227,813 research outputs found
PENGARUH PEMUPUKAN N DAN P TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI, DAN KADAR PIPERIN TANAMAN KAMANDRAH
Kamandrah (Croton tiglium) merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida, terutama bijinya. Untuk mendapatkan dosis pupuk N dan P optimal pada tanaman kamandrah, telah dilakukan penelitian sejak April 2008 sampai April 2009 di Tamianglayang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Bahan yang digunakan adalah benih kamandrah yang ditanam dengan jarak 3 m x 3 m. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang sapi (satu kilogram pohon-1 untuk seluruh perlakuan), N (Urea), P (SP-36), dan K (KCl). Dosis K adalah 25 kg KCl ha-1 untuk seluruh perlakuan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok sembilan perlakuan dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari (a) 50 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (b) 75 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (c) 100 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (d) 75 kg Urea + 125 kg SP-36 ha-1; (e) 75 kg Urea + 100 kg SP-36 ha-1; (f) 75 kg Urea + 75 kg SP-36 ha-1; (g) 125 kg SP-36 ha-1; (h) 75 kg Urea ha-1; dan (i) kontrol. Parameter yang diamati, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah cabang primer, jumlah cabang sekunder, jumlah tandan bunga, hasil buah pohon-1, kadar minyak, dan kadar bahan aktif (piperine). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 75 kg Urea + 125 kg SP-36 adalah yang terbaik, didapatkan produksi berat basah pada tahun pertama sebesar 1.133,33 g enam tanaman-1 atau 188,88 g tanaman-1. Rendemen tertinggi dihasilkan pada perlakuan 75 kg Urea + 100 kg SP-36 yaitu 13,10%, sedangkan kadar piperin tertinggi pada perlakuan 75 kg Urea yaitu 0,0693%
Teknologi Pembibitan Duku dan Prospek Pengembangannya
Kendala utama dalam pengembangan agribisnis duku yaitu belum tersedia dan digunakannya benih bermutu. Tanaman duku umumnya berasal dari benih asalan. Perbanyakan dengan biji, di satu sisi, memberikan tingkat keberhasilan tinggi. Namun, tanaman memerlukan waktu lama untuk berbuah serta tidak selalu sama dengan induknya. Untuk itu, perlu teknik pembibitan yang lebih baik melalui sambung pucuk. Tulisan ini merupakan tinjauan terhadap pembibitan sambung pucuk pada duku dan prospek pengembangannya, meliputi penyemaian biji untuk batang bawah, pemupukan, persiapan batang atas (entres), cara penyambungan, dan kelayakan usaha pembibitan sambung pucuk. Batang bawah dianjurkan menggunakan jenis lokal karena perakarannya kuat dan daya adaptasinya tinggi terhadap lingkungan. Pupuk NPK diberikan dengan takaran 3 g/tanaman atau menggunakan pupuk daun plant catalyst dengan takaran 2 g/tanaman. Entres diambil dari pohon induk sehat dan telah berbuah minimal 3-4 kali, produktivitas tinggi, dari ujung cabang yang kulitnya hijau muda dengan posisi tumbuh lurus ke atas. Teknik penyambungannya adalah batang bawah dipotong pada bagian kulit yang masih hijau setinggi 2025 cm lalu dibelah membujur sepanjang 22,50 cm (huruf V). Entres disayat bagian pangkalnya pada kedua sisi sepanjang 22,50 cm (huruf V) lalu disisipkan ke dalam belahan batang bawah dan diikat tali plastik. Usaha pembibitan duku (skala 5.000 bibit) memberikan pendapatan bersih Rp6.618.560 dengan nilai R/C 2,20. Dengan demikian, teknik sambung pucuk mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan.
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN GONAD IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) KETURUNAN G-1, G-2, DAN G-3
Ikan baung (Hemibagrus nemurus) telah berhasil didomestikasi oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan, Bogor. Hasil penelitian domestikasi, populasi Cirata memiliki fekunditas dan pertumbuhan yang lebih bagus, populasi ini dikembangkan hingga tiga generasi (G1, G2 dan G3) namun, ada informasi terbatas mengenai perbandingan antara perkembangan gonad dari berbagai generasi ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur pertumbuhan dan mengamati perkembangan gonad generasi pertama (G-1), kedua (G-2), dan ketiga (G-3). Parameter yang diukur dan diamati meliputi pengukuran panjang, berat, laju pertumbuhan spesifik, morfologi dan berat gonad, diameter oosit, dan indeks gonad somatik (IGS). Pengambilan sampel dilakukan setiap dua bulan dengan mengumpulkan sepuluh sampel ikan dari setiap generasi. Jaringan gonad disiapkan secara histologis dan diwarnai larutan asetokarmin sebagai zat pewarna. Pengamatan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 4 x 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada usia 222 hari, gonad jantan dan betina secara fisik masih dalam bentuk benang halus. Namun, karakteristik sekunder pada ikan jantan seperti papila sudah mulai tampak meski tidak terlalu jelas. Pada usia 283 hari, ukuran oosit berkisar antara 0.025-0.05 mm. Pada usia 345 hari, telur mulai terlihat dengan ukuran oosit G-1, G-2, dan G-3 masing-masing berkisar antara 0.59 ± 0.24, 0.39 ± 0.15, dan 0.48 ± 0.15 mm. Setelah usia 406 hari, perkembangan gonad mencapai TKG-III dengan diameter rata-rata oosit G-1, G-2, dan G-3 berkisar antara 1.13 ± 0.11, 0.92 ± 0.18, dan 1.11 ± 0.10 mm dengan IGS dari G-1, G-2, dan G-3 dari 8.20%, 0.98 %, dan 4.8%, masing-masing. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara diameter oosit G-1, G-2, dan G-3 (P£0,05). Keturunan kedua (G-2) merupakan generasi terbaik untuk dijadikan kandidat budidaya. Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) has been successfully domesticated by the Research Institute for Freshwater Aquaculture and Fisheries Extension, Bogor. The results of the domestication of Cirata population have better fecundity and growth, this population has been developed for up to three generations (G1, G2 and G3) however, there is limited information regarding the comparison between the ovarian development of different generations of the fish]. This study’s aim was to measure the growth and observe the ovarian development of the first (G-1), second (G-2), and third generations (G-3). The parameters measured and observed included the measurements of length, weight, specific growth rate, morphology and gonad weight, oocyte diameter, and somatic gonad index (IGS). The sampling was carried out every two months by collecting ten fish samples of each generation. Gonad tissues were histologically prepared and stained asetocarmine solution as the coloring agent. The observations used a microscope with a magnification of 4 x 10. The results of the study showed that at the age of 222 days, the male and female gonads were physically still in the form of fine threads. However, secondary characteristics in male fish such as papillae have begun to appear though not very clear. At the age of 283 days, oocytes’ sizes ranged between 0.025-0.05 mm. At the age of 345 days, the eggs were starting to be visible with the oocyte sizes of G-1, G-2, and G-3 ranged between 0.59 ± 0.24, 0.39 ± 0.15, and 0.48 ± 0.15 mm, respectively. After the age of 406 days, the development of gonads reached gonad maturating level III with the average diameter of the oocytes of G-1, G-2, and G-3 ranged between 1.13 ± 0.11, 0.92 ± 0.18, and 1.11 ± 0.10 mm with the IGS of G-1, G-2, and G-3 of 8.20%, 0.98%, and 4.8%, respectively. There was no significant difference among the oocyte diameters of G-1, G-2, and G-3 (P£0.05). The 2nd generation (G2) is the best generation to be a candidate aquaculture
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA AAPTAMINOID DARI Aaptos aaptos DAN POTENSI PEMANFAATANNYA UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI Vibrio harveyi
Sponge Aaptos aaptos diketahui mengandung senyawa turunan aaptaminoid yang dapat digunakan sebagai sumber antibakterial alami tanpa efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa bioaktif dari ekstrak butanol Aaptos aaptos yang efektif menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi dan mengevaluasi kemampuan senyawa bioaktif dalam pencegahan infeksi V. harveyi. Ekstraksi metabolit sekunder menggunakan metode maserasi, sementara isolasi dan identifikasi senyawa aaptaminoid dengan metode kolom kromatografi dan spektroskopi. Uji aktivitas antibakterial menggunakan metode difusi agar dengan paper disc. Evaluasi kemampuan senyawa aktif dalam pencegahan vibriosis menggunakan metode eksperimental dengan empat perlakuan dengan masing-masing perlakuan menggunakan hewan uji Litopenaeus vannamei sebanyak 10 ekor/akuarium. Dosis senyawa aktif yang digunakan yaitu; A) 0 µg/g berat badan (bb); B) 0,67 µg/g bb; C) 25 µg/g bb; dan D) 50 µg/g bb. Penyuntikan 100 µL senyawa aktif pada masing-masing dosis tersebut dilakukan pada awal penelitian dan setelah 14 hari pemeliharaan, udang diuji tantang dengan V. harveyi pada kepadatan 107 CFU/mL Pemeliharaan udang dilanjutkan selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan morfologi udang berupa telson, rostrum, tubuh, pereopoda, dan pleopoda memerah sebagai tanda-tanda udang terinfeksi mulai diamati pada 23 jam pasca penginfeksian. Udang pada perlakuan C dan D mulai pulih dari infeksi pada hari keempat yang ditandai oleh telson, rostrum, tubuh, pereopoda, dan pleopoda yang normal. Selain itu, perlakuan D juga menunjukkan nilai sintasan udang tertinggi (50%), sementara perlakuan C memberikan sintasan sebesar 25%. Sebaliknya pada perlakuan B dan A (kontrol) udang sudah mengalami kematian 100% sebelum 24 jam pasca penginfeksian. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa senyawa aaptaminoid pada dosis e” 25 µg/g bb dapat dikembangkan sebagai sumber alternatif untuk pencegahan vibriosis.Aaptos aaptos contains aaptaminoid widely known as a natural antibacterial without any side effect. This recent research aimed to extract bioactive compounds from butanol extract of Aaptos aaptos and determined its efficacy to inhibit the growth and prevent the infection of Vibrio harveyi. The extraction of secondary metabolites used maceration method, while isolation and identification of aaptaminoid used column chromatography and spectroscopy methods. The antibacterial test against V. harveyi used agar diffusion method using paper disc. The evaluation of the active compound during the vibrio challenge test used an experimental method with four treatments. Each treatment used whiteleg shrimp, Litopenaeus vannamei of 10 ind./aquarium. Dosages of the active compound used were A) 0 µg/g bb, B) 0.67 µg/g bb, C) 25 µg/g bb, and D) 50 µg/g bb. The injection of 100 µL of each bioactive compound was carried out at the initial experiment and on day 14 after challenged with V. harveyi at the density of 107 CFU/mL. The shrimps was reared for an additional seven days. The findings showed that the infection on shrimps started on 23 hours post-injection of V. harveyi indicated by the reddish color of rostrum, body, pereopods, pleopods, and telson. The shrimps in treatment C and D were able to recover from the infection started on the day-4 post-infection exhibited by the back to the normal condition of rostrum, body, pereopods, pleopods, and telson. The highest survival rate post-infection was obtained by shrimp in treatment D (50%) followed by treatment C (25 %). In turn, shrimps on treatment A and B had 100% mortality within 24 hours post-infection. This research concludes that aaptaminoid can be developed as an antibacterial agent for vibriosis prevention with an optimal dosage of e” 25 µg/g bb
PENGARUH HERBISIDA DAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN ARTEMISIA
Penelitian untuk mengetahui pengaruh herbisida dan fungi mikoriza arbuskula (FMA) terhadap pertumbuhan dan pro-duksi tanaman artemisia dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik di Gunung Putri, Kabupaten Cianjur, mulai Maret sampai Desember 2007. Percobaan disusun menu-rut rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan tiga ulangan. Faktor I adalah cara pengendalian gulma, terdiri atas 6 taraf : P0=kontrol; P1=disiang manual; P2=1,6 kg diuron; P3=2,4 kg diuron; P4=0,63 kg oxyfluorfen; dan P5=0,83 kg oxyfluorfen/ha. Faktor II adalah dosis FMA, terdiri atas 4 taraf : M0=tanpa FMA; M1=5,0 g FMA; M2=10 g FMA; dan M3=15 g FMA/kg tanah. Penelitian merupakan percobaan pot yang berisi media campuran tanah dan pupuk kandang (8 + 2 kg); 3,5 g Urea; 1,5 g SP-36; dan 1,5 g KCl/pot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian diuron 1,6 dan 2,4 kg/ha, dan oxyfluorfen 0,63 dan 0,83 kg/ha efektif mengendalikan gulma sampai 4 bulan setelah tanam (BST). Oxy-fluorfen dosis 0,63 dan 0,83 kg/ha tidak meracuni tanaman artemisia dan tidak mengganggu perkembangan populasi FMA. Sedangkan diuron dengan dosis 1,6 dan 2,4 kg/ha meracuni tanaman artemisia cukup berat, namun tidak berpengaruh negatif terhadap perkembangan FMA. Hal ini terbukti dari populasi FMA pada per-lakuan diuron cukup tinggi (153-208,25 g/kg tanah) relatif sama dengan yang disiang manual (207,25 g/kg tanah). Pada pemberian 0,63 dan 0,83 kg oxyfluorfen/ ha, populasi FMA berkisar antara 128-163,75 g/kg tanah, relatif sama dengan yang disiang manual, dan lebih tinggi serta berbeda nyata dibanding kontrol. Tanaman artemisia mengalami keracunan berat oleh diuron dosis 1,6 dan 2,4 kg/ha sehingga pertumbuhannya terhambat dan bahkan ada yang mati. Oxyfluorfen dosis 0,63 dan 0,83 kg/ha tidak berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan, jumlah cabang, diameter batang, maupun bio-massa artemisia. Pada 4 BST, bobot bio-massa tanaman artemisia tertinggi diper-oleh pada perlakuan oxyfluorfen dosis 0,63 kg/ha (2.344,28 g/tanaman), diikuti dosis 0,83 kg oxyfluorfen/ha (2.119,70 g/tanaman), masing-masing lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan yang disiang manual (1.787,85 g/tanam-an) maupun kontrol (1.480,95 g/tanam-an). Pemberian 10 g FMA/kg tanah dan 0,63 kg oxyfluorfen/ha merupakan kombi-nasi dosis optimal bagi pertumbuhan artemisia yang tercermin dari bobot bio-massa tertinggi (2.987,40 g/tanaman). Penggunaan FMA meningkatkan kadar artemisinin 3,27%
Pemodelan Tsunami di Sekitar Laut Banda dan Implikasi Inundasi di Daerah Terdampak
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 67% tsunami terjadi di Indonesia timur, salah satunya di sekitar laut Banda. Penelitian terbaru membuktikan adanya palung terdalam Indonesia di Laut Banda, yang pernah memicu tsunami besar pada tahun 1674. Oleh karena itu, pemodelan tsunami di wilayah tersebut penting dilakukan sebagai upaya mitigasi tsunami di masa datang. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan sumber, penjalaran dan run-up tsunami di sekitar Laut Banda serta menganalisis inundasi di area terdampak menggunakan software L2008. Pemodelan tsunami dilakukan menggunakan skenario gempabumi 26 Desember 2009 dengan memodifikasi kekuatan menjadi Mw=8.3, kedalaman 33 km dan mekanisme sumber gempabumi ditentukan dengan software ISOLA. Dimensi patahan dan slip diperkirakan menggunakan persamaan empiris dari Papzachos (2004), Hanks and Kanamori (1979) dan Wells & Coppersmith (1984). Analisis inundasi mengacu pada persamaan Hills, J. G. & Mader, C. L., 1997. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan nilai vertical displacement maksimal sekitar 7,7 m, penjalaran tsunami ke segala arah dan pertama kali memasuki daerah Seram bagian timur pada menit ke 05.40. Run up tertinggi dijumpai di Tual sekitar 7,71 m dan inundasi tsunami berkisar antara 64,18 m di Kepulauan Aru hingga 1.009,49 m di Kota Tual
RESPON RAMI TERHADAP DOSIS DAN APLIKASI PUPUK MIKRO DAN DOLOMIT DI LAHAN GAMBUT KALIMANTAN TENGAH
Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Instalasi Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Karangploso, Malang pada bulan September 1998 sampai dengan Agustus 1999. Tujuan dai penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk dai unsur hara mikro, dolomit dan waktu pembeian terhadap petumbuhan dan hasil serat rami pada tanah gambut Berengbengkel Kalimantan Tengah. Perlakuan disusun secara faklorial dalam ancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Faktor I berupa paket dosis pupuk yang terdii atas lima dosis yaitu d,. 30 g dolomit per pot ; d2. 50 mg CuSO, ♦ 50 mg ZnS04 + 50 mg MnS04 + 30 g dolomit per pot ; dj. : 100 mg CuS04 + 100 mg ZnS04 + 100 mg MnS04 + 30 g dolomit per pot ; <U 50 mg CuS04 + 50 mg ZnS04 + 50 mg MnS04 + 15 g dolomit per pot; dan d, TOO mg CuS04 + 100 mg ZnSO, + 100 mg MnS04 + 15 g dolomit per pot. Faktor II berupa tiga waktu pemberian pupuk mikro yang terdii atas tiga taraf yaitu w, : dibeikan setiap habis di panen (setiap umur 60 hari sekali tanaman rami dipanen , dipotong pada pangkal batang); w2: dibeikan setiap dua kali dipanen ; dan wj: dibeikan setiap tiga kali dipanen. Klon rami yang ditanam adalah Pujon 10. Panjang stek rhizome yang ditanam 8 cm. Tanah gambut, dolomit dan pupuk kandang dicampur secara merata. Pot-pot plastik wana hitam diisi campuran media tersebut dengan takaran sebanyak 20 kg/pot. Pot-pot ini merupkan unit percobaan. Pot-pot diletakan dengan jarak 75 cm x.40 cm. Pupuk dasar (1.5 g urea + 1.0 g ZA + 1.0 g SP-36 + 1.0 g KCI)/pot/panen + 100 g pupuk kandang (kotoran kambingj'pot'tahun Pupuk kandang dan dolomit diberikan hanya sekali saja pada permulaan tanam Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil serat kasar (china-grass) tertinggi diperoleh dari total panenan II, III dan IV sebesar 8.62 g/pot yang dihasilkan dai perlakuan 100 mg CuS04 + 100 mg ZnS04 + 100 mg MnS04 /pot dan 30 g dolomit dengan pembeian pupuk setiap kali dipanen.Kata kunci: Lahan gambut, dolomit, rami (Boehmeria nivea) ABSTRACT Response of ramie to the dose and application of micro element and dolomite in peat soil Central KalimantanThe experiment was conducted at the glass house of Ihe Research Institute For Tobacco and Fiber Crops, Karangploso, Malang from September 1998 to August 1999. The purpose of this expeiment was to ind out the dose of micro element, dolomite and time of application of fertilizer on the growth and iber yield of ramie in peat soil of Berengbengkel, Central Kalimantan Province. The treatment was arranged factoially in a completely randomized design with three replications. The irst factor was ive kind of fetilizers d|. : 30 g dolomite per pot ; di. 50 mg CuS04 + 50 mg ZnS04 + 50 mg MnS04 * 30 g dolomite per pot; dj. : 100 mg CuSO< + 100 mg ZnSO. * 100 mg MnS04 * 30 g dolomite per pot ; <U 50 mg CuS04 + 50 mg ZnS041 50 mg MnS04 + 15 g dolomite per pot; and d5 MOO mg CuS04 ♦ 100 mg ZnS04 * 100 mg MnS04 + 1J g dolomite per pot. The second factor was time of fetilizer application Wj : every harvesting ; w2 : every two times of harvesting , and wj : every three times of harvesting. The rhizome of ramie wilh 8 cm length size was used in this experiment. Black plastic pots were illed with 20 kg peat soil. These pots were the experiment unil. The peat soil, dolomite and farm manure were mixed evenly. The pots were arranged in a space 75 cm x 40 cm Basic fetilizer was 1.5 g urea * 1.0 g ZA + 1.0 g SP-36 • 1.0 g KCI) potliarvcsling ♦ 100 g farm manure pot/year. Dolomite and farm manure were applied at earl) planting. The result showed that the highest tolal fiber yield of harvest II, III and IV 8 62 g/pot was achieved by applying 100 mg CuSO< + 100 mg ZnS04 + 100 mg MnSO*/ pot/harvesting and 30 g dolomite/pot/year.Key words : Ramie, Boehmeria nivea, peat soil, dolomit
KARAKTERISTIK MORFOLOGI, ANATOMI DAN PRODUKSI TERNA AKSESI NILAM ASAL ACEH DAN SUMATERA UTARA
Nilam (Pogostemon cablin) merupakan sa-lah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang mempunyai peranan penting, baik sebagai sumber devisa negara maupun se-bagai pendapatan petani. Tanaman nilam telah lama dibudidayakan di Indonesia dengan daerah sentra produksi Aceh, Su-matera Utara dan Bengkulu yang meng-alami perkembangan cukup pesat. Minyak nilam digunakan dalam industri parfum, pembuatan sabun kosmetik, antiseptik dan insektisida. Produksi minyak nilam ditentu-kan oleh varietas. Untuk mendapatkan produksi secara kualitas dan kuantitas yang tinggi diperlukan varietas unggul. Ta-hapan penelitian untuk mendapatkan va-rietas unggul dimulai dari eksplorasi ka-rakterisasi morfologi, anatomi dan pro-duksi terna. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik sejak Januari sampai Desember 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi, anatomi dan produksi 10 aksesi nilam asal Aceh dan Sumatera Utara. Parameter yang di-amati meliputi karakter morfologi, anatomi dan produksi terna serta minyak. Berda-sarkan karakter bentuk daun dan batang tidak banyak ditemukan variasi, namun bi-la dilihat dari karakter bentuk pangkal dan ujung daun terdapat variasi, diantaranya berbentuk tumpul, rata, gasal dan runcing. Karakter jumlah sel/kelenjar minyak yang terletak pada sel palisade maupun sel bu-nga karang sangat bervariasi. Potensi pro-duksi terna segar berkisar antara 96,0-319,1 g/phn, tertinggi terdapat pada ak-sesi TM-3 (319,1 g) terendah pada aksesi SK (96,0 g), produksi terna kering berki-sar antara 35,6-97,9 g/phn, tertinggi pa-da aksesi TM-3 (97,9 g) terendah pada aksesi SK (35,6 g). Kadar minyak atsiri berkisar antara 2,52-4,15% per pohon, tertinggi pada aksesi SK (4,15%) dan terendah pada aksesi Sipede 4 (2,52%)
KAJIAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT Gelidium corneum DENGAN BEBERAPA METODE DAN PENEMPATAN BIBIT DI PERAIRAN TABULO SELATAN, GORONTALO
Rumput laut Gelidium corneum merupakan salah satu spesies rumput laut penghasil agar dengan kandungan agarosa tertinggi dibandingkan jenis rumput laut lainnya. Hingga saat ini, produksi rumput laut Gelidium corneum masih mengandalkan perolehan dari alam sehingga volumenya masih sangat terbatas. Berdasarkan kondisi tersebut, kajian terhadap upaya budidaya rumput laut G. corneum dengan menerapkan beberapa teknik budidaya rumput laut yang sudah ada untuk mendapatkan metode dan penempatan bibit budidaya yang paling sesuai untuk G. corneum. Kegiatan uji coba dilakukan di perairan Tabulo Selatan, Gorontalo. Rancangan percobaan didesain menggunakan faktorial yang terdiri atas dua, yaitu faktor metode (long line dan kantong) dan faktor penempatan bibit di dalam perairan (permukaan dan dasar). Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan metode kantong yang ditempatkan di dasar perairan menunjukkan performansi pertumbuhan rumput laut G. corneum yang paling baik, dengan nilai rata-rata laju pertumbuhan harian 2,92%.Gelidium corneum produces agar with the highest agarose content compared to other seaweed species. The current production of G. corneum still relies heavily on wild stock which is very limited. This study was conducted to determine the best cultivation technique and seed placement in the farming of G. corneum. The study was carried out in the waters of South Tabulo, Gorontalo. This study used a factorial design which consisted of two cultivation methods (long line and bag) and two seed placement levels in the waters (surface and bottom). From the four treatments, G. corneum grown in the bags and placed at the bottom showed the best growth performance with a mean daily growth rate of 2.92%
PERTUMBUHAN, KELANGSUNGAN HIDUP, DAN PERFORMA PRODUKSI UDANG GALAH, Macrobrachium rosenbergii HASIL SELEKSI PADA TIGA SEGMEN BUDIDAYA
Pertumbuhan lambat dan maturasi dini merupakan permasalahan serius pada budidaya udang galah karena berdampak pada penurunan produktivitas budidayanya. Seleksi secara simultan pada karakter panjang standar (PS) dan level maturasi (LM) calon induk udang galah betina telah dilakukan dengan tujuan mendapatkan udang galah generasi ketiga (G-3) dengan performa tumbuh cepat dan maturasi lambat. Evaluasi performa benih populasi seleksi (PSL) dan kontrol (PKT), dilakukan pada tiga fase budidaya udang galah, yaitu fase pemeliharaan larva, pendederan, dan pembesaran. Fase pembenihan diperoleh indeks perkembangan larva (IPL) dan kelangsungan hidup (KH) yang lebih baik pada populasi PSL (9,63 ± 0,91 dan 59,43 ± 9,2%), dibandingkan pada PKT (8,73 ± 0,72 dan 39,64 ± 8,4%). Fase pendederan diperoleh PS, bobot badan (BB) dan KH sebesar 19,98 ± 2,95 mm; 0,22 ± 0,10 g; dan 87,27 ± 6,70% untuk PSL, lebih baik dibandingkan pada PKT; (18,70 ± 2,72 mm; 0,20 ± 0,09 g; dan 74,55 ± 5,4%). Fase pembesaran, PSL juga menunjukkan keunggulan, dengan PS, BB, dan KH sebesar 68,65 ± 8,11 mm; 15,82 ± 5,67 g; dan 70,5 ± 1,33% lebih tinggi dibandingkan PKT; 66,97 ± 9,72 mm dan 14,73 ± 6,86 g; dan 62,8 ± 18,44%. Level maturitas induk betina pada PSL juga lebih rendah (1,45 ± 0,77) dibandingkan pada PKT (1,52 ± 0,94). Data yang diperoleh menunjukkan bahwa seleksi individu secara simultan pada karakter PS dan LM efektif meningkatkan performa pertumbuhan dan produktivitas udang galah.Slow growth and early maturation are serious challenges in the giant freshwater prawn (GFP) farming. The simultaneous selection based on standard length (SL) and maturation level (ML) characters of the female giant prawns was carried out to produce the GFP strain (3th generation) which had higher productivity. The evaluation of the selection seed (PSL) and the control (PKT) populations was carried out in three phases of the GFP farming, namely the hatchery phase (larval rearing), the nursery, and the grow-out. In the hatchery phase, the larval development index and survival (SR) of the PSL were higher (9.63 ± 0.91 and 59.43 ± 9.2%) than that of the PKT (73 ± 0.72 and 39.64 ± 8.4%). In the nursery phase, PS, body weight (BW) and SR of the PSL were 19.98 ± 2.95 mm; 0.22 ± 0.10 g; 87.27 ± 6.70%. They were higher than that of the PKT, there were 18.70 ± 2.72 mm; 0.22 ± 0.09 g; and 74.55 ± 5.4%. In the grow-out phase, the performance of the PSL on PS, BW, and SR were also better, 68.65 ± 8.11 mm; 15.82 ± 5.67 g; 70.5 ± 1.33% than that of PKT, 66.97 ± 9.72 mm and 14.73 ± 6.86 g; 62.8 ± 18.44%. The maturity level of female prawns in PSL was also lower (1.45 ± 0.77) than that of PKT (1.52 ± 0.94). Based on these data, it can be concluded that simultaneous individual selection on PS and ML characters is effective to improve the growth performance and productivity of the GFP
- …
