33 research outputs found

    The Effect Of Turbine Level Of Model L And Turbine Model S In Gravitation Of Water Vortex Plant Power (GWVPP) Based On Cylinder Basin: Pengaruh Ketinggian Turbin Model L Dan Turbin Model S Pada Gravitasi Air Vortex Plant Power (GWVPP) Berbasis Basin Silinder

    No full text
    The effect of the height of the L model turbine and the S model turbine on the Vortex Power Pland Gravitation Water Using a Cylinder Basin Based Gearbox using a DC generator. This study aims to determine how much torque is generated, rotations per minute, voltage, current, and power generated by the power plant of gravity vortex airs and compare the influence of the height of the turbine position on the results of the data obtained. The study was conducted using a cylindrical basin that has an input diameter of 50 cm while the output diameter is 5 cm, using a 4 blade turbine shaped L and S models and using variations in the height of the turbine placement at depths of 10 cm, 12 cm, 14 cm, 16 cm, and 18 cm is calculated from the surface of the water, the fluid flow varies. The largest electric power using a L model turbine at a torque load of 0,0005886 Nm with a water discharge of 0.66 l / s obtained electrical power of 1.368 watts, and low electrical power is present at a torque load of 0,0002943 Nm with a water discharge of 0.73 electrical power obtained 0.872 watts. Whereas in the S model turbine, the largest electric power with a torque load of 0.0011772Nm with a water discharge of 0.85 l / s obtained an electric power of 2.097 watts, and low electrical power was found when the torque load was 0.0005886 Nm with a water discharge of 0.75 obtained electric power 1,856 watts. The highest elevation of the turbine position produces maximum data at 28 cm height

    Perancangan Alat Portable Lampu Emergency Menggunakan Tenaga Surya

    No full text
    Perkembanggan era globalisasi saat ini berdampak pada kebutuhan akan penggunaan listrik yang terus meningkat. Sangat diperlukan sumber energi alternatif terbarukan untuk memenuhi penggunaan listrik, dalam upaya mencari sumber energi harus memenuhi syarat yaitu menghasilkan energi yang cukup besar, biaya ekonomis dan tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. Apabila kondisi PLN dalam keadaan mati maka lampu penerangan setiap masyarakat indonesia akan mati. Hal ini lampu solar cell menjadi solusi alternatif dimasa mendatang, tergantung pada daya lampu penerangan yang dibutuhkan. Lampu menggunakan solar cell selain sebagai penerangan juga digunakan sebagai emergency charge pada handphone dengan daya yang tidak terlalu besar. Dengan ini menjadi solusi yang diinginkan oleh masyarakat di indonesia. sebagai alternatif oleh masyarakat apabila terjadi pemadaman dari PLN. Pada perancangan alat Portable Lampu Emergency ini Intensitas cahaya matahari yang terbias pada solar cell mempengaruhi daya yang tersimpan pada baterai, dengan daya tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan lampu pijar dan pengisian pada baterai handphone, lama penggunaan alat portable emergency ini tergantung pada isi baterai yang tersimpan pada alat portable emergency ini biasanya antara kurang dari 4 Ah atau lebih dari 4 Ah. Lama penggunaan alat portable emergency ini berkisaran antara 6 dan 7 jam tergantung pada kapasitas baterai yang tersimpan pada alat portable emergency menggunakan tenaga surya. Pengeluaran daya pada alat portable emergency ini jika beban yang digunakan dua lampu pijar dan handphone yaitu 0,3 Watt selama 30 menit secara stabil daya yang dikeluarkan

    Perancangan Alat Portable Lampu Emergency Menggunakan Tenaga Surya

    No full text
    Perkembanggan era globalisasi saat ini berdampak pada kebutuhan akan penggunaan listrik yang terus meningkat. Sangat diperlukan sumber energi alternatif terbarukan untuk memenuhi penggunaan listrik, dalam upaya mencari sumber energi harus memenuhi syarat yaitu menghasilkan energi yang cukup besar, biaya ekonomis dan tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. Apabila kondisi PLN dalam keadaan mati maka lampu penerangan setiap masyarakat indonesia akan mati. Hal ini lampu solar cell menjadi solusi alternatif dimasa mendatang, tergantung pada daya lampu penerangan yang dibutuhkan. Lampu menggunakan solar cell selain sebagai penerangan juga digunakan sebagai emergency charge pada handphone dengan daya yang tidak terlalu besar. Dengan ini menjadi solusi yang diinginkan oleh masyarakat di indonesia. sebagai alternatif oleh masyarakat apabila terjadi pemadaman dari PLN. Pada perancangan alat Portable Lampu Emergency ini Intensitas cahaya matahari yang terbias pada solar cell mempengaruhi daya yang tersimpan pada baterai, dengan daya tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan lampu pijar dan pengisian pada baterai handphone, lama penggunaan alat portable emergency ini tergantung pada isi baterai yang tersimpan pada alat portable emergency ini biasanya antara kurang dari 4 Ah atau lebih dari 4 Ah. Lama penggunaan alat portable emergency ini berkisaran antara 6 dan 7 jam tergantung pada kapasitas baterai yang tersimpan pada alat portable emergency menggunakan tenaga surya. Pengeluaran daya pada alat portable emergency ini jika beban yang digunakan dua lampu pijar dan handphone yaitu 0,3 Watt selama 30 menit secara stabil daya yang dikeluarkan

    SUBJECT AND AUTHOR INDEXS

    No full text
    SUBJECT INDEX IJBE VOLUME 2access credit, 93acquisition, 177AHP, 61, 82, 165arena simulation,43BMC, 69Bojonegoro, 69brand choice, 208brand image, 208brand positioning, 208bullwhip effect, 43burger buns, 1business synergy and financial reports, 177capital structure, 130cluster, 151coal reserves, 130coffee plantation, 93competitiveness, 82consumer behaviour, 33consumer complaint behavior, 101cooking spices, 1crackers, 1cross sectional analytical, 139crosstab, 101CSI, 12direct selling, 122discriminant analysis, 33economic value added, 130, 187employee motivation, 112employee performance, 112employees, 139EOQ, 23farmer decisions, 93farmer group, 52financial performance evaluation, 187financial performance, 52, 177financial ratio, 187financial report, 187fiva food, 23food crops, 151horticulture, 151imports, 151improved capital structure, 177IPA, 12leading sector, 151life insurance, 165LotteMart, 43main product, 61marketing mix, 33, 165matrix SWOT, 69MPE, 61multiple linear regression, 122muslim clothing, 197Ogun, 139Pangasius fillet, 82Pati, 93pearson correlation, 101perceived value, 208performance suppy chain, 23PLS, 208POQ, 23portfolio analyzing, 1product, 101PT SKP, 122pulp and papers, 187purchase decision, 165purchase intention, 33remuneration, 112re-purchasing decisions, 197sales performance, 122sawmill, 52SCOR, 23sekolah peternakan rakyat, 69SEM, 112SERVQUAL, 12Sido Makmur farmer groups, 93SI-PUHH Online, 12small and medium industries (IKM), 61socio-demographic, 139sport drink, 208stress, 139supply chain, 43SWOT, 82the mix marketing, 197Tobin’s Q, 130trade partnership, 52uleg chili sauce, 1 AUTHOR INDEX IJBE VOLUME 2Achsani, Noer Azam, 177Andati, Trias, 52, 177Andihka, Galih, 208Arkeman, Yandra, 43Baga, Lukman M, 69Cahyanugroho, Aldi, 112Daryanto, Arief, 12David, Ajibade, 139Djoni, 122Fahmi, Idqan, 1Fattah, Muhammad Unggul Abdul, 61Hakim, Dedi Budiman, 187Harianto, 93Hartoyo, 101Homisah, 1Hubeis, Musa, 112Hutagaol, M. Parulian, 93Jaya, Stevana Astra, 93Juanda, Bambang, 52Kirbrandoko, 122, 208Manurung, E. Batara, 130Mukhlis Yusuf, Ahmad, 1Najib, Mukhamad, 165, 197Noor Yuliati, Lilik, 208Nugraha, Artadi, 23Nuryartono, Nunung, 151Oktaviani, Rina, 122Prasetyo, Andrie, 101Primadona, Fitry, 165Qaulan Tsaqiela, Bimahri, 43Ramadhan, Arfin, 82Ridho Nurrochmat, Dodik, 33Rifin, Amzul, 23, 151Rusolono, Teddy, 12Sanim, Bunasor, 43Saptono, Imam Teguh, 130Satria, Arief, 61Setiawan, Indarto, 197Simanjuntak, Mangatas, 12Siregar, Hermanto, 130Suharjo, Budi, 197Sukandar, Dadang, 187Sukardi, 23Sumarwan, Ujang, 33, 165Suprayitno, Gendut, 61Suwandi, Ruddy, 82Syahran, Rinaldi, 187Syarief, Rizal, 69Tinaprila, Netti, 101Trilaksani, Wini, 82Ulfah, Iffatul, 33Wahyudi, Imam, 151Widyatami, Sarah, 52Wijayanto, Hari, 112Wiska, Friesgina, 69Zen, Novian, 177</p

    Karakterisasi Pengaruh Temperatur Kalsinasi pada Intensitas emisi Material Luminisensi ZnO:Zn

    No full text
    Karakterisasi pengaruh temperatur terhadap intensitas emisi material luminisensi ZnO:Zn telah dilakukan. Penelitian ini di lakukan  untuk mengetahui sifat optik dari ZnO:Zn sebagai material luminisensi dan akan dianalisis pengaruh temperatur terhadap intensitas emisi material luminisensi ZnO:Zn pada konsentrasi dopan 5%. Sintesis ZnO dilakukan dengan metode solution phase dan dalam mendapatkan material luminisen ZnO:Zn digunakan metode milling. Spektrum absorbansi terbaik dihasilkan oleh ZnO:Zn dengan suhu tertinggi kalsinasi yaitu 4000C. Berdasarkan dari karakterisasi spektrum photoluminniscence diketahui bahwa material luminisensi ZnO:Zn dengan variasi temperatur mampu mengemisikan  cahaya hijau dengan rentang panjang gelombang 523nm. Variasi temperatur yang diberikan akan berpengaruh pada tingginya intensitas emisi ZnO:Zn yang dihasilkan seiring meningkatnya temperatur yang diberika
    corecore