293,272 research outputs found

    PENGARUH JUMLAH RUAS DAN PANJANG BATANG TERHADAP VIABILITASB ENIH SERAI W ANGI (Cy mpobogon nardus L.)

    No full text
    ABSTRAKPengembangan   serai   wangi  memerlukan   ketersediaan   benih bermutu. Sampai saat ini, informasi standar mutu benih serai wangi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui viabilitas benih serai wangi dengan jumlah ruas dan panjang batang yang berbeda sebagai dasar penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) dari Mei sampai Juni 2013 dengan menggunakan benih serai wangi klon G 2. Percobaan disusun secara faktorial dengan tiga faktor dan diulang empat kali dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama adalah jumlah ruas stolon: (1) satu dan (2) dua. Faktor kedua adalah ukuran panjang batang semu: (1)15, (2) 20, dan (3) 25 cm. Faktor ketiga adalah periode penyimpanan: (1) 0, (2) 3, (3) 6, (4) 9, dan (5) 12 hari. Parameter yang diamati meliputi kadar air, daya tumbuh, serta bobot basah dan kering.  Hasil  penelitian  menunjukkan viabilitas  benih  serai  wangi dipengaruhi oleh jumlah ruas stolon dan panjang batang. Benih dengan dua ruas dan panjang batang 25 cm mempunyai viabilitas lebih baik dibandingkan satu ruas dan panjang 15 cm. Sampai 12 hari penyimpanan di suhu kamar, benih masih segar dengan daya tumbuh 83,75%.Kata kunci:  Cymbopogon  nardus  L.,  jumlah  ruas,  panjang  batang, penyimpanan, viabilitas ABSTRACTEffect of Internodes Number and Stems Length on Viability of Citronella Seeds (Cympobogon nardus L.) Development of citronella required the availability of good quality seed. Presently, standard information of citronella seed quality is not available. The research aims to study the viability of citronella seeds from different internodes number and stem length as the basic for preparing Indonesian National Standards. The experiment was conducted in the green house  of  the Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute (ISMECRI), from May until June 2013, by using citronella clones G 2. Factorial experiment with three factors and four replications was arranged in a Randomized Completely Block Design (RCBD). The first factor was  internodes numbers: (1) one and (2) two. The second factor was stem length: (1) 15, (2) 20, and (3) 25 cm. The third factor was storage periods: (1) 0, (2) 3, (3) 6, (4) 9, and (5) 12 days. Parameters observed included seeds moisture content, seeds germination, fresh, and dry weight. The results of experiment indicated that viability of citronella seeds was affected by stolon internodes number and stem length. Seeds with two internodes and stem length 25 cm has better viability than with one of internode and 15 cm   of stem   length.   Up to 12 days storage at room temperature, the seeds were still fresh with the germination 83.75%.Keywords:  Cymbopogon nardus  L.,  internodes number,  stem length, storage, viabilit

    Keragaman Genetik dan Potensi Pengembangan Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) di Indonesia

    No full text
    Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) merupakan tanaman tropis yang memiliki banyak fungsi, yakni sebagai bahan pangan bernutrisi prima dan sebagai tanaman penutup tanah. Seluruh bagian tanaman dapat dikonsumsi dan kaya akan protein. Tanaman kecipir juga berguna sebagai penyubur tanah, bahan pakan ternak, obat tradisional, dan pengendali erosi di lahan kering. Pusat asal-usul kecipir adalah Papua Nugini, Mauritius, Madagaskar, dan India, sedangkan pusat keanekaragaman terbesar terdapat di Papua Nugini dan Indonesia. Makalah ini mengulas keragaman genetik kecipir di Indonesia, multifungsi kecipir, dan prospek pengembangannya. Ragam kecipir di Indonesia cukup banyak, namun karakterisasi plasma nutfah kecipir di Indonesia belum dilakukan. Ciri pemertela kecipir telah dibuat oleh IBPGR, dan panduan pemertela tersebut dapat diterapkan untuk karakterisasi plasma nutfah kecipir di Indonesia. Prospek pengembangan kecipir di Indonesia cukup besar ditinjau dari ragam pemanfaatannya, kandungan nutrisi, maupun dari aspek ekologis yang sangat sesuai dengan wilayah Indonesia

    Pemodelan Tsunami di Sekitar Laut Banda dan Implikasi Inundasi di Daerah Terdampak

    No full text
    Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 67% tsunami terjadi di Indonesia timur, salah satunya di sekitar laut Banda. Penelitian terbaru membuktikan adanya palung terdalam Indonesia di Laut Banda, yang pernah memicu tsunami besar pada tahun 1674. Oleh karena itu, pemodelan tsunami di wilayah tersebut penting dilakukan sebagai upaya mitigasi tsunami di masa datang. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan sumber, penjalaran dan run-up tsunami di sekitar Laut Banda serta menganalisis inundasi di area terdampak menggunakan software L2008. Pemodelan tsunami dilakukan menggunakan skenario gempabumi 26 Desember 2009 dengan memodifikasi kekuatan menjadi Mw=8.3, kedalaman 33 km dan mekanisme sumber gempabumi ditentukan dengan software ISOLA. Dimensi patahan dan slip diperkirakan menggunakan persamaan empiris dari Papzachos (2004), Hanks and Kanamori (1979) dan Wells & Coppersmith (1984). Analisis inundasi mengacu pada persamaan Hills, J. G. & Mader, C. L., 1997. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan nilai vertical displacement maksimal sekitar 7,7 m, penjalaran tsunami ke segala arah dan  pertama kali memasuki daerah Seram bagian timur pada menit ke 05.40. Run up tertinggi dijumpai di Tual sekitar 7,71 m dan inundasi tsunami berkisar antara 64,18 m di Kepulauan Aru hingga 1.009,49 m di Kota Tual

    KONSERVASI IN VITRO PANILI (Vanilla planifolia Andrews.) MELALUI PERTUMBUHAN MINIMAL

    No full text
    Penelitian mengenai konservasi tanaman panili secara in vitro melalui pertumbuhan minimal telah dilakukan dari bulan April 1998 sampai bulan Oktober 2000 di laboratorium kultur jaringan Kelti Plasma Nutfah dan Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor. Bahan tanaman yang digunakan adalah setek satu buku dari tanaman panili aseptik klon 1 yang telah tersedia dalam botol kultur. Penelitian penyimpanan ini dilakukan pada media dasar Murashige dan Skoog dengan pengenceran media dasar menjadi 3/4 MS, ½ MS, 1/4 MS serta kontrol yaitu media MS penuh. Ke dalam media ditambahkan zat pengatur tumbuh BA 2,5 mg/l. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap, terdiri dari tiga ulangan dan lima botol setiap ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua pengenceran media dasar yang dilakukan mampu menekan pertumbuhan biakan selama periode penyimpanan dan sampai 30 bulan masih mampu tumbuh. Planlet yang telah disimpan selama 24 bulan yang ditumbuhkan kembali pada media dasar (MS + BA 2,5 mg/l ) masih dapat membentuk tunas dengan jumlah tunas terbanyak diperoleh pada perlakuan pengenceran 3/4 MS + BA 2,5 mg/l yaitu sebanyak 7,15 dan tinggi tanaman sebanyak 1,21 cm. Penelitian ini selain mampu mengurangi frekuensi subkultur ke media baru juga dapat menjaga stabilitas kultur. Teknik ini dapat dimanfaatkan untuk pelestarian plasma nutfah yang efisien, disamping sebagai bahan pertukaran dan memudahkan transportasi benih. 

    Origins: Dan L. Hanson's Graduate Composer Concert

    No full text
    Original Format: CassetteComposers in the graduate recital:Recital: Compose

    PENGARUH KOLKHISIN TERHADAP PENAMPILAN LADA P p er nigrum L.) MUTAN DAN ANALISIS PLOIDI

    No full text
    ABSTRAKKeragaman genetik plasma nutfah lada (Piper nigrum) di Indonesia rendah  sehingga  perlu  dilakukan  peningkatan  keragaman.  Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Balittro Bogor mulai Januari 2012 sampai Juni 2013. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan keragaman genetik lada varietas Petaling 1 menggunakan mutagen kimia kolkhisin. Biji lada direndam dalam larutan kolkhisin konsentrasi 0; 0,01; 0,03; dan 0,05% selama 4 jam dan disemai pada bak pasir. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali  dan  setiap ulangan  terdiri atas 300 biji.  Pengamatan dilakukan  terhadap  persentase  perkecambahan  dan  fenotipe  tanaman, persentase tumbuh, tinggi tanaman, serta jumlah ruas dan daun pada umur dua bulan. Selanjutnya, sebanyak 20 individu dari total benih yang tumbuh dipilih berdasarkan rata rata penggabungan dari tanaman terpendek dan tertinggi. Individu terpilih diamati tinggi tanaman serta jumlah ruas dan daun pada umur empat bulan. Untuk melihat ragam genetik dilakukan analisis kandungan DNA dengan flowcytometry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kolkhisin 0,01 dan 0,05% menghasilkan persentase perkecambahan benih di persemaian lebih tinggi. Pada lada mutan  vegetatif generasi  ke-0,  perubahan  morfologi  terindikasi  pada konsentrasi 0,03%.  Pada  generasi  mutan hasil  perbanyakan/turunan vegetatif pertama  perubahan  morfologi  pada  tanaman terjadi  pada perlakuan 0,05%. Namun, tidak ada perbedaan yang nyata pada tingkat ploidi lada pada semua perlakuan termasuk kontrol.Kata kunci:  Piper nigrum L., ragam genetik, mutan, kolkhisin, fenotip ABSTRACTEffect of Colchicine on the Phenothypic Performance of Pepper (Piper nigrum L.) Mutant and Ploidy analysisGenetic variability of pepper (Piper nigrum) in Indonesia was low, so it was needed to increase its variability. Research was conducted at the green house of Indonesian Spices and Medicinal Crops Research Institute, Bogor from January 2012 to June 2013. The aim of the research was to increase the genetic variability of pepper (Petaling 1) using chemical mutagen colchicine. Seeds of pepper were soaked in colchicine solution with several concentration (0; 0,01; 0,03; and 0,05%) for four hours, and then germinated on sand media. Every treatment consisted of 300 seeds and replicated three times. The parameter observed were germination percentage, plant phenotype, growth percentage, plant hight, number of node and leaves two months after planting. Further, from total seedling growth, 20 individual were selected based on average combined from highest and shortest plant. The selected individual observed their plant height, number of node and leaves on four months. Flowcytometri analysis from  the  selected  seedling  was  conducted to  find  interplant  genetic variabilities. The result showed that application of colchicin 0,01 and 0,05% performed the fast germination on the nursery compared with control, but no significant differencet on the growth parameters. In the mutant generation 0, the changes on morphology showed on 0,03% and at the first vegetative generation, the changes were indicated in plants from  0,05%  of  colchicine  treatment.  Flowcytometri  analysis  showed  no  significant differences on ploidi level of all treatments including control.Keywords:   Piper   nigrum,   genetic   variability,   mutant,  cholchicin, phenotyp

    Bioekologi dan Pengendalian Pengorok Daun Liriomyza chinensis Kato (Diptera: Agromyzidae) pada Bawang Merah

    No full text
    Dalam beberapa tahun terakhir, petani bawang merah di daerah Lembah Palu resah karena adanya serangan lalatpengorok daun (Liriomyza chinensis) yang dapat menyebabkan gagal panen. Keberadaan hama ini di Lembah Paludilaporkan pada tahun 2007. L. chinensis merusak daun tanaman bawang yang baru tumbuh hingga tanaman tua.Seekor imago betina meletakkan telur 50300 butir. Telur berwarna putih bening, ukuran 0,28 mm x 0,15 mm, danlama stadium telur 24 hari. Larva terdiri atas tiga instar. Stadium larva berlangsung 612 hari dengan ukuran larvainstar 3 adalah 3,5 mm. Stadium pupa berlangsung 1112 hari. Imago berukuran panjang 1,72,3 mm. Imagobetina mampu hidup 614 hari, sedangkan imago jantan 39 hari. Siklus hidup L. chinensis sekitar 3 minggu.Tanaman inang utama L. chinensis adalah bawang merah, bawang putih, dan bawang daun. Beberapa cara pengendalianL. chinensis yaitu: 1) teknik budi daya dengan melakukan penanaman pada musim kemarau, pergiliran tanamandengan tanaman bukan jenis bawang-bawangan, dan penggunaan varietas tahan seperti varietas Kuning 19, Bima,Sumenep, dan Bauji, 2) penggunaan perangkap likat kuning dan perangkap berjalan, 3) penggunaan musuh alamiparasitoid Halticoptera circulus (Walker), Chrysocharis parksi, Asecodes deluchii, dan Neochrysocharis okazakii,4) penggunaan insektisida sintetis siromazin, emamektin benzoat, kartap, dan spinosad, dan 5) penggunaaninsektisida nabati seperti Agonal 866 atau Nisela 866, Tigonal 866 atau Kisela 866, Phronal 966, dan Bisela 866.

    PENGARUH PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KATUK (Sauropus androgynus (L) Merr)

    No full text
    Daun kaluk (Sauropus androgynus (I.) Merr) banyak dikonsurnsi sebagai sayuran yang horkhasial dapal meningkatkan produksi dan kualitas air susu ibu (ASI), Kim ekstrak simplisia daun kaluk telah diproduksi dan dipasarkan perusahaan farmasi dan jamu dalam ramuan pelancar ASI .Adanya peningkatan permintaan kaluk untuk sayuran dan produksi ramuan ASI sebaiknya pengembangannya didukung teknologi budidaya tepat guna yang memadai agar dapat diperoleh hasil yang bcmiutu dengan produktivitas tinggi Komponen teknologi pemupukan organik menipakan salah satu altematif yang dipandang dapat mencapai tujuan tersebut. Penelitian pemupukan dengan pupuk kandang Iclah dilakukan di pertanaman katuk umur tiga tahun milik petani di Desa Cilendek Timur. Kecamatan Semplak Kabupaten Hogor, pada Marel sampai Juni 1998. I ujuan penelitian adalah unluk mendapatkan komponen tcknologi dosis pemberian pupuk kandang yang dapal meningkatkan pertumbuhan tanaman. hasil panen pangkasan, hasil daun dan kandungan protein Klon kaluk yang digunakan adalah klon baslar yang ditanam pada hedengan Perlakuan terdiri atas sembilan dosis pupuk kandang, masing-masing dalam kg. plot adalah ,0 (kontrol), 1.8, 3.6, 5.4, 7.2, 9.0. 10.8. 12.6 dan 14.4 atau setara 0, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35 dan 40 ton ha dengan memakai rancangan acak kelompok, diulang tiga kali. Pupuk kandang yang sudah lerdekomposisi dengan baik diberikan secara merata pada setiap plot lanaman I'aiienan dilakukan dengan memangkas lanaman 10 1 5 cm dan atas lanah selang 40 42 hari sekali. Sebelum percobaan dimulai. lanaman dipangkas lebih dahulu Hasil pencliuan menunjukkan bahwa dosis 5 4 kg plot pada panen pertama dan ketiga hanya berpengaruh terhadap komponen pertumbuhan linggi lanaman. Pada panen petama dosis 10.8 kg/plot nyata memberikan rataan per tanaman hasil pangkasan tertinggi (38.64 g) Pengaruh pupuk kandang selanjutnya nyata pada panen ketiga, hasil tertinggi dicapai pada dosis 5.4 kg plot baik untuk hasil pangkasan segar (48.79 g), dan daun segar (27 43 g). Jumlah hasil tertinggi dan liga kali panen secara nyata juga dicapai pada dosis 5.4 kg plot terhadap hasil pangkasan kering (42.79 g) serta daun kering (5.05 g). Kandungan protein daun nyata lebih linggi (37.83 -41.29 %) pada perlakuan dengan pupuk kandang, dibandingkan dengan kontrol (33.50%). Hasil analisis rcgresi dosis pupuk kandang dengan kandungan protein daun berbentuk persamaan kuadratik y=34.8372 + 1.2977x 0.0664X2 Hasil maksimum dapat dicapai pada dosis 9.76 kg/plot.Katakunci : Sauropus androgynus, pupuk kandang, hasil pangkasan. hasil daun. kandungan protein ABSTRACT Effect of manure on growth and yield of katuk (Sauropus androgynus L. Merr)Katuk leaves (Sauropus androgynus L. Merr,) are used as vegetable which have beneficial effect on stimulating the production of breast milk during lactation periode. Nowadays katuk extract has been produced and put on the market by pharmaceutical and jamu (traditional medicine) companies. The high demand of kaluk boOi for vegetable and pharmaceutical product should be supported by adequate cultivation technology, to obtain high quality and yield of kaluk. Organic fertilizers such as farmyard manure (FYM) is one of Uic alternatives to achieve the goal. A field trial using randomized block design, with nine treatments of FYM dosage, 0 (control), 1.8 kg/plot (5 ton/ha), 3.6 kg/plot (10 ton/ha), 5.4 kg/plot (15 ton/ha). 7 2 kg/plot (20 ton/ha), 9.0 kg/plot (25 ton/ha), 10.8 kg/plot (30 ton/ha), 12.6 kg/p(oI (33 Ion/ha) dan 144 kg/plot (40 tonlia), Uiree replication was carried out from March to Juni 1998, on larmer's kaluk plantation in fast Cilendek village, Semplak, Bogor. For the beginning of the trial, formerly katuk was pruned, and then a well decomposed 1 YM was broadcasted on each plot between plant rows Harvesting was done at an interval lime of 40 42 days by pruned lop part of the green lealy stem 10 1 5 cm above the soil surface Results showed only plant height as one of growth components was significantly influenced by the application of 5 4 kgplot I YM plot at the first harvest The highest significant yield of fresh green leafly steins (38 64 g per plant), was given by a 10 8 kgplot treatment al die first harvest, and then at the third harvest (48 79 g) of fresh green leafly stems and (27.43 g) of fresh leaf yield respectively, Ihe highest yield from three limes of harvest, was produced from the plots applied with 5.4 kg'plot for, dry basis (42 79 g) leafly stems, and dry leaf (5.05 g) Prolein content of the leaf signilicanly were higher (37 83 41.29 %), on FYM treatment lhan control (33 50 0/o). The regression equation between dosage of FYM with Icar protein conten( was y 34 8372 I 1.2977x 0.0664X2 Maximum prolin conlcnl can be obtained by a 9 76 kgplot.Key words : Sauropus androgynus. farmyard manure, yield, leaf, protein conten

    KOMPOSISI, SEBARAN UKURAN DAN HUBUNGAN PANJANG-BERAT BEBERAPA JENIS IKAN PETEK (LEIOGNATHIDAE) DI TELUK JAKARTA

    No full text
    Perairan Teluk Jakarta memiliki potensi perikanan tangkap  bagi masyarakat daerah pesisir Jakarta. Berbagai jenis ikan tertangkap pada perairan ini. Ikan petek (Leiognathidae) di Teluk Jakarta merupakan salah satu jenis ikan demersal yang cukup banyak tertangkap. Keragaman jenisnya mencapai setengah dari jenis ikan petek diseluruh Indonesia.  Selama penelitian telah ditemukan sebanyak tujuh jenis ikan petek dati tiga jenis genera, yaitu jenis L. splendens, L. equulus, S. ruconius, G. achlamys, L. fasciatus, L. decorus and L. bindus. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan petek di perairan Teluk Jakarta. Model yang digunakan adalah model linear regresi dengan menggunakan metode kemungkinan maksimum. Model ini digunakan untuk mendapatkan estimasi maksimum likelihood (MLEs) parameter pertumbuhan ikan petek. Hasil analisis  menunjukkan bahwa tidak terdapat faktor koreksi bias yang diperlukan dalam mendapatkan parameter pertumbuhan ikan. Hasil perhitungan memperlihatkan pola pertumbuhan ikan jenis L. splendens, L. equulus, S. ruconius dan G. achlamys bersifat  alometrik negatif, sedangkan jenis ikan  L. decorus dan L. fasciatus bersifat alometrik positif. Perkiraan ukuran panjang ikan pertama tertangkap berada dibawah ukuran pertama matang gonad (Lc < Lm), kondisi ini mengindikasikan perikanan mengarah pada growth overfishing. Pony fish (Leiognathidae) one of dominated catches of fisheries in the Jakarta Bay. There is 7 species of pony fish found in the Jakarta Bay (about an half of total species of pony fishes in Indonesia), namely Leiognathus splendens, L. equulus, S. ruconius, G Achlamys, L. fasciatus, L. decorus and L. Bindus. This reseach aims to examine the growth pattern of pony fishes in Jakarta Bay. Linear regression models used to obtain maximum likelihood estimation (MLEs) fish growth parameters. This model showed that there is no bias correction factor needed in getting the growth parameters. The calculations show that the growth pattern of L. splendens, L. equulus, S. ruconius and G achlamys were negative alometric, while L. fasciatus and L. decorus were positive alometric. It also reveled that the length at first capture was smaller than length at first maturity which indicates growth overfishing of this fisherie

    PERBANYAKAN TANAMAN ANIS (Pimpinella anisum L.) SECARA IN VITRO

    No full text
    Anis merupakan tanaman introduksi dari negara sub tropis yang menghasilkan mi-nyak atsiri, dengan komponen utama anetol. Untuk memperoleh bahan tanaman yang ba-nyak dalam waktu singkat, dilakukan perba-nyakan in vitro melalui kultur tunas di dalam media MS yang diperkaya dengan sitokinin yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis dan konsentrasi sitokinin yang tepat untuk menginduksi tunas anis secara in vitro. Penelitian dilakukan dalam Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan 2 faktor, diulang 5 kali. Faktor pertama adalah jenis sito-kinin yaitu Kinetin, BAP dan TDZ. Faktor ke-dua adalah taraf konsentrasi yaitu 1; 1,5; 2; 2,5 dan 3 mg/l. Hasil penelitian menunjukkan in-teraksi yang nyata antara jenis sitokinin dan konsentrasinya terhadap kecepatan tumbuh eksplan. Tunas paling cepat berinisiasi di da-lam media yang diperkaya kinetin ≤ 1,5 mg/l (5 hari). Jumlah tunas terbanyak dihasilkan dari media yang diperkaya TDZ dengan konsentrasi optimum 3 mg/l (13,5). Rata-rata jumlah daun terbanyak dihasilkan dari perlakuan TDZ de-ngan konsentrasi 3 mg/l (19,2 daun). TDZ de-ngan konsentrasi 3 mg/l merupakan perlakuan paling efektif untuk inisiasi tunas anis in vitro
    corecore