1,720,985 research outputs found
Penambahan Minyak Nabati pada Ransum Berbasis Limbah Pengolahan Kedelai terhadap Konsumsi, Profil dan Metabolit Darah Domba Garut Betina
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa ternak, gambaran profil
dan metabolit darah domba Garut betina yang diberi pakan limbah pengolahan
kedelai dengan penambahan minyak nabati. Perlakuan yang diberikan yaitu P0
(ransum berdasarkan pakan yang diberikan di peternak atau kontrol) dan P1
(ransum berdasarkan pakan yang diberikan di peternak dengan penambahan minyak
nabati 5.2%). Penelitian ini menggunakan 10 ekor domba betina yang sudah pernah
beranak dengan rataan bobot badan 24.87±4.02 kg. Parameter yang diamati yaitu
konsumsi bahan kering, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, Beta-N, profil darah
(hematokrit, hemoglobin, leukosit, eritrosit) dan metabolit darah (glukosa dan
kolesterol). Data dianalisis menggunakan metode T-test. Hasil penelitian
menunjukan bahwa penambahan 5.2% minyak nabati di dalam ransum
mempengaruhi (P0.05)
terhadap konsumsi bahan kering, konsumsi protein kasar, konsumsi serat kasar,
konsumsi Beta-N, metabolit darah dan profil darah domba betina. Simpulannya
adalah penambahan minyak nabati 5.2% di dalam ransum berbasis limbah
pengolahan kedelai mampu meningkatkan konsumsi lemak kasar, namun tidak
mempengaruhi konsumsi bahan kering, protein kasar, serat kasar, dan Beta-N, dan
menghasilkan profil dan metabolit darah domba betina yang normal
Performa Induk dan Anak Kelinci New Zealand White yang Diberi Ransum Mengandung Daun Kelor Pada Fase Laktas
Kelinci adalah ternak yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan ternak lainnya. Daging dan bulu yang berkualitas dapat dihasilkan oleh kelinci karena memiliki potensi biologis dan ekonomi yang baik. Salah satu keunggulan lainnya pada ternak kelinci adalah kemampuannya untuk melahirkan anak yang banyak atau disebut juga dengan istilah prolific. Keunggulan ini juga menjadi kekurangan dari ternak kelinci karena besarnya angka mortalitas pada anak kelinci. Mortalitas pada anak kelinci dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah manajemen kandang, peforma induk, pakan, dan juga kemampuan induk mengasuh anak atau yang disebut mothering ability. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan dan menganalisa performa induk dan anak kelinci new zealand white yang diberi ransum mengandung daun kelor (Moringa oleifera lamk) dengan performa kelinci yang diberi ransum tanpa daun kelor. Analisis data dilakukan dengan metode rancangan percobaan rancangan acak lengkap (RAL) dengan taraf 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsumsi pakan perlakuan lebih baik dibandingkan dengan pakan kontrol, begitu halnya dengan pertumbuhan bobot badan induk dan efisiensi pakan induk. Simpulan dari penelitian ini yaitu penggunaan daun kelor pada ransum meningkatkan peforma induk kelinci new zealand white jika dibandingkan dengan pakan kontrol. Mortalitas dan PBBH anak kelinci tidak memiliki perbedaan yang nyata
Kecernaan Nutrien Kelinci New Zealand White Fase Bunting yang Diberi Ransum Mengandung Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk).
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian ransum komplit yang mengandung daun kelor (Moringa oleifera Lamk) terhadap kecernaan bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan lemak kasar serta untuk mengetahui level pemberian daun kelor pada ransum yang aman terhadap kecernaan nutrien kelinci. Penelitian ini menggunakan 12 ekor kelinci betina bunting. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu ransum komplit tanpa daun kelor (P0), ransum komplit dengan penambahan 10% daun kelor (P1), ransum komplit dengan penambahan 20% daun kelor (P2), dan ransum komplit dengan penambahan 30% daun kelor (P3). Analisis data menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) dan uji lanjut Duncan dengan menggunakan program SPSS 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan daun kelor pada ransum komplit tidak berpengaruh terhadap kecernaan bahan kering, bahan organik, dan protein kasar, tetapi berpengaruh terhadap kecernaan lemak kasar dan serat kasar. Penambahan daun kelor pada taraf 30% menurunkan kecernaan lemak kasar dan serat kasar. Penambahan daun kelor (Moringa oleifera Lamk) pada ransum kelinci dapat digunakan hingga taraf 30%
Kecernaan Nutrien pada Kambing Peranakan Etawa Jantan yang Diberi Konsentrat Mengandung Frass Black Soldier Fly
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi frass dari Black soldier fly (BSF) media bungkil inti sawit sebagai bahan pakan alternatif sumber serat dan protein didalam konsentrat terhadap kecernaan nutrien ransum penggemukan kambing peranakan etawa jantan. Penelitian ini menggunakan 8 kambing peranakan etawa jantan berumur 10 bulan dengan berat badan rata rata 30.6 ± 2.08 kg selama 8 minggu. Desain eksperimental yang digunakan adalah uji independent sample t-test dengan 2 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan ini membandingkan antara konsentrat komersial dan konsentrat komersial yang mengandung limbah larva BSF (frass) yang diberi bungkil inti sawit, perlakuannya yaitu P0 = rumput gajah 30% + 70% konsentrat komersial dan P1 = 30% rumput gajah + 70% konsentrat mengandung frass BSF. Peubah yang diamati adalah kecernaan bahan kering, bahan organik, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, Beta-N, dan TDN. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan ransum pakan yang mengandung frass BSF secara signifikan (P <0.05) lebih rendah nilai kecernaan bahan kering, bahan organik, Beta-N, TDN, serat kasar (P<0.1) dibandingkan konsentrat kontrol tanpa mempengaruhi nilai kecernaan protein kasar dan lemak kasar. Ransum perlakuan konsentrat yang mengandung frass BSF (P1) tidak memiliki efek negatif pada konsumsi bahan kering dan bahan organik
Penambahan Ekstrak Teh Hitam pada Ransum Mengandung Minyak Biji Bunga Matahari terhadap Respon Fisiologis Domba Fase Reproduksi
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ekstrak teh hitam 500 ppm dalam ransum mengandung 4% dan 6% minyak biji bunga matahari terhadap respon fisiologis domba fase reproduksi akhir kebuntingan hingga awal laktasi. Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 2×2 dengan faktor A terdiri atas 2 level minyak biji bunga matahari (4% dan 6%) dan faktor B terdiri atas 2 level ekstrak teh hitam (0 ppm dan 500 ppm) dengan 5 ulangan. Domba yang digunakan adalah domba periode akhir kebuntingan sebanyak 20 ekor (bobot badan awal 31.18 ± 2.28 kg). Peubah penelitian meliputi respon fisiologis dan profil darah. Data diolah menggunakan analisis ragam (ANOVA). Interaksi antara minyak dan ekstrak teh tidak memberikan pengaruh terhadap respon fisiologis dan profil darah. Pemberian 6% minyak biji bunga matahari nyata meningkatkan jumlah eritrosit (P<0.05) dibandingkan pemberian 4% minyak. Penambahan 0 dan 500 ppm ekstrak teh hitam dalam ransum mengandung 4% dan 6% minyak biji bunga matahari tidak mempengaruhi respon fisiologis dan profil darah domba
Pertumbuhan, Produksi dan Nutrien Beberapa Varietas Sorgum Hybrid Dengan Jarak Tanam Berbeda sebagai Sumber Pakan
Sorgum merupakan jenis tanaman sereal yang berpotensi sebagai makanan ternak. Produksi dan kualitas sorgum lokal masih sangat rendah dibanding produk impor, sehingga diperlukan upaya perbaikan varietas tanaman melalui program pemuliaan tanaman salah satunya introduksi. Introduksi sangat berpotensi terhadap peningkatan hijauan dan menambah keragaman varietas sorgum pakan.
Hijauan sangat diperlukan untuk produksi dan reproduksi ternaknya maupun kebutuhan hidup. Ketersediaan hijauan untuk pakan ternak semakin terbatas dikarenakan terbatasnya lahan untuk pengembangan hijauan. Tanaman sorgum mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan didaerah yang sering mengalami kekeringan atau daerah yang tergenang banjir serta mampu tumbuh pada lahan marjinal. Pembudidayaan tanaman sorgum diperlukan manajemen lahan yang tepat salah satunya pengatur jarak tanam dengan mengatur jarak tanam berkaitan dengan produksi.
Penelitian ini menggunakan tiga varietas sorgum hybrid, dua jarak tanam, empat kelompok berdasarkan kesuburan tanah dan empat ulangan. Penelitian ini dilakukan dengan mengevaluasi pertumbuhan, produksi dan nutrien beberapa varietas sorgum hybrid dengan jarak tanam berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok pola faktorial 3x2 dengan 4 ulangan dimana factor pertama adalah varietas sorgum hybrid yaitu varietas 12FS5006, varietas 13FB7001 dan varietas 12S49001 dan faktor kedua jarak tanam yaitu 25 x 25 cm dan 25 x 40 cm.
Hasil penelitian menunjukan varietas sorgum berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, lebar, panjang, jumlah daun, produksi biomassa segar, produksi daun segar, produksi biomassa BK, kadar abu, kadar serat kasar dan protein kasar. Jarak tanam sorgum berpengaruh terhadap produksi biomassa segar, produksi daun segar, produksi batang segar, produksi biomassa BK, BK %, dan kadar serat kasar. Kesimpulan dari penelitian ini pertumbuhan dan produksi varietas 12S49001 lebih tinggi dibandingkan dengan varietas 12FS9006 dan varietas 13FB7001. Varietas 12S49001 memiliki kandungan abu, protein kasar dan serat kasar lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lain. Jarak tanam 25 x 25 cm menghasilkan proporsi malai, produksi biomassa segar, produksi daun, produksi batang, produksi BK, kandungan BK%, kandungan serat kasar dibandingkan dengan jarak tanam 25 x 40 cm
Performa dan Karakteristik Karkas Domba Ekor Gemuk Jantan yang Diberi Pakan Ampas Tahu dan Pencukuran Wol
Twelve fat-tailed rams feed with soybean tofu waste and shorn threated were fattened for twelve weeks in order to identify the difference its performance and carcass characteristics. The research designed by Complete Random Design with factorial pattern (2x2). First treatment was feed type (P1 = grass + concentrates and P2 = grass + concentrates + soybean tofu waste). The second treatment was shorn treated (C1 = wool not sheared and C2 = wool sheared). Production performance was analyzed by analysis of variance (ANOVA), while data of carcass characteristic was analyzed by analysis of covariance (ANCOVA). Half of carcass weight was used as covariable. The result showed that 30% of soybean tofu waste and shorn treated was significantly (P<0.05) affected average daily gain of fat-tailed rams. Fat percentage of fat-tailed was relatively similar after that consumed 30% soybean tofu waste or not, slaughtered of fat tailed rams at 22.57 kg produce percentage carcass of 41.97% to 46.91%, percentage carcass muscle 56.54%, carcass fat 20.14%, and carcass bone 21.27%.Dua belas ekor domba ekor gemuk (DEG) jantan yang diberi pakan ampas tahu dan pencukuran wol digemukkan selama dua belas minggu digunakan untuk menguraikan perbedaan performa dan karakteristik karkas. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial (2x2). Perlakuan pertama yaitu pemberian pakan yang berbeda (P1= rumput + konsentrat dan P2= rumput + konsentrat + ampas tahu). Perlakuan kedua yaitu pencukuran wol (C1= Wol tidak dicukur dan C2= Wol dicukur). Data performa produksi dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA), sedangkan data karakteristik karkas dianalisis menggunakan Analysis of Covariance (ANCOVA), dimana bobot awal dan bobot karkas kiri digunakan sebagai covariable. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan 30% ampas tahu dan pencukuran wol memiliki interaksi secara nyata (P<0.05) dalam meningkatkan pertambahan bobot badan harian domba. Pemberian pakan 30% ampas tahu menghasilkan persentase lemak tubuh yang relatif sama yang dipotong pada bobot rata-rata 22.57 kg menghasilkan persentase karkas sebesar 41.97% sampai 46.91% dengan persentase persentase otot karkas 56.54%, lemak karkas 20.14%, dan tulang karkas 21.27%
Evaluation of Nutrient Digestibility of Prill Fat Supplemented Wafer Feed in Male Garut Sheep
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemberian pakan wafer suplemen yang mengandung prill fat dengan level pemberian yang berbeda terhadap kecernaan nutrien dan konsumsi nutrien pada domba Garut jantan. Penelitian ini menggunakan domba Garut jantan sebanyak 16 ekor dengan rata-rata bobot badan 33,50±10,97 kg di peternakan Sejahtera Tani Farm, Cinangka. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan yang terdiri dari P0: Rumput Lapang + konsentrat (pakan kontrol), P1: Pakan kontrol + Wafer suplemen 200 g, P2: Pakan kontrol + Wafer suplemen 300 g, P3: Pakan kontrol + Wafer suplemen 400 g. Peubah yang diamati konsumsi dan kecernaan nutrien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian wafer suplemen yang mengandung prill fat dengan taraf 400 g (P3) berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap peningkatan konsumsi nutrien BK 905,96 g ekor-1 hari-1, BO 838,77 g ekor-1 hari-1, PK 119,96 g ekor-1 hari-1, LK 51,14 g ekor-1 hari-1, SK 243,37 g ekor-1 hari-1, BETN 420,55 g ekor-1 hari-1. Pemberian wafer suplemen mengandung prill fat lebih baik dibandingkan dengan pakan kontrol terhadap kecernaan nutrien.This study aims to evaluate the feeding of wafer supplements containing prill fat with different feeding levels on nutrient digestibility and nutrient consumption in Garut male sheep. This study used 16 male Garut sheep with an average body weight of 33.50±10.97 kg at Sejahtera Tani Farm Cinangka. This study used Randomized Group Design with 4 treatments and 4 replicates consisting of P0: Field Grass + concentrate (control feed), P1: Control feed + Wafer supplement 200 g, P2: Control feed + Wafer supplement 300 g, P3: Control feed + Wafer supplement 400 g. The observed variables were consumption and nutrient digestibility. The results showed that the provision of wafer supplements containing prill fat at the level of 400g (P3) had a significant effect (P < 0.05) on increasing nutrient consumption BK 905.96 g head-1 day-1, BO 838.77 g head-1 day-1, PK 119.96 g head-1 day-1, LK 51.14 g head-1 day-1, SK 243.37 g head-1 day-1, BETN 420.55 g head-1 day-1. Supplementary wafer feeding containing prill fat is better than the control feed on nutrient digestibility
Kecernaan Nutrien pada Kambing Perah yang Diberi Ransum dengan Penambahan Daun Ginseng Jawa (Talinum Paniculatum Gaertn)
An experiment was designed in order to study the nutrients digestibility in dairy goat offered diets containing java jinsom leaf. The research was conducted in a dairy goat barn in Animal Research Center, Ciawi, Bogor from May until July 2012. This study used 9 cross breed dairy goats with average weight of 32.96 ± 3.14 kg. The goats were on the 2nd lactation periode and had an average milk yield of 1 liter/day. The dietary treatments were: G0= forage ad-libitum (3000 g – 4500 g) + concentrate 43% dry matter intake + gliricidia 12% dry matter intake G1= G0 + java jinsomleaf 3% dry matter intake; G2= G0 + java jinsom leaf 6% dry matter intake. The treatment were allocated in a completely randomized design with 3treatments and 3replications. The Parameters measured were feedintake, nutrients digestibility, total digestible nutrient (TDN), and milk yield. The different among treatments tested by Contrast Polynomial Orthogonal. The result showed that treatments did notaffect the parameter observed. Feeding grass adlibitum and concentrate 43% dry matter indicated low quality, but fulfilled protein and fat requirements for maintenance and production of the animal. Feeding java jinsom leaf until 6% dry matter did not increase milk yield of sapera dairy goat offered low quality feed
Kecernaan Nutrien Dan Performa Sapi Bali Yang Diberi Ransum Hijauan Tinggi Dan Disuplementasi Sabun Kalsium Minyak Kedelai.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecernaan nutrien dan performa sapi bali yang diberi 2 jenis ransum berbeda. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 perlakuan dan 6 kelompok. Perlakuan ransum terdiri dari P0 = 70% hijauan + 30% konsentrat, P1 = P0 + 10% sabun kalsium dalam konsentrat. Variabel yang diukur adalah konsumsi ransum, kecernaan nutrien, pertambahan bobot badan, dan efisiensi ransum. Data yang diperoleh diuji menggunakan Uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan sabun kalsium minyak kedelai sebanyak 10% pada konsentrat tidak berpengaruh (P>0.05) terhadap konsumsi nutrien, kecernaan nutrien, pertambahan bobot badan harian, dan efisiensi ransum. Sapi bali yang diberi ransum P1 nyata meningkatkan (P<0.05) konsumsi lemak kasar. Disimpulkan bahwa suplementasi 10% sabun kalsium minyak kedelai dapat meningkatkan konsumsi lemak kasar dan tidak berdampak negatif terhadap performa sapi bali
- …
