1,721,012 research outputs found
Jangka reproduksi dan kajian faktor-faktor yang mempengaruhinya pada wanita di kabupaten cirebon provinsi jawa barat
Research on reproductive span of Indonesian women is scarce. There was conflicting data between urban and rural area. Present study used longitudinal data to get the reproductive span of women who live in Cirebon rural community. Data was collected from interview. The data was processed using the Probit GLM (Generalized Linear Models). The result showed that age of menarche was 14.51 years and menopause was 48.53 years, so that the reproductive span was 34.02 years. This reproductive span is not influenced by the use of contraceptives and their reproductive history which included age at first childbirth, the distance between the first and last pregnancy and number of children (parity). Women in rural areas have a shorter reproductive span than women in urban areas. Secular trends decreased the age of menarche
Eefektivitas Fag Litik Klebsiella pneumoniae Penginfeksi Luka Bakar.
Luka bakar adalah luka atau kerusakan jaringan pada kulit yang disebabkan
adanya interaksi kulit dengan sumber panas seperti api, listrik, bahan kimia, air
panas, petir dan lain-lain. Keadaan yang tidak steril pada luka bakar memudahkan
terjadinya infeksi oleh mikrob terhadap luka. Klebsiella pneuomoniae merupakan
salah satu bakteri patogen yang dapat menginfeksi luka bakar. Patogenitas bakteri
tersebut didukung dengan faktor-faktor virulensi yang dimiliki sehingga
memudahkan dalam melakukan infeksi. Penggunaan antibiotik adalah salah satu
terapi yang umumnya digunakan untuk mengatasi terjadinya infeksi luka bakar,
tetapi saat ini telah banyak diketahui adanya bakteri yang telah resisten antimikrob
salah satunya yaitu K. pneumoniae. Resistensi tersebut mengakibatkan efek
antibiotik menjadi tidak efektif lagi sehingga perlu ditemukan alternatif lain untuk
mendampingi penggunaan antibiotik dalam pengobatan luka bakar. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendapatkan fag litik yang efektif dalam melisiskan K.
pneumoniae yang resisten antibiotik penginfeksi luka bakar.
Fag litik K. pneumoniae diisolasi dari limbah padat dan cair peternakan sapi
perah Instut Pertanian Biologi. Bakteri inang yang digunakan merupakan koleksi
dr. Mariyati bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret
Surakarta. Bakteri tersebut diisolasi dari pasien luka bakar. Bakteri inang terlebih
dahulu di identifikasi morfologi, karakter fisiologi dengan uji IMViC, uji
hemolisin pada agar darah, pewarnaan kapsul dan uji resistensi antibiotik. Isolasi
fag dilakukan dengan metode dua lapis agar, keberadaan fag ditandai oleh
terbentuknya plak (zona bening). Fag litik berhasil ditemukan pada limbah
penampungan feses sapi dan air limbah saluran pembuangan awal. Fag kemudian
dipilih berdasarkan karakteristik plak yang terbentuk dan jumlah plak yang
tumbuh pada media. Fag dengan jumlah terbanyak yaitu 1.104 × 107 PFUmL-1
yang berasal dari air limbah penampungan feses sapi dengan karakteristik plak
jernih bentuk reguler dengan ukuran yang berbeda masing-masing adalah 2 mm
untuk FK1 dan 1 mm untuk FK4 dipilih untuk dimurnikan. Karakteristik
morfologi fag FK1 dan FK4 diamati menggunakan mikroskop elektron transmisi
(TEM) JEOL JEM-1010 menunjukkan bahwa kedua plak merupakan fag yang
memiliki kapsid ikosahedral dengan ukuran diameter masing-masing fag yaitu 21
nm (FK1) dan 40.91 nm (FK4) serta ekor pendek dengan ukuran panjang ekor
8.40 nm (FK1) dan 13.64 nm (FK4) sehingga memiliki kemiripan dengan fag
anggota famili Podoviridae.
Aktivitas pelisisan bakteri inang K. pneumoniae oleh fag FK1 dan FK4
dilakukan dengan melihat penurunan jumlah populasi bakteri setiap dua jam
selama delapan jam pengamatan. Kemampuan pelisisan bakteri inang oleh kedua
fag berbeda – beda. Pemberian fag FK1 (9.2 × 108 PFU mL-1 ) mampu melisiskan
bakteri K. pneumoniae (1.93 × 107 CFU mL-1) pada dua jam pertama sebesar
99.88% dan memiliki nilai efektivitas tertinggi pada jam ke-4 dan ke-6 yaitu
99.95% , akan tetapi mengalami penurunan aktivitas pada jam ke-8 setelah infeksi
menjadi 85.53%. Pemberian fag FK4 (1.42 × 107 PFU mL-1) terhadap bakteri
iii
inang K. pneumoniae (1.93 × 107 CFU mL-1) menunjukkan bahwa fag dapat
menurunkan populasi bakteri pada dua jam setelah infeksi dengan nilai persentasi
penurunan populasi bakteri sebesar 99.75% dan memiliki nilai efektivitas yang
tertinggi pada jam ke-4 sebesar 99.86%. Penurunan aktivitas pelisisan bakteri
inang oleh fag juga terlihat pada FK4 yakni terjadi penurunan aktivitas pada jam
ke-6 dan ke-8 setelah infeksi sebesar 96.16% dan 96.02%. Aktivitas pelisisan
bakteri inang oleh fag dapat dipengaruh oleh beberapa faktor seperti pH, suhu dan
bufer yang digunakan. Selain itu, laju absorbsi suatu fag juga mempengaruhi
kemampuan fag dalam melisikan bakteri inang. Fag dengan laju adsorbsi tertinggi
rata-rata memiliki waktu lisis pendek (cepat), demikian juga sebaliknya. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa dari sampel air limbah penampungan feses sapi
dapat ditemukan dua fag litik yaitu FK1 dan FK4 yang memiliki bentuk kapsid
ikosahedral dengan ekor pendek digolongkan dalam anggota famili Podoviridae.
Fag FK1 dan FK4 mampu menurunkan jumlah populasi bakteri K. pneumoniae 4
jam setelah diinfeksikan fag dengan persentase penurunan populasi bakteri K.
pneumoniae adalah 99.5% (FK1) dan 99.86% (FK4)
Analisis Metagenomik Bakteri Filum Firmicutes dan Bacteroidetes pada Wanita Penderita Diabetes Melitus Tipe 2.
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar gula dalam darah akibat gangguan sekresi insulin, dimana penderita wanita lebih banyak dibandingkan pria. Perubahan komposisi keragaman mikrobiota di usus dapat menyebabkan ketidakseimbangan mikrobiota yang dapat memicu terjadinya beberapa penyakit diantaranya diabetes melitus. Namun demikian, kendala yang dihadapi saat ini adalah masih belum ada konsensus yang jelas terkait data mikrobiota wanita penderita DM tipe 2, sebab kelimpahan mikrobiota pada setiap orang berbeda. Analisis metagenomik bakteri filum Firmicutes dan Bacteroidetes pada wanita penderita DM tipe 2 belum pernah dilaporkan di Indonesia, sehingga kajian mengenai keragaman mikrobiota tersebut perlu dilakukan sebagai upaya menganalisis marka mikrobiota yang berasosiasi dengan kejadian penyakit DM tipe 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keragaman bakteri filum Firmicutes dan Bacteroidetes pada wanita penderita dan non-penderita DM tipe 2 melalui pendekatan metagenomik.
Sampel feses diambil dari populasi yang terdiri atas 30 responden penderita dan 30 responden non-penderita. Responden diberikan kuesioner untuk mendapatkan informasi terkait beberapa karakteristik. Penentuan sampel penelitian berdasarkan kriteria tersebut di peroleh 5 responden penderita dan 5 responden non-penderita. Bakteri pada feses dianalisis dengan mengekstrak total DNA genom langsung dari sampel feses menggunakan ZymobiomicsTM DNA Miniprep Kit (USA). Gen 16S rRNA diamplifikasi dengan menggunakan primer 16S rRNA+GC clamp menghasilkan produk 200 Pb. Analisis komunitas bakteri dilakukan menggunakan Denaturing Gradient Gel Electrophoresis (DGGE). Gen 16S rRNA bakteri yang diperoleh, diurutkan basa nukleotidanya dan dianalisis kekerabatannya menggunakan software bioinformatika MEGA 7.
Hasil analisis DGGE pada 5 sampel feses orang sehat menghasilkan pita DGGEyang lebih beragam dibandingkan 5 sampel feses penderita DM tipe 2. Berdasarkan pengamatan langsung dan mempertimbangkan posisi pita hasil DGGE terdapat 3 pita DGGE yang selalu muncul pada semua sampel (pita 4,9,10), 5 pita yang yang hanya ditemukan pada sampel penderita (2,5,7,8,12), dan 4 pita yang hanya ditemukan pada sampel orang sehat (pita 1,3,6,11). 12 pita yang terpisah tersebut berhasil diisolasi melalui pemotongan gel untuk kemudian dianalisis sekuen penyusun DNA nya. Analisis indeks Shannon-Wienner (H’) digunakan untuk mengestimasi keragaman mikrob pada setiap sampel. Indeks keragaman (H’) berdasarkan gen 16S rRNA pada 10 sampel berkisar antara 2.624-2.997, sedangkan pada sampel orang sakit berkisar antara 2.476-2.829. Indeks kemerataan (e’) gen 16S rRNAberkisar antara 0.8422-0.9604.
Hasil pita DNA yang terpisah dipotong dan di re-PCR menggunakan primer spesifik P338F/P518R tanpa GC clamps untuk sekuensing. Hasil pensejajaran basa nukleotida menunjukkan 9 pita DGGE mayoritas teridentifikasi sebagai uncultured bacterium, namun terdapat 3 pita DGGE yang teridentifikasi sebagai Bacteroides vulgatus, Bacteroides fragilis, dan Enterococcus sp. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa pada penderita DM tipe 2 pita yang disekuen paling banyak dari filum Bacteroidetes sedangkan pada kontrol orang sehat dari filum Firmicutes. Hasil penelitian juga menunjukkan pita 5 (Bacteroides vulgatus strain DNF00399) yang ditemukan pada penderita DM tipe 2 merupakan pita unik yang memiliki kelimpahan tertinggi. Pita tersebut dapat diduga sebagai marka mikrobiota usus yang berasosiasi dengan proses metabolisme penderita DM tipe 2. B. vulgatus merupakan anggota dari filum Bacteroidetes. Firmicutes dan Bacteroidetes merupakan filum bakteri yang kehadirannya di usus sangat mendominasi
Potensi Antibakteri dari Daun Melastoma malabathricum dan Melastoma saigonense terhadap Staphylococcus aureus (ATCC 6538) dan Escherichia coli (ATCC 8739)
Tumbuhan Melastoma malabathricum dan Melastoma saigonense termasuk ke dalam famili Melastomaceae yang diketahui memiliki manfaat sebagai obat penyakit yang disebabkan oleh bakteri seperti diare. Tujuan penelitian ini adalah menguji potensi antibakteri dari ekstrak kasar daun M. malabathricum dan M. saigonense terhadap Staphylococcus aureus (ATCC 6538) dan Escherichia coli (ATCC 8739). Terdapat tiga jenis sampel daun yang digunakan yaitu dua jenis daun M. malabathricum (MM1 dan MM2) dan satu jenis daun M. saigonense (MS). Ekstrak kasar daun diujikan terhadap S. aureus (ATCC 6538) dan E. coli (ATCC 8739) dengan pembagian beberapa jenis konsentrasi yaitu 25%, 50% dan 100% dengan menggunakan metode difusi agar. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak kasar daun Melastoma menghasilkan daya hambat terhadap bakteri S. aureus (ATCC 6538), tetapi tidak menghasilkan daya hambat terhadap E. coli (ATCC 8739). Hasil analisis GC-MS diketahui bahwa terdapat 18 jenis senyawa bioaktif pada ekstrak kasar daun MM1, MM2, dan MS. Jumlah senyawa bioaktif yang tertinggi dimiliki oleh ekstrak kasar daun MM2
Keragaman Dan Aktivitas Antibakteri Aktinomiset Asal Spons Aaptos Sp. Dan Clathria Sp
Aktinomiset diketahui merupakan penghasil beragam senyawa bioaktif
termasuk antimikrob. Aktinomiset dapat dijumpai di lingkungan akuatik
berasosiasi dengan spons. Saat ini banyak bakteri patogen yang resisten terhadap
antibiotik, sehingga perlu upaya untuk menanggulanginya. Penelitian ini bertujuan
mengkaji keragaman morfologi aktinomiset asal spons Aaptos sp. dan Clathria sp.
dan menguji kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan Enteropatogenic
Escherichia coli (EPEC) K1.1 dan Bacillus pumilus resisten antibiotik. Metode
yang dilakukan meliputi peremajaan dan karakterisasi aktinomiset, peremajaan
bakteri target, penapisan kemampuan aktinomiset uji dalam menghasilkan
senyawa antibakteri, pola penghambatan isolat aktinomiset terhadap EPEC K1.1
dan B. pumilus serta penentuan konsentrasi hambat minimum. Total isolat
aktinomiset asal spons yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 20 isolat
yaitu 1 isolat asal Aaptos sp. dan sebanyak 19 isolat asal Clathria sp. Berdasarkan
karakteristik morfologi seperti dihasilkannya miselia aerial dan penataan spora
yang berbentuk spiral, maka diduga isolat-isolat aktinomiset tersebut termasuk ke
dalam genus Streptomyces. Dua isolat penghasil senyawa antibakteri tertinggi
yaitu CLa-1 dan CLc. Kedua isolat tersebut memiliki aktivitas antibakteri yang
kuat terhadap bakteri target dengan ukuran zona hambat >10 mm. Konsentrasi
hambat minimum dua isolat terpilih untuk B. pumilus adalah 1000 μg/mL.
Aktivitas antibakteri aktinomiset terpilih menunjukkan kemampuannya dalam
menghambat pertumbuhan B. pumilus resisten antibiotik
Kajian Pemanfaatan Fag Litik untuk Pengendalian Uropathogenic Escherichia coli Penginfeksi Saluran Kemih
Uropathogenic Escherichia coli (UPEC) adalah bakteri patogen utama penginfeksi saluran kemih. Bakteri UPEC telah banyak dilaporkan memiliki sifat resistensi terhadap berbagai antibiotik. Penderita infeksi saluran kemih (ISK) yang terinfeksi bakteri UPEC dapat mengalami penyakit komplikasi serius seperti pielonefritis akut, bakterimia dan kerusakan jaringan ginjal jika tidak segera diberikan penanganan medis yang tepat. Salah satu solusi yang dapat diaplikasikan sebagai agen terapi untuk mengontrol pertumbuhan bakteri UPEC penginfeksi saluran kemih adalah dengan memanfaatkan fag litik. Fag litik merupakan virus yang hanya dapat menginfeksi dan melisiskan sel bakteri sebagai inangnya dan dapat diisolasi dari alam. Ada delapan tahapan kerja dalam penelitian ini. Tahap pertama diawali dengan peremajaan dan verifikasi isolat UPEC sebagai bakteri inang pengisolasian fag. Verifikasi UPEC dilakukan secara konvensional yaitu dengan menumbuhkan pada media selektif diferensial Eosin Methylene Blue Agar, melakukan uji kemampuan bakteri dalam produksi indol dan menggunakan sitrat sebagai sumber karbon, melakukan fermentasi asam campuran dan asam butanadiol, uji produksi toksin hemolisin pada agar darah dan uji sensitivitas antibiotik. Sampel fag dikoleksi dari air sungai Cisadane, Bogor, Indonesia. Fag diisolasi, dipurifikasi, dikuantifikasi dan dideterminasi kisaran inangnya menggunakan metode double layer agar. Morfologi fag diamati menggunakan transmission electron microscope (TEM) sedangkan berat molekul protein fag dianalisis menggunakan metode Sodium Dedocyle Sulphate- Polyacrilamide Gel Electrophoresis (SDS-PAGE). Tahapan terakhir mengamati efektivitas fag FU3 dalam menurunkan populasi bakteri UPEC inang secara in vitro. Hasil verifikasi bakteri UPEC asal penderita ISK yang dikoleksi oleh Laboratorium Mikrobiologi, Universitas Hasanuddin Makassar memiliki sifat identik dengan karakteristik Escherichia coli. Bakteri UPEC inang merupakan bakteri yang mampu menghasilkan toksin β-hemolisin yang ditandai dengan terbentuknya zona bening pelisisan sel darah merah di sekitar koloni pada media agar darah. Bakteri UPEC inang memiliki pola resistensi terhadap antibiotik ampicilin, chlomphenicol, ciprofloxacin, clindamycine dan cotrimoxazole sedangkan bersifat intermediate terhadap doxycycline. Plak yang terbentuk dari hasil pengisolasian fag dipilih sebanyak dua plak berdasarkan perbedaan ukuran diameter plak yang tampak pada agar dua lapis dan selanjutnya disebut sebagai fag FU1 dan FU3. Fag FU1 dan FU3 membentuk zona bening (plak) pada agar dua lapis yang mengindikasikan fag bersifat litik. Plak FU1 dan FU3 berbentuk bulat dengan diameter masing-masing <1 mm dan 1,5 mm. Kedua fag memiliki kisaran inang yang sangat sempit karena hanya mampu menginfeksi bakteri UPEC inangnya saja bahkan tidak mampu menginfeksi 8 bakteri uji penginfeksi saluran kemih lainnya. Pengamatan morfologi fag menggunakan TEM JEOL JEM-1010 menunjukkan bahwa fag FU1 dan FU3 memiliki kemiripan dengan anggota famili Podoviridae dengan karakteristik kapsid berbentuk ikosahedral
yaitu masing-masing Ø kapsid berukuran 47,2 nm dan 40 nm dengan ekor yang sangat pendek (< 40 nm). Kisaran berat molekul protein yang dimiliki fag litik FU1 yaitu 10 - 76 kDa sedangkan ukuran berat molekul protein fag FU3 yaitu berkisar 8 - 120 kDa. Efektivitas bakteriolitik fag FU3 (1,6 x 107 PFU/mL) mampu menurunkan populasi UPEC (1,7 x 107 CFU/mL) sebesar 96,16% pada jam ke-5 inkubasi dan mampu menurunkan populasi UPEC menjadi di bawah ambang nilai infeksi (< 105 CFU/mL) dalam waktu 25 jam. Hasil ini menunjukkan bahwa fag litik FU3 sangat efektif dalam menurunkan populasi UPEC penginfeksi saluran kemih.
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebanyak dua fag litik UPEC (FU1 dan FU3) berhasil diisolasi dari air sungai Cisadane yang terletak di daerah pemukiman penduduk Bogor. Kedua isolat fag tersebut mampu menginfeksi bakteri inang UPEC yang diisolasi dari penderita ISK. Baik fag FU1 maupun FU3 memiliki kisaran inang yang sangat sempit yaitu hanya mampu menginfeksi bakteri UPEC inang saja. Karakteristik morfologi fag FU1 dan FU3 memiliki kemiripan dengan anggota famili Podoviridae. Kedua fag juga disusun oleh protein dengan rentang berat molekul yang berbeda. Efektivitas fag FU3 dengan nilai multiplicity of infection 0,9 antara fag (1,6 x 107 PFU/mL) dan UPEC (1,7 x 107 CFU/mL) mampu menurunkan populasi UPEC dalam sehari semalam menjadi di bawah ambang nilai infeksi bakteri patogen di saluran kemih. Fag UPEC tersebut memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi agen biokontrol dan terapi fag terhadap UPEC penginfeksi saluran kemih.
Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui karakteristik molekuler fag, aktivitas bakteriolitik fag secara in vivo dan optimasi stabilitas fag dalam berbagai media penyimpanan untuk produksi dalam skala besar. Penelitian mengenai seberapa besar konsentrasi fag yang efektif dan efisien untuk melisiskan seluruh bakteri inang UPEC juga perlu dilakukan karena dalam proses infeksi hingga melisiskan seluruh sel bakteri perlu perbandingan yang tepat antara fag dengan bakteri inang
Pertumbuhan dan Potensi Antibakteri Melastoma malabathricum Akibat Cekaman Kekeringan
Tanaman harendong (Melastoma malabathricum) merespon dan
beradaptasi pada cekaman kekeringan dengan metabolit sekunder seperti flavonoid,
saponin, dan tanin. Tanaman ini dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat
berbagai penyakit infeksi. Esherichia coli merupakan salah satu penyebab infeksi
saluran kemih (Urinary Tract Infections). Penelitian ini bertujuan untuk
mempelajari fisiologi dan pertumbuhan tanaman M. malabathricum, serta menguji
efek antibakteri dari ekstrak daunnya terhadap E.coli pada kondisi cekaman
kekeringan. Daun tanaman M. malabathricum mendapat sembilan perlakuan
cekaman kekeringan selama 60 hari dengan dua faktor, yaitu intensitas penyiraman
dan volume air sesuai kapasitas lapang. Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun M.
malabathricum dengan pelarut metanol menggunakan metode Kirby-Bauer dengan
modifikasi media. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah tanaman M.
malabathricum memiliki nilai terendah pada tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah
anakan, diameter batang, panjang akar, bobot basah akar mati, bobot kering akar
mati, bobot kering tajuk, dan klorofil total daun saat tanaman diberi cekaman
kekeringan penyiraman setiap 7 hari dan volume air sesuai kapasitas lapang 30%.
Uji antibakteri dari ekstrak daun M. malabathricum dengan perlakuan cekaman
kekeringan penyiraman setiap 3 hari dan volume air sesuai kapasitas lapang 30%
dengan konsentrasi 1 mg/mL dan 5 mg/mL memiliki aktivitas antibakteri tertinggi
dan diperoleh diameter daya hambat sebesar 14.50 mm dan 15.67 mm
DNA Extraction and Characterization of Salmonella‟s Lytic Bacteriophage Genome
Bacteriophages are ubiquitous in nature and are known to proliferate wherever their bacterial hosts exist. Their virion particles can exist independently outside the host, however all phages are need their host to propagate. Several phages are highly specific to host cell surface receptors and any slight changes in structure results in little or no interaction between the phage and its host. Salmonella‟s phage isolated from sewage water where their bacteria exist. Three isolated of phages (phages 15, 19 and 38) were used in this research that concentrated using three types of methods. PEG/ NaCl method was firstly used to concentrate the phages based on their molecular weight to precipitate the phage particles during centrifugation. The second method was Scraping Plaque method. In this method, overlay plaques were scraped and collected in SM buffer to get phage concentrates. Enrichment method was the last method used to concentrate the phages. Phage genome isolation was done using two methods i.e. EDTA/SDS and Proteinase K methods. The first method was done using DNase I to eliminate bacterial DNA followed by SDS/EDTA treatment to release phages DNA and phenol-chloroform-isoamyl alcohol to extract the DNA. DNA was collected by isopropanol extraction. While in Proteinase K method, bacterial DNA was eliminated by DNase I and Proteinase K/SDS was used to degrade phages capsids and ethanol for DNA precipitation. The result showed that PEG/NaCl method resulted the highest phage concentration for phage 15 and phage 19, while scrapping method was the highest for phage 38. The quantity and purity of extracted DNA were low for PEG/NaCl and Scraping methods, while Enrichment method was higher indicated higher purity. Run on agarose gel electrophoresis of extracted DNA confirmed that Enrichment method results were the best while scraping and PEG/NaCl method was appeared smear background. Based on DNA genome size determination, the bacteriphages of Salmonella sp were comparable with other study of Salmonella phages. Phage P15 with genome size of 39,5 kb was close to phage epsilon15. Phage P19 with genome size of 41 kb was close to phage ST160. And phage P38 with genome size of 48,5 kb was close to phage Gifsy-1
Produksi Kolagenase dari Isolat Bacillus licheniformis F-11.1 dan F-11.4
Hydrolysis by collagenase enzyme could increase nutrition and function of food proteins. This research was conducted to produce collagenase enzyme from Bacillus licheniformis F-11.1 and F- 11.4. B. licheniformis isolate F-11.1 and F-11.4 were cultured in three types of production media, which is Luria Bertani (LB) media consisted of 5% collagen (LBC), 50% LB media consisted of 5% collagen (LBHC), and 5% collagen (CLG). The activity of collagenase, protein content, and cell turbidity of B. licheniformis F-11.1 and F-11.4 were measured every 5 hours during 50 hours incubation. The result showed that optimum collagenase production of B. licheniformis isolate F- 11.1 was reached in LBC and LBHC media with activity of 2,057 U/mg and 2,037 U/mg, respectively. Optimum collagenase production of B. licheniformis isolate F-11.4 was reached in LBC media with activity of 4,695 U/mg. Isolate F-11.4 in LBHC media possesed the optimum collagenase activity of 2,811 U/mg. CLG media gave optimum collagenase activity of B. licheniformis F-11.1 and F-11.4 at 0,807 U/mg and 0,306 U/mg respectively. These research concluded that LBC and LBHC media was the best choice for collagenase production of B. licheniformis F-11.1 and F-11.4
Potensi Senyawa Antibakteri dari Ekstrak Daun Melastoma candidum Asal Jambi terhadap Escherichia coli Enteropatogen (EPEC)
Tumbuhan Melastoma candidum diketahui banyak dimanfaatkan untuk mengobati berbagai penyakit. Escherichia coli Enteropatogen (EPEC K1.1) merupakan salah satu penyebab utama diare pada balita di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menguji potensi antibakteri ekstrak kasar dari daun M. candidum asal Jambi terhadap EPEC K1.1 dan mengidentifikasi kandungan dari ekstrak tersebut. Sebanyak 60-70 helai daun M. candidum dimaserasi dengan pelarut metanol. Ekstrak kasar dengan konsentrasi 250 mg/mL, 500 mg/mL, dan 1000 mg/mL diuji kemampuan antibakterinya pada bakteri EPEC K1.1 (108 sel/mL) menggunakan metode difusi agar. Ekstrak kasar dianalisis kandungannya menggunakan GC-MS. Ekstrak kasar daun M. candidum asal Jambi dengan konsentrasi 250 mg/mL, 500 mg/mL, dan 1000 mg/mL dapat menghambat pertumbuhan EPEC K1.1. Senyawa yang dikandung ekstrak tersebut terdiri atas golongan fenol, furan aldehida, dan asam lemak, dengan kadar senyawa aktif paling tinggi yaitu 1,2,3 Benzenatriol
- …
