65 research outputs found
ADSORPSI METILEN BIRU PADA ABU LAYANG (FLY ASH) HASIL PEMBAKARAN CANGKANG SAWIT PADA BOILER PABRIK KELAPA SAWIT
Telah dilakukan penelitian adsorpsi metilen biru pada adsorben abu layang (fly ash) hasil pembakaran cangkang sawit pada boiler. Adsorben abu layang terlebih dahulu dipersiapkan dengan aktivasi kimia menggunakan H3PO4 10% dan tanpa aktivasi sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorpsi metilen biru pada abu layang tanpa aktivasi maupun dengan aktivasi mengikuti model kinetika orde dua semu menurut Ho dengan nilai R2 sebesar 0,990 untuk adsorben tanpa aktivasi dan 0,996 untuk adsorben dengan aktivasi. Isotherm adsorpsi zat warna metilen biru pada abu layang mengikuti model isotherm menurut Freundlich dengan nilai R2 sebesar 0,988 (kapasitas adsorpsi 19,81 mg/g) untuk abu layang tanpa aktivasi dan sebesar 0,991 (kapasitas adsorpsi 60,11 mg/g) untuk abu layang dengan aktivasi.</jats:p
PENGARUH VARIASI JUMLAH SIMPLISIA DAUN SIRSAK (Annona muricata linn) TERHADAP PENGAWETAN TELUR AYAM RAS PADA SUHU RUANG
Telah dilakukan pengawetan telur ayam kampung dengan perendaman
simplisia daun sirsak (Annona muricata linn). Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh variasi jumlah dan lama perendaman di dalam simplisia daun
sirsak terhadap pengawetan telur ayam kampung. Jumlah simplisia daun sirsak
divariasi mulai dari 15 gram, 20 gram, dan 25 gram, serta menggunakan telur tanpa
perlakuan sebagai blangko. Perendaman dilakukan dengan memasukkan telur
kedalam larutan simplisia daun sirsak (Annona Muricata L) selama 5 jam. Lama
penyimpanan telur ayam kampung 14 dan 21 hari dan percobaan dilakukan
sebanyak 2 kali (duplo). Telur yang diawetkan dengan larutan simplisia daun sirsak
(Annona muricata linn) dianalisa untuk menentukan pH telur, nilai haugh unit telur
dan nilai IKT. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tinggi konsentrasi
akan memberikan efek terhadap kualitas telur. Karena daun sirsak memiliki tannin
sebesar 6,96 %, sehingga mampu menghambat aktivitas mikroba Jumlah variasi
simplisia 25 gram dengan nilai rata-rata HU 86,3 adalah larutan yang baik
digunakan untuk pengawetan telur ayam kampung semakin lama perendaman telur
ayam kampung pada larutan simplisia daun sirsak juga mempengaruhi kualitas
telur.
Kata kunci: Daun sirsak, Simplisia, Pengawetan telu
KAJIAN PEMANFAATAN LIMBAH ABU CANGKANG UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DAN ABU CANGKANG KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis) SEBAGAI BAHAN PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN PADA UJI KUAT TEKAN MORTAR
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan abu
cangkang udang (ACU) yang mengandung CaO (kalsium oksida) dan abu
cangkang sawit ACS yang mengandung SiO2 (silikon dioksida) sebagai bahan
pengganti sebagian semen pada mortar dan pengaruh terhadap uji kuat tekan
mortar. CaO dan SiO2 diperoleh dengan cara kalsinasi ACU pada suhu 800℃
selama 3 jam dan ACS pada suhu 750℃ selama 3 jam dengan menggunakan
furnace. Analisis komposisi hasil kalsinasi menggunakan alat X-Ray Fluorescence
(XRF) diperoleh elemental kalsium oksida (CaO) dari ACU sebesar 77,926% dan
silikon dioksida (SiO2) sebesar 92,973%. ACU dan ACS ditambahkan pada
campuran mortar sebagai pengganti Sebagian semen sebanyak 0%,12%,16% dan
20% dari massa semen. Pengujian kuat tekan mortar dilakukan pada umur mortar
14 hari, 21 hari, dan 28 hari dilanjutkan 5 hari perendaman pada lingkungan asam
(H2SO4) dengan pH = 4, lingkungan basa (NaOH) dengan pH = 11, dan air laut
(3,1% NaCl). Dimana, presentasi 0% (tanpa ACU dan ACS) pada masing-masing
uji digunakan sebagai kontrol. Penambahan ACU dan ACS sebagai pengganti
semen dalam kuat tekan mortar memberikan nilai maksimum pada komposisi
16% pada umur 28 hari dengan nilai kuat tekan sebesar 16,92 MPa.
Kata kunci : Kalsium oksida, Silikon Dioksida, ACU, ACS dan Mortar
Effects of the combination between bio-surfactant product types and washing times on the removal of crude oil in nonwoven fabric
PENGARUH PERENDAMAN SIMPLISIA DAUN SIRIH HIJAU (Pipper betle L) TERHADAP PENGAWETAN TELUR ITIK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman simplisia
daun sirih hijau terhadap pengawetan telur itik. Bahan penelitian menggunakan
telur itik dan simplisia daun sirih hijau. Jumlah telur itik yang digunakan
sebanyak 30 butir dan simplisia daun sirih hijau sebanyak 420 g. Penelitian ini
menggunakan perendaman dengan larutan simplisia daun sirih hijau dengan
jumlah simplisia 10, 15, 20 dan 25 g, dengan lamanya perendaman selama 5 jam.
Lama penyimpanan telur itik selama 14 hari dan 21 hari. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai pH yang didapat yaitu 5-9, nilai haugh unit (HU) yang
didapat yaitu 45,3-82,1, nilai indeks kuning telur (IKT) yang didapat 0,03-0,45.
Berdasarkan hasil penelitian jumlah simplisia 20 g dan 25 g larutan simplisia daun
sirih hijau memberikan pengaruh yang signifikan terhadap telur itik, dalam hal ini
dilihat dari nilai haugh unit (HU) > 72 atau
0,33. Maka dari itu daun sirih hijau sudah cukup baik untuk pengawetan telur itik.
Kata kunci : pengawetan telur, simplisia daun sirih hijau, kualitas interna
PENGARUH SUHU KARBONISASI DAN WAKTU AKTIVASI KARBON AKTIF DARI SABUT BUAH PINANG ( Areca catechu L.) DENGAN AKTIVATOR ZnCl2 TERHADAP DAYA SERAP METILEN BIRU DAN IODIUM
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh suhu dan waktu
aktivasi, pada pembuatan karbon aktif dari sabut buah pinang, dengan
menggunakan aktivator ZnCl2 terhadap daya serap iodium dan metilen biru. Sabut
pinang yang sudah dipotong kecil-kecil di karbonisasi pada suhu 300˚C, 400˚C
dan 500˚C dalam waktu 45 menit dengan waktu aktivasi yang bervariasi yaitu
selama 18 jam, 21 jam dan 24 jam. Kemudian diuji kualitasnya sesuai standar SNI
No. 06-3730-1995 yaitu menentukan kadar air, kadar abu, uji daya serap iodium
dan uji daya serap metilen biru. Hasil penelitian menunjukkan, karbon aktif yang
dihasilkan cukup baik dan memenuhi standar SNI dengan hasil pengujian kadar
air yaitu antara 0,93%-12,5% dimana syarat standar SNI maksimum 15%. Dan
pada daya serap iodium telah memenuhi syarat standar yaitu antara 3.235,9 mg/gr-
6.227,6 mg/gr dengan syarat standar SNI minimum 750 mg/g. Kemudian untuk
kadar abu dan daya serap metilen biru belum memenuhi kualitas karbon aktif
menurut SNI.
Kata Kunci : Karbon Aktif, Waktu Aktivasi, Suhu Karbonisasi, Sabut Pinan
PENGARUH KONSENTRASI KITOSAN SEBAGAI PENGAWET ALAMI TAHU DENGAN METODE EDIBLE COATING
Telah dilakukan penelitian tentang pengawetan tahu dengan menggunakan
pengawet alami kitosan. Kitosan adalah salah satu zat yang merupakan bentuk
kimiawi dari kitin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
konsentrasi kitosan yang baik digunakan sebagai pengawet alami pada tahu dan
untuk mengetahui tingkat kesukaan masyarakat pada tahu yang telah diawetkan
dengan melakukan uji organoleptik. Pengawetan dilakukan dengan menggunakan
metode Edibel Coating yang mana metode edible coating ini berfungsi untuk
memperpanjang umur simpan tahu. Tahu putih direndam dengan larutan kitosan
dengan perlakuan konsentrasi yang berbeda, perendaman dilakukan selama 5
menit pertama dan 1 menit lalu disimpan disuhu ruang. Larutan kitosan dibuat
dengan menambahkan larutan asam asetat 1% dan dengan konsentrasi yang
berbeda yaitu 0%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5%, 3% dan 3,5%, kitosan dilarutkan dengan
menggunakan stirrer magnetic pada suhu 500
celcius. Hasil penelitian,
menunjukkan bahwa tahu putih dapat bertahan hingga 5 hari setelah direndam
dengan menggunakan larutan kitosan yang terjadi pada kitosan konsentrasi 1,5%
dan 2%. Uji organoleptik dilakukan dengan pengisian form dengan jumlah 15
panelis, dengan hasil yang didapatkan bahwa tahu dengan konsentrasi 1,5% dan
2% cenderung lebih disukai baik dari segi warna, tekstur, aroma dan rasa dengan
hasil 86,67%-100% dalam kategori suka hingga sangat suka.
Kata kunci : Pengawet alami, Kitosan, Edibel Coating, Tahu
SINTESIS DAN KARAKTERISASI MEMBRAN KOMPOSIT PENGHANTAR PROTON BERBASISKAN SERBUK TANDUK SAPI DAN SELULOSA BAKTERI (Nata De Coco)
Saat ini ketersediaan bahan bakar fosil makin kurang keberadaan nya sehingga
dibutuhkan sumber energi alternatif untuk menggantikan bahan bakar fosil yaitu sel
bahan bakar. Pada penelitian ini sel bahan bakar berupa membran komposit
penghantar proton yang dibuat menggunakan dua bahan yaitu matriks dan bahan
penguat. Matriks yang digunakan terbuat dari serbuk tanduk sapi yang didapatkan
dari hasil hidrolisis menggunakan pelarut NaOH, serta bahan penguat yang
digunakan adalah selulosa bakteri. Membran komposit selulosa bakteri dan serbuk
tanduk sapi dibuat dengan variasi massa yaitu 4,9 : 0,1 ; 4,7 : 0,3 ; 4,5 : 0,5.
Membran komposit penghantar proton dilakukan karakterisasi meliputi analisis
FTIR, XRD, derajat penggembungan, konduktivitas proton dengan suhu 20ºC,
40ºC, 60ºC dan 80ºC serta uji metanol permeabilitas. Hasil analisis permebialitas
metanol membran komposit sebesar 1,9 × 10-9
; 3,3 × 10-9
; 3,3 × 10-9 mol/cm.s.
Analisis gugus fungsi membran komposit yang menunjukkan interaksi fisik muncul
pada puncak 3000-3500 cm-1
. Nilai derajat penggembungan tertinggi terdapat pada
variasi membran komposit 4,5 : 0,5 dengan nilai sebesar 33,70%. Pada analisis
XRD semua variasi massa membran komposit memiliki fasa semikristalin. Nilai
konduktivitas proton tertinggi membran komposit selulosa dan serbuk tanduk sapi
terdapat pada variasi massa 4,5 : 0,5 dengan nilai 4,78 × 10-4 S/cm pada suhu 40°C.
Hal ini menunjukkan bahwa membran komposit penghantar proton berbasiskan
selulosa bakteri dan serbuk tanduk sapi dapat berpontensi dikembangkan sebagai
aplikasi sel bahan bakar.
Kata Kunci: Membran komposit, serbuk tanduk sapi, selulosa
ANALISIS KUALITATIF FORMALIN DAN BORAKS PADA IKAN ASIN JENIS KEMBUNG YANG BEREDAR DI PASAR MINGGU KOTA BENGKULU
Formalin dan boraks sering disalahgunakan sebagai bahan pengawet pada berbagai
produk pangan, termasuk ikan asin. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
keberadaan formalin dan boraks pada ikan asin jenis kembung serta menganalisis
efektivitas perbandingan metode uji kualitatif yang digunakan. Analisis kualitatif
formalin dilakukan dengan metode kalium permanganat, asam kromatofat 0,5%,
dan pereaksi Schiff. Sementara itu, pengujian boraks menggunakan metode tusuk
gigi, uji nyala api, dan uji pengendapan AgNO3. Hasil pengujian formalin
menunjukkan bahwa dari tujuh sampel, dua sampel terkonfirmasi positif secara
konsisten melalui ketiga metode. Namun, metode kalium permanganat
menunjukkan semua sampel positif. Pada pengujian boraks, metode tusuk gigi dan
nyala api menunjukkan hasil negatif, sedangkan metode AgNO3 menunjukkan tiga
sampel positif dengan terbentuknya endapan putih. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa Metode terbaik untuk uji formalin adalah metode permanganat karena
konsisten memberikan hasil positif pada setiap sampel yang di uji sehingga dinilai
paling efektif. Sedangkan untuk uji boraks, metode pengendapan AgNO3 dinilai
paling efektif karena didasarkan pada reaksi kimia spesifik antara ion barot dan ion
perak (Ag ) yang membentuk endapan perak borat (AgBO2) berwarna putih.
Kata kunci : Ikan Asin, Formalin, Boraks, Analisis Kualitatif, Metode Uj
AKTIVASI ARANG KAYU DURIAN (Durio zibethinus Murray) DENGAN H3PO4 DAN NaOH SERTA APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN METILEN BIRU
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis aktivator H3PO4 dan
NaOH dengan konsentrasi 1 M serta pengaruh waktu kontak dan massa adsorben
pada daya serap arang aktif kayu durian. Kayu durian yang telah dikarbonisasi
selama 6 jam pada suhu 350oC dan diaktivasi selama 24 jam dengan aktivator
H3PO4 dan NaOH. Penentuan kualitas arang aktif meliputi uji berat hilang setelah
aktivasi, kadar air, kadar abu, dan daya serap terhadap metilen biru. Hasil
penelitian menunjukkan berat arang hilang setelah diaktivasi dengan aktivator
H3PO4 dan NaOH berturut-turut adalah 5,21% dan 8,97%. Kadar air pada arang
yang teraktivasi H3PO4 dan NaOH berturut-turut 1,77% dan 4,42% , kadar abu
berturut-turut 4,69% dan 9,99%. Kadar air dan kadar abu yang dihasilkan telah
memenuhi kualitas standar SNI 06-3730-1995. Arang teraktivasi H3PO4 pada
variasi waktu kontak memiliki persentase penyerapan tertinggi 80,86% dan daya
serap sebesar 8,08 mg/g dengan waktu kontak optimum 120 menit. Arang
teraktivasi NaOH memiliki persentase penyerapan tertinggi 95,13% dan daya
serap sebesar 9,51 mg/g dengan waktu kontak optimum 45 menit. Variasi massa
adsorben arang teraktivasi H3PO4 memiliki persentase penyerapan tertinggi
82,69% dan daya serap sebesar 12,64 mg/g dengan massa 0,05 gram. Arang
teraktivasi NaOH memiliki persentase penyerapan tertinggi 97,36% dan daya
serap sebesar 38,34 mg/g dengan massa 0,025 gram.
Kata kunci: Arang Aktif, H3PO4, Kayu Durian, Metilen Biru, NaO
- …
