81 research outputs found

    Strategi Pengelolaan Organisasi Cicilia Ballet School Di Jakarta Barat

    No full text
    Cicilia Ballet School adalah organisasi seni tari yang secara khusus mengelola tari ballet. Organisasi tari ballet ini didirikan pada tahun 1982 oleh Ade Setiowibowo di Jakarta. Ia murid lulusan Sumber Cipta yang memang mempunyai cita-cita untuk memiliki sanggar balet. Kurikulum di sanggar ini menggunakan kurikulum Australian Teaching of Dancing (ATOD) dan Vaganova. Australian Teaching of Dancing (ATOD) merupakan sistem pembelajaran yang digunakan oleh para pengajar dengan pendekatan anatomi untuk mejelaskan suatu bentuk agar bisa terbayangkan oleh murid-murid. Vaganova merupakan sistem pembelajaran secara teoritis mengenai suatu pertunjukkan ballet. Dalam perkembangannya Cicilia Ballet School mempunyai beberapa cabang sanggar di beberapa tempat, yaitu Tangerang, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Bekasi, Depok dan Kemang. Selama 35 tahun sanggar tari Cicilia Ballet School telah melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai organisasi seni, terutama di bidang pendidikan dan pertunjukan tari ballet. Metode penelitian ini bersifat kualitatif dan berbentuk deskriptif-analisis. Deskriptif analisis adalah mendeskripsikan, membuat secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta objek yang diteliti. Pendekatan yang digunakan menggunakan pendekatan manajemen yang didalamnya terdapat proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar dapat mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Fungsi manajemen menurut George Tery R ada empat (4), yaitu planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (tindakan), dan controlling (pengawasan). Cicilia Ballet School dalam mempraktekan fungsi manajemen menggunakan yang sudah disederhanakan, yaitu POAC (planning, organizing, actuating, controlling). Cicilia Ballet School dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen (POAC) tentu banyak rintangan yang dihadapi, tetapi tetap bisa mempertahankan kondisi dan situasi yang dihadapi oleh Cicilia Ballet School. Untuk mempertahankan kondisi seperti ini dibutuhkan metode yang digunakan secara luas untuk mengetahui situasi dan kondisi yang dihadapi oleh organisasi, baik di dalam maupun luar organisasi, melalui analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Hasil dari analisis ini akan mengetahui kekuatan dan kelemahan Cicilia Ballet School. Hasilnya Cicilia Ballet School lebih tinggi presentase kekuatannya dalam mengorganisasi suatu sekolah

    Strategi Pengelolaan Organisasi Cicilia Ballet School Di Jakarta Barat

    No full text
    Cicilia Ballet School adalah organisasi seni tari yang secara khusus mengelola tari ballet. Organisasi tari ballet ini didirikan pada tahun 1982 oleh Ade Setiowibowo di Jakarta. Ia murid lulusan Sumber Cipta yang memang mempunyai cita-cita untuk memiliki sanggar balet. Kurikulum di sanggar ini menggunakan kurikulum Australian Teaching of Dancing (ATOD) dan Vaganova. Australian Teaching of Dancing (ATOD) merupakan sistem pembelajaran yang digunakan oleh para pengajar dengan pendekatan anatomi untuk mejelaskan suatu bentuk agar bisa terbayangkan oleh murid-murid. Vaganova merupakan sistem pembelajaran secara teoritis mengenai suatu pertunjukkan ballet. Dalam perkembangannya Cicilia Ballet School mempunyai beberapa cabang sanggar di beberapa tempat, yaitu Tangerang, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Bekasi, Depok dan Kemang. Selama 35 tahun sanggar tari Cicilia Ballet School telah melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai organisasi seni, terutama di bidang pendidikan dan pertunjukan tari ballet. Metode penelitian ini bersifat kualitatif dan berbentuk deskriptif-analisis. Deskriptif analisis adalah mendeskripsikan, membuat secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta objek yang diteliti. Pendekatan yang digunakan menggunakan pendekatan manajemen yang didalamnya terdapat proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar dapat mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Fungsi manajemen menurut George Tery R ada empat (4), yaitu planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (tindakan), dan controlling (pengawasan). Cicilia Ballet School dalam mempraktekan fungsi manajemen menggunakan yang sudah disederhanakan, yaitu POAC (planning, organizing, actuating, controlling). Cicilia Ballet School dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen (POAC) tentu banyak rintangan yang dihadapi, tetapi tetap bisa mempertahankan kondisi dan situasi yang dihadapi oleh Cicilia Ballet School. Untuk mempertahankan kondisi seperti ini dibutuhkan metode yang digunakan secara luas untuk mengetahui situasi dan kondisi yang dihadapi oleh organisasi, baik di dalam maupun luar organisasi, melalui analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Hasil dari analisis ini akan mengetahui kekuatan dan kelemahan Cicilia Ballet School. Hasilnya Cicilia Ballet School lebih tinggi presentase kekuatannya dalam mengorganisasi suatu sekolah

    Gemox in combination witherlotinib (E) in pancreatic cancer (PC).

    No full text
    Context: We report a case of clinical benefit and metabolic response to GEMOX and E. Case report: In November 2007 a 48-year-old woman was admitted to the our Oncology Unit for a suspected PC with a doubtful lung lesion on the basis of a CT carried out following the appearance of the abdominal pain and alteration of CA19.9 (1719 U/mL). A biopsy of pancreatic lesion documented an infiltrating pancreatic ductal adenocarcinoma. In December patient underwent exploratory laparotomy but due to the infiltration of the main vascular structures only a diagnostic laparotomy was possible. The clinical conditions were compromised (ECOG 2). CA19.9 was 21.890 U/mL. The patient started on a chemotherapy (CHT) with gemcitabine 1000 mg/m2/d1 and oxaliplatin 100 mg/m2/d2 every 2 weeks (GEMOX). After 3 cycles of CHT a CT showed a reduction in size of the pancreatic lesion (4.4 x 3.3 cm to 2.8 x 2.6 cm), a doubtful liver lesion, a stable lung lesion and multiple bone thickening lesions. CA19.9 was 8,942 U/mL. In February a PET showed a hyperfixation of tracer in pancreatic head, left lung and at the level of multiple segments of bone compatible with secondary lesions. The clinical conditions worsened. Therefore patient started on GEMOX combined with E 100 mg daily and also Zoledronic acid. After 6 cycles of CHT, a CT showed an important reduction of the lung lesion, compatible with a primary neoplasm; the bone lesions were stable and the pancreatic lesion was further reduced. A subsequent PET showed a minimal residual disease at the bone level only. The clinical conditions improved significantly (ECOG 0). CA 19.9 was 1382 U/mL. Conclusion: This is the first case reported in literature in which was used the combination of GEMOX and E

    Metastatic pancreatic cancer: is gemcitabine still the best standard treatment?

    No full text
    Pancreatic ductal adenocarcinoma is the fourth cause of death in the Western world. Surgery remains the only treatment offering an advantage in terms of overall survival (5-year survival range, 15-25%), but unfortunately only 10-20% of patients present resectable disease at the time of diagnosis. Hence chemotherapy, possibly combined with radiation therapy, remains the only treatment option aimed at palliation of symptoms and ensuring a better quality of life. Notwithstanding the efforts to find more effective therapies for the treatment of pancreatic cancer, significant results have not yet been achieved. Increasing interest has focused on integrated treatments, i.e. chemotherapy combined with targeted therapies, and a better selection of patients. This study examines the principal clinical trials that will help give clinicians an overview of the progress made in the systemic therapy for advanced pancreatic cancer patients in recent years

    TO WIDEN THE SETTING OF CANCER PATIENTS WHO BENEFIT FROM METRONOMIC CAPECITABINE

    No full text
    PURPOSE: We investigated the efficacy and toxicity of metronomic capecitabine administered at a fixed dose of 1,000 mg daily in three elderly or poor performance status patients with advanced colorectal cancer (CRC) and gastric cancer. METHODS: In this study a pretreated advanced CRC patient (patient 1), a not previously treated advanced gastric cancer patient (patient 2), and a not previously treated advanced rectal cancer patient (patient 3) were given metronomic capecitabine administered at a fixed dose of 1,000 mg daily (day 1-28 continuously). The efficacy was evaluated every 3 months by instrumental evaluation and the treatment was continued until progression of disease or toxicity. RESULTS: A stable disease was observed in all three patients. The duration of treatment was above 3 months and no major toxicities occurred. CONCLUSIONS: Our results indicate that metronomic capecitabine may be considered a safe and valid treatment option for advanced CRC and gastric cancer patients, both after failure of previous lines of chemotherapy or in front-line when standard chemotherapy is contraindicated, especially when the aim of medical treatment is to achieve disease control and to arrest tumour growth without affecting the patient's quality of life. Nevertheless, further clinical studies, as well as a greater clinical experience are required in order to better define the role of this strategy in medical oncology
    corecore