1,721,091 research outputs found
ANALISA SAMBUNGAN PENGELASAN DENGAN LAS FRIKSI PADUAN ALUMUNIUM SERI 5083 DAN 6061
BAGUS SETIAWAN, 2023. “ANALISA SAMBUNGAN PENGELASAN DENGAN LAS FRIKSI PADUAN ALUMUNIUM SERI 5083 DAN 6061” Teknik Mesin Universitas Pancasakti Tegal
Las Friksi adalah proses pengelasan keadaan padat atau tanpa logam pengisi. Metode ini bergantung pada konversi energi mekanik ke energi termal untuk membentuk pengelasan, tanpa aplikasi dari sumber panas lain. Panas untuk pengelasan dihasilkan oleh gerakan relatif dari dua antarmuka yang tersambung. Penyambungan terjadi antara dua permukaan 6 bahan yang saling bergesekan, salah satu berputar sedang lainnya diam, lalu dikontakkan oleh gaya tekan aksial.
Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang bersifat eksperimen. Dalam penelitian ini, perlakuan berupa perbedaan kecepatan rotasi pada pengelasan friksi alumunium yaitu Rpm 910, Rpm 1500, Rpm 2280. Bahan alumunium seri 5083 dan 6061 dipasang di Mesin CNC Milling. Kemudian setting putaran mein sesuai kecepatan rotasi yang divariasikan. Selanjutnya aluminium hasil pengelasan friksi dibuat spesimen uji dan diuji kekerasan, impak dan korosi.
Dari data hasil yang diperoleh dari pengujian kekerasan brinell pada sambungan pengelasan dengan las friksi paduan alumunium menggunakan variasi kecepatan rotasi mengalami peningkatan. Dimana pada variasi kecepatan rotasi RPM 910 diperoleh nilai rata - rata kekerasan brinell sebesar 48,99 kg/mm2. Hasi pengujian impak pada sambungan pengelasan dengan las friksi paduan alumunium menggunakan variasi kecepatan rotasi mengalami peningkatan. Dimana pada variasi kecepatan rotasi RPM 910 diperoleh nilai kuat impak rata - rata sebesar 0.274 J/mm². Kemudian untuk variasi kecepatan rotasi RPM 1500 diperoleh nilai kuat impak rata - rata sebesar 0.398 J/mm². Sedangkan hasil pengujian korosi dari hasil pengelasan friksi pada alumunium dengan variasi kecepatan rotasi mengalami fluktuasi. Dimana pada variasi kecepatan rotasi RPM 910 diperoleh nilai laju korosi rata - rata terkecil yaitu sebesar 0,034 mpy.
Kata Kunci : Las Friksi, Uji Kekerasan Brinell, Uji Impak, Uji Koros
KONSEP PENDIDIKAN PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEDIDIKAN AGAMA ISLAM DI ERA DIGITAL
Skripsi dengan judul “Konsep Pendidikan Perspektif Ki Hajar Dewantara
dan Implikasinya terhadap Pendidikan Agama Islam di Era Digital” ditulis oleh
Bagus Setiawan, NIM. 12201183408, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas
Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali
Rahmatullah Tulungagung yang dibimbing oleh Hasanal Khuluqi, S.Ud., M.Ag.
Kata Kunci : Konsep Pendidikan dan Implikasinya,Pendidikan Agama Islam Era
Digital
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya tantangan modernisasi yang terjadi
layaknya seperti masa sekarang yang serba digital. pendidikan memiliki fungsi
dan tujuan dalam membentuk karakter/kepribadian peserta didik. Tentunya hal ini
merupakan perihal yang serius, sebab menyangkut masa depan bangsa. Generasi
saat ini merupakan pemimpin bangsa di masa depan. Buah pemikiran dari Ki
Hajar Dewantara menyatakan bahwa, pendidikan yang dilakukan semata-mata
untuk upaya membentuk karakter pada generasi penerus di masa depan. Walaupun
upaya yang dilakukan beliau dikala itu tidaklah mudah.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, 1) Bagaimanakah konsep
pendidikan perspektif Ki Hajar Dewantara? 2) Bagaimanakah implikasi konsep
pendidikan perspektif Ki Hajar Dewantara pada Pendidikan Agama Islam dalam
era digital?
Penelitian ini menggunakan metode dalam bentuk deskriptif analitis dengan
pendekatan kualitatif. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan
metode dokumentasi. Sedangkan untuk Teknik analisis data yang digunakan
adalah content analysys (analisis isi) dengan pendekatan kepustakaan, yakni
dengan menyajikan informasi dari isi (content) berbagai literatur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, Konsep pendidikan yang
digagas oleh Ki Hajar Dewantara merupakan konsep belajar yang memerdekakan
peserta didik. Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara didasarkan dari sifat
bawaan peserta didik yaitu, cipta, rasa, dan karsa. Kedua, konsep pendidikan
dalam pandangan Ki Hajar Dewantara dengan Pendidikan Agama Islam saling
berkaitan. Konsep belajar yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara tidak
bertentangan dengan Pendidikan Agama Islam. Ketiga, untuk mencapai tujuan
pendidikan yang diharapkan bagi generasi era digital, menjadi perhatian bersama
untuk memandang tugas pendidikan adalah tugas dan kewajiban bersama.
Penanaman karakter dalam pelaksanaan pendidikan dilakukan melalui pengajaran,
pembiasaan, keteladanan, paksaan, dan hukuman yang mendorong dan
membentuk karakter peserta didik
DAMPAK MEDIA SOSIAL TERHADAP KESEHATAN MENTAL DALAM TINJAUAN SOSIOLOGIS PADA SISWA MTS DARUSSALAM KADEMANGAN BLITAR
Skripsi dengan judul “Dampak Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental dalam Tinjauan Sosiologis pada Siswa MTs Darussalam Kademangan Blitar” ini ditulis oleh Mukhammad Nashrulloh, NIM: 126209213124 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, yang dibimbing oleh Bagus Setiawan M.Pd.
Kata Kunci: media sosial, kesehatan mental, siswa, sosiologi, Instagram, TikTok
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena masifnya penggunaan media sosial di kalangan remaja, khususnya siswa MTs Darussalam Kademangan Blitar, yang membawa dampak signifikan terhadap kesehatan mental mereka. Media sosial seperti Instagram dan TikTok tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan dan komunikasi, namun juga menjadi arena pembentukan citra diri, identitas sosial, dan interaksi digital yang intens. Hal ini menimbulkan tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan, mengingat dampaknya terhadap kepercayaan diri, kestabilan emosi, hingga pengelolaan stres siswa.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak media sosial terhadap kesehatan mental siswa dalam tinjauan sosiologis serta mengidentifikasi faktor-faktor media sosial yang mempengaruhi kondisi psikologis mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memberikan pengaruh yang kompleks terhadap kesehatan mental siswa. Dampak negatif seperti penurunan rasa percaya diri, kecemasan akibat perbandingan sosial, dan pengalaman cyberbullying menjadi sorotan utama. Dari sudut pandang sosiologis, media sosial dipahami sebagai agen sosialisasi baru yang membentuk pola pikir dan perilaku siswa melalui simbol digital seperti likes dan komentar. Teori interaksi simbolik dan teori kognitif sosial digunakan untuk menganalisis bagaimana media sosial membentuk identitas serta mempengaruhi kesejahteraan mental siswa.
Penelitian ini menyarankan pentingnya keterlibatan sekolah dan keluarga dalam mendampingi siswa untuk membangun literasi digital dan ketahanan mental, guna menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat di era digital
DAMPAK OBJEK WISATA EDUKASI KAMPUNG GURAMI DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT SEKITAR DESA WONODADI KECAMATAN WONODADI KABUPATEN BLITAR
Skripsi dengan judul “Dampak Objek Wisata Edukasi Kampung Gurami dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Sekitar Desa Wonodadi Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar” ini ditulis oleh M. Farhan Hidayatulloh, NIM: 126209211023 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, yang dibimbing oleh Bagus Setiawan M.Pd.
Kata Kunci: Dampak, Wisata Edukasi, Kampung Gurami, Ekonomi Masyarakat
Pariwisata merupakan sektor strategis dalam mendorong pertumbuhan
ekonomi, khususnya di wilayah pedesaan. Kehadiran objek wisata tidak hanya
sebagai sarana rekreasi, tetapi juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja
bagi masyarakat. Salah satu bentuknya adalah Wisata Edukasi Kampung Gurami di
Desa Wonodadi, Kabupaten Blitar, yang berbasis potensi lokal. Meskipun
berpotensi meningkatkan perekonomian warga, keterlibatan masyarakat masih
terbatas akibat kurangnya fasilitas, promosi, dan pelatihan usaha.Penelitian ini
difokuskan untuk mengkaji 3 aspek utama: 1) Bagaimana dampak perekonomian
dengan adanya objek wisata Edukasi Kampung Gurami terhadap masyarakat
sekitar. 2) Apa bentuk kontribusi objek wisata Edukasi Kampung Gurami terhadap
peningkatan perekonomian masyarakat sekitar. 3) Apa saja faktor pendukung dan
penghambat dalam pemanfaatan objek wisata Edukasi Kampung Gurami sebagai
sumber peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
Metode penelitian ini yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan
pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian ini berada di Dusun Seduri, Desa
Wonodadi, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar. Objek dalam penelitian ini
adalah kepala desa, pengelola wisata, karyawan wisata dan masyarakat sekitar.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan
dokumentasi guna mendapatkan gambaran yang jelas terkait dampak objek wisata
edukasi kampung gurami dalam meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wisata edukasi kampung gurami
hadir sebagai penggerak utama ekonomi lokal yang sukses membuka lapangan
kerja, meningkatkan pendapatan, serta menumbuhkan semangat kewirausahaan di
masyarakat. Keberhasilan ini menjadi fondasi kuat untuk pengembangan yang lebih
besar, di mana penguatan fasilitas, perluasan jangkauan promosi, dan program
pelatihan ke depannya akan semakin mengoptimalkan keterlibatan warga secara
inklusif. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, Kampung Gurami memiliki
potensi luar biasa untuk menjadi motor kesejahteraan yang merata dan
berkelanjutan bagi seluruh masyarakat sekitar
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLES TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN BERARGUMENTASI SISWA KELAS VIII PADA MATA PELAJARAN IPS DI SMP NEGERI 3 SRENGAT BLITAR
Skripsi dengan judul " Pengaruh Model Pembelajaran Example Non Examples
Terhadap Peningkatan Keterampilan Berargumentasi Siswa Kelas VIII Pada Mata
Pelajaran IPS di SMP Negeri 3 Srengat Blitar " Ini ditulis oleh Faridatul Azizah, NIM.
126209212100, Pembimbing Bagus Setiawan, M.Pd., NIDN. 2015038801
Kata Kunci: Model Pembelajaran Example Non Examples, keterampilan berargumentasi,
siswa
Penelitian ini berlatar belakang dari keadaan siswa yang ketika pembelajaran kurang semangat dan cenderung pasif. Siswa menganggap pelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial membosankan dan sulit sehingga keaktifan siswa rendah. Keaktifan siswa yang
rendah ini akan berpengaruh pada keterampilan berargumentasi siswa. Siswa yang keaktifan belajarnya rendah cenderung pasif sehingga keterampilan berargumentasinya
rendah. Upaya yang dapat dilakukan agar keterampilan siswa meningkat dapat dilakukan dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan menggunakan model
pembelajaran yang tepat dan menarik salah satunya dengan model pembelajaran example
non examples. Model pembelajaran example non examples menjadikan siswa aktif dan
lebih semangat sehingga keterampilan berargumentasinya meningkat. Penggunaan model
pembelajaran example non examples ini juga dapat meningkatkan keterampilan berargumentasi.
Rumusan masalahnya adalah 1) Adakah pengaruh model pembelajaran example
non examples terhadap peningkatan keterampilan berargumentasi siswa kelas VIII pada
mata pelajaran IPS di SMP Negeri 3 Srengat? 2) Seberapa besar pengaruh model
pembelajaran example non examples terhadap peningkatan keterampilan berargumentasi
siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 3 Srengat? Tujuan dari
penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran example non
examples terhadap peningkatan keterampilan berargumentasi siswa kelas VIII pada mata
pelajaran IPS di SMP Negeri 3 Srengat. (2) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh
model pembelajaran example non examples terhadap peningkatan keterampilan berargumentasi siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 3 Srengat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis Quasy
Experimental Design dan desain penelitian yang digunakan adalah nonequivalent control
group design. Populasi pada penelitian ini semua siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Srengat.
Sampel penelitian ini 30 siswa kelas kontrol dan 27 siswa kelas ekperimen. Teknik
sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan
angket keterampilan berargumentasi. Analisis data pada pengujian hipotesis
menggunakan uji T yaitu uji Independent sampel T-Test dan Uji Effect Size.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Model pembelajaran example non
examples berpengaruh terhadap peningkatan berargumentasi siswa pada mata pelajaran
IPS SMP Negeri 3 Srengat Blitar. Hal ini dibuktikan dari perolehan Nilai sig. (2-tailed)
0,000 < 0,05 maka H₀ ditolak dan H₁ diterima. (2) Uji Cohen's d yang memperoleh nilai
6,140 yaitu 6,140 > 0,8 maka terdapat pengaruh yang besar pada penggunaan model
pembelajaran example non examples terhadap peningkatan keterampilan berargumentasi
siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 3 Srengat Blitar
PERAN PASAR TEMATIK DALAM MEMBANGUN CITRA POSITIF SEBAGAI DESTINASI WISATA BUDAYA DI WATES KABUPATEN KEDIRI
Skripsi dengan judul "Peran Pasar Tematik Dalam Membangun Citra Positif Sebagai Destinasi Wisata Budaya Di Wates Kabupaten Kediri" Ini ditulis oleh Ahmad Muhlis, NIM 126209212102, dengan dosen pembimbing Bagus Setiawan, M.Pd.
Kata Kunci: Pasar Tematik, Destinasi, Wisata Budaya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Pasar Wates sebagai pasar tematik dalam membangun citra positif sebagai destinasi wisata budaya di Kabupaten Kediri. Revitalisasi Pasar Wates pada tahun 2024 membawa perubahan signifikan, tidak hanya dalam aspek fisik, tetapi juga dalam integrasi budaya lokal yang diaktualisasikan melalui ornamen batik Gringsing, mural cerita rakyat, ikon Kelono Sewandono, serta penyelenggaraan kegiatan seni seperti wayang kulit dan pertunjukan musik tradisional. Penelitian ini difokuskan pada tiga hal utama, yaitu: (1) bagaimana budaya lokal diintegrasikan dalam tata kelola pasar, (2) bagaimana persepsi masyarakat dan wisatawan terhadap citra pasar pasca revitalisasi, dan (3) sejauh mana kontribusi pasar tematik dalam memperkuat identitas budaya masyarakat Wates.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pengelola, pedagang, pengunjung lokal dan wisatawan, serta dokumentasi visual pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi budaya dilakukan secara terstruktur, baik dalam tata ruang maupun kegiatan tematik. Persepsi masyarakat dan wisatawan terhadap citra pasar cenderung positif. Selain sebagai tempat transaksi ekonomi, Pasar Wates juga berperan sebagai ruang edukasi budaya informal dan media pelestarian nilai-nilai lokal.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pasar tematik memiliki kontribusi strategis dalam mendukung pengembangan pariwisata budaya berbasis lokal serta memperkuat jati diri masyarakat. Pasar tematik tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai ruang publik yang merepresentasikan nilai-nilai budaya lokal melalui desain visual, tata ruang, dan aktivitas seni yang diselenggarakan secara rutin. Temuan ini menunjukkan bahwa pasar tradisional yang dikelola dengan pendekatan budaya mampu bertahan dan bersaing di tengah modernisasi, serta berperan penting dalam membangun identitas budaya daerah secara berkelanjutan. Kehadiran elemen budaya seperti ornamen khas, mural cerita rakyat, dan pertunjukan seni tidak hanya memperkuat citra destinasi, tetapi juga menciptakan pengalaman wisata yang otentik dan bermakna bagi pengunjung. Dengan demikian, pasar tematik menjadi simpul integrasi antara pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan pariwisata daerah yang inklusif dan berorientasi jangka panjang
- …
