9 research outputs found

    Faktor-Faktor eksogen yang Berhubungan dengan Kejadian Dermatitis Kontak Akibat Kerja(DKAK) pada Pekerja Batik di Jambi

    No full text
    Occupational Contact Dermatitis (OCD) is among the most prevalent occupational skin diseases, particularly affecting informal sector workers such as batik artisans who are chronically exposed to chemical substances. This study aimed to identify exogenous factors associated with the incidence of OCD among batik workers in Jambi. A quantitative approach with a cross-sectional design was applied, involving a number of respondents from several batik production centers in Jambi. Data were collected using structured questionnaires and analyzed using chi-square tests and logistic regression to examine the associations between exogenous variables—including duration of exposure, type of chemicals, use of personal protective equipment (PPE), and frequency of contact—and the occurrence of OCD. The results revealed significant associations between inconsistent use of PPE, chemical exposure duration exceeding five years, and high contact frequency with OCD incidence (p < 0.05). These findings underscore the need for preventive interventions through enhanced PPE utilization and education on chemical hazards among batik workers. This study contributes to the development of more adaptive occupational health strategies in home-based industries

    Status Gizi pada Pasien Diare Akut di Ruang Rawat Inap Anak RSUD SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT

    No full text
    Latar belakang. Status gizi memiliki hubungan erat dengan kejadian diare akut pada anak. Selain merupakan komplikasi, status gizi buruk juga merupakan faktor penyebab diare. Tujuan. Mengetahui hubungan status gizi pasien diare dengan lama hari rawat inap sebagai ukuran cepat kepulihan. Metode. Studi retrospektif terhadap 53 pasien diare anak dengan menilai status gizi (dikelompokkan menjadi status gizi normal, kurang, dan buruk) dan mencari korelasinya terhadap lama hari rawat inap (digolongkan menjadi kurang dari lima hari, dan lebih/ sama dengan lima hari). Hasil. Perbandingan sampel yang menjalani rawat inap kurang dari lima hari terhadap yang menjalani rawat inap lebih/ sama dengan lima hari pada status gizi baik, kurang, dan buruk, secara berturut-turut adalah 15 terhadap 8, 11 terhadap 10, dan 4 terhadap 5. Pembuktian dengan uji Spearman’s rank menunjukkan korelasi negatif dengan koefisien korelasi yang sangat rendah (-0,261). Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara status gizi pasien diare dengan lama hari rawat inap

    FAKTOR RISIKO KEJADIAN DIFTERI PADA ANAK DI JAWA TIMUR TAHUN 2011-2015

    No full text
    Hampir ¾ kasus difteri di Indonesia terjadi di Jawa Timur. Beberapa faktor risiko diduga berperan dalam kejadian difteri ini. Tujuan: Mempelajari faktor risiko terhadap kejadian difteri pada anak selama kejadian wabah di Jawa Timur tahun 2011-2015. Metode: Semua anak berusia kurang dari 18 tahun yang tercatat menderita difteri dan terbukti positif C. diphtheriae galur toksigenik menurut data Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya dan Dinas Kesehatan Jawa Timur disertakan dalam kelompok kasus. Subjek kontrol merupakan anak sehat berusia kurang dari 18 tahun yang mengalami kontak dengan subjek kasus saat kejadian sakit difteri tetapi tidak terinfeksi dan secara bakteriologis tidak terinfeksi C. diphtheriae. Kuesioner dilengkapi berdasarkan data kunjungan rumah, wawancara orang tua, dan penelurusan kartu imunisasi. Variabel independen dianalisa menggunakan uji pearson chi-square dan regresi logistik. Hasil analisa bermakna bila nilai p < 0.05. Hasil: Terdapat 97 kasus and 194 kontrol, dengan mayoritas domisili adalah Madura/ darah tapal kuda dan dengan latar belakang etnisitas adalah Madura (86,6%). Sebagian besar latar belakang pendidikan orang tua adalah setingkat Sekolah Dasar. Pada kelompok kasus, ketidaklengkapan imunisasi difteri dasar adalah lebih tinggi (68,0% vs 44,3%, p=0,000). Kebanyakan orang tua memiliki pengetahuan yang kurang mengenai difteri dan pencegahannya (83,5% vs 73,2%, p=0,005). Faktor risiko bermakna terhadap kejasian difteri pada anak adalah ketidaklengkapan imunisasi difteri dasar (OR 2,446, 95%CI 1,418-4,219), kontak pekerja musiman (OR 4,567, 95%CI 2,081-10,024), dan tinggal di pesantren (OR 3,202, 95%CI 1,088-9,418). Faktor risiko bermakna untuk ketidaklengkapan imunisasi difteri dasar adalah kurangnya pengetahuan orang tua mengenai difteri (OR 2,756, 95%CI 1,551-4,89

    Cortical visual impairment in children with acute encephalitis syndrome

    No full text
    Background: Acute encephalitis syndrome (AES) is one of cortical visual impairment (CVI) causes. There were only few studies about cortical visual involvement in children with AES. Objective: To describe CVI in children with AES. Methods: This study included all children with AES during January to March 2014, were examined for visual evoked potential (VEP) to evaluate cortical visual pathway. AES was defined as clinical condition characterized by acute onset of fever, a change in mental status, and/or new onset of seizures. CVI was defined as vision loss caused by central nervous system damage confirmed by VEP. Results: There were 9 children with AES and all showed bilateral CVI. The age range between 6 to 48 months old, with 7 males and 2 females. Visual evoked potential result showed 8 children with demyelinating type and 1 with axonal type. Conclusion: Type of CVI caused by AES can be demyelinating type or axonal type

    HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN UPAYA PENCEGAHAN  ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAKUAN BARU TAHUN 2025

    No full text
    Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit dengan angka kesakitan dan kematian tertinggi pada anak, yaitu sekitar 4,25 juta kasus setiap tahunnya. Apabila tidak ditangani dengan tepat, ISPA dapat menimbulkan komplikasi serius, salah satunya pneumonia yang berisiko tinggi terhadap kesehatan balita. Oleh karena itu, pengetahuan ibu serta dukungan keluarga sangat penting dalam upaya pencegahan ISPA pada anak. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasi menggunakan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dan dukungan keluarga dengan upaya pencegahan ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi tahun 2025. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki balita di wilayah kerja tersebut dengan jumlah 3.103 orang. Sampel penelitian sebanyak 61 responden yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 26–31 Agustus 2025, dan analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik terkait pencegahan ISPA pada balita, yaitu sebanyak 30 orang (49,2%). Dukungan keluarga yang baik diperoleh pada 39 responden (63,9%), sedangkan upaya pencegahan ISPA pada balita dilakukan dengan baik oleh 31 responden (67,2%). Analisis data menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dan dukungan keluarga dengan upaya pencegahan ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi tahun 2025, dengan nilai p = 0,000 (p &lt; 0,05).Dengan demikian, pengetahuan ibu dan dukungan keluarga memiliki peranan penting dalam pencegahan ISPA pada balita. Diharapkan tenaga kesehatan di Puskesmas dapat memberikan edukasi serta penyuluhan yang lebih intensif kepada ibu dan keluarga mengenai pentingnya pencegahan ISPA pada balita

    PENGARUH REBUSAN DAUN SELEDRI (APIUM GRAVEOLENS L) TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAAL LIMA KOTA JAMBI

    No full text
    World Health Organization (WHO) menyebutkan jumlah penderita hipertensi akan terus meningkat seiring dengan jumlah penduduk yang bertambah menjadi 29,2 % di tahun 2030 &nbsp;warga dunia terkena hipertensi. Pada penderita hipertensi apabila tidak ditangani dengan baik atau dilakukan penanganan yang tepat dapat menimbulkan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rebusan daun seledri (Apium graveolens l)&nbsp; terhadap penurunan tekanan darah di Wilayah Kerja Puskesmas Paal Lima Kota Jambi. Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik dengan jenis desain&nbsp; penelitian pra-eksperiment design one group pre test – post test &nbsp;Populasi penelitian ini adalah seluruh penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Paal Lima yaitu sebanyak 377 penderita. Sampel penelitian ini adalah sebanyak 40 orang dengan menggunakan teknik sampling purposive sampling. Pada variabel tekanan darah, instrument penelitian yang digunakan yaitu tensi&nbsp; meter dan stetoskop. Analisis data secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan rebusan daun seledri rata-rata tekanan darah sistole adalah 168,42 dan rata-rata tekanan darah diastole adalah 92,42. Sedangkan sesudah diberikan rebusan daun seledri rata-rata tekanan darah sistole adalah 160,41 dan rata-rata tekanan darah diastole adalah 87,92. Ada pengaruh rebusan daun seledri (Apium graveolens l)&nbsp; terhadap penurunan tekanan darah dengan p value = 0,000 &lt; 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rebusan daun seledri dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan gambaran untuk mempertimbangkan terapi non farmakologis seperti menggunakan obat-obatan herbal yang salah satunya adalah rebusan daun seledri sebagai penurun tekanan darah

    Risk Factors Of Diphtheria Carriers In Indonesian Children

    No full text
    Abstract. Indonesia has one of the highest prevalence of diphtheria in the world, with East Java the most heavily affected. Despite the significant role of carriers in diphtheria transmission, studies in the country are still very limited. This study analyzed risk factors of children becoming diphtheria carriers using an observational case-control approach carried out from 2011 and 2015, which employed data from the East Java Provincial Health Office and the Main Health Laboratory [Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK)], Surabaya. Controls (4 controls for each carrier) were children who were in contact with diphtheria patients but did not have any microbiologically-confirmed Corynebacterium diphtheriae in nasal or throat swabs. The main variables were demographical and environmental risk factors. Analysis of 27 carriers and 108 controls, above two years of age, from Bangkalan, Jemberand Probolinggo districts identified the significant risk factor being paternal education (odds ratio = 5.5, 95% confidence interval: 1.6-19.4). There was no difference in immunization status, based solely on the memory of the caregivers, between the two groups. Thus, all efforts in the future should be prioritized on this risk factor
    corecore