19 research outputs found
Identifikasi Berbagai Aksesi Sagu (Metroxylon spp) Di Desa Hiripau Kecamatan Mimika Timur Kabupaten Mimika, Papua.
Metroxylon spp yang dikenal dengan nama sagu atau rumbia merupakan
tanaman penghasil karbohidrat terbesar dibandingkan dengan tanaman penghasil
karbohidrat lainnya. Tanaman sagu mampu menghasilkan pati kering 200-400 kg
dalam setiap batang. Tanaman sagu memiliki keragaman yang sangat tinggi di
Indonesia terutama di wilayah Papua lebih dari 50% populasi sagu dunia terdapat
di Indonesia dan 90% dari sagu Indonesia terdapat di Papua. Penelitian ini bertujuan
untuk memperoleh data keragaman tanaman sagu di Kecamatan Mimika Timur
Kabupaten Mimika berdasarkan karakter morfologi dan karakter genetik. Karakter
morfologi yang diamati sebanyak 44 karakter dan karakter genetik dianalisis
menggunakan metode Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Hasil
penelitian diperoleh empat aksesi sagu yaitu Nakowai, Mapartaro, Tuhai dan
Korearipi. Keempat aksesi tersebut terdiri atas tiga sagu berduri dan satu sagu tidak
berduri.
Pada karakter morfologi terdapat perbedaan dari keempat aksesi sagu
tersebut, seperti ada tidaknya duri, bentuk dan ukuran batang, bentuk tajuk, jumlah
daun, ukuran daun dan anak daun, warna daun muda pada anakan, warna empulur,
warna pati, serta hasil produksi. Aksesi Korearipi merupakan satu-satunya aksesi
yang tidak berduri di lokasi penelitian. Aksesi Tuhai juga memiliki bentuk batang
yang unik dengan tumbuhnya anakan sagu di pertengahan batang tanaman induk.
Berdasarkan hasil analisis RAPD, keempat aksesi tersebut memilki kemiripan yang
cukup jauh, hanya aksesi Nakowai dan Mapartaro yang memiliki hubungan
kemiripan yang berdekatan (89%) sedangkan aksesi lainnya memiliki kemiripan
dibawah 70%
Potensi produksi dari keempat aksesi sagu tersebut berkisar antara 104-275
kg pati kering per pohon. Aksesi Tuhai merupakan aksesi dengan potensi produksi
tertinggi dibandingan dengan aksesi lainnya. Rendemen dari sagu di lokasi
penelitian berkisar antara 9%-23%
Pengelolaan sagu (Metroxylon spp.) Di PT. National Sago Prima, Selat Panjang, Riau dengan aspek khusus pengaruh bobot bibit dan penggunaan pupuk organik cair terhadap pertumbuhan bibit sistem polibag di pembibitan
The objective of this study was to obtain some informations about sago palm cultivation especially in nursery and know the effect of sucker weight and liquid manure application to the vegetative growth of sago sucker at polybag nursery system. This experiment held in PT. National Sago Prima, Selat Panjang, Riau from February to June 2011. The primary data were found by direct methods, it included the following activities in cultivation of sago palm, and did experiment in the field. The secondary data were found by indirect method, interviewed and discussed with the company staff and study literature to get more informations. The special aspect was find by arranged in split plot design, where the main plot was sucker weight with three levels (50-200 g, 200-500 g, and 500-800 g) and the subplot was four levels of liquid manure application (0, 2, 5, and 8 ml/l) with three replications. The results showed that there was no significantly different in the vegetative growth of sucker by liquid manure application. The sucker weight treatment showed significantly different to survival rate, leaf length, number of leaves, and percentage of expanded leaves. The larger suckers produced higher of leaf length. However, larger suckers didn’t always produce higher percentage of expanded leaves and higher survival rate of suckers in comparison to smaller ones. The sucker weight 200-500 g was the best sucker size to the vegetative growth of sucker
Pengelolaan sagu (Metroxylon spp.) Di PT National sago Prima, selat panjang Kab. Kepulauan Meranti, Riau, dengan aspek khusus pertumbuhan bibit di lapang
This intenship was held in Nasional Sago Prima company, Selat Panjang, Riau from February to June 2011. The Method are direct for getting primary dara and indirect for secondary data. Secondary data takes from technique activity in tthe field and the research. The experiment was conducted to get more information on the effect sucker weight and time after nusery to to sucker growth in plantation are. The treatment will be tested sucker growth with the different weight and age of sucker in raft nursery system. The first treatment on sucker 2-4 kg (BI) and 4-8 kg (B2), teh second treatment on sucker is 2 weeks after nussery (P1), 4 weeks (P2), 8 weeka (P3) and 12 weeks (P4), the result shown treatment on 2-4 kg (B1) is better than nursey was significant different in presentation survival rate bt in vegatative growth haven't significantly difference. The sucker 123 weeks after nursery was the best sucker age to the vegetative growth of suckers
Pemanfaatan Agen Hayati Trichodermaspp dan Bakteri Selulotik Untuk Pengomposan Ageratum conyzoidesvar hirtum (Lam),Tithonia diversifolia (Hamsley) A. Gray dan Ampas sagu sebagai Pupuk Organik Pada Cabai Merah (Capsicum AnnuumL.).
Ageratum conzoides var hirtum (Lam), Tithonia diversifolia (Hamsley) A. Gray and waster sago can be used as organic fertilizer or compost. Some isolates of Trichodermaspp. and bacteria cellulotic had been tested as the antagonize agent for controllingPhytophthora capsici(wilt disease on chili). These microorganism were used as decomposer of weeds, A.conyzoideshirtum var (Lam), T.diversifolia(Hamsley) A. Gray, and sago waste. The aims of the study were to select microbes that has capability to degradation cellulose and able to accelerate the composting process of A.conyzoideshirtum var (Lam), T.diversifolia(Hamsley) A. Gray, and sago waste; and determine the effect of formula compost on plant growth of chili, resistance to infection of P. capsici L and yield of chili. This study was conducted in three phases: 1). Selection of Trichoderma spp and bacteria isolates on Carboxy methyl cellulose (CMC) media, 2). Composting A.conyzoides var hirtum (Lam), T.diversifolia(Hamsley) A. Gray and sago waste by isolates ofTrichoderma spp and bacteria cellulotic which had been selected; 3). Application of compost formulas on chiliplants. The visualization of cellulase activities on CMC mediawere shown as the clear zone around the colony. Six isolates of Trichoderma spp (PO3, S1, N34, IU, PB 13, SKM) have the clear zone ratio range between 3.0 -5.3 and six isolates of bacteria (St109, Sk7, Cm58, Sk14, Sk 10 and St18) havethe clear zone ratio range between 2.6 to 5.4; were selected to decompose weeds and sago waste.The result showed that Trichoderma spp and bacteria cellulotic inoculantsor themixed of them were able to reduce the duration of composting process from 17–18 days to 13-15 days. The products of compost formula are appropriate with the SNI19-7030-2004 and standards minimumof technical organicfertilizer.Application of compost formulas and goat manure on chili plants affected the growth, the disease attacked and the yield of chili. The application of formula D{goat manure+A. conyzoides var hirtum (Lam)+ sago waste} caused the diseaseattacked about 33.3%but the yield was 524,56 g. While the diseaseattackedatgoat manuretreatment was 16.67% and the yield was 132.3 g. Formula D increased the yield of chili 3.96 times compare than goat manure only.Kandungan hara biomassa gulma berkisar dari sedang hingga tinggi sehingga dapat digunakan sebagai sumber bahan organik,diantaranyaAgeratum conyzoides var hirtum (Lamb) dan Tithonia diversifolia (Hamsley) A. Gray, selain itu limbah pertanian lainnya yang juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik adalah ampas sagu.Pemanfaatan mikroba mesofilik selain mempercepat proses pengomposan juga dapat memperbaiki kualitas kompos. Beberapa mikroba dekomposer dapat bertahan dalam komposdanberperan sebagai agen hayati pengendali penyakit tanamanan terutama patogen tular tanah. Bakteri antagonis yang banyak terdapat dalam kompos misalnya Bacillus spp, Actinomycetes, Pseudomonas sppsedangkan golongan fungi antagonis adalah Trichoderma spp, Penicillium spp, Aspergillus spp. Sejumlah hasil penelitian melaporkan bahwa penggunaan kompos sebagai penyedia hara mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen. Penelitian dilakuan sejak Mei 2010 sampai Mei 2011 di Laboratorium Balitro dan Kebun percobaan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor.Penelitian dilakukan dalam tiga tahap yaitu 1).Seleksi Trichodema spp dan bakteri selulotik pada media agar Carboxy Methyl cellulose(CMC); 2).Pengomposan A.conyzoides varhirtum(Lam), T.diversifolia (Hamsley) A. Gray, serta ampas sagu dan 3).Aplikasi kompos pada tanaman cabai.Rancangan percobaan yang digunakan pada tahap tiga adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 11 perlakuan formula kompos yaitu A). Pukan+A.conyzoidesvar hirtum (Lam); B). Pukan+T.diversifolia(Hamsley) A.Gray; C).Pukan+ampas sagu; D).Pukan+A.conyzoidesvar hirtum (Lam)+ampas sagu; E). Pukan+T.diversifolia(Hamsley) A.Gray+ampas sagu; F). Pukan+A.conyzoidesvar hirtum (Lam)+ampas sagu+Trichoderma spp; G).Pukan+A.conyzoidesvar hirtum (Lam)+ampas sagu+bakteri; H).Pukan+T. diversifolia(Hamsley) A.Gray+ampas sagu+Trichoderma spp; I).pukan + T. diversifolia(Hamsley) A.Gray+ampas sagu +bakteri;J). Pukan+A.conyzoidesvar hirtum (Lam)+ampas sagu+Trichoderma spp+bakteri; K).Pukan+T.diversifolia(Hamsley) A.Gray+ampas sagu+Trichodermaspp + bakteri dan sebagai kontrol digunakanpupuk kandang kotoran kambing.Perlakuan diulang sebanyak tiga kali dan tiapperla-kuan terdiri atas 10 tanaman contohdalam 10 polybag sehingga dibutuhkan 360 tanaman cabai
Strip tillage water movement in clay loam soil to fulfill plant water requirement
Dry land is one of the land resources having the possibility for the development of food crop agriculture especially on lands with light and medium technical constraints. The development of technology for the utilization of marginal land by turning it into productive land is still a big opportunity in agricultural development in Indonesia. Improvement of planting media by means of soil tillage method and appropriate plant irrigation technology is one of the efforts in solving the problem in clay loam land. The objective of this research was to develop water movement model in clay loam soil with minimum tillage and subsurface irrigation. Concept used in the model development was minimum tillage method with subsurface irrigation at the base of the tillage and irrigation method to fulfill crop water requirement. The concept was part of the dissertation research strengthened by scientific analyses as the basis for advanced research development. The analyses among others resulted in data of soil physical properties and making of interface for measurement together with a set of water movement testing apparatus. At the final stage this dissertation research was supported by analysis of water movement in a laboratory test and field validation on the performance of subsurface irrigation as well as test of cultivation technique on chili plant (Capsicum annuum L.) growth. The results showed that the movement pattern displayed on the contour indicated that the wetting process could reach a depth of -5 cm for the rooting zone of annual crop seedling. The result of the irrigation performance showed that effective wetting by using minimum strip tillage could only be developed by means of short irrigation path of less than 5 cm; so that it was suitable to be applied on limited land management or improvement in traditional form. The test result of cultivation technique on annual crop (Capsicum annuum L.) using minimum strip tillage with subsurface irrigation showed that the soil moisture for plant growth could be maintained where the plant was able to grow in accordance with the treatment used until the end of the research period. The developed model showed that the wetting pattern required time for distributing balanced moisture. This confirmed that the system developed in the form of research novelty was subsurface water movement to maintain the moisture at the strip tillage soil in order to give water availability for plant.Penelitian ini merupakan pengembangan konsep alternatif teknik budidaya tanaman pada lahan kering dengan tanah bertekstur lempung liat berdebu. Konsep berupa metode olah tanah terbatas beririgasi bawah permukaan pada dasar olahannya serta cara pemberian air untuk kebutuhan air tanaman. Konsep yang dikembangkan dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu: (a) tanaman semusim dan media tanam; (b) parit atau strip; dan (c) sistem pengairan (irigasi) dan drainase. Konsep tersebut merupakan bagian dari penelitian disertasi ini yang dikuatkan dengan analisa-analisa ilmiah sebagai dasar pengembangan penelitian lanjutan. Analisa-analisa tersebut di antaranya pembangunan model pergerakan air pada suatu tanah liat yang diolah terbatas dengan irigasi bawah permukaan. Sejalan dengan hal tersebut dihasilkan informasi data-data analisa sifat fisik tanah serta pembuatan suatu alat ukur (interface) beserta rangkaian apparatus uji pergerakan air. Penelitian ini pada tahapan akhir dikuatkan dengan penelitian analisa pergerakan air dalam suatu pengujian di laboratorium serta validasi di lapangan terhadap kinerja irigasi bawah permukaan di lapangan dan pengujian teknik budidaya terhadap pertumbuhan tanaman uji. Penelitian utama ditujukan guna merealisasikan pendekatan novelti penelitian dengan konsep pengembangan teknik budidaya tanaman merupakan pengelolaan kelembaban tanah di zona perakaran. Hal tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan kelembaban atau kadar air tanah agar tersedia pada saat dibutuhkan oleh tanaman. Hasil fitting by eyes terhadap grafik difusifitas dan kadar air didapatkan nilai-nilai parameter yang dibutuhkan dalam memenuhi sifat fisik tanah penelitian yang selanjutnya disimulasikan pada model pergerakan air horizontal pada strip olah tanah terbatas beririgasi bawah permukaan. Data yang dihasilkan tersebut diaplikasikan pada pembangunan konsep simulasi pergerakan air pada strip olah tanah terbatas beririgasi bawah permukaan menggunakan konsep untuk kuantifikasi jumlah air dalam tanah, yang terdiri dari 2 pendekatan yaitu volumetric water content, θ (volume air) dan besaran hisapan matriks (matrix suction (cm)) atau pressure head, h (-cm). Langkah selanjutnya mengkonversi data hasil simulasi ke bentuk kontur setelah diolah menggunakan software Surfer 8 menjadikan tampilan lebih mudah dipelajari pola pergerakan yang terjadi
Development of Local Wisdom on Botanical Pesticide Utilization to suppress Environmental Pollution impact.
The objective of the research is to develop indigenous technology (local wisdom) of using botanical pesticide to minimize environmental pollution impact. Research consisted of two activities conducted in two districts, i.e. (1) To evaluate the effectiveness of farmers technology on formulating botanical pesticide for controlling fruit flies, conducted on mango farm in Sumedang-West Java, arranged at randomized block designed, four treatments and six replications. Treatments consisted of (a) farmers technology, i.e. distilled water of basil (Ocimum spp.) (b) farmers technology, i.e. essential oil of basil (Ocimum spp.), (c) essential oil of basil formulated in IMACRI (Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institute) and (d) commercial attractant. (2) To evaluate the effectiveness of some formulas on trapping fruit flies (compared to the commercial attractant), the ability of formulas on trapping male and female fruit flies, and the ability of formulas as anti-ovipositant conducted on guava fruit farm in Bogor-West Java, arranged at randomized block design. Result showed that indigenous technology of the farmer was effective and efficient since it can decrease the use of pesticide as much as 62% and decrease of fruit damage as much as 34% and increase their income as much as 73%. Technology of the farmer in the form of distilled water of basil could stand as long as a week on trapping fruit flies, hence its application must be repeated every week, meanwhile in the form of essential oil could stand for one month and was not significantly different with attractant formulated in IMACRI, even better than commercial attractant, hence its application should be done every month. Only male fruit flies could be trapped and most of them consisted of Bactrocera dorsalis species (97%) and the rest was Bactrocera umbrosus spcies (3%). The active ingredient content (Methyl eugenol - CJ2 H240 2) in the distilled water of basil is 0.43%, meanwhile in essential oil of the farmer is 77.9% and in essential oil of IMACRI is 73.6% and in commercial attractant is 75%. Formula of Metil eugenol mixed with red guava fruit extract was the best formula on trapping male fruit flies as well as female fruit flies, although the percentage of female trapped was still low (3.43%), but it indicated that the formula has good prospect to be studied more deeply to increase its ability on trapping female fruit flies. Formula of Metil eugenol mixed with Ocimum gratisimum oil could inhibit oviposition of fruit flies as much as 54% as well as formula of metil eugenol mixed with citronella oil which could inhibit oviposition of female fruit flies as much as 30%, but those formulas inhibited the attractiveness against male fruit flies too. By using botanical pesticide, the use of chemical pesticide could be minimize, hence the --<envif0llmental-poHutiorr-esp~cta:lly caused by pestICIde can be minimized.Penelitian bertujuan untuk mengembangkan kearifan lokal penggunaan pestisida nabati untuk menekan dampak pencemaran lingkungan, khususnya yang disebabkan oleh pestisida. Penelitian terbagi menjadi dua kegiatan, yaitu (1) mengevaluasi efektifitas penggunaan pestisida nabati (atraktan lalat buah) yang dibuat oleh petani dengan alat sederhana, dilakukan di Sumedang pada komoditas mangga. Penelitian dirancang dalam acak kelompok, empat perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan terdiri atas pestisida nabati formula petani berupa (a) air suling selasih, (b) minyak selasih hasil petani, (c) minyak selasih yang diproses di Balittro, (d) atraktan lalat buah yang sudah dikomersilkan (pembanding). Masing-masing formula diteteskan sebanyak 0,25 ml pada gumpalan kapas, kecuali air suling selasih dengan cara mencelupkan kapas ke dalam air sulingnya (sesuai dengan kebiasaan petani), kemudian ditempatkan di dalam botol perangkap yang terbuat dari botol minuman air mineral volume 600 ml yang disisinya dibuat tiga buah lubang untuk jalan masuknya lalat buah, kemudian digantungkan pada pohon mangga setinggi 2 m di atas permukaan tanah. Aplikasi formula hanya dilakukan satu kali, untuk melihat daya tahan masing-masing formula dalam memerangkap lalat buah di lapangan. Pengamatan dilakukan setiap minggu terhadap jumlah, jenis dan kelamin lalat buah yang terperangkap serta kandungan bahan aktif pada masing-masing formula dengan menggunakan Gas Kromatografi. Aspek sosial ekonomi dilakukan terhadap 30 orang petani termasuk pedagang buah dengan cara mewawancara melalui kuesioner yang telah dipersiapkan. (2) mengevaluasi formula pestisida nabati (atraktan blat buah) terhadap kemampuan daya tangkap, kemampuan memerangkap lalat buah berkelamin jantan dan betina dan sebagai anti-ovipositant (menghambat peneluran) yang dilakukan pada komoditas jambu biji di Bogor. Penelitian dirancnng dalam acak keJompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penggunaan pestisida nabati yang berasal dari tanaman selasih sebagai atraktan untuk mengendalikan hama lalat buah, dapat menurunkan penggunaan pestisida kimia sintetis sebanyak 62%, menurunkan tingkat kerusakan buah-buahan sebesar 34% dan meningkatkan hasil sebesar 73%. Air suling selasih dengan kandungan metil eugenol sebesar 0,46% mampu memerangkap hama lalat buah selama satu minggu, setelah itu perlu aplikasi ulang pada setiap minggunya, sedangkan minyak selasih hasil petani dengan kandungan metil eugenol sebesar 77,9% mampu memerangkap hama lalat buah selama satu bulan, setara dengan minyak selasih yang diproses di Balittro dengan kandungan metil eugenol sebesar 73,6% dan lebih baik daripada atraktan lalat buah komersil yang mengandung metil eugenol sebesar 75%. Lalat buah yang te!Jl_eIangkap--didominasi-Oleh-spesies-BaGtr-oGem-dersaUs~----Hendel (97%) dan sisanya adalah Bactrocera umbrosus Fabricius (3%) serta didominasi oleh lalat buah berkelamin jantan. Didominasinya populasi lalat buah yang terperangkap oleh spesies Bactrocera dorsalis, diduga karen a penelitian dilakukan di kebun jambu biji yang merupakan inang utama spesies B. dorsalis, sedangkan inang utama bagi spesies Bactrocera umbrosus adalah nangka dan cempedak. Formula metil eugenol yang dicampur dengan ekstrak jambu biji merah menunjukkan kemampuan terbaik dalam memerangkap hama lalat buah jantan dan betina, walaupun daya tangkapnya terhadap lalat betina baru mencapai 3,43%, namun sudah memberikan indikasi bahwa fonnu!a tersebut mempunyai prospek untuk diteliti lebih lanjut. Hal ini diduga karena jambu biji mengandung vitamin e yang relatif tinggi apabila dibandingkan dengan kandungan vitamin e pada buah-buahan lainnya, yaitu mencapai 130 hingga 150 mgilOO gr. Selain kandungan vitamin e yang tinggi, juga jambu biji mengandung kadar gula yang tinggi pula, yaitu mencapai 1,84 hingga 3,71 %. Zat-zat tersebut dibutuhkan oleh lalat buah sebagai sumber nutrisi dan bagi lalat buah betina zat-zat tersebut diperiukan untuk perkembangan organ reproduksi dan pematangan telur, sehingga lalat buah betina akan tertarik terhadap zat-zat tersebut. Selain kandungan vitamin e dan gula, menurut hasil analisis dengan gas kromatografi (GeMS) menunjukkan bahwa ekstrak jambu biji mengandung sekitar 51 komponen, namun tiga diantaranya adalah irganox (22,63%), stigmasterol (10,91%) dan phenol (4,91%). Walaupun daya tangkap formula metil eugenol yang direaksikan dengan ekstrak jambu biji terhadap lalat buah betina masih rendah, yaitu sekitar 3,43%, namun apabila dilihat dari kemampuan lalat buah betina yang mampu bertelur sebanyak 800 hingga 1.500 butir selama hidupnya, maka apabila dari 100 ekor lalat yang terperangkap saja, 3 diantaranya lalat buah betina, maka akan mampu menekan antara 2.400 hingga 4.500 ekor lalat buah pada generasi berikutnya, sehingga fOlmula tersebut akan lebih baik apabila dibandingkan dengan formula atraktan yang hanya mampu memerangkap lalat buah jan tan saja. Formula metil eugenol yang dicampur dengan selasih (Ocimum gratisimum 1.) merupakan formula terbaik dalam menghambat peneluran lalat buah (54%), diikuti oleh formula metil eugenol yang dicampur dengan minyak serai wangi (30%), namun demikian kedua formula tersebut menurunkan kemampuan daya tangkapnya terhadap lalat buah berkelamin jantan di lapangan. Formula anto-ovipositant yang dihasilkan dalam penelitian ini, juga akan memperlengkap teknik pengendalian hama lalat buah, yaitu dengan cara menghambat lalat buah betina untuk meletakkan telur pada buah-buahan, sehingga kerusakan buah dapat diminimalkan. Dengan ditemukannya formula atraktan lalat buah dari tanaman selasih yang dapat menekan penggunaan insektisida sintetis, maka diharapkan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh penggunaan insektisida sintetis, terutama residunya pada pada komoditas hortikultura, khususnya buah-buahan dan terhadap lingkungan pada umumnya dapat ditekan
Evaluation of design parameters of rotated disk tiller for stubble shaving operation on upland sugar cane cultivation
Pengeprasan merupakan salah satu kegiatan penting dalam budidaya tanaman tebu keprasan (ratoon). Pengeprasan manual yang dilakukan hingga saat ini sedang menghadapi masalah kesulitan tenaga kerja dan rendahnya kualitas pengeprasan. Di lain pihak, alat dan mesin kepras jenis rotari (stubble shaver) yang ada memiliki beberapa kelemahan antara lain hasil potongan yang pecah, mata pisaunya cepat tumpul, dan membutuhkan gaya impact yang tinggi untuk pemotongan sehingga alsin tersebut tidak dipergunakan lagi. Pecahnya tunggul tebu dalam pengeprasan mekanis dapat dihindari dengan cara mengubah prinsip desain pemotongan cara tebas (impact cutting) dengan prinsip menggergaji. Penelitian pendahuluan mengenai karakteristik guludan dan tunggul tebu sisa penebangan telah dilakukan. Beberapa peubah yang diamati dalam studi pendahuluan tersebut adalah bentuk dan dimensi guludan tanaman tebu keprasan, tahanan penetrasi tanah, tahanan geser tanah, dan gaya cabut satu rumpun tunggul tebu sisa pemanenan. Selanjutnya, penelitian yang berkaitan dengan efektifitas dari mekanisme pemotongan tunggul tebu menggunakan piring pengolah tanah yang diputar dan beberapa parameter yang relevan juga telah diselesaikan. Secara khusus penelitian tersebut bertujuan untuk menganalisis kinematika atau gerakan piring pengolah tanah (bajak piring dan garu piring) yang diputar paksa untuk pengepras tunggul tebu, menentukan gaya pemotongan spesifik satu tunggul tebu (σ) pada empat varietas tebu, mengembangkan model matematika untuk menduga gaya pemotongan rumpun tunggul tebu, dan mengidentifikasi kualitas potongan dan pertumbuhan tunas tebu hasil uji pengeprasan
Starch distribution in sago palm (Metroxylon spp) trunk in East Luwu Regency
Sago is a starch-producing palm plant often found in marshland or peatland utilized by the community as food. East Luwu Regency is one of the areas where sago plants can be found. The purpose of this study was to determine sago starch distribution on the trunk of sago plants. The research methods used were interviews with farmers as key informants (qualitative) and direct observation of sago plants (quantitative). This study used 18 sago plant samples from two types of sago accessions, namely Uwwu accessions and Battang accessions, obtained from 3 sub-districts: Wotu, Kalaena, and Mangkutana. Sago morphological characteristics observed include plant height, trunk diameter, trunk circumference, pith weight, and dry starch weight. The circumference and diameter of the sago trunk varied among the lower, middle, and upper parts. The results showed that in Battang in Kalaena 3, the middle had a smaller diameter and trunk circumference compared to the lower and upper trunk but had the largest dry starch weight of 29.45 g, compared to the lower trunk (25.21 g) and the upper trunk (22.43 g). The environment is a factor that significantly influences the size of trunk circumference, trunk diameter, and starch content in sago plant trunk.
Keywords: accession; Battang; pith; qualitative; starch; Uww
The use of sago (metroxylon sagu ROTTB.) waste one month decomposition for controlling mikania micrantha HBK
Pemetaan Tugas Akhir Mahasiswa IPB Komoditas Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) Sampai Tahun 2021
Pendahuluan. Penelitian ini bertujuan memetakan skripsi, tesis dan disertasi mahasiswa IPB khususnya komoditas sagu dari aspek budidaya, pengolahan, ekonomi dan teknologinya. Kajian diharapkan dapat memberikan informasi penting dan akurat mengenai komoditas sagu, sehingga penelitian berkelanjutan dapat dilakukan secara optimal.
Metode penelitian. Digunakan metode kuantitatif deskriptif. Data penelitian diambil dari hasil penelitian Mahasiswa IPB berupa skripsi, tesis, dan disertasi yang dipublikasikan sampai dengan tahun 2021 yang diperoleh dari tautan repository.ipb.ac.id
Data analisis. Data yang diperoleh ditabulasi, dan dianalisis menggunakan aplikasi Zotero dan Voswiewer untuk memunculkan peta dan hubungan antar bidang ilmu dan dosen pembimbing.
Hasil dan Pembahasan. Hasil pemetaan bidang ilmu pada 271judul penelitian menunjukkan bahwa, bioteknologi 116 judul (82.80%). Pengolahan 80 judul (29,52%). Budidaya 56 judul (20,66%). Ekonomi,dan konservasi 13 judul (4,78%), dan 6 judul (2,26%).
Kesimpulan. Analisis VosViewer pada kata-kunci: pati sagu memiliki tingkat kekuatan hubungan 117 kemunculan 43 kali. Sagu 101 kemunculan 23 kali. Sago starch sagu 62 kemunculan 16 kali. Ampas sagu 52 kemunculan 15 kali; beras analog 38 kemunculan 9 kali. Hasil VosViewer pada pembimbing: Djoefrie, Muhammad Hasjim Bintoro, dan Sunarti, Titi Candra menunjukkan tingkat kemunculan 57 kali dengan 37 tautan, dan 34 kali dengan 29 tautan.Introduction. the research aims is to map reports, theses and dissertations of IPB students, especially sago commodities from the aspects of cultivation, processing, economy and technology. This study is expected to provide important and accurate information regarding sago commodities, so that sustainable research can be carried out optimally.
Research methods. Descriptive quantitative method is used. The research data is taken from the research results of IPB students in the form of theses, theses, and dissertations published until 2021 which are obtained from the repository.ipb.ac.id.
Results and Discussion. The results of mapping the fields of science in 271 research titles show that, biotechnology 116 titles (82.80%). Processing 80 titles (29.52%). Cultivation 56 titles (20.66%). Economics, and conservation 13 titles (4.78%), and 6 titles (2.26%).
Conclusion. VosViewer results on keywords: sago starch has a relationship strength level of 117 occurrences 43 times. Sago 101 occurrences 23 times. Sago starch sago 62 occurrences 16 times. Sago dregs 52 occurrences 15 times; analog rice 38 occurrences 9 times. VosViewer results on supervisors: Djoefrie, Muhammad Hasjim Bintoro, and Sunarti, Titi Candra showed an occurrence rate of 57 times with 37 links, and 34 times with 29 link
