243 research outputs found
OPTIMALISASI PENYIMPANAN BENIH MIMBA (Azadiraclita indica) PASKA PANEN DARI 7 LOKASI SUMBER BENIH
Keberhasilan dalam menjaga kontinuitas suplai benih yang berkualitas ditentukan oleh faktor 1) sumber benih, yang berhubungan dengan sifat genetik, 2) tingkat kemasakan saat pengunduhan, yang menentukan kesiapannya untuk berkecambah, dan 3) penanganan benih, yang bertujuan untuk mempertahankan kualitas benih paska panen, dan meliputi kegiatan pengangkutan, ekstraksi, pengeringan dan penyimpanan benih. Masalah yang berhubungan dengan keterbatasan suplai benih mimba yang berkualitas pada saat ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dalam pengunduhan maupun penanganan paska panen. Penelitian selama 6 bulan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Kehutanan UGM ini bertujuan untuk menghimpun informasi mengenai rangkaian perlakuan atau komponen yang dibutuhkan dalam mempertahankan kualitas benih mimba paska panen. Biji dari berbagai lokasi sumber benih diberi perlakuan penyimpanan pada bermacam macam wadah simpan, ditempatkan dalam tempat penyimpanan dengan pengaturan suhu dan kelembaban tertentu: suhu 6 derajat C RH 70%, O derajat C RH 90%, 21 derajat C RH 75%, 23 derajat C RH 70%, dan 30 derajat C RH 65
PERBEDAAN REKURENSIPTERIGIUM PASKA OPERASI AUTOGRAFT DENGAN PEMBERIAN MITOMYCIN-C 0,04% DAN TANPA MITOMYCIN-C 0,04% (Studi Observasi Analitik Terhadap Pasien Pterigium di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang)
Rekurensi pterigium ialahpertumbuhankembali jaringan fibrovaskuleryangdimulai dari area konjungtivabulbi nasal atau temporal menuju kornea pada bekas pembedahanbiasanya terjadi karena multifaktorial salah satunya pengobatanyaitu pemberian Mitomycin C 0,04%.Prevalensi tingkat kekambuhan di Indonesia berkisar antara 35% - 52%.Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kejadian rekurensi paska operasi pterigium metode autograft dengan pemberian Mitomycin C 0,04% dan tanpa Mitomycin C 0,04%.
Dalam penelitian ini dilakukan studi observasi analitik menggunakan rancangan cross sectional. Data dikumpulkan menggunakan dokumen rekam medis Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.Populasi adalah semua pasien pterigium di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang sebanyak 830 pasien. Sampel yang digunakan sebanyak 110 pasien pterigium paska operasi autograftmenggunakan teknik consecutive sampling dimana di bagi menjadi 2 kelompok yaitu 55 pasien pterigium dengan pemberian Mitomycin C 0,04% dan 55 pasien pterigium tanpa pemberian Mitomycin C 0,04%. Hipotesis diuji dengan chi squaredianalisis menggunakan Ratio Prevalence (RP) dan Confidence Interval (CI).
Berdasarkan hasil uji chi square antara MMC 0,04% dengan rekurensi pterigium diperoleh nilai p=0,008 (p<0,05), Ratio Prevalence 0,182 dengan 95%CI (0,042 – 0,783). Hasil uji jenis pekerjaan antara di dalam gedung dengan di dalam gedung adalah p=0,006 (p<0,05) berarti berpengaruh pada kejadian rekurensi pterigium.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan kejadian rekurensi perigium paska operasi autograft antara pemberian MMC 0,04% dengan tanpa MMC 0,04%.
Kata kunci:Mitomycin C 0,04%, rekurensi pterigiu
Espressione polmonare dell'emeossigenasi 1 e 2 in risposta allo stress ossidativo indotto dalla inalazione cronica di irritanti respiratori
Effetti sulle vie aeree della esposizione a bioaerosol contenente basse dosi di endotossina e glucano
PENGARUH PEMBERIAN CAIRAN KRISTALOID INTRA VENA SUHU 37OC SELAMA PEMBEDAHAN TERHADAP KEJADIAN SHIVERING PASKA ANESTESI REGIONAL DI INSTALASI BEDAH SENTRAL RSUD JOMBANG
Shivering (menggigil) paska anestesi (Post Anesthetic Shivering)
merupakan kondisi usaha tubuh untuk memproduksi panas guna mengembalikan
ketidakseimbangan panas. keadaan shivering tersebut sangat tidak menyenangkan
dan secara fisiologis penuh tekanan pada pasien yang menjalani operasi dengan
pembiusan anestesi regional (regional antesthetic sub arachnoid block) dan
berdampak pada efek samping yang merugikan antara lain nyeri luka operasi,
peningkatan tekanan intraokular, gangguan jantung. Mengetahui pengaruh
pemberian cairan kristaloid intravena suhu 37o
C dalam mencegah shivering paska
anestesi regionaldi Instalasi Bedah Sentral RSUD Jombang
Penelitian ini menggunakan desain Quasy Experiment Design dengan
pendekatan Post Test Only Control Group Desain. Jumlah sampel sebanyak 44
responden, menggunakan teknik Purposive Sampling, dan uji statistik
menggunakan Independent t test dengan tingkat kemaknaan α< 0,05.
Dari hasil uji statistik chi square didapatkan X2
sebesar 18,427 dengan nilai
probabilitas (0,000) < (α = 0,05), yang berarti ada perbedaan shevering antara
kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. Sedangkan uji statistik Independent T
Test didapatkan nilai signifikasi (ρ) sebesar 0,002, dengan demikian H0 ditolak, yang
berarti ada perubahan suhu setelah diberikan cairan kristaloid I.V suhu 370
C selama
pembedahan terhadap kejadian shivering paska anestesi regional.
Regional anastesi sub arachnoid block menyebabkan menurunnya
vasokontriksi sehingga terjadi vasodilatasi dan pelepasan panas tubuh yang terjadi
secara konveksi karena tubuh lebih hangat dibandingkan lingkungan sekitarnya.
Dengan pemberian cairan kristaloid intravena suhu 370
C ini terjadi karena transfer
panas dimana panas berjalan karena gerakan aktual dari cairan tersebut. Bila
cairan tubuh lebih tinggi dari lingkungan yang lebih rendah maka kepadatan
cairan tubuh berkurang, kemudian mengalir ke luar melalui penguapan
Decreased haem oxygenase-1 and increased inducible nitric oxide synthase in the lung of severe COPD patients
Oxidant/antioxidant imbalance is implicated in the pathogenesis of chronic obstructive pulmonary disease (COPD). The current study examined the expression of antioxidant and pro-oxidant enzymes, haem oxygenases; (140) and inducible nitric oxide synthase (iNOS) respectively, in patients with severe COPD and control smokers without lung function impairment. Immunoreactivity for HO-1, HO-2, iNOS and nitric oxide-derived oxidants expressed as nitrotyrosine (N-Tyr) was quantified in peripheral lung. HO-1+ alveolar macrophages were decreased in severe COPD compared to control smokers, whereas no difference was observed in iNOS+ macrophages. In contrast, severe patients had significantly higher numbers of iNOS+ cells in alveolar walls. These iNOS+ cells were identified as type 2 pneumocytes and their number was inversely related to HO-1+ macrophages. There were no significant differences in N-Tyr immunostaining between the two groups. However, the rate of protein nitration in lung tissue was directly related to iNOS expression and associated with lower values of forced expiratory volume in one second/forced vital capacity. HO-2 was constitutively expressed by type 2 pneumocytes and these cells were increased in severe COPD. In conclusion, the results suggest that the enzymes involved in the oxidative stress response may have a different role in the lung defence and that imbalance between haem oxygenase-1 and inducible nitric oxide synthase may be associated with the development of severe impairment in chronic obstructive pulmonary disease patients
Decreased haem oxygenase-1 and increased inducible nitric oxide synthase in the lung of severe COPD patients
- …
