2 research outputs found
Pengembangan Bahan Ajar Membaca Reflektif Teks Cerita Fantasi untuk siswa SMP Kelas VII
ABSTRAK Ningtyas, Bunga Septya. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Membaca Reflektif Teks Cerita Fantasi untuk Siswa SMP Kelas VII. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd. Kata Kunci: bahan ajar, membaca reflektif, teks cerita fantasi Penelitian dan pengembangan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan bahan ajar untuk mengembangkan keterampilan membaca siswa-siswi SMP kelas VII. Berdasarkan observasi awal, ditemukan hambatan-hambatan bahwa guru masih mengalami kesulitan dalam memilihkan bacaan cerita fantasi yang sesuai dengan minat dan perkembangan usia siswa sehingga wawasan siswa mengenai teks cerita fantasi yang erat dengan cerminan praktik sosial dan nilai-nilai kehidupan menjadi terbatas. Selain itu, siswa mengalami kesulitan memahami kata/istilah yang digunakan dalam teks sehingga sulit menemukan pesan yang terkandung dalam teks. Oleh karena itu, pembelajaran membaca reflektifteks cerita fantasi perludilatihkankepadasiswa-siswi, khusunyajenjang SMP. Dengan melatihkan keterampilanmembaca reflektif kepada siswa, diharapkan mampu meningkatkan kepekaan sosial siswa dalam menanggapi praktik-praktik sosial yang ada di lingkungan masyarakat. Secara umum, tujuan penelitian dan pengembangan ini menghasilkan produk bahan ajar membaca reflektif teks cerita fantasi untuk siswa SMP kelas VII sebagai bahan ajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran klasikal maupun individual.Berdasarkantujuanumumtersebut, dijabarkantujuankhususpenelitiandan pengembangan ini, yaitumenghasilkan produk dengan mengembangkan deskripsi isi bahan ajar, sistematika penyajian bahan ajar, penggunaan bahasa bahan ajar, dan tampilan bahan ajar. Model pengembangan yang digunakanpada penelitianiniterdiri atas tujuh langkah yang diadaptasidaridesain model pengembanganBorg & Gall.Pertama, analisis kebutuhan. Kedua, perencanaan. Ketiga, pengembangan produk awal (draft produk). Keempat, uji validasi. Kelima, revisi produk awal. Keenam, uji lapangan. Ketujuh, penyempurnaan produk akhir.Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada penelitian dan pengembangan ini yakni pedoman wawancara dan angket.Subjekcobapenelitian yang memberikanpenilaianterhadaphasilpengembanganberupaprodukbahan ajar melibatkanahlipenyusunanbahan ajar, ahlimaterimembaca, praktisi, dan 10 siswakelas 7H SMP Negeri 9 Malang. Berdasarkanhasiluji coba produk dengan ahli dan praktisi, diperoleh data berikut. Aspek deskripsi isi bahan ajar mendapat persentase 84,5%, aspek sistematika penyajian bahan ajar mendapat persentase 83,3%, aspek kebahasaan bahan ajar mendapat persentase 89,6%, dan aspek tampilan bahan ajar mendapat persentase 84,3%. Rata-rata persentase kelayakan bahan ajar membaca reflektif teks cerita fantasi secara keseluruhan mencapai 85,4% yang berarti tergolong sangat layak dan dapat diimplementasikan. Adapun berdasarkan hasil uji coba produk untuk mengetahui respon siswa diperoleh data berikut. Aspek deskripsi isi bahan ajar mendapat persentase 86,6%, aspek sistematika penyajian bahan ajar mendapat persentase 85%, aspek kebahasaan bahan ajar mendapat persentase 91,2%, dan aspek tampilan bahan ajar mendapat persentase 95%. Rata-rata persentase kelayakan bahan ajar membaca reflektif teks cerita fantasi secara keseluruhan mencapai 89,5% yang berarti tergolong sangat layak dan dapat diimpelementasikan. Hasil pengembangan produk bahan ajar membaca reflektif ini disarankan untuk dapat dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan oleh semua pihak yang membutuhkan. Dengan demikian, peneliti memperoleh komentar dan saran perbaikan yang dapat dijadikan masukan untuk peneliti dalam mengembangkan bahan ajar yang lebih baik. Selanjutnya, bagi peneliti lain diharapkan dapat melakukan penelitian untuk menguji efektivitas produk, karena dalam penelitian ini, penelitihanya sebatas mengembangkan produk dan melihat kebermanfaatannya saja. Penelitian efektivitas produk berguna untuk mengukur seberapa efektif produk bahan ajar ini bagi pembelajaran
Efektivitas Jenis dan Dosis Pupuk Anorganik Fosfor terhadap Sifat Kimia Inceptisol serta Pertumbuhan dan Produksi Cabai Merah (Capsicum annum L.) di Jatimulyo.
Produksi cabai merah menunjukkan tren cenderung meningkat tiap tahunnya namun belum dapat memenuhi target produksi sehingga masih dilakukan impor. Salah satu upaya meningkatkan produksi cabai merah dilakukan dengan memenuhi kebutuhan hara fosfor sebagai hara utama pada fase generatif. Permasalahan fiksasi P oleh kation asam pada tanah yang memiliki pH masam berdampak efisiensi pemupukan fosfor menjadi rendah. Disisi lain terjadi pembatasan jenis pupuk subsidi dengan menghapus pupuk SP-36 sehingga harganya di pasaran mengalami fluktuasi. Hal ini mendorong produsen pupuk untuk membuat pupuk anorganik fosfor alternatif yang mengandung hara makro primer dan sekunder serta memiliki harga jual relatif lebih murah dibanding SP-36 yang lazim digunakan petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi pemupukan dari berbagai jenis pupuk fosfor dan untuk mengetahui efektivitas pupuk fosfor uji pada tanaman cabai merah di tanah Inceptisol.
Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Jatimulyo, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Penelitian menggunakan RAK dengan 3 kali ulangan dan 9 perlakuan. Perlakuan terdiri atas satu perlakuan kontrol tanpa input pupuk, satu perlakuan kontrol NPK sebagai standar pupuk majemuk, satu perlakuan kontrol NPK sebagai standar pupuk tunggal, satu perlakuan NPK majemuk standar yang dikombinasikan dengan 200 kg ha-1 pupuk fosfor uji, satu perlakuan pupuk Rock Phosphate dengan dosis 300 kg ha-1, satu perlakuan pupuk fosfor X dengan dosis 300 kg ha-1, dan 3 perlakuan pupuk fosfor uji yang berbeda dosis dengan rincian 300, 400, dan 500 kg ha-1. Analisis data menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan uji lanjut BNJ dengan taraf 5%, uji korelasi, dan uji regresi.
Hasil penelitian menunjukkan penambahan pupuk anorganik fosfor pada perlakuan CI menunjukkan nilai tertinggi dan berpengaruh nyata terhadap peningkatan Ca-dd, pH H2O, dan serapan P. Parameter CC mampu memberikan nilai tertinggi namun tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan P total dan P tersedia. Sedangkan untuk tinggi tanaman pada 49 HST, perlakuan CC menunjukkan nilai tertinggi dan signifikan dibandingkan perlakuan CA. Namun pada jumlah daun, jumlah cabang dan jumlah bunga pada 49 HST, nilai tertinggi terdapat pada perlakuan CI dan signifikan dibandingkan perlakuan CA. Pada parameter produksi juga menunjukkan perlakuan CI memiliki nilai tertinggi dan signifikan dibandingkan perlakuan CA. Terdapat hubungan kuat antara penambahan pupuk anorganik fosfor terhadap ketersediaan P dalam tanah (r = 0,73) dan Ca-dd (r = 0,84). Hal tersebut menunjukkan bahwa penambahan pupuk anorganik fosfor dapat meningkatkan kandungan P tersedia sebesar 53,05% dan Ca-dd sebesar 88,85%. Hasil RAE menunjukkan perlakuan CG, CH, dan CI efektif secara agronomis namun perlakuan CH, dan CI mampu memberikan hasil produksi lebih baik dibanding pupuk standar (CC) karena nilai RAE > 100%. Sedangkan hasil IBCR menunjukkan perlakuan CG, CH, dan CI mampu memberikan keuntungan lebih tinggi dibanding pupuk standar (CC)
