93 research outputs found
Rekrutmen Karang pada Substrat Batu di Gosong Pramuka, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu
Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat dinamis, namun sangat sensitif dan rentan sekali terhadap perubahan kondisi lingkungan. Secara umum, kondisi terumbu karang di dunia, termasuk di kepulauan Seribu berada dalam kondisi rusak. Pemulihan terumbu karang di alam ditandai dengan kemunculan koloni-koloni karang muda dengan ukuran koloni relatif kecil dimana proses penempelan hingga tumbuhnya larva karang disebut sebagai rekrutmen karang. Karang rekrut yang menempel pada substrat batu diamati untuk mengetahui ukuran, genus, dan bentuk pertumbuhannya. Substrat batu yang berada di perairan Gosong Pramuka termasuk dalam karakteristik substrat yang baik untuk rekruitmen karang scleractinia karena substrat terbentuk dari kalsium karbonat, dan mempunyai permukaan yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari variasi ukuran, bentuk pertumbuhan dan kekayaan generik serta kepadatan karang rekrut yang ada di substrat batu struktur pemecah ombak di Gosong Pramuka. Karang yang ditemukan pada substrat batu difoto dengan kamera underwater untuk pengukuran dan identifikasi. Karang rekrut yang ditemukan dari seluruh stasiun berjumlah 270 koloni dimana jumlah koloni karang terbanyak yaitu pada STP I dengan jumlah 210 koloni. Genus yang paling dominan baik di STP maupun STL adalah Acropora. Ditemukan 5 genera pada STP yaitu Acropora, Porites, Montipora, Pavona, Goniastrea dan 4 genera pada STL yaitu Acropora, Porites, Montipora, Favia. Bentuk pertumbuhan yang dominan untuk karang Acropora di STP adalah Acropora branching, sedangkan di STL yang dominan adalah Acropora tabulate. Bentuk pertumbuhan untuk karang non Acropora yang dominan di STL adalah encrusting dan massive, sedangkan dan di stasiun terpapar bentuk yang dominan adalah encrusting saja. Kisaran luasan karang terbanyak di STP adalah pada kisaran 0 – 25 cm2, sedangkan di STL adalah 25 – 50 cm2. Stasiun terpapar didominasi oleh karang dengan kisaran diameter 6 – 9 cm, dan pada STL didominasi oleh kisaran 6 – 9 cm dan 12 – 15 cm. Kepadatan yang didapat untuk STP I adalah 1,3697 koloni/m2, pada STP II didapatkan 0,0513 koloni/m2, di STL I kepadatannya adalah 0,2266 koloni/m2 dan di STL II adalah 0,0251 koloni/m2. Seluruh nilai kepadatan yang didapat termasuk dalam kategori rendah. Selain itu, terdapat juga biota lain yang menempel pada substrat diantaranya adalah bulu babi, Padina sp., Caulerpa sp., tunikata, spons, Cypraea sp., dan anemon pasir
IPB (Bogor Agricultural University)
Rawa di Kota Palangkaraya merupakan tipe ekosistem rawa lebak (floodplain) yaitu genangan air yang terbentuk sebagai akibat luapan air sungai. Sekitar 16,67 % wilayah Kota Palangkaraya merupakan kawasan rawa lebak, terutama rawa lebak dari sungai Rungan. Keanekaragaman jenis ikan perairan tawar di dunia sebagian besar berada di kawasan rawa lebak tropika, bahkan rawa lebak di Kalimantan merupakan kawasan hot spot dari keanekaragaman ikan di Paparan Sunda. Perikanan penangkapan merupakan sumber penghasilan utama masyarakat tradisional yang tinggal di rawa lebak. Upaya konservasi keanekaragaman ikan cenderung hanya terbatas pada kawasan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan suaka perikanan. Kawasan di luar itu yang justru memiliki wilayah yang luas, menghadapi ancaman eksploitasi ikan berlebih, dan kerusakan ekosistem. Oleh karena itu diperlukan upaya pengelolaan di luar kawasan konservasi dengan tujuan mempertahankan keanekaragaman ikan dan menjamin keberlanjutan mata pencaharian nelayan yang hidupnya bergantung pada ekosistem tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi keanekaragaman ikan dan kondisi lingkungan ekosistem rawa lebak, mengidentifikasi faktor – faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan nelayan, dan merumuskan model pengelolaan ekosistem rawa lebak yang mendukung keanekaragaman ikan dan peningkatan pendapatan nelayan
Penapisan Bakteri Asosiatif Karang Lunak (Octocorallia; Alcyonacea) Sinularia dura dan Lobophytum strictum yang Potensial sebagai Alternatif Penanganan Microfouling di Laut.
Microfouling (pembentukan biofilm) merupakan syarat utama terjadinya biofouling, sehingga untuk melakukan penghambatan terjadinya biofouling pada struktur bangunan laut dapat dilakukan dengan menghambat terjadinya biofilm. Beberapa mikroorganisme laut seperti bakteri yang berasosiasi dengan karang lunak mampu menghasilkan sejumlah metabolit sekunder yang dapat menghambat pertumbuhan biofilm. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari bakteri asosiasi potensial dari karang lunak Sinularia dura dan Lobophytum strictum yang dapat menghasilkan senyawa bioaktif sebagai sumber anti-microfouling alami. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Agustus 2011. Penelitian dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu pengambilan sampel karang lunak jenis Sinularia dura dan Lobophytum strictum, penjebakan biofilm bakteri, isolasi bakteri, dan uji antagonisme. Pengambilan sampel karang lunak dan penjebakan biofilm bakteri dilakukan pada waktu dan tempat yang sama yaitu di perairan Barat pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Uji antagonisme dilakukan antara bakteri asosiasi karang lunak terhadap bakteri pembentuk biofilm dengan metode difusi agar. Parameter kualitas perairan (fisika-kimia) yang diukur sebagai data penunjang meliputi suhu, kadar garam, kecerahan, pH, nitrat, fosfat, TSS, dan COD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 24 isolat bakteri asosiasi berhasil diisolasi dari karang lunak jenis Sinularia dura dan Lobophytum strictum. Uji antagonisme menunjukkan sebanyak 23 isolat (95,83%) bakteri asosiasi mampu menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk biofilm. SD6 dan LS1 merupakan isolat bakteri yang memiliki tingkat aktivitas penghambatan paling tinggi terhadap bakteri pembentuk biofilm. Bakteri SD6 dan LS1 tersebut berpotensi sebagai sumber anti-microfouling alami yang ramah lingkungan
Growth of transplanted soft corals Lobophytum strictum on recirculation system with different light conditions
Prastiwi DI, Soedharma D, Subhan B. 2012. Growth of transplanted soft corals Lobophytum strictum on recirculation system with different light conditions. Bonorowo Wetlands 2: 31-39. The study was conducted from August 2010 to January 2011 at the Laboratory of the Marine Science Research Center, Bogor Agricultural University, Ancol, North Jakarta using different lighting treatment at the observation pond. The first pond opened and the second pond closed using a tarpaulin. The total data of soft coral Lobophytum strictum growth was analyzed using Completely Randomized Design method. Measurements of soft coral include absolute growth, growth rate, and survival rates. In open ponds, survival rates of soft coral reached 100% until the end of the study, whereas in closed ponds (without light) only survived for 8 weeks. The average growth rate of soft coral ranged from 5.95 ± 0.31cm to 10.04 ± 0.6 cm. At the start of the study, the average width of soft coral fragments in open ponds was 5.27 ± 0.51 cm and by the end of 12 weeks, the study increased to 6.84 ± 0.72 cm. The average growth of the length and width of the soft corals in closed pond decreases every week. At the end of the study, the soft coral length was reduced by 3.55 cm, while the width was reduced by 4.28 cm. Sunlight plays an important role in the life of soft corals; this is due to the presence of zooxanthellae microsimulation that requires sunlight to photosynthesize. The results show that the survival rate of soft corals in open ponds is better than closed ponds. Analysis of variance shows that the growth of soft corals is significantly affected by light.</jats:p
Distribusi dan Kelimpahan Larva Ikan di Perairan Laguna Pulau Pari dan Sekitarnya
Research on Fish larvae abundance and distribution has been conducted in Pulau Pari’s lagoon waters started from June to November 2011. The 5 sampling stations are Pulau Tikus (1), Pulau Burung (2), Pulau Kongsi (3), Tubir (4) dan LIPI (5). The result found there are 22844 fish larvaes consists of 67 families and 107 genera. The top 5 families with highest composition are Aulostomidae with 13.14%, followed by Blenniidae (9.98%), Pomacentridae (9.28%), Engraulidae (6.46%) and Pinguipedidae (5.02%). While the top 5 genera are Aulostomus chinensis of Aulostomidae (13.14%), followed by Stanulus of Blenniidae (5.95%), Stolephorus of Engraulidae (5.68%), Parapercis of Pinguipedidae (5.02%) and Pomacentrus of Pomacentridae (4.58%) The abundance range from 8 – 2764 ind/m3. Spatially, the highest abundance of fish larvae are in station 2 followed by station 4 while the lowest is in station 5. Temporally, the highest abundance of fish larvae are in July at station 1,3 and 4 while at station 2 and 5 the highest was in June. The highest abundance genus is Aulostomus chinensis. Most of families caught are reef associated fishes. Most of the genera also caught in preflexion stadia especially in July and October. Analyzes on community indices showed that the highest diversity index’s values is on station 4 with 3.03 and the lowest is station 5 with 2.8. correlation analyzes between environmental factors showed that negative correlation between abundance and temperature; also between abundance and nitrat while positive correlation showed by abundance and pH, abundance and salinity; and between abundance and silicate
IPB (Bogor Agricultural University)
Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) merupakan salah satu kawasan konservasi laut yang mendapat prioritas pengelolaan secara nasional karena luasan dan potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki, namun keutuhannya terancam dengan kegiatan eksploitasi penangkapan yang cenderung merusak dan pengembangan pariwisata yang tidak terkontrol. Permasalahan pengelolaan TNKJ disebabkan oleh keterbatasan kapasitas pengelolaan, kurangnya dukungan dinas teknis terkait dan partisipasi masyarakat dalam usaha konservasi dan lemahnya koordinasi. Sejalan dengan otonomi daerah telah berkembang konsep co-management dalam pengelolaan kawasan konservasi, akan tetapi penerapannya belum sepenuhnya menggunakan prinsip-prinsip co-management. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi dan kegiatan pemanfaatan sumberdaya TNKJ; kebijakan dan kelembagaan pengelolaan TNKJ; persepsi dan partisipasi stakeholders dalam pengelolaan TNKJ; mengidentifikasi faktor kunci co-management TNKJ; dan menyusun konsep co-management bagi kegiatan pemanfaatan perikanan dan pariwisata di TNKJ
Fotorespon Pertumbuhan, Glutathion (GSH), Kalorofil a, dan Karotenoid Symbiodinium spp.
Ekosistem terumbu karang mampu membangun dan menyediakan habitat
bagi komunitas paling beragam di dunia. Karang memiliki simbiosis yang
kompleks antara hewan inang (filum cnidaria) dan mikroalga endosimbion
(dinoflagellata bergenus Symbiodinium) namun sensitif terhadap perubahan
lingkungan. Dinoflagellata endosimbion tersebut memberikan beragam produk
fotosintesis (fotosintetat) ke polip karang inang untuk mampu mempertahankan
metabolisme dan pertumbuhannya di perairan laut oligotropik. Di lain sisi, karang
menyediakan tempat berlindung dan akses eksklusif bagi endosimbion untuk
memperoleh makanannya dari hasil metabolisme polip karang. Tekanan
lingkungan, seperti intensitas cahaya tinggi, berpeluang mengganggu simbiosis
dan bahkan menghilangkan sel Symbiodinium ataupun pigmentasinya dari
jaringan karang. Pemutihan karang masal merupakan disfungsi proses fotosintesis
antara lain reduksi aktivitas fotosistem II dan transport linier elektron. Interaksi
berkepanjangan Symbiodinium spp. dengan intensitas cahaya tinggi dapat
berpengaruh terhadap densitas sel, jumlah pigmen, dan/atau produksi senyawa
fotokimia bahkan dapat memicu terjadinya pemutihan. Berkaitan dengan hal
tersebut, kesehatan endosimbion karang adalah kritis untuk keberlangsungan
hidup karang mengingat bahwa sebagian besar (75-90 %) kebutuhan karang inang
disuplai oleh endosimbionnya. Intensitas cahaya mampu mengubah pola respon
Symbiodinium spp. yang terindikasi dari perubahan pola pertumbuhan, senyawa
metabolit sekunder, dan pigmentasi sel. Penelitian bertujuan menganalisis
hubungan antara pertumbuhan, konsentrasi GSH, dan fotopigmen (klorofil a dan
karotenoid) Symbiodinium spp. yang diberi perlakuan berupa intensitas cahaya
pada gelombang sinar tampak (150-450 μmol foton.m-2.dt-1). Penelitian juga
dilakukan untuk menganalisis konektivitas antar peubah dominan sebagai salah
satu mekanisme respon Symbiodinium spp. terhadap intensitas cahaya.
Symbiodinium spp. merupakan hasil isolasi dari Zoanthus sp. yang
dikumpulkan dari Daerah Perlindungan Laut (DPL) Pulau Puhawang, Provinsi
Lampung dan dikultur dengan menggunakan media f/2 tanpa silika (pH 7,9-8,1;
suhu 22-230C; salinitas 33-34 ppt; gelembung udara kecil), dan diberikan
perlakuan berupa perbedaan intensitas cahaya (150, 200, 300, and 450 μmol
foton.m-2.dt-1). Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap parameter biologi
(fase pertumbuhan, laju pertumbuhan, dan biovolume sel) dan parameter kimia
(konsentrasi GSH, klorofil, dan karotenoid) sebagai fotorespon Symbiodinium.
Kurva pertumbuhan Symbiodinium menunjukkan tren positif pada 8 hari
pertama kultur dan memiliki empat fase (lag, eksponensial, stagnan, dan
penurunan) pada semua perlakuan selama total 12 hari kultur tanpa perbedaan
yang nyata secara statistik. Laju pertumbuhan tertinggi terjadi pada fase
eksponensial dan terendah pada fase penurunan, sehingga diasumsikan bahwa laju
pertumbuhan bukan merupakan fotorespon sensitif Symbiodinium spp. terhadap
rentang intensitas cahaya tampak yang diujikan. Tingginya intensitas cahaya
tampak mampu menstimulasi dan menyimpan fotosintetat hasil fotosintesis
Symbiodinium spp. yang terindikasi dari peningkatan biovolume sel dengan
semakin meningkatnya intensitas cahaya yang diberikan.
Konsentrasi GSH Symbiodinium spp. setelah perlakuan penghambatan
cahaya (diskontinu/fotoinhibisi) cenderung menampilkan tiga fase yang berbeda
(fase peningkatan, penurunan, dan stagnan) dan bisa berbeda tergantung pada
intensitas cahaya selama proses pemulihan. Fase tinggi dan bervariasinya
konsentrasi GSH diasumsikan sebagai mekanisme fotoprotektif Symbiodinium
spp. dalam hal meminimalkan pengaruh negatif tingginya intensitas cahaya. Fase
penurunan konsentrasi GSH diasumsikan sebagai fase pemulihan pasca fotostres.
Fase stagnan konsentrasi GSH diasumsikan sebagai fase stabilitas baru yang
berkorelasi tinggi terhadap keberadaan intensitas cahaya yang diberikan. Pada
kondisi perlakuan intensitas cahaya kontinu, Symbiodinium spp. cenderung
memproduksi lebih banyak GSH selama kultur pada semua perlakuan. Sempit dan
rendahnya konsentrasi GSH pada intensitas cahaya rendah mengindikasikan
mikrohabitat yang direkomendasikan untuk pemulihan Symbiodinium spp.
meminimalkan pengaruh foto stres. Berdasarkan hal tersebut, diasumsikan bahwa
GSH berperan sebagai senyawa fotoprotektif dan fotoadaptif Symbiodinium spp.
terhadap stres intensitas cahaya tampak.
Fotopigmen (klorofil a dan karotenoid) Symbiodinium menggambarkan
fenomena yang berbeda pada intensitas cahaya tinggi. Saat efisiensi klorofil a
menurun, karotenoid mengambil alih dengan menyampaikan energi yang
diabsorpsi ke klorofil a untuk tetap menjaga aktivitas fotosintesis sel.
Analisis komponen utama (PCA) dan uji t pada nilai korelasi pearson yang
digunakan untuk menganalisis konektivitas antara peubah dengan intensitas
cahaya yang diujikan. Hasilnya menunjukkan bahwa biovolume sel, konsentrasi
GSH, dan konsentrasi karotenoid dalam sel Symbiodinium spp. teraktifasi
produksinya pada intensitas cahaya yang lebih tinggi dari kontrol. Peningkatan
biovolume sel cenderung disebabkan oleh peningkatan konsentrasi GSH
intraseluler Symbiodinium spp.. Peningkatan intensitas cahaya pada rentang yang
diujikan tidak memberikan dampak pada densitas sel; berdampak menurunkan
konsentrasi klorofil a; dan berdampak meningkatkan biovolume sel, konsentrasi
GSH, serta konsentrasi karotenoid sel Symbiodinium spp.. Kondisi tersebut
mengindikasikan bahwa terdapat peran relatif GSH dan karotenoid terhadap
klorofil a. Peran relatif GSH dan karotenoid dalam menjaga metabolisme sel
tampak dari makin tingginya konsentrasi kedua senyawa tersebut justru disaat
konsentrasi klorofil a yang cenderung menurun ataupun sebaliknya. Peran GSH
dan karotenoid akan makin tampak nyata dari tidak terganggunya pertumbuhan
sel di semua perlakuan yang diberikan
Les recifs coralliens d'Indonesie : bilan et agression; amenagement et etudes ecologiques des iles Pari, archipel de Seribu
SIGLECNRS T 54952 / INIST-CNRS - Institut de l'Information Scientifique et TechniqueFRFranc
Keanekaragaman Makrozoobentos dan Hubungannya dengan Kualitas Lingkungan Pesisir Teluk Lampung
Makrozoobentos merupakan organisme dasar yang hidupnya di daerah pasir atau pasir berlumpur. Komunitas makrozoobentos dapat dipakai sebagai indikator pencemaran, karena organisme ini relatif tidak banyak bergerak atau berpindah-pindah Pengamatan komunitas makrozoobentos dan kualitas air di Teluk Lampung dilakukan dari bulan April sampai dengan Oktober 1989, yaitu temperatur, salinitas, kecerahan, nitrogen dan fosfat umumnya masih dalam keadaan normal untuk kehidupan organisme. Dari hasil pengamatan tersebut terdapat: 16 jenis kerang-kerangan/moluska, 11 jenis anellid, 1 jenis ekhinodennata dan 11 jenis ostrocoda. Prionospio malmgreni dan anellid merupakan jenis yang dominan di sekitar Sungai Blau, sedangkan keragaman dan keseragaman makrozoobentos variasinya masih nOllnal dengan variasi suksesi antara stadium 1 sampai dengan stadium 3.Kata-kata kunci : makrozoobentos, struktur komunitas, produktifitas, grafik frontier
Bioecology characteristic of blue swimming crab (Portunus pelagicus) in Brebes Waters
Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is commercial and exported product from Indonesia. It is usefull to make it as sustainable resource, so the research should conduct to analysis bioecology characteristic. The research was conduct from April 2008 through March 2009 in Brebes district waters with survey method. The objective of the research was to analysis biology and ecology characteristic and its relationship on crab distribution as base of sustainable fisheries management. Samples was collected by capture gear was called garok (mini beam trawl-like). In the present research, analyzed ecologycal data covered substrat texture, Carbon-organic content, Nitrogen-total content, orthoposfat (P2O5) content, pH value, salinity and water themperature. Also analyzed biological data covered morfology, anatomy, growth, reproductive performance, age assessment, length infinity, size at first maturity and legal size. Ecological data analyzed descriptively through performance of substate texture, organic content and water quality and also the parameters relationship each other. Principle Component Analysis (PCA) used to know ecology parameters relationship. Reproduction performance analized descriptively, whereas growth used regression analysis and von Bertalanffy growth formula (VBGF) from FISAT software. The result points that substrate fraction don’t give effect on crab size distribution. Ranges of male crab carapace length are 22 mm to 75 mm, while female crab carapace length are 21 mm-74 mm. Weight range male crab are 10.12 g-234.13 g, while female crab are 6.53 g to 253.24 g. This conditions demonstrate there is variation of old structure on crab population and crab which is caught is not from same cohort. Sex ratio demonstrated that number of female crab more than male along a year. Almost long a year, male crab dominated by ovarian stage I. The female crab on ovarian stage V (berried female) found out long a year. Spawning occure long a year with peak season on April and September. Generally male crab have weight increases faster than length in other hand female crab have length increases faster than weight increases. Male crab have bigger size than female. Size at first maturity for male crab is 63 mm, while female crab is 48 mm. The legal size of blue swimming crab is 65 mm. Base on ELEFAN analysis resulted that length infinity (L) is 81.10 mm for male and 81.38 for female with growth coefficient are 1.20 and 0.78 for male and female respectively. Base on VBGF resulted that maximum length occur at 5.66 and 5.63 year old for male and female respectively. From Battacharya method found there are two size class that are on mean length 47.5 mm and 59.5 mm. Result from FISAT analysis pointed that total mortality value (Z) was 2.52, natural mortality (M) was 1.53, fishing mortality (F) was 0.98. Fishing exploitation rate (E) was 0.391, indicated that fishing effort still in the range allowable catch. Substrat texture class was dominated by sandy loam. Carbon-organic content range of 1.08-4.79 %, Nitrogen-total was 0.07-0.51 % and Orthophosfat (P2O5) was 3.65-32.26 mg/100g. Acidity value (pH) of substrat range of 5.3-7.8, themperature variated on 26-30oC and salinity range of 30 - 33 ppt.Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis penting karena permintaannya tinggi dan merupakan komoditas ekspor yang memiliki harga tinggi. Pengetahuan tentang karakteristik bioekologi rajungan sangat penting dalam upaya melestarikan sumberdaya tersebut, baik melalui upaya pengelolaan maupun budidaya. Penelitian mengenai karakteristik Bioekologi Rajungan (Portunus pelagicus) telah dilakukan di perairan laut Kabupaten Brebes Jawa Tengah sejak bulan April 2008 sampai Maret 2009. Tujuan penelitian ini secara umum adalah menganalisis karakteristik biologi, ekologi dan hubungannya dengan distribusi rajungan sebagai dasar pengelolaan sumber daya rajungan yang berkelanjutan Sampel rajungan sebanyak 844 ekor dikumpulkan dengan alat tangkap garok. Data-data biologi dan ekologi rajungan dikumpulkan secara in situ dan dianalisis secara deskriptif. Pada penelitian ini dilakukan analisis terhadap karakteristik ekologi yang meliputi komposisi tekstur substrat, kandungan C-Organik, kandungan N-total, kandungan orthoposfat (P2O5), nilai pH, salinitas dan suhu perairan. Pada penelitian ini juga dilakukan analisis terhadap karakteristik biologi yang meliputi morfologi, anatomi, pertumbuhan, distribusi TKG, pendugaan umur, panjang infinitif, ukuran pertama matang gonad, dan ukuran layak tangkap. Data karakteristik ekologi dianalisis secara deskripsi dengan menampilkan data kelas tekstur substrat, kandungan bahan organik dan kualitas air serta menampilkan hubungan antara parameter-parameter tersebut. Analisis komponen utama (PCA) digunakan untuk mengetahui korelasi parameter ekologis. Analisis terhadap morfologi dan anatomi dilakukan secara deskriptif dengan mengacu dan membandingkan dengan rujukan yang relevan dalam kajian yang serupa, dan disajikan dalam bentuk gambar-gambar morfologi dan anatomi yang dapat menjadi rujukan dalam melakukan identifikasi rajungan. Penampilan reproduksi dianalisis secara deskripsi, sedangkan pertumbuhan dianalisis secara regresi dan menggunakan pola pertumbuhan von Bertalanffy dari perangkat lunak FISAT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi substrat tidak mempengaruhi distribusi ukuran rata-rata rajungan. Hasil analisis komponen utama menunjukkan fraksi lumpur dan liat berkorelasi positif dengan variabel C-Organik dan N-total. Nilai pH berkorelasi positif dengan C/N rasio dan fraksi pasir. Kondisi substrat didominasi oleh fraksi pasir diikuti oleh farksi lumpur dan fraksi liat. Hasil analisis menggunakan segitiga shepard didapatkan bahwa kelas tekstur substrat setiap titik sampling hampir sama yaitu didominasi lempung (loam) baik lempung berpasir maupun lempung berliat. Kandungan C-organik berkisar antara 1.08-4.79 %. Kandungan N-Total berkisar antara 0.07-0.51 % sedangkan kandungan Posfat (P2O5) sebesar 3.65-32.26 mg/100g. Kisaran nilai pH dalam substrat adalah 5.3-7.8, dan masih dalam batas toleransi bagi kehidupan rajungan. Suhu perairan bervariasi antara 27-30oC. Salinitas perairan di daerah penelitian berkisar dari 30 sampai 33 ppt. Nilai pH perairan di lokasi penelitian berkisar antara 5.2 sampai 7.1. Kedalaman di lokasi penelitian berkisar 3-12 m
- …
