1,720,969 research outputs found
POLARISASI PERAN KYAI DAN USTADZ DALAM MANAJEMEN RUMAH TAHFIZH
The role of the kyai in pesantren is as the absolute highest authority holder, so that all activities in the pesantren must be approved by the kyai. Even in the process of transforming knowledge, the one who has the right to determine is the kyai. Ustadz is a senior santri who helps the kyai in guiding his santri. In subsequent developments, there were some shifts in the role of clerics and religious teachers who were no longer central figures and had to comply with the existing program management, this happened in the management of Tahfizh House precisely around 2007 on the idea of Ustadz Yusuf Mansur launched by the method of memorizing the Qur'an with the Tahfizh House model which is centered in Tangerang Banten and in 2010 the education of the Qur'an tahfizh model of the Tahfizh house was introduced in Central Java. This study uses a qualitative approach with multidisciplinary methods including, anthropology and sociology. In collecting data various methods will be used, among others, observation, literature review related to religious literacy, interviews with Tahfizh House Management as well as the Semarang Branch PPPA management. The unit of analysis that will be used is the institution, the House of Tahfizh as a non-formal educational institution. The results of this study the role of Kyai and Ustadz is to guide, teach, foster as well as an example of students and broadcast the Qur'an to the public. This study also resulted in the division of Kyai and Ustadz in several categories, namely First, Kyai and Ustadz who had full authority in the Tahfizh House. Their presence in the house of tahfizh is as a founder and teacher. Their position with PPPA management is limited to consolidation and coordination between institutions. Secondly, Kyai and Ustadz who are not the owners. The selection, placement and authority are carried out directly by the Tahfizh House independently, not through PPPA. Third, Kyai and Ustadz must follow all PPPA rules, because of the selection, placement and authority under the management of Darul Qur’an PPPA
KH. M. ARWANI AMIN SEBAGAI ROLE MODEL PENDIDIKAN TAHFIDZ AL QUR’AN
ABSTRACTThis study focuses on the taÃfà al Qur’an education model conducted by KH. M. Arwani in the Islamic Boarding School Yanbu'ul Holy Qur'an. The author in conducting this research uses a literature study and a qualitative descriptive approach. The results of the research that the authors did found several educational concepts memorizing the Qur'an according to KH. M. Arwani Amin, among others; 1. Sincerity, 2. Obedience 3. Importance of Quality, 4. Patience and Thoroughness. The method applied in PTYQ, namely the pesantren which he initiated as the following; 1. The musyrifahah method, 2. Recitation method, 3. takrÊr method, 4. MudÉrasah method, and 5. Test method.While the Al-Qur'an memorization system at the pesantren which is fostered by KH. M. Arwani is divided into five groups or classes, namely: Preparation Class, Class I, Class II, Class III, and Special Classes. “Adab“ learning and memorizing the Qur'an in accordance with KH. M. Arwani Amin, covering adab before memorizing the Qur'an, must be based on sincerity, and adab when memorizing the Qur'an, namely; always pray and always obey all the rules of the teacher and the pesantren. Keywords: Al-Qur'an, Tahfidz, Education, M. Arwani Ami
MODEL PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS PENGUATAN BUDAYA SEKOLAH RELIGIUS DI SMA ISLAM SULTAN AGUNG 3 SEMARANG
The problem of national identity and character lately is at risk. The number of negative events and behaviors, both individually and in groups in the community, illustrates the degadration of the nation's moral values. The character crisis is characterized by an increasing number in crime and violence in the society, including in the world of education. This fact encourages the emergence of various lawsuits on the effectiveness of character education in schools which so far have been seen by some communities as having failed in building students' affection with eternal values and being able to answer the challenges of the changing times.That the crisis of character, one of which is caused by a lack of understanding and practice of religious teachings. Religious characters that require students to understand and be able to practice the teachings of their religion become one of the most important character points in order to improve the good character of students. Religious becomes the foundation of the nation's character, so we need a way to build religious character for each student. Departing from this, in this article the author will discuss about the development model of religious school culture-based character education. The problem in this article will be focused first, on how to develop character education models based on the strengthening of religious school culture in Sultan Agung 3 Islamic High School Semarang; second, how the results of the implementation of the development of character education based on strengthening the culture of religious schools in Sultan Agung 3 Islamic High School Semarang. This article is the result of a qualitative descriptive study conducted by the author at Sultan Agung 3 Islamic Senior High School Semarang. From the research conducted by the author, the results of this research are: the model of character education development based on strengthening the religious school culture is needed in order to increase the effectiveness of character education in schools. Keywords: Character education, character crisis, religious school culture.Â
Model pembelajaran sains dan tahfiz Al-Qur’an di madrasah aliyah : studi di MAS Tahfiz Yanbu’ul Qur’an Menawan Kudus dan BCS Sains Tahfiz MAN 2 Kudus
Pembelajaran focus sains natural di madrasah belum begitu banyak mendapatkan penanganan serius oleh para guru dan pengelola madrasah baik di swasta maupun madrasah negeri, apalagi di madrasah yang berbasis para penghafal Al-Qur’an. Madrasah tersebut biasanya lebih banyak focus pada hafalan Al-Qur’an dan sedikit tambahan dalam mempelajari ulum al- syar’i yang farÌu ‘aÊn. Madrasah Aliyah Swasta tahfiz Yanbu’ul Qur’an Menawan Kudus dan Program Billingual Class System (BCS) Sains tahfiz MAN 2 Kudus adalah sedikit dari madrasah yang mempedulikan dan menggabungkan antara pembelajaran sains dan menghafal Al-Qur’an bagi para siswa. Penelitian ini focus pada dua hal yakni: 1) Model pembelajaran sains di madrasah dan 2) Model pembelajaran tahfiz Al-Qur’an di pesantren yang berbasis madrasah.
Metode yang digunakan dalam panelitian adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif deskriptif analisis. Data dikumpulkan dengan tiga cara yakni; observasi, wawancara, dan dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Sedangkan teknik analisis data menggunakan enam langkah yaitu; mempersiapkan dan mengolah data, membaca keseluruhan data, coding semua data, mendeskripsikan jenis data, penyajian data, dan analisis data.
Penelitian ini menemukan tiga hal pokok yaitu; Pertama, Proposisi model pembelajaran sains di MAS tahfiz Yanbu’ul Qur’an Menawan didasarkan pada pembelajaran sains dengan tujuan membentuk manusia berjiwa IMTAQ yang menguasai IPTEK dengan menggunakan model bimbingan, riset, intensif, sains, integrasi, agama, informatif, laboratorium, mentoring, unggul, intlektual, tuntas, dan evaluative yang disingkat dengan BRISIA ILMU ITE. Sedangkan proposisi model pembelajaran tahfiz di MAS tahfiz Yanbu’ul Qur’an Menawan didasarkan pada pembelajaran tahfiz di pesantren tahfiz Al-Qur’an dengan tujuan membentuk manusia berakhlakul karimah dan hafal Al-Qur’an dengan menggunakan model bimbingan, intensif, Íalaqah, integrasi, madrasah, target, hafalan, Al-Qur’an, faham, evaluasi, deresan, dan ziyadah yang disingkat dengan BIHIM TAHFIDZ. Kedua, Proposisi model pembelajaran sains di BCS Sains tahfiz MAN 2 Kudus didasarkan pada pembelajaran sains yang terintegrasi pada satuan Pendidikan Madrasah dan pesantren tahfiz Al-Qur’an dengan visi mewujudkan peserta didik yang berakhlak islami, unggul dalam prestasi dan terampil dalam teknologi. dengan menggunakan model bimbingan, riset, intensif, sains, integrasi, agama, islamisasi, saintifikasi, laboratorium, akulturasi, mentoring, yang disingkat dengan BRISIA ISLAM KITE. Sedangkan proposisi model pembelajaran tahfiz di BCS Sains tahfiz MAN 2 Kudus didasarkan pada pembelajaran tahfiz di pesantren tahfiz Al-Qur’an dengan tujuan membentuk manusia berakhlakul karimah dan hafal Al-Qur’an dengan menggunakan model bimbingan, intensif, halaqah, integrasi, madrasah, hafalan, ulang, faham, Al-Qur’an, deresan, dan ziyadah yang disingkat dengan BIHIM HUFADZE.
Ketiga, Model pembelajaran sains di Madrasah Aliyah dilakukan dengan mengintegrasikan pada kegiatan pembelajaran di kelas, di laboratorium ataupun kegiatan riset yang dilakukan terbimbing secara teratur yang berbasis pada “BRISIA ILMU SAINS ITE” (Bimbingan, Riset, Intensif, Sains, Integrasi, Agama, Islamisasi, Laboratorium, Mentoring, Unggul, Saintifikasi, Akulturasi, Intelektual, Natural, Sikap luhur, Indonesia, Tuntas, Evaluatif). Sedangkan Model pembelajaran tahfiz Al-Qur’an di pesantren yang berbasis madrasah dengan tujuan membentuk manusia berakhlakul karimah, unggul dan hafal Al-Qur’an dengan menggunakan model BIHIM TAHFIDZU. (Bimbingan, Intensif, Íalaqah, Integrasi, Madrasah, Target, Hafalan, Al-Qur’an, Faham, Evaluasi, Deresan, ZiyÉdah, dan Ulang). Model pembelajaran sains dan tahfiz Al-Qur’an tersebut hendaknya mampu dijadikan sebagai standar demi meningkatkan kualitas pembelajaran siswa di madrasah Aliyah ataupun pendidikan sederajat.
ABSTRACT:
Learning focused on natural science in madrasas has not yet received serious treatment by teachers and madrasa managers, both private and public madrasas, especially in madrasah are based on memorizing the Qur'an. madrasah usually focuses more on memorizing the Qur'an and a little extra on studying ulum al-syar'i the fard ain. Privat Madrasah Aliyah Tahfiz Yanbu'ul Qur'an Menawan Kudus and the Billingual Class System (BCS) Program Sains Tahfiz MAN 2 Kudus are a few of the madrasas that care about and combine science learning and memorizing the Qur'an for students. This research focuses on two things, namely: 1) the model of science learning in madrasas and 2) the model of learning Tahfiz Al-Qur'an in madrasah-based boarding schools.
The method used in the research is field research with a qualitative descriptive analysis approach. Data is collected in three ways, namely; observation, interview, and documentation. Test the validity of the data using triangulation of sources and methods. While the data analysis technique uses six steps, namely; preparing and processing data, reading all data, coding all data, describing types of data, presenting data, and analyzing data.
This study found three main things, namely; First, the proposition of the science learning model at MAS Tahfiz Yanbu'ul Qur'an Menawan is based on science learning to form IMTAQ-minded humans who master science and technology by using guidance, research, intensive, science, integration, religion, informative, laboratory, mentoring superior intellectual, thorough, and evaluative which is abbreviated as BRISIA ILMU ITE. While the proposition of the Tahfiz at MAS Tahfiz Yanbu'ul Qur'an Menawan is based on Tahfiz at the Tahfiz Al- Qur'an Islamic boarding school with the aim of forming people with good morals the Qur'an by using the guidance, intensive, halaqah, integration model, madrasah, targets, memorization, Al-Qur'an, understanding, evaluation, deresan, and ziyadah which is abbreviated as BIHIM TAHFIDZ.
Second, the the proposition of the science learning model at BCS Sains Tahfiz MAN 2 Kudus is based on integrated science learning in Madrasah Education units and Tahfiz Al Qur'an Islamic boarding schools with the vision of realizing students who have an Islamic character, excel in achievement, and are skilled in technology. by using the model of guidance, research, intensive, science, integration, religion, Islamization, sanctification, laboratory, acculturation, mentoring, which is abbreviated as BRISIA ISLAM KITE. While the proposition of the Tahfiz at BCS Sains Tahfiz MAN 2 Kudus is based on Tahfiz at the Tahfiz Al-Qur'an with the aim of forming human beings with good morals and memorizing the Qur'an by using the model ofguidance, intensive, halaqah, integration, madrasa, memorizing, repeating, understanding, the Qur'an, deresan, and ziyadah which is abbreviated as BIHIM HUFADZE.
Third, the science learning model in Madrasah Aliyah is carried out by integrating learning activities in the classroom, in the laboratory in research activities carried out regularly based on "BRISIA ILMU SAINS ITE" (Guidance, Research, Intensive, Science, Integration, Religion, Islamization, Laboratory, Mentoring, Excellence, Science, Acculturation, Intellectual, Natural, Noble attitude, Indonesian, Complete, Evaluative). While the Tahfiz Al-Qur'an learning model in Islamic boarding schools are based on madrasah to forming human beings with good morals, excellence, and memorizing the Qur'an by using the BIHIM TAHFIDZU model. (Guidance, Intensive, Halaqah, Integration, Madrasah, Target, Memorizing, Al-Qur'an, Understanding, Evaluation, Depression, Ziyadah, and Repeat). The model of learning science and tahfiz Al-Qur'an above should be able to be used as a standard to improve the quality of student learning in Madrasah Aliyah or equivalent education
Transformation of Islamic Boarding Schools in Facing the Development of Education in the Society 5.0 Era
This article discusses the transformation that occurs in Islamic boarding schools in welcoming the era of society 5.0. Classical Islamic boarding schools in essence still use old traditions in their implementation in various matters related to Islamic boarding schools. Meanwhile, the society 5.0 era requires pesantren to adjust new things that must be done so that pesantren institutions are not left behind with the times. For this reason, pesantren needs to transform in various things about pesantren in order to be able to adjust to existing developments. The research methodology in this study uses literature research using primary and secondary data taken from books and articles which are then analyzed to get conclusions. The conclusion of this study is that pesantren has transformed in several ways, namely first, Transformation of Islamic Boarding School Leadership. Second, transformation of the pesantren education system. Third institutional transformation in Islamic boarding schools. Fourthtransformation Islamic boarding school curriculum. and the fifth, transformation Islamic boarding school education methods
Implementasi pembelajaran kitab bidayatul hidayah dalam meningkatkan perilaku disiplin santri pondok pesantren Al-hikmah
Pokok bahasan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran kitab Bidayatul Hidayah dalam Membentuk Perilaku Disiplin Santri yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Hikmah Kabupaten Pati, dengan fokus penelitian mencakup 1) Perencanaan pembelajaran kitab Bidayatul Hidayah dalam Membentuk Perilaku Disiplin Santri, 2) Pelaksanaan pembelajaran kitab Bidayatul Hidayah dalam Membentuk Perilaku Disiplin Santri, dan 3) Evaluasi pembelajaran kitab Bidayatul Hidayah dalam Membentuk Perilaku Disiplin Santri. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Perencanaan pembelajaran kitab Bidayatul Hidayah diserahkan sepenuhnya kepada pengajar (ustadz) dengan memperhatikan beberapa aspek seperti tujuan, metode, media dan strategi penyampaian pembelajaran. 2) Pelaksanaan pembelajaran kitab ini dilakukan satu kali dalam sepekan yaitu pada hari Selasa Pukul 19.30-20.30 WIB dan bertempat di Pondok Pesantren. 3) Evaluasi pembelajaran kitab Bidayatul Hidayah di Pondok Pesantren Al-Hikmah Kabupaten Pati menggunakan evaluasi teknik tes dan teknik non tes
Pengaruh Wisata Ziarah Terhadap Eksistensi Permukiman Desa Bedono Sayung Kabupaten Demak
Desa Bedono merupakan desa pesisir di Kecamatan Sayung Kabupaten Demak yang memiliki permasalahan hilangnya permukiman akibat terkena abrasi laut pada tahun 1999, hal ini menyebabkan pengikisan wilayah permukiman penduduk Bedono, uniknya beberapa KK masih mempertahankan keberadaan permukimannya meskipun harus hidup di tengah ancaman bencana abrasi air laut. Selain permasalahan permukiman, Desa Bedono memiliki keunikan lain yakni adanya makam Syeikh Abdullah Mudzakir yang terapung di tengah laut. Hal ini menyebabkan berkembangnya aktivitas wisata ziarah baik yang dilakukan oleh penduduk lokal Bedono maupun peziarah yang datang dari luar daerah Desa Bedono, hal ini dilihat dari aktivitas yang berkaitan dengan fungsi makam Syeikh Abdullah Mudzakir, aktivitas ekonomi dan aktivitas sosial yang terjadi di Desa Bedono. Pada penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan dari aktivitas wisata ziarah terhadap eksistensi permukiman penduduk Desa Bedono yang dilihat dari aspek spiritual, aspek ekonomi dan aspek sosial penduduk Bedono. Metode yang digunakan adalah metode deduktif kuantitatif rasionalistik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan korelasi kuat dari adanya aktivitas ekonomi dari wisata ziarah terhadap eksistensi permukiman, korelasi lemah dari adanya aktivitas utama ziarah terhadap eksistensi permukiman, dan korelasi tidak berarti dari aktivitas sosial wisata ziarah antara penduduk dan peziarah terhadap eksistensi permukiman. Kata Kunci : Pengaruh, Wisata Ziarah, Eksistensi Permukima
ANALISIS AKAR MASALAH PENDIDIKAN ISLAM DAN SOLUSINYA DALAM KITAB KAIFA TUWAJIHUL FITAN
Kitab Kaifa Tuwajihul Fitan Syaikh Shalih bin Thoha Abdul Wahid menawarkan solusi untuk masalah pendidikan Islam, dan tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan akar masalah tersebut. Penelitian ini mengeksplorasi pemikiran penulis kitab tentang masalah dan solusi pendidikan dalam menghadapi fitnah zaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dan metode studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpangan aqidah, pemahaman yang buruk tentang manhaj Islam yang benar, dan dominasi orientasi duniawi dalam sistem pendidikan adalah masalah utama dalam pendidikan Islam. Penekanan pada pendidikan akhirat, penguatan ilmu syar'i, dan pemurnian tauhid adalah beberapa solusi yang ditawarkan oleh Syaikh Sholih. Diharapkan penelitian ini akan memberikan bantuan ilmiah dan praktis dalam membangun sistem pendidikan Islam yang sesuai dengan aturan agama
Integration Model of Learning Religion and Science in Madrasah Based on the Tahfizh Al-Qur'an Pesantren
- …
