16 research outputs found

    Teknologi Tablet

    No full text
    ix,280 hlm;21 c

    Sistem Penghantaran Obat

    No full text
    vi,135 hlm;21 c

    Diktat Penuntun Praktikum Teknologi Tablet

    No full text
    ii.;ill.;67.;20c

    Formulation of Metformin HCl Floating Tablet using HPC, HPMC K100M, and the Combinations

    No full text
    Floating tablet is one of the most suitable dosage forms that used for delivering long term drug release. The objective of this study was to evaluate Hydroxypropyl cellulose (HPC), Hydroxypropyl Methyl Cellulose (HPMC) K100M, and the combination as matrix in manufacturing floating tablets. Metformin HCl, an anti-diabetic, was used as a drug model. Metformin HCl floating tablet was manufactured by wet granulation method in three formulas using variation of matrix, which were 40% of HPC (F1), 40% of HPMC K100M (F2), combination of 20% HPC and 20% HPMC K100M (F3). Prior to tablet compaction, evaluation for granules were done which included moisture content, angle of repose using, bulk and tapped density, Hausner ratio, and compressibility. The evaluations of floating tablet were physical properties, floating ability, and in vitro drug release. The average of floating lag time for F1, F2, F3, were 7 minutes 13 seconds; 5 minutes 27 seconds; and 14 minutes 5 seconds, respectively. In addition, the floating time for F1 was 3 hours 16 minutes whereas F2, F3 were more than 48 hours. F2 showed the best floating ability to retain the drug release, which was 84.68% over 8 hours, while F1 and F3 were completely dissolved less than 6 hours.

    Formulasi Mikrokapsul Ranitidin HCl Menggunakan Rancangan Faktorial dengan Penyalut Etil Selulosa

    No full text
    Ranitidin HCl adalah H2-antagonis histamin yang digunakan dalam pengobatan ulkus lambung dan duodenum. Formulasi mikrokapsul ranitiditin HCl ditujukan untuk memperpanjang regimen dosis untuk meningkatkan bioavailabilitas dan waktu paruh. Tujuan dari penelitian untuk merumuskan dan mengoptimalkan mikrokapsul ranitidin HCl untuk menyiapkan sistem pelepasan yang sesuai dengan desain faktorial. Mikrokapsul disusun menggunakan etilselulosa dengan teknik penguapan pelarut. Variasi konsentrasi penstabil Span 80 (1-2%) dan rasio obat/polimer (2: 2-1: 2) dilakukan untuk mengamati efek efisiensi penjerapan. Analisis data menunjukkan bahwa mikrokapsul dengan efisiensi penjerapan optimal didapatkan pada formula yang mengandung 2% span 80, dan 1:2 rasio obat/polimer. Hasil penelitian menunjukkan mikrokapsul berbentuk sferis, dan berpori, dengan waktu pelepasan hingga 10,55 jam.</jats:p

    Peningkatan Laju Disolusi Ketoprofen Dengan Teknik Co-Grinding Menggunakan Polimer Hydroxypropyl Methylcellulose E6

    No full text
    Telah dilakukan peningkatan laju disolusi ketoprofen sebagai model zat aktif yang sukar larut air dengan teknik penggilingan bersama (co-grinding) dengan polimer hidrofilk hydroxypropyl methylcellulose E6 (HPMC) menggunakan alat mortar grinder. Tiga formula disiapkan dengan perbandingan zat aktif : polimer 1:2, 1:1, dan 2:1 (b/b), dan campuran fisik dibuat dengan menggunakan perbandingan 1:1 (b/b). Difraktogram sinar-X menunjukkan terjadinya penurunan intensitas puncak ketoprofen. Termogram DSC menunjukkan terjadinya penurunan titik leleh ketoprofen. Analisis FTIR menunjukkan tidak terdapat interaksi kimia antara zat aktif dengan polimer. Pada penelitian ini didapatkan bahwa kelarutan obat meningkat dengan meningkatnya konsentrasi polimer. Dispersi padat rasio 1:2 menunjukkan peningkatan kelarutan terbesar (6,5 kali). Tidak seperti kelarutan, laju disolusi ketoprofen meningkat dengan menurunnya kosentrasi polimer karena terbentuknya lapisan difusi yang tebal oleh polimer. Dispersi padat resio 2:1 menunjukkan peningkatan disolusi tertinggi (2,1 kali).</jats:p

    Studi Sistem Dispersi Padat Klaritromisin – Eudragit L100

    No full text
                Telah dilakukan penelitian pembentukan sistem dispersi padat klaritromisin-Eudragit L100. Dispersi padat dibuat dengan  perbandingan berat (b/b) menggunakan metode pelarutan. Analisa DTA dispersi padat diperoleh pada Eudragit L 100 mempengaruhi posisi dan ketajaman puncak. Analisa difraksi sinar-x menunjukkan bahwa dispersi padat klaritromisin – Eudragit L 100 berupa amorf dan tidak menghasilkan fase kristalin baru. Hasil analisis SEM dispersi padat menunjukkan kristal Eudragit L 100 lebih kecil (amorf) dan menempel pada permukaan kristal klaritromisin. Analisis spektrofotometer IR menunjukkan tidak ada interaksi kimia antara klaritromisin – Eudragit L 100. Penetapan kadar klaritromisin dengan KCKT fase gerak metanol dan 0,067 M KH2PO4 13:7 ditambah asam fospat pH 4,0. Hasil profil disolusi pada waktu 60 menit berturut-turut untuk klaritromisin  45,73%, CF (1:1) 49,86 %,  DP (1:1) 51,53 %, DP (2:1) 55,87 % dan DP (1:2) 58,97 % Dispersi padat 1:2 (b/b) memiliki peningkatan laju disolusi jika dibandingkan dengan klaritromisin.</jats:p

    Pembuatan Mikrokristalin Selulosa dari Jerami Padi (Oryzo sativa Linn) dengan Variasi Waktu Hidrolisa

    Get PDF
    A study about the influence of time on the hydrolisis of "rice straw " to produce microcrystalline cellulose has been done. The hydrolytic process was conducted in 2,5 N hidrochloric acid solution at 100oC for 1 hour, 1,5 hours, 2 hours, 2,5 hours respectively. The physical properties of microcrystalline cellulose yielded were compared to those of Vivacel®102. The results indicated that there was a decrease in the true density value with the increase in hydrolytic time of the microcrystaline cellulose yielded, where as its water adsorption capacity, tapped ani untappeo density values increased. Noticing the physical properties of microcrystalline cellulose, it seemed that the physical properties of microcrystaltine obtained from hydrolisis of the "rice straw " in 2,5 N hydrochloric acid solution at 100o C for 1,5 hours the were more similar to those of Vivacel® 102

    Studi Awal Pemisahan Amilosa dan Amilopektin Pati Singkong Dengan Fraksinasi Butanol – Air

    Get PDF
    A pleminary study on separation of amylose and amylopectin from cassava starch using fractionation method with butanol-water (1:7) mixture has been done. Amylose .3 gram (11%) (hydro fraction) and amylopectin 4.25 gram (14%) (butanol fraction) were obtained from 30 gram cassava starch. Each fraction was evaluated for their physicochemical properties such as velocity of gelatination, ioine raction, infrared spectra, water absorption and swelling time. Cassava starch, acid starch and soluble starch were used as references

    Kajian Pengawasan Peredaran Obat Keras di Sumatera Barat oleh BBPOM di Padang

    Get PDF
    Kemajuan di bidang teknologi dan transportasi menyebabkan produk farmasi dengan cepat menyebar. Tingginya kebutuhan obat keras oleh masyarakat, murahnya harga obat di sarana tidak berwenang, masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan keamanan, kemanfaat dan mutu obat yang disediakan sarana yang berwenang mengakibatkan fenomena tingginya peredaran obat keras di sarana yang tidak berwenang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja BBPOM di Padang, tingkat keberhasilan penegakan hukum dan tingkat keberhasilan peningkatan kesadaran masyarakat. Penelitian bersifat evaluatif dengan pendekatan triangulasi. Responden kuesioner sejumlah 70 orang yang berasal dari 7 kabupaten/kota di Sumatera Barat. Responden wawancara terstruktur sejumlah 10 orang yang berasal dari pejabat struktural BBPOM di Padang dan Jayapura. Sebanyak 5 jenis kuesioner divalidasi dengan nilai reliabilitas 0.8427; 0.8507; 0.7493; 0.7399 dan 0.8272. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi trend peningkatan peredaran obat keras di TOB sebesar 24%; 45% dan 49%, sedang di swalayan terjadi penurunan sebesar 17%, 17% dan 8%. Penegakan hukum di bidang obat terjadi peningkatan sebesar 33.3%; 70.0% dan penurunan 18.2%. Pemberdayaan konsumen melalui peningkatan pemahaman obat keras (92.9% dan 100.0%). Kesimpulan penelitian ini adalah kinerja BBPOM di Padang telah cukup optimal dengan strategi pengawasan rutin, pemberdayaan konsumen, penegakan hukum dan sinergitas dengan stakeholder terkai
    corecore