15 research outputs found

    OPTIMALISASI GEOMETRIK DAERAH JALINAN BUNDARAN (ROUNDABOUT) SIMPANG TUJUH ULEE KARENG DENGAN PENDEKATAN METODE SIMULASI VISSIM 6.00-02

    No full text
    Simpang Tujuh Ulee Kareng merupakan persimpangan dengan jumlah pertemuan ruas jalan yang paling banyak di Kota Banda Aceh tanpa adanya pengaturan lalu lintas seperti lampu lalu lintas.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat sebuah rekayasa lalu lintas terhadap Simpang Tujuh Ulee Kareng dari simpang tak bersinyal menjadi sebuah persimpangan dengan bundaran, yaitu bundaran yang akan direncanakan berdasarkan demand kendaraan saat ini menggunakan MKJI dan bundaran yang direncanakan oleh Dinas Cipta Karya bagian Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). Data volume lalu lintas diambil pada hari Senin (3 Maret 2017) dan Rabu (6 Maret 2017) dengan bantuan kamera video dan data kecepatan diambil dengan alat bantu speedgun. Kecepatan rata-ratanya 21,11 km/jam. Perencanaan ini diambil volume jam puncak (VJP) dari volume yang diamati dan disimulasikan ke software VISSIM 6.00-22. Untuk bundaran rencana MKJI, kapasitas dinamis rata-rata sebesar 6375. Untuk bundaran rencana oleh RTBL, kapasitas dinamis rata-rata sebesar 9563kend/jam. Pada bundaran rencana MKJI, tundaan rata-rata sebesar 2,00 detik, sedangkan bundaran rencana oleh RTBL 1,39 detik. Untuk perhitungan Derajat Kejenuhan (DS) didapat dari pembagian arus bagian jalinan dengan kapasitas. Pada bundaran rencana MKJI DS rata-rata sebesar 0,40 sedangkan bundaran rencana oleh RTBL sebesar 0,30. Peluang Antrian pada bundaran rencana MKJI yang didapat dari pembacaan grafik MKJI adalah 6%-13,5%, sedangkan bundaran rencana oleh RTBL peluang antrian sebesar 3,2%-7,8%. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa perencanaan bundaran pada Simpang Tujuh Ulee Kareng menggunakan bundaran adalah langkah yang tepat karena mampu memberikan tingkat pelayanan jalan A, baik itu bundaran yang direncanakan berdasarkan MKJI maupun bundaran yang direncanakan oleh RTBL

    Pengaruh Pemanfaatan Abu Cangkang Kerang Darah sebagai Bahan Tambah Filler Campuran Aspal terhadap Nilai Marshall pada Perkerasan Jalan AC-WC

    No full text
    Blood clam is a popular shellfish in Indonesia. Especially in Langsa because it is close to the sea area, blood cockles are found in large numbers which produce waste in the form of shells in large quantities. However, blood cockle shells contain calcium carbonate (CaCO3), which functions to bind water because water is the enemy of asphalt which can affect the age of asphalt, so the ash of blood cockle shells can be used as a filler. The aim of this test is to determine the stability and durability values due to the effect of adding blood cockle shell ash content as an additive to filler with blood cockle shell ash content of 0%, 30%, 50%, 70% and 100 %. The method used is the experimental method, namely experimental activities to obtain data. In this study, the addition of blood cockle shell ash as an added filler to the AC-WC asphalt mixture on the Marshall value showed that the greatest stability value was at 30 minutes of immersion, namely at a percentage of 50%, 1557.93 kg and the greatest stability value was at 8 hours of immersion, namely at a percentage of 50% it is 1404.40 kg. In this study, durability values were obtained based on the analysis results that at variations of 0%, 30% and 50% blood cockle shell ash content as a filler additive had the best durability values with values of 93.30%, 92.42% and 90.15% above 90% in accordance with the specifications required by the Department of Highways 2010. Key words : AC-WC, Blood clam shell ash, Marshall, DurabilityKerang darah merupakan kerang yang populer di Indonesia. Terutama di Langsa karena dekat dengan daerah laut sehingga sangat banyak ditemukan kerang darah yang menghasilkan limbah dalam bentuk cangkang dalam jumlah besar. Akan tetapi cangkang kerang darah ini mengandung kalsium karbonat (CaCO3) dimana kandungan tersebut berfungsi untuk mengikat air karena air merupakan musuh dari aspal yang dapat mempengaruhi usia dari aspal sehingga abu cangkang kerang darah ini bisa dimanfaatkan untuk bahan tambah filler. Tujuan dari pengujian ini yaitu untuk mengetahui nilai stabilitas dan durabilitas akibat pengaruh penambahan kadar abu cangkang kerang darah untuk bahan tambah filler campuran aspal dengan kadar abu cangkang kerang darah 0%, 30%, 50%, 70% dan 100%. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen, yaitu kegiatan percobaan untuk mendapatkan data. Pada penelitian ini penambahan abu cangkang kerang darah sebagai bahan tambah filler pada campuran aspal AC-WC terhadap nilai Marshall menunjukkan bahwa nilai stabilitas terbesar pada perendaman 30 menit yaitu pada persentase 50% sebesar 1557,93 kg dan nilai stabilitas terbesar pada perendaman selama 8 jam yaitu pada persentase 50% sebesar 1404,40 kg. Pada penelitian ini didapat nilai durabilitas berdasarkan hasil analisa bahwa pada variasi 0%, 30% dan 50% kadar abu cangkang kerang darah sebagai bahan tambah filler yang memiliki nilai durabilitas terbaik dengan nilai 93,30%, 92,42% dan 90,15% diatas 90% sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan oleh Dinas Bina Marga 2010. Kata Kunci : AC-WC, Abu Cangkang Kerang Darah, Marshall,  Durabilita

    Hubungan Volume, Kecepatan dan Kepadatan Lalu Lintas pada Jalan Kabupaten Aceh Tamiang

    No full text
    Highways are a very important transportation infrastructure in helping regional development, so that without a smooth flow of transportation it will have a lot of influence in encouraging the rate of development which tends to increase community growth. Therefore, a comprehensive road monitoring system is needed in order to find out the problems of congestion on the road. The method used in this research is the greenshields and underwood method. The aim of the research is to obtain the volume, speed and density of traffic and obtain a graph of the relationship between volume, speed and traffic density on the Banda Aceh – Medan STA road. 464+700 to STA. 465+200 Kedai Besi Village, Karang Baru District, Aceh Tamiang Regency. The research results were obtained for the direction Langsa - Kuala Simpang S-D (Speed-Density), with the highest R² value (R² = 0.198). V-D (Volume-Density), with the highest R² value (R² = 0.988). V-D (Volume-Speed) with the highest R² value (R² = 0.537). Meanwhile, for the direction Kuala Simpang – Langsa S-D (Speed-Density), with the highest R² value (R² = 0, 0.999). V-D (Volume-Density), with the highest R² value (R² = 0.991). V-D (Volume-Speed) with the highest R² value (R² = 0.209). From the research results for the Kuala Simpang - Langsa road, it is more suitable to use the underwood model. Meanwhile, for the Langsa - Kuala Simpang direction, it is more suitable to use the greenshields model.  Keywords: Greenshields, Highways, Transportation, Underwood.Jalan raya adalah suatu prasarana transportasi yang sangat penting dalam membantu pengembangan wilayah, sehingga tanpa adanya arus transportasi yang lancar maka akan banyak memberikan pengaruh di dalam menunjang laju pembangunan yang cenderung meningkatkan pertumbuhan masyarakat. Maka dari itu diperlukan sistem pemantauan badan jalan secara menyeluruh agar dapat mengetahui permasalahan kemacetan yang ada di ruas jalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode greenshields dan underwood. Tujuan penelitian mendapatkan volume, kecepatan dan kepadatan lalu lintas dan mendapatkan grafik hubungan volume, kecepatan dan kepadatan lalu lintas pada jalan Banda Aceh – Medan STA. 464+700 s/d STA. 465+200 Desa Kedai Besi Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang. Hasil penelitian didapatkan untuk arah Langsa - Kuala Simpang S-D (Kecepatan-Kepadatan), dengan nilai R² tertinggi (R² = 0,198). V-D (Volume-Kepadatan), dengan nilai R² tertinggi (R² = 0,988). V-D (Volume-Kecepatan) dengan nilai R² tertinggi (R² = 0,537). Untuk arah Kuala Simpang - Langsa S-D (Kecepatan-Kepadatan), dengan nilai R² tertinggi (R² = 0, 0,999). V-D (Volume-Kepadatan), dengan nilai R² tertinggi (R² = 0,991). V-D (Volume-Kecepatan) dengan nilai R² tertinggi (R² = 0,209). Dari Hasil penelitian untuk jalan arah Kuala Simpang – Langsa lebih cocok menggunakan model underwood. Sedangkan untuk arah Langsa - Kuala Simpang lebih cocok menggunakan  model greenshields.  Kata Kunci: Greenshields, Jalan Raya, Transportasi, Underwood

    Analisa Pemilihan Moda Transportasi Kota Medan – Bandara Kualanamu Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)

    No full text
    Mode of Transportation is a term for transportation user to indicate means of transportation to move from their place of origin to their destination. This mode of transportation is used to make it easier for people to move from place to place. When travelling from Medan City to Kualanamu Airport or vice versa, travellers will be faced with a choice of modes of transportation, namely rail public transportation, inter-city buses and online transportation on Medan Ciy – Kualanamu Airport route. The aim of this research was to determine the best mode of transportation chosen by passengers based on the criteria determined when travelling on the Medan City – Kualanamu Airport route and to find out which criteria had the most influence in selecting this mode. The method used in analyzing is Analytical Hierarchy Process (AHP) method. From the research result, it is known that the best mode of transpotation of choice for travelers from Medan City – Kualanamu Airpot is the Damri Bus at 52% compared to train and Train an Online Taxi which is only 24% and the most influential parameter criteria for travelers is choosing the mode of transportation for Medan City – Kualanamu Airport is a convenience level parameter of 25%, headway 19%, security 18%, comfort 16%, cost 13%, and travel time 10%.Moda Transportasi merupakan sebutan bagi pengguna transportasi untuk menytakan alat angkut buat berpindah dari tempat asal ke tempat tujuan. Dimana moda transportasi ini yang dimanfaatkan untuk mempermudah manusai berpindah – pindah tempat, Saat melalukan perjalanan dari Kota Medan – Bandara Kualanamu atau sebaliknya pelaku perjalanan akan dihadapkan pada pilihan jenis moda transportasi, yaitu angkutan umum kereta api, bus antar kota dan transportasi online dengan rute Kota Medan – Bandara Kualanamu. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui moda transportasi yang paling baik yang menjadi pilihan para penumpang berdasarkan kriteria yang ditentukan dalam melakukan rute perjalanan Kota Medan – Bandara Kualanamu dan untuk mengetahui kriteria manakah yang paling berpengaruh dalam pemilihan moda tersebut. Metode yang digunakan dalam menganalisa adalah metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Dari hasil penelitian diketahui Moda Transportasi yang paling baik menjadi pilihanpelaku perjalanan Kota Medan – Bandara Kualanamu adalah Bus Damri sebesar 52% dibandingkan dengan Kereta Api dan Transportasi Online yang hanya 24% dan Kriteria parameter yang paling berpengaruh bagi pelaku perjalanan dalam pemilihan moda transportasi Kota Medan – Bandara Kualanamu adalah parameter tingkat kemudahan 25%, headway 19%, keamanan 18%, kenyamanan 16%, biaya 13%, dan waktu perjalanan 10%

    PERBANDINGAN PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI KENDARAAN ANGKUTAN UMUM DENGAN KENDARAAN PRIBADI : Case Study: City of Sibolga-District of Sibabangun Tapanuli Tengah

    No full text
    Transportation is a process of moving people or goods from one place to another. Sibolga City and Central Tapanuli Regency are areas that are always crowded with people from both those areas and from, therefore these places are always crowded with people. Formulation of the problem: Examining the comparison of the choice of public transportation modes with private vehicles from Sibolga City to Sibabangun District. The aim is to find out the comparison of transportation costs for public transport and private vehicles. This research method is quantitative. The results of the research on public transportation are much cheaper than private vehicles with a comparison (0.468 : 0.210). The safety of using private vehicles is much safer than public transportation in comparison (0.309: 0.905). Accessibility level of public transportation is much easier to get access than private vehicles in comparison (0.516 : -0.075). Conclusion: Comparison of the cost of public transportation with private vehicles is equal to (0.468 : 0.231) (46.8% : 23.1%). The cost of using public transport is relatively cheap compared to private vehicles. The safety ratio is (0.309 : 0.905) (30.9% : 90.5%). This means that private vehicles are much safer than public transportation. Comparison of accessibility (ease level) (0.516 : -0.075) (51.6% : -7.5%), meaning that public transportation is much easier to access than private vehicles.Transportasi merupakan suatu proses perpindahan manusia atau barang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan daerah yang selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat baik dari daerah tersebut maupun dari, oleh karena itu tempat-tempat tersebut selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat. Rumusan masalah: Meneliti perbandingan pemilihan moda transportasi angkutan umum dengan kendaraan pribadi dari Kota Sibolga menuju Kecamatan Sibabangun. Tujuan mengetahui perbandingan biaya transportasi angkutan umum dan kendaraan pribadi. Metode penelitian ini kuantitatif. Hasil penelitian transportasi angkutan umum jauh lebih murah dibandingkan kendaraan pribadi dengan perbandingan (0,468 : 0,210). Keselamatan menggunakan kendaraan pribadi jauh lebih aman dibandingkan angkutan umum dengan perbandingan (0,309 : 0,905). Tingkat aksesibilitas angkutan umum jauh lebih mudah mendapatkan akses dibandingkan kendaraan pribadi dengan perbandingan (0,516 : -0,075). kesimpulan: Perbandingan biaya angkutan umum dengan kendaraan pribadi yaitu sebesar (0,468 : 0,231) (46,8% : 23,1%). Biaya menggunakan angkutan umum jauh relatif murah dibandingkan kendaraan pribadi. Perbandingan keselamatan yaitu (0,309 : 0,905) (30,9 % : 90,5%). Artinya kendaraan pribadi jauh lebih aman dibandingkan angkutan umum. Perbandingan aksesibilitas (tingkat kemudahan) (0,516 : -0,075) (51,6% : -7,5%), artinya angkutan umum jauh lebih mudah mendapatkan akses dibandingkan kendaraan pribadi

    PERBANDINGAN PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI KENDARAAN ANGKUTAN UMUM DENGAN KENDARAAN PRIBADI : Case Study: City of Sibolga-District of Sibabangun Tapanuli Tengah

    No full text
    Transportation is a process of moving people or goods from one place to another. Sibolga City and Central Tapanuli Regency are areas that are always crowded with people from both those areas and from, therefore these places are always crowded with people. Formulation of the problem: Examining the comparison of the choice of public transportation modes with private vehicles from Sibolga City to Sibabangun District. The aim is to find out the comparison of transportation costs for public transport and private vehicles. This research method is quantitative. The results of the research on public transportation are much cheaper than private vehicles with a comparison (0.468 : 0.210). The safety of using private vehicles is much safer than public transportation in comparison (0.309: 0.905). Accessibility level of public transportation is much easier to get access than private vehicles in comparison (0.516 : -0.075). Conclusion: Comparison of the cost of public transportation with private vehicles is equal to (0.468 : 0.231) (46.8% : 23.1%). The cost of using public transport is relatively cheap compared to private vehicles. The safety ratio is (0.309 : 0.905) (30.9% : 90.5%). This means that private vehicles are much safer than public transportation. Comparison of accessibility (ease level) (0.516 : -0.075) (51.6% : -7.5%), meaning that public transportation is much easier to access than private vehicles.Transportasi merupakan suatu proses perpindahan manusia atau barang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan daerah yang selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat baik dari daerah tersebut maupun dari, oleh karena itu tempat-tempat tersebut selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat. Rumusan masalah: Meneliti perbandingan pemilihan moda transportasi angkutan umum dengan kendaraan pribadi dari Kota Sibolga menuju Kecamatan Sibabangun. Tujuan mengetahui perbandingan biaya transportasi angkutan umum dan kendaraan pribadi. Metode penelitian ini kuantitatif. Hasil penelitian transportasi angkutan umum jauh lebih murah dibandingkan kendaraan pribadi dengan perbandingan (0,468 : 0,210). Keselamatan menggunakan kendaraan pribadi jauh lebih aman dibandingkan angkutan umum dengan perbandingan (0,309 : 0,905). Tingkat aksesibilitas angkutan umum jauh lebih mudah mendapatkan akses dibandingkan kendaraan pribadi dengan perbandingan (0,516 : -0,075). kesimpulan: Perbandingan biaya angkutan umum dengan kendaraan pribadi yaitu sebesar (0,468 : 0,231) (46,8% : 23,1%). Biaya menggunakan angkutan umum jauh relatif murah dibandingkan kendaraan pribadi. Perbandingan keselamatan yaitu (0,309 : 0,905) (30,9 % : 90,5%). Artinya kendaraan pribadi jauh lebih aman dibandingkan angkutan umum. Perbandingan aksesibilitas (tingkat kemudahan) (0,516 : -0,075) (51,6% : -7,5%), artinya angkutan umum jauh lebih mudah mendapatkan akses dibandingkan kendaraan pribadi

    Model Tarikan Pergerakan Kendaraan Pada Pasar Langsa Town Square Kota Langsa

    No full text
    Pasar Langsa Town Square merupakan kawasan perdagangan/perbelanjaan paling populer di Kota Langsa, sehingga menjadi salah satu pusat kegiatan perekonomian masyarakat karena terjadinya kegiatan jual beli. Pentingnya fungsi pasar menyebabkan tarikan  yang besar bagi masyarakat untuk bergerak menuju pasar dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Sejak berdirinya pasar, ternyata timbul pergerakan transportasi yang tinggi, banyaknya jumlah pembeli di pasar akan sangat berpotensi menimbulkan kemacetan arus lalu lintas. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan suatu pemodelan tarikan pergerakan kendaraan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabel apa yang paling mempengaruhi jumlah tarikan kendaraan menuju kawasan pasar dan membuat model tarikan pergerakan kendaraan menuju kawasan pasar sehingga mengetahui besar tarikan pergerakan kendaraan. Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara menghitung jumlah kendaraan bermotor yang memasuki pasar serta karakteristik pengunjung pasar Langsa Town Square. Pemodelan dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier. Hasil analisis dalam penelitian ini yaitu diperoleh permodelan Y = 37,386 + 0,253 X2 + 0,184 X6 + 0,485 X8 dengan Y adalah tarikan pergerakan satuan mobil penumpang (smp), X2 adalah varian total mobil, X6 adalah pendapatan rata-rata pengunjung, dan X8 adalah jenis moda yang digunakan

    P Pengaruh Gerak U-Turn Pada Bukaan Median Terhadap Karakteristik Arus Lalu Lintas (Studi Kasus Jalan Jenderal Ahmad Yani (STA 3+500) Kota Langsa )

    No full text
    Pengaruh ketika melakukan putar balik yaitu terhadap kecepatan kendaraan dimana kendaraan akan melambat dan berhenti. Perlambatan ini akan mempengaruhi arus lalu lintas pada arah yang sama, pergerakan memutar arah ini akan menyebabkan tingginya volume lalu lintas, kecepatan kendaraan semakin rendah, dan kepadatan semakin tinggi. Tujuan penelitian mendapatkan karakteristik, kapasitas, tingkat pelayan jalan, serta waktu dan antrian saat adanya putar balik. Penelitian ini menggunakan metode MKJI 1997. Hasil penelitian didapatkan volume lalu lintas tertinggi sebesar 1528,2 smp/jam (arah timur), 1496,9 smp/jam (arah barat). Kecepatan rata-rata kendaraan tertinggi 10,56 km/jam (arah timur), 08,77 km/jam (arah barat). Derajat kejenuhan tertinggi sebesar 0,57 smp/jam (arah timur), 0,56 smp/jam (arah barat). Kapasitas jalan diperoleh 2677,8 km/jam. Tingkat pelayanan jalan diperoleh nilai 0,57 (arah timur), 0,56 (arah barat), termasuk kategori C. Rata-rata waktu tempuh saat putar balik tertinggi (arah timur) adalah 17,04 detik, terendah 07,18 detik. Dan (arah Barat) tertinggi 20,53 detik, terendah 06,46 detik. Rata-rata panjang antrian saat putar balik diperoleh (MC) 9,07 meter, (LV) 10,23 meter (arah timur). Dan (MC) 9,40 meter, (LV) 11,69 meter (arah barat)

    Potential study of retention Ponds in the Samudra University environment to meet raw water needs and control floods

    No full text
    This study aims to evaluate the potential locations and volume capacities of retention ponds at Universitas Samudra (Unsam) to reduce flood discharge, provide raw water supply, and ensure water quality. The research supports the concept of a smart and green campus at Unsam. Water availability was calculated using the FJ Mock model, while water demand was projected based on the number of users. The retention pond capacity for flood control and raw water availability was assessed using the HEC HMS model. Water quality testing, including physical, chemical, and biological parameters, was conducted at the BTKLPP Class I Medan laboratory. The results indicate that the water demand at Unsam is 3 m³/day, which can be met by the reliable discharge of 16,344.93 m³/day. The existing reservoir retention pond, with a volume of 509,788.80 m³, contributes to flood discharge reduction; however, its water quality does not meet raw water standards, particularly due to high concentrations of Total Coliform and Escherichia Coli. Meanwhile, the Cotkala-Unsam retention pond can provide 103,596.96 m³ of water with quality that meets acceptable limits

    PELATIHAN TEKNOLOGI PRODUKSI UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING UKM TERASI KOTA LANGSA

    No full text
    ABSTRAKKota Langsa merupakan salah satu kota penghasil produk terasi  di pulau Sumatera. Kegiatan Pengabdian ini menemukan bahwa pada umumnya pelaku UKM terasi Kota Langsa masih melakukan kegikatan produksi secara manual, baik pada proses produksi maupun pengemasannya. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan kemampuan produksi mitra. Penetapan tujuan tersebut tidak lepas dari proses penggilingan mengandalkan penyewaan mesin penggiling, pencetakan terasi ala kadarnya, dan pengemasan yang relatif sederhana. Dari proses yang sederhana tersebut memakan waktu lebih lama dalam kegiatan produksinya. Mitra dalam pengabdian ini adalah pelaku usaha terasi di Desa Simpang Lhee Kota Langsa dengan nama Kelompok Usaha Nazwa yang memiliki tiga anggota dalam menjalankan usahanya. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini meliputi : a) observasi, b) pengadaan alat produksi, c)  pelatihan alat produksi, d) pelatihan pengemasan, e) Pelatihan pemasaran digital. Pelatihan teknologi produksi dilakukan dengan cara: Pertama mendesain dan mengadakan alat penggiling beserta mesin cetak terasi  sehingga mampu menetak terasi dengan lebih cepat. Kedua,  pelatihan pengemasan produk terasi yang lebih kreatif dan inovatif dengan mengandalkan sumberdaya yang dimiliki mitra. Ketiga, melatih pemasaran produk terasi menggunakan media sosial. Dari hasil pelatihan dalam kegiatan pengabdian, mitra mampu melakukan kegiatan produksi dengan lebih efisien dan mampu menjual produk terasi dengan cakupan wilayah yang lebih luas ke luar Langsa dan Aceh sampai dengan dua puluh persen. Kata kunci: peningkatan produksi; mesin penggiling; pencetakan terasi; pemasaran digital ABSTRACTLangsa City is one of the cities producing shrimp paste products on the island of Sumatra. This community service activity found that in general, the small and medium-sized enterprises in Langsa City still carry out production activities manually, both in the production process and packaging. It can be seen that the milling process relies on the rental of grinding machines, perfunctory shrimp paste printing, and relatively simple packaging. From this simple process, it takes longer in production activities. Partners in this activity are shrimp paste business actors in Simpang Lhee Village, Langsa City with the name Nazwa Business. The solution provided by the team  in increasing the competitiveness of shrimp paste business actors is a digital marketing and production technology training approach. Production technology training is carried out by First, designing and procuring a grinder and a shrimp paste printing machine so that they can print shrimp paste faster. Second, training on shrimp paste product packaging that is more creative and innovative by relying on partners' resources. Third, train the marketing of shrimp paste products using social media. From the results of training in service activities, partners can carry out production activities more efficiently and can sell shrimp paste products with a wider area coverage outside Langsa and Aceh. Keywords: Production increase; grinding machine; shrimp paste printing; digital marketin
    corecore