1,720,974 research outputs found
The Analysis of Ambiguous Structures Through The Structural Ambiguity Concept
This paper is entitled “The Analysis of Ambiguous Structures Through TheStructural Ambiguity Concept”. The purpose of the paper is to acquire a cleardescription of structural ambiguity. Structural ambiguity is a kind of ambiguitieswhich occurs when a phrase, clause or sentence can be given two or more differentinterpretations as a result of the arrangement of words (the structure). Thestructural ambiguity can arise even though there is no word(s) are ambiguous in thestructure. The result of the paper shows that the structural ambiguity can occur insome structures, namely: Noun Phrase, Prepositional Phrase, Relative Clause, NounClause, and also the combination of those with conjunction (coordinating)
Ambiguitas Struktural Pada Heading Portal Berita The Jakarta Post Dalam Pemberitaan Pemilihan Gubernur Jawa Barat
Penelitian ini menyajikan analisis ambiguitas struktural dalam judul berita tentang pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 dari portal berita The Jakarta Post. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan kasus-kasus ambiguitas struktural dalam judul berita tersebut, dan untuk menganalisis penyebab pemicu kasus tersebut, serta untuk menggambarkan interpretasi makna dari objek kasus tersebut. Data dikumpulkan dalam rentang waktu November 2017 hingga Juni 2018, dan ditemukan 19 judul berita tentang pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 di portal berita tersebut. Dari total judul berita yang ditemukan, enam di antaranya terdiri dari kasus ambiguitas struktural. Dari kasus tersebut, sebagai penyebabnya, ada lima kasus ungkapan samar dan hanya satu kasus elemen tata bahasa yang hilang. Akhirnya, secara umum, media telah berusaha melakukan proses pengemasan berita dan tajuk dengan baik, tetapi masih perlu perbaikan strategi pengemasan berita untuk mendapatkan hasil yang sempurna di masa depan. Tetapi jika dibandingkan dengan perkembangan media di masa lalu, media saat ini telah jauh lebih maju dan berkembang terutama untuk teknik pengemasan berita yang akan dikeluarkan
VULGARISME BAHASA: KREATIFITAS PENARIK MINAT PASAR (Studi Kasus Kajian Sosiolinguistik di Restoran Steak Ranjang Bandung)
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi vulgarisme bahasa sebagai sebuah
kreatifitas untuk menarik minat konsumen dalam membeli sesuatu. Vulgarisme yang
dimaksud di sini adalah ungkapan bahasa yang digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu
yang seharusnya bisa digunakan dengan bahasa yang lebih umum dan dapat diterima oleh
seluruh kelompok sosial, namun dipelintir atau diragamkan dengan bahasa yang sifatnya
porno/cabul bahkan tabu bagi kelompok sosial tertentu; vulgarisme bahasa tersebut
digunakan untuk memberi label suatu produk yang dijual. Objek penelitian ini adalah
ekspresi bahasa vulgar yang digunakan sebagai menu makanan di restoran Steak Ranjang
Bandung, yang dikaitkan dengan perspektif psikologis minat beli konsumen di restoran
tersebut.Pengambilan datadilakukan dengan menggunakan metode observasi dan metode
wawancara terstruktur. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode korelasi, dan
penyajian hasil analisis data menggunakan metode metabahasa.Dari penelitian yang
dilakukan, ditemukan beberapa bahasa vulgar yang digunakan di dalam menu makanan di
restoran tersebut, di antaranya: Sirloin Telanjang Binal, Chicken steak Telanjang Puas,
Nasi Tenderloin Muncrat Menggelinjang, dan Jeruk Perez zuzu. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa hampir seluruh menu yang terdapat vulgarisme bahasa mendapatkan
persentase deskripsi ‘vulgar’ yang tinggi dari seluruh informan. Persentase deskripsi ‘tidak
vulgar’ justru lebih tinggi diungkapkan oleh informan berjenis kelamin laki-laki,
sedangkan informan berjenis kelamin perempuan cenderung menganggap sebagian besar
menu pada restoran tersebut berdeskripsi ‘vulgar’. Adapun mengenai penilaian yang
diberikan informan tentang korelasi ekspresi bahasa vulgar pada menu makanan tersebut
dengan jenis makanan yang akan disajikan, persentase penilaian ‘berkorelasi dan dapat
dipahami’ lebih tinggi diungkapkan oleh informan berjenis kelamin laki-laki, sedangkan
informan berjenis kelamin perempuan cenderung menganggap penilaian pada nama menu
makanan tersebut ‘tidak berkorelasi dan tidak dapat dipahami’. Pada akhirnya, semua
informan mengungkapkan penasaran dan tertarik untuk mencoba jenis makanan yang
dimaksud. Hal ini menunjukkan bahwa restoran Steak Ranjang cukup sukses menerapkan
strategi pemasarannya yang menggunakan kreativitas berbahasa dengan menggunakan
teknik vulgarisme bahasa
ALIH DAN CAMPUR KODE MAHASISWA PEMBELAJAR BAHASA INGGRIS DI MEDIA SOSIAL FACEBOOK: TREN ATAU KEBUTUHAN? (STUDI KASUS KAJIAN SOSIOLINGUISTIK PADA GROUP MAHASISWA SASTRA INGGRIS UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA (UNIKOM) BANDUNG DI FACEBOOK)
This study aims to investigate the types, the functions, andthe main goal of using code
switching andcode mixing on Facebook group of English Department UNIKOM. The
subjects of this research are the students and the former studentsjoining the group. The
data are collected by using purposive sampling method. The results show there are three
forms used; they are: tag switching (7%), inter-sentential switching (21%), and intrasentential
switching/code mixing (72%). The functions found are:quotations, addressee
specification, interjections, reiteration, and message qualification. Also, it is found that
the main goals are because of trend (43%) andneeds (57%)
DENOTATIVE AND CONNOTATIVE MEANING IN THE SENTENCE OF “YOU GOT ME FEELING LIKE A PSYCHO” AS THE LINE OF RED VELVET SONG LYRIC: English
The research with the title as ‘Dennotative and Connotative Meaning in the Sentence of “You got me feeling like a psycho” as The Line of Red Velvet Song Lyric’ uses data taken from a song "Psycho" which was popularized by Red Velvet by using one of the linguistic studies, especially in the scope of semantics analyzed by the author. This case is interesting to study, especially on the meaning of the sentence "You got me feeling like a psycho". An interesting semantic study to analyze includes several understandings. Understanding the meaning which includes how the context of the sentence is then understanding the connotative and denotative meanings contained in it.
Keyword: Semantics, Lyric, Linguistics, Psych
PEMENANG VS “ORANG YANG KALAH”: REFLEKSI IDENTITAS DAN BUDAYA BANGSA
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi ketiadaan kata atau sebutan untuk ‘orang yang kalah’
sebagai lawan kata ‘pemenang’ dalam bahasa Indonesia. Subjek penelitian ini adalah bahasa yang
digunakan oleh beberapa surat kabar online yang ada di Indonesia, sedangkan objeknya adalah ekspresi
bahasa yang digunakan surat kabar tersebut untuk mengungkapkan makna ‘orang yang kalah’ sebagai
lawan kata ‘pemenang’ di dalam berita yang dimuatnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada
penelitian ini adalah purposive sampling; yakni mengumpulkan sampel data yang berisikan kasus-kasus
pengungkapan makna ‘orang yang kalah’ tersebut dengan tujuan untuk mengetahui ekspresi -ekspresi
bahasa apa saja yang digunakan surat kabar dalam mengungkapkan makna ‘orang yang kalah’ dan untuk
mendeskripsikan dampak ketiadaan lawan kata ‘pemenang’ dalam mempengaruhi cara bangsa Indonesia
berpikir dan berperilaku dalam korelasinya dengan refleksi identitas dan budaya bangsa. Hasil penelitian
menunjukkan ketiadaan istilah untuk menyatakan ‘orang yang kalah’ sebagai lawan kata ‘pemenang’
disiasati surat kabar dengan menggunakan ragam ekspresi bahasa yang hampir keseluruhannya
menggunakan kata kerja (verba); akan tetapi, ekspresi bahasa tersebut banyak yang bergeser secara makna
dari konsep makna ‘orang yang kalah’. Ketiadaan lawan kata ‘pemenang’ tersebut merupakan refleksi dari
Identitas dan budaya bangsa Indonesia dalam berkomunikasi yang mementingkan sopan santun dan tidak
menunjuk langsung pada orang yang melakukan sebuah kesalahan. Hal ini untuk menyelamatkan orang
tersebut dari rasa malu
Ideology State Aparatus dalam Instansi Pendidikan Formal di Desa Jepang dalam Anime Non Non Biyori
Abstract
This research describes the phenomenon of formal rural education institutions in Japan which is shown in Atto\u27s anime series Non Non Biyori through the ideological theory approach proposed by Althusser. The purpose of this study is to describe the formal village education institutions in Japan in supporting the compulsory twelve year school program and implementing moral education design by the central government. The method used is a quantitative method to explain the existing phenomena by collecting data and departing from Althusser\u27s Ideology State Apparatus theory. The results of this study are to suggest that formal education institutions in rural areas in Japan are able to apply and implement moral education methods from the central government in learning and compulsory schooling so that they become moral students and are able to be educated and experience school to high school and above.
Keywords : Ideology state apparatus, Japan, education, anime
Abstrak
Penelitian ini memaparkan fenomena instansi pendidikan formal daerah desa di Jepang yang diperlihatkan dalam anime seri Non Non Biyori karya Atto melalui pendekatan teori ideologi yang dicanangkan oleh Althusser. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan instansi pendidikan formal desa di Jepang dalam mendukung program wajib sekolah dua belas tahun serta melaksanakan pendidikan moral yang direncanakan oleh pemerintah pusat. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif untuk menjelaskan fenomena yang ada dengan pengumpulan data serta berangkat dari teori Ideology State Apparatus dari Althusser. Hasil dari penelitian ini adalah mengemukakan instansi pendidikan formal daerah desa di Jepang yang mampu menerapkan dan melaksanakan metode pendidikan moral dari pemerintah pusat dalam pembelajaran serta wajib sekolah 12 tahun sehingga menjadi pelajar bermoral serta mampu teredukasi dan mencicipi bangku sekolah sampai sekolah menengah keatas.
Kata kunci : Ideology state apparatus, Jepang, pendidikan, anim
PELANGGARAN PRIVASI DI AKUN INSTAGRAM LAMBE TURAH YANG DIAKIBATKAN OLEH VOYEURISM (PENDEKATAN PSIKOANALIS)
Humans who are born in this era as social beings have a way of connecting with others, through continuous communication. To meet these needs, humans begin the development of technology and innovation which is closely related to information technology, especially on social media. Social media such as Instagram appears in the community the same as others, namely there are positive and negative sides behind it. The positive element is how easy it is to share information and make information available to the public, and the negative element is how the information is made available through violations caused by mediated voyeurism. The theories used in this study are voyeurism, surveillance, and psychoanalysis. The method used in this study is indirect qualitative observation to determine the existence of objects, situations, contexts, and meanings in an effort to collect research data. Voyeurism is generally known as deviant sexual behavior now covers a wide area. In today\u27s digital world, the act of mediated voyeurism is getting wider, especially with a psychoanalysis approach. By performing mediated voyeurism behavior, users can get information about the daily privacy activities of other users, such as the Lambe Turah account on Instagram. Based on this incident, this study uses Instagram as an example of social media activity, because Instagram is one of the social media. Manusia yang terlahir di era ini sebagai makhluk sosial memiliki cara berkoneksi terhadap sesama, melalui komunikasi yang terjalin secara terus menerus. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia memulai pengembangan teknologi dan inovasi yang sangat erat hubungannya terhadap teknologi informasi terutama pada sosial media. Sosial media seperti Instagram muncul di masyarakat sama dengan yang lainnya yaitu terdapatnya sisi postif dan negatif dibelakangnya. Unsur positif seperti mudahnya berbagi informasi dan membuat informasi terhadap publik, dan unsur negatif adalah bagaimana informasi itu tersedia melalui pelanggaran yang diakibatkan oleh mediated voyeurism. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah voyeurism, surveillance, dan psikoanalisis. Metode yang digunakan di penelitian ini adalah observasi kualitatif secara tidak langsung untuk mengetahui keberadaan objek, situasi, konteks, dan makna dalam upaya mengumpulkan data penelitian. Voyeurism pada umumnya diketahui sebagai perilaku seksual menyimpang sekarang sudah mencakup area yang luas. Di dunia digital sekarang ini tindakan mediated voyeurism tersebut semakin terbuka lebar terutama dengan pendekatan psikoanalisis. Dengan melakukan perilaku mediated voyeurisme membuat pengguna bisa mendapatkan informasi tentang aktivitas privasi sehari-hari pengguna lain, seperti yang dilakukan oleh akun Lambe Turah di Instagram. Berdasarkan kejadian tersebut, penelitian ini menggunakan Instagram sebagai contoh aktivitas media sosial, karena Instagram merupakan salah satu media sosial
EXCLUSION PASSIVATION STRATEGY OF REPRESENTATION OF SOCIAL ACTOR ON AUNG SAN SUU KYI CRITICISM IN THE CASE OF ROHINGYA CRISIS ON ONLINE MEDIA HEADLINES: A CDA APPROACH
This research entitled “Exclusion Passivation Strategy of Representation of Social Actor on Aung San Suu Kyi Criticism in The Case of Rohingya Crisis on Online Media Headlines (A CDA Approach)†Exclusion itself is a strategy to disappear the social actors from the text. This strategy is a part of Critical Discourse Analysis tool from Theo Van Leeuwen (2008:29). According to Theo van Leeuwen there are two kinds of exclusion, suppression and backrounding. Suppression is the exclusion that leaves no traces in the representation, excluding both the social actors and their activities, whereas backgrounding is the exclusion that leaves traces in the representation. However, in this article, the type of exclusion used is suppression, especially passivation strategy; the strategy is used as a limitation in the research for this article. There are 3 data collected when two data are pros with Suu Kyi criticism and one data sounded neutral with Suu Kyi criticism
A Multimodal Discourse Analysis of American Restaurant Chains Instagram Post during Pandemic
During this pandemic situation, food companies are using their Instagram account not only to promote their products and services to stay in business but also to tell the consumer of their products to keep minimalize physical contact to help in this horrible situation. In this study, there were 3 (three) Instagram post from 3 (three) different companies which are in food business that were analyse through multimodal analysis. The purpose of this study was to found out what visual and verbal were being used in those companies Instagram post during this pandemic period and what message they brought through their Instagram post. This study was implemented descriptive qualitative method and interactive metafunction by Kress and van Leeuwen and interpersonal metafunction by Halliday. The writer concluded that in this study those companies not only trying to sell and advertise their products and services but also to suggest their consumer to minimalize physical contact during this pandemic situation
- …
