1,720,974 research outputs found
Perkembangan Jumlah Rayap, Mortalitas, dan Kemampuan Makan Rayap pada Pengujian Laboratorium
The utilization of wood has been increases in accordance with population growth. One of the imperative properties of wood is durability. It is needed a testing with certain standard beside of SNI 01.7207-2006 so that the result will be accurate. The objectives of this research were to understand the time of durability testing of wood efficiently, and to understand the growth of subterranean termites Coptotermes curvignathus Holmgren, mortality, and feeding rate. There were two methods A method (SNI 01.7207-2006), the samples size was equalized whereas in B method, samples weight equalized. In B method, the rubber wood samples gave stable growth of termites at the estimation 79 termites after 36 days whereas albizia wood, there were no colonies at 78th days. Weight loss which was had by albizia wood was lowest than rubber wood. In a week, A method for albizia and rubber woods, termites were able to feed wood as much as 0.36 g, whereas B method the wood eaten for rubber wood was higher than albizia wood which was 0.16 g. The result of the research revealed that rubber wood was more favorable by subterranead termites
Indeks Kondisi Bangunan dan Sisa Masa Pakai Kayu Komponen Rumah Tinggal Sederhana
The objective of this research was to understand the performances of the buildings and the remaining service lifetime of wood which have been used as components of low cost house, where it was at Alam Sinar Sari Residence Complex in Jl.Delima E213 Cibeureum Darmaga, Bogor. Materials used of this research were the rafters and battens which suffered the most severe degradation to both of these components. All building components were surveyed and assessed these performances. Then, creep testing, physical testing, and mechanical testing of the samples of the house are utilized to estimate the wood life service remain of the house, using the reducing of the estimation model. assessment result of the house performance was two different performances, which were respectively the front and the back of the house due to the time differences as building. The value of robustness from the front which has built on 1996 was 67.6 %, while the back which has built on 2002 the value of robustness was 80.2 %. Wood identification showed the front using Saninten wood (Castanopsis sp.) as battens and Kamper wood (Dryobalanops sp.) as rafters. In other hand, the back of the house using Bentawas wood (Wrightia sp.) as battens and Meranti wood (Shorea sp.) as rafters. Based on the calculation result of the life service remain of wood towards batten and rafter framers of the roof structure, it could be understood that the remaining service lifetime of the front and the back were securely used in 3 years and in 5 years, respectively
Identifikasi, Pengujian Sifat Fisis Mekanis dan Analisis Fatigue Lentur Kayu Pinus
Kayu pinus sangat potensial untuk mensubstitusi kayu Douglas fir yang
masih diimpor untuk digunakan sebagai material struktur menara pendingin di
Indonesia. Kayu komponen struktur menara pendingin dapat mengalami kelelahan
(fatigue) akibat vibrasi secara terus–menerus yang ditimbulkan oleh getaran kipas
angin (fan) di puncak menara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kemampuan kayu pinus menahan beban dinamis berupa vibrasi. Pengukuran sifat
fisis mekanis dan perhitungan tegangan ijin juga dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan rancang bangun menara pendingin dengan menggunakan kayu pinus
sebagai komponen strukturalnya. Pengenalan jenis kayu dilakukan dengan cara
identifikasi morfologi daun meliputi bentuk dan ukuran, serta didukung dengan
pengamatan anatomi kayu secara mikroskopis sehingga dapat dipastikan bahwa
jenis kayu yang diuji adalah Pinus merkusii. Kayu Pinus yang diuji memiliki nilai
rata-rata kadar air sebesar 12.07%, berat jenis sebesar 0.61, dan kerapatan sebesar
0.69 g/cm3. Hasil analisis fatigue kayu menunjukkan bahwa kayu pinus aman jika
menerima tegangan dinamis di bawah batas tegangan patah minimum senilai
37.645 N/mm2, batas tegangan maksimum senilai 39.996 N/mm2, dan tegangan
patah rata–rata senilai 37.891 N/mm2. Tegangan izin kayu Pinus memenuhi
persyaratan NDS 2005 dan CTI STD - 144, namun nilai MOE rata–ratanya lebih
rendah daripada nilai yang disyaratkan. Diagram Goodman juga menunjukkan
bahwa kayu Pinus memiliki umur patah tidak terbatas jika menerima beban dinamis
di bawah garis Goodman a = -0.2659m + 12.417
Analisis Fatigue Tekan Kayu Pinus
HERMAWAN dan EFFENDI TRI BAHTIAR. Menara pendingin di Indonesia biasanya menggunakan kayu Douglas fir sebagai komponen utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisis, sifat mekanis, tegangan ijin, dan batas endurance kayu pinus untuk komponen struktur menara pendingin. Rata-rata kadar air (Mc), kerapatan (), dan berat jenis (BJ) masing-masing adalah 13.55%, 0.55 g/cm3; dan 0.48. Berat jenis kayu pinus lebih tinggi dibandingkan Douglas fir (BJ = 0.46) yang saat ini digunakan untuk komponen menara pendingin. Hasil uji-t menunjukkan bahwa rata-rata MOE dan MCS kayu pinus sebesar 7197 N/mm2 dan 30 N/mm2, tidak berbeda nyata dengan kayu Douglas (9104 N/mm2 dan 33 N/mm2). Uji dinamis menghasilkan kurva S-N dan diagram Goodman. Kurva S-N menunjukkan kayu pinus memiliki batas tegangan patah minimum (min) sebesar 3.1476 N/mm2, batas tegangan patah maksimum (maks) sebesar 16.577 N/mm2, dan batas tegangan patah rata-rata (m) 10.012 N/mm2, sedangkan diagram Goodman menghasilkan nilai akhir (u) sebesar 30 N/mm2 dan batas endurance (e) sebesar 8.50 N/mm2. Batas ketahanan endurance kayu pinus tersebut setara dengan kayu Douglas fir (8.12 N/mm2)
Sifat-Sifat Parquet dari LVL Kayu Jati dan Sonokeling Produksi KBM-IK Perhutani Gresik
Parquet produksi KBM-IK Gresik dibuat dari LVL yaitu gabungan finir-finir
kayu jati dan/atau kayu sonokeling yang direkat dan dikempa dengan orientasi arah
serat yang sama. Produk tersebut akan dikomersialkan sehingga sifat-sifat dasarnya
perlu diteliti sebagai rujukan bagi para pengguna. Penelitian ini mengukur sifatsifat
dasar parquet meliputi kadar air, kerapatan, kerapatan relatif, daya serap air,
kembang-susut volume, perubahan tebal, kekerasan, MOE, MOR, dan keteguhan
geser rekat. Standar pengujian penelitian ini menggunakan ASTM D143-14 dengan
modifikasi, hasilnya menunjukkan: (a) kadar air 9.19‒9.73%, (b) kerapatan kering
udara dan kering oven masing-masing 0.61‒0.81 g/cm3 dan 0.56‒0.73 g/cm3, (c)
kerapatan relatif 0.61‒0.80, (d) daya serap air selama 2 jam dan 24 jam masing-masing
4.65‒8.08% dan 15.97‒28.79%, (e) kembang 3.50‒6.61%, (f) susut 5.14‒6.49%, (g)
perubahan tebal 1.57‒2.02%, (h) kekerasan 487.73‒994.99 kgf/cm2, (i) MOE 96×103‒
119×103 kgf/cm2, (j) MOR 679.81‒863.68 kgf/cm2, dan (k) keteguhan geser rekat
28.69‒61.16 kgf/cm2. Ketiga produk parquet ini memiliki sifat-sifat yang cukup baik
dalam penggunaannya sebagai bahan produk parquet untuk lantai dibandingkan produk
parquet komersial lainnya yang ada di pasaran saat ini
Karakteristik Bilah Bambu dan Buluh Utuh pada Bambu Tali dan Bambu Ampel
Bambu merupakan sumberdaya alam yang dapat digunakan sebagai sumber bahan baku pengganti kayu. Salah satu jenis bambu yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah bambu tali (Gigantochloa apus (Bl. Ex Schult.f.) Kurz) dan bambu ampel (Bambusa vulgaris Schrad.). Sebelum menentukan kegunaan suatu bahan baku, perlu diperhatikan sifat-sifat dasar bahan baku tersebut, yaitu sifat anatomi, sifat fisis, dan sifat mekanis. Beberapa penelitian sifat-sifat dasar bambu untuk engineering telah banyak dilakukan, namun penelitian tersebut sebagian besar menggunakan contoh uji berupa bilah bambu. Sementara itu, bambu sering digunakan dalam bentuk buluh utuh, sehingga perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui apakah pengujian dengan bilah bambu setara dengan nilai bambu utuhnya. Penelitian ini menggunakan bambu tali dan ampel. Pengujian anatomi mengacu pada Pedoman Penuntun Praktikum Anatomi dan Identifikasi Kayu yang disusun oleh Pandit (1991), sedangkan sifat fisis berdasarkan Nuryatin (2000). Sementara contoh uji sifat mekanis pada bilah bambu mengacu pada standar ASTM D 143 – 94, sedangkan contoh uji sifat mekanis pada buluh utuh berdasarkan pada ISO 22157-1: 2004 yang dimodifikasi. Pengamatan sifat anatomi menunjukkan ikatan vaskuler pada bambu tali dan ampel memiliki ikatan bertipe III dan IV. Jumlah vaskuler/ mm2 dan proporsi luas vaskuler bambu tali dan bambu ampel menurun dari tepi ke dalam dan meningkat dari pangkal ke ujung. Pada bagian ruas bambu memiliki rata-rata KA 17,54%, BJ 0,69, kerapatan 0,81 g/cm3, penyusutan tebal 4,81%, penyusutan lebar 4,48%, pengembangan tebal 4,07%, pengembangan lebar 2,16%, MOE 126.438 kgf/cm2, MOR 1.264 kgf/cm2, kekuatan tekan sejajar serat 466 kgf/cm2, kekuatan tarik sejajar serat 2.627 kgf/cm2, dan kekuatan geser sejajar serat 101 kgf/cm2. Sedangkan bagian buku bambu memiliki rata-rata KA 18,52%, BJ 0,71, kerapatan 0,84 g/cm3, penyusutan tebal 4,32%, penyusutan lebar 5,68%, pengembangan tebal 2,48%, pengembangan lebar 1,64%, MOE 112.190 kgf/cm2, MOR 1.176 kgf/cm2, kekuatan tekan sejajar serat 387 kgf/cm2, kekuatan tarik sejajar serat 959 kgf/cm2, dan kekuatan geser sejajar serat 89 kgf/cm2. MOE pada buluh utuh lebih kecil 109,67% dari bilahnya dan MOR buluh utuh lebih kecil 228,69% dari bilahnya. Sedangkan kekuatan sejajar serat buluh utuh lebih besar 14,53% dari bilahnya
Kayu Laminasi Asimetris sebagai Komponen Dinding Sekat
Salah satu upaya memanfaatkan kayu berkualitas rendah adalah menjadikannya sebagai kayu laminasi. Kayu laminasi berdasarkan pola penyusunan laminanya dibagi menjadi dua yaitu kayu laminasi simetris dan asimetris. Kayu laminasi simetris sudah banyak diproduksi sedangkan kayu laminasi asimetris belum banyak diproduksi. Kayu laminasi asimetris bagian face dan back-nya dibuat dari material dan/atau ukuran tebal yang berbeda sehingga garis netral tidak tepat berada di tengah-tengah core. Sifat fisis (kadar air, kerapatan dan berat jenis), sifat mekanis (MOE dan MOR), uji absorbsi suara baik kayu laminasi dan bahan pembentuknya, serta analisis teoritis sifat mekanis kayu laminasi ditinjau dari bahan pembentuknya digunakan untuk menganalisis kemampuan dari kayu laminasi yang dihasilkan. Hasil analisis dari pengujian yang dilakukan digunakan sebagai referensi dalam memproduksi kayu laminasi yang diinginkan. Kadar air tertinggi terdapat pada kayu laminasi dengan core balsa 4 cm (14,0 %) dan terendah terdapat pada kayu laminasi dengan core MDF 4 cm (10,6 %). Kerapatan dan berat jenis tertinggi terdapat pada kayu laminasi dengan core MDF 4 cm (0,69 g/cm3 dan 0,62), sedangkan terendah terdapat pada kayu laminasi dengan core styrofoam 4 cm (0,24 g/cm3 dan 0,21). Hasil analisis pengujian menghasilkan nilai MOE teoritis (core dianggap berperan dan core dianggap tidak berperan) yang kemudian dibandingkan dengan nilai MOE empiris (didapat dari hasil pengujian di laboratorium). Core pada peneliitan ini mempunyai peranan dalam menahan beban yang diberikan namun besarnya tidak 100 %. Pada uji absorbsi suara, styrofoam dan kayu laminasi dengan core styrofoam memiliki penyerapan paling baik dibandingkan bahan pembentuk dan kayu laminasi yang lain. Kayu laminasi yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai alternatif komponen dinding sekat pada studio musik karena mampu menyerap pada rentang frekuensi 500 Hz-3150 Hz
Pengawetan Kayu Pinus (Pinus merkusii) dengan Alkaline Copper Quaternary (ACQ) sebagai Komponen Menara Pendingin
Struktur menara pendingin utamanya adalah kayu. Kayu merupakan material organik tersedia di alam, mudah diperoleh, dan berasal dari sumberdaya alam yang dapat diperbaharui. Menara pendingin di Indonesia umumnya menggunakan kayu redwood dan douglas fir sesuai dengan persyaratan CTI (Cooling Tower Institute) STD 103 dan 114. Biaya pengadaan dan pemeliharaan kayu impor cukup mahal sehingga penggunaan kayu lokal sebagai komponen menara pendingin menjadi salah satu solusi. Salah satu kayu lokal yang diteliti dan dipelajari sebagai komponen menara pendingin adalah kayu pinus (Pinus merkusii). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet Alkaline Copper Quaternary (ACQ) pada sifat fisis, mekanis, keterawetan kayu, dan keawetan kayu. Sifat fisis, mekanis, dan keawetan diukur sebelum dan sesudah pengawetan dengan cara impregnasi vakum-tekan metode full-cell ACQ, selanjutnya diuji-t dengan asumsi ragam yang sama untuk mengetahui perubahan sifat fisis mekanis dan keawetan setelah impregnasi. Hasil penelitian ini menunjukkan kayu pinus memiliki tegangan izin geser, lentur dan tekan tegak lurus yang sedikit lebih rendah dari persyaratan pada CTI-114, CTI-103, dan NDS 2005 sehingga untuk mensubstitusi douglas fir dan redwood sebagai komponen menara pendingin di Indonesia diperlukan dimensi kayu yang lebih besar. Kayu pinus memiliki sifat keterawetan yang bagus karena diindikasikan oleh nilai retensi yang tinggi dan nilai penetrasi yang sesuai dengan syarat CTI-112. Hasil uji ketercucian menunjukkan bahan pengawet ACQ lebih banyak tercuci pada air panas dibandingkan air dingin. Hasil uji ketahanan terhadap rayap tanah laboratorium dengan standar SNI 7207:2014 dan uji ketahanan terhadap rayap di lapang dengan standar ASTM D1758-08 menunjukkan bahwa proses pengawetan memiliki pengaruh nyata terhadap weight loss kayu pinus yang berkurang secara signifikan setelah diawetkan dengan ACQ, yang berarti umur pakai kayu pinus menjadi lebih tinggi setelah diberikan pengawet ACQ. Pengawetan dengan ACQ memberikan pengaruh sifat fisis dan mekanis yang bervariasi, namun secara umum tidak ada kenaikan maupun penurunan yang berbeda nyata setelah proses pengawetan
Pemilahan Struktural Gigantochloa apus Berdasarkan Sifat Lenturnya.
Masyarakat Indonesia secara tradisional menggunakan Gigantochloa apus sebagai bahan bangunan. Untuk perencanaan bangunan modern, naskah standar pengujian dan praktek penggunaan dibutuhkan untuk menjamin keamanan pengguna. Pemilahan struktural dilakukan pada buluh bambu untuk mendapatkan nilai karakteristik desain. Nilai tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam merumuskan naskah standar pemilahan bambu oleh International Organization for Standardization (ISO).
Pemilahan struktural adalah metode untuk klasifikasi bahan berdasar kualitasnya untuk tujuan struktural. Pemilahan bambu dilakukan dengan penilaian visual secara non destructive pada setiap kondisi, dimensi, dan geometri untuk menduga kekuatan dan kapasitas material. Perbandingan pemilahan visual dapat dilakukan dengan mesin dimana buluh diuji lentur dengan memberikan beban yang tetap. Mesin pemilah bekerja dengan asumsi kekuatan dan kapasitas bambu dapat diduga dengan mengukur modulus elastisitas (stiffness).
Penilaian non destruktif dengan mengukur diameter (D) dan linear mass (q) adalah metode yang sederhana berkaitan dengan kerapatan dan memiliki korelasi kuat terhadap kerapatan dan memiliki korelasi kuat terhadap kekakuan (EIapp, EItrue) dan kapasitas lentur (Mmax). Pengukuran D dan q dapat dilakukan untuk menduga kapasitas G. apus. Klasifikasi bambu untuk struktural dapat dikembangkan dengan klasifikasi D dan q berdasarkan metode ISO 22156 dan confident band. Metode confident band menghasilkan nilai yang lebih konvensional daripada ISO 22156 sehingga lebih aman dan terandalkan. Diameter pangkat tiga adalah prediktor terbaik untuk menduga kekakuan, sedangkan diameter kuadrat adalah yang terbaik untuk menduga momen maksimal. Prediktor tambahan dalam regresi berganda dapat memperbaiki adj-R2, namun tetap tidak dapat diandalkan untuk menduga MOE dan MOR G. apus, sehingga pemilahan struktural bambu dapat dilakukan dengan mengklasifikasikan berdasarkan kapasitas daripada kekuatan. Pada pemilahan berdasarkan kapasitas, penambahan variabel prediktor berupa eccentricity (Ec) atau ovality (Ov), kerapatan dinding (w), buluh (c), dan kadar air (Mc) secara signifikan dapat meningkatkan koefisien determinasi
Karakteristik Tekuk Strand Woven Bamboo (SWB) pada Berbagai Angka Kelangsingan.
Bambu merupakan salah satu material alami terbarukan yang dapat
digunakan sebagai bahan konstruksi karena ketersediannya yang melimpah dan
ramah lingkugan. Seiring berkembangnya teknologi, salah satu upaya
mengoptimalkan penggunaan bambu adalah dengan mengolahnya menjadi strand
woven bamboo (SWB) yang potensial sebagai alternatif pengganti balok dan kolom
kayu. Campuran jenis bambu biasanya digunakan sebagai bahan pembuatan produk
SWB. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai faktor tekuk SWB pada
berbagai ukuran penampang. Metode pengujian tekan pada SWB mengacu pada
standar ASTM D-143. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata
kerapatan SWB 1.16 g/cm3 dan nilai rata-rata kadar air kering udara 13.26 %.
Angka kelangsingan SWB dari pengujian yaitu antara 3.49 s/d 196.99 sedangkan
nilai faktor tekuk yang didapat pada pengujian sebesar 0.18 s/d 0.99. Semakin besar
angka kelangsingan maka faktor tekuk yang dihasilkan semakin kecil. Rumus
faktor tekuk SWB yang diperoleh dari penelitian ini adalah
=1/(1+0.0000010044406912523) dengan koefisien determinasi sebesar 79.02%
- …
