177,452 research outputs found
Cryptomimetic tropes in Yoshitomo Nakura’s Batman: Death Mask
This article discusses the gothic and science fiction influences apparent in Yoshinori Natsume’s Batman: Death Mask with reference to the Derridean notion of the crypt and Jodey Castricano’s linguistic/structural model of cryptomimesis.
It begins at the widest level, noting the gothic nature of the superhero in general (whose fragmented identity and use of tropes such as the mask reference this mode. It notes a similar presence of science fiction motifs in the industry’s archetypes, making reference to notions such as pseudo-science and alternate worlds. It then relates these observations specifically to Batman, arguing that this character encapsulates many of these tropes. In terms of the gothic, it discusses the psychogeographic setting of Gotham City, the mask motif, and the tropes of night-time and the vampire bat. It proceeds to consider science fiction tropes in similar terms, making reference to elements such as Batman’s lack of powers and extensive use of gadgetry.
It introduces the Derridean notion of the crypt (as something both hidden and external to itself) and, more particularly, to Jodey Castricano’s theories of cryptomimesis (as reliant upon notion of absence, reversal and the other within). It relates these observations to the comics medium in terms of its non-linear nature and hierarchical construction of story arcs. It argues that the cryptomimetic model is particularly applicable to the Batman mythos, which revolves around the notion of memories locked inside and the reversals of ‘secret identity’ and ‘alter ego’.
It then narrows this argument still further to consider the presence of gothic and science fiction tropes in Natsume’s Batman: Death Mask. It notes the style and structure of this comic and argues that the juxtaposition of manga stylistics with American comics tropes produces an inherently alien and futuristic effect, despite the historical nature of the story in question, which draws on Japanese tradition. It analyses the comic’s content in similar terms, paying particular attention to the addition of an extra identity to the ‘Batman’ and ‘Bruce Wayne’ facets of this character, and the reversal of the mask motif (as a threat rather than a shield). It concludes by demonstrating that the presentation of these elements is cryptomimetic: reliant on absence, reversal and the notion of the other within
From 'ambiguously gay duos' to homosexual superheroes: the implications for media fandom practices
Despite traversing the fine line between homosocial and homosexual (Brooker, 2000) in his controversial text Seduction of the Innocent, Fredric Wertham's (1954) description of Batman and Robin as a 'wish dream of two homosexuals living together' (Lendrum, 2004, p.70) represents one of the first published queer readings of superhero characters. This text can also be interpreted as the commencement of, and subsequent intense interest in the way superhero characters often portray a 'camp' sensibility (Medhurst, 1991) representative of a queer performative identity (Butler, 1993).
This is most evident today within comic book fan-communities online where the sexual identity of popular superheroes are continuously explored and debated in discussion forums and expressed through the production of slash fiction and queer-themed fan art. Indeed, the ambiguity inherent in superhero comics has traditionally allowed and encouraged fans to operate as 'textual poachers' (Jenkins, 1992) appropriating these texts for their own means.
Today, however, there exist a new generation of comic book superheroes, in the form of the Young Avengers, Uncanny X-Men and The Authority, which contain established 'out' gay characters. This paper will examine the implications of these series on the practice of fandom by analyzing fan reactions and responses to the manner in which the industry has opted to present a gay relationship between its superhero characters Wiccan and Hulkling and, Apollo and The Midnighter. The meaning of the shift from the 'implied' to 'actual' is examined in terms of fans' acceptance, resistance and desire to further appropriate the text
Batman war games
"In this new edition of the second act of the classic Batman epic, Gotham and its underworld are in chaos after a string of violence has rocked the city to its core. It's up to Batman--with the help of his superhero allies and the GCPD--to keep Gotham from plunging further into the depths of depravity!"-
Batman sebagai Pahlawan Borjuis (Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)
Nama : Shafira Indah MNIM : D2C009036Judul : Batman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)ABSTRAKBatman merupakan salah satu karakter superhero (pahlawan super) yangeksistensinya dalam dunia perfilman Hollywood tidak dapat diragukan lagi. Mengawalikesuksesan melalui komik dan serial TV, Batman telah berhasil menjadi film superheroterbaik dan terlaris sepanjang masa. Namun penelitian ini akan mengkritik sosok pahlawanborjuis yang direpresentasikan dalam karakter Batman sebagai superhero dalam film BatmanReturns. Bruce Wayne dengan latar belakang keluarga milyarder yang memiliki kekuasaandalam masyarakat memanfaatkan kekayaannya untuk menjadi seorang Batman.Tipe penelitian ini adalah deskriptif, di mana penelitian yang dilakukan berusahamengungkapkan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan bertujuan untukmembuat gambaran secara sistematis pada tanda-tanda yang direpresentasikan dalam filmBatman Returns. Metode analisis yang digunakan adalah analisis semiotika Roland Barthesdengan membedah teks melalui dua tataran penandaan, yaitu makna denotasi dan maknakonotasi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dokumentasi, yaitu denganmengumpulkan informasi yang berkaitan dengan penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa tanda yang merepresentasikanBatman sebagai pahlawan borjuis yaitu status sosial Batman sebagai kelas atas, sikap yangmenunjukkan kekuasaan dan pro-kapitalis, dan sosoknya yang individualis. Bertentangandengan Batman, Penguin, yang muncul sebagai musuh Batman justru memegang peransebagai sosok proletariat. Hal ini dapat dilihat dari aspek pakaian, lingkungan, kamera, dansikap Penguin yang memperjuangkan haknya secara revolusioner sebagai bentuk perlawananterhadap ketidakadilan yang diterimanya. Dengan adanya penelitian ini, penulis berharap agarmasyarakat dapat lebih kritis dalam memahami hal-hal yang ditampilkan oleh media. Sosokyang ditampilkan protagonis dalam media tidak selalu dapat dinilai sebagai sosok yanginnocent (polos), namun dapat dilihat sisi lainnya melalui kaitannya dengan nilai-nilai sepertinilai kemanusiaan, kelas sosial, dan kapitalisme. Begitu juga sebaliknya, sosok yangditampilkan media secara antagonis tidak dapat selalu dipahami sebagai sosok yang buruk.Kata kunci: Film, Superhero, Pahlawan BorjuisNama : Shafira Indah MNIM : D2C009036Judul : Batman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)ABSTRACTBatman is a superhero character whose existence in the Hollywood film industry can not bedoubted. Venturing through the success of the comic and TV series, Batman has managed tobe the best superhero movie and best-selling of all time. However, this study will criticizebourgeois hero who represented by Batman as a superhero in the film Batman Returns. BruceWayne with a family background of billionaires who have power in society utilizing hiswealth to become Batman.The type of research is descriptive, where research is done trying to tell a problem orsituation as it is and aims to make a systematic overview on the signs that represented in thefilm Batman Returns. The analytical method used was Roland Barthes semiotic analysis todissect the text through two level tagging, i.e the meaning of denotation and connotations.Techniques of data collection is documentation, which is to gather information related to theresearch .The results showed that there are some signs that represent the bourgeois hero asBatman's status as an upscale social, power, and attitude that shows pro-capitalist andindividualist figure. Contrary to Batman , Penguin , which appears as an villain of Batmanactually holds the role as a figure of the proletariat. It can be seen from the aspect of clothing(dress), environment, camera , and attitudes Penguin fought revolutionary for their rights inthe struggle against injustice is received. Given this research, the author hopes that people canbe understanding the things shown by the media critically. The protagonist figure shown inthe media can‟t always be assessed as being innocent, but can be seen through the other sideof relation with values such as human values, social class, and capitalism . Vice versa , thefigure shown is antagonistic media can‟t always be understood as a bad figure.Keywords: Film, Superhero, Bourgeoise HeroesBatman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Shafira Indah MNIM : D2C009036JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANA. Latar BelakangBatman merupakan salah satu karakter superhero (pahlawan super) yang eksistensinyadalam dunia perfilman Hollywood tidak dapat diragukan lagi. Mengawali kesuksesanmelalui komik dan serial TV, Batman telah berhasil menjadi film superhero terbaik danterlaris sepanjang masa (Sofyan, 2012). Film Batman pertama sudah hadir pada tahun1966 dan terus diproduksi sekuelnya oleh beberapa sutradara terkenal di antaranya TimBurton dan Christoper Nolan. Seperti salah satu film masterpiece bikinan Tim Burtonyang diadaptasi dari komik karya Bob Kane dan Bill Finger ini berjudul Batman Returns.Menjadi sekuel dari film Batman (1989), Batman Returns (1992) masih bercerita seputarkehidupan Bruce Wayne (Michael Keaton), milyarder asal kota Gotham yang memilikialter ego sebagai Batman. Bruce Wayne bukanlah manusia atau makhluk khayalan yangdapat terbang di atas awan, menembakkan laser dari bagian tubuhnya, atau dapat berubahmenjadi makhluk kuat selain manusia. Bruce Wayne adalah orang biasa yangmemanfaatkan kekuatan teknologi dan uang untuk memberantas ketamakan dankeserakahan di Gotham City (Wiyoto, 2012).Kehadiran sosok Batman sebagai pahlawan pembela kebenaran yang mengandalkanteknologi, iptek, ilmu bela diri, dan tentunya kekayaan, tentu membuat audiens larutdalam karakter heroik yang mulia dan innocent. Namun jika ditilik melalui sudutpandang Marxisme, karakter Batman sebagai bourgeois heroes merupakan sosokpahlawan pendukung kapitalisme yang memiliki kekuasaan dalam masyarakat. Denganlatar belakang sebagai anak milyarder dan pewaris utama Perusahaan paling berpengaruhdi Gotham, Wayne Enterprise, Bruce/Batman berfungsi untuk mempertahankan statusquo dengan menjajakan ideologi kapitalis dalam bentuk terselubung dan denganmembantu menjaga keinginan konsumen tetap tinggi. Salah satu nilai dijual dalamkonsep pahlawan borjuis adalah individulisme, sebuah nilai yang muncul dalam berbagaibentuk (the self-made man, the American dream, the “me generation”, dan sebagainya)(Berger, 1991: 47-48). The Penguin dalam film ini berperan sebagai villain justru hadirsebagai seseorang pimpinan gang kelas bawah yang mewakili kaum yang ditinggalkan,dibuang, dikucilkan. Penguin di sini mewakili kaum kelas bawah. Kaum kelas bawahmerupakan kaum yang tertindas dimana harapan dan hak mereka dirampas (Magnis-Suseno, 2003:114).B. Perumusan MasalahPenelitian ini akan mengkritisi dan menjelaskan kepada masyarakat mengenai sosokpahlawan borjuis yang digambarkan dalam karakter Batman sebagai superhero dalamfilm Batman Returns. Bruce Wayne dengan latar belakang keluarga milyarder yangmemiliki kekuasaan dalam masyarakat memanfaatkan kekayaannya untuk menjadiseorang Batman. Dari hal tersebut maka dapat membuka permasalahan penelitian yaitubagaimana sosok pahlawan borjuis pada Batman direpresentasikan dalam film BatmanReturns?C. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana sosok pahlawan borjuis padaBatman direpresentasikan dalam film Batman Returns.D. Kerangka Pemikiran- Sosok Superhero- Stratifikasi Sosial- Film sebagai RepresentasiE. Metodologi Penelitian- Tipe Penelitian: deskriptif-kualitatif. Penelitian deskriptif digunakan untukmendeskripsikan fenomena sosial yang menyajikan gambaran tentang detil spesifikdari situasi, lingkungan sosial, atau sebuah hubungan (Neuman, 2007 : 16). Tujuanutama penelitian kualitatif adalah untuk mengetahui motif yang mendasari perilakumanusia (Kothari, 2004: 3-4)- Pendekatan Penelitian: Teori semiotika Roland Barthes- Subyek Penelitian: Film Batman Returns yang diproduksi Warner Bros pada tahun1992 dan disutradarai oleh Tim Burton.- Sumber Data: Data primer diperoleh langsung dari mengamati dan mengkaji filmBatman Returns. Data sekunder diperoleh dari: internet, kepustakaan, buku, jurnalataupun informasi lain yang mampu membantu penelitian dan relevan denganpermasalahan yang diteliti.- Teknik Pengumpulan Data: Dokumentasi. Yaitu dengan mengumpulkan berbagaiinformasi tentang film tersebut yang berkaitan dengan tema penelitian ini.- Analisis dan Interpretasi Data: Kode-kode sosial “Codes of Television” John Fiskeyang terdiri dari 3 level (Level Realitas, Level Representasi, dan Level Ideologis).PEMBAHASANPada bagian ini dilakukan analisis secara sintagmatik dan paradigmatik yang berisi level“reality”, “representation”, dan “ideology”. Dalam bukunya ”Television Culture” (1987: 7)John Fiske menggunakan Codes of Television untuk menganalisis objek yang bergerak. Levelpertama yakni realitas (reality) meliputi penampilan dan lingkungan dalam film antara lain:penampilan, busana/kostum, tata rias, lingkungan, gaya bicara, dan ekspresi. Tataran keduaadalah representasi (representation) yang dibangun lewat kerja teknis seperti kamera,pencahayaan, musik dan selanjutnya ditransmisikan ke dalam konflik, karakter, dan dialog.Untuk level ketiga yaitu level ideologi (ideology) dianalisis secara paradigmatik denganberusaha mengungkapkan kode-kode ideologi yang tersembunyi dalam suatu objek sepertipatriarki, ras, feminisme, kelas, dan sebagainya.Analisis sintagmatik yang sudah dilakukan sebelumnya pada tokoh Batman, Penguin,dan Max sebagai tiga tokoh yang paling menonjol dalam film membawa beberapa nilai danideologi tersembunyi di antaranya:1. Kemunculan Batman menunjukkan status sosial ekonominya yaitu kelas atas (upperclass). Hal tersebut dapat dilihat pada beberapa elemen yaitu: Pakaian. Menggunakanpakaian tertentu memiliki beberapa alasan, sama halnya saat kita berbicara. Beberapaalasannya di antaranya, „untuk membuat hidup lebih mudah, untuk menunjukkanmaupun menyembunyikan identitas kita, dan untuk menarik perhatian lawan jenis‟(Kuruc, tt:198). Pada Batman, kostum yang digunakan memiliki fungsi untukmenunjukkan identitasnya sebagai seorang superhero sekaligus menyembunyikanidentitas aslinya sebagai Bruce Wayne melalui topeng yang ia gunakan. Pakaianpakaianyang dikenakan oleh Batman, Penguin, dan Max memiliki fungsi secaradenotatif yang sama, yaitu sebagai sumber perlindungan tubuh dalam bertahan hidupyang berupa tambahan bagi rambut (topi) dan ketebalan kulit (baju dan celana) padatubuh yang berfungsi melindungi. Namun, seperti halnya semua sistem buatanmanusia, pakaian akan selalu memperoleh selingkupan konotasi dalam latar sosial(Danesi,2010:257). Pakaian digunakan untuk melegitimasi posisi pemakainya dalamidentifikasi simbolik dengan tradisi yang ada pada masyarakat mereka. Kaum elitperkotaan berpakaian berbeda dari yang lainnya dalam fungsinya sebagai simbol kelasatau peringkat (Kawamura, 2005:24). Dari beberapa pakaian yang dikenakan Bruceseperti tuxedo, setelan jas, kemeja, dan dasi juga pada koleksi kostumnya sebagaiBatman yang melimpah menunjukkan Bruce/Batman sebagai seseorang dengan statusekonomi yang tinggi. Menurut pandangan Spencer, fashion adalah simbol manifestasidari hubungan antara superior dan inferior yang berfungsi sebagai kontrol sosial.Fashion juga merupakan simbol dari peringkat sosial dan status (Spencer 1966[1896]dalam Kawamura,2005:22).2. Batman adalah sosok yang berkuasa dan pro-kapitalis. Sebagai tokoh utama dalamfilm, hampir keseluruhan alur cerita tentu didominasi dengan kemunculanBatman/Bruce. Ditemukan beberapa aspek yang memunculkan tanda yangmenegaskan bahwa Batman merupakan sosok yang memiliki kekuasaan di Gothamnamun sekaligus sosok yang pro-kapitalis, di antaranya: Aspek kamera. Penggunaanbeberapa teknik dalam kamera mengandung beberapa tanda yang kemudian dapatsaling terkait dengan aspek-aspek lain hingga menemukan sebuah ideologi tertentu.Penggunaan framing kamera long-shot pada Batman merupakan petanda yangmemiliki makna sebagai sebuah konteks, ruang lingkup, dan jarak publik. Teknik lowangle memaknai adanya kekuasaan (power) dan wibawa (authority) (Berger,1982:27). Keterlibatan Batman dalam kebijakan pemerintah. Pada kelompok statussosial lapisan atas biasanya juga memiliki beberapa aspek lain yang juga dihargai dandiakui oleh masyarakat. Kekayaan tentu erat kaitannya dengan kekuasaan dankehormatan dari lingkungan sosialnya. Bruce memegang peran sebagai pemilikWayne Enterprises. Sebagai seseorang yang berpengaruh di Gotham, Brucemenunjukkan adanya hubungan dan keterlibatannya dengan pemerintah Gotham.Tanda tersebut dapat terbaca melalui potongan dialog Bruce yang mengungkapkanketidaksetujuannya pada upaya Max membangun pembangkit listrik di Gothammelalui kalimat “I'll fight you. I've already spoken to the mayor and we agree.”(“Aku akan menentangmu. Aku sudah berbicara dengan Walikota dan kitamenyepakati hal ini.”). Bruce menjadi sosok yang memiliki kekuasaan dan pengaruhbagi para kalangan elit Gotham.Meskipun tidak digambarkan secara langsung dalam film ini karena film inimerupakan sekuel kedua kisah Batman namun latar belakang keluarga Batmanmenyebutkan bahwa Bruce menjadi pewaris tunggal dari Perusahaan terbesar diGotham yaitu Wayne Enterprises. Hal itu tentu saja secara otomatis membawaBruce/Batman pada status sosial kelas atas melalui ascribed status, yaitu status sosialyang diberikan berdasarkan jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia,dan lain-lain. Dapat juga merujuk pada posisi secara hierarki dan menandakan prestiseseseorang (Bruce, 2006, 289).3. Individualisme pada sosok Bruce/Batman. Marx dalam menganalisis media jugameliputi hubungannya dengan figur heroik dalam suatu film, drama televisi, bukukomik, dll. Bagi beberapa orang, sosok pahlawan dalam film dapat mencerminkanusia dan masyarakat mereka. Bagi yang lain, sosok pahlawan memberi dampakadanya imitasi yang dilakukan untuk mencapai identitaas. Konsep pahlawan yangborjuis dalam suatu tatanan masyarakat dianggap sebagai sebuah penyimpangan yangdapat mengganggu ekuilibrium masyarakat (Berger, 1982:47). Pahlawan borjuismemiliki fungsi utama untuk menjaga status quo dengan „menjajakan‟ ideologikapitalis dalam berbagai bentuk. Kelas borjuis, secara hakiki berkepentingan untukmempertahankan status quo, untuk menentang segala Perubahan dalam strukturkekuasaan termasuk USAha Perubahan yang dilakukan kelas proletar secararevolusioner. Salah satu konsep yang „dijajakan‟ pahlawan borjuis adalahindiviualisme, di mana hal tersebut juga dapat ditemui pada sosok Batman. Padaanalisis sintagmatik yang telah diuraikan sebelumnya, baik Batman maupun Bruceditampilkan dalam lingkungan sosialnya sebagai sosok yang jarang bersosialisasidengan rekan maupun sahabat terdekat. Hanya Alfred Pennyworth, sebagai pelayandan orang kepercayaan keluarganya saja yang terlihat selalu menemani, melayani, danmembantu aktivitas Batman.PENUTUP1. Status sosial Batman sebagai kelas atas. Dapat dilihat dari cara berpakaian. Gayaberpakaian seseorang juga berfungsi untuk menunjukkan simbol dari peringkat sosialdan status seseorang dalam masyarakat. Beberapa jenis pakaian yang digunakanBruce/Batman seperti tuxedo, kostum berteknologi Batman yang terdiri dari basicsuit, topeng, jubah, dan sepatu boots merupakan pakaian dan aksesoris yang seringdigunakan oleh masyarakat kelas atas untuk menandai kedudukan sosialnya dimasyarakat. Kostum Batman yang hi-tech (berteknologi tinggi) tentunya memerlukanbiaya yang sangat besar dalam pembuatannya dan Batman merupakan salah satusuperhero dengan kapabilitas tersebut.2. Batman adalah sosok yang berkuasa dan pro-kapitalis. Dilihat dari aspek kameradengan framing long-shot merupakan petanda yang memiliki makna sebagai sebuahkonteks, ruang publik, dan jarak pubilk. Sedangkan teknik low-angle memaknaiadanya kekuasaan (power) dan wibawa (authority). Selain itu ditemukan pula ideologikapitalis yang dilihat dari kepemilikan modal (uang dan alat-alat produksi) Batmandalam Perusahaan yang dikelolanya dan keterlibatan Batman dalam suatu kebijakanpemerintah, hal ini ditunjukkan melalui dialognya dengan Max Schreck yangmengungkapkan pertentangannya dan Walikota Gotham terhadap rencanapembangunan pembangkit listrik Power Plant di Gotham.3. Nilai individualisme yang ditemukan dalam sosok Batman menegaskan sosoknyasebagai pahlawan borjuis. Menurut Marx, salah satu konsep yang „dijajakan‟pahlawan borjuis adalah individualisme. Hal ini dapat dilihat dari analisis mengenailingkungan pada analisis sintagmatik. Bruce/Batman ditampilkan dalam lingkungansosialnya sebagai sosok yang jarang bersosialisasi dengan rekan maupun sahabatterdekat. Hanya Alfred Pennyworth, sebagai pelayan dan orang kepercayaankeluarganya yang terlihat selalu menemani, melayani, dan membantu aktivitasBatman.4. Bertentangan dengan Batman, Penguin, yang hadir sebagai musuh Batman justrumemunculkan tanda-tanda yang dapat dibaca sebagai sosok proletariat. Proletariatmemegang peranan sebagai strata terbawah dari masyarakat. Sebagai kelas termiskindari sebuah masyarakat yang tidak memiliki alat-alat produksi. Pada aspek gayaberpakaian Penguin digambarkan pakaian yang digunakan hanya berupa longunderwear(pakaian dalam berbentuk terusan) sebagai pelindung tubuh dari udaradingin dan sebuah sepatu boots bertali dan berbahan kulit. Aksesori lain seperti topitinggi (top hat) yang digunakan merupakan topi untuk semua kalangan kelas sosialyang menjadi populer di Abad ke-19. Lingkungan tempat tinggal Penguin adalahgorong-gorong, pipa pembuangan untuk limbah atau air permukaan yang terletak dibawah tanah. Aspek kamera dengan teknik high-angle memberikan kesan inferioritas,ketidakberdayaan, dan lemah.5. Penguin melakukan perlawanan secara revolusioner untuk memperjuangkan haknyasebagai rakyat Gotham yang telah dirampas karena dampak kapitalisme. Dengankeadaan fisiknya yang cacat juga membuat Penguin menjadi sosok yang terbuang dandikucilkan. Hal tersebut dapat dilihat pada dialog-dialog yang digunakan dankemunculannya di Gotham dengan cara revolusioner seperti membuat kekacauandengan kawanan sirkusnya Red Triangle Circus.DAFTAR PUSTAKABuku:Berger, Arthur Asa. (1991). Media Analysis Techniques. New Delhi: Sage Publications Ltd.Bruce, Steve, and Yearley, Steven. (2006). The SAGE Dictionary of SOCI OLOGY .London:Sage Publications Ltd.Danesi, Marcel. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotikadan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Kawamura, Yuniya. (2005). Fashion-ology. Berg: New York.Kothari, R. C. (2004). Research Methodology. New Delhi: New Age International Ltd.Magnis-Suseno, Franz. (2003). Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis kePerselisihan ke Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Neuman, Lawrence W. (2007). Basic of Social Research. Amerika: Pearson Education.Internet:Sofyan, Eko Hendrawan. (2012). Ini Dia, 10 Film Terlaris di Tahun 2012. Dalamhttp://entertainment.kompas.com/read/2012/12/27/16341739/Ini.Dia.10.Film.Terlaris.di.Tahun.2012%20Sofyan%2027%20desember%202012. Diunduh pada 1 April pukul20.15 WIB.Wiyoto (2012). 10 Fakta Batman Yang Tidak Anda Ketahui. Dalamhttp://uniqpost.com/49215/10-fakta-batman-yang-tidak-anda-ketahui/. Diunduh pada 1April pukul 21.00 WIB.Jurnal:Kuruc, Katarina.tt. Fashion as Communication: A semiotic Analysis of Fashion on „Sex andthe City
An evaluation of BMX6 for Community Wireless Networks
Nowadays, a growing number of communities of citizens build, operate and own open IP-based community wire- less networks with thousands of low capacity nodes actively participating in routing the data traffic. This article focuses on one of their concerns, routing and its scalability, by presenting BatMan-eXperimental Version 6 (BMX6) and evaluating its performance. BMX6 is a low overhead and scalable mesh network routing protocol inspired by human networks. Its performance is evaluated in comparison with OLSR in terms of overhead and convergence time as networks grow in number of nodes and diameter. The results show that the convergence time and protocol overhead per node in BMX6 is not significantly affected by the addition of new nodes in contrast with OLSR, where both parameters can grow super-linearly. This confirms the excellent scalability of BMX6
Negative ion beam characterisation in BATMAN by mini-STRIKE: Improved design and new measurements
The ITER project requires additional heating provided by two injectors of neutral beams resulting from the neutralisation of accelerated negative ions. To study and optimise negative ion production, the SPIDER test facility (particle energy 100keV; beam current 50A) is under construction in Padova, with the aim of testing beam characteristics and to verify the source proper operation. The SPIDER beam will be characterised by the instrumented calorimeter STRIKE, whose main components are one-directional carbon fibre carbon composite tiles. Some prototype tiles have been employed in 2012 as a small-scale version (mini-STRIKE) of the entire system to investigate the features of the beam from BATMAN at IPP-Garching. As the BATMAN beamlets are superposed at the measurement position, about 1m from the grounded grid, an actively cooled copper mask is located in front of the tiles; holes in the mask create an artificial beamlet structure. Recently the mini-STRIKE has been updated, taking into account the results obtained in the first campaign. In particular the spatial resolution of the system has been improved by increasing the number of the copper mask holes. Moreover a custom measurement system has been realized for the thermocouple signals and employed in BATMAN in view of its use in SPIDER. The present contribution gives a description of the new design of the system as well as of the thermocouple measurements system and its field test. A new series of measurements has been carried out in BATMAN. The BATMAN beam characterisation in different experimental conditions is presented
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Box 6, Neg. No. 2091: Dennis Batman and His Wife
This black and white photograph features a portrait of Dennis Batman and his wife - the couple is standing next to each other holding hands; he is wearing a suit and she is wearing a long light dress. Dennis Batman - from Seward, Kansas (Post office and township in Stafford County) ordered the photograph.https://scholars.fhsu.edu/stafford_county/1562/thumbnail.jp
BATMAN: MOS Spectroscopy on Demand
Multi-Object Spectrographs (MOS) are the major instruments for studying primary galaxies and remote and faint objects. Current object selection systems are limited and/or difficult to implement in next generation MOS for space and ground-based telescopes. A promising solution is the use of MOEMS devices such as micromirror arrays, which allow the remote control of the multi-slit configuration in real time. TNG is hosting a novelty project for real-time, on-demand MOS masks based on MOEMS programmable slits. We are developing a 2048×1080 Digital-Micromirror-Device-based (DMD) MOS instrument to be mounted on the Galileo telescope, called BATMAN. It is a two-arm instrument designed for providing in parallel imaging and spectroscopic capabilities. With a field of view of 6.8×3.6 arcmin and a plate scale of 0.2 arcsec per micromirror, this astronomical setup can be used to investigate the formation and evolution of galaxies. The wavelength range is in the visible and the spectral resolution is R=560 for a 1 arcsec object, and the two arms will have 2k × 4k CCD detectors. ROBIN, a BATMAN demonstrator, has been designed, realized and integrated. We plan to have BATMAN first light by mid-2016
Plan for Batman Ride at Blackpool
Straight track section of the Batman Ride at C.B.A. Blackpool, March 1969. Printed sections of the track. Annotated with measurements and technical construction details. Scale 1 ft. to 1.5 inches
- …
