1,721,077 research outputs found

    The Role of the Village Government in Assisting the Acceleration of the Covid-19 Vaccination Program in Lalang Village, Sunggal District, Deli Serdang Regency, North Sumatra Province

    No full text
    63 HalamanMasuknya virus Covid-19 ke Indonesia membuat pemerintah Indonesia gencar mengeluarkan aturan-aturan yang bertujuan untuk mencegah agar virus tersebut tidak menular, salah satu aturan yang diberlakukan adalah vaksinasi. Namun, ada juga masyarakat yang menolak vaksinasi tersebut, hal itu disebabkan akibat banyaknya tersebar disinformasi terkait vaksinasi. Peranan pemerintah desa menjadi salah satu peranan yang paling diharapkan, karena pemerintah desa yang paling dekat dengan masyarakat. Penulis bertujuan untuk melakukan penelitian mengenai peranan Pemerintah Desa Lalang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang dalam membantu percepatan program vaksinasi Covid-19, kemudian apasaja faktor yang mendukung ataupun menghambat Pemerintah Desa Lalang dalam membantu mempercepat program vaksinasi Covid-19. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dikarenakan akan mempermudah penyesuaian dengan kenyataan yang sesungguhnya. Untuk mengetahui peranan pemerintah desa, penulis menggunakan dimensi jenis peranan menurut David Berry untuk mengetahui peranan yang dilakukan Pemerintah Desa Lalang. Hasilnya, bahwa peranan pemerintah desa sudah cukup baik dalam membantu percepatan program vaksinasi, jika diukur dari dua indikator yaitu; peranan individu dan peranan kelompok. Faktor yang mendukung peranan pemerintah desa yaitu sumber daya manusia yang memadai dan ketepatan waktu pelaksanaan, adapun faktor yang menghambat ialah adanya masalah teknis terkait vaksin, ketakutan yang dialami masyarakat akibat efek disinformasi, dan ketidak pedulian masyarakat terhadap Covid-19. The entry of the Covid-19 virus into Indonesia prompted the Indonesian government to issue regulations aimed at preventing the virus from being transmitted, one of which was vaccination. However, there are also people who refuse the vaccination, this is due to the spread of disinformation related to vaccination. The role of the village government is one of the most expected roles, because the village government is the closest to the community. The author aims to conduct research on the role of the Lalang Village Government, Sunggal District, Deli Serdang Regency in helping to accelerate the Covid-19 vaccination program, then what are the factors that support or hinder the Lalang Village Government in helping to accelerate the Covid-19 vaccination program. The author uses qualitative research methods, because it will make it easier to adjust to the actual reality. To determine the role of the village government, the author uses the dimensions of the type of role according to David Berry to determine the role played by the Lalang Village Government. The result is that the role of the village government is quite good in helping to accelerate the vaccination program, when measured from two indicators, namely; individual roles and group roles. Factors that support the role of the village government are adequate human resources and timeliness of implementation, while the inhibiting factors are the technical problems related to vaccines, the fear experienced by the community due to the effects of disinformation, and the public's indifference to Covid-19

    Strategy for Empowering Out of School Children Through Learning Houses in Realizing Sustainable Education in Duria Village, Lolofitu Moi District, West Nias Regency

    No full text
    56 HalamanLatar belakang masalah dalam skripsi ini adalah banyaknya jumlah anak-anak yang putus sekolah dan memiliki keterbatasan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan anak-anak putus sekolah yaitu jarak sekolah yang jauh dari rumah, transportasi yang tidak memadai, pendapatan keluarga yang tidak mencukupi serta fasilitas pendidikan yang tidak mendukung. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apa yang menjadi faktor penyebab anak putus sekolah dan strategi pemberdayaan anak putus skolah melalui rumah belajar dalam mewujudkan pendidikan berkelanjutan di Desa Duria Kecamatan Lolofitu Moi Kabupaten Nias Barat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Arif Satri yang mengemukakan bebrapa faktor penyebab anak putus sekolah yaitu fakor dalam diri anak, kondisi sosial orang tua, kondisi ekonomi keluarga, kondisi lingkungan dan teman sebaya, kebudayaan dan faktor lainnya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Strategi pemberdayaan anak putus sekolah melalui rumah belajar dalam mewujudkan pendidikan berkelanjutan di Desa Duria berjalan dengan baik. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah memberi pemahaman materi terhadap anak putus sekolah, mengembangkan keterampilan serta mengasah jiwa kewirausahaan anak-anak putus sekolah. Namun dari beberapa faktor seperti faktor dalam diri anak, kondisi sosial orang tua, kondisi ekonomi keluarga, faktor lingkungan dan teman sebaya, kebudayaan dan faktor lainnya belum terpenuhi secara maksimal karena masih banyak anak-anak yang tidak mau memberikan waktunya untuk mengikuti pemberdayaan tersebut. Strategi pemberdayaan anak putus sekolah melalui rumah belajar dalam mewujudkan pendidikan berkelanjutan di Desa Duria sudah dikatakan efektif dalam menanggulangi anak putus sekolah melalui pemahaman materi, keterampilan dan berwirausaha. The background of the problem in this thesis is the large number of children who drop out of school and have limited access to quality education. There are several factors that cause children to drop out of school, namely the distance from school tthat is far from home, inadequate transportation, insufficient family income and unsupported educational facilities. This study was conducted to find out what are the factors that cause chidren to drop out of school and strategies for empowering dropsout through learning houses in realizing sustainable education in Duria Village, Lolofitu Moi District, West Nias Regency. The theory used in this research is Arif Satri who suggest several factors that cause chidren to drop out of school, namely factors in the child, social conditiond of parents, family economics conditions, environmental andpeer conditions, culture and other factors. The mhetod used in this research is a qualitative method which is carried out through observation, interviews and documentation. The strategy for empowering out of school children through learning houses in realizing sustainable education in Duria Village is going well. The activities carried out are providing material understanding to drop out children, developing skills and honing the entrepreneurial spirit of drop out children. However, several factors such as factors wuthin the child, social conditions of parents, family economic conditions, environmental factors and peers, culture nd other factors have not been fully fulfilled because there are still many children who do not want to give their time to participate in the empowerment. The strategy of empowering out of school children through learning houses in realizing sustainable education in Duria Village has been said to be effective in tackling dropouts through material understanding, skills and entrepreneurship

    The Role of the Village Head in Empowering Mothers and Children through Posyandu Services in Tembung Village, Dusun II, Percut Sei Tuan District

    No full text
    68 HalamanPosyandu merupakan suatu wadah pemberdayaan masyarakat yang penting bagi kesehatan dan perkembangan dari suatu desa. Pengelolaan yang baik akan menimbulkan dampak dan keuntungan tersendiri bagi desa tersebut. Kurangnya anggaran, sarana dan prasarana rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) sehingga menimbulkan permasalahan kurang menarik minat masyarakat dalam kegiatan posyandu. Tujuan dari penelitian ini untuk menjelaskan Peranan Kepala Desa Dalam Pemberdayaan Ibu Dan Anak Melalui Pelayanan Posyandu Di Desa Tembung Dusun II Kecamatan Percut Sei Tuan serta apa yang menjadi faktor penghambat dalam pelayanan posyandu. Guna untuk mengetahui rumusan masalah penelitian ini, peneliti menggunakan teori Pratina dengan empat indikator yaitu Wewenang, Tanggung Jawab, Kejelasan Tujuan, dan Cakupan Pekerjaan. Metode penelitian yang digunakan ialah pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peranan Kepala Desa Dalam Pemberdayaan Ibu Dan Anak Melalui Pelayanan Posyandu Di Desa Tembung Dusun II Kecamatan Percut Sei Tuan sudah efektif. Dilihat dari indikator Wewenang, Tanggung Jawab, Kejelasan Tujuan, Cakupan Pekerjaan sudah dilaksanakan dengan optimal. Dan Faktor penghambat Peranan Kepala Desa Dalam Pemberdayaan Ibu Dan Anak Melalui Pelayanan Posyandu Di Desa Tembung Dusun II Kecamatan Percut Sei Tuan ialah Anggaran, Sarana dan Prasarana dan SDM. The purpose of this study is to explain the role of village heads in empowering mothers and children through posyandu services in Tembung Village, Dusun II, Percut Sei Tuan District, and what are the inhibiting factors in posyandu services. The theory use Pratina's theory. The research method is qualitative. The data techniques used is interviews. The results showed that the role of the village head in empowering mothers and children through posyandu services was effective. Inhibiting factors for the role of the village head in empowering mothers and children through posyandu services are Budget, Facilities and Infrastructure and Human Resources

    The Role of the Village Head in Empowering Farmer Groups in Sabungannihuta III Village, Sipahutar District, North Tapanuli Regency

    No full text
    89 HalamanPermasalahan dalam penelitian ini adalah kurangnya kualitas sumber daya manusia, terbatasnya sarana prasarana dan kurangnya modal usaha. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Peranan Kepala Desa Sabungannihuta III dalam pemberdayaan kelompok tani dan untuk mengetahui faktor kendala atau penghambat dalam pemberdayaan kelompok tani. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis teori peranan dari Suhardono yaitu peranan Organisator, Fasilitator, Inovator. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peranan kepala desa dalam pemberdayan kelompok tani di desa Sabungannihuta III belum berjalan dengan baik, faktor kendala yang dihadapi kelompok tani di Desa Sabungannihuta III yaitu rendahnya kualitas sumber daya manusia, kurangnya penyuluhan, terbatasnya sarana prasarana, kurangnya sosialisasi dan bimbingan dari instansi yang terkait dan terbatasnya modal usaha. Saran dari penelitian ini perlu adanya bimbingan teknis kepada kelompok tani dan diharapkan adanya bantuan sarana prasarana dan modal usaha. The problems in this study are the lack of quality human resources, limited infrastructure and lack of business capital. The purpose of this study was to determine the role of the village head Sabungannihuta III in empowering farmer groups and to determine the constraints or obstacles in empowering farmer groups. This study used a qualitative descriptive method using the analysis of Suhardonoꞌs role theory, namely the role organizer, facilitator, innovator. The results of this study can be concluded that the role of the village head in empowering farmer groups in Sabungannihuta III village has not been going well, the contraints faced by farmer groups in Sabungannihuta III village are law guality of human resources, lack of counselling, limited infrastructure, lack of socialization and quidance from related agencies and limited working capital. Suggestions from this research need technical quidance to farmer groups and it is hoped that assistance with infrastructure and business capital is needed

    The Role of Karang Taruna in Increasing Development Progress in Urat Timur Village, Palipi District, Samosir Regency

    No full text
    79 HaalamanTujuan dari penelitian ini yaitu untuk megetahui peranan karangtaruna dalam meningkatkan kemajuan pembangunan di Desa Urat Timur, Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir. Masalah dalam penelitian ini di fokuskan pada kegiatan karang taruna desa urat timur, dan membahas tentang apa yang menjadi penghambat dalam peranan karang taruna desa urat timur. Penelitian ini menggunakan teori peranan dari Rizzo,Hours dan Lirztman, yang memiliki 4 indikator yaitu Wewenang, Tanggung jawab, Kejelasan tujuan,serta cakupan pekerjaan, dengan pendekatan, metode deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara, studi pustaka dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwasannya peranan karang taruna belum maksimal, dilihat dari ke 4 indikator yang sudah berjalan dengan baik, hanyalah indikator wewenang. Sedangkan indikator tanggung jawab, kejelasan tujuan, cakupan pekerjaan belum berjalan dengan baik. Organisasi karangtaruna desa urat timur ini juga memiliki beberapa halangan yang juga menghambat proses pencapaian tujuan yaitu faktor pendanaan di mana jika pendanaan kurang yang mengakibatkan program yang telah di rancang tertunda, kemudian di sambung dengan fasilitas organisasi ini yang kurang memadai misalnya tempat organisasi ini berkumpul. The aim of this research is to find out the role Karangtaruna in increasing development progress in Urat Timur Village, Palipi District, Samosir Regency. Research role theory from Rizzo, Hours and Lirztman, which has 4 indicators namely Authority, Responsibility, Clarity purpose, scope of work, with a qualitative descriptive. Karangtaruna Urat Timur has not been maximized in terms of several goals that have not been achieved, including creating young people who have high self-confidence and are able to express their talents, because they lack self confidence, this is what makes this organization, less able to show its role in advancing village development

    Field Work Lecture Report on Performance in the Field of Personnel at the Office of the Financial and Development Supervisory Agency Representative for North Sumatra Province

    No full text
    29 HlmDari uraian kegiatan yang dilakukan penulis selama magang di Kantor BPKP Perwakilan Provinsi Sumatera Utara dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Kantor BPKP Perwakilan Provinsi Sumatera Utara merupakan unsur pelaksana BPKP Pusat yang mempunyai tugas dalam melaksanakan sebagian urusan tenaga kerja dan melaksanakan tugas pembantu sesuai dengan bidang tugasnya. Penulis dapat memahami interaksi kerja dengan sinergi kerja dan mengenal dunia kerja yang sesungguhnya dalam bidang pekerjaan khususnya sebagai pegawai, dan meningkatkan tingkat kecermatan dalam menginput data dan lain-lain. Adanya kerjasama tim yang baik dalam melaksanakan kelompok magang, sikap ingin tahu dan mau belajar, serta adanya kemapuan dalam bidang kinerja kepegawaian sehingga transformasi ilmu dan arahan pementor dapat dipahami oleh peserta magang dan tepat sasaran merupakan faktor khusus yang membantu kegiatan peserta magang

    The Role Of The Camat In Improving The Performance Of The State Civil Apparatus In Berastagi District, Karo District

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang peranan camat dalam meningkatkan kinerja Aparatur Sipil Negara serta mengidentifikasi hambatan Camat dalam meningkatkan kinerja ASN di Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo. Permasalahan yang diangkat pada penelitian adalah : Tugas belum terlihat optimal, Pelanggaran disiplin kerja, Pegawai datang terlambat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis teori peranan dari Soekanto (2012: 214), yaitu Peranan Aktif, Peranan Partisipatif, Peranan Pasif. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peranan camat dalam meningkatkan kinerja ASN di kecamatan Berastagi Kabupaten Karo Sudah berjalan tetapi belum optimal. Data dikumpulkan berdasarkan teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara, observasi, dokumentasi. Teknik analisis data yang peneliti lakukan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Informan pada penelitian ini yaitu Informan Kunci, Informan Utama, Dan Informan Tambahan. Faktor kendala Camat dalam meningkatkan kinerja Aparatur Sipil Negara di Kecamatan Berastagi yaitu Kualitas Sumber Daya Manusia Belum Memadai Dan Domisili berjauhan dengan kantor sehingga pegawai tak tepat waktu. Saran dari penelitian ini Camat disarankan melakukan Diklat kepada pegawainya dan Menyediakan pemerintah ASN yang tempat tinggalnya dekat dengan kantor. This study aims to find out about the role of the sub-district head in improving the performance of the State Civil Apparatus and identify obstacles to the sub-district head in improving ASN performance in Berastagi District, Karo Regency. The problems raised in the research are: Tasks do not look optimal, Violations of work discipline, Employees arrive late. This study uses a qualitative descriptive method using role theory analysis from Soekanto (2012: 214), namely Active Role, Participatory Role, Passive Role. The results of this study can be concluded that the role of the sub-district head in improving ASN performance in Berastagi sub-district, Karo Regency has been running but not optimal. Data was collected based on data collection techniques by conducting interviews, observation, documentation. Data analysis techniques that researchers do are data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The informants in this study were key informants, main informants and additional informants. The constraining factor of the Camat in improving the performance of the State Civil Apparatus in Berastagi District is the Inadequate Quality of Human Resources and the domicile is far from the office so that employees are not on time. Suggestions from this research are suggested that the sub-district head conduct training for his employees and provide ASN government whose residence is close to the office.74 Halama

    Implementation of the Toddler Nutrition Improvement Program at Posyandu, Pandau Hilir Subdistrict Medan City Struggle Field

    No full text
    67 HalamanPosyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar, dan yang paling utama untuk memperoleh penurunan angka kematian ibu dan bayi. Salah satu program yang hampir selalu ada di setiap Posyandu adalah program Perbaikan Gizi karena dapat dilakukan oleh kader poyandu saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara konkrit implementasi program perbaikan gizi balita di posyandu dan hambatan implementasi program perbaikan gizi balita di posyandu Kelurahan Pandau Hilir Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah Ketua Posyandu, Kader Posyandu, dan masyarakat orangtua atau wali dari balita peserta posyandu. Data dikumpulkan berdasarkan teknik pengumpulan data yaitu Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi. Berdasarkan teori George C. Edward III yang terdiri dari komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi, Implementasi Program Perbaikan Gizi di Kelurahan Pandau Hilir Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan telah memenuhi keempat variabel tersebut meskipun masih ada beberapa problematika seperti kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya posyandu, keterbatasan jumlah fasilitas dalam melaksanakan kegiatan posyandu. Posyandu is one form of Community-Sourced Health Efforts that is managed and organized from, by, for, and with the community in the implementation of health development, in order to empower the community and provide convenience to the community in obtaining basic health services, and most importantly to reduce maternal and infant mortality. One of the programs that almost always exists in every Posyandu is the Nutrition Improvement program because it can be carried out by poyandu cadres alone. The purpose of this study was to determine the implementation of the toddler nutrition improvement program in Posyandu and the barriers to the implementation of the toddler nutrition improvement program in Posyandu Pandau Hilir Village, Medan Perjuangan Sub-district, Medan City. This research uses a qualitative approach. The data sources in this study are the Head of Posyandu, Posyandu Cadres, and community parents or guardians of toddlers participating in posyandu. Data were collected based on data collection techniques, namely observation, interviews, and documentation. Based on the theory of George C. Edward III which consists of communication, resources, disposition, and bureaucratic structure, the Implementation of the Nutrition Improvement Program in Pandau Hilir Village, Medan Perjuangan Sub-district, Medan City has fulfilled the four variables although there are still some problems such as the lack of public awareness about the importance of posyandu, the limited number of facilities in carrying out posyandu activities

    Evaluation of the Family Hope Program in Belawan Bahagia Village, Medan Belawan District, Medan City

    No full text
    87 HalamanKemiskinan didefenisikan sebagai kondisi saat seseorang atau sekelompok orang tak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat atau ketidakmampuan dari pekerjaan yang dimiliki untuk menghasilkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang. Pemerintah mengeluarkan kebijakan program yang merupakan pengembangan system perlindungan sosial yang dapat meringankan dan membantu rumah tangga sangat miskin dalam hal mendapatkan akses pelayanan kesehatan dan Pendidikan dasar dengan harapan program ini akan dapat mengurangi kemiskinan di Negara kita. Dengan demikian, dalam kerangka percepatan penanggulangan kemiskinan dan pengembangan sistem jaminan sosial, pemerintah meluncurkan Program Keluarga Harapan (PKH). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana evaluasi program keluarga harapan (PKH) di Kelurahan Belawan Bahagia Kecamatan Medan Belawan Kota Medan dalam menanggulangi kemiskinan dan faktor penghambat dalam menjalankan PKH. Penelitian ini menggunakan teori dari William N.Dunn dengan menggunakan enam (6) indicator penelitian yaitu : efektivitas, efisiensi, responsivitas, pemerataan, kecukupan dan ketepatan. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif dengan tujuan menggambarkan secara sistematis tentang fokus penelitian. Poverty is defined as a condition when person or group of people are unable to fulfill their basic rights to maintain and develop a dignified life. The government launched the PKH. The purpose of this study to determine the extent the evaluation of the PKH in Belawan Bahagia Village, Medan Belawan District, Medan City in overcoming poverty and inhibiting factors in implementing PKH. This study uses the theory of William N. Dunn using six research indicators: effectiveness, efficiency, responsiveness, equity, adequacy and accuracy. The research method used is descriptive qualitative research with the aim of systematically describing the research focus
    corecore