15,564 research outputs found
PENGARUH PEMBERIAN GA 3 PADA BERBAGAI KONSENTRASI DAN LAMA IMBIBISI TERHADAP PENINGKATAN VIABILITAS BENIH PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.)
ABSTRAKPurwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) merupakan tanaman herbatahunan dari famili Apiaceae, yang hidup secara endemik pada habitatdengan ketinggian 1.800 - 3.000 m dari muka laut, dan pada saat initergolong tanaman langka. Salah satu permasalahan dalam pengembangantanaman ini adalah viabilitas benih saat masak fisiologis rendah (<25%).Berdasarkan hal tersebut telah dilakukan percobaan yang bertujuan untukmengetahui tingkat konsentrasi GA 3 dan lama imbibisi yang tepat untukmeningkatkan viabilitas potensial dan vigor benih purwoceng. Percobaandilaksanakan di Laboratorium Ekofisiologi, Balai Penelitian TanamanObat dan Aromatik, Bogor mulai bulan November sampai denganDesember 2009. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancanganacak lengkap (RAL), dengan 2 faktor dan tiga ulangan. Faktor pertamaadalah enam taraf pemberian GA 3 , yaitu: 0, 100, 200, 300, 400, dan 500ppm. Faktor kedua yang diuji dua taraf lama imbibisi benih yaitu: 24 dan48 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pemberian GA 3 400 ppmdengan lama imbibisi 48 jam dapat meningkatkan daya berkecambah,potensi tumbuh maksimum, indeks vigor, dan kecepatan perkecambahanbenih purwoceng menjadi 1,5 - 2 kali dibandingkan tanpa pemberian GA 3.Kata kunci: Pimpinella pruatjan, benih, GA 3 , imbibisi, konsentrasiABSTRACTEffect of GA 3 Concentration and Imbibition Period onSeed Viability of PruatjanPimpinella pruatjan Molk. is an annual herbaceous plant andbelongs to the family of the Apiaceae. It lives in endemic with an altitudeof 1,800-3,000 m above sea level and has been currently classified as rareplant. One of the problems in the development of this crop is low in seedviability (<25%) when it is physiologically mature. Based on the problem,an experiment was conducted aiming to find out the level of GA 3concentration and imbibition period to increase seed viability and vigourof P. pruatjan. The experiment was conducted at Gunung PutriExperimental Station and Plant Physiology Laboratory of the IndonesianMedicinal and Aromatic Crops Research Institute (IMACRI), fromNovember to December 2009. The experiment was arranged usingcompletely randomized design (CRD), with 2 factors and three replicates.The first factor was level of GA 3 concentration : 0, 100, 200, 300, 400, and500 ppm. The second factor was seed imbibition period : 24 and 48 hours.Results of the experiment showed that: GA 3 400 ppm with imbibitionperiod of 48 hours improved seed germination, maximum growthpotential, vigor index, and rate of germination of purwoceng seed to 1.5- 2 times compared to without GA 3 treatment.Key words: Pimpinella pruatjan, seed , GA 3 , imbibition, concentratio
INVENTARISASI DAN ASPEK BIOLOGI SERANGGA YANG BERASOSIASI DENGAN TANAMAN SAMBILOTO (Andrographis paniculata (Burm F.) Ness)
Tanaman sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. F.) Ness) merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang banyak khasiatnya. Di lapangan tanaman ini diketahui terserang oleh serangga hama. Tujuan pene-litian untuk mengetahui jenis dan aspek biologi serangga yang berasosiasi dengan tanaman sambiloto. Penelitian dilakukan di Kebun Per-cobaan (KP) Cimanggu, Bogor, KP Cicurug, Sukabumi, rumah kaca dan laboratorium Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik sejak April 2005 sampai Januari 2006. Parameter yang diamati ialah populasi serangga, persen-tase tanaman terserang, lama tiap stadia, masa peletakan telur dan banyaknya telur yang di-hasilkan oleh seekor imago. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangga yang menyerang tanaman sambiloto di KP Cimanggu, Bogor dan KP Cicurug, Sukabumi ada 11 jenis yang terdiri dari 4 ordo yaitu Homoptera, Hemiptera, Lepidoptera dan Orthoptera. Diantara serang-ga-serangga tersebut yang berpotensi penyebab kerusakan ialah kutu tempurung (Parasaissetia nigra) (Homoptera: Coccidae) dan kepik (Hemiptera: Pachygrontidae). P. nigra dapat berkembang dan menyelesaikan hidupnya pada tanaman sambiloto. Lama hidup kutu ini dari telur sampai imago berkisar antara 64 – 141 hari dan banyaknya telur yang dihasilkan oleh seekor imago berkisar antara 14 – 258 butir. Selain serangga yang merugikan juga ditemu-kan serangga yang berperan sebagai musuh alami. P. nigra mempunyai musuh alami berupa parasitoid yaitu Coccophagus n r bogoriensis dari famili Encyrtidae, ordo Hymenoptera
ANALISIS PENDAPATAN DAN DAYA SAING USAHATANI AKAR WANGI DI KABUPATEN GARUT
Penelitian mengenai analisis penda-patan usahatani dan daya saing pengolahan minyak akar wangi telah dilakukan di Garut sejak Juli sampai dengan Agustus 2007. Tujuan penelitian untuk mengetahui pendapatan petani akar wangi, keunggulan komparatif dan kom-petitifnya di pasar internasional. Penelitian menggunakan metode survey. Untuk meng-analisis keunggulan komparatif digunakan har-ga bayangan (pseudo price), sedangkan untuk menganalisis keunggulan komparatif diguna-kan harga aktual yang terjadi. Data dianalisis dengan analisis input - output, benefit cost ratio dan analisis biaya sumber daya domestik (BSD) atau domestic resource cost (DRC). Di-tentukan dua desa sentra tanaman dan sentra industri penyulingan minyak akar wangi yaitu di desa Sukamukti dan Sukakarya. Hasil yang diperoleh adalah keuntungan bersih di desa Sukamukti Rp 12.417.500,-/ha/tahun dan Rp 11.047.500,-/ha/tahun bila ditanam secara monokultur dengan B/C ratio 1,8. Hasil analisis BSD menunjukkan bahwa industri pengolah minyak akar wangi di desa Sukamukti dan Sukakarya mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif. Data tersebut menunjukkan bahwa industri penyulingan minyak akar wangi yang produknya ditujukan untuk eskspor mem-butuhkan biaya sumberdaya domestik lebih ke-cil dibandingkan dengan harga ekspornya. BSD yang diperlukan untuk menghasilkan devisa negara sebesar 1 US dolar dibutuhkan sumber-daya dalam negeri sebesar Rp 6.257,77 di desa Sukamukti dan Rp 7.616,36 di desa Sukakarya. Koefisien biaya sumberdaya domestik (KBSD) kurang dari 1, yaitu sebesar 0,6987 untuk desa Sukamukti dan 0,8344 untuk desa Sukakarya.
KAJIAN EKONOMI BUDIDAYA ORGANIK DAN KONVENSIONAL PADA 3 NOMOR HARAPAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorhiza Roxb)
Semua varietas tanaman mempunyai spesifik karakter terhadap adaptasi lingkungan tumbuh dan input yang diberikan dan akan ber-pengaruh terhadap produksi serta pendapatan usahatani. Tujuan penelitian ini mengkaji nilai ekonomi budidaya organik dan konvensional dari tiga nomor harapan temulawak. Informasi ini diharapkan akan menjadi acuan dalam pe-ngembangan budidaya temulawak. Percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi dan diulang 4 kali. Petak utama terdiri dari dua pa-ket pemupukan; 1) budidaya organik dan 2) bu-didaya konvensional. Sedangkan anak petak terdiri dari 3 nomor harapan temulawak yaitu, Balittro 1, Balittro 2, dan Balittro 3. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP) Suka-mulya, sejak Agustus 2005 sampai Oktober 2006. Ukuran petak percobaan 30 m2, dengan jarak tanam 75 cm x 50 cm dan setiap petak terdapat 80 tanaman. Paket budidaya organik terdiri dari; bokashi 10 t/ha, pupuk bio 90 kg/ ha, zeolit 300 kg/ha, dan pupuk fosfat alam 300 kg/ha, sedangkan paket budidaya konvensio-nal; pupuk kandang kotoran sapi 20 t/ha, urea 200 kg/ha, SP-36 200 kg/ha, KCl 200 kg/ha. Data yang dikumpulkan adalah input-output dari setiap paket percobaan, data dianalisis se-cara deskriptif dan kelayakan usahatani. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Produksi rimpang segar dan simplisia temulawak pada budidaya konvensional lebih tinggi dibandingkan dengan produksi budidaya organik. (2) Produktivitas temulawak budidaya organik 15,20 – 17,83 ton/ha, produksi tertinggi pada nomor harapan Balittro 3 (17,83 ton/ha rimpang dan 3,57 ton/ ha simplisia). Produksi rimpang segar dan sim-plisia temulawak pada budidaya konvensional masing-masing berkisar 19,64 – 22,31 ton/ha dan 3,93 – 4,46 ton/ha, produksi tertinggi dica-pai nomor harapan Balittro 2. (3) pada harga jual Rp 1.500,-/kg rimpang, budidaya organik tidak layak diusahakan pada semua nomor ha-rapan temulawak Balittro 1, 2, dan 3. (4) Har-ga pokok temulawak budidaya organik adalah Rp 1.726,-/kg untuk rimpang, Rp 19.805,-/kg untuk simplisia, dan Rp 163.179,-/kg untuk ekstrak. Sedangkan pada budidaya konvensio-nal, harga pokok Rp 1.471,-/kg untuk rim-pang, Rp 18.531,-/kg simplisia, dan Rp 155.046,-/kg ekstrak, (5) dengan harga jual Rp 1.500,-/kg rimpang, budidaya konvensio-nal pada nomor harapan Balittro 2 dan 3, la-yak diusahakan, dengan pendapatan bersih per 1.000 m2 lahan masing-masing Rp 228.750,- dan 78.750,- dengan B/C rasio 1,073 dan 1,026, (6) bila diproduksi dalam bentuk sim-plisia dan ekstrak dengan harga jual Rp 20.000,-/kg dan Rp 174.000,-/kg budidaya or-ganik nomor harapan Balittro 1 dan 2, serta budidaya konvensional nomor harapan Balit-tro 1, 2, dan3 layak diusahakan. Pendapatan tertinggi dari budidaya konvensional nomor harapan Balittro 2 dengan pendapatan bersih per 1.000 m2 lahan sebesar Rp 819.965,- dan B/C rasio 1,101 untuk simplisia dan Rp 2.747.516,- dan B/C rasio 1,226 untuk rim-pang.
Ga-doped 3D ordered porous SnO<sub>2</sub> with an ultrasmall pore size for enhanced formaldehyde sensitivity
Pure and Ga-doped 3 D ordered porous SnO2 (3DOPS) and SnO2 nanoparticles (NPs) were prepared. The 3DOPS/3% Ga-based sensor exhibits an improved response (61/50 ppm) to formaldehyde (HCHO), and the response is 3 times higher than pure 3DOPS (21/50 ppm) at low temperature (220 °C). However, the response of SnO2 NPs/3% Ga (10/50 ppm) is only 1.25 times that of the pure SnO2 NPs (8/50 ppm). Regardless of the SnO2 morphology, doping with Ga can improve its response. However, after the 3 D ordered porous structure of SnO2 doped with Ga element, its response is improved more obviously than that of the particle structure of SnO2. This may be attributed to the combined effect of the construction of the three-dimensional ordered porous structure and the doping elements. A well-organized 3D ordered porous SnO2 nanostructure with an ultrasmall pore size (about 55 nm)</p
PENINGKATAN VIABILITAS BENIH JINTAN HITAM (Nigella sativa) DENGAN HIDROPRIMING DAN PEMBERIAN ASAM GIBERELAT
Perkecambahan adalah suatu tahap kritis pada siklus hidup tanaman. Perbaikan toleransi pada tahap perkecambahan dapat meningkatkan stabilitas pertumbuhan dan produksi tanaman. Upaya untuk menekan pengaruh cekaman dapat dilakukan dengan teknik priming dan penambahan asam giberelat (GA). Sebagai tanaman introduksi, jintan hitam akan menghadapi banyak kendala dalam budidaya khususnya dari faktor lingkungan abiotik seperti iklim. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perlakuan hidropriming dan penambahan GA3 terhadap viabilitas benih jintan hitam. Penelitian dilaksanakan sejak November sampai Desember 2015 di Laboratorium Seed Storage & Seed Quality Testing, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB. Bahan yang digunakan adalah benih jintan hitam aksesi Kuwait dan India. Rancangan penelitian yang digunakan Acak Kelompok Faktorial dengan tiga faktor yakni aksesi (India dan Kuwait), waktu hidropriming (0, 12, dan 24 jam) dan aplikasi GA3 (dengan dan tanpa GA3), tiga ulangan dengan 25 butir benih setiap satuan percobaan. Peubah yang diamati adalah daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, panjang kecambah, panjang radikel, bobot basah kecambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi GA3 akan efektif jika didahului dengan perlakuan hidropriming. Perlakuan hidropriming 12 jam yang diikuti aplikasi GA3 meningkatkan viabilitas benih jintan hitam aksesi Kuwait dan India melalui peningkatan daya berkecambah (27,00 dan 22,80%), panjang radikel (55,50 dan 60,20%), kecepatan tumbuh (36,00 dan 27,60%), dan indeks vigor (27,00 dan 22,80%)
PENGARUH PENYEMPROTAN BORON DAN GA 3 PADA PERTUMBUHAN, PRODUKSI, DAN MUTU BENIH KEDELAI (Glycine max [L.] Merrill)
Produksi kedelai di Indonesia masih rendah. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai adalah melalui pemupukan unsur hara mikro boron dan pemberian hormon giberelin GA 3 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyemprotan kombinasi konsentrasi boron dan GA 3 pada pertumbuhan, produksi, dan mutu benih kedelai. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari April sampai dengan September 2015. Perlakuan
disusun dalam rancangan perlakuan faktor tunggal tidak terstruktur yaitu kombinasi boron dan GA 3 . Perlakuan terdiri dari kombinasi konsentrasi boron dan GA 3 (0 + 0) ppm, (5 + 20) ppm, (5 + 40) ppm, (5 + 60) ppm, (5 + 80) ppm, (5 + 100) ppm, (10 + 20) ppm, (10 + 40) ppm, (10 + 60) ppm, (10 + 80) ppm, dan (10 + 100) ppm. Perlakuan diulang sebanyak delapan kali. Perbedaan antarkombinasi perlakuan diketahui dengan menggunakan standar deviasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemberian kombinasi konsentrasi boron dan GA 3 (10 + 60) ppm dapat meningkatkan cenderung tinggi pada persen perkecambahan, kecepatan perkecambahan, potensi tumbuh maksimum, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, jumlah daun trifoliat, jumlah polong total, jumlah polong isi, dan bobot biji. Pemberian kombinasi konsentrasi boron dan GA 3 (5 + 60) ppm dapat meningkatkan cenderung tinggi pada persen perkecambahan, bobot kering kecambah normal, potensi tumbuh maksimum, dan bobot kering berangkasan. Pemberian kombinasi konsentrasi boron dan GA 3 (10 + 100) ppm mendominasi pada variabel pertumbuhan vegetatif kedelai
ANALISIS PENGGUNAAN WAKE GA NAI DAN HAZU GA NAI DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG
Karya tulis ini dibuat dikarenakan adanya kesamaan arti dari dua kalimat dalam bahasa jepang yaitu wake ga nai dan hazu ga nai yang mempunyai arti ketidak mungkinan. Wake ga nai dan hazu ga nai mengungkapkan bahwa sesuatu yang terjadi itu mustahil, tetapi jika dilihat dari asalnya, wake ga nai dan hazu ga nai berasal dari keishiki meishi ‘wake’ yang mempunyai arti alasan dan ‘hazu’ yang mempunyai arti seharusnya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan jenisnya adalah penelitian perpustakaan. Dengan adanya karya tulis ini diharapkan pembelajar bahasa jepang memahami kalimat wake ga nai dan hazu ga nai dalam bahasa Jepang.;---This paper is made due to the similarity of the meaning of two sentences in Japanese language that is wake ga nai and hazu ga nai which has meaning impossible. Wake ga nai and hazu ga nai express that something that happened is impossible, but if seen from its origin, wake ga nai and hazu ga nai come from keishiki meishi wake which has meaning reason and hazu which has meaning should. The research method used is descriptive research and the type is library research. With this paper, writer expect japanese learners is able to understand the sentence wake ga nai and hazu ga nai in Japanese
GA-Fuzzy PID control simulation waveform diagram.
As is well known, the metal annealing process has the characteristics of heat concentration and rapid heating. Traditional vacuum annealing furnaces use PID control method, which has problems such as high temperature fluctuation, large overshoot, and long response time during the heating and heating process. Based on this situation, some domestic scholars have adopted fuzzy PID control algorithm in the temperature control of vacuum annealing furnaces. Due to the fact that fuzzy rules are formulated through a large amount of on-site temperature data and experience summary, there is a certain degree of subjectivity, which cannot ensure that each rule is optimal. In response to this drawback, the author combined the technical parameters of vacuum annealing furnace equipment, The fuzzy PID temperature control of the vacuum annealing furnace is optimized using genetic algorithm. Through simulation and comparative analysis, it is concluded that the design of the fuzzy PID vacuum annealing furnace temperature control system based on GA optimization is superior to fuzzy PID and traditional PID control in terms of temperature accuracy, rise time, and overshoot control. Finally, it was verified through offline experiments that the fuzzy PID temperature control system based on GA optimization meets the annealing temperature requirements of metal workpieces and can be applied to the temperature control system of vacuum annealing furnaces.</div
EFEKTIVITAS SERAI WANGI TERHADAP HAMA PENGISAP BUAH KAKAO HELOPELTIS ANTONII
Efektifitas serai wangi (Cymbopogon nar-dus) terhadap hama pengisap buah kakao Helopeltis antonii (Hemiptera;Miridae), te-lah dilakukan di Laboratorium KP. Laing Solok Sumatera Barat, sejak Juni sampai Desember 2008. Percobaan bertujuan un-tuk melihat pengaruh rajangan daun, se-nyawa volatile minyak serai wangi dan fraksi minyak serai wangi (sitronella) ter-hadap hama pengisap buah kakao. Perco-baan disusun dalam bentuk rancangan acak lengkap 12 perlakuan dengan 3 ulangan, perlakuan tersebut adalah rajang-an daun serai wangi (15, 25, dan 50 g)/ta-bung, minyak serai wangi dan fraksi sitro-nellal (0,10, 0,20, 0,30, dan 0,50 ml)/ta-bung. Selain itu efektifitas minyak serai wangi dan fraksi sitronellal juga diuji ter-hadap hama H. antonii dengan cara sem-prot. Percobaan disusun dalam bentuk acak lengkap 9 perlakuan dengan 3 ulang-an, konsentrasi yang diuji adalah (500, 1.000, 2.000 dan 4.000 ppm). Hasil pene-litian menunjukkan bahwa rajangan daun serai wangi 50 g/tabung memperlihatkan sifat menolak (repelen) terhadap serang-ga H. antonii dengan persentase rendah yaitu 53,33%, demikian juga pengaruh dari minyak serai wangi dan fraksi sitro-nellal pada dosis 0,1 ml/tabung, dengan persentase penolakan berkisar antara 53,33-73,33%. Pada dosis 0,30 ml/tabung pestisida nabati serai wangi bersifat mem-bunuh (insektisida), dengan persentase kematian serangga H. antonii 76,67% (mi-nyak serai wangi) dan 80% (fraksi sitro-nella). Penyemprotan minyak serai wangi dan fraksi sitronellal pada konsentrasi 2.000 ppm mampu membunuh serangga H. antonii 91,62%, sedangkan pada kon-sentrasi 4.000 ppm mencapai 100%
- …
