1,720,989 research outputs found
PERFORMANS PERTUMBUHAN CACING TANAH (Eisenia foetida) AKIBAT PEMBERIAN INSEKTISIDA DIAZINON
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai LC50 48 jam insektisida Diazinon pada cacing tanah (Eisenia foetida) dan pengaruhnya terhadap performans pertumbuhan cacing tanah (Eisenia foetida). Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap penelitian: tahap pertama merupakan penelitian untuk mendapatkan LC50 48 jam dan tahap kedua adalah penelitian uji toksisitas sublethal yang menggunakan metode eksperimen rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 konsentrasi perlakuan yaitu 0,05 ppm, 0,25 ppm, 1,25 ppm, 6,25 ppm, dan 31,25 ppm. Data dianalisis dengan menggunakan one way anova dan dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian ini adalah pada uji pendahuluan didapatkan LC50 48 jam yaitu 1,18 ppm. Pada semua konsentrasi yang digunakan untuk uji toksisitas sublethal didapatkan hasil bahwa insektisida Diazinon dengan nilai signifikansi P0,05 berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot tubuh cacing, dan pertambahan panjang tubuh cacing. Pemaparan insektisida ini juga menyebabkan perubahan morfologi seperti warna tubuh cacing menjadi pucat dan mengalami perubahan perilaku menjadi lebih sensitif ketika disentuh.Kata kunci: Diazinon, Eisenia foetida, insektisida, LC50, pertumbuhan
DINAMIKA SUMBER-SUMBER KEKUASAAN DALAM PEMILIHAN KEPALA DESA: DARI MITOS MENUJU PERTUKARAN SOSIAL
Village head elections in Indonesia have a long history, compared to regional head elections. The purpose of this study is to describe the use of sources of power by candidates in village head elections in Sumberarum Village from time to time. The research method is a longitudinal method with a research period starting from the 1999 Pilkades to 2019. Data were collected through documentation studies, in-depth interviews, and observations. The research periodization focused on the leadership period of the Kromo Baru lineage, the end of the Kromo Baru lineage oligarchy, and the election of the Sumberarum village head from outside the Sambong lineage. The results of the study show that the survival of village heads from the Kromo Baru lineage for more than 1 century is due to the existence of myths that were developed to maintain power at the village level. The survival of the Kromo Baru lineage dynasty in leadership in Sumberarum Village is due to genealogical, cultural and sociological factors. Genealogical factors, the Sumberarum village head was led by Kromo Baru (1902) to Muniroh (2013-2019) who were one relative. Cultural factors can be observed from the development of myths and the sacralization of heirlooms, such as ageman, keris, thontongan, and kimo gelung mbah Kromo Baru which are considered as a means of maintaining power. In addition to the sacralization of heirlooms, descendants of the Kromo Baru lineage who participate in the village head election also use 'smart people' or shamans. The collapse of the power of the Kromo Baru lineage was due to the failure and weakness of the female village head, the great-granddaughter-in-law of the Kromo Baru lineage, namely Muniroh. The emergence of the Sumberarum village head from outside the Kromo Baru lineage, marks the use of sources of power that no longer rely on myths that have developed for more than 1 century, but also use material sources of power. The use of material sources such as providing basic necessities, money, t-shirts, and money, marks a shift in voter behavior that is more rational and transactional
Rekonstruksi Kebijakan Sanksi Pidana Tindak Pidana Kecelakaan Lalu Lintas Berdasarkan Nilai-Nilai Keadilan Pancasila
Penelitian ini bertujuan mengungkap dan menganalisis kebijakan sanksi
pidana tindak pidana kecelakaan lalu lintas berdasarkan hukum positif saat ini,
kelemahan- kelemahan kebijakan saksi pidana tindak pidana kecelakaan lalu
lintas saat ini dan merekontruksi kebijakan sanksi pidana tindak pidana
kecelakaan lalu lintas yang berdasarkan nilai- nilai keadilan Pancasila.
Beberapa teori yang terangkum dalam kerangka pemikiran penelitian
yaitu “Teori-Teori Pemidanaan”, meliputi teori absolut, teori relatif, teori
gabungan dan teori kontemporer.
Metode pendekatan yang digunakan yuridis sosiologis dengan metode
kualitatif untuk melihat secara langsung fakta- fakta yang ada di lapangan dalam
kaitannya dengan hukum yang hidup di masyarakat berperan menyelesaikan
tindak pidana kecelakaan lalu lintas.
Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa : (1) Kebijakan sanksi
pidana tindak pidana kecelakaan lalu lintas diatur dalam Pasal 310, 311 dan 312
UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya jo
Peraturan Kapolri ( Perkap) Nomor 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penanganan
Kecelakaan Lalu Lintas; (2) Kelemahan - kelemahan kebijakan sanksi pidana
kecelakaan lalu lintas saat ini yang mengacu UULAJR yaitu tidak ada pedoman
pemidanaan untuk denda yang tidak dibayar baik kesengajaan atau kelalaian, sulit
untuk melacak pelaku dalam perkara tabrak lari dan belum ada belum ada
kwalifikasi yuridis; dalam penegakan hukum banyak menggunakan Restorative
Justice; ada aparat penegak hukum dengan sumber daya manusia tidak
profesional, bermental buruk; serta partisipasi masyarakat yang tidak tertib;
(3) Rekontruksi kebijakan sanki pidana tindak pidana kecelakaan lalu lintas
berdasarkan nilai- nilai keadilan Pancasila, meliputi kebijakan sanksi pidana
tindak pidana kecelakaan lalu lintas dalam sistem peradilan pidana dengan
merekontruksi Pasal 310, 311 dan 312 UULAJR dengan mengganti sanksi pidana
denda menjadi ganti kerugian dan adanya nilai- nilai Pancasila dengan ide
keseimbangan antara pelaku dan korban sebagai wujud kepastian hukum, manfaat
dan keadilan dengan memberikan perlindungan kepada korban.
Kata Kunci : Rekontruksi, Kebijakan Sanksi Pidana, dan Nilai- Nilai Keadilan
Pancasil
PENGARUH EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) TERHADAP PERUBAHAN JUMLAH FOLIKEL OVARIUM TIKUS PUTIH BETINA (Rattus norvegicus, L.)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun Binahong terhadapperubahan jumlah folikel ovarium tikus putih dan mengetahui dosis paling optimal pemberian ekstrak daunBinahong terhadap perubahan jumlah folikel ovarium tikus putih.Penelitian ini merupakan penelitian ekperimendengan rancangan acak lengkap (RAL). Tikus yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus umur 2 bulandengan berat badan 150 gram sebanyak 20 ekor. Dosis yang digunakan pada penelitian ini adalah 0 mg/Kg BB,17,1 mg/Kg BB, 21,37 mg/Kg BB, dan 25,65 mg/Kg BB. Ekstrak daun Binahong diberikan secara oral selama 21hari. Data dianalisis menggunakan One Way Anova untuk mengetahui adanya pengaruh terhadap perubahan jumlahfolikel ovarium. Dilanjutkan Uji LSD (Least Signifikasinificant Difference) untuk mengetahui perbedaan antarperlakuan. Hasil penilitian pengaruh ekstrak daun Binahong (Anredera cordifolia) terhadap perubahan jumlahfolikel ovarium tikus putih (Rattus norvegicus) dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun Binahong tidakberpengaruh pada jenis folikel primer, sekunder, de Graff dan korpus luteum, sedangkan pada folikel tersier danfolikel atresia memberikan pengaruh secara signifikasinifikan. Pemberian dosis 25,65 mg/Kg BB merupakanpemberian dosis terbaik dalam mempengaruhi perubahan jumlah folikel tersier dan folikel atresia.Kata kunci: Ekstrak, Binahong, folikel, Tikus, betina
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KOKON CACING TANAH (Eisenia Foetida) AKIBAT PAPARAN INSEKTISIDA BERBAHAN AKTIF SIPERMETRIN
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh insektisida berbahan aktif Sipermetrin terhadap: (1) biomassa Cacing Tanah (Eisenia foetida) (2) produksi kokon Cacing Tanah (Eisenia foetida). Tahapan pertama yaitu uji pendahuluan untuk mendapatkan nilai konsentrasi sublethalnya. Konsentrasi sublethal yang didapatkan dari uji pendahuluan sebesar 19,31 ppm; 37,29 ppm; 72,01 ppm; 139,06 ppm; dan 268,54 ppm. Pada tahap kedua yaitu penelitian uji sublethal untuk LC50 48 jam yang menggunakan desain eksperimental dengan metode rancangan acak lengkap (RAL). Analisis data dengan One Way Anova dan Least Significance Different (LSD) menggunakan program SPSS versi 16.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh pada dosis sub LC50 48 jam terhadap biomassa Cacing Tanah (Eisenia foetida). Dibanding dengan kontrol, pertambahan biomassa pada perlakuan insektisida Sipermetrin lebih kecil (2) terdapat pengaruh pada dosis sub LC50 48 jam terhadap jumlah kokon Cacing Tanah (Eisenia foetida). Dibanding dengan kontrol, jumlah kokon pada perlakuan insektisida Sipermetrin lebih kecil. Kata kunci: Biomassa, Eisena foetida, kokon, konsentrasi, sipermetrin The aims of this study were to determine: (1) the effect of insecticides with Cypermethrin on the biomass of Earthworms (Eisenia foetida) (2) the effect of insecticides with Cypermethrin on the number of cocoons of Earthworms (Eisenia foetida). Then proceed with the first stage, namely the preliminary test to get the value of the sublethal concentration. The sublethal concentration obtained from the preliminary test was 19.31 ppm; 37.29 ppm; 72.01 ppm; 139.06 ppm; and 268.54 ppm. The second stage is a sublethal test for 48 hours LC50 using an experimental design with a completely randomized design. The data analysis technique in this study used SPSS version 16.0 with the One Way Anova test and the Least Significance Different (LSD) Advanced Test. The results of this study showed that: (1) there was an effect of 48 hours LC50 on Earthworm (Eisenia foetida) biomass with an average difference between treatments, the addition of biomass from the Cypermethrin insecticide treatment was less than the control (2) there was an effect of 48 hours LC50 on the number of Earthworm cocoons (Eisenia foetida). The number of cocoons produced from the Cypermethrin insecticide treatment was less than the control.Keywords: Biomass, Eisena foetida, cocoon, concentration, cypermethri
PENGARUH PEMBERIAN INSEKTISIDA METOMIL TERHADAP PERTUMBUHAN CACING TANAH (Eisenia foetida)
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui nilai konsentrasi LC50-48 jam insektisida metomil terhadap cacing tanah (Eisenia foetida) dan pengaruhnya terhadap biomassa, panjang tubuh dan jumlah cacing tanah (Eisenia foetida). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL). Tahap pertama yaitu uji pendahuluan untuk menentukan LC50-48 jam dan Tahap kedua yaitu uji pengaruh pemberian insektisida metomil konsentrasi 0 ppm; 4,64 ppm; 6,89 ppm; 10,23 ppm; 15,19 ppm dan 22,55 ppm. Analisis data biomassa, panjang tubuh dan jumlah cacing tanah dengan One Way ANOVA dan uji LSD (Least Significance Different) dengan aplikasi SPSS 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai konsentrasi LC50-48 jam insektisida metomil terhadap cacing tanah (Eisenia foetida) adalah 14,03 ppm dan perlakuan pemberian insektisida metomil konsentrasi rendah dan tinggi menunjukkan hasil terdapat perbedaan jumlah cacing tanah yang signifikan dan tidak terdapat perbedaan biomassa dan panjang tubuh cacing tanah yang signifikan.Kata kunci: Eisenia foetida, insektisida, LC50, metomil, pertumbuhanThe aims of this research to find the value concentration of LC50-48 hours methomyl insecticide againts to earthworms (Eisenia foetida) and its effect on the biomass, body length and number of earthworms (Eisenia foetida) when given methomyl insecticide. This research is an experimental research with Completely Randomized Design. The first stage is a premilinary test to obtain concentrations of LC50-48 hours and second stage is a test the effect of the methomyl insecticide at concentrate 0 ppm; 4,64 ppm; 6,89 ppm; 10,23 ppm; 15,19 ppm and 22,55 ppm. Biomass, body length and number of earthworms analyzed with One Way ANOVA test and Least Significance Different (LSD Test) with SPSS 16.0 application. The results showed that the concentration value of LC50-48 hours methomyl insecticide in earthworms (Eisenia foetida) is 14,03 ppm and the treatment of methomyl insecticide at low dan high concentration showed that there was a significant difference in the number of earthworms dan there was no significant difference in biomass and body length of earthworm.Keywords: : Eisenia foetida, growth, iinsecticide, LC50, metomil
PENGARUH EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) TERHADAP JUMLAH KELENJAR DAN KETEBALAN LAPISAN ENDOMETRIUM TIKUS PUTIH BETINA (Rattus norvegicus, L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) terhadapjumlah kelenjar endometrium dan tebal lapisan endometrium tikus putih betina (Rattus norvegicus, L.). Penelitianini merupakan penelitian eksperimen dengan pola acak lengkap. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah20 ekor tikus betina berumur 2 bulan dengan berat rata-rata 150 gr. Perlakuan dibagi menjadi 4 kelompokperlakuan yaitu kontrol (tanpa pemberian ekstrak daun binahong), P1 (17,10 mg/kg BB), P2 (21,37 mg/kg BB), P3(25,65 mg/kg BB). Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah kelenjar dan ketebalan lapisanendometrium tikus putih betina. Perlakuan dilakukan selama 21 hari dengan cara oral. Data jumlah kelenjar danketebalan lapisan endometrium dianalisis menggunakan statistik One Way Anova untuk mengetahui ada tidaknyaperbedaan pengaruh antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. Apabila terdapat pengaruh nyata, makadilanjutkan dengan uji Least Significance Different (LSD) untuk membedakan antara kelompok perlakuan danantar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun binahong tidak memberikanpengaruh nyata (P0,05) terhadap jumlah kelenjar dan tebal lapisan endometrium.Kata kunci: Binahong, endometrium, kelenjar, tikus betina
PEMILIHAN KEPALA DESA DALAM PERSPEKTIF PERTUKARAN SOSIAL (STUDI KASUS PADA PEMILIHAN KEPALA DESA SUMBERARUM 2019 KECAMATAN KEREK KABUPATEN TUBAN)
The election of village heads (pilkades) is one of the manifestations of democracy in the village. Pilkades allows every eligible villager to have the right to choose who will lead their village. In practice, the 2019 Pilkades in Sumberarum cannot be separated from various forms of social exchange. The social exchange in question is the exchange between the candidate for the village head and the voters. The aims of this study were (1) to identify the type of social exchange in the Pilkades, (2) to find the elements of social exchange in the Pilkades, (2) to identify the arena of social exchange in the Pilkades, and (3) to identify patterns of social exchange in the Pilkades. This study uses a qualitative approach with case study research methods. The results showed that the social exchange between the candidate for the village head and the voters used the arena of mlawang, jajang, mayoran and dispatch. The types of exchange that occurred included direct exchanges and indirect exchanges. Indirect social exchange, involving botoh, elder figures, village officials and heads of community organizations. In the process of social exchange, it is unavoidable that there is an element of power. The power of the village head candidate comes from material resources, while the power of the voter comes from the ‘vote’ owned by the voters. It is this difference in sources of power that requires both parties to negotiate. This is what causes symmetrical and asymmetrical exchange patterns. The general norm that applies is that voters determine their choice and support for the village head candidate who is considered to provide the most material and non-material rewards.Keywords: power, social exchange, pilkades, exchange pattern, exchange type
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris, L.) TERHADAP PERKEMBANGAN FOLIKEL OVARIUM TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus, L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kacang merah (Phaseolusvulgaris, L.) terhadap perubahan pendewasaan dan jumlah folikel ovarium tikus putih (Rattus norvegicus,L.).Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Rancangan penelitian yang digunakan adalahRancangan Acak Lengkap. Menggunakan 25 ekor tikus putih betina galur Wistar, umur ±2 bulan denganberat badan ±200 gram, dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing 5 ekor, yaitu P0 satu kelompok tanpaekstrak kacang merah digunakan sebagai kontrol. Empat kelompok lain diberi ekstrak kacang merahdengan dosis yang berbeda-beda, masing-masig P1 (50 mg ekstrak kacang merah), P2 (75 mg ekstrakkacang merah), P3 (100 mg ekstrak kacang merah), dan P4 (125 mg ekstrak kacang merah).Pemberianektrak kacang merah dilakukan selama 21 hari secara oral. Preparat ovarium dibuat dengan pewarnaanHematoxylin-Eosin (HE). Data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatifdengan menghitung jumlah folikel ovarium yaitu, folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier, folikel deGraff, korpus luteum, dan folikel atresia. Data dialasisis dengan One Way Anova, jika terdapat perbedaanhasil, dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test).Hasil penelitian dan pembahasan pemberian ekstrak kacang merah (Phaseolus vulgaris, L.)terhadap perkembangan jumlah folikel ovarium tikus putih (Rattus norvegicus, L.) yaitu dapat disimpulkanbahwa pemberian ekstrak kacang merah berpengaruh terhadap perkembangan folikel ovarium tikus putihsecara signifikan (P 0,05) pada jenis folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier, folikel de Graff danfolikel atresia, sedangkan pada korpus luteum pemberian ekstrak kacang merah tidak berpengaruh secarasignifikan (P0,05). Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kacangmerah (Phaseolus vulgaris, L.) dapat mempengaruhi perkembangan folikel ovarium tikus putih (Rattusnorvegicus, L.). Pemberian dosis bertingkat, terbukti semakin meningkatkan jumlah folikel ovarium tikusputih yang meliputi folikel folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier, folikel de Graff dan folikelatresia.Kata kunci: Ekstrak kacang merah, folikel ovarium, tikus putih
EMBRYONIC DEVELOPMENTAL ANOMALY IDENTIFICATION OF GIANT MIMI-MINTUNO (Tachupleus gigas) DURING ARTIFICIAL INCUBATION PERIOD IN THE VIAL BOTTLES
This study aims to reveal the phenomenon of presence / absence of anomalies in the early development of Mimi-giant mintuno (Tachypleus gigas) during artificial incubation in the vial bottles. Samples 5 eggs are fertilized incorporated into transparent 50 bottles and vials each filled with clear sea water medium. Embryonic stages (instars) hatch, bottles marked, then dumped seawater medium was replaced with 4% formalin solution and glycerin amount of 5% by volume, up to ¾ of the total volume of the vial bottles. Standard stages of giant Mimi-mintuno embryonic normal development Mimi-mintuno according to Itow (1988). The description type of anomalies contained in the post-hatching embryo development. The observations are documented in the form of stereo-microphotograph. The results showed that there are forms anomalies: (a). Delayed development, the structure of the body is not perfect; (b). In observation of the embryo hatches, open shell and egg perivitelline membrane has been opened but delayed development, the structure of the body is not perfect; (c). Embryos after hatched perfectly, abnormalities of morphologic structure such as abnormal protrusion on the dorsal carapace part found.
Keywords: Tachypleus gigas, artificially, incubatio
- …
