1,720,971 research outputs found
KAJIAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN DI DINAS KESEHATAN KOTA PADANG TAHUN 2006
Padang Panjang. Data were collected through questioners and assessment of body mass index. This study revealed that social economic, genetic and carbohydrate consumption contribute to the development of overweight among those subyects and suggest among others to those who are incharge in public health nutrition should give detail information on the risk, causes and prevention of overweight. Health development is one of the supporting National Development that requires availability in quantity and quality of human resources adequately especially at District level. In health planning needed the person who know to determine their own priority on local health development based on local ability, condition and hence it is expected health planned made could solve health problems in their area. The study was meant to know annual health planning processes and problems concerning the implementation in District Health Officee Padang City municipality. This was an qualitative study who interviewed 26 informans consist of: Head of District Health Office, Head of Administrative Officee, Sub-Division Head of Planning and Budgetting and representative of 8 Health Centree Officee Head and 8 Health Centree Officee Admin Head at Padang city municipality.Data were collected by six interviewer who already trained and qualitively analyzed by researcher. The result of study showed that health planning process done by bottom-up planning. Most of members who involved in health planning did not have good understanding on planning methods and the execution of planning steps. Some constrains that found were unavailability and unaccuracy data for making health planning. Health planning documents made namely Budgetting Plan of Working Unit (Rencana Anggaran Satuan Kerja). Annual budget in the year 2006 increased 3.8% than the year before. It was concluded that annual health planning done by buttop-up planning and unproperly health planning caused by some members who involved in health planning did not have good understanding on planning methods and the execution of planning steps.It was recommended to District Health Officee to gain his staff in health planning by training in the scope of health planning steps
SAATNYA SIAGA HADAPI BENCANA: CATATAN PERAN YANG TELAH DIMAINKAN OLEH FK UNAND DAN PROSPEKNYA KE DEPAN
Pengkajian risiko tsunami untuk memastikan pencegahan dan penanggulangan bencana tsunami berjalan cepat dan tepat. Pengkajian tersebut meliputi pemahaman anatomi tsunami, kerentanan, dan paparan terhadap tsunami. Tata laksana koordinasi sehingga memungkinkan pemerintah menangani aspek-aspek bencana tsunami dengan efektif, mendayagunakan sumber daya yang ada dan menggalang berbagai sumber daya nonpemerintah. Didalamnya terdapat unsur personel, satuan-satuan tugas, pusat-pusat, dan simpul-simpul pengendalian operasi. Oleh karena itu, pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah perlu diakselerasi
PENENTUAN PRIORITAS MASALAH KESEHATAN DAN PRIORITAS JENIS INTERVENSI KEGIATAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN DI SUATU WILAYAH
Penetapan Prioritas dalam masalah kesehatan penduduk dan penentuan prioritas dalam program intervensi yang dilaksanakan merupakan sesuatu yang penting mengingat adanya keterbatasan sumberdaya SDM dan dana. Untuk itn dijelaskan dalam artikel ada 4 metoda dalam penetapanprioritas masalah kesehatan penduduk yaitu Matematik, Delbeque, Beban Kerugian Kesehatan dan perbandingan capaian program dengan target yang ditetapkan. Dalam penentuan prioritas program intervensi yang dilakukan ada 2 metoda masing-masing metoda analisis biaya dan metoda Hanlon. Diharapkan penulisan artikel ini bermanfaat bagi petugas kesehatan dilapangan dan para mahasiswa dibidang kesehatan
PERANAN SEKTOR SWASTA DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT
Pencapaian MDG tahun 2015 dari 8 tujuan yang akan dicapai maka salah satu tujuan MDG adalah mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan termasuk pembangunan kesehatan. Dengan dicantumkannya salah satu tujuan MDG's itu berupa menjalin kemitraan dengan sektor swasta dalam pencapaian target MDG's tahun 2015, maka semua institusi yang mengemban tugas terkait kesehatan seperti unsur pendidikan kesehatan ditingkat Perguruan Tinggi diharapkan peran sektor swasta ini sebagai mitra kerja
EPIDEMIOLOGI TERPADU AVIAN INFLUENZA (FLU BURUNG) BERBASIS TINDAKAN KESEHATAN MASYARAKAT DALAM RESPON PANDEMI INFLUENZA
The term surveillance is used in two rather different ways. First, surveillance can mean the continuous security of the factors that determine the occurrence and distribution of disease and other conditions of ill health The second use of the term refers to a special reporting system which is set u for a particularly important health problem or disease, for example the spread of communicable diseases in an epidemic like Avian Influenza (AI) or ( H5N1 ). Such a surveillance system like AI aim to provide quickly information which can be analyzed to determine frequency and to answer like questions: who, where and when.AI epidemiological surveillance has a number of major steps: (I) to identify and confirm outbreaks to ensure that effective action to control the disease is being taken (2) to investigate diseases by clinics and laboratory (3) to investigate and confirm the cases (4) Data collection and public health consolidation (5) Data analysis (6) Feedback (7) Following step is taken . District health officer (DHO) and District veterinary officer (DVO) can use integrated AI surveillance epidemiological to collect such information to support the management and evaluation health activities to prevent community from AI disease. It can be concluded, DHO and DVO may participate together in and use local reporting and surveillance system to combat AI in communit
PENGARUH SUPLEMENTASI MAKANAN BERBASIS LOKAL DAN OPTIMALISASI DUKUNGAN AYAH TERHADAP PERUBAHAN KADAR ALBUMIN, HEMOGLOBIN, IMMUNOGLOBULIN A, DAN ANTROPOMETRI PADA ANAK GIZI KURANG DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN
Kurang Energi Protein (KEP) pada anak balita, masih menjadi salah satu masalah gizi di berbagai wilayah Indonesia termasuk di Provinsi Sumatera Barat.
Secara nasional prevalensi balita gizi kurang sebesar 18.6% dan di Kabupaten Padang Pariaman Provinsi Sumatera Barat sebesar 14.3% tahun 2013. Kejadian KEP disebabkan anak belum mendapatkan makanan yang baik dalam jumlah dan kualitasnya, yang terdiri dari energi, protein, zat besi, vitamin A, asam folat serta vitramin dan mineral lainnya serta perawatan anak oleh orang tua yang belum optimal. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh suplementasi makanan berbasis lokal dan optimalisasi dukungan ayah terhadap perubahan kadar Albumin, Hb, Ig A, dan antropometri pada anak gizi kurang.
Penelitian ini bersifat penelitian quasi eksperiment pre-post test with control group design. Lokasi penelitian dilakukan di Nagari Tapakis, Ulakan dan Ketaping Kabupaten Padang Pariaman pada bulan Maret sampai Oktober 2015. Sebanyak 80 anak usia 2 - 4 tahun gizi kurang telah dipilih sebagai sampel penelitian dan selanjutnya dibagi 4 kelompok. Monitoring kepatuhan responden dilakukan oleh peneliti dan tenaga lapangan dengan kunjungan rumah. Setelah
pengumpulan data akhir selanjutnya data diolah dan dianalisis dengan uji one way ANOVA dan uji paired t-test dengan menggunakan program SPSS versi 20.
Hasil penelitian ini menemukan adanya perbedaan yang signifikan kadar albumin sebelum dan sesudah intervensi pada PMT lokal dengan konseling Ayah. Selanjutnya perbedaan yang signifikan kadar hemoglobin sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok PMT lokal. Ditemukan juga perbedaan yang signifikan kadar immunoglobulin A sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok PMT biskuit dan PMT lokal dengan dukungan ayah. Berikutnya perbedaan yang signifikan antropometri (z-skor BB/U) sebelum dan sesudah intervensi pada masing-masing kelompok, perbedaan antropometri (z-skor TB/U) sebelum dan sesudah intervensi signifikan pada kelompok PMT biskuit, kelompok PMT lokal
dengan konseling ayah dan kelompok PMT biskuit dengan konseling ayah. Selanjutnya, ada perbedaan antropometri (z-skor BB/TB) sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok PMT biskuit.
Pemberian suplementasi makanan berbahan lokal dengan bahan beras merah, tepung tempe dan tepung bengkuang dalam bentuk kue atau sejenisnya dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pengganti biskuit produksi pabrik untuk penanggulangan kekurangan asupan gizi pada anak balita gizi kurang. Selain itu,perlu diberikan dukungan ayah karena dapat meningkatkan jumlah asupan gizi anak pada anak balita gizi kurang.
Kata kunci : PMT, Dukungan Ayah, Albumin, Hemoglobin, Immunoglobulin A,
Antropometr
PERBEDAAN TUMBUH KEMBANG ANAK PADA POSYANDU YANG TERINTEGRASI PAUD DENGAN POSYANDU TIDAK TERINTEGRASI PAUD
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WYiO/World Health Organization) menunjukkan kesehatan masyarakat Indonesia terendah di ASEAN yaitu peringkat ke-142 dari 170 negara. Data hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 200, prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5,4%, gizi kurang 13,0% dan masalah kependekan (stunting) 36,8%. Provinsi Sumatera Barat prevalensi gizi buruk balita sebesar 6,0%, gizi kurang sebesar 13,9% dan masalah kependekan 36,5%. Anak yang menderita KEP mengalami keterlambatan perkembangan dibandingkan dengan anak yang status gizinya normal. Pengoptimalan tumbuh kembang anak salah satunya dapat dikembangkan melalu posyandu yang terintegrasi PAUD. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan tumbuh kembang anak balita pada posyandu yang terintegrasi PAUD dan yang tidak terintegrasi PAUD. Penelitian data sekunder ini menggunakan disain crosssectional, bersumber dari penelitian "Model PengembanganAnak Usia Dini yang Holistik dan Terintegrasi pada Posyandu, Pos PAUD, Pos Integrasi dan Pos KB/TPA di KabupatenTanah Datar dan Kota Sawahlunto Propinsi Sumatera Barat Tahun 2009." Populasi adalah anak usia 2-5 tahun yang berjumlah 146 orang. Semua populasi dijadikan subjek penelitian. Data sekunder terdiri dari data perkembangan dan data Z Score BB/U, TB/U dan BB/TB anak usia 2-5 tahun, kemudian diolah dengan menggunakan program komputer. Analisis bivariat dengan uji Chisquare untuk mengetahui perbedaan proporsi status gizi dan perkembangan anak usia 2-5 tahun pada posyandu terintegrasi dengan tidak terintegrasi PAUD. Hasil penelitian ini menemukan proporsi anak usia 2-5 tahun mempunyai perkembangan tidak sesuai usianya lebih tinggi pada posyandu tidak terintegrasi PAUD sebesar 46,6%, dimana pada usia 2-3 tahun sebesar 70,6%, usia 3-4 tahun sebesar 62,5% dan usia 4-5 tahun sebesar 66,7%. Persentase anak dengan status gizi kurang dan kurus lebih tinggi pada posyandu tidak terintegrasi PAUD , sedangkan persentase anak pendek lebih tinggi pada posyandu terintegrasi PAUD. Disimpulkan ada perbedaan perkembangan dan status gizi anak usia 2-5 tahun berdasarkan indikator BB/TB pada posyandu terintegrasi dan tidak terintegrasi PAUD (p < 0,05). Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Datar dan Kota Sawahlunto bagian promosi kesehatan sebaiknya meningkatkan informasi dan promosi kesehatan tentang posyandu terintegrasi PAUD terutama untuk anak usia 2-5 tahun agar tumbuh kembang anak dapat dicapai dengan optimal
EDUKASI PENGUATAN SUMBER DAYA KADER POSYANDU DI DESA LOKUS STUNTING KABUPATEN LABUHAN BATU, SUMATERA UTARA
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir, tetapi baru terlihat setelah anak berusia 2 tahun. Stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit dan menurunkan produktivitas serta berakibat menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan serta kesenjangan di masa depan. Untuk itu diperlukan peningkatan kapasitas kader dalam pemberdayaan masyarakat untuk pencegahan stunting. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan orientasi kepada kader dan memberikan penguatan SDM (Sumberdaya Manusia) Posyandu di Desa Lokus Stunting. Metode kegiatan dilakukan melalui edukasi kepada kader dalam rangka penguatan posyandu dalam upaya pencegahan stunting. Orientasi dilaksanakan selama satu hari di Kabupaten Labuhan Batu sebagai salah satu kabupaten lokus stunting dengan jumlah peserta 65 orang. Kegiatan diawali dengan perkenalan oleh tim. Kegiatan selanjutnya adalah edukasi dengan materi orientasi terdiri dari (1) upaya kesehatan di posyandu sebagai pencegahan stunting, (2) komunikasi antar pribadi dalam upaya kesehatan di posyandu pada adaptasi kebiasaan baru, (3) pelaksanaan upaya kesehatan di posyandu pada adaptasi kebiasaan baru, (4) pembuatan rencana tindak lanjut selesai kegiatan orientasi kader. Dari hasil kegiatan didapatkan terjadi peningkatan pengetahuan peserta setelah dilakukan orientasi kader dan penguatan SDM posyandu (post-test) dibandingkan dengan sebelum dilakukan kegiatan (pre -test)
- …
