1,720,975 research outputs found

    DAMPAK SOSIAL EKONOMI COVID-19 DAN PROGRAM POTENSIAL UNTUK PENANGANANNYA: STUDI KASUS DI KABUPATEN LOMBOK BARAT

    Get PDF
    Penyakit Corona virus (Covid-19) yang berawal di Kota Wuhan-Cina, pada bulan  December 2019, telah menyebar ke ratusan negara di dunia, termasuk di Kabupaten Lombok Barat-Indonesia. Respon cepat penanggulangan penyebaran Covid-19 memberi dampak yang negatif terhadap perekonomian dan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Paper tulis ini memiliki dua tujuan, yaitu: (i) menganalisa secara cepat dampak ekonomi Covid 19; dan (ii) merumuskan rekomendasi program jangka pendek penanganan dampak ekonomi Covid-19 di Kabupaten Lombok Barat, untuk pelaksanaan Mei–December 2020. Metodologi yang digunakan adalah  kombinasikan tehnik penilaian cepat dan perencanaan partisipatif. Ditemukan bahwa Covid-19 menimbulkan gangguan pada operasi rantai nilai dan mengancam keberlangsungan operasi dunia usaha di berbagai sektor. Sektor ekonomi terdampak parah adalah pariwisata dan transportasi, diikuti oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, dan sektor-sektor lainnya. Sebagai konsekuensi, pertumbuhan ekonomi daerah akan menurun dramatis, dan tingkat kemiskinan penduduk akan meningkat tajam pada tahun 2020. Diantara program-program direkomendasikan untuk penanganan dampak sosial ekonomi Covid-19 adalah penanggulangan gangguan yang timbul pada rantai nilai dunia usaha, perlindungan usaha kecil dan mikro; penyediaan makanan minuman siap konsumsi bagi pendduk rentan tingkat desa, dan dukungan operasi untuk program provinsi dan nasional terkait

    4. Factors Associated to Rural Households’ Demand for Financial Services in Lombok, Indonesia

    No full text
    Abstract   This paper analyses factors associated with rural households’ demand for financial services in Lombok, using a survey data of 180 households randomly selected from 6 villages and 3 districts in Lombok, Indonesia. The data collection was carried out from January-June 2007. Factor associations were tested using Chi-square, Correlation and/or t-test, whichever is appropriate, depending on data measurement. It was found that the households’ demand for formal savings was significantly associated with the households’ socio-economic and banking characteristics reflecting their saving capacity (income, income sufficiency and number of earners) and preference (financial institution type, interest rate and total saving amount). The households’ demand for formal credits was also associated with their socio-economic characteristics and banking characteristics, reflecting their credit needs and preferences toward credit sources along the financial institutions’ preferences toward borrowers’ capacity to repay and risks. The faktors included: government employee possession, tertiary education possession, education, income, land assets, banking confidence, financial institution type, interest rate, credit maturity (terms), and borrower transaction costs.   Abstrak   Paper ini menganalisa faktor-faktor yang berasosiasi dengan permintaan ruamah tangga pedesaan terhadap layanan jasa keuangan di Lombok, menggunakan data hasil survai terhadap 180 rumah tangga yang dipilih secara acak dari 6 desa dan 3 kabupaten di Lombok yang dilakukan pada bulan Januari-Juni tahun 2007. Keberartian asosiasi antar faktor-faktor yang diteliti diuji menggunakan Chi-square, Korelasi atau t-test sesuai dengan jenis datanya. Ditemukan bahwa permintaan rumah tangga akan layanan tabungan berasosiasi dengan karakteristik sosial ekonomi dan perilaku menabung-meminjam rumah tangga pendapatan, dan jumlah pencari nafkah dalam keluarga) dan preferensi menabung mereka (jenis lembaga keuangan, tingkat bunga dan jumlah tabungan). Permintaan rumah tangga akan layanan jasa kredit juga berasosiasi dengan karakteristik sosial ekonomi dan perilaku menabung-meminjam rumah tangga yang menggambarkan kebutuhan kredit mereka dan preferensi mereka pada sumber-sumber layanan kredit bersama dengan preferensi lembaga keuangan terhadap kapasitas pengembalian kredit dan resiko kredit rumah tangga. Faktor-faktor tersebut adalah: kepemilikan anggota rumah tangga pegawai negeri, kepemilikan anggota rumah tangga berpendidikan perguruan tinggi, tingkat pendidikan kepala rumah tangga, pendapatan, aset tanah, rasa percaya diri kepala rumah tangga berurusan dengan bank, jenis lembaga keuangan, tingkat bunga, jangka waktu kredit dan biaya transaksi bagi peminjam

    4. Factors Associated to Rural Households’Access to Financial Services in Rural Lombok, Indonesia

    No full text
    Abstrak Dalam upaya untuk memahami tingkah laku menabung dan meminjam rumah tangga pedesaan di Lombok, Paper ini menganalisa faktor-faktor yang berasosiasi dengan akses rumah tangga pada jasa keuangan mikro dengan menggunakan data survai 180 rumah tangga yang diambil secara acak dari 6 desa dan 3 kabupaten di Lombok, Indonesia. Keberartian dari asosiasi antar faktor-faktor dalam penelitian ini diuji dengan uji Chi-square, Korelasi atau T-test tergantung pada jenis datanya. Ditemukan bahwa akses rumah tangga pada jasa tabungan berasosiasi secara berarti dengan karakteristik sosial ekonomi dan menabung-meminjam  rumah tangga itu sendiri. Karakteristik sosial ekonomi rumah tangga dimaksud adalah jenis pekerjaan, adanya pegawai negeri dalam keluarga, pendapatan, kecukupan pendapatan, agama, pendidikan, dan kepemilikan ketrampilan khusus. Sementara, karakteritik menabung-meminjam rumah tangga dimaksud meliputi: rasa percaya diri berurusan dengan lembaga keuangan, kepemilikan kredit formal, tabungan informal dan kredit infomal. Faktor-faktor tersebut menggambarkan kapasitas dan preferensi menabung rumah tangga pada lembaga keuangan formal. Akses rumah tangga pada layanan jasa kredit formal juga berasosiasi secara berarti karakteristik sosial ekonomi dan karakteritik menabung-meminjam rumah tangga itu sendiri. Karakteristik sosial ekonomi dimaksud adalah jenis pekerjaan kepala rumah tangga, keberadaan pegawai negeri dalam keluarga, dan pendidikan kepala rumah tangga. Karakteristik menabung-meminjam rumah tangga dimaksud meliputi: rasa percaya diri berurusan dengan lembaga keuangan, kepemilikan tabungan formal, kepemilikan kredit informal, dan jumlah kredit. Faktor-faktor ini pada intinya adalah menggambarkan kebutuhan kredit dari rumah tangga dan preferensi lembaga keuangan pada rumah tangga peminjam.   Abstract In an attempt to understand  saving and credit behaviours of rural households in Lombok, this paper analyzed factors associated with the households’ access to financial services, using a survey data of 180 households randomly selected from 6 villages and 3 districts in Lombok, Indonesia. The data collection was carried out from January-June 2007. Factor associations were tested using Chi-square, Correlation and/or t-test, whichever is appropriate, depending on data measurement. It was found that the households’ access to formal savings is associated with their socio-economic and banking characteristics. The former includes occupation, government employee, income, income sufficiency, religion, education, specific skill, and banking confidence while the latter includes formal credit possession, informal saving possession, and informal credit possession. These factors essencially reflect their saving capacity and preference toward formal savings. The households’ access to formal credits is associated with the socio-economic characteristics and banking characteristics of the households. The former include occupation, government employee possession, and education while the latter include banking confidence, formal saving possession, informal credit possession and total credit amounts. These factors reflect the households’ credit need and preference along with the financial institutions’ preference toward borrowers

    4. ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN DAN PEMASARAN IKAN LAUT DI KECAMATAN HU’U KABUPATEN DOMPU

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis pendapatan nelayan di Kecamataan Hu’u; (2) Menganalisis saluran pemasaran ikan laut di Kecamatan Hu’u; (3) Menganalisis perilaku pasar ikan laut di Kecamatan Hu’u. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan penentuan daerah penelitian secara purposive samplingyaitu Desa Jala, Desa Hu’u dan Desa Cempi Jaya. Jumlah responden nelayan ditentukan secara quota sampling, yaitu sebanyak 30 orang. Penentuan responden pedagang dilakukan secara snowball sampling, sedangkan dalam pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis pendapatan, analisis saluran pemasaran dan analisis perilaku pasar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Total  pendapatan nelayan dari usaha penangkapan ikan per tahun sebesar Rp. 17.595.118,17, total pendapatan pada musim barat sebesar Rp. 6.001.626,92 dan pada musim timur sebesar Rp. 11.594.491,25. Sedangkan Total biaya sebesar Rp. 25.863.668,41 per tahun, dimana total biaya pada musim barat sebesar Rp. 8.781.913,37dan pada musim timur sebesar Rp. 17.486.215,04. (2) Saluran pemasaran ikan laut melalui tiga saluran, yaitu: a. Dari nelayan ke Pedagang Pengumpul Desa, ke Pedagang Pengumpul Kecamatan, ke Pedagang Antar Pulau. b. Dari nelayan ke Pedagang Pengumpul desa, ke Pedagang Pengecer, ke Komsumen Akhir. c. Dari nelayan ke Konsumen Akhir. (3). Perilaku pasar ikan laut di kecamatan hu’u kabupaten dompu, yaitu: a. Harga ditentukan oleh lembaga pemasaran yang dibayar secara tunai. b. kerjasama antar lembaga pemasaran dalam peminjaman modal. (4) fungsi pemasaran yang tidak dilakukan oleh nelayan adalah fungsi pembelian, penyimpanan, pengolahan, pengangkutan, standarisasi dan grading, dan informasi pasar, sedangkan fungsi pemasaran yang tidak dilakukan oleh lembaga pemasaran adalah pada PPD adalah fungsi penyimpanan dan pengolahan, pada PPKC pada fungsi pengolahan dan pengecer pada penyimpanan dan pengolahan. ABSTRACT  This study aims to: (1) Analysis of fisherman income in Hu’u Distric; (2) Analysis channel marketing of marine in Hu’u Distric; (3) Analysis market behavior of marine in Hu’u Distric . This research uses descriptive method with the determination of the research are by Purposive Sampling, namely the village of Jala, village of Hu’u and village of Cempi Jaya. The number of fishermen respondents was determination by Quota Sampling, which was 30 people. Determination of trader’s respondents is done by Snowball Sampling, while data collection is done by surveying techniques. The analysis used is Descriptive Analysis, income analysis, marketing channel analysis and market behavior analysis. The results showed that: (1) the total income of fishermen from fishing business per year was Rp. 17,595,118.17, the total income in the west season is Rp. 6,001,626.92 and in the east season Rp. 11,594,491.25. While the total cost is Rp. 25,863,668.41 per year, where the total cost in the west season is Rp. 8,781,913.37 and in the east season Rp. 17,486,215.04. (2) Marine marketing channels through three channels, namely: a. From fishermen to Village Collectors, to Sub-district Collectors, to Inter-island Traders. b. From fishermen to village collectors, to retailers, to Komsumen Akhir. c. From fishermen to Final Consumers. (3). The behavior of the marine market in the huu district of dompu district, namely: a. Prices are determined by marketing agencies that are paid in cash. b. cooperation between marketing institutions in capital borrowing. (4) The marketing function that is not carried out by fishermen is the function of purchasing, storing, processing, transporting, standardizing and grading, and market information, while the marketing function that is not carried out by the marketing institution is PPD is a function of storage and processing, in PPKC on the function processing and retailers on storage and processing

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Strategi Pemasaran Tanaman Hias UD Anugerah Garden Kota Mataram

    No full text
    Tanaman hias merupakan subsektor agribisnis strategis dengan potensi ekonomi tinggi. Namun, UD Anugerah Garden di Kota Mataram masih menghadapi berbagai tantangan dalam memasarkan produknya, seperti tingginya persaingan, promosi yang belum optimal, penentuan harga yang tidak konsisten, serta keterbatasan distribusi. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pemasaran UD Anugerah Garden menggunakan pendekatan bauran pemasaran 4P: Produk, Harga, Tempat, dan Promosi. Dengan metode kualitatif deskriptif dan teknik purposive sampling, lima informan aktif dipilih sebagai responden. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi langsung, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi produk UD Anugerah Garden mencakup budidaya tanaman hias sendiri dan diversifikasi melalui jasa proyek lanskap serta perawatan tanaman. Strategi harga dilakukan fleksibel berdasarkan biaya dan permintaan pasar. Saluran distribusi mengandalkan kios fisik dan pengiriman langsung ke konsumen, didukung lokasi yang strategis. Promosi memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan WhatsApp, namun branding visual dan toko daring masih minim. Optimalisasi promosi digital dengan pelatihan manajemen konten dan pemasaran online. Kolaborasi dengan content creator lokal atau tenaga muda yang menguasai media digital juga disarankan untuk memperkuat branding dan jangkauan pasar. Upaya ini diharapkan meningkatkan daya saing dan memperluas pasar UD Anugerah Garden di tengah dinamika digital marketing yang kian kompetitif. Marketing Strategy of Ornamental Plants of UD Anugerah Garden Mataram City Abstract Ornamental plants represent a strategic agribusiness subsector with high economic potential. However, UD Anugerah Garden, located in Mataram City, still faces several challenges in marketing its products, including intense competition, suboptimal promotional efforts, inconsistent pricing strategies, and limited distribution channels. This study aims to analyze the marketing strategies of UD Anugerah Garden using the 4P marketing mix approach: Product, Price, Place, and Promotion. Employing a descriptive qualitative method and purposive sampling technique, five active informants were selected as respondents. Data were collected through semi-structured interviews, direct observation, and documentation. The results show that the product strategy of UD Anugerah Garden includes self-cultivation of ornamental plants and diversification through landscaping projects and plant care services. The pricing strategy is flexible, based on cost and market demand. Product distribution relies on physical kiosks and direct delivery to consumers, supported by a strategic business location. Promotional efforts utilize social media platforms such as Instagram and WhatsApp; however, visual branding and professional online stores remain underdeveloped. To improve promotional effectiveness, it is recommended that the company optimize its digital marketing through content management training and online marketing strategies. Collaborating with local content creators or involving tech-savvy young individuals is also advised to enhance branding and market reach. These efforts are expected to increase competitiveness and expand the market presence of UD Anugerah Garden amidst the increasingly dynamic digital marketing landscape

    3. ANALISIS RANTAI PEMASRAN BAWANG MERAH DI KABUPATEN BIMA

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk : (1) memetakan rantai pemasaran bawang merah di Kabupaten Bima; (2) menganalisis fungsi pelaku pemasaran bawang merah di Kabupaten Bima; dan (3) menganalisis margin pemasaran bawang merah pada tingkat pelaku dan tingkar rantai di Kabupaten Bima.Metodologi penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Ditemukan bahwa pemasaran bawang merah di Bima melibatkan tiga rantai, yaitu:(i)Petani (P)-Pedagang pengumpul desa (PPD)–Pedagang pengecer (PP) Bima–Konsumen (K) di Bima; (ii) P–PPD–Pedagang antar pulau/besar (PAP/B)–PPdi Mataram - K; dan (iii) P – PPD – PAP/B – PPdi Provinsi lain – K di Provinsi Lain. Proporsi aliran produksi bawang merah adalah 42% melalui Rantai I, 25% melalui Rantai II, dan 34% melalui Rantai III.Harga yang diterima petani bawang merah tidak berbeda menurut rantai pemasaran, yakni: Rp. 1.800.000 per kwintal.Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan olehpetani adalah penjualan, penyimpanan, pengangkutan, sortasi, dan penanggungan risiko. Semua fungsi ini juga dilakukan oleh PPD, dan PAP/B, ditambah dengan fungsi-fungsi berikut: pembelian, pembiayaan, penanggungan risiko, dan informasi pasar.Semua fungsi pemasaran yang dilakukan oleh PPD dan PAP/B adalah juga dilakukan oleh PP, kecuali: fungsi pembiayaan. Marjin pemasaran pada Rantai I adalah 12,84 persen dari harga konsumen, lebih rendah dibandingkan dengan margin pemasaran pada Rantai II yang sebesar 11,51% dari harga konsumen. Margin rantai pemasaran III tidak dianalisis karena data tidak lengkap. Perbedaan margin pemasaran antar rantai pemasaran tersebut adalah terutama disebabkan oleh faktor selisih  harga konsumen dan harga petani, bukannya oleh faktor biaya pemasaran. Proporsi margin pemasaran terhadap harga jual masing-masing jenis pedagang bervariasi antar rantai pemasaran: PPD menerima antara 5,71% dan 6,25%; PAP/B antara 0,52% dan 5,21%; dan Pengecer antara 2,26% dan 7,02%. Penerapan manajemen rantai pemasaran berpotensi untuk menurunkan beban biaya pemasaran yang ditanggung para pelaku dan untuk meningkatkan pendapatan petani bawang di kabupaten Bima. Ini dapat diupayakan melalui: (i) koordinasi vertikal untuk meminimalisasi repetisi fungsi pemasaran lintas pelaku; dan (ii) koordinasi horizontal (kelompok) petani untuk meraih manfaat dari skala ekonomi bersama. ABSTRACT The study’s objectives are (1) to map the marketing chains of onion in Bima district; (2) to analyze the functions of the marketing players; and (3) to analyze the marketing margins at actor and chain levels. For the objectives, the study used the descriptive methodology. It was found that the marketing of onion in Bima involved three different chains of onion, namely:(i)Farmer(P)-Villlage CollectorTrader (PPD)–Retail Trader(PP) in Bima–Consumer (K) Bima; (ii) P–PPD–InterIsland/Big Trader (PAP/B)–PPin Mataram - K; and (iii) P – PPD – PAP/B – PPin onthet province – K in other province. The flows of onion products by chains were 42% chain I, 25% chain 2 and 34% chain 3. The price received by farmers IDR 1,800,000 was not different across the markating chains. Marketing functions carried out by farmers included: saling, storing, transporting, sorting/grading, and risk bearing.All these functions were alo carried out by PPD, and PAP/B, together with: buying, financing, and market information. PP carried out the same functions as those of PPD dan PAP/B, exept for the financing function. Measured as percentage of the selling price, the marketing margin was 12.84 % of the consumers’ pricein the first chain, higher than the margin in the second chain which was 11,51%. The marketing margin for the third chain was not calculated because of incomplete data. The marketing margin difference was mainly because of consumer-farmer price margin factor rather than marketing cost factor. The marketing margins by actors were varied: PPD received between 5.71-6.25%; PAP/B received between 0.52%-5.21%; and PP received between 2.26%-7.02%. Applicantion of effective marketing chain manajemen was considered potensial to reduce the burden of marketing cost bared by the chain actors, and to increase farmer incomes in Bima. This should include (i) vertical coordination to minimize number of functions repetitively done by two or more chain actors; and (ii) horizontal coordination of the farmers to achieve the benefits of farmer group’s economics of scale

    Manajemen Persediaan Bahan Baku pada Home Industry Tahu

    No full text
    Bahan baku menjadi suatu hal yang sangat penting dalam proses produksi dikarenakan, jika terjadi kekurangan bahan baku akan mengakibatkan terhentinya produksi ataupun kelebihan bahan baku akan mengakibatkan bertambahnya biaya penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian persediaan bahan baku kedelai pada home industry tahu milik Bapak Ikhram dengan menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ) dan Period Order Quantity (POQ). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian adalah home industry tahu Bapak Ikhram, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara langsung. Data dianalisis menggunakan rumus - rumus EOQ, POQ, Safety Stock, Reorder Point (ROP), dan Total Inventory Cost (TIC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode EOQ menghasilkan jumlah pemesanan optimal sebanyak 1.317 kg dengan frekuensi pemesanan lima kali per tahun dan total biaya persediaan Rp109.324/tahun. Sedangkan metode POQ memberikan hasil kuantitas pemesanan sebesar 600 kg dengan frekuensi pemesanan dua belas kali per tahun dan total biaya Rp144.900/tahun. Dari perbandingan kedua metode, EOQ dinilai lebih efisien karena menghasilkan biaya persediaan yang lebih rendah. Dengan demikian, penggunaan metode EOQ dapat lebih menekan biaya dan menjaga ketersediaan bahan baku secara optimal. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menyajikan pendekatan komparatif terhadap metode EOQ dan POQ dalam pengelolaan persediaan bahan baku pada usaha mikro tahu lokal. Raw Material Inventory Management in Tofu Home Industry Abstract Raw materials are very important in the production process because, in the event of a shortage of raw materials, it will result in the cessation of production or excess raw materials will result in increased storage costs. This study aims to analyze the inventory control of soybean raw materials in Mr. Ikhram's tofu home industry using the Economic Order Quantity (EOQ) and Period Order Quantity (POQ) methods. This research uses a quantitative approach. The research subject is Mr. Ikhram's tofu home industry, with data collection techniques through direct interviews. The data were analyzed using the formulas of EOQ, POQ, Safety Stock, Reorder Point (ROP), and Total Inventory Cost (TIC). The results showed that the EOQ method resulted in an optimal order quantity of 1,317 kg with an order frequency of five times per year and a total inventory cost of Rp109,324/year. Meanwhile, the POQ method results in an order quantity of 600 kg with an order frequency of twelve times per year and a total cost of Rp144,900/year. From the comparison of the two methods, EOQ is considered more efficient because it results in lower inventory costs. Thus, the use of the EOQ method can further reduce costs and maintain optimal availability of raw materials. It is recommended that Mr. Ikhram's tofu home industry use the EOQ method by setting safety stock and reorder points to maintain a smooth production process and cost efficiency

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore