1,721,038 research outputs found
Kajian Pengaruh Perubahan Iklim dan Tata Guna Lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Air Saguling
Saguling Hydropower has an important role in addressing electricity demand in Jawa-Bali region. To generate electricity, the hydropower utilizes storage water in Saguling Reservoir. However, due to rapid rate of deforestation, the hydrological cycle becomes uncertain as well as the water supply for electricity generation. The global climate change also affects local rainfall in the watershed. This research aimed to analyze the integrated impacts of landuse change and climate change in Upper Citarum Watershed on electricity generation of Saguling Hydropower. The SWAT model was applied to simulate hydrological cycle in the watershed while RegCM3 data simulated by CCROM-SEAP was used as climate data input. Statistical equation of inflowelectricity production based on different season (rainy and dry season) was also used to generate electricity data from inflow. It was predicted that between 2000 and 2025 deforestation will reduce about 38% forest cover in Upper Citarum watershed. This would lead to increasing runoff fraction and decreasing stream baseflow over subbasin scale. On the other side, climate change triggers rainfall alteration temporally and spatially that posses discharge input for hydropower. Collectively, climate and landuse change strengthen the risk of low inflow to Saguling reservoir, leading to lower electricity production
Analisis Biaya Opsi Mitigasi Berbasis Lahan di Indonesia.
Sektor LULUCF di Indonesia menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar, dengan kontribusi sebesar 51% dari emisi nasional. Potensi kegiatan pengurangan emisi atau mitigasi sektor kehutanan di Indonesia diperkirakan masih cukup tinggi. Beberapa opsi mitigasi sektor kehutanan yang cukup potensial diantaranya kegiatan pengurangan laju deforestasi melalui kegiatan perlindungan hutan, peningkatan penggunaan lahan yang memiliki cadangan karbon rendah (semak belukar, padang rumput, dan lahan kosong) untuk penanaman tanaman kayu (reforestasi dan rehabilitasi), pengayaan hutan sekunder, penerapan sistem penebangan dengan dampak minimum (Reduced Impact Logging – RIL), dan perbaikan sistem pengelolaan lahan gambut serta restorasi lahan gambut. Banyak riset sudah dilakukan untuk mengukur potensi dan biaya mitigasi, namun demikian kajian masih terbatas pada lahan mineral dan perhitungan biaya mitigasi umumnya belum memasukan biaya transaksi. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung potensi dan besar biaya mitigasi termasuk biaya transaksi pada lahan mineral dan lahan gambut di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan model Comprehensive Mitigation Assessment Process (COMAP). Hasil analisis menunjukan bahwa potensi mitigasi sektor kehutanan berkisar 3.20 – 194.00 tC/ha tergantung jenis mitigasi. Potensi mitigasi tertinggi diperoleh dari kegiatan perlindungan hutan dari deforestasi dan terendah dari kegiatan rehabilitasi oleh masyarakat jenis tanaman tumbuh cepat (FGS) di lahan gambut. Biaya investasi untuk pelaksanaan kegiatan mitigasi berkisar 16.27 – 1081.24 US/ha. Biaya investasi dan siklus hidup terendah ialah dari kegiatan RIL dan tertinggi dari kegiatan reforestasi oleh private sector di lahan gambut tanaman rotasi pendek. Secara umum, biaya mitigasi pada lahan gambut lebih tinggi dibanding lahan mineral. Apabila dimasukkan biaya transaksi, biaya mitigasi untuk satu siklus akan mengingkat sebesar 24 – 53 %
Evaluasi Teknologi Budidaya Padi Adaptif Terhadap Perubahan Iklim
Perubahan iklim memberikan dampak secara langsung pada sektor
pertanian. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi dampak perubahan iklim
terhadap pertanaman padi dan mendapatkan kombinasi teknologi budidaya padi
yang adaptif terhadap perubahan iklim. Analisis dilakukan dengan menggunakan
model DSSAT (Decision Support System fot Agrotechnology Transfer). Teknologi
budidaya yang dievaluasi terdiri dari 10 opsi yang disusun berdasarkan hasil survey
teknologi budidaya yang digunakan petani dan yang direkomendasikan oleh
lembaga penelitian. Evaluasi dampak perubahan iklim dilakukan dengan
mengunakan data proyeksi iklim tiga tahun dari skenario RCP 4.5 dan RCP 8.5
yang masing-masing merepresentasikan kondisi iklim normal, ekstrem kering, dan
ekstrem basah. Hasil analisis menunjukkan bahwa Perubahan Iklim berpengaruh
nyata terhadap hasil tanaman padi dan waktu tanam optimal. Secara umum, pada
wilayah penelitian perubahan iklim diperkirakan akan memberikan dampak positif
baik pada padi sawah tadah hujan maupun beririgasi untuk hampir semua opsi
teknologi apabila waktu tanamnya tepat
Analisis Biaya Opsi Mitigasi Berbasis Lahan di Indonesia
Sektor LULUCF di Indonesia menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar, dengan kontribusi sebesar 51% dari emisi nasional. Potensi kegiatan pengurangan emisi atau mitigasi sektor kehutanan di Indonesia diperkirakan masih cukup tinggi. Beberapa opsi mitigasi sektor kehutanan yang cukup potensial diantaranya kegiatan pengurangan laju deforestasi melalui kegiatan perlindungan hutan, peningkatan penggunaan lahan yang memiliki cadangan karbon rendah (semak belukar, padang rumput, dan lahan kosong) untuk penanaman tanaman kayu (reforestasi dan rehabilitasi), pengayaan hutan sekunder, penerapan sistem penebangan dengan dampak minimum (Reduced Impact Logging – RIL), dan perbaikan sistem pengelolaan lahan gambut serta restorasi lahan gambut. Banyak riset sudah dilakukan untuk mengukur potensi dan biaya mitigasi, namun demikian kajian masih terbatas pada lahan mineral dan perhitungan biaya mitigasi umumnya belum memasukan biaya transaksi. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung potensi dan besar biaya mitigasi termasuk biaya transaksi pada lahan mineral dan lahan gambut di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan model Comprehensive Mitigation Assessment Process (COMAP). Hasil analisis menunjukan bahwa potensi mitigasi sektor kehutanan berkisar 3.20 – 194.00 tC/ha tergantung jenis mitigasi. Potensi mitigasi tertinggi diperoleh dari kegiatan perlindungan hutan dari deforestasi dan terendah dari kegiatan rehabilitasi oleh masyarakat jenis tanaman tumbuh cepat (FGS) di lahan gambut. Biaya investasi untuk pelaksanaan kegiatan mitigasi berkisar 16.27 – 1081.24 US/ha. Biaya investasi dan siklus hidup terendah ialah dari kegiatan RIL dan tertinggi dari kegiatan reforestasi oleh private sector di lahan gambut tanaman rotasi pendek. Secara umum, biaya mitigasi pada lahan gambut lebih tinggi dibanding lahan mineral. Apabila dimasukkan biaya transaksi, biaya mitigasi untuk satu siklus akan mengingkat sebesar 24 – 53 %
Penentuan Indeks Kenyamanan Ruang Terbuka Hijau Dan Lahan Terbangun Di Kota Bogor
Keberadaan ruang terbuka hijau pada suatu kota sangat diperlukan untuk
menciptakan kondisi kota yang nyaman bagi penghuninya. Keberadaan ruang
terbuka hijau seperti taman kota dapat memberikan rasa nyaman bagi
penghuninya baik secara spasial, visual, audial, maupun termal. Kenyamanan
termal dapat ditetapkan dengan menggunakan indeks yang disusun berdasarkan
parameter iklim. Namun demikian, indeks kenyamanan termal belum tentu dapat
mewakili rasa kenyamanan spasial, visual maupun audial karena hal tersebut juga
sangat terkait pada kondisi psikologis dan metabolisme seseorang. Penelitian ini
bertujuan untuk menetapkan indeks kenyamanan termal yang dapat
merepresentasikan rasa kenyamanan lainnya melalui interview rasa kenyamanan
seseorang pada tiga kondisi waktu (pagi, siang, dan sore) dan dua kondisi spasial
yaitu ruang terbuka hijau dan lahan terbangun. Nilai indeks kenyamanan termal
dihitung berdasarkan data suhu dan kelembaban udara dan batas kenyamanan
menurut nilai indeks ditetapkan berdasarkan hasil interview rasa kenyamanan
responden pada beberapa lokasi (ruang) dan waktu. Tiga bentuk indeks
kenyamanan termal yang digunakan ialah Temperature Humidity Index (THI),
Relative Strain Index (RSI), dan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa nilai selang indeks kenyamanan untuk ruang
terbuka hijau dan lahan terbangun di Kota Bogor ialah nyaman (THI≤27;
RSI≤0.17; dan WBGT≤30.8), nyaman-cukup nyaman (27<THI<28.5;
0.17<RSI<0.22; dan 30.8<WBGT<33.4), dan tidak nyaman (THI≥28.5;
RSI≥0.22; dan WBGT≥33.4). Batas indeks kenyamanan ini dapat dijadikan acuan
dalam merancang RTH Kota Bogor ke depan
Kajian Potensi Dampak Perubahan Iklim pada Rantai Nilai Kopi dan Strategi Adaptasinya
Perubahan iklim berpotensi untuk memberikan dampak pada berbagai
macam sektor, salah satunya adalah sektor perkebunan. Kopi merupakan salah
satu komoditas unggulan perkebunan yang berisiko terpengaruh oleh dampak
perubahan iklim. Dampak perubahan iklim tidak hanya pada aktivitas produksi
saja, tetapi juga pada rangkaian aktivitas lainnya sehingga perlu dilakukan analisis
potensi dampak perubahan iklim pada rantai nilai kopi. Metode yang digunakan
untuk menganalisis adalah metode kualitatif dengan cara melakukan wawancara
kepada para aktor di rantai nilai untuk mendapatkan informasi mengenai dampak
perubahan iklim, setelah itu menentukan tingkat kerentanan di masing-masing
aktivitas, dan mengidentifikasi upaya adaptasi yang sudah dilakukan dalam
menghadapi perubahan iklim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman
iklim telah memberikan berbagai dampak pada tanaman kopi di Kabupaten
Bandung dan diperkirakan perubahan iklim juga berpotensi memberikan dampak
yang cukup besar terhadap tanaman kopi hampir pada seluruh rantai nilai
khususnya sistem produksi. Hal ini sesuai dengan studi literatur yang juga
menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim berpengaruh terhadap fase
pertumbuhan tanaman kopi dan pasca panen. Upaya adaptasi yang sudah
dilakukan oleh petani di Kabupaten Bandung adalah teknik penanaman
agroforestri dan pemilihan varietas bersertifikat, namun teknik penanaman
agroforestri masih terkendala biaya dan ketersediaan lahan, sehingga perlu peran
serta Perhutani atau stakeholder lain
Pengaruh Keragaman Iklim dan Perubahan Tata Guna Lahan terhadap Aktivitas Pengangkutan Tambang Batubara di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito Hulu.
Aktivitas pengangkutan tambang batubara merupakan salah satu rantai produksi dalam industri pertambangan batubara. Banyak aktivitas pengangkutan tambang batubara di Indonesia menggunakan jalur sungai. Salah satu jalur sungai yang digunakan oleh perusahan tambang batubara yaitu DAS Barito Hulu. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh keragaman iklim terhadap fluktuasi debit DAS Barito Hulu, serta dampaknya terhadap aktivitas pengangkutan batubara. Penelitian dilakukan dengan model Soil and Water Assessment Tool (SWAT). Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh kuat antara keragaman curah hujan dan fluktuasi debit sungai harian DAS Barito Hulu. Fluktuasi debit sungai akan mempengaruhi aktivitas kapal tongkang untuk berlayar. Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah hari kapal berlayar saat tahun El Nino turun sekitar 63% (penggunaan lahan tahun 2003) dan 76% (penggunaan lahan tahun 2013), sementara saat tahun La Nina turun sekitar 17% (penggunaan lahan tahun 2003) dan 40% (penggunaan lahan tahun 2013). Kehilangan tutupan hutan primer meningkatkan risiko tinggi muka air rendah yang mengurangi jumlah hari kapal berlayar di sungai
Pengaruh Curah Hujan terhadap Gangguan Jaringan PT. Telkom Bogor
Communication using telecommunication may be exposed to disturbance such as connection interruption, disconnection, etc. Climate is considered as one factor affecting these conditions. Too much rainfall may lead to floods that inundate telephone network and finally damage the network. However, the climatic factor has not been taken much into consideration by the telecommunication companies in designing network system. This study aims to assess the relationship between rainfall and level of disturbance of the telecommunication services. This study assessed three types of services, namely PSTN (home telephone), TDSL (internet services), and ISDN (digital services). There were 31 types of disturbances being assessed in the three services. The data of disturbance was collected on daily basis from 2007 to 2008. This study used principal component analysis (PCA) to reduce the number of disturbances into a number of principal components explaining most of the disturbances types. This study found that type of disturbance which frequently occurred was ‘no connecting tone’ (81.4%). Type of telecommunication services being disturbed mostly is PSTN. Types of disturbance can be seen from the factors causing the disturbance and location where disturbance factors occurred. Based on the disturbance factors, corrosion was the most common factor causing the disturbance (38.9%) and based on the location, dropwire was the most common one (35.7%). The analysis suggested that rainfall variability has significant relationship only with certain types of disturbances. At Cibinong, rainfall significantly affected the telecommunication services through its effects on 'network maintenance', 'dashed voice' and 'arrears'. At Dayeuh, rainfall significantly affected the services through its effect on 'SLI disconnection'. At Citeko, rainfall significantly affected the telecommunication services through its effects on 'MMA interruption', 'internet access error', 'browsing error', 'can't be called', 'bell error', 'no connecting tone', 'dashed voice' and 'mussy wiring'. At Jasinga, rainfall significantly didn't affect to any types of network interruption. At Bogor, rainfall significantly affected the telecommunication services through its effects on 'MMA interruption', 'internet access error', 'PCM interruption', 'browsing error', 'can't be called', 'bell error', 'no connecting tone', 'there were connecting tone but no answer', 'dashed voice', and 'mussy wiring'. Based on this study, it is recommended that the PT. Telkom Bogor may need to consider rainfall in designing the wire system particularly outdoor wire. Types of wire for outdoor should be high quality and anti-corrosion. To improve this study, it is recommended to include relative humidity and extreme climate as other climatic factors causing the disturbance
Pengaruh Iklim terhadap Perilaku dan Pola Pendapatan Nelayan Pangandaran.
Nelayan adalah pelaku ekonomi primer dalam sektor perikanan dan
penggerak aktif perekonomian pesisir. Di sisi lain, nelayan merupakan pelaku
usaha yang paling rentan terhadap ketidakpastian kondisi cuaca dan iklim. Selain
aktivitas melaut, ketersediaan sumber daya ikan juga sangat dipengaruhi oleh
kondisi cuaca dan iklim. Tujuan penelitian ini adalah menyusun indeks iklim yang
dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan waktu ideal untuk melaut
dan menganalisis pengaruh iklim terhadap pola pendapatan nelayan Pangandaran.
Indeks Iklim Melaut (IIM) dibangun berdasarkan kepada keeratan hubungan
antara kondisi iklim/cuaca dengan banyak hari melaut dan volume produksi ikan.
Jadi IIM menggambarkan kondisi iklim/cuaca yang aman untuk melaut dan
menggambarkan kelimpahan stok ikan di perairan pada waktu tertentu. Kondisi
iklim/cuaca yang digunakan ialah kecepatan angin, suhu permukaan laut (SPL),
dan curah hujan. Analisis yang dilakukan dalam menentukan IIM melalui
beberapa tahapan. Pertama ialah penentuan besar (bobot) pengaruh unsur iklim
terhadap banyak hari melaut dan volume tangkapan ikan dengan menggunakan
analisis regresi. Kedua, penghitungan nilai preferensi yang menggambarkan
tingkat kelayakan iklim/cuaca pada suatu waktu untuk melaut dan kelimpahan
ikan. Ketiga, mengelompokkan nilai preferensi ke dalam lima kategori (1 sampai
5) berdasarkan nilai presentil selang 20%. Keempat, menentukan IIM berdasarkan
kondisi iklim menurut kategori preferensi. Hasil analisis menunjukkan bahwa
kondisi iklim pada kondisi preferensi sangat baik untuk melaut ialah saat
kecepatan angin rata-rata berkisar antara 4.4 dan 5.5 m/s, kondisi suhu permukaan
laut kurang dari 26.3oC dan curah hujan kurang dari 3 mm per hari (tidak ada
hujan). Sedangkan kondisi iklim yang sangat buruk untuk melaut ialah saat
kecepatan angin rata-rata kurang dari 2.3 m/s atau lebih besar dari 5.5 m/s, kondisi
suhu permukaan laut relatif panas (>28.1oC) dan curah hujan relatif tinggi (>10
mm per hari). Kondisi iklim yang sangat baik diberi skor 5 dan yang paling buruk
dengan skor 1. Nilai IIM ditetapkan berdasarkan jumlah nilai skor dari semua
kondisi iklim. Apabila kondisi iklim pada hari tertentu semuanya masuk kategori
sangat baik, maka total skor akan sama dengan 15, dan apabila semuanya sangat
buruk, total skor akan sama dengan 3. Nilai IIM ditetapkan berdasarkan total nilai
skor. Kondisi yang paling ideal untuk melaut ialah apabila nilai total skor antara
14 dan 15, sedangkan kondisi yang paling tidak ideal ialah antara 3 dan 5. Hasil
validasi menunjukkan bahwa pola perubahan nilai IIM mengikuti pola perubahan
volume tangkapan. Semakin tinggi nilai IIM semakin tinggi volume tangkapan
ikan. Dengan demikian, pola pendapatan nelayan juga mengikuti pola IIM
PenilaianTeknologi Budidaya Padi Sawah Irigasi Adaptif Terhadap Keragaman Iklim (Studi Kasus: Subang, Jawa Barat)
In recent yearsm riceproductivitytended to decrease. Thisconditionis not only due to limited adoption of new technologies by farmers but also due to the increased in crop failure caused by extreme climate events. This study aimsto identify and assess crop management technologiesofirrigatedrice inSubang and to develop crop management strategies more adaptive to climate variability. Assessment of crop management technologies was done using crop simulation (DSSAT) and cost-benefitanalysis, and adaptivefarmingstrategies was developed based on interviews with farmers taking into consideration the results ofthe crop simulation. Crop management technologies being assessed were 18technologies consists of water management,fertilizer application, and crop spacing. The results showedthat theoptimumtechnology at Subang for the irrigated rice is puddlingwithnitrogen application of 150 kg Urea/ha and plant spacing of 40x40cm. The optimumplantingtime is betweenmid-Octoberand mid-January. The B/C ratio for this technology is the highest. Strategy to manage climate risk include not only with structural intervention such as development of community-based water reservoir, wells pump etc, but also with non-structural intervention such as enhancement of farmers capacity in using climate forecast information application for tailoring crop management and cropping pattern to the forecast information
- …
