32 research outputs found
PENGARUH PEMBERIAN BIOCHAR SEKAM PADI TERHADAP SERAPAN FOSFOR TANAMAN JAGUNG PADA TANAH ULTISOL
PENGARUH PEMBERIAN BIOCHAR SEKAM PADI TERHADAP SERAPAN FOSFOR TANAMAN
JAGUNG PADA TANAH ULTISOL
Dendi Ahmad Dani (11980212418)
Di bawah bimbingan Oksana dan Siti Zulaiha
INTISARI
Sifat ultisol yang rendah bahan organik dan bersifat masam, Amielioran sebagai upaya untuk meningkatkan sifat kimia dan fisik tanah. untuk meningkatkan serapan fosfor pada tanaman jagung di tanah ultisol, serta masalah yang terjadi ditanah ultisol dapat diatasi dengan pemberian biochar sekam padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengaruh beberapa taraf dosis biochar sekam padi sehingga meningkatkan serapan fosfor tanaman jagung di tanah ultisol. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium UARDS Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau dan analisis serapan fosfor diujikan di Laboratorium kimia tanah Universitas Riau pada bulan Juli-September 2023. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu, P0 = Tanpa pemberian biochar, P1 = Biochar 250 g / 10kg polibag, P2 = Biochar 500 g / 10kg polibag, P3 = Biochar 750 g / 10kg polibag dengan masing-masing perlakuan diulang 5 kali.Parameter yang diamati yaitu berat basah tanaman, berat kering, kadar P, angkutan P dan kapasitas air tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biochar sekam padi pada tanah ultisol dapat memperbaiki tanah ultisol dan meningkatkan serapan fosfor pada tanaman jagung. Dosis yang terbaik pada penelitian ini yaitu perlakuan P1 (biochar 250 g / 10kg polibag).
Kata Kunci: Jagung, Angkutan P, Biochar, Ultisol, Bahan Organi
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK PUNTUNG ROKOK DALAM MENEKAN PERTUMBUHAN Ganoderma sp. SECARA IN VITRO
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK PUNTUNG ROKOK DALAM MENEKAN
PERTUMBUHAN Ganoderma sp. SECARA IN VITRO
Ahmad Dani Febrian (12080211822)
Di bawah bimbingan Yusmar Mahmud dan Riska Dian Oktari
INTISARI
Ganoderma sp. adalah salah satu patogen penyebab penyakit busuk pangkal
batang yang umumnya dijumpai pada kelapa sawit, sehingga perlu dikendalikan.
Salah satu alternatif pengendaliannya dengan menggunakan ekstrak puntung rokok.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak puntung rokok
mengendalikan Ganoderma sp secara In vitro. Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Juli sampai September 2023 di Laboratorium Patologi, Entomologi,
Mikrobiologi dan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam
Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Penelitian ini menggunkan metode eksperimen
dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan (0%, 10%, 20%,
30%, 40% dan 50%) dengan masing-masing perlakuan diulang 4 kali, sehingga
terdapat 24 satuan percobaan. Parameter pengamatan meliputi analisis kandungan
ekstrak puntung rokok, makroskopis, mikroskopis, laju pertumbuhan (cm/hari) dan
daya hambat (%) Ganoderma sp. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak puntung
rokok memiliki kandungan senyawa yang dapat menekan pertumbuhan Ganoderma
sp. yaitu nikotin, euganol, dan total fenol 0,13 mg GAE/g. Perlakuan ekstrak
puntung rokok dengan konsentrasi 20 % sangat efektif dalam menekan
pertumbuhan Ganoderma sp. dengan daya hambat 100% dan laju pertumbuhan 0
cm/hari.
Kata Kunci: Ganoderma sp., kelapa sawit, limbah roko
Karakterisasikeramik Termistor Fe203:lmti Hasil Sinter dan Perlakuan Panas
This studywas done to know the effect ofTi02 addition on the characteristics qfFe203ceramics and the effect of a heat treatment at low temperature on the electrical characteristics ofFe203:lmTi ceramics including the mechanism ofits change as well. The Fe203:lmTi ceramics wereproduced bysintering some green pellets from mixture of 99.9 mole %Fe203 and I mole %Ti02 at1200°C for I hour in air. A heat treatment was carried out at 75(fC in air with a cooling rate ofTC/minute. Electrical resistivity ofthe ceramics was measured at different temperatures before andafter heat treatment. X-ray diffraction (XRD) analysis was done to know the crystal structure of theceramics and phases formed therein. It was known that the crystal structure of the Fe203 andFe203:lmTi ceramics was thesame i.e. that similar to hematite. The electricalcharacteristics showedthat the room temperature resistivity (psn) of the Fe203 ceramics drastically decreased with I mole %Ti02 addition and showedthat the (pSR) oftheFe203:lmTi ceramics increased significantly while thevalue of the thermistor constant (B) relatively did not change, after the heat treatment. The increase of(psn) after the heat treatment was caused by lessformation of oxygen vacancies which behave as theelectron sourcefor conduction band
Electrical Properties of Various Composition of Yttrium Doped-Zirconia Prepared from Local Zircon Sand
Doping
yttrium ions, Y3+ into ZrO2 produced Yttria-Stabilized
Zirconia, YSZ. Various amount of yttrium ions could provide different ionic conductivity. This research investigated
electrical conductivity of various YSZ composition, i.e., 4.5; 8.0 and 10% mol yttrium in ZrO2. The ZrO2
powder used was synthesized from zircon sand, a side product of tin mining
plant, Bangka Island, Indonesia. Structural investigation on the prepared YSZ
found that yttrium ion doping has changed the crystal structure of ZrO2
from monoclinic to cubic, even though the
monoclinic and tetragonal are also still exist.
The Y3+ doping changed the cell parameter of ZrO2
crystal. It indicates that the Y3+ entered into the ZrO2
structure and produced vacancy sites. The highest ionic conductivity is
provided by 8% mol Yttrium doping or
8YSZ, i.e., 2.74×10-4 S.cm-1
at 700oC with an activation energy
of 0.741 eV
Interaksi radiocesium dan radiostronsium dengan lempung dari Rembang dan Sumedang sebagai host rock sistem disposal limbah radioaktif
Pembangunan disposal limbah radioaktif merupakan hal yang penting untuk perkembangan teknologi yang menggunakan radiasi, demi keselamatan lingkungan, pekerja dan masyarakat umum maka perlu di persiapkan suatu fasilitas pembuangan akhir (disposal) limbah radioaktif jenis dekat permukaan (near surface disposal/NSD) untuk penanganan limbah hasil penggunaan teknologi tersebut. Dari survei lapangan sebelumnya di pulau Jawa telah diperoleh beberapa tempat yang dianggap cocok untuk lokasi disposal limbah radioaktif, salah satunya adalah di Rembang dan Sumedang. Pulau Jawa memiliki iklim dengan curah hujan yang tinggi maka tanah lempung (Clay) dipilih untuk dijadikan sebagai lokasi disposal (Host Rock). Radionuklida yang digunakan yaitu radiocesium (Cs-137) dan radiostronsium (Sr-90). Cara catu/batch digunakan untuk mendapatkan data interaksi Cs-137 dan Sr-90 dengan sampel host rock, dan nilai Koefisien Distribusi (Kd) digunakan sebagai indikator terjadinya interaksi. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa nilai untuk sorpsi tertinggi dari lempung Rembang dengan Cs-137 dan Sr-90 yaitu 3.043 ml/g dan 3.300 ml/g dengan pelepasan 50% dan 31,3%, sedangkan pada lempung Sumedang nilai Kd yang diperoleh adalah 3.884 ml/g dan 4.231 ml/g dengaan pelepasan 30,8% dan 26,2%. Nilai Kd untuk pengaruh kekuatan ionik dari lempung Rembang dengan larutan NaCl 0,1 M dan 1 M pada Cs-137 yaitu 736 ml/g dan 99 ml/g, kemudian pada Sr- 90 yaitu 1.070 ml/g dan 289 ml/g, sedangkan untuk lempung Sumedang pada Cs- 137 yaitu 1.010 ml/g dan 551 ml/g kemudian pada Sr-90 yaitu 1.145 ml/g dan 356 ml/g. Hasil pengaruh variasi konsentrasi didapat nilai Kd pada konsentrasi 10-8, 10-7, 10-6, 10-5, 10-4 M Cs-137 yaitu 3.033 ml/g, 2.845 ml/g, 1.662 ml/g, 327 ml/g, 67 ml/g, kemudian pada Sr-90 yaitu 3.288 ml/g, 2.900 ml/g, 2.052 ml/g, 727 ml/g, 199 ml/g. Hasil pada lempung Sumedang dengan Cs-137 yaitu 3.884 ml/g, 3.661 ml/g, 2.066 ml/g, 755 ml/g, 494 ml/g, kemudian pada Sr-90 4.130 ml/g, 3.723 ml/g, 1.963 ml/g, 820 ml/g, 448 ml/g. Penyerapan lempung Rembang dan Sumedang terjadi secara mono layer, dan memenuhi grafik isoterm Freundlic
PENGARUH SUHU PIROLISIS PADA PEMBUATAN ADSORBEN DAUN NANAS TERHADAP ADSORPSI METHYLENE BLUE MENGGUNAKAN AKTIVATOR NaCl
Penggunaan biosorben telah menjadi solusi potensial dalam pengolahan limbah cair, khususnya untuk mengatasi pencemaran akibat logam berat, zat warna, dan senyawa organik. Namun, tantangan utama yang masih dihadapi adalah kapasitas adsorpsi biosorben yang relatif rendah dibandingkan adsorben sintetis, yang dipengaruhi oleh struktur pori dari material biosorben tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan adsorpsi karbon aktif berbasis daun nanas melalui metode aktivasi menggunakan NaCl dan pirolisis pada variasi suhu 500°C, 600°C, dan 700°C, serta menganalisis pengaruhnya terhadap kristalinitas, morfologi, serta efisiensi dan kapasitas adsorpsi terhadap zat pewarna Methylene Blue (MB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penyisihan tertinggi diperoleh pada suhu pirolisis 700°C dengan efisiensi sebesar 87,07% dengan 20 ml Methylene Blue, sedangkan kapasitas adsorpsi 42,27 mg/g dengan 60 ml Methlylene Blue. Sebaliknya, efisiensi terendah terjadi pada suhu 500°C dengan volume MB sebanyak 60ml yaitu sebanyak 30,15% dan kapasitas adsorpsi sebesar 18,09 mg/g. Sejalan dengan itu, karakterisasi struktur morfologis menunjukkan bahwa ketebalan rata-rata rongga pori biosorben juga meningkat seiring suhu aktivasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu pirolisis, semakin besar efisiensi dan kapasitas adsorpsi karbon aktif yang dihasilkan.
The use of biosorbents is a potential wastewater treatment solution for heavy metals, dyes, and organic compounds, though their adsorption capacity is often limited by pore structure compared to synthetic adsorbents. This study aimed to optimize pineapple leaf-based activated carbon adsorption using NaCl activation and pyrolysis at 500°C, 600°C, and 700°C, analyzing its impact on crystallinity, morphology, and Methylene Blue (MB) adsorption efficiency and capacity. Results showed the highest removal efficiency of 87.07% at 700°C (with 20 ml MB), yielding an adsorption capacity of 42.27 mg/g (with 60 ml MB). Conversely, the lowest efficiency was 30.15% at 500°C (with 60 ml MB), with a capacity of 18.09 mg/g. Morphological analysis confirmed that the average pore cavity thickness of the biosorbent increased with higher activation temperatures. Thus, the study concluded that increased pyrolysis temperature leads to greater efficiency and adsorption capacity of the resulting activated carbon
SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF Fe2O3 NANOPARTICLES USING Averrhoa bilimbi AS BIOMATERIAL CHELATING AGENT FOR NANOFLUIDS APPLICATION
The aim of this work was to determine the effect of calcination temperature on the characteristics of Fe2O3 nanoparticles (NPs) in sol-gel synthesis. The obtained Fe2O3 NPs was then used as material for preparation of Fe2O3-water nanofluids. Nanofluids is a mixture between basic fluid like water and 1 - 100 nm solid particles (nanoparticles). Nanoparticles of Fe2O3 have been synthesized from the local mineral Jarosite using sol-gel method by using starfruit (Averrhoa bilimbi) extracts as the chelating agent. The calcination temperature was then varied from 500 ºC to 700 ºC for 5 hours. Based on the X-Ray Diffraction (XRD) analysis, the diffraction pattern of obtained Fe2O3 was relevant with the JCPDS data No. 33-0664 for α-Fe2O3 with hexagonal crystallite system. The crystallite size (Scherrer’s Equation) of obtained α-Fe2O3 nanoparticles at calcination temperatures of 500 ºC, 600 ºC and 700 ºC was 50 nm, 48 nm and 40 nm, respectively. The Surface Area of Fe2O3 NPs at temperature of 500 ºC, 600 ºC and 700 ºC was 45.45 m2/g; 26.91 m2/g and 17.51 m2/g, respectively. Fe2O3-water nanofluids was relativly stable with zeta potential of -39.60 mV; -46.37 mV and -41.57 mV, respectively for 500 ºC, 600 ºC and 700 ºC calcination temperature. The viscosity of Fe2O3-water nanofluids was higher than the viscosity of water. The critical heat flux (CHF) value of water-Fe2O3 nanofluids was higher than the CHF water. The highest CHF value for nanofluids was obtained by using α-Fe2O3 nanoparticles with calcination temperature of 600 ºC which 34.99 % of increment compare to the base fluid (water)
Overview of Indonesian Islamic Education: A Social, Historical and Political Perspective
The aim of this study is to examine how the historical genealogy of Islamic educational tradition, particularly the tradition of teaching and learning, has contributed to the development of Islamic education in Indonesia. By drawing together in an analytic way a historically based description of the social and political circumstances surrounding Indonesian Islamic education, the study discusses some significant issues concerning the religious base, knowledge base, structural form, and the pedagogical approach of Indonesian Islamic education, all of which are important to the development of a modern form of Islamic education.
The argument of the thesis is that the existing values of the Islamic tradition in education, particularly evident in Madrasah schools, provide a valuable basis for further developing and reconstructing an effective Islamic education system in Indonesia. However, there is also a strong need to construct an Islamic education curriculum in Indonesia that can meet the challenge posed by the circumstances generally understood as 'modernity'. The quality of teaching and learning in the Madrasah are very much influenced by the quality of the wider Islamic education programme. Any change in the curriculum of Islamic education will thus have significant effects on the quality of the Madrasah schools in Indonesia. This thesis will thus conclude by suggesting some implications for further development of Islamic education that arise from the study.
This is a qualitative study using an historical genealogical approach to discover, understand and analyze the challenges currently facing Islamic education In Indonesia. The techniques for collecting data involved, primarily, a critical reading of historical and contemporary policy documents. Primary and secondary sources were also collected, studied and subjected to a critical reading in the production of this account of Indonesian Islamic education
Pengaruh Waktu Postsintering Heat Treatment (Pht) Pada Konduktivitas Ionik Elektrolit Padat Calcia Stabilized Zirconia (Csz) Yang Mengandung Silica (Sio2) Dan Magnesia (Mgo)
PENGARUH WAKTU POSTSINTERING HEAT TREATMENT (PHT) PADA KONDUKTIVITAS IONIK ELEKTROLIT PADAT CALCIA STABILIZED ZIRCONIA (CSZ) YANG MENGANDUNG SILICA (SiO2) DAN MAGNESIA (MgO). Pengaruh waktu Postsintering Heat Treatment (PHT) pada konduktivitas ionik elektrolit padat CSZ yang mengandung SiO2 dan MgO telah diteliti. PHT dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan konduktivitas ionik elektrolit padat CSZ yang mengandung SiO2 dan MgO. Elektrolit padat CSZ yang mengandung SiO2 dan MgO dibuat menggunakan metode pressing dengan komposisi CSZ, SiO2, dan MgO berturut-turut 99 %berat, 0,5 %berat, dan 0,5 %berat. Pelet kemudian disinter pada suhu 1450ᵒC selama 4 jam dan PHT pada suhu 1350ᵒC dengan variasi waktu 0 jam, 4 jam, dan 8 jam. Analisis struktur kristal menunjukkan bahwa pelet yang telah dibuat membentuk kristal kubik dan tidak terpengaruh PHT. Analisis densitas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan densitas seiring peningkatan waktu PHT tetapi peningkatan tersebut tidak begitu signifikan. Analisis struktur mikro menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan ukuran butir yang signifikan seiring peningkatan waktu PHT, namun terjadi Perubahan distribusi pori. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa seiring peningkatan waktu PHT terjadi pula peningkatan konduktivitas ionik elektrolit padat CSZ yang mengandung SiO2 dan MgO
Ketangguhan Retak, Kekerasan Dan Konduktivitas Ionik Csz Sebagai Elekrolit Padat Sofc Dengan Penambahan Cuo
KETANGGUHAN RETAK, KEKERASAN DAN KONDUKTIVITAS IONIK CSZ SEBAGAI ELEKROLIT PADAT SOFC DENGAN PENAMBAHAN CuO. Penelitian mengenai pengaruh penambahan CuO terhadap konduktivitas ionik, kekerasan dan ketangguhan retak CSZ sebagai elektrolit padat SOFC telah dilakukan. CSZ didoping dengan CuO dengan konsentrasi 0, 1, dan 2 % berat. Pelet CSZ yang didoping CuO dikompaksi dengan tekanan 4 ton/cm2 dan disinter pada suhu 1475 0C selama 3 jam. Konduktivitas ionik diukur dengan menggunakan alat LCR meter. Konduktivitas ionik CSZ dengan doping 0, 1, dan 2 % berat CuO adalah 0,063 mS/cm; 0,110 mS/cm; dan 0,082 mS/cm. Kekerasan dan ketangguhan retak diukur dengan metode vickers menggunakan alat uji keras Zwick. Hasil kekerasan vickers berturut-turut 9,9 GPa; 12,1 GPa; dan 10,5 GPa, dan ketangguhan retak berturut-turut 1,61 MPa/m0,5; 1,85 MPa/m0,5; dan 1,54 MPa/m0,5. Analisis struktur kristal dilakukan dengan menggunakan XRD. Hasil analisis menunjukkan bahwa keramik yang dibuat berfase kubik FCC. Analisis struktur mikro dengan menggunakan mikroskop optik menunjukkan bertambahnya ukuran butir dengan peningkatan 1% berat CuO. Secara keseluruhan penambahan CuO dengan konsentrasi 1% berat dapat memperbaiki sifat listrik dan sifat mekanik CSZ sebagai elektrolit padat
