1,720,970 research outputs found

    Kinerja Pertumbuhan Dan Kualitas Daging Ikan Patin (Pangasianodon Hypophthalmus) Yang Diberi Pakan Komersial Dengan Kadar Protein Berbeda.

    No full text
    Ikan patin (Pangasianodon hypophthalmus) merupakan salah satu ikan air tawar potensial dalam kegiatan budidaya ikan. Pakan dalam kegiatan budidaya ikan merupakan salah satu faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas daging. Evaluasi mengenai hubungan kualitas pakan terhadap pertumbuhan dan kualitas daging ikan patin telah banyak dilakukan. Namun evaluasi untuk pakan komersial yang digunakan pembudidaya ikan patin terhadap kinerja pertumbuhan dan kualitas daging belum banyak dilakukan. Padahal kenyataannya penggunaan pakan komersial dengan berbagai kualitas dilihat dari kandungan protein banyak beredar dan diminati oleh pembudidaya ikan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan dan kualitas daging dari ikan patin yang diberi pakan komersial dengan kandungan protein berbeda. Ikan patin yang digunakan dengan bobot awal 33,61 g ditebar sebanyak 15 ekor/m3 hapa ukuran 2×1×1 m3. Ikan diberi pakan percobaan dua kali sehari secara sekenyangnya (at satiation) selama 60 hari. Penelitian ini didesain dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Pakan yang digunakan adalah pakan komersial dengan 4 kandungan protein yang berbeda: pakan A (18%), pakan B (23%), pakan C (28%) dan pakan D (32%). Parameter uji yang dievaluasi dalam penelitian ini antara lain laju pertumbuhan spesifik (SGR), rasio konversi pakan (FCR), jumlah konsumsi pakan (JKP), retensi protein (RP), retensi lemak (RL), tingkat kelangsungan hidup (SR), analisis proksimat tubuh ikan, analisis proksimat daging ikan, hepatosomatik indek (HSI), kandungan air, lemak, glikogen hati, lemak belly, edible portion, analisa tekstur daging (kekompakan dan kekenyalan), kolesterol, trigliserida, HDL (High density lipoprotein), kadar glukosa darah. Hasil penelitian menunjukan bahwa pakan komersial dengan kadar protein memberikan pengaruh berbeda (P0,05). Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan bobot tubuh, SGR, protein daging tertinggi, FCR terendah, diperoleh pada perlakuan protein pakan 23, 28 dan 32%. Sebagai kesimpulan bahwa perlakuan protein pakan 23% memberikan kinerja pertumbuhan dan kualitas daging ikan terbaik

    Prosiding Seminar Ikan IV

    No full text
    Percobaan transportasi ikan betutu dilakukan dengan sistem terbuka dan tertutup, serta diberi perlakuan individu ikan dibungkus dengan kantong plastik berlubang-lubang dan tidak. Percobaan dilakukan dengan rancangan faktorial 2 x 2. Jumlah kernatian ikan selama dan sesudah transportasi merupakan komulatif selama 20 hari penampungan. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada interaksi kedua fakior tersebut. Pengarigkutan sistem terbuka memberi kelangsungan hidup lebih tinggi dari pada sistem tertutup. lndividu ikan yang dibungkus kantong plastik berlubang-lubang memberi kelangsungan hidup lebih tinggi dari pada tidak dibungkus. Pada semua perlakuan terjadi peningkatan konsentrasi glukosa dan cortisol darah yang tidak berbeda nyata, ini menandakan ikan telah mengalami stress dalam tranportasi. Penanganan pasca transpotasi menggunakan kelompok ikan yang ditransportasi dengan perlakuan yang seragam, kemudian diberi perlakuan perendaman dalarn masing-masing larutan Kalium permanganat 1 ppm, lodin 1 ppm. Enrofloxacin 5 pprn dan kontrol selarna 24 jam. Kelangsungan hidup ikan selama 20 hari penampungan tidak berbeda nyata dengan kontrol

    PENGGUNAAN TEPUNG KULIT UBI KAYU FERMENTASI DALAM FORMULASI PAKAN IKAN NILA

    Get PDF
    Kulit ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) dipertimbangkan sebagai bahan baku pakan yang potensi ketersediaannya sangat tinggi. Di Indonesia produksi ubi kayu mencapai 20 juta ton/tahun dan 23% dari nilai tersebut adalah kulit ubi kayu. Tertarik dengan hal tersebut dilakukan penelitian kemungkinan pemanfaatan tepung kulit ubi kayu dalam formulasi pakan ikan nila. Kulit ubi kayu yang digunakan direbus terlebih dahulu, kemudian dikeringkan dan ditepungkan menjadi halus. Setelah halus, tepung kulit ubi kayu difermentasi dengan menggunakan mikroba Aspergillus niger dengan tujuan meningkatkan kualitasnya. Setelah difermentasi selama 5 hari, bahan dikeringkan dengan sinar matahari dan ditepungkan kembali. Sebagai perlakuan dalam percobaan adalah dosis tepung kulit ubi kayu dalam formulasi pakan yaitu: 0% (kontrol), 16%, 32%, dan 48%. Protein pakan dibuat 27% dan lemak tidak lebih 6% (SNI pakan Nila). Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan nila ukuran bobot 11,11± 0,99 g/ekor. Ikan dipelihara dengan kepadatan 15 ekor/bak beton ukuran 1,0 m x 0,6 m x 0,8 m, dan dirancang dengan sistem resirkulasi. Selama percobaan ikan diberi pakan pelet formulasi sesuai dengan perlakuan sebanyak 4% dari bobot badan/hari. Masing-masing perlakuan percobaan diulang tiga kali, dan lama percobaan 30 hari. Parameter yang digunakan untuk evaluasi adalah laju pertumbuhan spesifik, penambahan bobot, FCR, retensi protein, dan lemak. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa laju pertumbuhan spesifik ikan nila yang diberi pakan dengan menggunakan tepung kulit ubi kayu terfermentasi hingga 16% tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (P<0,05), namun semakin tinggi penggunaan tepung kulit ubi kayu semakin turun laju pertumbuhan spesifik. Demikian juga kaitan dengan konversi pakan (FCR), retensi protein (RP), dan retensi lemak (RL). FCR kontrol sebesar 1,54±0,23; penggunaan tepung kulit ubi kayu 16% sebesar 1,58±0,16. Retensi protein perlakuan kontrol 44,98±1,15; penggunaan kulit ubi kayu 16% sebesar 41,04±5,60.

    FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN DAN TEKNOLOGI PRODUKSI IKAN BETUTU ( Oxyeleotris marmorata Blkr) DENGAN SISTEM TERKONTROL

    Get PDF
    Suatu percobaan untuk memperbaiki sintasan ikan betutu fase “Growth out” telah dilakukan di Laboratorium Basah Balai Riset Perikanan Budidaya Ar Tawar, Bogor. Wadah percobaan yang digunakan adalah fiber glass berdiameter 1,5 m dan ketinggian 0,5 m. Wadah dirancang sistem resirkulasi, melalui bak stok air (2,5 m3) dan bak pemanasan air (0,6 m3), kemudian pada masing-masing wadah pemeliharaan dirancang biofilter yang berfungsi membersihkan air. Air dari bak stok, dialirkan ke dalam bak pemanasan, kemudian didistribusikan ke wadah pemeliharaan (6 unit) secara gravitasi. Dengan adanya sistem pemanasan suhu air dalam bak pemeliharaan dipertahankan 28oC-29oC. Pada masing-masing bak ditebar 25 ekor ikan betutu ukuran sekitar 40±3,7 g. Sebagai perlakuan dalam percoban ini adalah frekuensi pemberian pakan yaitu pemberian 2 kali (pukul 08.00 dan 16.00); 3 kali (pukul 08.00, 12.00, dan 16.00); dan 4 kali (pukul 08.00, 12.00, 16.00, dan 20.00). Percobaan dilaksanakan dengan rancangan acak kelompok, dan terdiri atas tiga kelompok periode waktu sebagai ulangan (blok). Setiap periode percobaan dilaksanakan selama 60 hari. Pakan yang digunakan dalam percobaan adalah ikan rucah, Tubifex beku, dan diberikan dengan prinsip dikenyangkan (ad satiasi). Parameter yang dievaluasi adalah penambahan bobot badan, laju pertumbuhan spesifik, dan sintasan. Sebagai parameter penunjang adalah laju pengosongan lambung dan usus, serta profil enzim protease pada usus. Untuk mendapatkan data ini dilakukan percobaan terpisah, dengan menggunakan ikan berbobot sekitar 40 g sebanyak 60 ekor. Ikan diberi pakan hingga kenyang, kemudian dilakukan sampling setiap 30 menit, isi organ pecernaan diamati dan ditimbang, juga dilakukan pengamatan enzim protease. Hasil percobaan memperlihatkan, bahwa laju pertumbuhan spesifik dan penambahan bobot tertinggi dicapai pada pemberian pakan 2 kali/hari. Lambung ikan betutu akan kosong setelah 6 jam dari saat pemberian pakan, sedangkan profil enzim protease memperlihatkan pola yang sejalan dengan laju pengosongan lambung

    PENGARUH FERMENTASI MENGGUNAKAN Trichoderma viride DAN Phanerochaete chrysosporium SERTA GABUNGAN KEDUANYA TERHADAP KOMPOSISI NUTRIEN TEPUNG JAGUNG SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN

    Get PDF
    Ketergantungan dunia akuakultur terhadap bungkil kedelai sangat besar. Dalam formulasi pakan ikan pemakaian bungkil kedelai bisa mencapai 30%. Padahal hampir sebagian besar bungkil kedelai masih mengandalkan impor sehingga harga pakan ikan mahal. Jagung berpotensi sebagai alternatif pengganti bungkil kedelai. Kendala yang dihadapi dalam pemanfaatannya sebagai bahan baku pakan adalah masih rendahnya nilai nutrien jagung dibandingkan bungkil kedelai. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh fermentasi menggunakan Trichoderma viride dan Phanerochaete chrysosporium serta gabungan keduanya (1:1) terhadap komposisi nutrien tepung jagung. Proses fermentasi dilakukan selama lima hari dengan dosis 10% (v/b) dan diinkubasi pada suhu ruang (30oC). Parameter yang diukur yaitu kadar nutrien tepung jagung meliputi kadar air, protein, lemak, abu serat kasar, dan BETN. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi menggunakan T. viride, P. chrysosporium, dan gabungan keduanya sangat mempengaruhi nilai nutrien tepung jagung yaitu peningkatan kadar protein (54,18%-131,45%); lemak (25,18%-228,58%); dan abu (1,61%-2,31%); serta penurunan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Peningkatan protein paling tinggi diperoleh pada tepung jagung yang difermentasi menggunakan gabungan T. viride dan Phanerochaete chrysosporium yaitu sebesar 131,45% (dari 7,25% menjadi 16,78%)

    PEMBERIAN EKSTRAK ENZIM KASAR DARI CAIRAN RUMEN DOMBA PADA TEPUNG BUNGKIL KEDELAI LOKAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA

    Get PDF
    Kendala utama yang dihadapi dalam upaya pencarian bahan baku lokal sumber protein alternatif untuk mendapatkan pakan yang ekonomis dan efisien antara lain kualitas bahannya yang tidak sebaik tepung ikan dan tepung bungkil kedelai impor. Enzim protease, amylase, dan selulase bermanfaat untuk meningkatkan kecernaan bahan baku yang mengandung protein kompleks, karbohidrat, dan serat yang tinggi. Cairan rumen ternak domba telah dideteksi banyak mengandung enzim yang dapat membantu meningkatkan kecernaan bahan baku nabati. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan sumber enzim alamiah yang murah dan tersedia cukup banyak di Indonesia, yaitu cairan rumen domba, untuk menghidrolisis bahan baku tepung bungkil kedelai lokal (TBKL). Penelitian ini terdiri atas dua tahap yaitu in vitro dan in vivo. Penelitian in vitro bertujuan mengevaluasi kadar produk hidrolisis yang dihasilkan setelah TBKL diinkubasi dengan ekstrak enzim kasar dari cairan rumen domba (EEK CRD) dengan dosis 0, 200, 400, 600, dan 800 mL/kg TBKL, dan hasilnya adalah bahwa kadar total gula dan protein terlarut pada TBKL terhidrolisis meningkat apabila konsentrasi EEK CRD bertambah. Penelitian in vivo bertujuan menguji pemakaian TBKL yang telah dihidrolisis dengan dosis yang terpilih (dosis 800 mL EEK CRD/kg TBKL) dalam formulasi pakan ikan nila dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Ikan uji adalah nila berukuran rata-rata 2,48 ± 0,0183 g per ekor, dan dipelihara di 15 akuarium berukuran 50 cm x 60 cm x 50 cm yang diisi masing-masing 10 ekor selama 40 hari percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan TBKL terhidrolisis dalam formulasi pakan menghasilkan peningkatan signifikan (P<0,05) pada parameter efisiensi pakan dibandingkan pakan kontrolnya, tetapi tidak signifikan (P>0,05) untuk parameter laju pertumbuhan, konsumsi pakan, retensi protein, dan retensi lemak. Tidak ada perbedaan signifikan (P>0,05) untuk tingkat sintasan di antara kelima perlakuan. EEK CRD dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan melalui predigestion terhadap nutrien protein kompleks dan karbohidrat dalam suatu bahan

    PENGARUH SISTEM PERGANTIAN AIR YANG BERBEDA PADA PEMELIHARAAN BENIH IKAN BETUTU (Oxyeleotris marmorata Blkr.)

    No full text
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui sistem pergantian air yang paling baik pada pemeliharaan benih ikan betutu. Wadah penelitian: 12 unit bak kayu berlapis plastik (1,9m x 0,8m x 0,5m) diisi air 500 L, ditempatkan dalam ruang terlindung dan dilengkapi dengan aerasi. Hewan uji: benih ikan betutu ukuran bobot 0,96±0,08 g/ekor, padat tebar 1 ekor/5 liter air, diberi pakan alami secara berlebih dengan waktu pemeliharaan selama 12 minggu. Perlakuan berupa perbedaan sistem pergantian air: (a) resirkulasi, (b) semi-statis, dan (c) continous flow. Parameter yang diukur: sintasan, pertumbuhan, dan produktivitas benih ikan betutu serta sifat fisika-kimia air pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergantian air dengan sistem resirkulasi memberikan sintasan yang paling baik terhadap benih ikan betutu (33,0%) dibanding continous flow (28,3%) dan berbeda nyata (P<0,05) dengan sistem semi-statis (21,3%). Laju pertumbuhan spesifik benih ikan betutu antara perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan nilai secara berturut-turut sebesar: 1,41%; 1,31%; dan 1,50%.The aim of this experiment is to obtain the information on survival rate and growth of sand goby fries. The experiment was conducted at research station CibalagungBogor. Twelve container of 1.9m x 0.8m x 0.5m were used in this experiment, each container was stocked with 1 fish/5L of sand goby fry with 0.96±0.08 gram weight. Three different water exchange were aplied i.e (a) recirculation, (b) semi static, and (c) continous flow. Each treatment was done in three replicates. The result showed that the recirculation gave the best result on survival rate (33.0%) compared with continous flow (28.3%) and significantly different from semi static (21.3%)

    PENGARUH SUPLEMENTASI ASKORBIL FOSFAT MAGNESIUM SEBAGAI SUMBER VITAMIN C DALAM PAKAN TERHADAP REPRODUKSI INDUK IKAN GURAME, (Osphronemus gouramy Lac)

    No full text
    Penelitan yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi askorbil fosfat magnesium sebagai sumber vitamin c terhadap reproduksi induk ikan guram

    PEMANFAATAN MAGGOT SEBAGAI PENGGANTI TEPUNG IKAN DALAM PAKAN BUATAN UNTUK BENIH IKAN BALASHARK (Balanthiocheilus melanopterus Bleeker)

    Get PDF
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi sumber protein tepung ikan dengan tepung maggot telah diteliti terhadap ikan hias balashark. Sebanyak 1.500 ekor benih ikan balashark dengan bobot awal rata-rata 2,26 ± 0,08 g dan panjang 5,18 ± 0,06 cm ditebar dalam 15 unit bak tembok berukuran 1,2 m x 0,7 m x 0,5 m, sistem resirkulasi dan dilengkapi aerasi dengan padat penebaran 100 ekor/bak dan dipelihara selama 60 hari. Pakan buatan dengan perbedaan substitusi maggot terhadap tepung ikan sebagai pengganti protein diberikan sebagai perlakuan yaitu (a) 0%; (b) 10%; (c) 20%; (d) 30%; dan (e) 40% maggot substitusi. Perlakuan substitusi maggot nyata mempengaruhi (P<0,05) pertambahan bobot, panjang total, pertumbuhan spesifik, retensi protein, dan rasio efisiensi protein. Substitusi maggot hingga level 16,47% memberikan respons terbaik terhadap penampilan tumbuh benih ikan balashark.The objective of this research was to study the effect of maggot meal as an alternative protein source to partially substitute fish meal in artificial feed for balashark fry. This research was conducted at the Research Institute for Ornamental Fish in Depok, West Java. Fifteen concrete tanks each of 1.2 m x 0.7 m x 0.5 m, provided with aerated recirculation water system, were used as culture tanks. Balashark fry averaging 2.26±0.08 g in body weight and 5.18±0.06 cm in body length were stocked into the tanks at a density of 100 fries per tank. The dietary treatments tested were five different levels of maggot meal, namely: (a) 0% substitution; (b) 10% substitution; (c) 20% substitution; 30% substitution, and e) 40% substitution. Feeding of the fries lasted for 60 days. Results of the research showed that, based on body weight gain, total body length, specific growth rate, protein retention, protein efficiency ratio, and lipid retention, the effect of maggot meal to substitute for fish meal was significant (P<0.05). The best growth performance of the balashark fries was achieved by the feed containing maggot meal substitution for fish meal of 16.47%
    corecore