1,720,998 research outputs found
Pegembangan Industri Gelatin Tulang Ikan Bandeng di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah
Gelatin is one of industrial products that has high economic value. Milkfish bones is the potential raw material to produce it.The bones is produced from industry of milkfish without bone from many home industries.This research wasaimed to identify the minimum capacity of milkfish bone gelatin industry and the form of community based enterprise of milkfish gelatin industry. The minimum capacity was defined by calculating values of NPV, IRR, PBP, and BEP, that is 80 kg of gelatin powder per day. This capacity could be met by involving 25 milkfish home industries. The development of community based enterprise would motivate the home industries to joinly develop this industry. In which they hold position to be the owner of the gelatin industry
Analisis Kelayakan Penggunaan Returnable Glass Bottles pada Produk Air Minum Dalam Kemasan (Studi Kasus: SUA AMDK BENING).
Peningkatan kebutuhan masyarakat akan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) menyebabkan jumlah industri tersebut meningkat diikuti dengan peningkatan jumlah limbah kemasan yang dihasilkan khususnya botol PET yang dapat memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk meminimasi limbah, salah satunya dengan penggunaan kemasan yang dapat dipakai ulang atau returnable glass bottles (RGB) yang melibatkan kegiatan pengembalian kemasan dari konsumen ke produsen (reverse logistics). Analisis kelayakan proyek yang meliputi aspek pasar, teknis dan manajemen, lingkungan, serta finansial pada produk AMDK Bening diperlukan sebelum diterapkan penggunaan RGB. Analisis CSI dan IPA pada aspek pasar menunjukkan bahwa konsumen sangat puas terhadap kualitas pelayanan, namun terdapat beberapa atribut yang perlu ditingkatkan kinerjanya. Analisis konjoin menunjukkan bahwa konsumen menyukai produk AMDK RGB dengan harga kurang dari Rp 5 000, volume 600 ml, pengumpul botol kosong adalah agen dan tidak diterapkan denda. Analisis terhadap aspek teknis dan manajemen dinilai layak. Dampak penggunaan RGB terhadap lingkungan lebih kecil dibanding botol PET. Berdasarkan analisis finansial, nilai kriteria kelayakan investasi dari produksi AMDK RGB yang meliputi NPV sebesar Rp 29 948 812, IRR sebesar 55%, Net B/C sebesar 1.30, dan PBP selama 7.83 tahun. Nilai kriteria kelayakan investasi dari produksi AMDK botol PET yang meliputi NPV sebesar Rp 15 128 054, IRR 15%, Net B/C sebesar 1.14, dan PBP selama 8.34 tahun. Dilihat dari keempat kriteria tersebut, keduanya dinilai layak untuk dilaksanakan. Akan tetapi, dengan membandingkan besarnya nilai dari keempat kriteria kelayakan investasi, produksi AMDK RGB dinilai lebih baik. Secara keseluruhan, penggunaan RGB pada produk AMDK layak untuk dilaksanakan
Analisis Penerapan Produksi Bersih Industri Kertas (Studi Kasus di PT. Pindo-Deli Pulp and Paper Mills Indonesia unit Paper Machine 4)
PT Pindo-Deli Pulp and Paper Mills Indonesia memiliki berbagai masalah dalam kegiatan produksinya. Permasalahan ini akan berdampak pada lingkungan dan kualitas akhir produk yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penerapan produksi bersih pada industri kertas. Metode yang digunakan dimulai dari identifikasi proses produksi dan analisa limbah, penentuan alternatif produksi bersih secara teknik, ekonomi dan lingkungan serta penentuan prioritas opsi produksi bersih. Berdasarkan hasil penelitian, teridentifikasi masalah dari berbagai aspek diantaranya belum dilakukannya pengujian mutu pulp, pekerja tidak mengenakan earplug dan alat pelindung diri, pemakaian air yang terlalu besar, umur mesin yang sudah tua, banyaknya loss fiber di unit wire, sering terjadi putus kertas, terdapat kertas reject dan adanya wet broke dan limbah cair pada akhir proses. Alternatif produksi bersih yang direkomendasikan berupa penerapan good housekeeping, penggantian mesin, dilakukannya pengujian mutu pulp, pemantauan secara intensif pada lini produksi, penghematan penggunaan air, minimasi penggunaan bahan baku, daur ulang kertas reject dan daur ulang white water. Berdasarkan permasalahan utama yang terjadi di perusahaan, opsi produksi bersih yang diajukan adalah penerapan good housekeeping berupa perbaikan alat centricleaner. Perbaikan centricleaner dilakukan dengan menutup kebocoran. Biaya investasi yang dibutuhkan adalah sebesar Rp. 37 042 224 dengan memperoleh tambahan keuntungan sebesar Rp. 6 539 832 000/ tahun. Nilai payback period untuk penerapan opsi ini adalah 0.0057 tahun atau kurang dari 1 bulan
Penilaian Kesetimbangan Chemical Oxygen Demand dan Pemanenan Energi pada Pengolahan Air Limbah Pabrik Gula.
Proses produksi gula membutuhkan air dan menghasilkan air limbah dalam jumlah yang banyak, sehingga pabrik gula memerlukan energi yang besar untuk pengolahan air limbahnya. Air limbah selain mengandung nutrien, juga mengandung energi. Kandungan energi tersebut dapat diindikasikan dengan jumlah COD dalam air limbah. Tujuan studi ini adalah menentukan teknologi pengolahan air limbah, menganalisis kesetimbangan COD, mengkaji potensi energi pada air limbah dan mengembangkan pemanenan energi pada proses pengolahan air limbah pabrik gula. Hasil studi ini menunjukkan bahwa proses pengolahan limbah dapat menghasilkan produk berupa metana dalam biogas dari reaktor UASB sebesar 913.94 m3/hari. Potensi energi pada pengolahan air limbah dengan kapasitas 3,000 ton per hari yang dapat dimanfaatkan sebesar 33,333,022 kJ/hari dan dapat memenuhi kebutuhan energi pada pengolahan air limbah sebesar 478 kWh/hari, bahkan terdapat kelebihan energi sebesar 2 kW/hari. Dengan demikian, studi ini menjelaskan bahwa proses pengolahan air limbah pabrik gula dapat mandiri energi dengan memanfaatkan biogas secara optimal
Model Tertutup Sistem Produksi Mandiri Energi pada Industri Pengolahan Kakao.
Cacao processing industry produces cocoa butter, cocoa powder, and generates by-product in the forms of pod husk and bean shells which can be utilized as an energy source. The objectives of this research was to develop an energy independent model of a closed system production process for cocoa butter and cocoa powder. This closed system model was developed by analyzing mass balance, assessing the potential energy of by-products, and building a closed system cacao processing industry. To improve it comprehensiveness, this study reviewed secondary data from relevant literatures. Results from this study showed that the achievable yield of cocoa butter and cocoa powder was 32% and 50%. Respectively cacao industry with a capacity of 4,500 kg of cacao per day has the potential energy of 14,561,293.2 kCal per day derived from the pod husk and bean shells. This potential energy is able to meet the energy requirements for the production process. This study explained that the cacao industry is potentially be an energy independent industry by optimize the utilization of by-products
Kesetimbangan Chemical Oxygen Demand dan Pemanenan Energi pada Pengolahan Limbah Cair Industri Pulp dan Kertas (Corrugated Board).
Industri pulp dan kertas menghasilkan limbah cair dengan kandungan bahan organik tinggi yang dinyatakan dalam chemical oxygen demand (COD) yang dapat dikonversi menjadi biogas/metana pada Instalasi Penanganan Air Limbah (IPAL) melalui proses anaerobik. Sehingga IPAL tidak hanya digunakan sebagai unit memperbaiki kualitas air limbah, tapi juga sebagai unit penghasil energi dalam waktu yang bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model proses pengolahan limbah cair menggunakan prinsip kesetimbangan COD serta melakukan pemanenan (recovery) energi yang terkandung dalam limbah. Pengembangan model sistem tertutup dilakukan dengan menganalisis kesetimbangan COD, mengkaji potensi energi hasil samping, dan merancang sistem tertutup pada IPAL sehingga mampu memenuhi energi secara mandiri. Penggunaan basis limbah cair 2,500 m3/hari menghasilkan produk berupa 1,313 kg gas metana dengan volume 1,970 m3 yang setara dengan 4,398.25 kg COD. Hasil samping IPAL berupa 19,897 kg primary sludge setara dengan 3,979 kg COD, dan 2,250 kg porsi padat (solid portion) yang setara dengan 404.84 kg COD. Effluent yang dihasilkan memiliki kandungan COD 638.37 kg/hari, setara dengan 255.35 mg/L dan masih dibawah ambang batas peraturan sebesar 350 mg/L. Gas metana dan primary sludge digunakan sebagai bahan bakar pembangkit boiler dan menghasilkan uap aktual total sebesar 43,105 kg/hari. Energi yang dihasilkan mampu mencukupi kebutuhan steam dan listrik IPAL/hari sebesar 773 kg dan 1,290 kW, bahkan menghasilkan kelebihan energi listrik sebesar 827 kW (surplus 64.12%)
Kajian Peluang Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Kecil Roti (Studi Kasus: Multy Bakery Pekalongan).
Kajian peluang penerapan produksi bersih pada industri kecil dilakukan untuk meminimalkan dan meningkatkan pemanfaatan limbah. Penelitian ini menganalisis peluang penerapan produksi bersih pada industri kecil roti. Penelitian dimulai dengan identifikasi tahapan proses, identifikasi permasalahan di industri kecil roti, identifikasi peluang produksi bersih, dan analisis kelayakan alternatif dari aspek lingkungan, teknis dan finansial. Hasil penelitian menemukan berbagai permasalahan seperti tidak adanya ruang fermentasi khusus, penetapan waktu fermentasi, ceceran tepung, pekerja yang merokok, tumpahan adonan, peletakkan barang bukan pada tempatnya, dan penggunaan lampu di siang hari, cangkang telur langsung dibuang, sisa irisan roti dan roti tidak lolos seleksi dibuang, limbah cair dari proses pencucian dengan air mengalir, roti yang tidak terjual, dan belum memiliki sertifikat halal. Alternatif yang direkomentasikan adalah pembuatan ruang dan penetapan waktu fermentasi, Good Manufacturing Practices, desain pencahayaan pada siang hari, cangkang telur diolah menjadi pupuk, sisa irisan roti dan roti tidak lolos seleksi diolah menjadi tepung panir, pencucian dengan 4 tahap, pengajuan sertifikat halal, dan tepung limbah roti sebagai pakan ternak. Penerapan produksi bersih dapat meningkatkan produksi roti dari 21,19 ton/bulan menjadi 21,80 ton/bulan, penghematan air pencucian dari 4000 menjadi 3600 liter/bulan, energi listrik dari 1613,27 menjadi 1592,68 kWh/bulan, limbah padat yang diolah bertambah dari 3,27 menjadi 3,43 ton/bulan, dan peningkatan penjualan roti tawar 34996 bungkus/bulan dan roti manis 14560 bungkus/bulan. Total keuntungan yang dapat diperoleh dengan penerapan produksi bersih per bulan adalah Rp 21 324 193
Analisis pengaruh karakteristik pekerja terhadap tingkat kesadarannya akan bahaya kerja di Rumah Potong Hewan (RPH) (Studi kasus PT. Elders Indonesia)
Menurut data Depnakertrans (2009), di Jawa Barat pada tahun 2008 terdapat 1.429 kasus kecelakaan kerja. Tingginya angka kecelakaan tersebut dapat menjadi indikator bahwa ternyata pelaksanaan program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang ada belum optimal. Optimalisasi pelaksanaan program K3 bukan hanya tanggung jawab pihak manajemen tetapi juga pekerja itu sendiri. Masih rendahnya motivasi pekerja untuk mengikuti program K3 yang telah direncanakan merupakan bukti bahwa kesadaran mereka akan bahaya kerja masih rendah. Kesadaran pekerja akan bahaya kerja dapat dipengaruhi oleh karakteristik dari pekerja itu sendiri di antaranya pengetahuan akan bahaya, ketrampilan kerja, pengalaman kerja serta disiplin kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mengetahui potensi bahaya yang terdapat pada rumah potong hewan (RPH), 2) Mengkaji kondisi tanggap darurat pekerja, 3) Mengkaji faktor-faktor dominan dalam karakteristik pekerja yang berhubungan dengan tingkat kesadarannya akan bahaya kerja, 4) Menentukan program K3 yang tepat pada RPH. Penelitian dilakukan di bagian produksi PT Elders Indonesia pada bulan April sampai Juni 2010
Analisis Penerapan Program Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Dan Hubungannya Dengan Produktivitas Kerja Karyawan (Studi Kasus : PT. Coca Cola Bottling Indonesia Bagian Produksi National Plant Cibitung Jawa Barat)
Banyaknya jumlah kasus kecelakaan kerja di Indonesia telah mengakibatkan kerugian yang cukup besar baik bagi perusahaan maupun pekerja yang mengalami kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja yang terjadi di perusahaan telah menurunkan produktivitas perusahaan sebagai akibat dari turunnya produktivitas pekerja. Kerugian yang dialami perusahaan sebagai akibat dari kecelakaan kerja yang terjadi antara lain hilang dan rusaknya material/produk, terhentinya proses produksi, hilangnya tenaga terampil & berpengalaman, menurunnya kredibilitas perusahaan, hilangnya keuntungan, hilangnya waktu kerja, pengeluaran biaya pengobatan, perawatan dll. Upaya untuk mengatasi kerugian-kerugian tersebut yaitu dengan menerapkan program keselamatan dan kesehatan kerja di dalam perusahaan. Kenyataan di Indonesia yang menjadi masalah adalah masih banyak perusahaan yang belum menjadikan keselamatan dan kesehatan kerja sebagai prioritas. Salah satu perusahaan yang telah menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia adalah PT. Coca Cola Bottling Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk melihat penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di PT. Coca Cola Bottling Indonesia dan menganalisis hubungannya dengan produktivitas kerja karyawan dan manfaatnya terhadap kesejahteraan karyawan. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara non-probability sampling menggunakan metode convenience sampling. Jumlah responden yang digunakan adalah sebanyak 30 orang karyawan bagian produksi PT. Coca Cola Bottling Indonesia. Faktor-faktor keselamatan dan kesehatan kerja yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi pelatihan keselamatan, publikasi keselamatan kerja, kontrol lingkungan kerja, pengawasan dan disiplin serta peningkatan kesadaran K3. Faktor-faktor produktivitas kerja yang dianalisis yaitu kemauan kerja, kemampuan kerja, lingkungan kerja, kompensasi, jaminan sosial, hubungan kerja. Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di PT. CCBI Cibitung secara umum keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dikategorikan baik. Sebagian besar karyawan telah mengetahui pelatihan-pelatihan yang diadakan perusahaan dan merasakan manfaat dari pelatihan tersebut. Pelaksanaan publikasi keselamatan kerja dinilai cukup baik oleh karyawan. Pelaksanaan kontrol lingkungan kerja dinilai baik oleh karyawan, begitu pula dengan pelaksanaan pengawasan dan disiplin serta peningkatan kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja. Adanya program keselamatan dan kesehatan kerja membuat karyawan merasa aman dan nyaman dalam menyelesaikan pekerjaannya
Engineering development system of community-based agrotourism development
World widely, the tourism sector is contributing significantly to non-commodity exchange, unfortunately Indonesia still ranks 60th and is still lagging behind some other countries in Asia; as vvarious constraints faced by the tourism Indonesia, including in Tutur District. This study aims to determine the development of agro-tourism area, analyze the factors, goals and agro-tourism development strategy, and formulate a model of community-based ecotourism development, thereby promoting economic growth, employment absorption, and poverty alleviation. A set of questionaire has been distributed to grab expertise perception and opinion on the planning of agrotourism development in the District of Tutur. The AHP, Fuzzy, MPE and ISM approaches have been used to analyze and decide the most prefereable variables chosen by the responden. Further, a dynamic model of development planning and implementation scheme have been applied to synthesys the final result. The results showed that the prospective areas to be developed as an agrotourism areas are District of Tutur, District of Pandaan, and the District of Tosari; in which the highest value indicated by the District of Tutur which has various comodities of apples, durians, chrysanthemum flower, and paprika. This district also has agro-industry products to support the agro tourism program, such as apple cider. In order to increase the number of tourist, the study found that it is important to pay attention to agro-industry development, infrastructure improvement, improving the quality and number of attractions, increasing relations with stakeholders, increasing promotion and cooperation dan improving the quality of human resources capacities. Since a low quality of human resources in businessman-group, it was also found that needed to do some institutional empowerment, agrotourism entrepreneurship and increasing appreciation on pricing of agro-products.Pengembangan pariwisata menjadi salah satu sektor yang mendapat prioritas tinggi dalam pembangunan di berbagai negara. Salah satu sektor pariwisata di Indonesia yang potensial untuk dikembangkan adalah agrowisata. Agrowisata merupakan diversifikasi produk wisata yang menggabungkan aktivitas pertanian (agro) dan rekreasi di sebuah lingkungan pertanian. Agrowisata juga memberi peluang wisatawan untuk terlibat dalam aktivitas rekreasi pedesaan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi dan hubungan usaha di bidang agro. Salah satu kecamatan yang berpotensi dikembangkan pariwisatanya adalah Kecamatan Tutur. Pengembangan agrowisata tidak bisa dilepaskan dari masyarakat di sekitar kawasan agrowisata, mengingat masyarakat lokal berperan besar dalam keberhasilan sebuah agrowisata. Oleh karena itu, maka agrowisata idealnya dikembangkan melalui konsep pemberdayaan masyarakat. Penelitian bertujuan untuk menentukan kawasan pengembangan agrowisata, menganalisis faktor, tujuan dan strategi pengembangan agrowisata, merumuskan model pengembangan agrowisata berbasis masyarakat, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi, penyerapan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan. Model yang disusun kemudian diverifikasi dengan data primer yang diperoleh dari lokasi yang ditentukan. Pada penelitian ini juga ditentukan komoditas unggulan dan produk olahan agroindustri prospektif yang mendukung pengembangan agrowisata dengan berorientasi pada potensi daerah. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Metode yang digunakan pada penelitian ini dengan pendekatan sistem. Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Dalam penelitian ini terlebih dahulu dilakukan identifikasi sistem, selanjutnya menentukan kawasan, komoditas, produk unggulan dan zonasi kawasan dengan menggunakan metoda perbandingan eksponensial (MPE). Selain itu juga ditentukan alternative kebijakan sistem pengembangan agowisata berbasis masyarakat dengan menggunakan analytical hierarchy process (AHP) dan Fuzzy. Selanjutnya ditentukan kendala-kendala pengembangan, analisis kelembagaan dan aktivitas yang diperlukan dengan menggunakan analisis interpretative structure modelling (ISM
- …
