1,720,987 research outputs found
Hubungan Kebiasaan Merokok Terhadap Hairy Tongue pada Mahasiswa Fakultas Teknik USU
Merokok merupakan suatu gaya hidup yang sering dijumpai pada masyarakat terutama di Indonesia. Merokok dapat menyebabkan manifestasi sistemik maupun lokal. Manifestasi secara lokal di rongga mulut berupa smoker’s melanosis, hairy tongue, leukoplakia, leukoedema dan stomatitis nikotina. Hairy tongue merupakan pemanjangan papila filiformis yang abnormal sehingga memberikan gambaran klinis berupa dorsum lidah tampak berlapis rambut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok yang dilihat dari jenis rokok yang dihisap dan jumlah rokok yang dihisap per hari, serta skor Simplified Oral Hygiene Index (OHIS) perokok terhadap hairy tongue. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional yang dilakukan di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Data kebiasaan merokok diperoleh dengan melakukan wawancara langsung dengan subjek yang berjumlah 72 orang dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan klinis. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 orang yang mengalami hairy tongue (6,9%) dan terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan hairy tongue berdasarkan jenis rokok yang dihisap (p = 0,028), jumlah rokok yang dihisap per hari (p = 0,044), dan skor OHIS perokok (p = 0,011). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok yang dilihat dari jenis rokok yang dihisap, jumlah rokok yang dihisap per hari, serta skor OHIS perokok terhadap hairy tongue.Skripsi Sarjan
Distribusi Frekuensi Karakteristik Lesi dan Faktor-Faktor Pemicu Penderita Stomatitis Aftosa Rekuren pada Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi Usu Tahun 2019-2020
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering terjadi di Indonesia. SAR merupakan ulkus aftosa pada rongga mulut yang bersifat rekuren dengan faktor etiologi yang belum diketahui dan dengan karakteristik yang bervariasi. SAR akan sangat berdampak pada kualitas hidup dan aktifitas rongga mulut serta terganggunya aktifitas sehari-hari seperti: susah tidur, merasa tidak nyaman, kondisi rongga mulut yang tidak terawat, terganggunya fungi pengunyahan, penelanan dan berbicara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi frekuensi karakteristik lesi dan faktor-faktor pemicu penderita Stomatitis Aftosa Rekuren pada mahasiswa profesi kedokteran gigi USU tahun 2019-2020. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi merupakan mahasiswa profesi kedokteran gigi Universitas Sumatera Utara stambuk 2019 dan 2020 dengan jumlah sampel 62 responden yang dijadikan subjek penelitian. Pengukuran variabel SAR menggunakan kuesioner Recurrent Aphthous Stomatitis Diagnosis (RASDX). Data penelitian diperoleh dengan melakukan penyebaran kuesioner secara daring (online) dalam bentuk google form. Hasil penelitian ini menunjukkan mahasiswa yang paling banyak terkena SAR adalah yang berjenis kelamin perempuan sebesar 87,1% (54 orang). Tipe SAR yang paling banyak ditemukan adalah minor sebesar 95,2% (59 orang). Lokasi yang paling banyak terjadinya SAR berada di mukosa labial sebesar 72,6% (45 orang). Ulser tunggal sebesar 95,2% (59 orang) ditemukan paling banyak pada responden. Riwayat durasi ulser yang paling banyak di derita responden sekitar 7-14 hari 54,8% (34 orang) dan faktor pemicu SAR yang paling banyak ditemukan adalah stres sebesar 93,5% (58 orang). Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik SAR yang paling banyak ditemukan pada perempuan dengan tipe minor pada mukosa bukal dengan jumlah tunggal dan dan durasi 7-14 hari. Berdasarkan faktor pemicu dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa faktor pemicu yang paling banyak yaitu multifaktorial dengan tiga faktor pemicu yang di dominasi oleh stres.78 HalamanSkripsi Sarjan
Hubungan Pola Makan dengan Rekurensi Stomatitis Aftosa Rekuren Pada Pasien di Departemen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan gangguan pada rongga mulut, berupa peradangan yang berulang, dengan rekurensi yang bervariasi, dapat terjadi beberapa episode (≥2 kali) dalam setahun. Etiologi SAR tidak diketahui pasti, akan tetapi terdapat beberapa faktor predisposisi dari SAR, termasuk faktor defisiensi nutrisi dan faktor imunologi. Kedua faktor tersebut diperkirakan berkaitan dengan kecukupan asupan nutrisi yang dapat digambarkan dari pola makan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola makan dengan rekurensi SAR pada pasien di Departemen Ilmu Penyakit Mulut FKG USU. Rancangan penelitian menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional dan cara pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Populasi penelitian ini adalah pasien SAR dalam jurnal kepaniteraan klinik periode Januari 2018 – Desember 2019, berjumlah 345 pasien dan yang memenuhi kriteria penelitian 78 sampel. Sampel penelitian mengisi kuesioner secara online dalam bentuk google formulir. Pengolahan dan analisis data dengan uji statistik Chi-square (X2). Hasil penelitian berdasarkan uji Chi-square yang diperoleh untuk jumlah makanan (p = 0,00), jenis makanan (p = 0,064), dan pola makan (p = 0,042). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pola makan dengan rekurensi Stomatitis Aftosa Rekuren pada pasien di Departemen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.64 HalamanSkripsi Sarjan
Hubungan antara kadar hemoglobin dengan Stomatitis Aftosa Rekuren pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara
Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) is an ulcerated inflammatory condition of the oral mucosa with recurrent episodes. RAS is a self-limiting disease, however the etiology has not been well recognized. Hematinic deficiency appears to be one of the predisposing factors, which can be described by low hemoglobin levels. The relationship between hemoglobin levels and RAS has reported by several studies, although the results was varied. The purpose of this study was to determine correlation between hemoglobin levels with type, number of ulcers and recurrences history of RAS. This was an analytical survey study with a cross sectional approach design. The population were active students of the Faculty of Dentistry, Universitas Sumatera Utara. Determination of subjects was carried out by purposive sampling technique. Total 40 subjects were included to this study. The criteria of this group are female RAS patients who have no systemic diseases, not pregnant, not menstruating, not smoking, and not using orthodontic appliances after taking written informed consent, uncooperative subjects during this study were excluded. Data was collected based on anamnesis and clinical examination. Hemoglobin levels are evaluated through the complete blood count. The results were statistically analysed by SPSS with chi-square test. This study shows that there was no significant correlation between hemoglobin levels with type of RAS (p = 0,307) and number of ulcers (p = 0,584), however there was a significant correlation between hemoglobin levels and recurrences history of RAS (p = 0,016). The conclusion of this study shows that there is a correlation between hemoglobin levels and recurrences history of RAS in students of the Faculty of Dentistry, Universitas Sumatera Utara67 HalamanSkripsi Sarjan
Pengaruh Xerostomia Terhadap Kualitas Hidup pada Pasien Hemodialisis di RSUD Dr. R. M. Djoelham Binjai
Xerostomia merupakan ketidaknyamanan pada rongga mulut yang sering
dialami oleh pasien yang menjalani hemodialisis. Xerostomia dapat memengaruhi
kualitas hidup pasien karena dapat mengakibatkan gangguan terhadap fungsi fisik,
psikologis, sosial dan rasa sakit. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui
pengaruh xerostomia terhadap kualitas hidup pada pasien hemodialisis di RSUD Dr.
R. M. Djoelham Binjai. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain
cross-sectional dan menggunakan kelompok kontrol yaitu individu dengan
xerostomia. Sampel berjumlah 25 orang pasien hemodialisis yang mengalami
xerostomia dan 25 orang individu dengan xerostomia yang dipilih secara purposive
sampling dan dilakukan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data
dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square (X2). Hasil yang diperoleh pada
penelitian ini yaitu dari 50 subjek, pasien hemodialisis yang mengalami xerostomia
dengan kualitas hidup rendah berjumlah 12 orang (48%) sedangkan individu
xerostomia dengan kualitas hidup tinggi berjumlah 20 orang (80%). Hasil uji statistik
antara xerostomia terhadap kualitas hidup pasien hemodialisis didapatkan p = 0,037
atau p < sig α (0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh yang signifikan antara xerostomia terhadap kualitas hidup pasien
hemodialisis.Skripsi Sarjan
Distribusi Frekuensi Karakteristik Lesi dan Faktor-Faktor Pemicu Penderita Stomatitis Aftosa Rekuren pada Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi Usu Tahun 2019-2020
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering terjadi di Indonesia. SAR merupakan ulkus aftosa pada rongga mulut yang bersifat rekuren dengan faktor etiologi yang belum diketahui dan dengan karakteristik yang bervariasi. SAR akan sangat berdampak pada kualitas hidup dan aktifitas rongga mulut serta terganggunya aktifitas sehari-hari seperti: susah tidur, merasa tidak nyaman, kondisi rongga mulut yang tidak terawat, terganggunya fungi pengunyahan, penelanan dan berbicara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi frekuensi karakteristik lesi dan faktor-faktor pemicu penderita Stomatitis Aftosa Rekuren pada mahasiswa profesi kedokteran gigi USU tahun 2019-2020. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi merupakan mahasiswa profesi kedokteran gigi Universitas Sumatera Utara stambuk 2019 dan 2020 dengan jumlah sampel 62 responden yang dijadikan subjek penelitian. Pengukuran variabel SAR menggunakan kuesioner Recurrent Aphthous Stomatitis Diagnosis (RASDX). Data penelitian diperoleh dengan melakukan penyebaran kuesioner secara daring (online) dalam bentuk google form. Hasil penelitian ini menunjukkan mahasiswa yang paling banyak terkena SAR adalah yang berjenis kelamin perempuan sebesar 87,1% (54 orang). Tipe SAR yang paling banyak ditemukan adalah minor sebesar 95,2% (59 orang). Lokasi yang paling banyak terjadinya SAR berada di mukosa labial sebesar 72,6% (45 orang). Ulser tunggal sebesar 95,2% (59 orang) ditemukan paling banyak pada responden. Riwayat durasi ulser yang paling banyak di derita responden sekitar 7-14 hari 54,8% (34 orang) dan faktor pemicu SAR yang paling banyak ditemukan adalah stres sebesar 93,5% (58 orang). Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik SAR yang paling banyak ditemukan pada perempuan dengan tipe minor pada mukosa bukal dengan jumlah tunggal dan dan durasi 7-14 hari. Berdasarkan faktor pemicu dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa faktor pemicu yang paling banyak yaitu multifaktorial dengan tiga faktor pemicu yang di dominasi oleh stres.78 HalamanSkripsi Sarjan
Efektivitas Gel Ekstrak Buah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) 10% terhadap Penyembuhan Ulkus Traumatikus pada Tikus Wistar
Ulkus traumatikus merupakan kondisi ulserasi pada mukosa yang disebabkan
oleh trauma mekanis, kemis, elektrik, maupun termis. Prevalensi ulkus traumatikus di
dunia mencapai 10-25% dengan insidensi tertinggi ditemukan pada mukosa bukal
(42%), lidah (25%), dan mukosa labial bawah (9%). Penelitian menunjukkan bahwa
penggunaan obat kimia terhadap ulkus traumatikus menimbulkan efek samping, hal ini
menyebabkan peneliti mulai mencari alternatif lain dari bahan tanaman obat seperti
kunyit, lidah buaya, buah delima yang memiliki manfaat farmakologis dan efek
samping yang lebih rendah sebagai bahan pengobatan alternatif ulkus traumatikus.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian gel ekstrak buah
andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) 10% terhadap ukuran ulkus dan eritema
dalam penyembuhan ulkus traumatikus. Jenis penelitian ini merupakan eksperimental
semu dengan pendekatan Pretest-Posttest Control Group Design. Penelitian ini
dilakukan pada 32 ekor tikus wistar yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok
perlakuan yang diberikan gel ekstrak buah andaliman (Zanthoxylum acanthopodium
DC.) 10% dan kelompok kontrol negatif yang diberikan basic gel CMC. Pengamatan
ukuran ulkus dan eritema dilakukan pada baseline, hari ke-1, ke-5, ke-10, dan ke-14.
Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney dan uji Fisher. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian gel ekstrak andaliman efektif dalam mengurangi
ukuran ulkus pada hari ke-5, ke-10, dan ke-14 (p<0,05) serta efektif dalam meredakan
eritema (p<0,05). Sebagai kesimpulan, gel ekstrak andaliman terbukti efektif dalam
membantu penyembuhan ulkus traumatikus.54 HalamanSkripsi Sarjan
Efektivitas Madu Hutan Terhadap Penyembuhan Ulkus Traumatikus pada Tikus Wistar
Efektivitas Madu Hutan Terhadap Penyembuhan Ulkus Traumatikus pada
Tikus Wistar
xi + 32 Halaman
Ulkus traumatikus adalah ulkus pada mukosa mulut yang disebabkan oleh trauma.
Gambaran klinis ulkus traumatikus berupa ulkus soliter, dapat berbentuk oval
maupun tidak beraturan, bagian tengah ulkus berwarna kuning-kelabu atau putih/abuabu
dengan tepi eritema. Ulkus traumatikus menyebabkan kesulitan dalam
pengunyahan, berbicara, dan menelan. Madu hutan adalah obat tradisional yang dapat
digunakan untuk menyembuhkan ulkus traumatikus karena memiliki efek
antiinflamasi, antimikroba, antioksidan dan covering agent. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui efektivitas madu hutan terhadap penyembuhan ulkus
traumatikus pada tikus wistar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen quasi
dengan pendekatan pre dan posttest grup kontrol. Penelitian ini melibatkan 32 ekor
tikus dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing berjumlah 16 tikus, yaitu
kelompok perlakuan (Madu hutan 100%) dan kelompok kontrol (Triamcinolone
acetonide). Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pemeriksaan ukuran
ulkus dan eritema kemudian diamatai pada hari ke-1, ke-5, ke-7, ke-10 dan ke-14.
Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji statistik Mann Whitney dan
Cochran. Hasil penelitian menunjukkan hasil yang signifikan terhadap pengurangan
ukuran ulkus (p = 0,001) dan hilangnya eritema (p = 0,000). Hasil penelitian ini
menunjukkan pengurangan yang signifikan pada ukuran ulkus dan eritema.
Kesimpulan penelitian ini madu hutan efektif terhadap penyembuhan ulkus
traumatikus.57 HalamanSkripsi Sarjan
Relationship between Taste Sensitivity and Quality of Life in Elderly at Martubung Health Center Medan in 2023
Decreased taste sensitivity is one of the impacts of aging that can make a person avoid food. This can be related to a person's quality of life. This study aims to analyze the relationship between taste sensitivity and quality of life in the elderly. The type of research is analytical research with a cross sectional approach. The population in this study included elderly people who routinely attended Posyandu Lansia activities at the Martubung Health Center in Medan with a sample size of 38 subjects, consisting of 31 women and 7 men. Each sample was tested for taste sensitivity using the cotton buds method to four taste solutions (sweet, salty, sour and bitter) with 4 different concentration levels. Furthermore, sample was interviewed using a quality of life questionnaire Short Form-8 (SF-8). Data were analyzed using Pearson and Spearman statistical tests. The results of this study showed: (1) the average taste sensitivity score in the elderly for sweet taste was 0.50±0.507; salty 0.71±0.611; acid 0.63±0.714; and bitter 1.24±0.542; (2) mean quality of life score 53.601±18.731; (3) there is a relationship between physical and mental taste sensitivity with p <0.05; (4) there is a relationship between taste sensitivity and quality of life with p <0.001. Based on the results of this study, it can be concluded that there is a relationship between taste sensitivity to the physical, mental and quality of life of the elderly.72 PagesSkripsi Sarjan
Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Skor Pigmentasi Melanin pada Penderita Smoker’s Melanosis di Kota Medan Tahun 2022
Kebiasaan merokok menyebabkan terganggunya estetika akibat terjadinya pigmentasi pada mukosa mulut perokok yang disebut smoker’s melanosis. Tingkat keparahan smoker’s melanosis dinilai menggunakan Hedin Melanin Index. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok yang meliputi jumlah rokok yang dihisap per hari, lama merokok, jenis rokok, dan kebiasaan merokok yang dinilai dengan Brinkman Index dengan skor pigmentasi melanin pada penderita smoker’s melanosis. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2022 sampai Februari 2023 di 4 kecamatan yang berada di Kawasan Medan Utara yaitu Kecamatan Medan Marelan, Kecamatan Medan Deli, Kecamatan Medan Labuhan, dan Kecamatan Medan Belawan. Subjek penelitian 100 pengojek online yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi perokok aktif yang sudah merokok ≥1 tahun, menderita smoker’s melanosis, tidak menderita penyakit sistemik maupun mengonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu yang lama seperti penyakit Addison, penyakit Peutz-Jegherz, dan obat-obatan seperti obat antimalaria dan minosiklin, dan bersedia mengikuti penelitian, serta kriteria eksklusi tidak kooperatif. Data demografi dan kebiasaan merokok diperoleh dengan wawancara langsung dan data skor pigmentasi melanin diperoleh dengan pemeriksaan klinis. Data yang terkumpul dianalisa dengan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara lama merokok dengan skor pigmentasi melanin pada penderita smoker’s melanosis (p=0,0001) dan hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok yang dinilai dengan Brinkman Index dengan skor pigmentasi melanin pada penderita smoker’s
melanosis (p= 0,015). Kesimpulan penelitian ini yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara lama merokok dan kebiasaan merokok yang dinilai dengan Brinkman Index dengan skor pigmentasi melanin pada penderita smoker’s melanosis.89 HalamanSkripsi Sarjan
- …
