172 research outputs found

    EKSISTENSI TARI TOJA KREASI SANGGAR TRADISIONAL KALERO DI KECAMATAN DONGGO KABUPATEN BIMA

    No full text
    ABSTRAK Fitriani, 2017. Eksistensi tari Toja Sanggar Tradisional Kalero Di Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Skripsi, Fakultas Seni dan Desai, Universitas Negeri Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1). Latar Belakang tari Toja kreasi sanggar tradisional Kalero di Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. 2). Bentuk tari Toja kreasi sanggar Tradisional Toja di kecamatan Donggo Kabupaten Bima. 3). Pada Event apa tari Toja kreasi sanggar tradisional Kalero dipentaskan. Hasil penelitian menunjukan. 1). Latar belakang tari Toja kreasi sanggar tradisional Kalero di kecamatan Donggo Kabupaten, Bima Dahulu adalah tradisi lama masyarakat Donggo untuk mengenang atau meratapi keluarga yang telah meninggal, yang dilakukan dengan cara menari dan bernyanyi, serta memohon kepada arwah roh leluhur untuk menerima keluarga yang baru meninggal. Tari Toja mulai dikenal pada abad ke-8 ketika tanah Bima masih dipimpin oleh ncuhi (kerajaan kecil) yang masih mempercayai makamba-makimbi (animisme dan dinamisme). Masyarakat Donggo sebagai suku asli orang bima menolak berbaur dengan masyarakat pendatang dan memilih menempati dataran tinggi pegunungan bima, yang tetap meyakini kepercayaan yang diturunkan oleh leluhur mereka. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Donggo Desa Mbawa Kabupaten Bima, subyek yang dipakai yaitu Pelaku (pemain) Toja, Tokoh Adat, Budayawan Bima, Pihak dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bima. Dalam penelitian ini terdapat satu objek penelitian yaitu Tari Toja. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan kualitatif. 2). Bentuk tari Toja kreasi sanggar Tradisional Kalero di kecamatan Donggo Kabupaten Bima terdiri dari Gerak yang terdiri dari 8 ragam yaitu : a. horma (Hormat), b. puta (berputar), c. doho (duduk), d. rombo (posisi lurus), e. doho ke 2 kali (Duduk), f. pepa (gerakan mengibas), g. horma (hormat). Alat musik dan perlengkapan yang digunakan pada tari Toja, alat musik yang digunakan yaitu a). Genda Mbojo (Gendang) b). No (gong). c). sarone (serunai). Penari Toja mengenakan pakaian a). Kababu (Baju Hitam), b). Tembe me’e (Sarung), c). Toge (Anting), d). Jima sisi (Gelang), serta dilengkapi dengan properti d). Tembe Dula (Selendang) yang dilambai-lambaikan saat menari. 3). Event yang telah dicapai oleh sanggar tradisional Toja adalah a). Festival Keraton, b). pesta kesenian bali, c). Festifal Rimpu Bima Di Jakarta. pementasan tari Toja Kreasi Sanggar Tradisional Kalero kecamatan Donggo kabupaten Bima Waktu dan tempat pelaksanaan dilakukan pada kegiatan, salah satunya penyambutan tamu. Kata Kunci :Tradisi, Kalero, Bim

    Eksistensi tari Toja Sanggar Tradisional Kalero Di Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Skripsi, Fakultas Seni dan Desai, Universitas Negeri Makassar.

    No full text
    ABSTRAK Fitriani, 2017. Eksistensi tari Toja Sanggar Tradisional Kalero Di Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Skripsi, Fakultas Seni dan Desai, Universitas Negeri Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1). Latar Belakang tari Toja kreasi sanggar tradisional Kalero di Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. 2). Bentuk tari Toja kreasi sanggar Tradisional Toja di kecamatan Donggo Kabupaten Bima. 3). Pada Event apa tari Toja kreasi sanggar tradisional Kalero dipentaskan. Hasil penelitian menunjukan. 1). Latar belakang tari Toja kreasi sanggar tradisional Kalero di kecamatan Donggo Kabupaten, Bima Dahulu adalah tradisi lama masyarakat Donggo untuk mengenang atau meratapi keluarga yang telah meninggal, yang dilakukan dengan cara menari dan bernyanyi, serta memohon kepada arwah roh leluhur untuk menerima keluarga yang baru meninggal. Tari Toja mulai dikenal pada abad ke-8 ketika tanah Bima masih dipimpin oleh ncuhi (kerajaan kecil) yang masih mempercayai makamba-makimbi (animisme dan dinamisme). Masyarakat Donggo sebagai suku asli orang bima menolak berbaur dengan masyarakat pendatang dan memilih menempati dataran tinggi pegunungan bima, yang tetap meyakini kepercayaan yang diturunkan oleh leluhur mereka. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Donggo Desa Mbawa Kabupaten Bima, subyek yang dipakai yaitu Pelaku (pemain) Toja, Tokoh Adat, Budayawan Bima, Pihak dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bima. Dalam penelitian ini terdapat satu objek penelitian yaitu Tari Toja. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan kualitatif. 2). Bentuk tari Toja kreasi sanggar Tradisional Kalero di kecamatan Donggo Kabupaten Bima terdiri dari Gerak yang terdiri dari 8 ragam yaitu : a. horma (Hormat), b. puta (berputar), c. doho (duduk), d. rombo (posisi lurus), e. doho ke 2 kali (Duduk), f. pepa (gerakan mengibas), g. horma (hormat). Alat musik dan perlengkapan yang digunakan pada tari Toja, alat musik yang digunakan yaitu a). Genda Mbojo (Gendang) b). No (gong). c). sarone (serunai). Penari Toja mengenakan pakaian a). Kababu (Baju Hitam), b). Tembe me’e (Sarung), c). Toge (Anting), d). Jima sisi (Gelang), serta dilengkapi dengan properti d). Tembe Dula (Selendang) yang dilambai-lambaikan saat menari. 3). Event yang telah dicapai oleh sanggar tradisional Toja adalah a). Festival Keraton, b). pesta kesenian bali, c). Festifal Rimpu Bima Di Jakarta. pementasan tari Toja Kreasi Sanggar Tradisional Kalero kecamatan Donggo kabupaten Bima Waktu dan tempat pelaksanaan dilakukan pada kegiatan, salah satunya penyambutan tamu. Kata Kunci :Tradisi, Kalero, Bim

    MOLECULAR-STRUCTURES AND CONFORMATIONS OF 1-BENZENESULFONYL-2-OXO-5-ALKOXYPYRROLIDINES WITH ANTIAMNESIC ACTIVITY - X-RAY, H-1-NMR AND QUANTUM-MECHANICAL (PM3) STUDIES

    No full text
    The crystal and molecular structures of the nootropic agents RU-47001 ((±) 1-(4-nitrobenzenesulphonyl)-2-oxo-5-ethoxypyrrolidine) and RU-47064 ((±) 1-(4-nitrobenzenesulphonyl)-2-oxo-5-isopropyloxypyrrolidine) have been determined by X-ray analysis and their solution conformation has been investigated using 1H NMR spectroscopy. The conformations of these molecules together with those of their analogues RU-35929 ((±) 1-benzenesulphonyl-2-oxo-5-ethoxypyrrolidine), RU-47010 ((±) 1-(3-pyridinylsulphonyl)-2-oxo-5-ethoxypyrrolidine) and RU-35965 ((±) 1-benzenesulphonyl-2-oxo-5-isopropyloxypyrrolidine) have been deduced from semi-quantitative PM3 type theoretical calculations. The main feature of all compounds consists of a common envelope conformation with C (4) at the flap of the pyrrolidinone ring in the solid, that in solution changes into the analogous, but opposite, possible puckered conformational isomer. The 5-alkoxy groups were found rather flexible in solution. Theoretical preferred conformations about N-S and S-C bonds were in acceptable agreement with those of the solid state. The calculated torsional energetics suggested that 1–5 do not undergo conformational interconversion

    Conformation of two 1-benzenesulphonyl-2-oxo-5-alkylthiopyrrolidine cognition activators

    No full text
    The molecular structures of the cognition activators (+/-)1-benzenesulphonyl-2-oxo-5-ethylthiopyrrolidine (1) and (+/-)1-benzenesulphonyl-2-oxo-5-isopropylthiopyrrolidine (2) were determined by means of X-ray diffraction and semi-empirical quantum mechanical methods. The conformational properties of the compounds, in the solid state and in vacuo (free molecule), were compared with those of the corresponding oxygenated derivatives bearing, in position 5, ethoxy and isopropyloxy substituents, respectively. The molecular arrangements of (1) and (2) in the solid state are similar, with the exception of the side chain on C(5), and they are retained also in vacuo. Both present an "envelope" conformation of the five-membered ring, and the relative positions of the five- and six-membered rings look similar and parallel those of their oxygenated parents. From in vacuo calculations another low-energy arrangement seems to be possible, and a detailed examination of the side-chain freedom in (1) and (2) gives more insight in the conformational properties of the compounds

    The degradation of poly(vinyl acetate) as a material for design objects: A multi-analytical study of the effect of dibutyl phthalate plasticizer. Part 1

    No full text
    The influence of dibutyl phthalate (DBP) plasticizer on poly(vinyl acetate) (PVAc) degradation was investigated. A multi-analytical approach (combining FTIR and Fluorescence spectroscopy, NMR and DSC analyses) was used to study how thermal- and photo-oxidative ageing treatments act on the polymer and assess the role of the additive in the degradation pattern. Standard and plasticized PVAc films were artificially aged at 60 °C in a thermal regime and irradiated at wavelengths above 290 nm in a photo-oxidative ageing regime, with exposure between 100 and 2000 h. The two types of ageing differ mainly in the formation of C{double bond, long}C double bonds along the polymer backbone, enhanced by thermal ageing, and the formation of aldehydic structures, following photo-oxidative treatment and in the degree to which plasticizer is lost. The integration of results from different analytical methods highlights the utility in combining complementary analyses for the study of PVAc degradation

    Conversion of Polymeric Substrates by Aerobic Granular Sludge

    No full text
    Domestic wastewater is treated prior to its return to natural water bodies, to minimize its polluting effect. Biological wastewater treatment removes organic matter and nutrients from the wastewater, by employing the activity of microorganisms, which consume polluting compounds present in wastewater to grow. One of such technologies is aerobic granular sludge (AGS), which consists of self-immobilized microorganisms growing in spherical biofilms. The granular structure facilitates the separation between treated water and the biomass due to its excellent settling properties. This way, energy and space are saved in comparison to flocculent sludge-based treatment. Despite its many advantages, the granular structure can pose some challenges too, particularly regarding the degradation of polymeric substrates. The higher mass-transfer resistance in granules compared to flocs challenges the degradation of these substrates, which have a size spanning from a few kDa to several micrometres. Polymeric substrates, furthermore, need to undergo hydrolysis before microorganisms can take them up, which is generally a slow process. Most AGS applications rely on microbial selection driven by the application of a sequencing batch reactor (SBR) cycle. The cycle consists of an anaerobic substrate feeding and a subsequent aerobic starvation period, which selects for intracellular polymer-storing organisms, such as polyphosphate accumulating organisms (PAO) and glycogen accumulating organisms (GAO). Substrates that experience high mass-transfer limitation and low degradation rates may interfere with the microbial selection strategy applied to AGS, especially when they are not (fully) taken up in the anaerobic feeding period and continue degrading aerobically in the next cycle phase. Some lab-scale studies have reported detrimental effects of polymeric substrates in AGS structure and activity, while others have managed to maintain a stable granule bed and suggest that the microbial utilization of polymeric substrates can contribute to good nutrient removal. The degradation of polymeric substrates by full-scale aerobic granules is still poorly understood. Sanitary Engineerin
    corecore