38 research outputs found
On the Interchange of Subsistence Agriculture and Rainforest: An Indonesian Case
The rainforest role as agent in maintaining the ecosystem balance is constantly under threat. Forest conversions have occurred in all over the world on a very rapid progress. Most of the conversion associated with rural farmers practicing subsistence farming. Part of slash and burning farming system particularly in South Sulawesi has been shifted to land clearing for cereal and state crops (ie. Cocoa) by the rural farmers. This study conducted to trace the rate of forested land conversion into subsistence farming and the driving factors behind this process. The multi temporal Image analysis together with field survey been conducted to find out the rate of conversion and the perception of the rural farmers on land conversion. The study shows that the basic need for survival and the desire to get better life style has driving the people to further convert the forested area into farming land and some of the converted land was abandoned back to forested lan
AGRICULTURAL LAND CONVERSION ON MAKASSAR VICINITY
Makassar city is the capital South Sulawesi province (05\ud
0\ud
08' S; 119\ud
0\ud
25' E) sited \ud
on the western coast of the province, with population around 1.4 million (2011). The city laid on the \ud
northern side (downstream) of the Jeneberang river and shares the river???s floodplain with the city of \ud
Sungguminasa. \ud
The city of Makassar is a waterfront city surrounded by fertile agricultural land (mostly the \ud
rice field and dry land agriculture) on southern, eastern and northern sides. The rising demand of \ud
residence and business are enhance the sprawling of the city front lines over the fertile and technically \ud
irrigated fields on its vicinities. The advance of urban sprawl in Makassar and Sungguminasa traced by \ud
analyzing the multi-temporal data of remotely-sensed data on three sub urban area i.e. Kecamatan \ud
Pallangga and Sombaopu on south-eastern direction (Kab. Gowa), Jeneberang delta and Kecamatan \ud
Biringkanaya on the nothern area. \ud
The analyses shows that the sprawling of the city front lines over the last 10 to 15 years has \ud
been occurred rapidly, especially on Jeneberang delta where the farms has been converted into massive \ud
business area with the rate of conversion around 18% (8.4 ha/yr.) and 34% (30.3 ha/yr.) within the \ud
1999 to 2003 and 2003 to 2010 respectively. The conversion rate in Kecamatan Biringkanaya during \ud
1995 to 2003 and 2010 are 37 and 66 ha/year respectively and in Kecamatan Pallanga and Sombaopu \ud
is observed 172 ha/year from 1996 to 201
APLIKASI SISTIM INFORMASI KETAHANAN PANGAN DALAM MENDUKUNG KETERSEDIAAN PANGAN (BERBASIS PADI SAWAH DAN PADI GOGO)
Ketahanan pangan, terutama yang bersuber dari padi dan jagung suatu wilayah merupakan salah satu aspek penunjang keberlanjutan dan kemakmuran penduduk di wailayah tersebut. Sebagai negara agraris dengan wilayah yang luas, Indonesia memerlukan adanya suatu sistim penanganan basis data dan pengelolaan informasi ketersediaan pangan yang dapat diakses dengan mudah oleh para pengambil keputusan dan para pemangku kepentingan yang terkait. Hal ini dapat terlaksana jika ditunjang oleh sistim informasi yang handal. Penelitian ini dirancang untuk menyediakan sarana penunjang sistim informasi kerawanan/ketanahan pangan yang mampu menyajikan informasi secara cepat dan akurat bagi para pemangku kepentingan di bidang ketahanan pangan khususnya padi sawah dan padi gogo .Sistim ini dirancang sedemikian rupa sehingga data dan informasi padi sawwah dan padi gogo suatu wilayah dapat dengan mudah diakses dan diedit serta dimutakhirkan oleh para pemangku kepentingan. Dengan sistim ini, ketersediaan pangan, akses pangan dan penyerapan pangan dalam suatu wilayah kajian dapat dilakukan secara tepat, akurat dan handal secara online dan berbasis spasial. Perangkat lunak SIK-Pangan telah terbangun dan mengalami ujicoba kehandalan (performance test) dalam pengumpulan data data dan analisis ketersediaan dan kerawanan pangan (padi sawah dan padi gogo) suatu wilayah. Dengan adanya sistim ini diharapkan dapat diterapkan di wilayah Sulawesi Selatan bahkan di Indonesia di masa yang akan datang dalam menunjang ketahanan pangan di Indonesia
Uji Kinerja dan Analisis Biaya Traktor Roda 4 Model AT 6504 dengan Bajak Piring (Disk Plow) pada Pengolahan Tanah
Traktor merupakan salah satu alat dan mesin budidaya pertanian yang didesain secara spesifik untuk keperluan traksi tinggi pada kecepatan rendah atau untuk menarik trailer dan implemen yang digunakan dalam pertanian. Untuk mengolah suatu tanah perkebunanan yang luas maka digunakan traktor roda 4 dengan menggunakan bajak piring (disk plow). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi kerja dan biaya operasional traktor roda 4 dalam mengolah tanah dengan menggunakan bajak piring (disk plow) pada lahan perkebunan (lahan kering). Pengujian traktor roda 4 dilakukan pada lahan kering menggunakan bajak piring dengan sistem pola pengolahan tepi. Parameter yang diambil dalam penelitian ini adalah lebar kerja (cm), kecepatan maju (km/jam), kapasitas kerja (jam/ha), slip roda, konsumsi bahan bakar dan kedalaman olah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan kerja traktor roda 4 menggunakan bajak piring (disk plow) dapat mengolah lahan kering seluas 0,02 ha dengan waktu 0,15 jam dengan kecepatan rata-rata 0,53 m/s atau 0,191 km/jam. Pada pengujian kinerja traktor juga diperoleh Kapasitas Lapang Efektif (KLE) diperoleh 0,138 ha/jam dan Kapasitas lapang Teoritis (KLT) 0,191 km/jam dengan efisiensi kerja adalah 68%. Analisis biaya menyatakan bahwa biaya operasional yang dikeluarkan adalah Rp 31.458.125,-/tahun dan Rp 5.493.450,-/ha untuk biaya tidak tetap
INTEGRASI KAKAO ??? SAPI DALAM PENGELOLAAN KEBUN BERKELANJUTAN SISTEM ZERO-WASTE
Kakao (Theobroma cacao) dan sapi bali (Bos sondaicus) merupakan dua komoditas strategis nasional. Kebanyakan masyarakat mengusahakan komoditas ini secara monokultur, padahal keduanya bisa diintegrasikan untuk memberikan nilai tambah dan profitabilitas yang tinggi serta berkelanjutan. Kami meneliti kesetimbangan dinamis biomasa dan besarnya limbah pakan dalam kebun kakao yang diintegrasikan dengan sapi dengan sistem ???zero waste???. Penelitian dilaksanakan di kebun kakao masyarakat di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, masing-masing seluas 0,5 ha. Tiga ekor sapi dikandangkan di dalam kebun, dikelola secara terintegrasi dengan seluruh isi kebun. Kami mengukur laju produksi biomasa yang bisa dihasilkan dalam kebun ini selama setahun, lalu dikonversi ke daya dukung satuan ternak sapi. Kebun kakao yang diintegrasikan dengan sapi sistem zero waste memiliki kesetimbangan yang dinamis dengan pola unik. Kami menemukan, ada lima sumber pakan pokok, yaitu rumput raja, kulit buah kakao, rumput alam, daun pelindung dan daun kakao, dengan komposisi berturut-turut 40, 25, 16, 10 dan 9 %. Keberadaan rumput dalam kebun dan produktivitas kakao yang tinggi untuk menghasilkan kulit buah dan daun yang cukup, merupakan faktor penunjang penting. Keberadaan sapi menunjang produktivitas kakao yang tinggi. Musim hujan (Desember hingga Juni) merupakan periode surplus pakan, sedangkan musim kemarau, khususnya Agustus hingga Oktober merupakan periode defisit. Pada musim hujan, biomasa yang dihasilkan mampu memenuhi kebutuhan pakan untuk penggemukan 12 ekor sapi berbobot setara 350 kg dalam dua batch (masing-masing 6 ekor), tetapi pada musim kemarau hanya bisa diusahakan dua ekor, atau tiga ekor bila ada tambahan pakan dari luar kebun. Integrasi kakao ??? sapi dinilai prospektif untuk dikembangluaska
Analisis Sifat dan Proses Penabungan Biogas dari Kotoran Sapi
ABSTRAK\ud
Biogas merupakan energi yang dapat diperbaharui yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar minyak. Biogas di produksi oleh bakteri anaerob yang berasal dari bahan-bahan organik yang dimasukkan dalam digester. Kandungan biogas terdiri dari metana (CH4) 55 - 60%, karbondioksida (CO2) 35 - 40%, hidrogen sulfida (H2S) < 1% dan sangat sedikit uap air.\ud
Salah satu alternatif yang mungkin dapat dilakukan adalah pengemasan biogas ke dalam tabung LPG. Dengan melakukan metode pemurnian atau absorpsi diharapkan kandugan konsentrasi gas metan (CH4) lebih tinggi. Metode pemurnian atau absorpsi CO2 dalam air merupakan salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan konsentrasi gas metan (CH4).\ud
Berdasarkan hasil pengukuran, diperoleh hasil persentase tertingi gas metan (CH4) yang telah diabsorpsi adalah 68,1%. Hasil pengemasan biogas pada tabung LPG 12 kg dengan volume rata-rata gas metan yang masuk sebesar 0,0859 m3, membutuhkan waktu rata-rata pembakaran 25,38 menit dan pada tabung LPG 3 kg dengan volume rata-rata gas metan yang masuk sebesar 0,0342 m3, membutuhkan waktu rata-rata pembakaran 3,01 menit menunjukkan bahwa penggunaan biogas yang ada dalam tabung LPG belum efektif dan belum cukup digunakan untuk memasak
Analisis Biofisik Tanaman Padi dengan Citra Drone (UAV) Menggunakan Software Agisoft Photoscan
Hasil pertanian yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia antara lain adalah padi. Akan tetapi, salah satu tantangan dalam membangun pertanian adalah adanya kecenderungan menurunnya produktivitas lahan. Salah satu upaya pencegahannya adalah menerapkan sehingga dapat memperoleh informasi berupa data citra penggambaran kondisi fisik tanaman (ketinggian atau kerapatan) sebagai data bantuan untuk menghitung produktivitas lahan sawah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuitingkat produktivitas padiberdasarkan varietas dan pola tanam menggunakan pengolahan data citra tiga dimensi (3D). Tahapan dari penelitian ini dimulai dari pengambilan data citra dan pengukuran lapangan, kemudian data citra akan diolah menggunakan Software Agisoft Photoscan. Software Agisoft Photoscan ini memanfaatkan metode stereoskopis yang mengubah data citra 2D menjadi 3D. Pengukuran dilakukan pada beberapa sampel yang memiliki varietas dan pola tanam berbeda. Kemudian dilakukan validasi data antar kedua pengukuran agar tingkat akurasi dapat diperoleh. Selain itu, dilakukan juga pengukuran dengan menggunakan data uji yang berfungsi sebagai analisis prediksi nilai pengukuran kondisi fisik tanaman. Berdasarkan hasil pengolahan data didapatkan bahwa tingkat akurasi pengukuran menggunakan software Agisoft Photoscan untuk ketinggian tanaman mencapai 70%, sedangkan kerapatan tanaman mencapai tingkat akurasi sebesar 60%
Prediksi Laju Erosi dengan Menggunakan Metode RUSLE dan Penginderaan Jauh pada Sub DAS Bangkala
Sungai merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia yaitu sebagai penampung air hujan, pusat dari ekosistem, mencegah terjadinya banjir dan sebagai sumber air irigasi. Daerah aliran sungai ini dapat menyebabkan terjadinya erosi tanah. Erosi adalah suatu proses alam yang terjadi secara alami, tetapi pada umumnya dipercepat oleh berbagai aktivitas-aktivitas manusia. Efek yang ditimbulkan dari erosi tanah adalah kerugian terhadap hilangnya lapisan subur permukaan tanah untuk kegiatan pertanian, terjadinya penggerusan lapisan tanah, lepasnya partikel tanah yang menyebabkan terjadinya sedimentasi ke arah muara sesuai arah aliran sungai. Pendugaan erosi dapat dilakukan dengan menggunakan metode RUSLE. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memprediksi laju erosi di Sub DAS Bangkala dengan menggunakan metode RUSLE dan penginderaan jauh. Erosi dengan kelas sangat ringan memiliki persentase yang lebih besar yaitu 36,50% dengan luas wilayah 391,12 ha dibandingkan dengan tingkat erosi lainnya. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa laju erosi rata-rata yang terjadi pada sub DAS Bangkala yaitu 56,05 ton/ha/tahun dimana faktor yang paling berpengaruh terhadap besarnya erosi pada penelitian ini adalah faktor kemiringan lereng dan faktor penutupan lahan
Uji Kinerja Alat Perajang Rimpang
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah bahan baku yang digunakan sebagai obat tradisional di industri jamu, farmasi, dan makanan serta minuman. Produksi dan konsumsi temulawak di Indonesia cukup tinggi oleh karena itu diperlukan suatu cara penanganan maupun pengolahan pasca panen dari temulawak tersebut. Dalam pengolahan hasil pertanian banyak teknologi mekanik yang digunakan, diantaranya adalah teknologi mesin perajang rimpang yang digunakan sebagai teknologi yang memudahkan dalam penanganan pasca panen temulawak. Mesin perajang rimpang ini diharapkan mendukung peningkatan hasil produksi temulawak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja dan efisiensi alat perajang rimpang. Penelitian ini menggunakan alat perajang rimpang tipe horizontal dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan kapasitas kerja alat perajang rimpang tipe horizontal sebesar 146,92 kg/jam, hasil ketebalan pemotongan 2,0038 mm, keseragaman hasil pemotongan 16,62 %, persentase rusak sebanyak 0,31 %, daya spesifik 0,0025 kW-jam/kg, dan efisiensi penerusan daya 1,576 %. Hasil ketebalan rata-rata dipengaruhi oleh kecepatan pemasukan bahan, tekanan yang diberikan pada bahan serta kecepatan putar pisau perajang
