6 research outputs found

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KIMIA

    No full text
    ABSTRAK   Hermawan, Bagus Adi. 2011. Pengembangan Media Pembelajaran Kimia pada Materi Reaksi Kimia untuk Siswa SMP Kelas VII. Skripsi, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Hayuni Retno Widarti S.Pd., M.Si, (II) Dr. Munzil S.Pd., M.Si.   Kata kunci: media pembelajaran, komputer, reaksi kimia   Mata pelajaran kimia menurut kurikulum tingkat satuan pendidikan, mulai diberikan pada tingkat SMP. Materi yang dipelajari dalam ilmu kimia ada yang bersifat abstrak terutama reaksi kimia karena dalam pembelajaran reaksi kimia yang perlu diperhatikan tidak hanya dipandang dari segi makroskopisnya saja, melainkan juga dibutuhkan pendekatan secara mikroskopis agar siswa mampu mengenali gejala alam lebih dalam. Menurut Piaget siswa SMP berada pada tahap transisi dari fase konkrit ke fase operasi formal, maka diharapkan sudah mulai dilatih untuk berpikir abstrak dan mengenal IPA secara menyeluruh. Berdasarkan uraian di atas, sangat dibutuhkan suatu media pembelajaran kimia yang interaktif dan menarik sehingga dapat meringankan beban pengajar dan siswa khususnya siswa SMP dalam membangun pemahaman awal mereka tentang reaksi kimia. Tujuan penelitian pengembangan media pembelajaran reaksi kimia untuk SMP kelas VII adalah terwujudnya media pembelajaran reaksi kimia yang menarik dan sesuai dengan karakteristik siswa SMP kelas VII dan mengetahui tingkat kelayakannya. Model pengembangan yang digunakan mengadopsi pada Dick and Carrey dengan beberapa penyesuaian yang diperlukan yaitu: (1) mengidentifikasi tujuan umum pengembangan media pembelajaran, (2) melakukan analisis materi pembelajaran, (3) mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa, (4) merumuskan tujuan performansi, (5) mengembangkan butir butir tes acuan patokan, (6) mengembangkan media pembelajaran, (7) mendesain dan melaksanakan uji kelayakan hasil pengembangan, (8) merevisi hasil pengembangan media pembelajaran, (9) produksi. Tahapan pengembangan media pembelajaran ada 5, antara lain: (1) membuat story board, (2) studi literatur, (3) membuat diagram alir, (4) pembuatan animasi dan video, dan (5) pemrograman. Validasi yang dilakukan ada 2 macam, yakni: (1) validasi isi dan desk tryout desk tryout, dan (2) validasi uji terbatas. Validasi isi dan tampilan dilakukan oleh 2 orang dosen kimia Universitas Negeri Malang dan validasi uji terbatas dilakukan oleh 2 guru SMP/sederajat. Hasil Pengembangan berupa media pembelajaran pada materi reaksi kimia untuk siswa SMP kelas VII dalam bentuk compact disc yang telah mengalami beberapa revisi sesuai saran dari validator. Validasi hasil pengembangan oleh validator ahli isi dan desk tryout media pembelajaran berturut-turut menunjukkan persentase kelayakan media pembelajaran sebesar 72,2% dan 96,3% sedangkan hasil validasi uji terbatas dari validator I dan II berturut-turut menunjukkan persentase  kelayakan media pembelajaran sebesar 89,5% dan 86,0%. Hasil validasi tersebut menunjukkan kriteria layak sebagai sebuah media pembelajaran.  

    Efektifitas Internet dalam Learning Cycle 6e pada Materi Hidrokarbon ditinjau dari Hasil Belajar Siswa

    Get PDF
    Hidrokarbon adalah salah satu materi dalam cabang ilmu kimia organik yang berkembang pesat. Pada kurikulum tingkat satuan Pendidikan (KTSP) kimia organik mulai dibelajarkan di kelas X pada materi hidrokarbon. Pembelajaran hidrokarbon selama ini dilakukan dengan studi refrensi saja. Namun seiring perkembangan tehnologi dan informasi siswa lebih memilih internet karena dinilai praktis. Pembelajaran dengan menggunakan internet akan lebih baik jika digabungkan dengan suatu model pembelajaran. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti ingin mengetahui keefektifan penggunaan internet dalam pembelajaran Learning Cycle 6E sehingga peneliti mengambil judul penelitian “Keefektifan Internet dalam Learning Cycle-6E pada Materi Hidrokarbon jika ditinjau dari Hasil Belajar Siswa”. Penelitian ini menggunakan jenis rancangan semu (Quasy Experimental Design). Sampel yang digunakan adalah siswa – siswi kelas X di SMAN 4 kota Kediri. Penelitian ini menggunakan dua kelas, sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan data hasil temuan penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran materi hidrokarbon yang diajarkan menggunakan model Learning Cycle-6E berbantuan internet terbukti efektif dimana ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dimana nilai rata – rata siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol

    Enforcement Against Extraordinary Members (ALB) of Notaries Who Violate the Notary Code of Ethics

    Get PDF
    The Notary Code of Ethics is a set of rules that are enforced and obeyed by notaries, used as guidelines for all notaries regarding what they should do, and at the same time guarantee the quality of notaries' conduct in the eyes of the public. Notaries who violate the provisions of the code of ethics will damage the reputation of the notary profession in the eyes of the public. The Indonesian Notary Association (INI) has three types of members: Regular Members, Extraordinary Members, and Honorary Members. To become a member of the INI association, prospective notaries must meet the requirements of a bachelor's degree in Law and a Notary Education/Specialized Notary Education diploma, and have passed the ALB selection process conducted by the INI as an official member of the INI organization. Once they have passed the ALB Notary exam and become members of INI, ALB Notaries must undergo an internship at a Notary office with the requirement of having served as a Notary for a minimum of 5 (five) years and having drafted at least 100 (one hundred) deeds. The internship must be completed as a prospective Notary for a consecutive period of 24 (twenty-four) months. During the internship period, the ALB Notary must already adhere to the Notary Code of Ethics since they are already a member of the INI organization. However, under the provisions of the Notary Code of Ethics, the ALB Notary is not included among those required to comply with the Notary Code of Ethics. The Notary Code of Ethics is only mandatory for those who have already assumed the position of Notary. Therefore, there is still a legal loophole for ALB Notaries if they engage in actions that violate the Notary Code of Ethics. The author used normative legal research in this study. A legislative approach and a conceptual approach were used in this study. The purpose of this study is to analyze and understand the handling of ALB Notaries who violate the Notary Code of Ethics

    Assistance in Utilization of Plastic Waste through Eco-Paving Blocks at Adiwiyata Elementary School, Demak Regency

    No full text
    Plastic waste is the main problem of environmental pollution at SDN Gebang 1, an Adiwiyata school in Demak Regency. Piles of plastic waste need to be appropriately managed because they need to create a better impression of the vision and mission of the Adiwiyata School. Another problem was seen during the rainy season when plastic waste blocked the water flow. SDN Gebang 1 experienced flooding until the water entered the classrooms. One of the efforts made by the school is through collaboration with OISCA to make it a green school. However, schools still need help with waste handling in the school area. The program aims to utilize waste through Eco-Paving Blocks. The community service method includes five stages: socialization, training, application of technology, mentoring, and monitoring. The activities obtained results from using plastic waste in the elementary school environment, which was 100% because partners agreed that plastic waste must be managed well. Applying the TTG Eco-Paving Block tool is easy to use, with results of 85.25%. The successful implementation of the activity received a score of 90.50%. Partners can utilize 87.50% of plastic waste through the TTG Eco-Paving Block tool. The implementation of practical activities by teachers obtained results of 92.25%. Thus, teachers need assistance utilizing plastic waste through the TTG Eco-Paving Block tool, which helps reduce plastic waste at SDN Gebang 1

    Penerapan Metode Irigasi Tetes Guna Mendukung Kegunaaan Air yang Efisien di Desa Ketangga Kecamatan Suwela Kabupaten Lombok Timur

    No full text
    Water scarcity and rainfall uncertainty in Ketangga Village is one of the adversities in developing rainfed agriculture. This condition causes the agricultural land then more often left not planted during the dry season. Ketangga Village is located on the slopes of Mount Rinjani and has very fertile land and the best quality agricultural products. For this reason, the Mataram University Real Work Lecture Team (K.K.N.) held the introduction of Drip Irrigation to the Swela Village community so that villagers can still grow crops even with limited water. The activity was carried out in two stages, namely socialization, whereby resource persons from agricultural extension workers were presented, and drops of irrigation demonstrations were made on the land of one of the residents. Counseling and demonstrations have been carried out and are running well. The community was very enthusiastic about welcoming this activity, as seen from the many participants who attended counseling. The Swela community feels happy because those who previously did not know about drip irrigation technology now know how to make their drips using simple and accessible materials to find in the market. While spreading information about appropriate technology for agriculture businesses on dry land, this activity is also expected to stimulate community creativity in overcoming difficulties in providing irrigation water for their agricultural businesses.

    Sub Proposal Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (Ppk Ormawa) Optimalisasi Indigenous Art & Culture Knowledge Desa Wirun Menuju Desa Budaya Berkelanjutan Melalui Penguatan Kapasitas Marketing Budaya

    Get PDF
    Desa Wirun memiliki potensi kesenian berupa karawitan, reog, tari, gejog lesung, ketoprak, dan wayang kulit. Serta potensi kerajinan berupa wayang kertas, tenun goyor, dan gamelan. Survei ke-2 yang dilakukan tanggal 1 Maret 2024 TIM BEM FKIP melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk identifikasi masalah pelestarian budaya di Desa Wirun bersama kepala desa, pelaku budaya, kepala dusun, serta perwakilan POKDARWIS, dan Karang Taruna yang mengacu pada (1) lembaga kesenian desa, (2) indigenous art and culture knowledge, (3) pemasaran. Berdasarkan Focus Group Discussion, didapatkan permasalahan dari segi kelembagaan belum adanya lembaga khusus yang mewadahi para pelaku budaya untuk menciptakan program pelestarian melalui promosi secara langsung maupun secara digital. Tim PPK BEM FKIP berdiskusi dengan Sekretaris Desa dan Kepala Dusun Desa Wirun pada survei ke-2 dan disepakati solusi bersama yakni dengan membentuk kelembagaan khusus yang memiliki konsentrasi untuk pelestarian budaya yang dibentuk dari kolaborasi antara Karang Taruna, POKDARWIS, PKK, pelaku budaya kerajinan dan kesenian. Selanjutnya lembaga tersebut memiliki program kerja literasi budaya untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap pelestarian budaya
    corecore