berhasil mengekspor produk-produknya ke negara Asia antara lain Malaysia, (iso plant container roda), Thailand, Jepang, serta untuk kebutuhan dalam negeri melayani pesanan dari PERUMKA, PUSRI, Aneka Tambang, PERTAMINA. Melihat prestasi yang dilakukan oleh INKA maka tidak diragukan lagi bahwa INKA adalah aset yang besar bagi kemajuan trAnsportasi dan mempunyai SDM yang memiliki kualitas tinggi, profesional, serta mampu menguasai teknologi tinggi. Dalam proses perkembangannya, industri kereta api di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat dan memiliki masa depan cerah untuk bersaing di pasaran domestik maupun regional serta mampu berkompetisi untuk menghadapi iklim globalisasi dewasa ini. Sehingga dengan tercapainya kemajuan tersebut diperlukan faktor penunjang yang memadai, salah satunya di bidang fisik yaitu mengenai bangunan dan peralatan massa bangunan yang memenuhi syarat untuk bangunan industri berskala besar selain itu juga mengenai keprofesionalan dalam penanganan produksi untuk kepusan konsumen. Tujuan Pembahasan Pembahasan ini bertujuan untuk menggali dan mengungkapkan masalah-masalah yang berkaitan dengan industri KA di Madiun. Selain itu untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai aktivitas yang terjadi di dalamnya, mengungkapkan data-data fisik, lay out, program dan fungsi ruang, utilitas serta hal-hal yang berkenaan dengan fisik industri tersebut, kemudian data non fisik seperti sejarah, struktur organisasi, jumlah sumber daya manusia, dan sebagainya menghasilkan alternatif solusi pemecahan dan perancangan industri Kereta Api. Metodologi Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Data diperoleh dengan melakukan wawancara dengan nara sumber yang mengetahui tentang INKA. Observasi langsung ke lokasi, serta studi literatur. Dari hasil pengumpulan data dilakukan ke lokasi serta sintesa terhadap permasalahan dengan menggunakan teori yang ada (lihat skema alur pikir). Tinjauan Khusus PT INKA Madiun PT. INKA berlokasi di jalan Yos Sudarso 71 Madiun, lokasi ini dipilih berdasarkan hasil studi pada tahun 1977 yang dilakukan oleh Nippon Sharyo Seizo Kaesta, Ltd. Jepang. Pada awalnya merupakan gudang kereta/ lokomotif dari Balai Jasa PJKA, kemudian karena adanyapeningkatan kebutuhan di bidang transporatsi darat maka dialihfungsikan fasilitas dan asetnya menjadi PT. (Persero) INKA pada tanggal 29 Agustus 1981. a. Kondisi awal PT. INKA adalah sbb: • Luas areal : 20,72 Ha • Luas bangunan : 5,26 Ha • Mesin dan alat : 579 unit • Tenaga kerja : 829 orang dari PJKA, BPPT, dan Perindustrian • Daya Listrik : 1000 KA b. Kondisi PT. INKA saat ini : • Luas areal : 225.000 m2 • Luas bangunan : 93.634 m2 • Tenaga kerja : 878 orang • Fasilitas produksi : 660 alat permesinan, 290 mesin pengelasan. • Fasilitas teknik : CAD System dan test equipment • Kapasitas produksi : - 1908 unit KA barang - 335 unit KA penumpang - 36 unit KRL - 153 unit bogie - 20 unit KRD - 3200 ton diversivication • Produk yang diekspor : - Kereta BHN ( Ballast Hopper Wagon ) - Bogie ke Malaysia • Kerjasama dengan pihak lain : - PT. Nippon Sharyo Jepang, Shinkenen untuk manufacturing. - Belgia, Amerika untuk desain KRL, KRD, dan Prancis untuk lokomotif. Kelompok Bangunan, Fungsi, dan Aktivitas PT. (Persero) INKA secara fisik memiliki 3 kelompok bangunan yang terbagi menjadi : 1. Bangunan pengelola Bangunan pengelola merupakan tempat untuk melakukan kegiatan pengelolaan, pengaturan, pengawasan industri, yang memiliki fungsi sebagai pusat kegiatan menajemen dan administrasi. Kelompok ini terbagi 3 yaitu : a. Kantor direksi utama Merupakan kelompok pengelola yang paling utama, tugasnya mengatur dan melekukan pengawasan serta tanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan proses produksi atau jalannya PT. INKA tersebut terutama terhadap kemajuan dan mutu produksi serta SDM yang dihasilkan. b. Kantor Administrasi, meliputi : • Ruang direktorat komersial, yang mencakup aktivitas : - Departemen Komersial Pelanggan, administrasi, hubungan pelanggan dengan dukungan produk. - Departemen Riset dan Pengembangan Usaha; bagian riset dan informasi pasar dan strategi usaha. - Departemen Pemasaran meliputi bagian estimasi harga, bagian rencana pemasaran dan kontrak penjualan. • Ruang direktorat keuangan, meliputi : - Departemen Akuntansi; meliputi bagian keuangan, vertikasi bagian akuntansi manajemen - Departemen Manajemen Akuntansi • Ruang direktorat umum meliputi : - Departemen SDM; meliputi bagian pengembangan personil, administrasi personalia dan bagian kesejahteraan. - Departemen Umum; meliputi bagian sekretariat, hukum, bagian kerumahtanggaan, bagian humas, dan bagian keamanan. • K3LH mencakup kegiatan penanganan limbah industri • Kantor perwakilan merupakan kantor perwakilan dari masing-masing perwakilan asing yang melakukan kolaborasi dengan PT. INKA maupun dari kantor perwakilan dari Bandung dan Jakarta. • Ruang pembinaan Koperasi • Ruang koordinasi program meliputi bagian manajemen strategi perusahaan serta bagian manajemen program informasi dan visibility. • Ruang satuan pengawasan intern meliputi bagian keuangan dan pengawasan bidang operasional. c. Kantor Teknologi Produksi dan QA (Quality Assurance) Merupakan tempat pengembangan teknologi dan pembuatan desain produk terdiri atas : • Ruang teknologi; mencakup : Departemen Pengembangan Teknologi meliputi bagian penelitian produk dan teknologi serta bagian pengembangan produk dan metode. Departemen Engineering meliputi bagian project engineering dan rekayasa sistem. Departemen Desain meliputi bagian informasi, pengendalian desain, dan desain detail. • Ruang produksi dan QA Merupakan tempat pengembangan teknologi dan pembuatan desain produksi; terbagi menjadi : Departemen Teknologi Produksi, meliputi bagian perencanaan detail dan bagian proses produksi. Departemen Rendal Produksi; meliputi bagian perencanaan produksi dan pengemdalianbagian prtoduksi. Divisi Manufaktur meliputi divisi khusus untuk pelaksanaan yang terdiri dari : Dept. Fabrikasi dan Dept. Finishing. Departemen Pemeliharaan meliputi bagian rendal pemeliharaan dan perawatan. • Pusat Quality Asurance merupakan bagian inspection dan testing, bagia quality engineering dan dokumentasi. 2. Bangunan Hall Production Merupakan bangunan khusus yang digunakan untuk melakukan proses produksi, bangunan ini terdiri dari bermacam-macam bagian yang disesuaikan dengan urutan proses produksi. a. Open Storage b. Metal Workshop c. Sub Assembly d. Assembly terdiri dari Assembly Barat dan Timur e. Grat Blasting f. Painting Shop g. Painting and Installing Workshop h. Final Equipment i. Bogie and Machining Workshop j. Testing Final Inspection Shop Merupakan tempat perlengkapan akhir, yaitu pemasangan aksesoris seperti lampu, interior, AC, karpet, dsb. 3. Bangunan Penunjang Berfungsi untuk menunjang kegiatan perusahaan baik pengelolaan, Hall production maupun teknologi yang mencakup atas : • Pusat Logistik, • Penunjang Produksi,. • Penunjang Umum, 3.1. Proses Produksi Proses produksi pada INKA menggunakan alur linear dengan menggunakan inter mittent producess yaitu produksi yang mempunyai waktu pendek dalam persiapan peralatan untuk perubahan yang cepat guna menghadapi variasi produksi yang berganti. Skema Proses Produksi PT INKA 3.2. Sirkulasi Sirkulasi yang terdapat pada PT. INKA terdiri dari 3 bagian yaitu : a. Sirkulasi Pengelola terdiri dari : b. Sirkulasi Hall Production 3.3. Utilitas a. Jaringan listrik untuk memanfaatkan fasilitas PLN dengan gardu dan disalurkan ke bagian bangunan. Untuk Hall Production memiliki kekuatan 1250 KVA-1700 KVA, fasilitas lain 50- 800 KVA. Total voltase 20 KVA, daya 1700 A tanpa genset. b. Jaringan air memanfaatkan sumur artesis dengan gravitasi untuk penyaluran kerang/ bangunan. c. Penghawaaan menggunakan AC untuk kantor dan penghawaan alami untuk Hall Production. d. Komunikasi menggunakan lampu buatan untuk perkantoran/ penerangan alami untuk Hall Production. e. Pemadam kebakaran menggunakan Fire Hydrant dengan tabung pada setiap bangunan. Detector pada Hall Production, Kantor Penunjang, serta Hydrant Box di luar bangunan. f. Penangkal petir menggunakan sistem Faraday untuk efisisensi dan karena bangunan menyenar dipasang di atap disalurkan ke tanah. Tinjauan Arsitektur bangunan-bangunan yang ada pada PT. INKA merupakan gabungan antara bangunan lama konservasi, renovasi, dan bangunan kantor pengelola, di antara ketiga masa bangunan tersebut, bangunan administrasi dan teknologi produksi merupakan bangunan produksi tetapi karena kebutuhan ruang maka dialihfungsikan menjadi kantor sehingga masih tersisa struktur/ pondasi instalasi. Direnovasi sekitar tahun 1985 sama dengan di alihfungsikannya Balai Jasa menjadi INKA. Tampilan bangunan yang ada sekarang menggunakan arsitektur regionalism dengan atap pelana dan selasar dengan pergola besi, tampilannya begitu sederhana dan tidak menampilakn identitas bangunan tersebut. Untuk bangunan direksi memiliki tampilan yang lebih bagus dengan arsitektur regionalism yang lebih terasa dan berkesan megah dibandingkan dengan kedua bangunan lainnya. Bangunan assembly merupakan bangunan baru dengan struktur yang lebih canggih, workshop maupun carshell, menggunakan atap pelana dengan GRP dan dinding bata serta jendela kaca dengan kusen-kusen almunium. Bangunan ini memiliki tampilan regionalism yang disesuaikan dengan fungsinya sebagai bangunan industri PENDEKATAN PROGRAM DASAR PERANCANGAN Titik Tolak Pendekatan Pendekatan ini mempunyai tujuan untuk menyusun landasan program perencanaan dan perancangan kantor pengelola dan assembly pada PT. INKA. Pendekatan perencanaan dan perancangan ini berpedoman pada kebutuhan sarana dan prasarana yang disesuaikan dengan fungsi yang ada pada kantor pengelola dan bangunan assembly pada PT. INKA Madiun. Adapun kriteria yang digunakan adalah : Redesain bangunan kantor dan assembly sehingga mampu meningkatkan kedua bangunan tersebut. Kedua bangunan tersebut diharapkan akan memenuhi kebutuhan yang ada di PT. INKA baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang. Penekanan pendekatan pada kantor pengelola dan bangunan assembly, karena fungsi dari kedua bangunan tersebut adalah untuk mendukung alur produksi. Merupakan analisa aktivitas dan pelaku serta tapak dengan mengadakan pendekatan : Pendekatan kualitatif Menyangkut aspek arsitektur, kegiatan pelaku, kebutuhan ruang, sirkulasi, struktur, dan perlindungan dari bahaya kebakaran. Pendekatan kwalitatif Menyangkut kapasitas ruang, besaran ruang, kapasitas peralatan pada ruang assembly, dan pemilihan tapak/ lokasi. Pendekatan Pedoman Rencana Tata Bangunan pendekatan ini dimaksudkan untuk pedoman bagi rencana perancangan kantor pengelola dan bangunan assembly. Pendekatan ini menyangkut pada permasalahan : Pendekatan Proyeksi Jumlah Karyawan pendekatan ini didasarkan pada kebutuhan untuk masa 5 tahun mendatang. Berdasarkan pada penerimaan karyawan/ tahun, PT. INKA hanya menerima 150 karyawan/ tahun. Jadi berdasarkan jumlah karyawan yang ada sekarang yaitu 874, maka untuk masa yang akan datang berjumlah 1674 orang. (sumber Humas PT. INKA) Pendekatan Aktivitas Aktivitas yang terdiri dari : a. Aktivitas manusia yaitu karyawan, pekerja, pengunjung. b. Aktivitas produksi yaitu proses produksi yang terjadi pada bangunan assembly. Berdasarkan pada struktur organisasi PT. INKA, aktivitas karyawan pada kantor pengelola dan assembly berdasrkan pada struktur organisasi yang ada, yaitu dapat dikelompokkan sbb : a. Kelompok Direktorat Utama Kelompok ini merupakan pengawas dan penentu segala sesuatu yang ada pada PT. INKA Madiun, yaitu dengan dipimpin seorang direksi. b. Kelompok Direktorat Umum Kelompok ini terdiri dari 4 departemen yaitu Departemen Umum, Departemen Sumber Daya Manusia, Departemen K3LH, dan Perwakilan. c. Kelompok Direktorat Keuangan Terdiri dari 3 departemen yaitu Departemen Akuntansi, Departemen Keuangan, dan Koperasi. d. Kelompok Direktorat Komersil Terdiri dari 3 departemen yaitu Departemen Pelayanan Pelangggan, Riset Usaha, dan Pemasaran. e. Kelompok Direktorat Teknologi Terbagi menjadi 3 yaitu Pengembangan, Teknik, dan Desain. f. Direktorat Industri Terbagi menjadi 4 yaitu Divisi Manufaktur, Teknologi Produksi, Pemasaran, dan Pemeliharaan. g. Kelompok lainnya adalah : pusat koordinasi, satuan pegawai intern, dan logistik. Pendekatan Kapasitas Produksi kapasitas produksi yang terdapat pada PT. INKA Madiun per tahun tergantung dari permintaan pemesan yaitu Perumka. Kapasitas produksi dititikberatkan pada kapasitas produksi yang telah diteteapkan per tahunnya. Kapasitas produksi dan jenis produksi per tahunnya : Kereta api penumpang = 60 unit/ tahun KRL = 7 unit/ tahun Kereta barang = 150 – 190 unit/ tahun Kereta rel diesel = 10 unit/ tahun Sedangkan untuk kegiatan pelaksanaan proses produksi pada bangunan assembly dimulai dari pukul 08.00 – 16.00 WIB tanpa shift dengan waktu istirahat antara pukul 12.00 – 13.00. Pendekatan Lay Out Proses Produksi proses produksi menggunakan sistem lay-out by process yaitu berdasarkan pengelompokan mesin dan kesamaan fungsi, alur produksi pada jenis kereta barang maupun penumpang sama, hanya berbeda pada target finishing. Pendekatan Sirkulasi sirkulasi yang ada dikelompokkan menurut pelaku aktivitas yaitu : 1. Sirkulasi kelompok pengelola yaitu sirkulasi yanbg terdapat pada kantor pengelola terdiri dari sirkulasi karyawan, staf, pengunjung, dan sirkulasi kendaraan. 2. Sirkulasi kelompok hall production yaitu sirkulasi pada bangunan assembly dan lingkungan yang ada di kelompok produksi dan penunjang produksi. 3. Sirkulasi kelompok penunjang yaitu sirkulasi yang ada pada bangunan penunjang baik umum, maupun bangunan produksi, menyangkut pada masalah manusia, dan kendaraan. Pendekatan Analisa Standar Besaran Ruang berdasarkan literatur : 1. Ernest Neufert, John Willey and Son, Architect Data. 2. Joseph de Chiara and John Callender, Time Saver Standart of Building. 3. Edward de Mills, 1976, Planning Building for Habitation Comerce and Industry London. 4. Oswald W. Grube, 1971, Industrial Building and Factories. 5. Office Planning and Design. Pendekatan Analisa Psikologis Ruang Untuk menciptakan kenyamanan pada pemakai, maka perlu memperhatikan hal-hal sbb : Pencahayaan Pencahayaan pada banguna kantor untuk alami memiliki daya jangkau antara 6 – 7 meter dari jendela. Untuk bangunan assembly perlu mengandalkan pencahayaan alami dengan menggunakan suatu skylight pada atap ataupun jendela yang tidak menimbulkan pembayangan dalam ruang. Untuk pencahayaan buatan disesuaikan dengan aktivitas yang ada, sehingga tidak menimbulkan pemborosan energi, dapat menggunakan sistem langsung maupun tidak langsung. Penataan Ruang Produksi Pada ruang ini dibutuhkan penataan khusus terutama untuk pengaturan mesin peralatan produksi yang ada adalah : • Krane untuk penggantung • Sruktur instalasi untuk utilitas bangunan • Tangga-tangga vertikal • Penyangga kereta • Terting/ mesin pengontrol produksi Sedangkan penataan lainnya adalah masalah penataan alur produksi yaitu alur produksi linear dengan posisi 3 meter dari As kiri-kanan, dan penyediaan ruang kerja 2 meter kiri-kanan. Bahan Bangunan Pemilihan bahan bangunan juga dapat mempengaruhi kenyamanan kerja, pada kantor perlu bahan bangunan yang ekspersif, sedangkan untuk assembly diperlukan bahan yang awet serta tahan terhadp zat-zat tertentu. Pendekatan Analisa Struktur Bangunan Pendekatan ini didasarkan pada keuntungan dan kerugian penerapan sistem struktur dengan pertimbangan aspek-aspek sbb : • Kondisi lingkungan dan daya dukung tanah • Jumlah lantai serta peralatan produksi yang akan digunakan • Pertimbangan bahan dan perawatannya • Kestabilan bangunan terhadap gempa, angin, mesin produksi. • Bentang struktur yang dihasilkan oleh sistem struktur untuk bangunan produksi. Sistem Pembuangan Air Kotor Sistem pembuangan dilakukan dengan penyaluran air kotor ke penampungan khusus, kemudian disalurkan ke penampungan kota. Untuk proses produksi pada bangunan assembly, air kotor yang dihasilkan dan disalurkan pada saluran limbah industri kemudian dibuang ke saluran kota, karena air kotor yang dihasilkan tidak berbahaya dan tidak banyak. Sedangkan untuk pembuangan sampah produksi bisa didaur ulang atau dijual. Sistem Jaringan Listrik Jaringan listrik yang digunakan yaitu menggunakan tenaga dari PLN dengan genset sebagai alternatif cadangan. Untuk bangunan industri digunakan gardu-gardu untuk penyaluran energi ke seluruh bangunan. Sistem Penangkal Petir Sistem penangkal petir menggunakan 3 alternatif yaitu : a. Sistem Franklin yaitu melindungi bangunan yang luasnya sesuai dengan luas kerucut yang jari-jari alasnya sama dengan tinggi kerucut tersebut. Daya jangkaunya terbatas untuk bangunan panjang, cukup satu terminal pada puncak gedung. b. Sistem Faraday yaitu menggunakan tiang dengan tinggi 30 cm serta berjarak 5 cm dihubungkan dengan kawat dan cocok untuk melindungi bangunan tinggi, baik untuk bangunan memanjang serta di pasang mengelilingi atap bangunan. c. Sistem radioaktif, sistem ini sangat membahayakan lingkungan, walaupun lebih praktis dan daya jangkaunya luas. Sistem Pemadam Kebakaran a. Sprinkler, cara kerjanya secara otomatis dengan mengeluarkan air pada suhu 57-71 º C dipasang pada plafond. b. Hydrant, terdiri dari dua yaituhydrant box ditempatkan di dalam ruangan sedangkan hydrant pillar dipasang di luar bangunan yang dihubungkan dengan PDAM. c. Fire Extuingisher, berupa tabung berisikan serbuk kimia-gas karbon, yang dipasang di dinding. Telekomunikasi Menggunakan sistem PABX dengan fasilitas telepon, telex, facsimili, terutama untuk kantor pengelola. Pendekatan Desain Pendekatan desain pada re-desain kantor pengelola dan bangunan mempertimbangkan hal sbb : a. kesan bangunan industri yang representatif dan memiliki citra identitas yang kuat sehingga menjadi point interest bagi lingkungan sekitarnya. b. Penekanan desain yang dilakukan harus sesuai dengan tat ruang dan sirkulasi di dalam bangunan tersebut. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pendekatan desain yang dilakukan pada perancangan dengan menggunakan post-modern arsitektur dari presedent James Stirling. Ciri-ciri arsitektur James Stirling yang akan diambil adalah sbb : 1. Metaphor (perumpamaan, simbolis) Mengumpamakan bangunan sebagai simbol atau bentuk tertentu, misalnya tower diumpamakan sebagai suatu pohon atau menara. 2. Geometris Penggunaan unsur-unsur geometris dalam bentuk-bentuk masa

    Informal sector strategy in urban inorganic waste management toward 3 M management (Merubah: Changing, Mengurangi: Reducing, Manfaat: Benefit) in Semarang city

    No full text
    Moreover urban waste can be seen as a cultural problem because it affects various aspects of life, and the impact on urban waste management system nowadays are not effective and efficient yet. The reason for conducting this research is the emergence of the informal sector phenomena of urban waste management that can contribute to reduce the volume of urban waste production. The purpose of this research is to find out the informal sector strategy in urban waste management, especially inorganic waste. The researchers used qualitative research to explain the phenomenon as the focus of research. The result of research is 3M phenomenon, that is derived from Indonesian words (Mengubah = Changing, Mengurangi = Reducing, Manfaat = Benefit), in the management of urban inorganic waste. The explanation are; Mengubah: turning waste into economic value; Mengurangi: If the economic value of the urban waste volumes increases, the volume of urban waste will eventually be reduced; and Manfaat: the benefits obtained are management cultivating empowerment, reducing the burden of the landfill volume, being closer to inorganic zero waste condition. Suggestions are as follows: [a] development of management towards go-green, [b] urban waste management based on predictable community empowerment will be more effective and efficient in the future

    SETTING PLAYGROUND TAMAN BUMIREJO SEMARANG TERHADAP PRIVASI DAN KEAMANAN ANAK

    No full text
    Abstract: Playgrounds have an important role in fulfilling the basic rights of children, namely playing. To realize a child-friendly playground, in its design it is important to pay attention to the involvement of children and parents as users. This is because individual experiences will affect a person's behaviour patterns towards a setting. This process is carried out by humans to be able to achieve comfort, including those that are part of privacy and savety. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. This study aims to determine the relationship between privacy and savety in influencing the formation of behavioural patterns that occur at the Taman Bumirejo Semarang playground setting. The results showed that a playground setting that meets the savety attributes will be able to fulfil the child's sense of privacy so that the child can be free, comfortable, and happy when playing. Abstrak: Taman bermain anak atau playground memiliki peran penting dalam memenuhi hak dasar anak yaitu bermain. Untuk mewujudkan playground yang ramah anak, dalam perancangannya penting untuk memperhatikan adanya keterlibatan anak dan orang tua sebagai pengguna. Hal ini karena pengalaman individu akan mempengaruhi pola perilaku seseorang terhadap suatu setting. Proses ini dilakukan manusia untuk dapat mencapai kenyamanan, termasuk yang menjadi bagian didalamnya adalah privasi dan keamanan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara privasi dan keamanan dalam mempengaruhi terbentuknya pola perilaku yang terjadi pada setting playground Taman Bumirejo Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setting playground yang memenuhi atribut keamanan, akan dapat memenuhi rasa privasi anak sehingga anak dapat leluasa, nyaman, dan senang ketika bermain

    STRUKTUR SHELL PADA Il Palazzetto Dello Sport Italia

    No full text
    Il Palazzetto Dello Sport, sebuah bangunan olahraga tertutup yang memiliki bentuk terlihat yang sederhana namun memiliki sistem struktur yang cukup kompleks. Atap kubahnya yang mendominasi visualisasi bangunan memiliki permukaan yang halus, bersih dan berkualitas tinggi. Terlihat jelas kubah membulat (spherical) nya yang merupakan jenis dome shell didukung oleh penopang beton berbentuk huruf Y. Bagian puncak kubah dilubangi hingga terbuka dan ditutup oleh sebuah atap kubah yang lebih kecil. Pada bagian dalam, di bawah kubah terpasang dinding kaca yang luas di sekeliling tribun penonton. Bangunan ini memiliki delapan pintu masuk di sekeliling denahnya yang bulat. Pada bagian bawah tiap beton penyangga yang berbentuk Y terdapat masing-masing satu kaki (kolom) vertikal yang membuat sistem penyangga yang stabil. Keunikannya yaitu tepi atap kubah yang bergelombang. Perancangnya memiliki kemampuan untuk memadukan aspek struktural dan arsitektural sehingga saling melengkapi. Hasilnya adalah sebuah bangunan yang megah, indah dan kokoh berdiri dan terawat selama hampir setengah abad hingga saat ini. PENDAHULUAN Struktur adalah sarana penyaluran beban dan akibat penggunaan dan kehadiran bangunan kedalam tanah. Studi tentang struktur menyangkut pemahaman prinsip-prinsip dasar yang menunjukkan dan menandai perilaku objek-objek fisik yang dipengaruhi oleh gaya. Bangunan harus mampu menghadapi gaya-gaya vertikal gravitasi dan gaya-gaya horizontal angin di atas tanah serta gaya-gaya gempa di bawah tanah. Kulit bangunan harus menahan perbedaan suhu, tekanan udara, dan kelembaban antara lingkungan luar dan dalam bangunan. Susunan batang-batang harus dapat menyerap gaya-gaya ini dan meneruskannya dengan aman ke tanah dengan usaha sesedikit mungkin . Struktur dirancang untuk berfungsi sebagai kesatuan secara keseluruhan dan sebagai serangkaian unsur yang berbeda-beda. Acuan kepada jenis-jenis beban yang diperkirakan disertakan untuk menampilkan pentingnya kenyataan bahwa struktur itu biasanya dirancang terhadap sekumpulan kondisi beban tertentu dan berfungsi sebagai struktur terhadap kondisi-kondisi ini. Unsur-unsur struktur adalah tulang punggung yang penting untuk “badan” bangunan, dan seorang arsitek yang mampu mengendalikan unsur-unsur struktur dan menampilkannya untuk mengungkapkan hakikat bangunanlah yang dapat mengidentifikasi dan mencerminkan tujuan pembangunannya sebagai suatu wadah untuk interaksi berbagai sistem kegiatan yang berbeda 2. STRUKTUR SHELL Pada dasarnya shell diambil dari beberapa bentuk yang ada dialam seperti kulit telur, tempurung buah kelapa, cangkang kepiting, cangkang keong, dan sebagainya (Curt Siegel). Suatu struktur shell harus mempunyai tiga syarat, yaitu : • Memiliki bentuk lengkung (curved) • Relatif tipis terhadap permukaan atau bentangannya • Dibuat dari bahan yang keras, kuat, Sesuai dengan terjadinya bentuk shell, maka shell digolongkan dalam tiga macam: 1. Rotasional Surface, diperoleh bilamana suatu garis lengkung yang datar diputar terhadap suatu sumbu, dapat dibagi menjadi tiga yaitu : Spherical Surface Eliptical Surface Parabolic Surface 2. Ruled Surface, bilamana ujung-ujung suatu garis lurus digeser pada dua bidang sejajar, dapat dibagi menjadi dua yaitu : cylindrical surface eliptic paraboloid 3. Translational surface diperoleh jika suatu garis lengkung yang datar digeser sejajar diri sendiri terhadap garis lengkung yang datar lainnya, dapat dibagi menjadi dua yaitu : Hyperbolic Paraboloid Conoid Sesuai dengan lengkung permukaan, dibagi menjadi 1. Single Curved Shell, yang arah lengkungannya dalam satu arah serta permukaannya tidak diputar/digeser, dan dibentuk oleh konus yang sama. 2. Double Curved Shell, yaitu shell dengan arah lengkungannya dalam dua arah, terdiri dari 2 macam: • Synclastic shells • Anticlastic shells DOME SHELL Kubah modern dalam skala struktur yang besar dibangun dari kubah rangka besi yang bervariasi pada pertengahan abad 19, khususnya kubah Schwedler. Membran bola merupakan kasus khusus dari kelompok bentuk aksis simetris yang permukaannya didefinisikan oleh radius konstan dari kelengkungan. Gaya axial dalam membran bola yang disebabkan oleh gaya aksi seragam normal pada permukaan adalah konstan pada titik manapun pada permukaan. Seperti yang terjadi pada struktur-struktur lain, kondisi tumpuan kubah sangat mempengaruhi perilaku dan desain struktur. Secara ideal, tumpuannya tidak boleh menimbulkan momen lentur pada permukaan membran. Berdasrkan tinjauan kemudahan konstruksi, mimen lentur (yang tidak besar) biasanya boleh terjadi di tepi cangkang mudah dilaksanakan. Cangkang diperkaku secara lokal (biasanya dengan cara menambah ketebalannya) di sekitar tepi, dan khususnya diperkuat terhadap lentur. Pada diagram benda-bebas di puncak elemen cangkang. Semua gaya internal dalam bidang harus berupa gaya tekan agar keseimbangan elemen dalam arah vertikal terpenuhi. Cara untuk mengatasi gaya horizontal adalah dengan menggunakan cincin tarik, yang berupa planar yang menahan dorongan keluar dari cangkang. Cincin tarik yang digunakan harus menerus disekeliling cangkang. Hanya gaya horizontal ke bawah yang disalurkan ke tanah. Cangkang yang menggunakan cincin tarik dapat ditumpu oleh kolom-kolom karena di bawah cincin hanya ada gaya vertikal yang harus disalurkan ke tanah. Cangkang tanpa cincin tarik memerlukan sistem penyokong atau butresses. Penyokong (butresses) komponen vertikal dan horizontal dari gaya meridional dapat dipikul oleh penyokong. Penyokong ini harus dapat menahan gaya dorong ke luar yang terjadi. Masalah lain yang uga harus diperhatikan adalah cangkang harus mampu juga menahan beban –beban yang berarah tidak vertikal. Biasanya beban angin bukan merupakan masalah kritis dalam desain struktur cangkang. Beban gempa, yang juga berarah lateral seperti beban angin, dapat menimbulkan masalah serius dalam desain. Pada gambar di bawah ini dapat kita lihat bagaiman ilistrasi trajektori tegangan pada kubah bola akibat beban angin. HYPERBOLIC PARABOLOID Hyperbolic Paraboloid yang sering disebut dengan hypar atau h-p (HP), adalah permukaan translasional, bukan permukaan putaran; dengan memotong permukaan secara vertikal menghasilkan parabola, sedangkan secara horisontal membentuk hiperbola. Berdasarkan bentuk tepinya, hypar dapat dibagi menjadi: 1. Hypar with Curved Edge 2. Hypar with Straight Edge SHELL SILINDRIS Shell silindris dengan lengkungaan tunggal dapat tersusun dari berbagai tipe kurva yang berbeda. Kurva dasar mulai dari bentuk geometri tertentu dari tembereng lingkaran, parabola, elips, hiperbola dan cycloid sampai dengan bentuk geometri yang luwes dari garis funicular. T i n j a u a n K a s u s il Palazzetto Dello Sport Roma, Italia Arsitek Annibale Vitelozzi Insinyur struktur Pier Luigi Nervi Kontraktor umum Nervi dan Bartoli Dibangun tahun 1957 untuk ajang Olimpiade Tahun 1960. G E O M E T R I & K O N S T R U K S I Bangunan ini merupakan karakteristik desain dari P. L. Nervi. Terlepas dari kualitas keseluruhan bangunan ini yang sangat tinggi, bangunan ini dapat dikategorikan bangunan yang logis dan fungsional. Problem fungsional dalam menyediakan sebuah bangunan yang dapat menampung 4000 supporter untuk menonton pertandingan basket atau tenis menjadi faktor utama yang mempengaruhi seluruh keputusan dalam proses perencanaaan, perancangan, struktur, peralatan dan juga biaya. Salah satu cara untuk menyederhanakan konstruksi, dan mengurangi biaya, yaitu dengan cara repetisi elemen struktural. Untuk beton, repetisi dapat dibuat dengan pemakaian kembali (re-use) dari cetakan-cetakan atau elemen-elemen pra-pabrikasi, dimana potongan-potongan pra-pabrikasi dari tiang-tiang beton disambung pada bagian akhir ke bagian akhir yang lain dengan cara mengelas batang-batang beton bertulang , yang dibiarkan menonjol ke luar, lalu dituangkan adonan beton di sekeliling pertemuan (sendi) - (lihat gambar di samping ini). Prosedur ini membutuhkan rangka untuk sendi dan juga tangga perancah untuk menyokong elemen-elemen pra-pabrikasi. dibutuhkan pekerjaan beton yang sangat hati-hati di lapangan, sejak saat beton "cetakan di tempat " di letakkan pada titik yang paling rawan. (sebenarnya, kecemasan teoritis tentang kombinasi dari "cetakan di tempat" dengan beton pracetak telah dibuktikan tidak membutuhkan alas/ tanpa dasar/ penopang , karena keseluruhan rangka struktur atap ini masih bisa berdiri sendiri). Eksperimen yang dilakukan oleh perancangnya dengan rangka beton menunjukkan penemuannya berupa beton bertulang kualitas tinggi yang dinamakan ferro-cemento. Kuantitas dari bajanya sekitar delapan kali lebih baik dibandingkan dengan beton bertulang biasa, namun produk akhirnya merupakan material yang homogen. Dengan menggunakan ferro cemento, dia kemudian mengembangkan sebuah elemen pra-fabrikasi jenis baru, yaitu kotak berbentuk agak melengkung yang memiliki tepi, disebut juga panel shell. Panel tersebut dibuat dari beton dan hanya memiliki ketebalan sekitar 1 inci (2.54 cm). Ruang-ruang sisa dari tepi masing-masing panel membentuk cetakan dimana bentuk rangka menerus pada permukaan interior atap dapat dituang (di cor) di tempat, direkatkan dengan elemen (beton bertulang) pra-pabrikasi dengan cara mengekspos beton bertulang tersebut dan dibuat menerus (bersambungan) dengan cetakan di tempat (cast in place) dan elemen pra-fabrikasi. Ikatan antara beton cetak di tempat dengan elemen pra-fabrikasi yang bagus dan kuat dapat dicapai dan tidak ada kecenderungan menjadi terpisah-pisah (berlapis). Seluruh pertemuan berperilaku seperti satu kesatuan. Kulit permukaan diperlukan untuk mendukung elemen pra-fabrikasi. Untuk memasang elemen pra-fabrikasi, permukaan yang akan dibangun harus di bagi per sub-sub bagian menjadi sejumlah area identik atau sekumpulan area, dalam kasus ini berbentuk berlian atau disebut bentuk lozenge. Pola yang dihasilkan disebut sistem diagrid atau lamella. Di sini perancang mengikuti prinsip yang radial, yang telah menjadi kunci dimana bentuk permukaan bulat dapat dibangun pada masa lalu dan yang merespon gaya gravitasi dengan lebih baik (lihat gambar denah dan potongan di bawah ini). Sudut-sudut dari panel-panel itu semua menghasilkan garis-garis geodesik yang menyambung dari atap hingga tepi, bagaikan garis-garis bujur bumi. Garis-garis tersebut juga saling paralel dan mengingatkan pada garis-garis lintang bumi. Pada Little Sports Palace, lapisan kubah dibagi menjadi empat zona, yaitu : 1. Oculus, pada bagian puncak kubah yang diatapi oleh atap concrete-shell nya sendiri (disebut juga cupola) 2. Area utama atap dibagi ke dalam 27 garis radial tiap perempat lingkaran dan dibangun dari panel-panel berbentuk ketupat (13 ukuran yang berbeda yang dibutuhkan, menghubungkan dengan garis lintang lingkaran), (lihat gambar 4). 3. Tepi atap yang bergelombang bersatu tiap tiga garis radial pada area yang utama ke dalam titik tunggal (enam ukuran panel yang berbeda diperlukan). 4. Gaya di sembilan poin-poin perempat lingkaran kini digantikan oleh sembilan rangka bentuk Y atau penyokong, masing-masing dengan dua lengan, yang merupakan suatu ciri khas perancang dalam pengaturan struktur, dan dibawa disalurkan ke tension ring dari beton prategang yang besar dan tersembunyi agak di bawah permukaan tanah. Dengan pengaturan bentukan bola yang sederhana ini secara struktur dibawa dari sudut bangunannya ke dalam bumi tetapi, secara visual, kubah tampak mengapung di udara. Salah satu cara untuk memahami struktur adalah dengan membayangkannya sebagai sebuah bidang yang ada di atas tanah seperti cangkir terbalik, dengan bagian bawahnya terpotong seperti cincin. Cincin penegang (tension ring) ini memiliki dua kegunaan, untuk menancapkan bangunan pada permukaan tanah dan untuk mengalirkan beban agar merata pada tanah. Seluruh struktur Little Sports Palace adalah pra-pabrikasi kecuali kolom penopang dan cincin penegang. Sequence-nya dapat dilihat pada gambar 9. Cincin penegang, yang juga merupakan sambungan dari kolom penopang, sudah selesai dibuat dalam bentuk pra-tegang sebelum pekerjaan lainnya dilakukan. Bentuk dari kolom penopang diperpanjang dan diletakkan satu persatu di sepanjang garis batas; kaki vertikal di tiap bagian bawah kolom penopang membuatnya stabil dan bisa berdiri sebagai elemen terpisah. Pada gambar 8, tulangan kolom penyangga di sebelah kanan menonjol dari bagian atas lengan kolom, dan siap dimasukkan pada rangka antara panel pra-fabrikasi dari atap yang berombak. Bersamaan dengan diperpanjangnya panel, balok penguat diletakkan pada rangka, dan balok panel tersambung dengan benar, kemudian balok penguat dipasang sebagai sambungan permukaan pada beton, yang kemudian dipasang bersama dengan rangka. Gambar rencana (Gbr. 10) menunjukkan semua baja. Bagian yang besar melewati rangka (Gbr. 11) menunjukkan dengan detail bagaimana elemen – elemen dihubungkan dengan beton yang ditanam. Bagian prefabricated berbentuk lozenge merupakan beton penguat biasa, bukan penguat tingkat tinggi; lubang – lubang yang saling berhubungan pada bagian bawah memastikan permukaan yang bersih dan halus. A N A L I S A S T R U K T U R A L Struktur seperti ini – atau, untuk kepentingan tersebut, dengan berbagai jenis – tidak bisa dihitung sebelum bentuk dan perletakan elemen – elemennya ditentukan. Dengan ditetapkan bentuk geometrinya, analisa digunakan untuk mengetahui kekuatannya, untuk memastikan batas tingkat ketegangannya tidak melebihi batas, dan, tentu saja, untuk memastikan tingkat kestabilan struktur terhadap beban sistem dan beban bangunan, salju, angin, dsb. Perhitungan tepat atas kekuatan ini memang tidak mungkin dilakukan dengan variabel material seperti beton. Akan sangat rumit bahkan untuk material yang elastis sempurna seperti baja, dengan anggapan bahwa semua elemen sudah sesuai satu sama lain tanpa adanya gangguan dari luar. Perkiraan solusi untuk kubah berbentuk bola masih memungkinkan, dan perhitungannya tidak terlalu rumit. Analisisnya berdasarkan pada anggapan bahwa permukaannya bersifat elastis sempurna dan bukan merupakan membran kaku, yang tahan terhadap gangguan dengan cara diregangkan atau ditekan dan bukan dilengkungkan. Jika kita ambil potongan dari permukaan, tegangannya dianggap konstan di seluruh ketebalan kubah pada bagian tersebut. Tapi kalau dilengkungkan, ketegangan maksimumnya akan berbeda pada bagian permukaan satu dengan bagian permukaan lainnya. Anggapan tentang sifat membran cukup beralasan pada struktur shell tipis, terutama jika tepinya ditopang secara menerus. Pada kasus ini, masalahnya menjadi rumit karena menggunakan rangka. Meski demikian, kita bisa menganggap rata rangka dengan papan di antaranya (lihat gambar di samping) dan menganggap shell dengan ketebalan seragam, dalam hal ini ±13 cm. Bangunan dengan diameter 65,83 m ini memiliki kaki-kaki penopang berbentuk Y sejumlah 36 buah. Penempatannya diatur dengan seimbang pada seluruh keliling batas kubah agar dapat menyalurkan beban dengan lebih merata. Sudut seluruh kaki penopang ini sebesar 40 O dari permukaan tanah disesuaikan dengan lengkungan atap kubahnya. Pada bagian bawah permukaan tanah (tersambung dengan kaki penopang) terdapat tension ring (cincin tegang/ penarik) yang berfungsi sebagai pondasi menerus yang meneruskan gaya horizontal ke tanah. K E S I M P U L A N 1. Bangunan dengan diameter 65.83 m ini menggunakan struktur shell jenis dome shell tipis yang menggunakan cincin tarik dan penyokong. 2. Penempatan cincing tegang (tension ring). Biasanya cincin tegang (sebagai bagian batas dari kubah) berada di atas kolom penyangga, pada balok dinding, atau pada bagian tepi dari shell bentuk kerucut (conical shell). Terlepas dari perletakannya, membuat tension ring jadi pra-tegang merupakan suatu keuntungan karena tegangan cincing dan kubah (dome) menjadi stabil dan konsisten. 3. Untuk Palazzetto ini dengan adanya cincin tegang di dalam tanah, sifat pra-tegangnya dapat berfungsi dengan lebih mudah dibandingkan jika ditempatkan di atas permukaan tanah, dan juga sebuah cincin (ring) yang lebih besar dapat digunakan tanpa merusak estetika bangunan atau terlihat aneh. 4. Ukuran ring yang besar juga berfungsi sebagai pondasi menerus yang menyebarkan beban secara merata. Meskipun permukaan yang berbentuk kubah secara sutruktural dibawa ke arah tanah, namun tetap mendapatkan cahaya alami dari bidang terbuka yang dihasilkan oleh kolom-kolom penyangga. 5. Karena yang digunakan adalah struktur shell yang tipis (dari panel-panel beton yang tipis), maka sebaiknya disangga secara merata pada seluruh batas dome. Hanya dengan ini maka kondisi aksi membrane shell dapat terpenuhi. 6. Pemilihan shell yang tipis dan memiliki tulang-tulang (ribbed shell) dibandingkan membran shell dengan ketebalan sama dianggap lebih mahal dan tidak efisien. 7. Rangka-rangka tulangan (ribs) tersebut memberikan tekstur dan skala pada interior permukaan atap. Gaya-gaya yang terjadi seharusnya sealur dengan rangka tulangan karena bagian penguat (stiffer) dari strukturnya akan menyokong beban yang paling berat. 8. Dengan adanya ekspos permukaan kubah bagian dalam, maka kita dapat merasakan kesan bahwa kita dapat “melihat” gaya-gaya yang bekerja. 9. Keseluruhan desain merupakan satu kesatuan yang saling mendukung aspek structural (kekuatan bangunan) dan estetika (keindahan). D a f t a r P u s t a k a Billington, David P. Thin Shell Concrete Structure. McGraw-Hill Book Company. New York : 1965. Schodek, Daniel L. Struktur. PT Refika Aditama. Bandung : 1998. Schueller, Wolfgang. Struktur Bangunan Bertingkat Tinggi. PT Refika Aditama. Bandung : 2001. www.arch.columbia.net www.architecture.com www.culturalgeneral.net www.cyberguide.co

    Redesain Kantor Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah

    No full text
    Kantor Dinas Sosial Propinsi Jawa Tengah merupakan Kantor Dinas yang mempunyai tugas pokok membantu gubernur dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di bidang sosial. Sesuai dengan Standar Nasional tentang Dinas Sosial Propinsi, bahwa penyelenggaraan kantor tersebut diarahkan untuk mendukung dan menggerakkan kegiatan sosial dan penanganan terhadap Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial. Dengan adanya wadah atau penggerak kegiatan sosial, diharapkan masyarakat Jawa Tengah dapat lebih peka dan peduli akan masalah-masalah sosial di lingkungan Jawa Tengah, serta mampu menanggulangi atau menciptakan solusinya. Selain itu, dengan menumbuhkan kepedulian masyarakat Jawa Tengah akan masalah-masalah sosial di lingkungannya dapat mengurangi tingkat kesenjangan sosial dan lebih dalam lagi mampu menaikkan taraf hidup masyarakat Jawa Tengah khususnya, bahkan ke tingkat Nasional. Maka dari itu, Kantor Dinas Sosial perlu dimaksimalkan perannya dengan cara meredesain bangunan yang sudah ada untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Jawa Tengah, salah satunya yaitu menambahkan ruang-ruang yang dibutuhkan untuk kegiatan penyuluhan, pelatihan, dan publikasi hasil pelatihan oleh masyarakat binaan sosial. Untuk mencapai perancangan tersebut, dilakukan pengumpulan data, baik berupa studi pustaka, data dari instansi terkait maupun wawancara, kemudian dianalisasehingga diperoleh suatu pendekatan program perencanaan dan perancangan untuk selanjutnya digunakan dalam penyusunan program dan konsep dasar perencanaan dan perancangan.Konsep dasar perancangan digunakan untuk memperoleh kebutuhan dan dimensi ruang, tata ruang, perancangan elemen-elemen bangunan yang terkait dengan menggunakan pendekatan desain universal, dan perencanaan utilitas bangunan yang merespon lingkungan setempat. Kata Kunci : Kantor, Kantor Dinas Sosial Provinsi, Dinas Sosial, Pemerintah Propinsi, dan universal design

    PERMASALAHAN EFISIENSI JARAK PARKIR MOTOR PENGUNJUNG DI SUNRISE MALL KOTA MOJOKERTO

    No full text
    Abstract: A mall is a type of shopping center that is architecturally a closed building with a regulated temperature and has a regular walking path so that it is between small shops facing each other. At this time often the construction of buildings or places of activity for public use, does not take into account the provision of sufficient or efficient parking area for its users. Efficient can be interpreted as a way to achieve an optimal goal (fast and precise) and as desired, by minimizing the resources expended. In the Sunrise Mall area, it will be well formed if the circulation and parking system is well organized, comfortable, and safe in this area, but there are various problems encountered including the malfunction of the motorcycle parking area and making visitors who use motorbikes park not on the road. appropriate place provided. The circulation system is a vital connecting infrastructure in connecting various activities and uses of a land over an area that considers functional, economic, flexibility and comfort aspects. The circulation pattern that is the focus of the research is the circulation of visitors' vehicles, especially in the circulation of the motorbike parking area, where the circulation pattern will be seen in detail so that it will be known a relationship between the circulation pattern and the flow of visitors where the distance between the motorcycle parking area and the Sunrise Mall shopping building is known. far enough apart to make it less efficient for visitors to enter the Sunrise Mall building area.Keyword: Efficiency, Circulation, Distance Abstrak: Mal adalah jenis dari pusat perbelanjaan yang secara arsitektur berupa bangunan tertutup dengan suhu yang diatur dan memiliki jalur untuk berjalan jalan yang teratur sehingga berada di antara antar toko-toko kecil yang saling berhadapan.  Pada saat ini sering kali pembangunan gedung-gedung atau tempat kegiatan yang digunakan umum, tidak memperhitungkan penyediaan areal parkir yang cukup ataupun efisien untuk para penggunanya. Efisien dapat diartikan sebagai cara untuk mencapai suatu tujuan yang optimal (cepat dan tepat) serta sesuai keinginan, dengan meminimalkan sumber daya yang dikeluarkan. Pada kawasan Sunrise Mall akan terbentuk dengan baik apabila system sirkulasi dan parkir ditata dengan baik, nyaman, serta aman pada kawasan ini, akan tetapi ada berbagai permasalah yang ditemui diantaranya tidak berfungsinya pada lahan parkir sepeda motor dan menjadikan pengunjung yang mengunakan sepeda motor parkir tidak pada tempat semestinya yang disediakan. Sistem sirkulasi merupakan prasarana penghubung yang vital dalam menghubungkan berbagai kegiatan dan penggunaan suatu lahan di atas suatu area yang mempertimbangkan aspek fungsional, ekonomis, keluwesan dan kenyamanan. Pola sirkulasi yang menjadi fokus penelitian adalah sirkukasi kendaraan para pengunjung terutama pada sirkulasi lahan parkir motor, dimana pola sirkulasi tersebut akan dilihat secara detail sehingga akan diketahui suatu hubungan antara pola sirkulasi dengan alur pengunjung dimana jarak antara kawasan lahan parkir motor dengan gedung perbelanjaan Sunrise Mall yang terpisah cukup jauh menjadikan kurang efisien dalam jarak pengunjung saat memasuki kawasan gedung Sunrise Mall.Kata Kunci: Efisiensi, Sirkulasi, Jara
    corecore