2 research outputs found
Analisis Wacana Diskriminasi Kesenjangan Sosial Pada Film The Peaky Blinders (Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough)
Film diketahui sebagai media komunikasi massa yang bersifat audio-visual yang
digunakan untuk mengantarkan pesan atau menyampaikan sesuatu makna ataupun
penjelasan dari beberapa scene kepada suatu khalayak umum. Penelitian ini
bertujuan untuk menjelaskan ruang linguistik wacana fenomena gejala sosial pada
pasca perang 1 dan 2 melalui media audio visual Film The Peaky Blinders dalam
kaitannya dengan munculnya wacana diskriminasi status sosial pada rakyat kelas
bawah yaitu kaum buruh pekerja mantan veteran. Peneliti menggunakan paradigma
kritis sebagai cara pandang dalam penelitian ini. Dengan menggunakan paradigma
kritis, analisis wacana yang dilakukan tidak hanya dipusatkan kepada kebenaran
atau ketidakberesan tata bahasa atau proses penafsiran wacana saja, tetapi juga
menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan
reproduksi makna yang telah dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang terdapat dalam
masyarakat. Hasil yang telah dianalisis oleh peneliti adalah bahwa kesenjangan
sosial memberikan dampak yaitu adanya diskriminasi dan penyalahgunaan
kekuasaan berlangsung ketika masyarakat bawah termasuk kaum proletar sudah
menerima dan meniru cara hidup, cara berpikir, dan pandangan kelompok elit yang
mendominasi dan mengeksploitasi mereka dan menyebabkan adanya beberapa
diskriminasi yaitu seperti diskriminasi profesi atau jabatan, diskriminasi pakaian,
serta diskriminasi perilaku atau tata krama (attitude)
CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF FILM THE PEAKY BLINDERS
Film as a communication medium is audio-visual which is used to deliver messages to audiences. This article aims to explain the linguistic space for discourse on social phenomena in post-war I and II through the audio-visual medium The Peaky Blinders film in relation to the emergence of discriminatory discourse on social status among the lower class people, namely ex-soldiers workers. The critical paradigm is used as a perspective in this article. The results that have been analyzed by the author are that social inequality has an impact, namely the existence of social hegemony and power takes place when the grassroots including the proletariat have accepted and imitated the way of life, way of thinking, and views of the elite group that dominates and exploits them and causes some discrimination, namely such as discrimination of a profession or position, discrimination of clothing, and discrimination of behavior or manners
